Halooo, kali ni tentang gitar, dan kembali deskripnya payah ==
/suram
Ide muncul begitu saja, disaat teks ulangan menanti untuk dihapalkan, Ini lagu dari pilem 5cm per second, sumpah lagunya ngena bangettttttt
/gegulingan
Yosh, siap-siap alergi baca fict ini .w.
.
.
.
"Hei—Nadamu salah baka!"
"Jangan sok tahu pantat ayam! Nada ini sudah sempurna!"
"Apa katamu jidat lebar? Kau ini masih amatir!"
"Kau yang masih amatir—tuan—sok—tahu—dengan—rambut—aneh?"
"Apa kau tidak punya kaca di rumahmu? Lihatlah—rambut—pink—norakmu—itu—"
"Dasar pantat ayam menyebalkan!"
"Rambut gulali payah!"
.
.
.
.
.
Itsudemo sagashiteiru yo dokka ni kimi no sugata wo
I'm always searching everywhere for your figure.
Mukai no HOME rojiura no mado
Our meeting platform, the back alley window
Konna toki ni iru hazu mo nai no ni
Even though i know you won't be there
Negai ga moshimo kanau nara ima sugu kimi no moto he
If my wish is granted, I will be by your side
Dekinai koto wa mou nani mo nai
There's nothing i can't do.
Subete kakete dakishimeta miseru yo
I will risk everything to embrace you.
.
.
.
.
.
Setitik emosi yang tersebar—pada rangkaian melodi yang tak bertepi.
Irama kelam yang mulai bertabrakan—mengantarkan kembali dengan pilu.
Sejak namamu berdengung, dadaku selalu saja tertaut padamu.
Satu hal yang hingga sekarang tak bisa kuingkari.
"—Aku selalu mencari sosokmu, meski ragamu telah lama tertelan dari dunia ini—"
.
.
.
.
Music part IV
'Guitar and You'
Sepenggal lirik lagu dari film : 5cm per second
Cover image not mine
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Pairing: SasuSaku
Warning: Typo, OOC,AU,abal, gaje, payah,ancur, dll
Genre: Romance/ Angst (?)
Rated :T
Special Thanks to Reviewers and Readers
Dont Like Dont Read, okay!
/ngasah silet
.
.
.
Petikan gitar itu masih menggema kuat. Menembus jauh pada lubang telinga, mengeluarkan secuil rasa yang sejenak membuat kudukku meremang. Hantaman yang memekakan telinga itu bukanlah kali kedua menyuarakan, namun entah sudah berapa ketukan nada yang masih tertanggal dengan erat. Seolah telah menjadi penghuni tetap, menyusup dengan pelan dan sedikit menyebabkan perasaanku turut bergejolak ketika satu demi satu kunci yang dihasilkan berputar kecil dalam otakku. Mencoba mengacuhkannya, mengalihkan bahkan sekedar menghilangkan nada itu sebentar, sekiranya sangatlah sulit.
Atau nada itu telah diselipi kutukan sehingga membuat eksistensinya kekal?
Ah—terlalu sukar bagiku memikirkannya. Aku tak mau memikirkan hal rumit untuk memenuhi otakku sendiri dengan pikiran konyol semacam itu. Haruskah aku menghapus ingatanku sendiri dengan paksa—menyalinnya dalam-dalam pada selembar catatan kecil dan kemudian membuangnya jauh dari tempatku berada? Aku menggeleng ambigu dengan pernyataanku barusan. Menekan angkuhku kembali. Seperti yang sudah seharusnya terjadi.
Hei—kenapa egoku selalu saja menghalangiku? Membuat seolah-olah tahtanya merupakan hal yang tertinggi dalam kehidupanku. Yang berarti dengan bebas dapat mengatur apapun mengenai diriku. Memang, marga Uchiha merupakan marga yang cukup untuk mematahkan logikaku sendiri, namun hal itu saja kurasa masih belum cukup. Seakan ego itulah hal yang paling mengganjal dalam hidupku.
Egoku tak mau mengakui bahwa—aku merasa kosong ketika kau tak lagi berada di sisiku.
Aku kembali menggapai gitar coklatku. Warnanya masih sama seperti ketika kumainkan pertama kali. Bedanya adalah—jika dulu aroma mahoni masih menguar dengan jelas dari gitar yang kupegang ini, maka justru sekarang aroma yang dapat kucium hanyalah aroma remah-remah dan kelupasan cat yang sudah tak berbentuk lagi. Senarnya sudah sedikit mengendur dan nada yang dihasilkan mulai tak terstruktur. Lebih tepatnya—tak beraturan.
Pamanku pernah menawariku gitar lain dengan body yang sangat menawan. Cat yang mengkilap dengan warna silver antik dan senar yang kokoh nan elok. Namun bodohnya, aku malah menolak mentah-mentah barang mahal yang sangat mengesankan itu begitu saja. Kala aku mengelak dari sorot mata paman Madara, ia seolah mengerti alasan mengapa aku menolak gitar pemberiannya. Dengan sedikit perasaan kecewa, aku kembali melangkah dengan gitarku yang telah usang sembari mengumpat pelan.
Saat itulah aku sadar, alasan mengapa aku sangat mencintai gitar tuaku ini. Karena ini adalah hadiah paling berharga darinya—Seseorang yang sempat bertengger dalam hatiku.
Mengingatnya lagi—membuat dadaku sedikit berdesir.
"Otouto, kau masih disini?"Aku sedikit menoleh pada siluet kehitaman dengan keriputan pada lekuk wajahnya. Orang dengan kunciran kuda terikat dan pandangan mata yang mengarah tepat ke arahku. Sedikit memberi jeda, ia mengedarkan maniknya pada gitarku.
"Disini nyaman—"Ia tercekat sejenak sebelum terdiam untuk beberapa saat. Mengeliminasi jarak di antara kami kemudian iris kelamnya berpijar sebentar lalu menutup.
"Kau benar,"Aku kembali mengarahkan pergerakan bola mataku pada gitarku lagi. Menggerakan jemariku perlahan, menyentuh senar transparan kemudian memetiknya membentuk alunan melodi dengan lagu kesukaanku. Yah—mengenangnya kembali membuat napasku tertahan sejenak.
.
Itsudemo sagashiteiru yo dokka ni kimi no sugata wo
I'm always searching everywhere for your figure.
Tes..
Mukai no HOME rojiura no mado
Our meeting platform, the back alley window
Tes..
Konna toki ni iru hazu mo nai no ni
Even though i know you won't be there
Tes..
.
"Aku kira—Uchiha Sasuke bukanlah orang yang cengeng," Aku terpekur. Lelaki yang merupakan saudara kandungku itu menyunggingkan senyum sinisnya ke arahku. Mengejekku dengan tampang menyebalkan yang membuatku merutuk kesal.
"Bukan urusanmu,"Jawabku datar. Ia segera menaikkan sebelah alisnya, oh—aku sungguh benci tatapannya ketika berusaha menggodaku.
"Ternyata kau tetaplah adik kecilku yang manis Sasuke—"Aku tersentak. Tawa khasnya terdengar mengaung. Brengsek kau Itachi!
"Bukankah kau sudah sering mendengarku menangis, huh?"Ia terdiam. Tawa usilnya terhenti tiba-tiba. Ia menatapku dengan pandangan yang tak bisa kutebak. Mungkin sedikit bisa kutangkap dari pancaran matanya kalau ia tengah menatapku dengan sedikit pandangan—sedih.
"Maaf,"Keningku berkerut.
"Aku telah berusaha keras mencari informasi mengenai keberadaannya. Namun sepertinya, hasilnya sama saja. Kau harus mulai menerima kenyataan Sasuke, kalau ia—"
"—belum mati,"Lelaki itu melebarkan bola matanya. Seperti kiraanku, aku benci ucapannya yang terkesan memojokanku seperti ini. Sudah berapa kali kubilang kepadanya, kalau aku tidak akan sudi menerima perkataannya yang mengatakan kalau 'orang itu' telah meninggal.
"Sasu—"
"Itachi, berhentilah menganggapku seperti anak kecil. Aku bisa membedakan mana yang benar dan tidak. Dan kau harusnya tahu, aku tidak mungkin mempercayai kabar tidak bermutu seperti itu. Kau tahu sendiri,ia bukanlah gadis lemah seperti yang kau kira. Harusnya kau tahu itu Itachi—"Ia masih menatapku lurus dengan pandangannya, bibirnya masih terkunci. Meski begitu, dapat kutebak bahwa ia memahami betul setiap lontaran kata yang aku ucapkan.
"Kau memang benar-benar adikku yang keras kepala—"Ia menggelengkan kepala kecil. Menghembuskan napas tipis kemudian mulai berjalan memunggungiku. Meninggalkanku sendiri dengan gitar yang masih tergenggam dalam dekapanku. Sebelum ia benar-benar menghilang dari pandanganku, sayup-sayup dapat kudengar sebaris kalimat yang sejenak membuatku kembali terdiam.
"Asal kau tahu, aku juga berharap sama sepertimu Sasuke—"Ia menutup perlahan pintu ruangan. Membiarkanku termenung dengan berbagai pikiran yang kian mendesak otakku.
.
.
.
Aku tidak ingat betul bagaimana pertemuanku dengannya. Yang sedikit tercetak dalam ingatanku adalah ketika surai merah jambunya melambai jelas di depan mataku dan teriakan cemprengnya yang memekakkan gendang telingaku. Tiap kali aku meledek surai cherry blossomnya yang menurutku aneh itu, ia akan menggembungkan pipi sebal dan memasang wajah kusut sembari berusaha meledekku balik dengan gumamannya. Terkadang, kami malah saling berkejaran ketika aku berusaha menggodanya tanpa maksud dan hanya sekedar iseng belaka. Ia yang terusik olehku segera mendecakkan lidah kesal kemudian kami akan berkejaran layaknya kucing dan anjing yang saling berebutan makanan. Menggelikan memang, mengingat kami bukanlah anak kecil yang wajar melakukannya melainkan kami sudah beranjak dewasa dan sudah tak sepantasnya bertingkah seperti itu lagi. Namun bagiku, semuanya terasa normal saja ketika bersama dengannya. Dan hal itulah yang membuatku menyesal saat baru mengetahui perasaanku yang sesungguhnya kepadanya.
Benar. Haruno Sakura adalah gadis yang amat kucintai. Sekaligus gadis yang dengan mudahnya mematahkan hatiku. Bukan karena ia menolakku dengan dramatis layaknya di film-film. Tetapi saat aku ingin mendengar jawabannya, janjinya yang akan memberitahuku mengenai perasaannya dan siapa orang yang disukainya ketika ia kembali dari liburannya, bukan jawaban seperti yang aku ingin ketahui darinya, melainkan kenyataan pahit yang segera membuat hatiku hancur.
Pesawat yang ditumpanginya mengalami kecelakaan. Parah. Dikabarkan seluruh penumpangnya tewas seketika. Kala itu bibirku terasa kelu dan otakku langsung berhenti memproses. Aku tidak dapat berpikir dengan jernih dan hanya dapat terdiam layaknya orang bisu ketika mendengarnya.
Tidak. Aku sama sekali tidak percaya dengan berita itu. Meski dua tahun telah berlalu sejak kejadian itu, hingga hariku terlewati begitu saja dengan hampa, aku menyadari satu hal bahwa—
Sampai detik ini, aku terus mencari sosokmu. Padahal aku tahu, kau tidak ada dimanapun juga.
.
.
.
Sakura, gadis cherry blossom yang menganggu hidupku,mengacak-acak pikiranku dan membuatku kehilangan arah. Aku mencintainya. Sangat mencintainya.
Sakura, kau tidak tahu betapa sakit hatiku menunggumu. Apakah kau disana bisa merasakan pedih yang mengalir dalam setiap aliran darahku ini?
Sakura, kau tidak mengerti betapa aku sangat ingin memandang sosokmu lagi. Disini dengan bayangmu yang tersamarkan, kau tidak pernah tahu bahwa kau yang pernah menganggapku lelaki kuat dan dewasa ini, hanyalah seorang lelaki menyedihkan yang mengharapmu kembali ke sisiku. Walau aku mencoba mengubur perasaanku sendiri kepadamu, aku tidak akan pernah bisa melakukannya.
Sebab aku terlalu mencintaimu. Dan berat bagiku untuk melupakanmu barang sedetik saja.
"—Hei , Sakura. Apa kau tahu, aku selalu mencari keberadaanmu.
Beritahu aku Sakura, dimanakah kau berada—"
.
.
.
.
.
"—Aku—merindukanmu—"
.
.
.
.
.
"—Sakura"
.
.
.
.
Itsudemo sagashiteiru yo dokka ni kimi no sugata wo
I'm always searching everywhere for your figure.
Mukai no HOME rojiura no mado
Our meeting platform, the back alley window
Konna toki ni iru hazu mo nai no ni
Even though i know you won't be there
Negai ga moshimo kanau nara ima sugu kimi no moto he
If my wish is granted, I will be by your side
Dekinai koto wa mou nani mo nai
There's nothing i can't do.
Subete kakete dakishimeta miseru yo
I will risk everything to embrace you.
.
.
.
.
.
"Sakura, aku menyukaimu—"Gadis itu ternganga.
"E—eh? Apa—"
"Jawabanmu?"Lelaki itu menatap malas.
"I—itu—"Gadis itu mengalihkan pandang. Menyembunyikan semburat merah yang terukir jelas pada wajahnya.
"Tch,Bagaimana?"Sentaknya tak sabar. Gadis itu menunduk ragu.
"Aku—"
"Ah—kau lamban sekali. Sudah jawabannya nanti saja. Aku ada urusan. Jaa,"Lelaki itu berjalan menjauh.
"Aku juga menyukaimu—Sasuke-kun—eh? Loh—Sasuke-kun?"Gadis itu membelalakan irisnya. Memutar pandangan ke segala arah. Sebal. Perempatan siku-siku muncul di dahi lebarnya.
"Baka no Sasuke-kunnnn! Kenapa aku ditinggal? Bakaaaaaa!"Dan gadis itupun segera berlari dengan perasaan kesal—
.
.
.
—sekaligus senang.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
*Owari*
Iki, shika, uchiharuno susi : makasi ripiunya :)
.
.
.
Wahaha, ini monoton yak ? saya udah berusaha mikir fict yang angst tapi idenya beda dan jadilah seperti ini == oh ya ini yang gitar masih ada bab 2 dan 3 nya, sekedar bocoran, sakura ternyata masi idup. Mereka akan ketemu lagi .w. Penasaran? Ripiu dong OAO
/maksa
So, Mind to RnR? :3
