Forgetable Emotion


Genre : Family/Hurt/Comfort

Rated : T

Warning : semi-AU, OOC!Naruto, Typo dkk.

Disclaimed : Naruto © Masashi Kishimoto


Best Present at Christmas Eve


"Membentuk tim Genninmu? Ide yang bagus, aku bisa mempromosikanmu menjadi Jounnin—"

"Tidak perlu Hokage-sama, aku akan mengikuti prosedur yang ada," Itachi yang tampaknya cukup lega mengetahui sang Hokage setuju dengan apa yang ia fikirkan hanya tersenyum tipis. Bagaimanapun akan susah kalau sampai sang Hokage sendiri tidak menginginkannya untuk berhenti menjadi ketua ANBU, "aku ingin mendapatkan pengalaman lebih banyak agar menjadi lebih kuat. Jika saat itu tiba, aku mungkin akan kembali menjadi ANBU..."

"Baiklah, aku akan membuatkan surat pengunduran dirimu dan menjadikanmu tingkat Chuunin kembali," jawab Minato pada Itachi. Ia berfikir untuk meminta Kakashi menjadi guru Jounnin bagi Naruto, namun Itachi juga tidak buruk terutama ia bisa mengawasi Naruto dan Sasuke adiknya, "ngomong-ngomong, kau benar-benar tidak ingin tinggal bersama dengan kami?"

Itachi hanyalah bocah berusia 13 tahun, dan Minato ingin menawarkannya untuk tinggal bersamanya daripada hanya hidup berdua bersama Sasuke di bekas tempat tinggalnya.

"Tidak perlu Hokage-sama, saya sudah banyak sekali merepotkan anda. Saya akan baik-baik saja," jawab Itachi menggelengkan kepalanya. Minato tidak bisa memaksa, dan hanya menghela nafas sambil mengangguk setuju.

"Nii-san!" Suara itu membuat Itachi dan Minato menoleh ke ambang pintu menemukan Sasuke yang berjalan cepat kearah kakaknya. Naruto sendiri membawa beberapa bungkus ramen yang ia beli untuk ayahnya dan untuk Itachi serta Sasuke.

"Sasuke, seharusnya kau membantu Naruto membawakan makanan itu," Itachi tampak menyentil dahi Sasuke dan membuatnya mengaduh sambil memegangi dahinya.

"Naruto tidak ingin aku membantu membawanya," jawab Sasuke sambil cemberut karena kakaknya. Naruto sendiri tampak mendekati ayahnya sambil membawakan ramen yang dipesan ayahnya.

"Teuchi-san berkata kalau Chichiue-sama tidak boleh makan yang berat, makanya ia membawakan bubur saja untukmu," jawab Naruto membuat Minato tampak sweatdrop dan menoleh pada Sasuke untuk meminta penjelasan.

"Begitulah, katanya orang sakit tidak boleh memakan ramen Hokage-sama," Sasuke tampak mengangguk setuju. Naruto sendiri tampak meletakkan bubur itu pada mangkuk dan memberikannya pada Minato sementara ia sendiri mengeluarkan tiga bungkus ramen dan memberikan duanya untuk Itachi dan Sasuke sementara satu untuknya.

"Padahal aku ingin ramen, hah sudahlah..." Mendesah kecewa karena itu, namun tidak bisa berbuat apapun karena memang itulah kenyataannya. Itachi dan Sasuke hanya tertawa pelan sementara Naruto menatap mereka bertiga. Masih mencoba untuk tertawa seperti mereka atau minimal tersenyum. Tetapi...

Kenapa susah sekali!

"Naruto?" Minato melihat Naruto yang bibirnya malah bergerak-gerak tidak karuan mencoba untuk tersenyum meskipun tidak bisa. Tidak bisa, ia selalu mempertahankan wajah seperti itu sebelum bertemu dengan ayahnya, "apakah kau..."

Ya, ia hanya ingin membuat ayahnya merasa kalau ia adalah anak yang normal. Itu adalah misi yang secara tidak langsung diberikan padanya dari ayahnya.

"Kau sakit gigi?"

...

Lupakan latihan tersenyum itu, untuk sementara...


"Bagaimana kalau meminta pada yang lainnya untuk mengajarimu?" Sasuke yang sepertinya tidak menyerah untuk mengajarkan Naruto untuk tersenyum mencoba untuk memberikan beberapa ide saat mereka berada di perjalanan menuju ke akademi dua minggu setelah kejadian itu, dan satu minggu setelah ayahnya keluar dari rumah sakit.

"Ino-san, dan yang lainnya?"

"Begitulah, lagipula kufikir perasaanmu lebih terbuka daripada sebelumnya. Pasti tidak akan susah," jawabnya sambil menganggukkan kepalanya.

"Kenapa merasa senang dan tersenyum itu lebih susah daripada menangis atau merasa marah," Naruto menghela nafas dan menatap kearah bawah. Ia tidak berfikir kalau ia akan melalui ini dengan mudah dan dalam waktu yang singkat, "aku merasa aku tidak akan pernah bisa melakukannya..."

"Jangan pesimis seperti itu," tersenyum pada Naruto dan merangkul bahunya, "aku yakin kau bisa melakukannya! Dan kami akan membantumu..."

"Membantu apa?" Shikamaru tampak muncul begitu saja di dekat mereka, diikuti oleh Ino, Chouji, Shino, Kiba dan juga Sakura.

"Membantunya untuk tersenyum?" Sasuke menunjuk pada Naruto yang hanya melihat semua 'teman'nya. Shikamaru tampak menghela nafas sambil mengatakan 'merepotkan' namun pada akhirnya membantunya, Shino yang pendiam namun selalu bisa mendengarkan apa yang dibicarakan oleh yang lainnya, Ino yang selalu bersemangat, Sakura yang awalnya pemalu sepertinya sudah cukup berani, Kiba yang usil namun cukup menyenangkan, Chouji juga selalu menyenangkan untuk diajak berbicara.

"Sepertinya menarik, aku ingin melihat Naruto tersenyum," Ino yang pertama kali tampak antusias dengan apa yang akan mereka lakukan, "cukup aneh kalau melihatmu tidak pernah tersenyum. Bukan mengejek—"

"Bagaimana kalau kita buat batas waktu sampai bulan Januari?"

"Lama sekali, akan merepotkan kalau harus menunggu selama itu," Chouji menghela nafas dan tampak Naruto yang sadar kenapa Sakura memilih bulan itu.

"Maksudmu menjadi hadiah untuk ulang tahun Chichiue-sama, Sakura-san?" Naruto tampak menatap Sakura yang hanya mengangguk membenarkan apa yang dikatakan oleh Sakura. Dan sepertinya semuanya setuju dengan itu, bulan September akhir, dan target mereka 4 bulan kedepan.

. . .

Sasuke's Leason (Part 2)

. . .

"Biasanya aku akan tersenyum kalau kakakku datang dan bermain denganku," Sasuke tampak berada di kursinya dan berbincang dengan Naruto di sampingnya, "mungkin kau bisa mencoba untuk mengajak Minato-sama bermain hingga tanpa sadar akan tersenyum untuknya."

"Setiap Chichiue-sama selesai bekerja, aku selalu bersama dengannya dan melakukan sesuatu yang disebutnya bermain," Sasuke dan juga yang lain yang ikut mendengarkan hanya sweatdrop mendengarnya. Oke, sepertinya kriteria itu tidak berguna karena sifat overprotektif sang Hokage pada anaknya.

. . .

Chouji's Leason

. . .

"Biasanya, dengan makan enak kau akan bisa merasa senang dan akan tersenyum," Chouji yang tampak memakan potato chipnya saat jam istirahat tampak masih memakannya sambil menerangkannya pada Naruto, "cobalah!"

Mengulurkan potato chipnya dan Naruto tampak mengambilnya dan mencicipinya dengan segera. Enak, sungguh sebelumnya ia tidak pernah memakan makanan seperti itu. Tetapi—

"Sepertinya aku lebih menyukai ramen Ichiraku," nadanya sedikit menurun, "Chichiue-sama memang selalu tersenyum saat memakannya bahkan terus mengulanginya sampai mangkuk ke lima. Aku juga selalu mengatakan enak tetapi tidak bisa tersenyum."

Oke, semua orang juga tahu kalau itu adalah cara tersenyum yang hanya ampuh untuk orang-orang dari Klan Akimichi. Tetapi, mereka tidak menyangka kalau sang Hokage yang terkenal sangat berkharisma itu tampaknya bisa kuat memakan makanan seperti itu hingga bermangkuk-mangkuk.

. . .

Ino & Sakura Leason

. . .

"Mungkin dengan melihat bunga akan membuat suasana hatimu tenang. Dan kau akan merasa bahagia karena itu," Ino dan Sakuratampak mengajak Naruto menuju ke toko bunga keluarga Ino untuk melihat bunga-bunga yang ada di sana. Naruto tampak berjalan dan melihatnya namun tidak ada senyuman yang mengembang padanya, "bagaimana?"

"Setiap bulan selalu ada bunga yang dikirimkan oleh para perempuan untuk Chichiue-sama, tetapi sepertinya Chichiue-sama tidak pernah menyukainya," Naruto tampak melihat-lihat saja, sementara kedua gadis itu tampak sama-sama spechless dan sweatdrop mendengarnya. Tentu saja, walaupun sudah berkepala hampir 4, Namikaze Minato masih tetap menduduki pria tertampan di Konohagakure.

Dan tentu bunga itu dari penggemar atau lebih tepatnya stalker milik sang Hokage.

. . .

Shikamaru's Case

. . .

"Bagiku, saat aku tersenyum itu adalah saat aku tidak melakukan apapun atau terkadang saat aku bermain shogi dengan ayahku—walaupun itu membosankan," jawab Shikamaru yang tampak sedang mengeluarkan papan shoginya dan mencoba untuk menyusunnya, "kau bisa bermain Naruto?"

Naruto hanya mengangguk dan mulai menyusun pion-pion shogi itu. Shikamaru tampak mencoba untuk menjalankan pion untuk pertama kalinya.

...

Hanya beberapa saat saat Naruto mencoba untuk menggerakkan pion kudanya, dan hanya satu kata yang keluar darinya.

"Skak Mat."

Ah, untuk melatih pembentukan strategi, di Ne pun ia sering bermain Shogi dengan Sai ataupun dengan Shin. Saat bersama ayahnya juga seperti itu, dan skor bersama dengan ayahnya, selalu seri.

Dan sebagai catatan, satu-satunya orang yang bisa mengimbangi permainan Shogi dari Shikaku Nara adalah Namikaze Minato.

"Shikamaru-san, kau tidak apa-apa?"

Dan setelah itu Shikamaru tampaknya malas untuk memegang Shogi lagi setelah dikalahkan telak oleh Naruto.

. . .

Kiba's Leason

. . .

"Bagaimana dengan bermain bersama anjing-anjing ini?" Kiba tampak membawa Naruto menuju ke kediaman keluarganya. Dimana disana cukup banyak anjing-anjing yang tampak menyambut mereka. Naruto tampak menatap anjing-anjing itu dan Kiba tampak menoleh padanya, "cobalah bermain dengannya!"

...

"Sepertinya tidak akan membuatku senang Kiba-san, Chichiue-sama terlihat tidak begitu senang dengan anjing-anjing dan selalu menghindar dari mereka," jawabnya dengan nada monoton namun tangannya bergerak mengusap beberapa anjing yang tampak jinak dengannya. Satu lagi korban sweatdrop yang disebabkan oleh Namikaze Naruto. Dan satu lagi gosip yang beredar tentang seorang Yondaime Hokage.

Diduga takut akan anjing. Pantas ia tidak pernah berdekatan dengan santai saat bersama anggota klan Inuzuka.

. . .

Shino's Leason

. . .

"..."

"..."

"..."

"..."

"Oke, tidak akan berhasil jika bersama Shino," Sasuke dengan segera menarik kerah belakang Naruto yang hanya berpandangan dengan Shino dan tampak tidak berbicara apapun sama sekali.


Entah kenapa beberapa hari sudah berlalu, berganti menjadi beberapa minggu, dan saat sadar sudah tiga bulan mencoba segala cara untuk membuat Naruto tersenyum sedikit saja. Nafas mereka entah kenapa terengah-engah karena lelah memikirkan cara-cara yang sudah mereka fikirkan.

"Tidak menyangka akan kesulitan untuk membuat seseorang tertawa," Ino tampak menghela nafas lelah karena itu. Semuanya mengiyakan, Naruto hanya diam dan menatap mereka semua.

"Maaf kalau aku membuat kalian bingung..."

"Tidak apa-apa dobe, kami juga tidak bisa memaksakanmu untuk tersenyum dengan cara kami masing-masing," jawab Sasuke mengibaskan tangannya. Kepalanya menoleh untuk menemukan sosok perempuan berambut indigo dengan mata putih pucat yang tampak bersembunyi di belakang pohon yang ada di dekat mereka, "dia?"

Tampak sedikit tersentak saat mengetahui semua mata tampak tertuju padanya. Bersembunyi kembali sebelum Naruto tampak menoleh padanya dan menyadari siapa.

"Hinata-san..." Berjalan dan menghampiri Hinata yang tampak menundukkan kepalanya dalam-dalam. Ia tidak pernah berbicara langsung dengan Naruto, dan bahkan ia baru pertama kali bertemu langsung seperti ini, "apakah ada yang bisa kubantu?"

"Ka-kau Kurama-kun bukan?" Naruto tampak sedikit tersentak sebelum mengangguk pelan. Bagaimana Hinata bisa mengenal Naruto bahkan mengetahui tentang nama Kurama? Mari kita lakukan Flash Back no Jutsu.

. . .

Flash Back no Jutsu

. . .

Malam itu, Naruto yang disuruh oleh Danzou menyerahkan sebuah dokumen untuknya. Walaupun saat itu statusnya masih calon gennin, ia sudah mendapatkan kepercayaan penuh dari Danzou untuk mengemban misi-misi kecil karena ia yang sudah bisa menggunakan beberapa jutsu dengan pelatihan dari Danzou dan juga anggota Ne. Berjalan dan melompati atap-atap rumah, hingga ia tampak berhenti saat melihat seseorang bergerak di tengah kegelapan.

...

Menoleh menemukan seseorang yang tampak menyusul sambil membawa sesuatu dan terburu-buru. Merasa curiga karena ini adalah kawasan dari keluarga klan, ia segera mendekat dan menemukan seseorang tampak menculik seorang anak kecil. Terlebih sepertinya ia—yang sudah mempelajari semua tentang klan di Konoha—tahu kalau yang diculik adalah penerus dari klan Hyuga.

Mencoba bergerak, dengan segera ia melayangkan sebuah pukulan telak di belakang kepala sang penculik dengan cepat. Ia tidak perlu menggunakan jutsu saat musuh tidak menyadari kehadirannya sama sekali.

Dan seketika, tubuh itu tumbang dan ia menangkap tubuh seseorang yang tadi tampak dibawa. Seusia dengannya, seorang anak perempuan berambut indigo pendek yang langsung sadar saat ia mencoba untuk memeriksanya.

"Si—siapa..." Menoleh pada penculik yang menyergapnya tadi, menoleh kembali pada pemuda itu, "ka-kau siapa?"

...

"Kurama..." Jawabnya dengan pelan dan tampak hendak meninggalkannya sendirian karena ia tidak merasakan bahaya di dekat sana. Gadis itu tampak sedikit terdiam, mungkin kaget melihat anak seusianya yang bisa menumbangkan penculik itu, "sebaiknya anda menjaga diri anda sendiri Hinata-sama..."

"Te-tetapi aku tidak kuat..."

"Anda hanya berfikir kalau anda tidak kuat," Kurama atau sebut saja Naruto masih membelakangi Hinata karena tadinya ia ingin segera pergi, "kalau anda berusaha keras, anda tidak akan mungkin menjadi lemah."

Menoleh sedikit dan Hinata tampak menatap mata Saphire milik anak itu yang entah kenapa sukses membuat wajahnya memerah.

"Selamat malam Hinata-sama..."

. . .

Kai!

. . .

'Ia bisa mengalahkan shinobi saat usianya 4 tahun? Ia monster!' Semua anak selain Naruto dan Hinata tampak jawdrop mendengarkan itu. Sementara Hinata tampak gugup dan hanya menundukkan kepalanya saja.

"A-aku ingin membantumu, apakah aku boleh membantumu?" Naruto tampak mengangguk pelan dan tidak mengatakan apapun. Mungkin karena ia sudah pesimis apakah ada yang bisa membuatnya tersenyum, "ka—kalau dilihat dari hal yang ditunjukkan oleh Sasuke-san dan juga yang lainnya. Semua memiliki kesamaan satu dan juga yang lainnya."

'Ia sudah mengamati sejak kapan?' Sekali lagi fikiran semua selain kedua anak itu sama.

"Semuanya karena mereka melakukan hal yang memang disukai oleh mereka," Hinata tampak masih menatap Naruto yang tampak bingung dengan apa yang dikatakan olehnya, "mungkin, dengan mengingat apa yang membuatmu senang bisa membuatmu tersenyum..."

...

"Menurutku tidak ada yang membuatku senang, kalau ada—aku akan tersenyum seperti yang lainnya..."

"Mu-mungkin kau tidak menunjukkannya, tetapi kau pasti merasa suatu ketika kau ingin terus melakukan sesuatu. Bersama dengan seseorang—" entah kenapa Naruto malah memikirkan saat ia berada di Organisasi Ne. Mungkin tidak ada masa kecil yang bahagia dan tawa yang dimaksud. Tetapi, ia selalu ingin berkumpul bersama dengan Shin dan Sai sahabatnya, "ataupun sesuatu yang membuatmu nyaman..."

Kali ini, bayangan saat ayahnya memeluknya, memberikan rasa nyaman padanya yang tidak pernah ia fikirkan sedalam ini selamanya. Senyuman ayahnya yang sama dengan milik Shin, lalu usapan lembut yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.

Ia tidak pernah memikirkannya selama ini, dan menganggap semuanya lewat begitu saja. Ia tidak pernah melihat kebahagiaan di sekelilingnya, ia hanya memusatkan perhatian jika seseorang tidak bahagia karenanya.

Perasaannya cukup tenang, entah kenapa membuat ujung bibirnya melengkung ke atas dan matanya tampak membentuk huruf n. Untuk pertama kalinya, ia menyunggingkan senyuman itu. Entah kenapa ia baru menyadari kalau begitu banyak kebahagiaan yang ternyata bisa membuatnya tersenyum hanya karena mengingatnya saja.

...

BLUSH!

Tidak ada yang menyangka kalau senyuman Naruto yang benar-benar pertama kali terlihat memiliki kapasitas sampai 1000 Watt dan membuat semua yang ada disana tampak memerah hanya karena melihat itu. Bahkan Hinata yang berada di dekatnya tampak pingsan dengan wajah yang memerah.

"Hinata-san, kau tidak apa-apa...!"


"Lakukan saja Naruto, kau sudah lolos ujian ini! Ayahmu benar-benar akan senang!"

Saat ini jam pulang sudah lewat cukup lama, namun Itachi dan Sasuke memutuskan untuk menunggu Naruto hingga dijemput oleh Kakashi ataupun Minato. Sasuke tampak berbisik hal itu, namun Naruto yang senyumannya segera memudar setelah kejadian tadi hanya mengangguk. Setelah melihat Hinata pingsan, senyumannya begitu saja memudar. Namun semuanya mengatakan kalau ia akan bisa melakukan itu jika ia merasakan hal itu lagi. Tidak perlu mengingat yang lalu, hanya melihat apa yang membuatnya merasakan hal itu.

"Naruto, maaf aku terlambat menjemputmu," Minato tampak melakukan Shunshin dan berada di depan Naruto, "pekerjaanku cukup banyak hari ini..."

"Tidak apa-apa Chichiue-sama..." Sasuke menyenggolnya saat mendengar panggilan itu.

'Kau harus memanggilnya otou-san! Percayalah Hokage-sama akan lebih senang kau memanggilnya seperti itu!'

"Terima kasih sudah menemaninya Itachi, Sasuke—" Minato tampak tersenyum dan menundukkan kepalanya. Itachi segera membalas tundukan kepala Minato dan menggeleng pelan menyiratkan bahwa ia tidak apa-apa. Dan dengan segera mereka berpencar menuju ke rumah masing-masing. Sasuke tampak mengacungkan jempolnya kearah Naruto yang melihatnya dan hanya mengangguk pelan, "selamat natal kalian berdua..."

"Selamat Natal Hokage-sama..." Kali ini mereka berdua benar-benar saling membelakangi dan berjalan kearah masing-masing.

"Bagaimana harimu Naruto?"

...

"Biasa saja," Naruto memulai pembicaraan yang sering dilakukan oleh ayahnya. Tanggal 24 Desember, malam natal sudah tiba. Dan Minato tidak akan menyangka hadiah tahun ini akan menjadi hadiah terbaiknya.


"Aku sudah menyuruh para ANBU untuk membuat dekorasi natal di rumah, apakah kau menyukainya?"

Minato menggantung jubah Hokagenya dan menunjukkan pada Naruto rumah mereka yang tampak diberikan dekorasi natal yang lengkap di setiap sudut rumah mereka. Naruto tidak pernah mengalami hari natal, namun ia tidak memungkiri kalau ia menyukai dekorasi itu. Mengangguk pelan dan segera melepaskan sepatunya.

"Baiklah, setelah makan malam sebaiknya kau segera tidur agar sinterklas memberikanmu hadiah karena menjadi anak yang baik," apakah di dunia shinobi ada sinterklas? Entahlah, namanya juga fanfic yang menghalalkan semua kemungkinan.

"Sinterklas itu... Pria gendut dengan pakaian merah dan juga janggut putih," Minato mengangguk dan berfikir kalau kepolosan Naruto masih ada walaupun berada di organisasi seperti ROOT dan masih percaya dengan adanya sinterklas, "memasuki rumah orang tanpa izin..."

...

Sepertinya Minato mengerti kearah mana pembicaraan ini akan tertuju.

"Bukankah itu artinya ia adalah pencuri?" Jawab Naruto sambil memiringkan kepalanya dan menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Entah kenapa semenjak kejadian di Uchiha, Naruto semakin mudah untuk dibaca bagaimana keadaannya. Mungkin karena satu tembok telah hancur saat ia menangis.

"Tidak, ia akan memberikan sesuatu bukan mengambil sesuatu," jawab Minato sambil menjelaskannya, "ia bukan pencuri."

"Ia akan menuruti semua permintaan orang-orang?"

"Hanya anak yang baik sepertimu," Minato tersenyum dan menepuk kepala Naruto, "apapun yang kau inginkan, pasti akan dikabulkan. Jadi, kau ingin apa?"

"Aku ingin… permintaan Chichiue-sama dikabulkan," jawabnya polos, namun tampak memiliki arti yang besar saat didengar oleh Minato. Membulatkan matanya sejenak sebelum tersenyum selebar mungkin dan menepuk kepala Naruto dengan lembut.

"Terima kasih Naruto, aku tahu kalau permintaanku suatu saat akan terkabul," jawabnya sambil memeluk tubuh kecil Naruto sejenak sebelum berdiri kembali dan bergerak kearah dapur untuk menyiapkan makan malam. Tenang saja, hanya memanaskan makanan yang sudah disiapkan sebelumnya, 'aku ingin kau memanggilku tou-san, dan lebih baik lagi tersenyum padaku…'

Naruto tampak berjalan dan duduk di kursinya—ia sudah siap dengan apa yang ingin ia lakukan, tetapi entah kenapa tubuhnya kaku untuk melakukannya. Mungkin, seperti yang dikatakan oleh Ino dan yang lainnya tentang perasaan gugup.

"Aku…" suara Naruto tampak pelan namun Minato bisa mendengarkannya dengan baik. Terdiam sejenak, sebelum ia turun dari kursinya dan berjalan kearah Minato yang tampak bingung dengan sikapnya. Membungkuk hingga sejajar dengan Naruto yang langsung memeluknya.

"N—Naruto?"

"Aku menyayangimu… Tou-san…" suara yang nyaris tidak terdengar namun cukup untuk membuatnay membulatkan matanya. Bukan hanya Naruto memeluknya, memanggilnya tou-san, tetapi juga mengatakan kalau ia menyayanginya. Apa lagi yang bisa menjadi hadiah natal yang terbaik untuknya.

"Tetaplah memanggilku seperti itu?"

"Aku berjanji," Minato tampak melepaskan pelukan Naruto sejenak untuk melihat senyuman yang mirip dengan orang yang ia sayangi. Wajahnya memang sangat mirip dengan Minato, namun melihat senyumannya ia tahu kalau itu adalah milik Kushina.

"Kau tidak perlu melakukan itupun aku akan tetap menyayangimu Naruto…"

Ia tahu tidak akan mungkin mendapatkan kebahagiaan lebih dari malam ini, dan ia benar-benar merasa kalau ini adalah malam natal yang terbaik untuknya.

"Bagaimana kau bisa melakukan itu?"

"Sasuke-san dan yang lainnya, Hinata-san juga membantuku—" jawabnya saat ayahnya mengakhiri pelukan. Kembali dengan wajah stoicnya, Naruto tidak biasa menunjukkan senyuman cukup lama, bahkan ia baru tersenyum sebanyak dua kali setelah sekian lama.

'Aku akan berterima kasih pada Shikaku dan juga yang lainnya…'


"Naruto!" karena memang liburan natal dan tahun baru dijadikan satu, Naruto dan yang lainnya baru bertemu dengan teman-temannya saat tanggal 3 Januari. Menoleh saat melihat Ino dan juga yang lainnya berlari kearahnya, "selamat pagi!"

"Selamat pagi Ino-san, Shikamaru-san, Chouji-san, Sasuke-san—"

"Tidak perlu menggunakan –san!" semuanya berbicara bebarengan membuat yang bersangkutan hanya diam tidak mengerti. Pada akhirnya hanya bisa mengangguk walaupun tentu saja ia tidak bisa begitu saja mengerti kenapa tidak boleh menggunakan kata –san.

"Bagaimana dengan rencanamu?"

"C—Tou-san sangat menyukainya, ia tidak pernah tersenyum seperti itu sebelumnya," lagi-lagi senyuman tipis terlihat di wajahnya. Dan terima kasih untuk senyuman itu yang kini terlihat oleh semua orang di akademik, mulai sekarang akan banyak penggemar dari seorang Namikaze Naruto.

"Kau sudah mulai mengerti bagaimana cara memikirkannya dengan cepat eh?" Sakura tampak tersenyum pada temannya itu yang tampak menatap semuanya dan tersenyum lebar.

"Tidak perlu melakukan itu, aku bisa merasakannya saat bersama dengan kalian kok," jawabnya secara langsung mengatakan kalau mereka adalah salah satu kebahagiaan yang ia miliki. Tentu saja itu membuat semua yang bersangkutan terdiam dengan wajah sedikit memerah karena malu.

"Tentu saja kita akan berteman selamanya bukan?!"


6 tahun kemudian


"Baiklah, jangan lupa dengan ujian Gennin besok, kalian harus mempersiapkan yang terbaik," Iruka Umino, guru mereka tampak tersenyum dan menatap semua orang. Besok adalah dimana semua murid akademi mengikuti ujian Gennin.

"Naruto-kun, apakah kau mau mengajariku untuk ujian Gennin?"

"Tidak, aku yang ingin memintanya mengajariku!"

"Hei, aku juga ingin—"

Beberapa siswi tampak mengerumuni Naruto yang saat itu berusia 12 tahun. Dengan mengenakan kaus hitam dengan lambang Uzumaki, dan celana panjang putih, sudah cukup untuk mengeluarkan kharisma seorang Namikaze Naruto. Masih dengan wajah datar yang sama selama 6 tahun, namun ia sudah bisa mengendalikan senyumannya.

"Maaf teman-teman," dengan senyuman tipisnya, Naruto tampak berbicara dengan pelan, "aku harus berjanji untuk berlatih bersama dengan Sasuke..."

KYAAA!

Dan hanya dengan senyuman singkat sudah cukup membuat siswi-siswi itu berteriak kegirangan. Sibuk dengan itu, memberikan kesempatan Naruto untuk kabur dari kumpulan gadis-gadis itu dan menuju pada meja—sahabatnya.

"Sasuke-kun, ajarkan aku menggunakan kunai?"

"Ajarkan menggunakan shuriken sepertimu?"

"Bagaimana kalau kau mengajariku di rumahku?"

Sasuke tampak risih dengan keadaan itu, namun tidak berkata apapun. Naruto bergerak dan berdiri di samping Sasuke saat itu. Semua siswi penggemar Sasuke tampak memberikan jalan pada salah satu idola kelas (bahkan akademi itu).

"Sudah siap Sasuke?"

"Heh, kapanpun dobe," Sasuke segera berdiri dan berjalan diikuti dengan Naruto.

"Kenapa kau terus memanggilku Dobe selama 6 tahun ini," jawabnya sambil memiringkan kepalanya bingung, dengan wajah tanpa senyuman lagi.

"Karena kau bodoh..." Bodoh dalam hal melakukan kegiatan yang biasa tentu saja. Akademik, ia adalah Rookie at the Year(s) bahkan mengalahkan Sasuke yang berada dalam peringkat dua. Naruto tidak mengerti namun hanya diam.


"Bagaimana kegiatanmu hari ini?"

Enam tahun, dan tidak ada satu haripun tanpa Minato menanyakan hal itu pada Naruto. Ia tidak akan pernah bosan memantau bagaimana keadaan Naruto saat ia tidak ada. Bukannya overprotektif (menurutnya), tetapi ia hanya tidak ingin Danzou lagi-lagi menyuruh Naruto untuk kembali ke organisasinya.

"Berlatih dengan Sasuke, dan Sasuke menarikku untuk kabur dari kejaran siswi-siswi itu," jawabnya dengan nada monoton, sementara Minato hanya sweatdrop mendengarnya. Tidak pernah menyerah, dan sepertinya siswi-siswi itu benar-benar menggandrungi kedua anak itu (Naruto & Sasuke), "bagaimana bentuk ujian Gennin itu tou-san...?"

"Kau tidak pernah ikut ujian Gennin?"

"Para anggota council langsung menaikkan tingkatku saat mengujiku," jawab Naruto pelan. Sebenarnya Minato tidak suka saat Naruto menceritakan bagaimana anggota council memperlakukannya seperti senjata.

"Ada test tertulis—aku tidak akan mempermasalahkannya lagi, test pertarungan—terlebih lagi itu, tetapi kau harus mengurangi kekuatanmu, test melempar kunai—kau mendapatkan kemampuannya dariku, test jutsu—ah, aku tidak akan meragukannya lagi," Minato menghitung test yang akan dilakukan nanti, "aku yakin kau akan lulus ujian itu!"

"Ya," tersenyum pada ayahnya, walaupun selama 6 tahun ini Naruto masih kaku untuk tersenyum, sudah cukup dengan senyuman yang diberikan oleh Naruto selama ini. Menepuk kepalanya dan tampak berjalan kearah rumah mereka sambil berbincang.


"Test terakhir, bunshin—" Iruka tampak melihat Naruto yang berdiri di depannya. Naruto memiliki pengendalian chakra yang cukup buruk untuk ukurannya. Terkadang bunshin miliknya akan menjadi sedikit pucat, dan sebenarnya itu yang membuatnya khawatir tidak lulus.

"Kagebunshin no Jutsu..." Membuat segel tangan dan dengan segera tampak mengeluarkan asap yang memunculkan lima buah bunshin nyata Naruto. Para penguji tampak jawdrop melihat sang bintang kelas itu bisa menggunakan jutsu tingkat B.

"Tidak usah diragukan lagi, selamat kau lulus ujian Naruto," Iruka yang mengumumkan kelulusan, mengambil sebuah Hitai Ate tidak dari barisan Hitai Ate di atas meja, namun memberikan yang sedikit lusuh pada Naruto, "ayahmu memberikanku itu saat pagi tadi. Itu adalah Hitai Ate pertama ayahmu..."

...

"Terima kasih Iruka-sensei," memberikan senyuman tipis dan membungkuk pelan sebelum berbalik dan keluar dari ruangan itu.


"Kudengar tahun ini tidak ada yang tidak lulus," pemuda dengan warna rambut hitam dan model nanas tampak berdiri di ruang Hokage. Shikaku Nara dengan beberapa laporan tampak menatap Minato yang masih duduk di depannya, "dan tentu saja yang menjadi Rookie of the Year adalah anakmu..."

"Begitulah, aku tidak sabar melihat bagaimana tim 7 akan terkejut dengan siapa ataupun siapa yang menjadi Guru Jounnin mereka," suara ketukan tampak terdengar, Minato tahu siapa yang ada dibalik pintu, "benar bukan?"


"Tou-san," pintu ruangan Hokage tampak terbuka pelan menunjukkan sosok Naruto, Sasuke, dan Sakura disana. Naruto memang memiliki teman-teman seperti Ino dan yang lainnya, namun paling dekat dengan dua orang anak laki-laki dan perempuan itu.

"Selamat atas kelulusanmu Naruto!" Minato mengecup dahi Naruto dan mengacak rambutnya, "kau juga Sasuke, Sakura!"

"Terima kasih Hokage-sama," jawab mereka berdua bersamaan sambil membungkukkan kepalanya.

"Terima kasih untuk Hitai Atemu tou-san," Naruto tampak tersenyum lebar dan Minato hanya membalasnya dengan senyuman lebar juga. Tentu saja ia memang menginginkan Hitai Ate pertama miliknya saat ia lulus ujian Gennin digunakan oleh Naruto.

"Hitai Ate ini juga milik Itachi-nii," Sasuke tampak sangat senang menerima Hitai Ate yang juga diberikan oleh Minato pada Iruka. Hitai Ate milik Itachi saat ia lulus ujian Gennin.

"Dan kalau kau ingin Sakura, Hitai Atemu juga tidak kalah menarik daripada milikku dan Itachi," seolah mengetahui Sakura yang tampak iri dengan mereka berdua, Minato tersenyum pada gadis berambut pink itu, "itu adalah milik salah satu Kunoichi paling kuat di Konoha."

"Eh?"

"Ninja medis yang merupakan salah satu Sannin yang ada di Konoha," jawabnya mengingat salah satu rekan satu tim dari mantan gurunya itu, "itu adalah Hitai Ate milik Tsunade-sama..."

"Benarkah?!" Sakura tampak terkejut mendengarnya. Ia tidak memiliki keluarga yang menjadi Shinobi, tentu saja ia fikir ia tidak akan mendapatkan Hitai Ate yang istimewa seperti milik kedua sahabatnya.

"Bagaimana Hitai Ate milik salah satu Sannin ada di tempatmu tou-san?"

"Kushina mendapatkannya saat Tsunade-sama datang ke Konoha. Ia memintanya langsung pada Tsunade-sama," jawab Minato tersenyum mengingat semua itu. Ah, andai saja Kushina masih ada di dekatnya, "jagalah baik-baik Hitai Ate itu Sakura..."

"Tentu! Aku juga ingin menjadi ninja medis yang hebat sepertinya," jawab Sakura tampak senang dengan kabar itu.


"Danzou-sama," Fu tampak muncul di ruangan Danzou dan tampak membungkuk hormat. Sudah lama Danzou tidak melakukan sesuatu dengan Naruto. Ia tahu perkembangan yang dilakukan dalam waktu 1 tahun itu oleh Minato dan semua orang di Konoha—dan ia tidak menyukai itu, "hari ini Kurama lulus dalam ujian Gennin, apakah kita akan melakukan rencana itu?"

"Ya, tetapi kita akan menunggu sebentar lagi…"

"Baiklah Danzou-sama," membungkuk lebih dalam sebelum melakukan Shunshin dan menghilang begitu saja. Danzou tampak menatap tajam kearah Konoha di depannya dengan satu mata tampak diperban entah karena apa.

"Sebentar lagi—kau akan kembali padaku… Namikaze Naruto…"


"Apakah kau tidak ingin tahu siapa kelompok dan juga guru Jounninmu Naruto?" Minato tampak meminum kopi hangatnya di rumah saat melihat Naruto yang hanya diam membaca buku. Sepertinya tidak tertarik dengan apa yang dibicarakan oleh ayahnya.

"Tidak…"

"Kau yakin? Sama sekali tidak sedikitpun?" Naruto mengangguk dan masih membaca buku yang ada di tangannya. Benar-benar tidak ada rasa tertarik dengan apa yang dikatakan oleh pria itu. Ah, padahal tidak ada anak yang tidak ingin tahu siapa kelompok dan juga guru Jounninnya bukan, terlebih karena ayahnya adalah seorang Hokage.

"Tou-san… aku sudah pernah menjadi Gennin bukan, jadi ini bukan pengalaman pertamaku," jawab Naruto tampak tersenyum tipis dan menatap ayahnya. Ah, senyuman milik anaknya memang benar-benar menenangkan. Tidak pernah gagal untuk membuatnya tersenyum kembali.

"Tetapi ini pertama kalinya aku melihatmu menjadi Gennin Naruto, apakah kau tidak ingin menyenangkan ayahmu sedikit?" memeluk anak berusia 12 tahun itu dari belakang dan membuat Naruto menurunkan bukunya.

"Lagipula, tou-san pasti memberikan tim yang terbaik dan guru yang terbaik. Apakah benar?" menoleh ke atas menatap ayahnya yang tampak tersenyum lebar dan menepuk kepalanya.

"Tentu saja anakku, kau akan mendapatkan tim dan guru yang terbaik…"


"Jadi, apakah kau menanyakan siapa tim dan juga gurumu?" tanya Sasuke saat Naruto dan dirinya berada di kelas dan mencoba untuk menunggu pengumuman dari Iruka tentang pembagian kelompok Gennin.

"Tidak, aku tidak tertarik untuk mengetahuinya…"

"Walaupun sudah 6 tahun kau tetap tidak mengasikkan kau tahu," Sasuke menghela nafas, tetapi tentu saja perkataannya itu tidak serius. Mereka sudah bersahabat sejak 6 tahun yang lalu dan itu membuktikan kalau mereka saling mengerti, "Nii-san tidak berbicara denganku kemarin. Padahal kau baru saja lulus ujian Jounnin."

"Apakah kau tidak merasa aneh?" Naruto tampak memikirkan sesuatu. Sasuke baru saja akan bertanya saat tiba-tiba pintu terbuka dan menampakkan Iruka yang membawa selembar kertas.

"Baiklah, duduk semuanya—aku akan menyebutkan pembagian kelompok Gennin sekarang. Tim satu—" Iruka tampak membacakan mulai dari awal dan semuanya tampak mendengarkan dengan jelas bahkan Naruto sekalipun, "tim tujuh, Sakura Haruno, Uchiha Sasuke, dan Namikaze Naruto."

Suara 'awww' kecewa yang terdengar dari beberapa anak tampak membuat Iruka sweatdrop. Yah, karena status istimewa Naruto yang merupakan Jichuuriki dan juga Sasuke yang—diperlukan orang khusus untuk menanganinya membuat mereka harus berada dalam satu kelompok.

Sementara Sakura tampak sangat senang, bukan hanya karena berada satu tim dengan Sasuke yang ia sukai, namun juga berada bersama dengan kedua sahabatnya.

"Oi dahi lebar, kau pasti curang! Kenapa kau bisa bersama dengan dua orang paling digemari di kelas dalam satu kelompok!" Ino tampak protes karena ia juga menyukai Sasuke dan juga Naruto, "sementara aku harus terjebak dengan Shikamaru dan Chouji! Itu tidak adil!"

Sebenarnya Minato memang mengatur agar Shikamaru, Ino, dan Chouji berada di satu tim. Yah, membentuk InoShikaCho generasi selanjutnya.

"Bermimpilah Ino-pig!"


Beberapa tim sudah dijemput oleh Guru Jounninnya mengikuti urutan nomor timnya. Tim lima baru saja dijemput oleh gurunya, dan sekarang tim enam sudah dijemput. Naruto, Sasuke, dan juga Sakura tampak sudah menunggu di barisan paling depan melihat siapa guru Jounnin mereka.

"Disini…" menoleh saat mendengar seseorang berbicara, pintu geser kamar terbuka dan menunjukkan seseorang berpakaian Jounnin yang tampak sangat dikenal oleh mereka bertiga, "tim tujuh, aku adalah Guru Jounnin kalian."

Memberikan senyuman tipis dan menemukan Sasuke, Sakura, dan Naruto yang tampak cengo melihat sosok pria berambut sedikit panjang yang diikat ke belakang dengan sedikit keriput di dua sisi pipinya.

"Nii-san/Itachi-san!"

"Namaku adalah Uchiha Itachi…" walaupun mereka sudah kenal tentu saja harus melakukan perkenalan nama saat kunjungan pertama secara resminya, "aku akan memimpin tim kita mulai sekarang…"


To be Continue


Sebenarnya kalau ga ada Multi Choice Plot bakal jadi shocking news ya XD #iyaapa?

Tapi saya hanya ingin menghargai para fans Kakashi yang bisa saja protes kalau saya membuat Itachi menjadi ketua tim 7. Dan inginnya chapter ini langsung certain tentang pertemuan Itachi dengan tim 7, tapi menurut saya kalau Naruto tidak sedikit memiliki ekspresi tersenyum selama 6 tahun rasanya ganjil.

Oh, hubungan Itachi + Kakashi sama Tim 7 itu kaya Kakashi + Tenzo sama tim 7, jadi masih berhubungan tentu saja Kakashi :3

Jadi, disini dengan sedikit bantuan dari Scene NaruHina, Naruto sudah bisa berekspresi tersenyum walaupun masih kaku. Apakah ia akan menjadi anak yang berekspresi normal? Tentu saja tidak semudah itu~

BTW tentang Minato takut anjing itu cuma pelengkap beneran XD ga mungkin kan Minato takut sama anjing XD

Sebenarnya… saya itu pengen bikin Harem!Naru baik sama cowo maupun cewe… #beneran tapi takutnya ada reader yang ternyata ga suka Shounen Ai.

Apakah Reader setuju dengan Harem!Naru ^^? #plak (tapi ga ada pairing tetap karena ini family :3)

BTW ini hadiah karena saya telat update kemarin ._. Sebenarnya sudah dari kemarin ada, tapi mau nunggu sampe UN selesai dulu XD #plak

Makasih buat Comment dari kalian :3 sangat membuat saya bersemangat untuk mengupdate ^^


Q & A


Naqyu-qyu-qyu (Tehe, makasih ^^ dan sudah diwujudkan pilihan pertamanya :3)

LadySaphireBlue (makasih XD dan sudah diwujudkan Itachi menjadi guru Jounnin. Yep, Naruto disini kaya Sai yang Cuma senyum kalau diperlukan. Tapi tentu saja senyumannya itu lebih tulus daripada Sai :3 hahaha XD bukan Cuma Sasuke yang bantu kok XD tuh temen-temennya juga XD yangmalahngebocorinkehidupanMinato)

Yusagie (sudah kok :D nih makanya bisa cepet update ^^ Cuma nungguin UN selesai aja :3)

Vionner (Eh ga papa kok, sudah review saja benar-benar membuat saya senang ^^ dia belum bisa ketawa tapi sudah bisa senyum :3 iya, tim sukses gara2 paman XD aw, makasih pujiannya :3 saya pilih nomor 1 ya ^^ karena kebanyakan pilih itu ^^)

Earl Louisia vi Duivel (Iya, sudah dijadiin kok XD tapi still ada Kakashi :3)

Guest (oke :Db)

Namikaze . shira (naaah, ga papa kok ^^ biasanya sih sampe 4000-an kaya gini Cuma kemarin ga dapet plot buat disananya jadi Cuma sedikit XD oke, sudah jadi Itachinya :3)

Ninami Kirei (Oke :Db)

Earl Grey Bernvoureth (change personality XD yah daripada kematian Shisui sia-sia ^^)

Mendokusai144 (maaf ya, karena semuanya pilih Itachi di tim 7 jadi saya ga bisa :( )

Armelle 'AquaMar' Eira (maaf ya nunggu lama ^^; romance… maunya Harem!Naru sih ._. Mau Yaoinya juga walaupun ga ada pairing tetap… Latihannya itu yang masih bingung disamain atau ga :-?)

Abi . putraramadhan (oke sudah diwujudkan ^^ dan yep, Naru sudah bisa senyum :3)

AN Narra (Oke ^^ hahaha XD Naru sekarang udah ga terlalu Stoic kok lebih ke kesan cool XD)

GerhardGemi (oke ^^)

Fran Fryn Kun (maaf ^^; sudah kok :3)

Nakato-san (sudah ^^)

Chicken vulpes vulpes (makasih ^w^ oke :D sip-sip, Kakashi pegang peran kaya Yamato kok :3)

Swider (oke nomer 1 :D dan MoTOSnya ditunggu~ ^^)

Guest (oke :3)

God and angle (oke ^^ dan saya tetap akan mengupdate yang satunya sih :-/ but tetap update secepatnya kok :3)

AzuraCantlye (hahaha XD iya sudah kok :3 dan tentu saja akan ada misi dengan Kakashi :3)