Haloooo bab 3 tentang gitar hadirrrr ~ ini bab terakir

Hepi riding :3


Setiap musim panas yang kulalui, sosokmu perlahan melebur.

Musim dingin yang membeku, terlewati begitu cepat.

Aku kembali terdiam , saat ingatan itu sedikit demi sedikit menghilang dari benakku.

Dan ketika aku berusaha melepaskannya,

.

.

.

Hanya setitik senyuman yang bisa kuberikan kepadamu.

.

.

.

Maka, biarkanlah aku meninggalkanmu.

.

.

.

Sebab inilah saat dimana aku harus melangkah ke depan.

.

.

.

Karena kau telah terlampau jauh di belakangku

.

.

.

Semoga kita dapat berjumpa lagi—

.

.

.

Itsudemo sagashiteiru yo dokka ni kimi no sugata wo

I'm always searching everywhere for your figure

Kousaten demo yume no naka demo

At the intersection, in my dream

Konna toki ni iru hazu mo nai no ni

Even though i know you won't be there

Kiseki ga moshimo okoru nara ima sugu kimi ni misetai

If there is a miracle , I want to show you it right now

Atarashii asa, Korekara no boku

The new morning, The new me

Ienakatta 'suki' to iu kotoba mo

Even the word 'love' that i couldn't say to you.

.

.

.

"—If there is a meeting, there should be a farewell—"

.

.

.

"—Thats the meaning of life—"

.

.

.

Music part VI

'Guitar and You last chapter'

Sepenggal lirik lagu dari film : 5cm per second

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Pairing: SasuSaku

Warning: Typo, OOC,AU,abal, gaje, payah,ancur, dll

Genre: Romance/ Angst (?)

Rated :T

Special Thanks to Reviewers and Readers

Dont Like Dont Read, okay!

.

.

.

.

.

Dua sosok itu dipertemukan oleh takdir—dipermainkan nasib, hingga terombang-ambing dalam keputusasaan.

Saat tangan lain terulur, Haruskah mereka menggapainya, atau justru kembali berdiam diri?

.

.

.

.

.

Sasuke melebarkan jejak kakinya di antara salju yang bertumpukan, mengedarkan pandangan guna menghalau butir debu yang menghinggapi kelopak matanya. Ia menatap datar jalanan dengan tumpukan salju berserakan dimana-mana. Surai kehitamannya yang berjuntai kebelakang telah penuh dengan partikel kecil berwarna putih halus. Ia kembali berdehem kecil, mengusap jemarinya yang kebiruan serta berdesah pelan saat udara dingin menembus tulang rusuknya.

"Argh—sial!"

Lelaki Uchiha itu melangkah dengan kesal, sesekali onyxnya menyapu tajam ke depan. Langkah kakinya terhenti sejenak saat siluet seseorang gadis dengan surai yang dikenalnya melintas menuju ke arahnya. Gadis bermata bulat itu hanya menatapnya lugu, Sasuke mengeluarkan napas jengah.

"..."

Uchiha Sasuke hanya terpacu di tempatnya berdiri—membiarkan gadis bulat dengan bakpau putih di tangannya melangkah riang sembari bersiul lincah.

"Paman, kau menghalangi jalanku,"Gadis itu menatapnya polos dengan mata lavendernya yang jernih. Menyentakkan lamunan Sasuke cepat—lelaki beriris kelam itu segera melangkahkan tapak kakinya bergerak sedikit, membuat celah agar gadis itu dapat meneruskan langkahnya kembali.

"Arigatou—"

Gadis itu tersenyum kecil—sukses menyebabkan lelaki di hadapannya tersentak kaku. Melanjutkan perjalannya lagi, sebelum gadis mungil itu pergi—Uchiha Sasuke tanpa sadar membuka sedikit mulutnya.

"Kau—"Gadis kecil itu menatapnya heran. Seakan cambukan menghantam kepalanya, Sasuke segera mengerjapkan mata pelan.

"Sama-sama—"Sambung Sasuke lagi, Gadis itu menggangguk kecil, bercak merah merona menguar di pipi mulusnya, membuat wajah cantik itu semakin terlihat menggemaskan.

Uchiha Sasuke tersenyum tipis saat gadis itu telah benar-benar lenyap dari tempatnya semula.

Ia menyambung langkahnya dengan ringan, entah mengapa beban di hatinya telah terkuras tanpa bekas. Sasuke tetap tersenyum saat mengingat gadis bersurai soft pink lain dalam ingatan kepalanya.

"Yosh, Hinata pasti sudah menungguku—"

Sasuke sadar, apa yang dilihatnya di masa lampau—bertahun-tahun yang lalu adalah sebuah ingatan yang telah berkarat. Rusak—dan telah lama mati dalam benaknya. Berat memang—masa awal dimana ia mencoba melupakan gadis yang dicintainya itu. Namun mengingat ia sudah tidak memiliki keteguhan untuk menunggu sesuatu yang diharapkannya lagi, pada akhirnya ia harus menyerah. Meski sebenarnya ia masih sukar untuk menghadapinya, tapi inilah Uchiha Sasuke yang sekarang. Lelaki yang jauh lebih tegar dan dewasa seperti yang sudah seharusnya. Kadang memang ingatan itu akan mengusiknya lagi—namun Sasuke tidak akan memendam atau melubanginya sama seperti yang ia lakukan dulu.

Sasuke sangat mencintainya. Tapi, bukankah menunggu adalah hal yang membosankan?

Sasuke sudah lelah. Sasuke lelah mengejar bayang fiksi yang berputar dalam imajinasinya. Sasuke sudah terlalu lelah menggapai hal semu. Sasuke ingin berhenti. Ia lelah menatap ke belakang. Dan kali ini, ia benar-benar akan melakukan niat yang telah lama terangkum dalam kepalanya.

.

"—Goodbye,Sakura—"

.

Sasuke melangkah maju. Meninggalkan rangkaian masa lalu yang tertinggal dalam memorinya.

.

.

.

Aku akan mencobanya.

.

Tidak akan ada yang berubah,

.

Hanya saja,

.

Kekosongan itu akan kembali terisi.

.

.

.

"Kau melamun lagi—Sakura!"Manik jade itu mengawasi emerald yang tengah terdiam. Gadis bersurai semampai itu hanya melengoskan napas kecil.

"Hatiku sakit,Gaara,"Alis itu naik. Menggaruk pelipisnya yang tak gatal. Tubuhnya segera berbaring di samping gadis yang tengah menatap kosong itu.

"Maksudmu?"

Gadis itu menggeleng.

"Entahlah—aku juga bingung,"Sabaku no Gara mengacak surai gadis di sampingnya geli.

"Kau ini memang aneh—"Gadis cherry blossom itu cemberut.

"Hei—aku serius—"Sakura memberi jeda. Menarik napas dalam-dalam.

"Kau tahu bukan, aku sering bermimpi selama setahun belakangan ini. Dan mimpi itu selalu saja sama. Mungkin mimpi itu ada kaitannya dengan kepingan ingatan dalam kepalaku. Tapi akhir-akhir ini mimpi itu tidak muncul lagi. Dan itu—"

"—Yang membuat hatimu sakit?"Lanjut lelaki bersurai merah itu pelan. Sakura menggerakkan kepalanya ke bawah. Mengekspresikan kesetujuannya. Sabaku no Gaara hanya memnadangnya lurus. Tatapannya berubah menjadi datar.

"Lelaki itu?"

Sakura tersentak. Irisnya sedikit berkedut namun pembawaannya kembali tenang.

"Um—ya. Tapi—namanya saja aku tidak tahu,"

Sakura tersentak untuk yang ke dua kalinya saat tangan kekar Gaara mengenggam erat tangannya. Seolah mentransfer kehangatan yang ada dalam tubuh lelaki itu pada dirinya. Sedikit membuat gadis itu merona.

"Berhentilah memikirkannya—Sakura,"

Gadis itu memainkan alis. Raut wajahnya berubah bingung.

"—Kau—cemburu?" Gaara hampir saja terloncat kaget mendengar pernyataan Sakura. Garis tipis kemerahan nampak menguar jelas dari sudut-sudut pipinya.

"Ti—tidak, baka!"Sakura tertawa geli. Sejenak kemudian emeraldnya berganti menjadi tatapan serius.

"Kau tidak perlu khawatir Gaara. Aku tidak akan memikirkannya lagi. Lagipula, aku juga heran kenapa sekarang ingatan itu semakin memudar. Malah , aku justru—"Sakura menghentikan ucapannya. Memalingkan wajah sebentar, menyebabkan alis lelaki di hadapannya tertaut tidak mengerti.

"Memimpikanmu!"

Gaara mendelik. Sakura tidak berani menatap manik jade itu, tidak berani menunjukkan wajahnya yang kini memerah akibat ucapannya sendiri. Butuh waktu beberapa saat hingga mulut lelaki itu berucap.

"Kau—tidak bercanda,bukan?"Sakura menunduk malu-malu. Sedetik selanjutnya Gaara semakin menggengam tangan mungil itu lembut. Senyum tampannya terkembang penuh, menampilkan sosok lelaki yang tanpa cacat. Jadenya membekukan Sakura. Membuat gadis itu seolah kehilangan napas dan aura di sekitarnya ikut memanas.

"Aku menyukaimu—Sakura,"

Deg.

Sakura tersentak.

Bukan. Bukan karena omongan Gaara yang meluncur tiba-tiba. Ataupun tatapan Gaara yang menghipnotisnya—melainkan, ucapan Gaara yang terngiang dalam otaknya. Ucapannya itu seakan mengingatkannya pada seseorang. Seseorang yang amat sangat ia rindukan.

"—Sa—su—ke—"

Emerald itu berhenti berkedip. Hanya cairan bening yang dengan cepat menguasai bola matanya. Gadis itu sama sekali tidak paham. Ini adalah kali kedua ia tidak mengerti mengapa ia menangis. Dan perasaannya semakin sakit kala ia mengeja nama dari seseorang yang tidak bisa diingatnya.

"Sakura?"Lelaki bersurai kemerahan itu menengadahkan telapak tangannya pada wajah Sakura. Mencoba menarik kembali Sakura dari lamunannya. Sakura mengelap air mata itu kasar. Menyembunyikan cairan beningnya rapat-rapat.

"Ah—eh—aku juga menyukaimu, Gaara,"Jade itu membesar. Memancarkan rasa senang yang tidak bisa di gambarkan. Lelaki itu memeluk tubuh mungil di hadapannya. Menggambarkan kasih sayang yang keluar dari setiap sudut matanya. Ia senang. Senang sekali.

Namun tidak bagi gadis yang tanpa sadar termenung sendu itu.

Sakura menangis, hening tanpa suara. Mengalirkan kepedihan dalam diam. Ia merasa sebagai gadis bodoh yang tidak bisa memahami dirinya sendiri.

Ia tahu, ia mulai bisa sedikit mengingat kenangan dalam otaknya. Namun di saat yang bersamaan. Ia harus membuang kembali kenangan itu jauh-jauh. Sebab Sakura harus menjalani kehidupannya yang sekarang. Tanpa bayang-bayang masa lalunya.

Mata Sakura terpejam. Ia menangis sesenggukan. Ia sakit. Sakit karena ingatannya perlahan kembali, sekaligus sakit karena ia harus meninggalkan ingatan itu lagi.

Karena Sakura telah memilih—bahwa ia akan menjalani hidupnya yang sekarang.

"—Sayonara,Sasuke"

Bulir itu bergerak menurun. Terus seperti itu—sampai air mata itu dapat mengering. Sampai sakit itu dapat tertutupi secara sempurna.

.

.

.

Aku yang memilih untuk meninggalkanmu.

Sebab aku akan bergerak ke depan.

Aku yang sekarang tidak akan menjadi aku yang dahulu.

Kenyataan memang menyakitkan. Tapi takdir telah menentukan nasibku.

Jangan mengarah kepadaku lagi,

Karena jalan kita sudah berbeda.

.

.

.

.

Kau dan aku tidak akan pernah bisa menjadi 'kita'.

.

.

.

.

Aku dan kau tidak akan pernah 'bersatu'

.

.

.

.

Aku akan mengenangmu, tapi tidak akan kembali padamu

.

.

.

.

'Selamat—tinggal'

.

.

.

.

Itsudemo sagashiteiru yo dokka ni kimi no sugata wo

I'm always searching everywhere for your figure

Kousaten demo yume no naka demo

At the intersection, in my dream

Konna toki ni iru hazu mo nai no ni

Even though i know you won't be there

Kiseki ga moshimo okoru nara ima sugu kimi ni misetai

If there is a miracle , I want to show you it right now

Atarashii asa, Korekara no boku

The new morning, The new me

Ienakatta 'suki' to iu kotoba mo

Even the word 'love' that i couldn't say to you.

.

.

.

.

.

Epilog

"Kau mau menamainya siapa, Sasuke-kun?"Lelaki itu nampak berpikir. Berbagai pikiran memenuhi otaknya, namun ia tidak juga dapat menemukan kata yang pas untuk di utarakan.

"Bagaimana kalau—"

Onyx itu termangu saat menatap gadis mungil—tengah berlari kecil melintasinya. Ia tergelak, otaknya seakan kembali ke beberapa tahun silam. Persis dengan kejadian yang tengah di alaminya dulu. Gadis itu berlenggok dengan surainya yang berwarna merah jambu.

Merah jambu?

Sasuke tersentak pelan.

"Bagaimana kalau—"Sasuke kembali mengulang ucapannya. Memberi jeda sebentar, kemudian menahan napas sejenak.

"—Sakura?"Gadis bersurai indigo di sampingnya sedikit terkejut—namun sedetik kemudian iris lavender itu tersenyum hangat.

"Sakura, ya? Nama yang cukup bagus—"

Uchiha Hinata—perempuan yang menggandeng mesra lengan berotot itu menatapnya lembut sembari mengelus perutnya yang membuncit. Lelaki itu juga tersenyum tipis—kepalanya sedikit terdongak—onyx kelamnya berpijar halus.

.

"Tousan, Kaasan, Ugh—"

"Jangan berlari-lari Sasuke-kun!"

Bocah berumur 5 tahun itu tertawa kecil. Iris polosnya mengarah lurus pada perempuan di hadapannya. Memeluknya riang—menggesek-gesekan pipinya pada tubuh beraroma cherry tersebut.

"Kau sama saja seperti tousan-mu—"

"Hei—siapa yang berani-beraninya meledekku,"

Lelaki lain bersurai kemerahan muncul dari belakang—seringai tampannya nampak mencuat dari sudut bibirnya. Perempuan di sampingnya hanya memutar bola malas.

"Memang benar kan, Gaara?"Lelaki itu menatap kesal.

"Kau juga dulu ceroboh kan,Sakura?" Perempuan itu terkikik geli. Bocah laki-laki itu hanya menatap dua orang di hadapannya heran. Kemudian berlari-lari kecil di tempatnya semula. Lelaki dan perempuan yang memerhatikan tingkahnya hanya dapat menggelengkan kepala.

"Aku penasaran—"Iris emerald itu menghentikan tawanya.

"Kenapa kau menamainya Sasuke, huh?"Kening perempuan itu berkerut. Sebingkai senyuman tipis segera menjalari bibir mungilnya.

"Ra-ha-sia~"

Bibir itu kembali mengeluarkan tawa jahil saat menatap mimik lelaki di hadapannya yang tengah cemberut.

Sabaku no Gaara tidak tahu, bahwa nama itu sangat berarti bagi perempuan itu. Perempuan yang telah lama dinikahinya. Sakura bersyukur,hidupnya memang benar-benar lengkap. Ditambah dengan kehadiran bocah lelaki yang aktif—menambah suasana hangat dalam keluarganya.

Senyum cantiknya mengembang pelan.

.

.

.

.

.

Sebab Tuhan akan menurunkan kebahagian lain untuk mengganti luka dihatimu, bukan?

.

.

.

.

.

.

.

*Owari*


Uchiharuno phoreepeerr: Salam kenal juga ;) ceritanya ini tiap alat musik berbeda ._.

Jadi mulai dari piano, biola, seruling sama gitar itu konfliknya beda tapi sad ending semua .w. , nah yang gitar ini dibikin 3 bab gitu .w.

Aduh kalo bikin sasusaku bersatu maap nda bisa soalnya saya suka fict yang sad ending fufufufu D

/tawa kejem

Yang jelas ini uda happy end kan meskipun mereka ga bersatu ^w^

/heh

Sekali lagi, makasi ripiunya OAo


Sasusaku big fans : ini lanjutannya, silahkan dinikmati :3

Dibikin sekuel lagi? rada bingung juga soalnya kalo dibikin sekuel ceritanya musti dibikin gmna lagi Dx

Soalnya saya suka yang sad ending fufuffu D

/ngek

Makasi ripiunya xD


Akirnyaaaa bab gitar ini selese juga OAO/

Happy end kan? Yaaa meskipun si Sasusaku ga bersama , akirnya si Sasu sama Hinata en si Saku sama Gaara x3

Mau bikin drabble lagi tapi mungkin chap depan temanya recorder , :3

Minta ripiunya, boleh? ._.v