Fast Update saja.. Langsung aja di baca yak..

Disclaimer : Blazblue dan Highschool DxD bukan punya saya.. Tapi cerita ini milik saya..

Warning : OOC, Aneh bin Ajaib, Alur muter-muter, typo banyak, don't like don't read dll.

Blaze of Crimson Dragon

Chapter 2 : Reuni

Pria berpakaian formal itu melompat turun dari tempatnya berdiri tadi. "Yoooo.. Lama tak bertemu ya..." pria itu pun lalu melepas topinya dan menujukan wajah aslinya. Dengan rambut hijau yang berdiri seperti menantang langit itu, si pria tadi tetap dengan seringainya. "Si Pecundang, Raggy-chaaaan.."

Ragna yang melihat wajah itu langsung teringat dengan kejadian itu. Kejadian yang menimpa dirinya dan kedua adiknya. Ingatan yang sangat memilukan bagi dirinya. Ragna pun langsung meraih pedang besarnya dan berlari menuju pria berambut hijau itu.

"TERUMIIIIIII!"

Ragna berlari menuju orang yang dipangil 'Terumi' tadi seraya menyeret pedang besarnya. Saat berlari, tiba-tiba dia dihadang oleh gadis berpita seperti telinga kelinci itu.

"Jangan lakukan itu.." ucap si gadis. "Setelah kejadian itu, kau tidak punya sejuta kesempatan untuk menang melawannya.."

"PERSETAAAAAAAN!"

Ragna lalu melompat dan mengayunkan pedang besarnya pada pria tersebut. Pria tersebut dengan mudah melompat menghindar dari serangan lawannya.

"Kyahaa.. KAU PAYAH.. OUROBOROS!"

Seketika muncul lingkaran sihir dan diikuti dengan kemunculan benda yang ujungnya berbentuk seperti kepala ular dan bertubuh rantai dan diakhiri dengan bagian ujung satunya lagi berbentuk seperti mata pisau.

Ragna berusaha menghindar dari serangan itu. Namun karena cepatnya serangan Terumi dan faktor kelelahan yang dialami Ragna, dia terkena serangan di bagian pinggang. Karena serangan tadi, Ragna langsung bertekuk lutut seraya memegangi pinggangnya yang terluka.

"Ada apa, Raggy-chaaaan? Kemana semangatmu yang tadi?" ejek Terumi.

"BRENGSEEEEEEK!"

Ragna langsung maju tanpa mempedulikan lukanya. Dia terus menyerang Terumi dengan membabi buta.

"Haaaah.. Aku sudah bosan denganmu... OUROBOROS!"

Terumi mengeluarkan Ouroborosnya dan berhasil mengenai targetnya. Ragna pun terpental hingga menghancurkan pilar penyangga bangunan tersebut yang alhasil membuat bangunan itu menuju keruntuhannya.

"Semuanya.. Ayo kita keluar dari sini.." komando Rias kepada para budak iblisnya.

"Tapi.. Bagaimana dengan Ragna-san?" tanya Asia cemas.

"Sudah tidak sempat lagi untuk menyelamatkannya, Asia.. Lebih baik kita selamatkan diri kita terlebih dahulu.." ucap Rias pada Asia.

Asia yang bimbang akhirnya mengikuti Rias dan berlari keluar bangunan tersebut. Rias dan yang lainnya berhasil keluar dari bangunan yang runtuh itu.

"RAGNA-SAAAAAAAN!" teriak Asia saat melihat bangunan itu rata dengan tanah.

Sedetik kemudian, muncul 'gadis kelinci' itu dibarengi kemunculan Ragna dengan posisi tersungkur.

"Lemah.. Kau sangat lemah, Raggy-chaaan.." ucap Terumi dari atas menara yang tak jauh dari reruntuhan itu.

'Gadis kelinci' itu menatap Terumi dengan tajam. Sedangkan Terumi memandang semua yang ada di sana dengan seringainya.

"Ya.. Permainan berakhir.. Aku keluar.. Aku keluar.." ucap Terumi seraya turun dari menara itu dan langsung meninggalkan mereka semua.

"Tunggu di sana kau.. Terumi.." ucap Ragna dengan nafas yang berat.

"Ragna-saaaan.." ucap Asia seraya berlari menuju Ragna yang tersungkur.

Sedetik kemudian, Asia langsung memberikan pertolongan pertama pada Ragna dengan kekuatan dari Twilight Healing-nya.

"Tolong rawat dia.." ucap 'gadis kelinci' itu.

"Ha'i.. Ettoo.. Arigatou.."

"Rachel.. Rachel Alucard.."

"Arigatou, Rachel-san.."

Rachel pun membalasnya dengan senyuman simpulnya. Setelah dia mengembangkan 'payung'nya, Rachel langsung menghilang dari hadapan Rias dan para budak iblisnya.

"Lukanya cukup parah.. Sebaiknya, kita rawat dia.. Setidaknya, sampai dia siuman.." ucap Rias.

Dan mereka semua pun pergi dari tempat itu untuk merawat Ragna yang mengalami luka parah akibat pertarungan tersebut.


"Lemah.. Kau lemah, Ragna-chaaan.."

"Kau bahkan tidak punya jutaan kesempatan untuk menang melawannya.."

"KAU PAYAH!"

Ucapan itu masih terngiang di dalam pikiran Ragna.

"Aku ini.. Orang yang lemah.."

KRIIIIIIING

Bel pulang sudah berbunyi dan membuat Ragna kembali dari lamunanya. Dia beranjak dari tempatnya duduk dan pergi keluar kelas dengan santainya. Dia berjalan menuju halaman sekolah yang cukup luas. Di sana, dia sudah ditunggu oleh Asia.

"Ragna-saaaan.." panggil Asia seraya melambaikan tangan.

Ragna yang melihatnya hanya membalasnya dengan senyum saja.

"Ragna-san.. Apa kau ingin ikut aku ke klub?" tanya Asia.

"Baiklah.. Sekalian, aku ingin berterimakasih kepada mereka karena sudah merawatku.."

Asia mengangguk dengan antusias. Mereka berdua berjalan menuju bangunan sekolah tua dengan senyuman yang terlukis di wajah mereka berdua.

SKIP TIME

TOK TOK TOK

"Silahkan masuk.." ucap Rias dari dalam ruangan.

Asia lalu masuk, disusul oleh Ragna.

"Ara ara~ Ternyata Asia-chan dengan Ragna-kun.." ucap Akeno dengan senyuman khas-nya.

"Ada apa kau datang kemari, Ragna?" tanya Rias.

"Aku datang hanya untuk mengantar Asia ke sini.. Dan juga, aku ingin berterima kasih pada kalian karena sudah merawatku.. Aku benar-benar tertolong.." ucap Ragna. "Baiklah.. Aku akan langsung pulang.. Asia, jika kau sudah selesai hubungi aku.. Aku akan menjemputmu.."

"Ha'i"

"Apa kau tidak ingin minum teh dulu, Ragna-kun?" tawar Akeno.

"Tidak usah.." jawab Ragna sekenanya.

Ragna lalu bergegas keluar dari gedung tersebut.

SKIP TIME

Hari masih sore, Ragna terlihat sedang berbaring santai di pematang sungai. Pandangan yang kosong menatap langit yang berwarna orange ditemani oleh angin sore yang berhenbus santai. Entah karena lelah atau karena rayuan angin sore, Ragna perlahan menutup manatanya dan akhirnya tertidur.

.

.

.

'Saya... Ayo kesini...'

Seorang bocah memanggil seorang gadis yang tengah membaca buku di bawah sebuah pohon besar. Dengan senyumnya, sang gadis membalas panggilan sang kakak. Sang kakak yang awalnya tersenyum langsung menjadi terdiam. Hanya sekejap, ingatan yang memilukan itu terlihat lagi oleh matanya sendiri. Saat dimana itulah hari terakhir dia melihat kedua adiknya.

"HUWAAAAAAAA-"

"-AAAAAAAAAA!"

"Eh?"

Ragna langsung terbangun tidurnya. Entah sejak kapan kepalanya berada di pangkuan seseorang. Terlebih lagi, dia seorang gadis yang tak dikenalnya. Dilihatnya wajah gadis itu dengan sekilas.

"Saya.."

"Eh?"

"Bukan.. SIAPA KAU?"

"Ano.. Maaf telah lancang.. Tapi kulihat, kau sedang tertidur di sini.. Dan juga.." gadis itu menyentuh dahi Ragna. "Suhu tubuhmu yang tinggi itu.. Seharusnya kau tidak boleh berada di sini.. Ayo, sebaiknya kita ke dokter..."

Gadis itu lalu memegang tangan kanan Ragna. Seketika, tubuh gadis itu langsung lemas. Seketika, Ragna langsung menarik tangannya.

"APA-APAAN KAU INI?" bentak Ragna. "Cih"

Ragna langsung meninggalkan gadis itu tanpa mengucapkan sepatah katapun.

Sang gadis menghela nafasnya. "Haaah.. Dia masih saja seperti itu.." gadis itu berjalan menuju arah sebaliknya dari arah Ragna.

"Eh? Masih? Tapi rasanya aku baru bertemu dengannya.."


Ragna berjalan berjalan melalui sebuah jalan yang sunyi dan sepi. Dengan santai namun tetap waspada, dia tetap berjalan.

"Sudah lama, ya?"

"!"

"Akhirnya, kita bertemu lagi.. Nii-san.."

Ragna terkejut. "Jin?"

Jin menyeringai. "Aku heran kau bisa selamat dari kejadian itu.. Dan juga, tanganmu terlihat lebih keras.." Jin menyiapkan pedang Yukianesa-nya. "Mungkin kali ini, akan lebih sulit memotongnya.."

Tanpa basa-basi, Ragna mengeluarkan pedangnya dan langsung menyerang Jin dengan Blood Schyte-nya. Tapi Jin menahannya dengan Yukianesa.

"JIN!"

"Wah, Nii-san.. Apakah kau Nii-san yang dulu?"

"Ada yang ingin kutanyakan padamu.."

Keduanya langsung mengambil langkah mundur.

"Tapi sebelum itu, aku akan menghajarmu terlebih dahulu..."

"Kalau begitu, lebih baik kita saling bunuh saja.. NII-SAAAN!"

Seketika, keluar sebuah es berbentuk seperti pedang dan langsung meluncur ke arah Ragna. Dengan cekatan, Ragna menghancurkan es tersebut. Jin langsung maju dan mengayunkan pedangnya. Ragna dengan cepat menghindar ke belakang Jin dan memberi serangan balasan. Namun, Jin mampu menahannya dengan sarung pedangnya. Jin berbalik dan dari tangannya keluar sebongkah es besar berbentuk kepala serigala. Ragna terpental beberapa meter ke atas dengan kedua tangannya yang membeku. Jin melompat dan langsung menyerang Ragna, namun Ragna dapat menghindar dengan mudah dan mendarat di tanah dengan mulus. Namun Jin tiba-tiba di belakang Ragna. Ragna berusaha menyerang dengan tinju tangan kirinya. Tapi Jin menghindar dengan cara menjatuhkan diri dan berhasil menusuk perut Ragna. Perlahan, pedang Yukianesa tersebut membekukan perut Ragna. Ragna terkejut dan langsung menghancurkan es tersebut dan mengambil langkah mundur. Jin bangkit dengan seringai khas-nya.

"Mmmmhh.. Lumayan juga.. Jadi ini kekuatan dari Azure.."Jin bersiap untuk menyerang. "Belum.. Aku masih belum puaaaass!"

Dengan cepat, Jin maju menyerang Ragna dengan Yukianesa-nya. Terjadi jual beli serangan antara mereka berdua.

"Ini menyenangkan, kan? Nii-saaaaan!" Jin menyeringai ditengah serangannya kepada sang kakak.

Dengan cekatan, Ragna menangkis semua serangan Jin. "Jangan meremehkankuuu!"

Seketika, aura hitam menyelimuti tubuh Ragna. Jin yang menyadarinya langsung mengambil langkah mundur. Mengetahui sang kakak mengeluarkan kekuatan aslinya, Jin menyeringai dengan lebar.

"Bagus, Nii-san! Ini yang aku tunggu!" dengan langkah cepat, Jin berlari menerjang Ragna. Terdengar suara dentingan antara Yukianesa dengan Blood-Schyte.


Sementara itu, di dalam sebuah gedung sekolah tua, tempat berkumpulnya klub Peneliti Ilmu Gaib, Rias merasakan pancaran kekuatan yang luar biasa. Akeno yang melihat mimik wajah Rias menanyakan keadaannya saat ini.

"Ada apa, buchou? Kau tampak gelisah sekali.."

Rias tersentak setelah mendengar ucapan Akeno. "Ah.. Apa kau merasakannya juga, Akeno? Kekuatan yang besar ini"

"Aku juga merasakannya, buchou"

Seketika perasaan Rias menjadi tidak tenang dan menyuruh 'budak-budak'nya untuk mengikutinya ke sumber kekuatan itu. Asia yang masih belum mengerti bertanya pada Rias.

"Buchou.. Sebenarnya apa yang terjadi?"

"Entahlah.. Aku merasakan adanya kekuatan yang besar saling beradu satu sama lain"

Asia yang mendengarnya langsung teringat akan Ragna. "Apa itu Ragna-san?"

"Entahlah, Asia.. Aku masih belum bisa memastikannya.."

Rias langsung menggunakan sihir teleportasi untuk sampai ke sumber kekuatan.


"HYAAAAAAAAA!"

TRANG

"Ini menyenangkan.. NII-SAAAAAN!"

TRING

Suara dentingan pedang itu menjadi musik penghias dari pertarungan mereka. Entahlah apa yang membuat dua saudara ini berhasrat untuk saling membunuh. Tatapan mereka masing-masing memancarkan aura membunuh yang besar.

"JIIIIIIIIIN!"

"NIIIIIIII-SAAAAAN!"

TRANG

"Sialan.. Apa yang membuatmu berpikir untuk mengikuti 'orang brengsek' itu?" ucap Ragna di tengah pertarungan mereka.

"Itu karena kau sendiri, Nii-san.." balas Jin seraya mengayunkan pedangnya.

Saat mereka ingin saling menyerang lagi, sebuah suara menyela pertarungan mereka.

"HENTIKAN PERTARUNGAN KALIAN!"

Jin dan Ragna menghentikan langkah mereka dan menoleh kearah sumber suara.

"Rias?"

"Dasar pengganggu.."

"Apa yang mendasari kalian untuk bertarung di sini?" ucap Rias dengan tegas.

"Ini bukan urusanmu!" balas Ragna dan Jin secara bersamaan.

"Hentikan, Kisaragi-san!" sebuah suara lagi-lagi menyela mereka berdua, namun kali ini, bukan Rias yang menyelanya.

Ragna dan Jin menoleh. Ragna terdiam melihatnya. Jin mendecih. Rias dan 'budak'nya masih terdiam.

"Apa yang kau katakan, Vermillion? Kau tidak punya hak untuk menghentikanku!" ujar Jin dengan nada tinggi.

"Aku memang tidak punya hak.. Tapi ini perintah dari Hazama-san.."

"Hazama?" Jin tersentak mendengar nama itu.

"Yaaa.. Kau ini.. Keluyuran tidak karuan, ya.. Kisaragi-kun" ucap seorang lelaki yang muncul dari belakang wanita yang disebut oleh Jin. Ragna yang melihat sosoknya, langsung memasang wajah ingin membunuh. Dia sudah tahu, jati diri Yuuki Terumi tersembunyi di dalam identitas Hazama.

"Oya.. Ternyata ada Ragna-kun dan para iblis Gremory.. Ah, aku belum memperkenalkan diri.. Namaku adalah Hazama.. Senang berkenalan dengan kalian.." Hazama memperkenalkan dirinya kepada Rias dan para 'budak'nya. "Sebenarnya.. Aku tidak ingin mengganggu kesenanganmu, Kisaragi-kun.. Tapi, ini perintah dari 'Pimpinan'"

"Begitu ya.. Baiklah.." Jin memasukan pedangnya kedalam sarung pedangnya. "Kita akan bersenang-senang lagi.. Nii-san"

Jin lalu melompat ke arah Hazama dan Noel Vermillion.

"Sampai jumpa lagi, semuanyaaa... Kita akan bertemu lagi.." Hazama, Noel dan Jin langsung menghilang dari pandangan.

"Cih.. Dasar.." Ragna menancapkan pedangnya dan perlahan mulai menghilang. Rias dan 'budak'nya menghampiri Ragna yang mengalami beberapa luka tebasan dari pedang Jin. Asia yang melihat keadaan Ragna langsung memberikan pertolongan pertama kepada Ragna.

"Ragna-san.. Tadi itu, siapa? Kenapa dia memanggilmu 'Nii-san'?" Asia bertanya disela mengobatinya.

"Dia itu.. Adalah adikku.."

To Be Continued


Author Note :

AKKKHHHH.. ABSURB BANGET CERITANYA!

Aneh bin ajaib.. Entah apa yang ada di pikiran saya langsung saya tulis saja..

Langsung saja.. Mohon review-nya..