Forgetable Emotion


Genre : Family/Hurt/Comfort

Rated : T

Warning : semi-AU, OOC!Naruto, Typo dkk.

Disclaimed : Naruto © Masashi Kishimoto


First Day


"Saya akan melakukan apapun yang anda perintahkan Hokage-sama… Name Code saya adalah FOX, dan nama yang saya gunakan selama berada di Konoha ini adalah—Kurama…" anak itu melepaskan topeng ANBU miliknya dan tampak menunduk di depan Minato.

Yang bersangkutan sendiri tampak membulatkan matanya, terkejut—entahlah apa yang ia rasakan sekarang ini. Senang, marah, sedih—entahlah semuanya seolah menyatu menjadi satu. Kurama adalah anaknya, selama 6 tahun lamanya ia menganggap kalau ia sudah tewas.

Dan ternyata, sekarang ia berada di depan pria ini—berdiri didepannya seolah menjadi orang yang asing di matanya.

"Kau—" melakukan Hiraishin menuju kearah Danzo, mendorongnya hingga membentur dinding yang ada di ruangan itu. Menatap dengan tatapan tajam, menekan leher Danzo dengan sebelah tangannya, "—apa yang kau lakukan padanya brengsek!"

"Sensei!" Kakashi dan juga yang lainnya—beberapa ANBU—tampak benar-benar terkejut saat melihat Minato yang mengumpat dan terlihat sangat marah. Minato terkenal sebagai orang yang ramah. Melihatnya seperti itu, benar-benar hal yang jarang terjadi.

"Kau menyadarinya? Lebih cepat daripada yang kuduga—"

"Jawab pertanyaanku! Apa yang kau lakukan pada anakku Danzo!" Minato meninggikan suaranya, lebih tepatnya berteriak pada pria di depannya. Kakashi tampak membulatkan matanya, menoleh pada pemuda yang bersangkutan. Wajah yang mirip dengan ayahnya, dan juga tiga buah tanda lahir di setiap sisi pipinya.

'Naruto…?'

"Aku hanya membuatnya berguna untuk desa, kau tidak mengunci Kyuubi dalam dirinya tanpa ada pemikiran sebelumnya bukan," Danzo tampak masih terlihat tenang walaupun Minato bisa membunuhnya kapanpun.

"Aku tidak mengunci Kyuubi dalam tubuhnya untuk membuatnya menjadi senjata seperti ini," mengeratkan giginya, Minato benar-benar ingin membunuh pria yang ada di depannya saat ini, "apakah kau fikir aku mau membuatnya berakhir seperti ini?!"

"Kalau kau mengunci Kyuubi dalam tubuhnya, itu artinya kau sudah siap untuk menjadikannya 'senjata' bagi Konoha!" Danzo tampak melepaskan cengkraman Minato yang entah kenapa melemah. Sementara sang Hokage hanya bisa terdiam dan menundukkan kepalanya.

"Apapun yang kau lakukan sekarang tidak akan ada gunanya…" melihat kearah Kurama yang ada di belakang Minato, masih dengan tatapan datarnya yang benar-benar tidak berekspresi, "Kurama, apakah kau tidak keberatan untuk menjadi sebuah 'senjata' bagi Konoha?"

"Untuk itulah aku ada—Danzo-sama, Hokage-sama…" Minato tersentak mendengar itu. Hingga sejauh mana Danzo menanamkan hal itu pada anaknya hingga ia mengatakan hal itu. Ia bukanlah alat, ia adalah seorang manusia yang membutuhkan kasih sayang dari orang tua. Dan untuk itulah Kushina mengorbankan nyawanya.

"Baiklah—" saat Danzo akan mendekat, Minato segera muncul di depan Kurama dan memegang lengannya seolah melindunginya dari sedikit saja sentuhan dari Danzo. Menundukkan kepalanya, ia tahu kalau tidak ada gunanya ia menyesal—yang bisa ia lakukan hanyalah memperbaikinya.

"Aku tidak akan membiarkannya disentuh olehmu lagi. Mulai sekarang aku akan mengeluarkannya dari squad ANBU dan akan berada dalam pengawasanku," tidak menatap Danzo yang ada di belakangnya, sementara Kurama hanya membiarkan mereka berbicara, "kau tidak akan bisa menyentuhnya seujung jaripun…"

"Aku ingin melihatnya—sampai mana kau bisa mengubah anak itu," Danzo menatap dengan senyuman meremehkan, "bagaimanapun, sejak ia bisa mengenal sesuatu ia hanya mengetahui bagaimana cara menjalankan misinya…"


"Baiklah Naruto, ini sudah malam dan aku sudah tidak memiliki pekerjaan lagi," Minato tersenyum dan merenggangkan tangannya ke atas saat semua pekerjaan di depannya selesai. Anak laki-laki berambut pirang itu tampak duduk di salah satu kursi yang ada di sana dan tidak bergerak sama sekali.

"Naruto?" Minato memanggil anaknya lagi dan menepuk pundaknya. Kali ini membuat yang bersangkutan tampak menoleh pada Minato dengan tatapan bingung, "kita pulang?"

"Baiklah, Hokage-sama…"

Minato tampak hanya diam dan menghela nafas, berjalan kearah pintu keluar sambil menggandeng tangan Naruto yang menurut saja saat itu. Sepertinya banyak yang harus ia lakukan untuk menjadikannya sebagai anak yang normal.

'Mungkin aku harus mulai memasukkannya lagi ke sekolah akademi satu tahun lagi…'


"Tempat tinggal klan Uchiha, untuk apa kita kemari Hokage-sama?"

'Sebelum itu aku akan membiasakan dirinya untuk memanggilku ayah,' Minato hanya tersenyum dan menepuk kepala Naruto yang masih bingung karena pertanyaannya tidak dijawab oleh Minato. Menoleh sekeliling saat melihat seorang pemuda berambut sedikit panjang diikat satu.

"Itachi-kun!" Minato berjalan kearah sang Chuunin yang ada di depan salah satu rumah disana. Bersama dengan seorang anak laki-laki berambut hitam pendek yang tampak memegang bagian bawah pakaian pemuda bernama Itachi itu, "maaf merepotkanmu malam-malam seperti ini…"

"Tidak masalah sama sekali Yondaime-sama, ini adalah pakaian yang anda minta—" Itachi tampak memberikan sebuah kaus berwarna hitam dengan celana berwarna putih, serta sebuah piyama bergambar kipas berwarna hitam.

"Aku akan mengembalikannya besok, aku benar-benar sudah merepotkanmu," Minato menghela nafas. Saat itu kebetulan Itachi berada di kantor Hokage untuk melaporkan misi saat kejadian itu baru saja selesai. Melihat kalau pada jam segitu seluruh toko tutup, pada akhirnya ia meminta pada Itachi untuk meminjamkan pakaian adiknya.

"Anda tidak perlu terburu-buru," Itachi membungkuk sedikit, sementara anak laki-laki yang tampak memegang pakaian Itachi itu tampak menatap kearah Minato.

"Ah, apakah dia adalah Sasuke?"

"Ya, dia adalah adikku—" menepuk punggung Sasuke perlahan sebagai tanda untuk memberikan salam pada sang Hokage, dengan segera Sasuke menunduk pelan dan segera kembali ke belakang kaki kakaknya.

"Ia seumuran dengan Naruto, mungkin ia akan menjadi teman baik," Minato menoleh pada Naruto yang hanya diam tidak menatap ketiganya. Saat ia merasakan Minato, Itachi, dan juga Sasuke tampak menatapnya, ia baru menoleh dan menatap dengan tatapan kosong.

"Hei, namaku adalah Uchiha Sasuke—" Sasuke yang pertama kali mengulurkan tangannya kearah Naruto. Membalas tatapannya, dan bukannya mengulurkan tangannya Naruto hanya membungkukkan kepalanya sedikit.

"Naruto."

Ia tidak mengerti, tetapi sang Yondaime memanggilnya seperti itu, dan itu artinya 'Naruto' adalah nama yang akan ia gunakan selama bersama dengan sang Hokage. Sasuke tampak sedikit terkejut dan juga bingung, Itachi sendiri hanya diam menatap kearah Naruto.

"Maaf kalau ia seperti itu, ia baru kali ini datang ke Konoha dan bertemu dengan orang yang tidak dikenal," jawab Minato sambil menepuk kepala Naruto dan Itachi hanya mengangguk dan melihat Sasuke yang menguap.

"Ah, sepertinya aku akan pulang saja. Sampaikan salamku untuk ayah dan juga ibumu—selamat malam Itachi-kun, Sasuke-kun…"


"Nah Naruto, kita sudah sampai di rumah." Minato membuka pintu dan menyalakan lampu mansion milik keluarga Namikaze itu. Kurama—atau yang sekarang bernama Naruto—hanya diam dan berjalan masuk. Pakaian ANBUnya sudah dilepas dan digantikan sebuah kaus berwarna hitam.

"Apakah kau ingin makan malam dulu Naruto? Tetapi aku hanya bisa membuatkan omelet saja—"

"Kenapa anda tidak memanggilku Kurama, Hokage-sama…?" gerakan Minato tampak terhenti mendengar perkataan Naruto. Kalau dilihat dari dekat, akan terlihat tubuh Minato yang gemetar. Ia tidak bisa berbicara beberapa saat sebelum tersenyum dan berbalik.

"Karena namamu adalah Naruto… Aku dan ibumu memberimu nama itu dan sampai kapanpun itu adalah namamu," berjongkok dan mengusap kepala anak berusia 6 tahun itu. Walaupun sudah mengatakan hal itu, tetapi raut wajah Naruto tampak tidak berubah.

"Jika anda menginginkan hal itu, maka saya akan melakukannya…" perkataan formal, bukan perkataan seorang anak terhadap ayahnya tetapi lebih seperti seorang Shinobi pada sang Hokage. Itu membuatnya tidak bisa berkata apapun lagi dan hanya berdiri dan membelakangi Naruto.

"Aku akan mengantarkanmu ke kamarmu," Minato mencoba untuk tersenyum dan Naruto hanya mengangguk sambil berjalan sebelum menghentikan langkah saat berada di atas tangga. Mengingat sesuatu yang lupa ia lakukan.

"Ah, kamarmu tidak memiliki ranjang yang cukup untukmu tidur," Minato menepuk dahinya. Kamar yang tidak pernah tersentuh sejak 6 tahun yang lalu itu masih memiliki ranjang bayi saja. Bagaimana mungkin anak berusia 6 tahun bisa tidur disana.

"Aku bisa tidur di tempat—"

"Tidak, bagaimana kalau kau tidur bersamaku?" Minato menunjuk dirinya sambil tersenyum. Sebenarnya ada banyak sekali ruangan kosong yang bisa digunakan oleh Naruto. Tetapi, tentu saja setelah 6 tahun tidak melihatnya, yang diinginkan Minato hanyalah bersama dengan anak itu.

"Kalau itu keinginan anda…"


"Baiklah, sudah saatnya untuk tidur—" mengingat jam menunjukkan pukul 12 malam, tentu saja itu sudah jauh daripada jam malam untuk anak normal. Hari ini ia tidak bisa melakukan apapun, tetapi besok ia akan lebih banyak menghabiskan waktu bersama dengan Naruto.

Menggendong tubuh Naruto yang tampak sangat ringan, dan menidurkannya di tempat tidur yang cukup besar untuk dua orang itu sambil menyelimutinya. Ia tidak menyangka kalau Naruto yang 6 tahun yang lalu bisa ia pegang dengan satu tangan itu kini sudah sangat besar.

"Anda tidak tidur Hokage-sama?"

"Aku menunggumu untuk tidur Naruto, apakah itu mengganggumu?" Jawabnya sambil menatap Naruto yang tidak menunjukkan tanda-tanda mengantuk ataupun ingin tidur. Naruto sendiri hanya menggelengkan kepalanya saja.

"Saya terbiasa untuk menjaga anda hingga anda tertidur, karena saya harus memastikan keadaan aman…" menyerengit sedikit seolah ia mendapatkan luka yang tidak tampak di tubuhnya. Mencoba untuk mendekapnya perlahan, membawa Naruto pada pelukannya.

"Kau sudah bukan ANBU lagi Naruto, kau adalah anakku. Kau tidak perlu lagi memikirkan apapun tentang misi, ataupun pertarungan—" berbisik pelan sambil mengusap kepala anak itu. Naruto sendiri, walaupun raut wajahnya tetap tidak berubah, tetapi tatapannya sedikit melembut.

'Perasaan apa ini—rasanya, hangat… membuatku merasa aman…' matanya tampak sedikit demi sedikit menutup. Perasaan aman yang diberikan oleh Minato benar-benar membawanya pada rasa hangat yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Tanpa ia sadari, matanya semakin berat hingga ia terlelap tanpa sadar.

Menyadari kalau Naruto tampak tertidur, Minato mencoba untuk bergerak dan melihat sosok polos dari anaknya itu. Bagaimanapun kehidupannya, ia bisa melihat sisi polos dari Naruto saat ini. Ekspresinya saat tertidur tidak pernah berubah sejak saat pertama kali ia melihatnya.

'Kalau saja aku lebih cepat menemukannya—' senyumannya tampak menghilang, dan dekapannya tampak semakin erat tanpa menyakiti anak itu. Mengusap kepalanya penuh kasih sayang, sambil membenamkan wajahnya diatas kepala Naruto, 'kalau saja aku tidak mengunci Kyuubi padamu…'


Entah sudah berapa lama Minato tidak tertidur senyenyak ini. Walaupun keadaan anaknya cukup membuat miris dirinya, namun ia tahu ia bisa memperbaikinya. Yang penting adalah, ia masih bisa melihat anaknya hidup dan tinggal bersama dengannya.

Merasakan sinar matahari yang tampak menerpa wajahnya, membuatnya mengerjap pelan hingga matanya terbuka. Entah sudah pukul berapa, tetapi satu hal yang ia lihat saat matanya terbuka adalah iris mata biru yang menatap kearahnya.

"Selamat pagi, Hokage-sama…"

"Kau sudah bangun Naruto? Pukul berapa sekarang?" Minato mencoba untuk bergerak agar anaknya bisa bergerak dengan bebas. Ya, ia tidak melepaskan dekapan itu dan tampak seolah tidak ingin melepaskannya.

"Sembilan pagi…"

"Sejak kapan kau bangun?" Minato tampak bangkit dan membuka jendela kamar untuk membiarkan udara pagi tampak berhembus ke dalam. Naruto tampak bersiap dengan pakaian yang disiapkan oleh Minato tadi malam.

"Pukul 6 pagi…"

"Eh? Harusnya kau membangunkanku saja Naruto—kau pasti merasa tidak nyaman dengan posisimu tadi," menoleh dengan cepat saat mendengar kalau sang anak sudah bangun sejak 3 jam yang lalu dan tidak bergerak dari posisinya.

"Saya tidak berani untuk membangunkan anda Hokage-sama, itu terlalu lancang untuk seorang ANBU… tanpa perintah seperti saya," Minato berhenti berjalan dan menatap anak berusia 6 tahun itu. Perkataannya benar-benar tidak cocok untuk dikatakan oleh anak seusianya—tetapi mengingat ia berada dalam didikan dari organisasi ROOT milik Danzo, ia paham.

"Naruto, apakah kau tahu siapa aku?"

"Anda adalah Yondaime Hokage-sama," jawabnya tanpa ragu. Program yang ada di otaknya, itu yang menyebutkan kalau orang di depannya adalah seorang Yondaime Hokage tidak ada yang lainnya. Minato mencoba menunggu jawaban lainnya tetapi tidak ada.

"Selain itu?"

"Anda adalah orang yang bertarung melawan Kyuubi, dan menyegelnya di dalam tubuh saya…" menatap dengan tatapan terkejut dan horror saat mendengar perkataan itu. Naruto mengetahuinya, ia mengetahui kalau Minato mengunci Kyuubi dalam tubuhnya.

"Bagaimana kau bisa tahu Naruto?"

"Danzo-sama mengatakan, Kyuubi adalah sesuatu yang membuatku pantas untuk menjadi alat dan senjata bagi Konoha. Dan itulah arti dari keberadaanku—" walaupun Naruto tidak menyalahkannya langsung, entah kenapa perkataan itu terdengar seperti 'karena kau mengunci Kyuubi, aku berubah menjadi seperti ini' dan itu membuat sang Hokage benar-benar terdiam tidak mengatakan apapun.

"Apakah… kau tahu kalau aku adalah ayahmu…?"

"Tidak hingga tadi malam," jawabnya seolah ia tidak terkejut sama sekali.

"Maaf karena aku melakukannya—walaupun kau adalah anakku…"

"Tidak apa-apa Hokage-sama, anda melakukan itu untuk kepentingan desa." Seharusnya Minato senang karena anaknya tidak marah atas apa yang ia lakukan. Tetapi untuk sekarang, ia lebih menyukai jika Naruto marah padanya—menunjukkan kalau ia masih memiliki emosi untuk ditunjukkan.

"Naruto… kau sudah mengetahui kalau aku adalah ayahmu. Bisakah kau memanggilku tou-san?"

Naruto tampak menatap pada sang Hokage muda seolah ia sedang bertemu dengan sebuah kalimat yang tidak pernah ia dengar sebelumnya. Mulutnya terbuka sebentar sebelum akhirnya tertutup lagi. Mencoba untuk mencari kata yang tepat untuk berbicara dengan seorang Hokage.

"Naruto?"

.

.

.

"Apakah itu adalah perintah?"

Tampak menutup matanya erat, kepalanya tertunduk lebih dalam saat mendengar perkataan itu. Ia tahu kalau Naruto tidak bermaksud untuk menyakitinya. Tetapi, apapun yang ia lihat sekarang sudah cukup untuk membuat hatinya hancur berkeping-keping.

"Sensei, akan ada pertemuan dengan para anggota council…" beruntung Kakashi datang sebelum air matanya jatuh. Berdiri dan membelakangi Kakashi, masih mencoba untuk tersenyum kearah Naruto yang ada di depannya.

"Aku akan segera kesana Kakashi…" mengambil salah satu kunai bermata tiga miliknya yang memiliki fuin di pegangannya. Berjongkok kearah Naruto dan menepuk kepala anak itu, "ini adalah kunai milikku. Kalau kau membutuhkan apapun, aku akan ada disana secepatnya. Jangan sampai menghilangkannya…"

"Apa yang harus saya lakukan saat anda pergi, Hokage-sama?" Kakashi yang mendengar pembicaraan aneh antara ayah dan anak itu bisa menemukan tatapan nanar dari mantan gurunya itu.

"Kau bisa bermain diluar, tetapi jangan mencoba untuk bertarung—kau tidak perlu melakukannya," Naruto menatap Minato sejenak sebelum mengangguk pada Minato yang segera membereskan dirinya dan segera memakai jubahnya.


Ia sudah selesai membereskan semua yang belum dilakukan oleh Minato di 'rumah' mereka. Dan sekarang ia sedang berada ditengah kerumunan orang-orang yang berlalu lalang itu. Ia tidak tahu harus melakukan apa—ia tidak mengerti apa yang harus ia lakukan selain melakukan misi seperti yang ia lakukan biasanya.

"Apa yang dilakukan semua orang selain mengerjakan misi—" mencoba untuk berfikir keras, melihat beberapa anak yang tampak bermain disana. Namun ia tidak mendekat dan memutuskan untuk tidak mendekat dan hanya melihat mereka.

"Hei," salah satu dari mereka tampak mendekat. Naruto menoleh untuk menemukan seorang anak laki-laki berambut hitam yang semalam ia temui, "kau yang datang bersama dengan Yondaime Hokage semalam bukan?"

Naruto hanya mengangguk.

"Kau tidak bermain dengan yang lainnya? Walaupun terkadang anak-anak perempuan menyebalkan, tetapi bermain dengan mereka benar-benar menyenangkan—" jawab anak bernama Sasuke itu sambil tetap menatap Naruto.

"Menyenangkan? Bagaimana rasanya merasakan hal yang menyenangkan itu—" Sasuke benar-benar menganggap anak ini aneh sejak pertama kali bertemu dengannya, "—dalam misi, tidak ada kata menyenangkan…"

"Misi?"

"Oi Sasuke, siapa dia?" kali ini pemuda dengan sebuah tattoo segitiga terbalik di bawah matanya yang menghampiri mereka berdua dengan semua anak yang tampak tadi bermain di tempat itu tadi.

"Naruto… Namikaze kurasa, ia adalah anak dari Yondaime Hokage-sama," jawab Sasuke sambil menunjuk kearah Naruto.

"HEEE! Kau adalah anak dari seorang Hokage?! Itu hebat!" ia melihat anak laki-laki bertubuh gemuk yang tampak memakan chipnya sambil berbicara.

"Kukira Yondaime-sama tidak memiliki anak?"

"Merepotkan…"

"Mungkin disembunyikan keberadaannya dari dulu?"

"Kau terlalu banyak menonton drama Ino-pig!"

Dan beberapa omongan yang tampak keluar dari mulut semua anak disana. Naruto hanya diam dan mendengarkan, tidak berbicara apapun pada mereka walaupun mereka berada di sekelilingnya. Ia baru pertama kali ini berada diantara anak-anak selain Sai dan juga Shin.

"Hei Naruto, apakah kau ingin bermain?" perempuan berambut kuning pucat itu tampak tersenyum kearah Naruto. Sedikit tersentak sebelum menatap mereka semua. Terdiam sejenak, ia masih bingung harus melakukan apa—tetapi pada akhirnya ia hanya menggeleng.

"Mungkin besok saja…"

"Baiklah, kami akan menunggumu besok Naruto, jangan hanya diam seperti tadi—" lanjut seorang anak laki-laki dengan tattoo segitiga terbalik dibawah matanya, "ah, aku harus membantu nee-san memandikan anjing-anjingnya!"

Dan beberapa alasan lainnya yang membuat gerombolan anak itu tampak pergi setelah berpamitan dengan Naruto. Dan saat ia sadar, ia sudah sendirian lagi—duduk di atas ayunan yang ada disana.

Turun dari tempatnya, dan segera berjalan—melihat sekeliling dimana semua orang tampak berlalu-lalang sambil sesekali menatapnya. Mereka cukup bingung dengan seorang anak yang sangat mirip dengan sang Hokage.

Berbelok pada sebuah gang kecil yang cukup sepi, ia akan menuju ke kantor Hokage saat itu.

"Bagaimana rencana kita?" suara itu membuatnya menghentikan langkah untuk menemukan beberapa shinobi yang berkumpul. Ia bisa melihat dari ikat kepala mereka, mereka berasal dari Kumogakure.

"Mata-mata kita sudah menyusup—Mizuki akan menambahkan racun pada minuman yang akan diberikan pada Yondaime Hokage," salah satu dari mereka tampak berbicara, "dua tahun yang lalu kita gagal dalam misi penculikan anak dari klan Hyuuga, dan Yondaime Hokage yang menyebabkan itu semua. Misi kita adalah membunuh Yondaime Hokage…"

"Apakah ia bisa dipercaya?"

"Kita sudah menjanjikannya gulungan jutsu tingkat S milik Kumogakure, ia pasti akan melakukannya…"

Naruto yang mendengar semua itu baru saja akan membuat segel tangan untuk menyerang mereka. Saat segel tangan itu hampir selesai, tiba-tiba saja ia teringat akan sesuatu.

'Jangan mencoba untuk bertarung…'

Terdiam sejenak, ia tampak menurunkan tangannya tidak jadi menyerang orang-orang yang ada di depannya sekarang ini. Perintah dari Hokage harus ia turuti, dan itu artinya ia tidak akan bertarung hingga ada perintah untuk bertarung.

Tetapi kalau mereka dibiarkan, keadaan Hokage akan dalam bahaya…

Dengan segera ia melakukan Shunshin, kembali ke tempat Yondaime Hokage berada. Semoga saja ia tidak mengganggu pekerjaannya.


Minato tampak berada di ruangannya bersama dengan 'rekan seperjuangannya' yakni beberapa tumpuk laporan mengelilingi. Ia benar-benar tak habis fikir kenapa benda mati ini bisa terlihat seperti hidup dan beranak pinak hingga tidak pernah habis walaupun setiap hari ia sudah mengerjakannya.

"Sekarang aku mengerti kenapa Sarutobi-sama sangat senang saat aku terpilih menjadi Hokage keempat—" menghela nafas dan kembali mengerjakan laporannya saat tiba-tiba ia mendengar suara pintu yang diketuk.

"Siapa?"

Pintu terbuka untuk menunjukkan anak laki-lakinya yang tampak membungkuk sebelum masuk ke dalam. Minato tersenyum, menggesturkan tangannya agar Naruto masuk lebih kedalam.

"Bagaimana harimu Naruto?"

"Biasa saja, dan—cukup membosankan dengan tidak adanya misi," jawab Naruto sambil berjalan dan Minato tampak mengecup pipinya dan mengusap rambutnya. Naruto tampak berjalan dan duduk di sofa yang ada di ruangan itu.

"Kau akan terbiasa dengan itu…" Minato tertawa, mendengar hal itu dari anaknya, "aku akan menyelesaikannya dengan cepat setelah itu kita akan makan ramen seperti satu tahun yang lalu."

Naruto hanya mengangguk dan kembali diam, hingga suara ketukan pintu kembali menginterupsinya. Kali ini seseorang yang tampak pria berambut putih pendek yang membawa sebuah laporan dan juga sebuah nampan berisi minuman.

"Hokage-sama, saya datang membawakan laporan terakhir hari ini," pria itu tampak menaruh laporan itu di depan Minato dan juga minuman pada sisi kanan dari sang Yondaime Hokage. Melihat laporan yang kembali bertambah membuatnya sedikit bergidik.

"Baiklah, kau boleh pergi sekarang… Mizuki." menghela nafas dan pria itu tampak menundukkan kepalanya dan berjalan keluar dari ruangan itu. Naruto menatap orang itu, bereaksi saat mendengar namanya.

"Mata-mata kita sudah menyusup—Mizuki akan menambahkan racun pada minuman yang akan diberikan pada Yondaime Hokage,"

"Hah, benar-benar—hari ini mungkin tidak akan sempat, tetapi Kakashi akan membawakan makanan pada kita," Minato tertawa dan menatap Naruto yang masih tidak mengalihkan pandangannya dari Mizuki. Menoleh untuk melihat Minato akan meminum minuman itu, dan ia tampak mencoba untuk menghentikannya.

"Otou-san," Minato yang tampak akan meminum minuman itu hampir saja tersedak oleh ludah sendiri saat mendengar Naruto memanggilnya seperti itu. Matanya sedikit membulat dan tampak senyuman senang terpancar di wajahnya.

"Ada apa Naruto?"

"Bisakah… aku meminta minuman anda?" Naruto tahu itu adalah perbuatan yang lancang. Memanggil Hokage-sama dengan sebutan lain juga merupakan hal yang tabu, tetapi ia tahu—kalau ia memanggil sang Hokage seperti itu, maka Minato akan memperbolehkannya.

"Kau haus? Baiklah, kau tidak perlu sekaku itu meminta minuman padaku Naruto—" Minato tersenyum dan Naruto tampak berjalan untuk mengambil minuman yang ada di dekat Minato. Ia bisa saja membuangnya, tetapi kalau itu bukan minuman yang disebutkan, itu akan sangat berbahaya.

'Naruto tampak lucu saat memegang gelas itu dengan kedua tangannya—' Minato tampak malah menikmati pemandangan anaknya yang tampak memegang gelas dengan kedua tangannya karena ukuran gelas itu yang terlalu besar.

"Minato-sensei!" suara dari pintu depan membuatnya tersentak dan segera berjalan untuk membuka pintu itu. Menemukan Kakashi yang tampak terburu-buru berada di depan ruangannya.

"Ada apa Kakashi?"

"Beberapa orang tampaknya diserang oleh shinobi misterius yang menyusup kemari. Menurut informasi, sepertinya itu adalah shinobi yang berasal dari Kumogakure!"

"Mereka lagi—kali ini apa yang mereka rencanakan—"

PRANG!

Suara benda yang jatuh tampak menginterupsi perkataan dari Minato. Menoleh pada asal suara, menemukan gelas yang saat itu pecah dan Naruto yang tampak tumbang sambil memegangi dadanya. Ia tidak pernah melihat wajah Naruto yang kesakitan sampai seperti itu membuatnya segera bergerak dan mencoba untuk memeriksanya.

"Naruto, Naruto ada apa denganmu!" tidak bisa menjawab, anak berusia 6 tahun itu tampak terbatuk dan mengeluarkan darah dari mulutnya. Minato tampak panik dan mencoba untuk menggendong anaknya.

"Sensei ada apa dengan Naruto!"

"Aku tidak—" Minato tampak menyadari sesuatu, sikap aneh Naruto yang tiba-tiba memanggilnya 'otou-san' dan juga permintaannya untuk meminta minumannya. Ada yang aneh—dan itu baru ia sadari.

"Kakashi, periksa minuman yang tumpah itu—aku akan membawa Naruto ke Rumah Sakit," Minato berdiri sambil menggendong Naruto. Kakashi yang bingung tampak mencoba menatap sang mantan guru untuk menemukan tatapan tajam dan dingin yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.

"Ba—baiklah sensei…"


Entah sudah berapa lama ia menunggu di depan ruang perawatan hanya untuk mengetahui keadaan dari Naruto. Ia tidak perduli dengan semua yang ada di sekelilingnya, yang ia tahu hanyalah Naruto yang berada dalam ruangan itu.

'Apa yang sebenarnya terjadi…'

"Hokage-sama," suara itu membuatnya menoleh untuk menemukan salah satu Iryo-nin yang baru saja keluar dari tempat itu. Dengan segera berdiri dan menghampirinya, "racun yang ada di minuman anda adalah racun yang sangat kuat. Ajaib karena jantungnya tidak langsung berhenti saat cairan itu masuk ke dalam tubuhnya."

"Racun dalam minuman—" sekarang ia bisa menebak kalau Naruto mengetahui semua itu. Ia tahu kalau aka nada racun dalam minuman yang diberikan padanya, "—bagaimana keadaannya?"

"Masih belum stabil, tetapi ia sudah mendapatkan sedikit kesadarannya…"

"Apakah aku bisa melihatnya?" perawat itu tampak mengangguk dan mempersilahkan sang Hokage untuk masuk ke dalam ruangan yang ada di belakangnya. Perlahan, ia membuka pintu dan mencoba untuk melihat sekeliling.

Bau obat benar-benar menyengat, dan nuansa putih menghiasi hampir seluruh ruangan.

Ia tidak terganggu dengan hal itu, tetapi ia benar-benar khawatir dengan sosok yang ada di atas tempat tidur saat itu. Terbaring disana, tampak pucat dan juga lemah. Dengan segera Minato duduk di samping tempat tidur anaknya itu dan melihatnya yang membuka mata pelan.

"Kau tahu kalau minuman itu beracun bukan?" suaranya tampak lirih dan juga pelan. Tangannya menggenggam tangan kecil itu, sementara yang lainnya tampak mengusap kepalanya lembut. Anak itu hanya menjawab dengan anggukan.

"Kenapa kau tetap meminumnya? Kalau bukan karena chakra Kyuubi itu, kau sudah mati sekarang Naruto…"

"Karena tugasku… adalah melindungi anda… Hokage-sama…" usapannya terhenti, kali ini ia benar-benar tidak bisa menahannya—tangannya gemetar saat mendengar hal itu, dan Minato hanya bisa menundukkan kepalanya sambil melepaskan tangan itu perlahan saat ia melihat mata itu tertutup lagi untuk beristirahat.

Ini terlalu sakit untuk ia rasakan, Naruto adalah anaknya. Tetapi satu hari bersamanya, dan ia sudah cukup banyak menahan diri untuk tidak menunjukkan emosinya. Ia adalah seorang Hokage, dan terlebih ia adalah seorang Shinobi.

Seorang shinobi tidak boleh menunjukkan emosi yang berlebihan karena itu akan menunjukkan kelemahan mereka.

Tetapi, ia juga bukan hanya seorang Hokage dan juga seorang Shinobi. Ia juga adalah seorang ayah yang tetap memikirkan keselamatan anaknya.

Lalu apa yang harus ia lakukan sekarang, saat ia mendapati anaknya yang berada di depannya seolah menjadi orang yang asing baginya.


To be Continue


Stop chapter ini ga banget deh =_=# tapi ga nemu adegan yang tepat, jadinya nyetop disana daripada kebablasan time skip.

Kayaknya chapter ini ga terlalu memuaskan ya—Cuma berisi hari pertama Minato sama Naruto, yang malah bikin dia sakit hati gara-gara sikap anaknya yang Cuma nganggep dia Hokage, bukannya seorang ayah :(

Poor Yondaddy…

Waaah, ternyata banyak yang review ya ^^ saya sangat senang anda menikmati cerita yang saya buat baik itu cerita ini maupun cerita yang lainnya.

Review anda semua benar-benar membuat saya semangat untuk segera menulis chapter selanjutnya XD


Q & A


Shinobiking10 (Pasti dia dimasukin ke sekolah akademik ^^ makasih ya :D)

Aster-bunny-bee (cerita ini isinya tentang Minato yang berusaha untuk anaknya biar ga emotionless sih, dibantu dengan semua orang yang ada di canon tentu saja XD)

KyuubiNaru (saya memang bikin bashing!Danzo #LOL saya juga kesel sama dia kok =w=b dia sama Minato dan lepas #sementara dari Danzo, tapi untuk sekarang dia emo begini dulu ^^;)

Guest (maaf kalau ini kurang kilat o.o)

AN Narra (waah kecepetan yah, soalnya yang jadi inti cerita bukan tentang pertemuan Minato sama Naruto sih ^^; maaf ya (_ _) )

Wewewewww (bukannya ga ada yang jaga, tapi semuanya pada dibunuhin sama anak buahnya Danzo. XD)

Skyesphantom (ehehe, makasih ^^ typo masih ada kok #orz #barusadar tenang aja, lambat laun Naruto bakal bersikap lebih ekspresif kok ;) )

Guest (sudah update ^^)

Guest (sudah update ^^)

Nakato-san (ini sudah update :D)

Earl Grey Bernvoureth (dia sudah bilang kalau dia papanya kok, Naru sih still emotionless denger gituan XD)

Vionner97 (hehehe, diusahakan untuk happy ending. Tapi karena genrenya hurt/comfort, untuk awal-awal masih sedih2 gitu XD #plak)

Cicikun Syeren (sudah update XD)

Abi. Putraramadhan (tentu saja Memory of the Otherself masih lanjut XD updatenya gentian-gantian kok XD)


Next Chapter


"Sudah cukup dengan melindungiku Naruto, seharusnya aku yang melakukan itu untukmu…"

.

"Apakah karena aku lemah, kau tidak ingin memerintahkanku Yondaime-sama?"

.

"Aku akan memasukkanmu ke sekolah akademi, kuharap kau bisa memiliki banyak teman disana…"

.

"Chichiue mengatakan, jika kau memang tidak ingin melakukan misi itu, jangan memaksakan dirimu…"

.

"Kau mengerti kalau misi berada diatas segalanya bukan?"

.

"Aku bersyukur ia tidak memanggilku Hokage-sama lagi… tetapi Chichiue? Aku bukan orang yang menjunjung formalitas antar keluarga seperti Hiashi…"