A/ N:

Minnaa, Rz balik lagi. Rz mau ukk en hiatus dulu =w=

/plak

Terus minna ini bikinnya nda sampe sejam, jadi abalnya makin menjadi-jadi (?)

/pundung

Kerasa ga ya feelnya? Moga kerasa ya minna habis fict ini dibuat baruuu aja, dan tepat pada Rz lagi galo ;w;

/curcol gaje

Yosh, hepi riding :3


.

.

.

.

.

[Aku takut kehilanganmu.]

Bukankah sudah terlambat?

[Merajai setiap surai itu, menyentuhnya dengan lembut—seperti dulu]

Konyol sekali.

[Mencengkerammu dengan erat, agar kau tak menghilang dari sisiku lagi.]

Sudah kubilang, itu semua sia-sia.

[Aku merindukanmu. Sungguh.]

Aku tidak.

[Jika waktu dapat bergerak kembali, aku tak akan melepaskan tanganmu.]

Sayangnya, hal itu tak mungkin terjadi.

[Takdir yang mempermainkan kita. Hingga jarak yang jauh untukku menggapaimu.]

Sekarang kau menyalahkan takdir,huh?

["—Maafkan aku, Sakura. Kembalilah.]

Kau yang memulainya Sasuke-kun.

[Aku begitu bodoh.]

.

.

.

.

.

[Karena kau adalah ingatan yang hinggap di hatiku, menguap perlahan dan membusuk dalam benakku]

.

.

.

.

.

[Maka, biarkanlah aku menghapus sosokmu, sebab terlalu sulit bagiku untuk menyukaimu seperti ini]

.

.

.

.

.

[Meski batinku tak rela, karena kau bukan lagi milikku. Jadi—selamat tinggal dirimu. Seseorang yang pernah mengisi relung jiwaku]

.

.

.

.

.

Music part III

'Flute and Those Memories'

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Pairing: SasuSaku

Warning: Typo, OOC,AU,abal, gaje, payah,ancur, dll

Genre: Romance/ Angst (?)

Rated :T

Special Thanks to Reviewers and Readers

Dont Like Dont Read!

/nodongin celurit

.

.

.

.

.

Aku kembali memainkan seruling emasku. Meniupnya kuat kuat seolah melampiaskan kekesalan dalam hatiku. Bodohnya. Untuk apa aku kesal sekarang, harusnya perasaan geram ini kukeluarkan semenjak dulu. Aku merutut saat nada yang harusnya kumainkan, berbelok ke segala arah. Ku hembuskan napas kembali ke udara. Mencoba menenangkan pikiranku yang bergejolak, entah apa yang kurasakan sekarang. Perasaan itu sama —Kosong.

"Oi Sasuke! Kenapa kau masih disini? Sebentar lagi giliran kita tahu!"Seorang lelaki bersurai blonde menghampiriku. Iris azurenya menatap lurus ke arahku. Aku hanya menatapnya sekilas. Kemudian menghela napas kembali. Membuat azure itu bergerak heran.

"Apa kau sedang ada masalah? Wajahmu pucat—"Ia menepuk bahuku pelan. Mencoba mengalihkan pandanganku kepadanya. Iris kelamku masih saja terpacu datar. Laki-laki itu semakin mengkerutkan keningnya. Alisnya tertaut seolah menandakan kebingungan yang tersirat jelas dari bola matanya. Merasa diacuhkan olehku, ia kemudian duduk di sebelahku sembari menggenggam erat seruling berwarna senada denganku dalam genggaman tangannya. Tatapannya beralih kedepan.

"Sesekali kau harus mengistirahatkan otakmu,"Aku mengernyit. Azurenya masih setia menatap ke depan. Napas teraturnya terdengar mengusik gendang telingaku.

"Maksudmu?"Ia berganti menatapku yang mulai angkat bicara. Ditimangnya seruling dalam genggamannya.

"Gadis itu—"Aku tersentak. Ia terlihat menghembuskan napas berat. Seperti sudah paham betul tindakan apa yang akan kulakukan untuk meresponnya. Rahangku mengeras. Tengkukku mulai meradang tak nyaman. Aku benar-benar tak suka arah pembicarannya sekarang. Dan otakku seolah ikut mengkonfontasiku untuk menghadapi situasi seperti ini. Aku mendengus.

Sial! Laki-laki itu benar-benar berhasil membuatku menggeram kesal.

"Aku tahu,"Helaan napas kembali mengalun dalam indra pendengaranku. Laki-laki beriris azure itu hanya menatapku datar.

"Apa kau menyesal sekarang?"Aku terpekur. Onyxku mengarah pada azurenya. Harusnya ia tahu jawabannya. Harusnya dari dulu ia tahu jawabannya. Aku tertawa miris.

"Kau jangan berpura-pura lagi, Naruto. Jawabannya ada di dalam otakmu,bukan?"Aku berdiri memunggunginya. Sesak. Aku sungguh tak ingin azurenya menintimidasiku lebih dekat. Memaksaku untuk mengingat masa laluku yang kelam.

Aku berjalan untuk meninggalkannya yang terdiam membatu. Aku tahu, ia pasti sudah mengerti akan maksud dari ucapanku. Dia bukanlah laki-laki bodoh.

Irisku naik seketika saat untaian merah muda mengarah ke arahku. Berjuntai melambai seiringan dengan angin. Melewati pandanganku begitu saja, dan terhempas jatuh di belakangku dengan cepat. Tanpa ada jeda. Tanpa ada pencegahan. Darahku kembali mendidih, entah kenapa gemuruh perasaanku selalu meledak tak tentu seperti ini.

Aku melanjutkan langkahku yang terhenti. Kembali helaian kelopak sakura itu menerjangku. Kudongakkan kepala pelan—dan ribuan helaian merah jambu itu memenuhi penglihatanku. Nampak berdiri kokoh sebuah pohon Sakura tepat di depan mataku. Seolah dadaku terhenti menghirup oksigen, rasa sesak dalam dadaku semakin tak karuan. Mataku menyipit, irisku berkedut tak berirama. Jantungku memompa begitu cepat. Aku meringis dalam diam.

"Sakura, kau berhasil membuatku menderita karenamu—"

Iris kelam itu tersorot jelas, sarat dengan kepedihan yang tertaut erat dalam manik pekatnya.

.

.

.

"Hey—Sasuke-kun, kenapa?"Gadis—bermahkota soft pink itu terhenyak. Maniknya sedikit terasa panas.

"Kau tahu Sakura, kurasa kita sudah tidak sejalan lagi—"Onyx itu menunduk. Takut.

"Tapi—tapi kau bilang, kau—kau mencintaiku Sasuke-kun,"Emerald itu tak dapat menahan lagi cairan bening dari sudut mata itu, dengan cepat liquid itu menerobos, meluruh jatuh melewati setiap lekuk pipi gadis berkulit porselen itu. Ia tersedak lemah, tenggorokannya tersedat-sedat.

"Memang—"Onyx itu tetap tak mau memandang emerald di hadapannya. Emerald yang mulai merapuh perlahan menelan fakta yang terlontar dari bibir lelaki bersurai raven di hadapannya. Detik itu juga, cairan itu semakin bertambah kuantitasnya, mengisyaratkan luka yang bertumpukan dan tak dapat tertahan lagi dari bilik mata itu. Sakura Haruno—gadis itu menatap pedih lelaki di hadapannya.

"Kenapa—Sasuke-kun? Kau—"Bibir itu terhenti. Gadis itu menutup kelopak matanya tak kuat, Sesenggukan yang mengudara dari dalam tenggorokannya menandakan ia tak bisa mengeluarkan suara lagi. Seakan kehilangan kata dalam pikirannya—otaknya terasa kosong tak berisi.

"Maaf,"Hanya sebuah kata yang terwakili dari bibir pucat itu. Menahan getir yang sebenarnya berusaha ia tutupi. Tidak. Ia sudah memiliki tekad dalam hatinya.

"Kumohon—lupakanlah aku,"Kembali tubuh gadis itu bergemetar. Irisnya sedikit membulat, otaknya berusaha menelaah setiap perkataan yang barusan gendang telinganya tangkap. Ah—gadis itu terkulai lemas. Ia merasa tak mampu lagi membendung banyaknya cairan yang kini mengaliri pipinya, menodai wajah cantiknya yang kini nampak berantakan. Gadis itu terlihat menyedihkan—namun iris kelam itu tak dapat mengetahuinya sebab iris itu berusaha menghindari emerald di hadapannya.

"Menjauhlah—dari hidupku,"Tusukan berikutnya tepat mengarah pada jantung gadis itu. Membuat luka yang semakin ternganga lebar, luka yang tak berbekas, tak kasat mata oleh indra penglihatan namun dalamnya sangat merembes dan menguat dalam hati gadis itu. Membawa setiap inci perih yang tertanam dan mengakar perlahan. Iris emerald itu mencoba mengerjap menahan pedih yang merasuk, berusaha menghirup udara untuk paru-parunya yang menyempit. Menyesakkan.

"Seperti yang kau minta—"Gadis itu mencoba menguatkan tubuhnya sendiri, menghapus cairan bening itu sebentar, emerald itu menatap lurus onyx yang tersentak pelan. Menyebabkan iris itu mencuat kala tatapan mereka beradu pandang. Bagai disambar petir, onyx itu terpaku. Tak dapat mengira emerald di hadapannya akan terluka seperti itu. Seakan sakit yang berada dalam setiap sudut matanya, terasa jelas dalam dada lelaki itu.

"—Aku akan melupakanmu. Menghapusmu dari pikiranku. Seperti yang kau harapkan—aku tidak akan muncul lagi dalam hidupmu. Dan begitu pula—"Gadis itu mulai melangkah. Berjalan melewati lelaki yang masih membeku di tempatnya.

"Aku—tak akan menengok ke arahmu lagi. Selamat tinggal—"

Deg.

Onyx kelam itu telah membulat dengan jelas. Menampakkan kerapuhan yang sejenak mendominasi irisnya. Ia jatuh, tertahan menahan sesenggukan yang mulai merajai tenggorokannya. Iris itu berusaha mengarah pada punggung mungil gadis yang sudah tak nampak lagi. Tangannya terayunkan seolah mencegah gadis itu untuk menjauh, meski ia tahu, hal bodoh melakukannya karena gadis itu sudah lenyap dari pandangannya.

Dan detik berikutnya, ia kembali membeku di tempat dengan cairan bening yang mulai menyeruak dari maniknya.

"—Jika aku bisa menggapaimu lagi, aku berjanji takkan pernah melepaskan tangan mungilmu itu—"

.

.

.

Uchiha Sasuke kini berdiri jelas di atas podium dengan genggaman seruling di dalam tangannya. Ia mendekap erat seruling itu sejenak—meluapkan perasaan yang tertohok dalam dadanya, seolah merindu, namun tak tersampaikan.

Lelaki beriris kelam itu segera mengalihkan perhatiannya pada barisan orang di hadapannya. Sejenak kemudian irama merdu mengalir dari dalam serulingnya.

.

Plok Plok Plok!

.

Tepukan memenuhi pendengarannya. Namun pendengarannya sekan tuli saat kelopak berwarna merah jambu nampak terlintas jelas di hadapannya. Entah dari mana datangnya kelopak yang tersapu angin perlahan itu, lelaki itu memincingkan mata miris. Senyum lirih terlukis di bibirnya.

"—Kau tidak dapat terus melangkah bersama masa lalumu. Berjalanlah beriringan dengan kenyataan di depan matamu. Meski begitu, masa laluku terus menghantuiku Sakura. Mungkin inilah karma yang harus kutelan. Untuk membuktikan bahwa penyesalan selalu saja datang terlambat—"

.

.

.

[Kau semakin jauh]

Bukankah ini yang kau inginkan?

[Bolehkah aku mencapai tempatmu—dimana aku bisa meraihmu lagi?]

Kau tidak bisa melakukannya.

[Sakit ini menyergapku, aku sungguh tidak tahan lagi]

Kalau begitu, lepaskanlah.

[Bila kelak aku berhasil melupakanmu, akankah aku menemukan kebahagianku sendiri, meskipun tanpamu Sakura?]

.

.

.

.

.

.

.

Tentu.

.

.

.

.

.

.

.

Tentu saja, Sasuke-kun.

.

.

.

.

.

.

.

*Owari*


BlueSnowPinkIce: aihhh jan nangis OAO/ kasi tisu makasi ripiunya owo

Coffelovers sasusaku: iyyaa ini di lanjut xD makasi ripiunya owo

.

.

.

What the—apaan fict ini. Uwaaaaaaa, gomen minna Rz lagi galo jadi kepikiran buat fict angst lagi. Oke well, fict ini berdasarkan kehidupan nyata kwokwowko /kembali galo /heh

Minta ripiunya pweaseee? Ripiu minna sekalian sangat berharga WQAQW

/nyebarin bunga melati