A/N penting : Dimohon untuk melihat A/N yang saya bold dibawah nanti :D


Forgetable Emotion


Genre : Family/Hurt/Comfort

Rated : T

Warning : semi-AU, OOC!Naruto, Typo dkk.

Disclaimed : Naruto © Masashi Kishimoto


First Leason How to Smile


Itachi mencoba untuk menyusul Minato yang mencoba mencari Naruto di rumahnya. Melihat sekeliling saat ia berada di jalanan perumahan klan Uchiha untuk melihat apa yang ada disana. Dengan beberapa ANBU yang bergerak membantunya, ia menelusuri jalanan yang dipenuhi oleh mayat yang bergelimpangan itu.

"Sebaiknya beberapa dari kalian membantu Hokage-sama untuk melawan orang itu."

Beberapa ANBU mengangguk dan segera pergi dari sana. Itachi mencoba untuk mencari orang yang selamat terlebih dahulu.

"Suara itu...I-Itachi..." Suara yang ia kenal baik membuatnya menoleh pada salah satu sudut jalanan untuk menemukan pria yang ia kenal sangat baik. Sahabatnya yang dikenal sebagai salah satu pengguna Mangekyo Sharingan di klannya.

Uchiha Shisui.

"Shisui!" Dengan segera melihat keadaan sahabatnya itu yang tampak terluka sangat parah di bagian dadanya. Darah yang keluar membuatnya pesimis bisa menyelamatkan pemuda itu, "hei, panggilkan ninja medis sekarang juga!"

"T-Tidak Itachi, aku tidak mungkin selamat..." Itachi melihat mata Shisui yang mengeluarkan darah. Ia tahu kalau kedua mata itu tidak mungkin ada di tempatnya lagi. Seseorang sudah mengambilnya dari mata sahabatnya, "seseorang mengambil mataku. Aku tidak bisa melihat siapa, dan saat sadar aku sudah diserbu oleh ratusan kunai..."

"Jangan berbicara dulu!"

"Ahaha...ha... Se-seperti bukan kau saja, panik seperti itu..." Jawabnya tampak kesusahan untuk berkata. Itachi benar-benar tampak kacau dan tidak bisa berbuat apapun. Ia hanya bisa melihat sahabatnya meregang nyawa di depannya, "apakah kau bisa menuruti permintaan terakhirku...?"

"Jangan katakan hal seperti itu, kau akan selamat apapun yang terjadi," jawabnya mencoba untuk tetap tenang.

"Tidak, bunuh aku sekarang Itachi... Aku tahu itu akan membangkitkan mata Mangekyoumu."

"Jangan bercanda! Aku tidak mungkin bisa melakukan itu!"

"A-aku hanya ingin kematianku berguna, terlebih untuk membuat sahabatku menjadi lebih kuat. D-dan melindungi apa yang ingin kau lindungi," Shisui mencoba untuk tetap sadar. Karena yang ia inginkan, agar sahabatnya membunuhnya dan mendapatkan kekuatan Mangekyou dan kematiannya tidak akan sia-sia, "aku tidak ingin...kematianku sia-sia Itachi..."

Mengambil salah satu kunai dan menggerakkan tangan Itachi untuk memegangnya. Yang bersangkutan hanya bisa terdiam dan menundukkan kepalanya bahkan tidak sanggup melihat apa yang ada dihadapannya.

"Aku akan mencari orang yang membuatmu seperti ini... Aku berjanji akan membalaskan dendammu, Shisui..." Tampak air mata yang begitu saja mengalir dari matanya. Hanya tersenyum, Shusui tampak melepaskan genggaman tangannya dan Itachi menaikkan kunai itu dan akan menusuknya tepat di jantung.

"Aku mengandalkanmu...sahabatku..."

Satu tusukan di jantung, dan nafas itu terengkut dari Shisui. Satu nyawa melayang, namun satu kekuatan tercipta dari pengorbanan itu. Jujur ia sama sekali tidak senang dengan kekuatan itu, yang ia dapatkan setelah membunuh sahabatnya sendiri. Mata sharingannya tampak berputar, sebelum berubah bentuk. Dan saat itu terjadi, ia tidak bisa menahan rasa pusing di kepalanya dan kegelapan yang ia dapatkan saat itu.


Ia bisa merasakan sesuatu yang masuk begitu saja dalam dirinya. Sesuatu yang menyesakkan, sesuatu yang seolah mencabik-cabik dirinya dari dalam. Ia bahkan tidak bisa mengatur nafasnya dengan benar dan mengambil oksigen menjadi hal yang sangat susah untuknya.

'Hentikan ini, a-aku tidak suka...'

Kalau kau tidak menyukainya, aku bisa membantumu...

Aku akan membantumu menghilangkan perasaan itu.

.

.

.

Lepaskan aku sekarang...

Seolah tersentak dengan suara itu, ia membulatkan matanya dan mencoba untuk kembali mengendalikan nafasnya meskipun tetap gagal. Kakashi yang berada di dekatnya dan masih mengecek keadaan gurunya yang tampak terluka parah dengan luka tusuk di punggungnya.

Saat ia melihat kearah Naruto, ia bisa merasakan chakra merah disekelilingnya yang perlahan tampak benar-benar nyata. Membentuk kepala rubah dan saat ia menatap matanya, mata biru laut itu menjadi merah darah. Tubuhnya tidak bisa berhenti bergetar, hanya dengan merasakan chakra itu.

"I-ini chakra Kyuubi..."

Tobi yang tampak merasakannya juga sepertinya baru menyadari siapa yang ada di depannya. Seorang bocah yang ia kira adalah bocah biasa, namun ternyata sesuatu yang selama ini ia cari selama beberapa tahun ini.

"Jinchuuriki Kyuubi," Naruto yang tampaknya terpengaruh oleh chakra itu tampak mengeluarkan aumannya dan membuat rumah keluarga Sasuke dan Itachi itu hancur dan Tobi tampak terpental bahkan hingga ke luar ruangan, 'bahkan masih berekor satu namun kekuatannya sudah seperti ini?'

"Tidak, ini juga karena sejak awal sudah tubuhnya sudah terlatih untuk bertarung," Tobi tampak melihat serangan selanjutnya yang akan datang, dan dengan segera menggunakan Jikkukan untuk menghilang dari sana dan muncul di tempat lain. Tidak butuh waktu yang lama untuk menemukan Tobi yang tampak berdiri di atas pohon, "tidak kusangka akan bertemu dengan Jinchuuriki Kyuubi secepat ini. Aku tidak akan membunuhmu sekarang karena itu akan mengacaukan rencanaku..."

"Aku akan membunuhmu Uchiha..." Menatap geram pada Tobi yang tampak tidak terpengaruh dengan itu. Topeng yang pecah karena auman tadi tampak menunjukkan senyuman kepuasan dari diri pria itu.

"Belum waktunya Namikaze Naruto, akan ada waktunya aku bertarung denganmu. Dan saat itu, aku akan mendapatkanmu beserta dengan Kyuubi di dalam tubuhmu," dan dengan segera tampak pusaran yang seolah menghisap Tobi menuju ke ketiadaan. Dan saat pusaran itu menghilang, begitu juga dengan keberadaan Tobi yang seolah tidak pernah ada.

...

"Naruto!"

"Kembali... Aku tidak akan... Aku tidak akan memaafkanmu Uchiha!" Chakra itu masih tampak dan semakin besar membuat Kakashi sedikit terdorong. Beruntung Minato sudah ditangani oleh para ANBU yang tiba disana. Dan sekarang yang harus ia lakukan hanyalah menyadarkan Naruto.

"Naruto, hentikan!" Mencoba untuk tidak terdorong oleh tekanan chakra itu, melihat bagaimana Naruto tampak mengamuk. Ia tahu kalau Naruto yang berekspresi seperti ini akan membuat perubahan dalam dirinya. Namun, bukan dengan memanfaatkan chakra Kyuubi, "Naruto, Minato-sensei sudah tidak apa-apa! Ia akan baik-baik saja!"

Perkataan itu seolah menabraknya dari dalam, seolah seseorang mendorongnya menjauh dari penjara Kyuubi sebelum ia melepaskan segel di depan penjara itu. Dan saat ia sadar, tubuhnya benar-benar tidak bertenaga sebelum terduduk di tempatnya berdiri saat itu.

Kakashi yang merasakan tekanan yang menghilang segera bergerak untuk mengecek keadaan Naruto. Menahan tubuhnya yang akan terjatuh kembali, ia bisa merasakan badan anak itu panas. Chakra Kyuubi tampaknya terlalu besar untuknya meskipun hanya dalam bentuk ekor satu. Dan itu membuat metabolisme tubuhnya menurun drastis.

"Apakah kau tidak apa-apa Naruto?"

"Aku tidak bisa bergerak," tentu saja, dengan rasa sakit di seluruh tubuhnya saat terkena serangan Tobi (yang sudah sembuh, terima kasih untuk chakra Kyuubi kali ini) dan juga chakra Kyuubi yang sepertinya baru pertama kali ia rasakan, tidak akan aneh kalau perasaan itu yang ia rasakan, "bagaimana... Chichiue-sama...?"

"Sudah dibawa ke Rumah Sakit, tenang saja ia akan selamat."

...

Mengangguk pelan dan lemah, dan tubuh itu tampak tumbang begitu saja di lengan sang ANBU Hatake Kakashi.


Sasuke tidak ingat apapun, hanya ada kegelapan, mayat ibu dan ayahnya, serta darah yang mengalir. Ia tidak bisa menemukan kakaknya dimanapun, apakah kakaknya tidak apa-apa. Ia tidak akan memiliki siapapun kalau kakaknya tidak ada disana.

"...suke...Sasuke... Sasuke-kun!"

Suara itu membuatnya tersentak dan membuka mata. Menemukan seorang perawat yang mencoba untuk membangunkannya. Memegangi kepalanya yang pusing, tampak peluh juga membasahi tubuhnya.

Saat ia mencoba untuk bergerak, ia tahu kalau ada seseorang yang menggenggam tangannya dan saat ia menoleh, ia menemukan kakaknya yang tampak banyak memakai perban tertidur dengan lipatan tangan sebagai bantal. Menungguinya, itu yang menjadi kesimpulannya saat menemukan posisi kakaknya itu.

"Ugh..." Itachi merasakan pergerakan, mengucek matanya untuk menemukan Sasuke yang menatap kearahnya dengan raut wajah seolah akan menangis, "Sasuke?"

Dan saat ia bangkit, anak laki-laki itu tampak memeluknya dengan erat. Dan melihat tubuh anak itu yang gemetar, Itachi tahu kalau Sasuke sedang menangis saat ini.

"Tou-san... Kaa-san..."

...

"Maaf, Sasuke..." Mengusap kepala Sasuke dan tersenyum, Itachi tampak membalas pelukannya hingga Sasuke tenang dan berhenti menangis.


Itachi hanya terluka karena serangan pertama dari Madara atau Tobi, dan itu membuatnya tidak terlalu lama dirawat di rumah sakit. Tetapi tidak untuk Minato yang terluka parah pada bagian punggungnya. Bahkan sampai 1 minggu dirawat, ia belum sadar sama sekali. Dan selama itu, tidak pernah sama sekali Naruto beranjak dari kamar ayahnya.

Hingga suatu malam, saat tidak sengaja Naruto tampak tertidur dalam posisi duduk, tangan itu bergerak sebelum matanya terbuka perlahan. Merasa sakit pada tubuhnya membuat sang Hokage mengaduh pelan sebelum mencoba untuk bergerak. Memegangi perutnya, mencoba untuk mengingat apa yang terjadi padanya.

'Ah, aku benar-benar tidak berfikir kalau akan tertusuk lagi,' menghela nafas dan memikirkan tentang orang yang hampir membunuh Naruto tadi, "Uchiha Madara..."

Menoleh pada samping tempat tidurnya, menemukan anak laki-lakinya yang tampak terantuk-antuk karena tertidur tanpa menyadari apapun disekelilingnya. Tampak terkejut melihatnya sebelum tersenyum dan mencoba untuk bergerak minimal memindahkan Naruto pada tempat tidurnya.

"Uh..." Merasakan tubuhnya yang digerakkan, yang dimaksud oleh Minato tampak mengucek matanya sebelum terbangun dan melihat siapa yang membangunkannya. Mata birunya membulat saat melihat sosok ayahnya tampak duduk dihadapannya dan tersenyum lembut.

"Kau tidak apa-apa Naruto?" Matanya yang membulat tampak kembali melembut dan terasa kosong kembali. Ia mengangguk dan tidak mengatakan apapun, "syukurlah, kenapa kau ada disini? Seharusnya kau masih—" kembali melihat keadaan Naruto saat matanya membulat melihat air mata itu membasahi wajah anaknya. Ini pertama kali ia melihat hal itu setelah anaknya menangis setelah dilahirkan. Rasa senang dan sedih bercampur begitu saja, panik karena anaknya tampak menangis tanpa sebab yang tidak ia ketahui.

"Na—Naruto?"

"Seluruh tubuhku sakit, aku tidak bisa bernafas dengan benar saat melihat anda seperti itu," menundukkan kepalanya tidak ingin Minato melihat air mata itu, "aku tidak suka perasaan ini. Aku tidak ingin merasakannya lagi..."

Mata Minato yang tampak menyiratkan keterkejutan itu melembut. Senyuman tipis tampak menghiasi wajahnya dan tangannya tampak melingkar di leher Naruto dan ia mendekapnya di dalam pelukannya. Mengusap kepala anak itu sambil membisikkan sesuatu di telinganya.

"Tidak apa-apa, kalau kau tidak menginginkannya kau tidak perlu merasakannya. Aku tidak akan memaksamu lagi," menghela nafas dan menepuk kepala Naruto sambil melebarkan senyumannya dan menghapus air mata itu dari wajah Naruto, "bagaimanapun keadaanmu, apapun yang terjadi padamu. Aku akan tetap menyayangimu Naruto..."

Hanya diam tidak menjawab, dahinya tampak sedikit berkedut menyiratkan kekecewaan karena tidak bisa memenuhi apa yang diinginkan oleh Hokage, terutama ia adalah ayahnya.

'Maafkan aku...'


"Hei Naruto!" Ayahnya masih harus mengikuti pemeriksaan terakhir sebelum keluar dari Rumah Sakit 1 minggu lagi. Naruto yang pada akhirnya keluar setelah ayahnya beralasan untuk memintanya membelikan ramen. Menoleh mendengar suara yang memanggilnya, tampak Sasuke dan juga Itachi yang berjalan kearahnya.

"Sasuke-san, Itachi-san…" Naruto menghentikan langkahnya dan membiarkan keduanya mendekatinya. Tentu saja karena kejadian itu membuat kedua orang yang selamat dari insiden itu harus tinggal di penginapan sampai rumah mereka selesai untuk diperbaiki.

Terima kasih untuk kesaksian dari para ANBU yang melihat kejadian, baik Naruto maupun Itachi (dalam kasus ini adalah kematian Shisui) tidak ada yang disalahkan atas kejadian itu.

"Bagaimana keadaan ayahmu?"

"Satu minggu lagi ia akan keluar dari Rumah Sakit," jawabnya mendapatkan anggukan dari Sasuke maupun Itachi. Menatap Sasuke yang ada disana, yang masih menyunggingkan senyuman ramah. Ia tidak mengerti kenapa setelah kehilangan semua anggota keluarga, Sasuke masih bisa menunjukkan senyuman itu. Merasa tidak nyaman, Naruto hanya menundukkan kepalanya saja.

"Kau ingin pergi kemana Naruto?"

"Chichiue-sama meminta ramen, aku harus pergi kesana sekarang," jawabnya menyadari apa yang membuatnya berada di Rumah Sakit. Aneh memang, biasanya ia tidak akan melupakan hal yang disuruh oleh seseorang. Mungkin rasa risih ini yang membuatnya terpecah konsentrasi.

Itachi melihat keadaan Naruto seolah bisa membaca apa yang difikirkannya.

"Bagaimana kalau kau ikut bersama dengan Naruto Sasuke? Aku akan menjenguk Hokage-sama," Itachi menoleh pada Sasuke yang tampak menatap kakaknya lalu pada Naruto. Itachi hanya tersenyum, lalu Sasuke menatap Naruto dan mengangguk, "jangan kemana-mana, aku akan menunggumu."

"Baiklah nii-san! Ayo Naruto!" Sasuke menarik tangan Naruto dan tampak membawanya pergi sementara Itachi tampak tersenyum dan menghela nafas sebelum berbalik dan masuk ke dalam Rumah Sakit.


Menyilangkan kedua tangannya di belakang kepala, Sasuke tampak berjalan di samping Naruto yang hanya diam seperti biasanya. Mereka tampak menuju ke Ichiraku Ramen dan tidak ada seseorangpun yang memecah keheningan untuk beberapa saat.

"Hei Naruto," gumaman pelan menjadi jawaban dari Naruto saat Sasuke mencoba memanggil namanya, "apakah ada yang ingin kau tanyakan?"

...

"Maksudmu?"

"Kakakku mudah untuk membaca fikiran seseorang, dan sepertinya ia menyuruhku untuk menemanimu karena kau tampak tidak nyaman bersama denganku," jawabnya sambil menoleh pada Naruto yang sedikit menghentikan jalannya sepersekian detik sebelum melanjutkannya lagi.

"Bagaimana, caramu terus tersenyum meskin melihat kedua orang tuamu...tewas?" Naruto yang kini berbalik menatap Sasuke yang matanya membulat dan sedikit terkejut dengan pertanyaan itu. Senyumannya sedikit memudar dan ia mencoba untuk mengatur suaranya agar tidak terdengar bergetar. Ia tidak mungkin tidak sedih karena kedua orang tua dan semua orang di klannya tewas.

"Aku masih memiliki nii-san, kalau aku bersedih dan tidak tersenyum ia juga akan ikut bersedih," jawab Sasuke setelah mengontrol suaranya. Naruto yang mendengar itu membulatkan matanya sedikit sebelum ia menunduk. Semakin dilema dengan apa yang ia fikirkan.

"Bagaimana caranya untuk tersenyum..."

"Maksudmu?"

"Aku tidak mengerti caranya," Naruto tidak menatap Sasuke yang kali ini menatapnya. Tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Naruto itu, "aku tidak bisa tersenyum, dan aku tidak suka merasakan sedih... Tetapi, Chichiue-sama menginginkanku menjadi anak yang normal."

...

"Apa yang harus kulakukan, Chichiue-sama menginginkanku tersenyum namun aku tidak bisa melakukannya," mengeratkan genggaman tangannya dan tampak bingung dengan semua yang ada di fikirannya. Sasuke tampak menghentikan langkahnya dan menoleh pada Naruto. Naruto juga menghentikan langkahnya dan menoleh pada Sasuke.

"Buat tanda v dengan tanganmu," Sasuke tampak menunjukkan tangannya dengan bentuk tanda peach. Naruto tidak mengerti namun mengikutinya saja, "lalu, tarik ujung bibirmu dengan kedua jari hingga membentuk senyuman itu. Sedikit dipaksakan, tetapi kau akan bisa tersenyum dengan itu!"

...

Mencoba untuk melakukannya, menarik bibirnya dengan kedua tangan dan mencoba untuk tersenyum. Namun, saat tangannya dilepas, lagi-lagi senyuman itu menghilang. Seolah ia memang tidak pernah akan bisa tersenyum meskipun dipaksakan. Sasuke tampak sweatdrop melihatnya dan merasa cukup kesal dengan wajah stoic Naruto itu.

"Memang apa susahnya untuk tersenyum, dobe!" Pada akhirnya ia mencubit kedua pipi Naruto untuk menarik bibirnya agar tersenyum, dan Naruto yang tampak kesakitan hanya bisa mengaduh tanpa mengubah ekspresinya.

"Aku benar-benar tidak bisa Sasuke-san..."


"Aku mendengar tentang kematian Shisui," sementara itu, Itachi yang berada di ruangan Minato tampak sedang berbincang dengan Minato yang masih berbaring di atas tempat tidurnya. Tangannya yang sedang mencoba mengupas apel tampak terhenti saat mendengar topik yang dikatakan oleh Minato padanya, "itu pasti berat untukmu..."

...

"Shisui memintaku... Untuk membunuhnya," Itachi tampak menundukkan kepalanya. Ia tidak akan pernah melupakan bagaimana sahabatnya itu meregang nyawa di depannya dan memohon padanya untuk membunuhnya. Tangannya gemetar, ia mencoba untuk menghentikannya meskipun tidak bisa, "aku mencoba untuk menyelamatkannya. Tetapi, tidak bisa..."

"Itachi, tidak apa-apa..." Minato tampak menenangkan Itachi. Meskipun ia adalah ketua ANBU, tetapi Itachi hanyalah anak berusia 13 tahun. Tidak mungkin ia bisa begitu saja membunuh seseorang terutama sahabatnya sendiri.

"Setiap malam, aku selalu memimpikannya, aku bahkan tidak bisa menghentikan tubuhku yang gemetar setiap kali... Setiap kali aku mencoba untuk mengingatnya," menaruh kedua tangannya di atas kepala saat menunduk, ia tahu kalau ia seharusnya tidak melakukan itu karena ia adalah seorang ANBU, "aku tidak seharusnya—tidak seharusnya membunuh—" tidak sempat untuk melanjutkan, saat Minato menariknya dalam pelukan dan mencoba untuk menenangkannya seolah Itachi adalah anaknya sendiri.

"Tidak apa Itachi, kau sudah melakukan hal yang lebih daripada batasanmu. Tidak akan ada yang menyalahkanmu," jawab Minato tampak mengusap kepala Itachi. Membulatkan matanya sejenak, matanya melembut dan Itachi tampak sedikit tenang. Getaran tubuhnya terhenti saat merasakan kehangatan yang bahkan tidak pernah diberikan oleh ayah dan ibunya.

"Hokage-sama..." Minato melepaskan pelukannya dan menatap kearah Itachi yang tampak menundukkan kepalanya, "apakah aku... Boleh behenti dari squad ANBU?"

Minato membulatkan matanya, apapun alasannya tentu saja ia akan setuju dengan keputusan Itachi. Ia masih terlalu muda untuk menjadi ANBU bahkan menjadi ketua ANBU. Berhenti akan menghasilkan sesuatu yang lebih baik dari apa yang ia fikirkan selama ini untuk menghindari Itachi dari misi yang tidak jauh dari membunuh dan membunuh.

"Tentu, aku benar-benar akan mendukungmu. Tetapi, apa yang akan kau lakukan setelah itu?"

...

"Aku akan mengikuti ujian Jounnin," Itachi memang diangkat menjadi ANBU saat tingkatannya masih dalam Chunnin, "aku akan menjadi guru Jounnin dan membentuk kelompok Genninku..."


To be Continue


Dikit ya... Maaf sudah menunggu lama tapi jadinya sedikit :( tapi harus saya lakukan karena saya butuh opini dari reader untuk plot kedepannya.

Saya terlambat mempublish karena membantu paman saya yang mencalonkan diri jadi walikota ^^; dan selama 1 minggu tidak bisa membuka laptop sama sekali. Lagipula saat pemilu, status kota menjadi Siaga 1 dan saya tidak bisa sembarangan berpergian begitu saja.

BTW ada yang sadar kalau sifat Naruto sama Sasuke itu kayak ketuker? ._.

Untuk kematian Shisui, saya bikin seperti itu supaya Itachi tetap dapat Mangekyo Sharingannya~ tetap baik tapi tetap kuat ^^ dan seharusnya kalian tahu siapa yang mengambil kedua mata Shisui... (Mungkin)

Yang menanti pertarungan Naruto Vs. Obito, belum ya ._. Soalnya kalau langsung sekarang ga seru dong ^^

Plot choice :

1. Apakah saya harus membuat Itachi menjadi guru Jounnin tim 7? (SasuSakuNaru). Karena kalau Itachi menjadi Guru Jounnin tim 7, Kakashi akan tetap menjadi ANBU (ketua) tapi dia akan tetap mengawasi tim 7.

2. Kalau tidak menjadi guru Jounnin tim 7, apakah saya harus membuat OC untuk Genninnya, atau lebih baik menjadikannya Guru Jounnin untuk tim lainnya yang termasuk Rookie 11? ^^

Saya pribadi lebih memilih nomor 1, karena plot akan lebih banyak berkembang dan yang pastinya akan berbeda dengan manga dan anime asli. Tetapi, saya hanya sedikit khawatir dengan penggemar Kakashi yang tidak menginginkannya untuk digantikan bahkan oleh Itachi.

Jadi, apa pilihan kalian? ^^

[ Karena adanya Plot Choice, tidak akan ada preview untuk chapter depan. Dimohon untuk pilihannya minna (_ _) ]

Q & A

Guest (4 terbaru) (Maaf lama menunggu ._.)

Bewingkkk (sudah dilanjut ^^)

Guest (6 dibawahnya) (maaf sudah lama, pendek pula ._.)

Namimaki chan (sebenarnya belum, karena dia malah trauma ngerasain emosi xD insya allah bakal sampai shippuden ^^)

Guest (ini update, maaf lama (_ _) )

Naruto Lovers (sudah diupdate maaf lama ^^;)

Guest (ini sudah :) )

Natsuki (maaf kalau ga kilat :( )

Guest (4 dibawahnya) (maaf sudah lama, ini sudah diupdate ^^)

Ninami Kirei (maaf lama, ini update-an-sedikit-nya)

Guest (8 dibawahnya + Indra) (ini sudah update :) maaf kalau mengecewakan)

Akaneko SeiYu (tehe, makasih pujiannya ^^;)

LadySaphireBlue (Madara mungkin sendiri :) dan Naru belum berekspresi banyak kok ^^)

Guest (maaf lama (_ _) )

Agehanasthasya-chacha (tidak, saya akan menjamin Naruto akan berekspresi sedikit demi sedikit walaupun tidak bisa langsung ^^)

Armelle 'AquaMar' Eira (makasih ^^ dan yep Itachi still at Konoha~ dan makasih atas koreksinya ._. Saya lupa kalau yang warnanya biru itu sapphire...)

Thieving Cat (makasih ^^)

Ringo Revenge (makasih :3 dan tenang saja~ Sasuke akan menonjol juga kok. Ini karena lebih dipusatkan pada Minato dan Naruto saja ^^ tapi kalau sudah sampai Gennin dia akan terlihat hebat.)

Ninami Kirei (sudah diupdate, maaf lama ._.)

AzuraCantlye (tehe, memang belum ketahuan alurnya kok x9)

Guest (hanya sebentar :3)

Abi . Putraramadhan (kalau sudah full ga seru lagi dong untuk episode mendatangnya ^^ jadi hanya numpang lewat dulu~ #plak)

Leavian (OAO tentu saja ga, Yondaime belum mati kok. Saya ga bakal matiin secepat itu :( hanya aktif ekor 1 atau lebih tepatnya seperti di kasus Haku kok ^^)

Newbie Kepo (makasih ^^)

Earl Grey bernvoureth (karena di manga dia juga sadar kalau itu Madara. Dan dia belum tahu kalau itu Obito ^^ tentu dia baik-baik saja :) dan Naruto cuma keluarin sebatas kaya di kasus Haku kalau di canon ^^ yep, Ita ga masuk Akatsuki... -atau akan ada plot lain~ #smirk- sandaime ada kok, tapi... Belum dapat scene #ditabok be-lum bisa bilang otou-san ^^)

Azuka (makasih :3)

KyuubiNaru (untuk ini sepertinya ga :D tapi untuk yang satunya iya ^^)

Kazehaya Naozumi Laurenfrost (sudah ^^)

Aster-Bunny-Bee (te-tenang O.O Minato-nii(?) Ga papa kok, masa iya yang selamat dari cakar Kyuubi mati cuma karena itu kufufufu...(?) Makasih doanya ^^)

Yuki no Fujisaki (makasih doanya dan maaf kalau updatenya lama ._.)

Vionner97 (makasih doanya ^^ eh iya #headbang kenapa jadi 8 tahun coba #orz dan yep... Harusnya Sapphire, maaf saya buta warna #heh)

Guest (sudah ^^)

Uzumaki Kaito (makasih untuk doanya~)

Skyesphantom (saya malah berpendapat sekarang Sasuke ama Naruto tukeran kepribadian ._. #plak makasih doanya ^^)

Swidler (ga mati kok :3)

Dikdik717 (belum sih~ tenang nanti ada saatnya ^^)

Guest (makasih :D)

Yusagie (yeah, karena ga seperti di Memory of The Otherself, disini Kurama belum bisa berkompromi dengan Naru .w. Tenang Minato ga mati kok xD entah berapa chapter... Author gaje ini ga pernah matokin berapa chap untuk multi ._.)

Nakato-san (ngamuk tapi cuma bentar xD 'f course tapi akan banyak perbedaan walaupun intinya sama ^^)

AN Narra (belum dibunuh kok xD #apa? Belum?!#)

Nanao Yumi (tapi Itachi tetap bunuh Shisui :( Kyuubi cuma bentar unjuk gigi xD dan 'belajar tersenyum ala Sasuke' menjadi satu hal yang aneh itu xD)

[ Wow, 60 review satu chapter OAO « dianya shock | makasih buat reader xD ]