Helepppp heleppp Rz keabisan kata-kata WQAQW
/heh
Apa feelnya kerasa? =w=
Fict tentang music masih lanjut looo, meski Rz dilanda ulangan bertubi-tubi (?)
/ga ada yang nanya
Minta dukungan boleh? =A= Caranya, isi kotak ripiu ato kelik (?) tombol like OAO
Hepi riding :3
.
.
.
Itsudemo sagashite shimau dokka ni kimi no egao wo
I always end up searching everywhere for your smile
Kyuukou machi no fumikiri atari
At the express train railroad crossing
Konna toki ni iru hazu mo nai no ni
Even though i know you won't be there
Inochi ga kurikaesu naraba nandomo kimi no moto he
If i could repeat my life, I would be by your side forever
Hoshii mono nado mou nani mo nai
There is nothing else i want
Kimi no hoka ni taisetsuna mono nado
Besides you, my important person
.
.
.
.
.
Kimi no hoka ni taisetsuna mono nado.
.
.
.
.
.
"—Besides you, my important person—"
.
.
.
.
.
Music part V
'Guitar and You Chapter 2'
Sepenggal lirik lagu dari film : 5cm per second
Cover image not mine
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Pairing: SasuSaku
Warning: Typo, OOC,AU,abal, gaje, payah,ancur, dll
Genre: Romance/ Angst (?)
Rated :T
Special Thanks to Reviewers and Readers
Dont Like Dont Read, okay!
/nyiapin gunting rumput (?)
.
.
.
.
.
Aku mengucek mataku sebentar. Membuka perlahan kelopak mataku yang terasa berat. Hangatnya sinar mentari pagi yang terkuak dari jendela kamarku membuatku merasa malas untuk sekedar memapah tubuhku untuk berdiri. Aku kembali memejamkan manik saat sebuah ketukan datang dan mengusikku paksa dari tidur panjangku. Menggerutu kecil—lelaki itu hanya mengedikkan bahu polos.
"Ohayou—"Ia menyibak tirai kamarku, membuat cahaya kekuningan itu dengan leluasa segera menjelajahi isi kamarku—irisku segera mengarah tajam pada lelaki bertubuh jangkung yang tengah memunggungiku. Kesal—kudenguskan napas kecil sembari mengacak rambutku lelah.
"Kenapa kau menganggu mimpi indahku? Menyebalkan!"Lelaki itu hanya tertawa. Cengiran tengilnya nampak terlukis dari sudut bibirnya. Sama sekali tidak merasa menyesal atas perbuatannya. Ia memandangku datar kemudian melangkahkan jejak kakinya menuju kenop pintu. Memutarnya kecil lalu tersenyum lembut.
"Bangunlah tukang tidur! Hari ini kau berjanji akan menemaniku ke stasiun, bukan?"Aku masih terdiam dengan bibir sedikit maju. Berpikir sejenak—merenggangkan otot tubuh yang mulai kaku sembari mengulet sebentar di atas kasur. Kepalaku terasa pening dan pandanganku nampak buram. Selintas dengungan seolah mengeksplor ingatanku dengan kasar—mencabiknya hingga mengoyaknya sampai membuatku kesulitan untuk bernapas. Lagi-lagi rasa sakit ini terasa begitu nyata untuk dirasakan—sakitnya menyebar sampai ke ubun-ubun kepala. Membawa berjuta memori samar. Anehnya, aku tidak dapat mengingatnya sama sekali.
Deg.
Sakit itu merobek perasaanku.
"—Hei, ini menyakitkan,"
Aku kembali merebahkan tubuh. Mencoba membuang jauh perasaan gamblang yang menghujam batinku saat ini.
.
.
.
"Keretanya telat—"Bola mataku menelusur ke berbagai arah. Sesekali bergerak lurus ke depan—menanti bayangan besar dan berukuran panjang dari tempatku berpijak. Berdecak kesal ataupun menghembuskan surai untuk menghilangkan rasa bosan. Lelaki di sebelahku hanya berdiam seperti patung.
"Gaara, berapa lama lagi keretanya sampai?"Ia mendongak. Iris jadenya mengarah kepadaku. Pandangannya segera teralih pada jam tangan yang terpasang lekat pada lengannya. Melirik sesaat kemudian menatapku kembali.
"Mungkin sebentar lagi,".
"Aku bosan,".
"Bersabarlah sedikit. Jangan seperti anak kecil yang suka merengek,"Aku menatapnya sebal.
"Aku bukan anak kecil—baka!"Kupukul tanganku gemas kepadanya, tawa angkuhnya berhamburan keluar bagaikan serangga terbang yang langsung memenuhi pendengaranku. Ia berusaha mengelak dari tanganku. Kemudian menjulurkan lidah remeh.
Lihatlah, siapa sekarang yang bertingkah seperti anak kecil, huh?
"Gaara—aku—"
.
Jreeng Jreeng Jreeng
.
Deg.
.
Nyut. Kepalaku berdenyut. Kutolehkan kepala pada sumber suara. Napasku seolah memburu saat petikan irama itu kembali merajai telingaku, membuatku tertegun entah yang ke berapa kalinya. Aku mengerjapkan mata kuat, mencerna apa yang barusan kudengar.
.
Mimpikah?
.
—Bukan .
.
Jreeng Jreeng Jreeng
.
Mataku membeku saat pandanganku menangkap sesosok lelaki bersurai raven dengan gitar coklat dalam gengaman tangannya. Bibirku masih terbuka saat jemari lentiknya menggoreskan, memainkan nada demi nada yang mengalun perlahan dari dalam gitarnya. Irisku terasa kaku—bahkan keringat dingin mulai mengalir dari arah pelipisku.
Nyut.
Aku memegang kepala gusar saat—
.
Pandangan mata kami beradu.
.
Lelaki di seberang itu nampak mencuat. Iris onyxnya melebar mengikutiku. Detik berikutnya, bagai film yang diputar dengan lambat, ketika tangannya seperti menggapai ke arahku—sebuah benda besar nan berwarna hitam muncul secara mendadak di depan mataku. Membuat dinding di antara kami dan menelan sosoknya perlahan. Aku meronta histeris.
Sakit di kepalaku makin menjadi, lebih terasa daripada yang sebelumnya. Seakan ribuan kenangan mengerubungi pikiranku, berbagai bingkai dengan gambaran lelaki bertubuh jangkung, beriris raven, berambut—chicken butt—memenuhi bola mataku. Aku terhenyak.
Irisku kembali mengarah tepat pada bayangan hitam yang mulai mengabur dari pandanganku, hal yang dapat kupahami kemudian adalah—
Lelaki itu telah lenyap.
"Kau tidak apa-apa?"Lelaki lain bersurai merah menatapku cemas. Aku hanya mengangguk kecil. Ia mengandeng tanganku erat, mengajakku berjalan menjauh, dengan perasaan campur aduk, aku menatap sekali lagi tempat lelaki yang kutemui beberapa detik lalu, dan tetap kudapati kenyataan bahwa, lelaki itu sudah tak ada di tempatnya semula.
"Ayo kita pulang—"
.
Hatiku kembali berdenyut.
.
"—Sakura".
.
.
.
Normal POV
Uchiha Sasuke
Lelaki itu menelan ludah dengan sulit. Ravennya meluruh jatuh di sekitar keningnya, memunculkan onyx pekat yang bergerak menurun. Gitar di tangannya yang terpegang erat—terasa merenggang dan kemudian terjatuh, tubuh itu masih tak tergerak dari tempatnya. Kacau. Hanya gambaran kusut yang terpampang jelas dari wajah tampannya. Mulut itu masih merapat. Ia menggepalkan tangan, lalu menggendurkannya berat.
Dalam pikirannya kini beraduk berbagai macam perasaan, dan ia sama sekali tidak memahami perasaan itu.
Ia tetap bergeming pada titik dimana ia beranjak semula, masih menatap lurus seolah meminta jawaban. Namun otaknya tak dapat berpikir sempurna—ia benar benar tak paham.
"—Sakura".
Satu kata yang membuatnya kembali bergemetar. Satu ucapan yang memaksanya menahan butir bening yang akan tumpah dari maniknya.
"Berhentilah menganggapnya ada—"
Pikiran lain memenuhi otaknya. Ia kembali tergagap dengan pedih. Irisnya yang berat menutup sebentar—memancarkan duka kering yang kini mengalir lagi. Tak mampu menahannya, ia menekan jemarinya kuat.
Iris kelamnya terrefleksi dengan jelas, buram—karena air mata. Langkahnya menderap jauh, meninggalkan sepercik jejak luka yang telah merembes kuat. Berusaha menguburnya dalam—walau ia mengerti, fakta tak akan pernah tertutupi dan terkubur seperti apa yang diharapkannya.
Ia tuntun gitarnya dengan lemas. Usai sudah semua penantiannya, kembali ia harus bergumul dengan pernyataan memilukan.
"Ilusi—"
Katanya dijejali dengan pedih, menenggelamkan angan bodoh yang merasukinya kembali. Ia menghembuskan napas pelan, bergumam parau.
Ia tahu takdir tengah memutar kehidupannya. Dan sekarang ia harus berusaha menerima semua itu.
"Sampai kapanpun, aku tidak akan pernah mendapatkanmu lagi—"
Uchiha Sasuke adalah sosok cengeng—jauh setelah ia bertemu dengan gadis cherry blossom-nya.
.
.
.
Haruno Sakura
Gadis itu meremas telapak tangannya. Emeraldnya setia menumpu ke depan, memfokuskan pandangan pada satu tempat. Berkali ia meracau tak jelas, menghembuskan napas dengan tidak sabar kemudian ekspresi kekecewaan setelahnya akan timbul dari wajah cantiknya.
Ia mengusap keringat yang mengalir di sela keningnya. Dalam kepalanya, ia bergulat dengan argumennya sendiri, meskipun opininya selalu kalah dengan logikanya, ia tetap bersikukuh pada pendiriannya.
Haruno Sakura—tengah berusaha keras mengingat memorinya yang hilang beberapa tahun silam. Kecelakaan—adalah faktor utama gadis itu tidak mengingatnya. Memikirkan kembali mengenai peristiwa dua tahun yang lalu—membuat gadis itu berjengit tak nyaman. Gadis bertubuh mungil itu sebenarnya sulit menerima kenyataan jika dirinya merupakan satu-satunya korban yang selamat tanpa diketahui jejaknya sama sekali. Gadis itu membencinya, bukan berarti ia membenci kehidupannya sekarang, melainkan ia membenci dirinya sendiri yang tidak mampu mengingat apapun tentang kehidupannya sebelum kecelakaan.
Dan kini, Sakura termenung ganjil karena peristiwa tiga hari yang lalu, saat dimana ingatannya tiba-tiba menyeruak perlahan dan hilang kembali dalam sekejap. Ia membenci keadaan itu.
Sejujurnya—Sakura sedikit merasa bingung dengan ingatan yang membuncah dalam otaknya, dan ingatan yang paling mendominasi otaknya adalah ingatan mengenai seorang lelaki. Namun , ia tidak dapat mengerti siapa lelaki itu.
Sakura menghembuskan napas pelan.
Ia menjenjakkan kakinya, menoleh sebentar pada tempat yang menjadi saksi ingatannya kembali. Sebuah rel masih kosong saat ia menatapnya lagi, Irisnya bergerak sedih.
Saat langkah pertama Sakura ambil, ia membalikkan tubuh cepat. Merasa familiar dengan irama perlahan yang berdendang entah darimana. Sakura menutup kelopak matanya pelan. Memperdalam pendengarannya sendiri.
.
Itsudemo sagashite shimau dokka ni kimi no egao wo
I always end up searching everywhere for your smile
.
Deg.
Sakura membatu, tenggorokannya terasa kaku. Emeraldnya berkedip cepat. Ia menggigit bibir bawahnya pelan. Berusaha meresapi setiap bait lagu yang berdengung dalam otaknya.
Kyuukou machi no fumikiri atari
At the express train railroad crossing
Konna toki ni iru hazu mo nai no ni
Even though i know you won't be there
Inochi ga kurikaesu naraba nandomo kimi no moto he
If i could repeat my life, I would be by your side forever
Hoshii mono nado mou nani mo nai
There is nothing else i want
Kimi no hoka ni taisetsuna mono nado
Besides you, my important person
Sakura terjatuh dengan air mata yang mengalir dari sudut matanya. Ia meraung—berteriak sekeras-kerasnya seolah menumpakan segala perasaan kesal yang tersimpan dalam ulu hatinya. Ia mengepalkan jemari menahan perih yang meracuni otaknya, napasnya berderu melaju tak teratur. Ia melemaskan pergelangan tangannya, menangis dalam diam.
"Kenapa aku menangis?"Hanya ucapan polos yang bertumpukan dalam dadanya. Ia memang tidak mengerti alasan kenapa ia menangis. Yang ia tau hanyalah, ada sebuah perasaan aneh yang mengudara dari setiap isakan tangisnya. Dan ia mencoba memahaminya meski nyatanya ia tetap tidak mengerti.
"Aku—"Bibir Sakura bergetar, ia berjalan dengan goyah, membiarkan surainya berantakan dengan gumaman lagu yang masih memenuhi otaknya.
Di tengah kesunyian itu, pada sebuah stasiun kereta api, angin yang bergerak lirih serta ilalang yang menari pelan, menambah kebisuan yang tercipta saat itu juga. Mengantarkan kembalinya dua sosok yang saling memenggal rasa—namun, tidak bisa saling memiliki.
Haruno Sakura mendongakkan kepala, sisa-sisa kristal bening itu masih mengalir. Samar dalam keheningan, bibir mungilnya bergerak sedikit.
.
.
.
"—Merindukanmu"
.
.
Gadis itu mendekap jemarinya kuat-kuat.
.
.
.
.
.
Aku menyukaimu.
Aku menyukaimu.
Aku mencarimu dimanapun—tapi tidak bisa kutemukan.
Aku berusaha menemukanmu dalam ingatanku—tapi tidak bisa kudapatkan.
Aku terus meneriakkan namamu—berharap kau dapat kembali.
Aku menggumamkan namamu dengan samar—berharap kau dapat kuingat lagi.
Apakah aku harus menghapus sosokmu?
Apakah aku harus melupakanmu?
Kau yang disana—aku ingin menyentuhmu.
Kau yang entah berada dimana—aku ingin mendengar suaramu.
Aku menyukaimu—Haruno Sakura.
Aku menyukaimu—Laki-laki dalam ingatanku.
.
.
.
.
.
Itsudemo sagashite shimau dokka ni kimi no egao wo
I always end up searching everywhere for your smile
Kyuukou machi no fumikiri atari
At the express train railroad crossing
Konna toki ni iru hazu mo nai no ni
Even though i know you won't be there
Inochi ga kurikaesu naraba nandomo kimi no moto he
If i could repeat my life, I would be by your side forever
Hoshii mono nado mou nani mo nai
There is nothing else i want
Kimi no hoka ni taisetsuna mono nado
Besides you, my important person
.
.
.
.
.
"—Aku ingin mengulang masaku, dimana aku dapat meraihmu kembali—"
"—Cinta ini menyakitiku, ini sungguh membuatku menderita—"
"—Jika waktu dapat kuputar kembali, aku akan berada disisimu—"
"—Tidak ada lagi yang kuinginkan, selain berada di sampingmu—"
.
.
.
.
.
.
.
"Hanya disampingmu—"
.
.
.
.
.
.
.
"—Seseorang yang paling berharga bagiku,"
.
.
.
.
.
.
.
*Owari*
Sasusaku loversss: ini chap 5nya :) makasi ripiunya OAO
Yosh, bab 2 uda seleseeee OAO/
/jejingkrakan
Bagaimana minna, apa ini memuaskan atau tidak OwO?
Intinya disini SasuSaku ketemu, tapi si Sasu Cuma nganggep itu ilusi, nah si Saku itu malah nda bisa nginget Sasu itu siapa, makanya si Saku datang lagi ke stasiun kereta api , berharap si Saku dapet ketemu lagi sama Sasu. OAO
Sebenarnya ini mau lanjut bab 3 soalnya liriknya sisa sebait, nanggung =w=
Lanjut bab 3 ga? Mungkin akan happy end lhoo OAO ripiu pweaseeeee ;w;
Arigachuuu for reading .w.
