Forgetable Emotion

Genre : Family/Hurt/Comfort

Rated : T

Warning : semi-AU, OOC!Naruto, Typo dkk.

Disclaimed : Naruto © Masashi Kishimoto

.

The Meaning of You

.

Suasana hening saat perkataan Naruto dicerna oleh semua orang disana. Ia menanyakan hal yang tiba-tiba seperti itu dan itu cukup membuat Minato membuka mulutnya namun tidak ada suara yang keluar sama sekali.

"Apa maksudmu Naruto? Apakah aku harus menjawabnya?" Minato menatap Naruto yang tampak menutup matanya dan menunduk saja. Diam tidak mengatakan apapun, fikirannya masih kacau dengan ansumsi yang muncul begitu saja di fikirannya, "Naruto, sayang?"

"Tidak apa-apa tou-san... Kalau tou-san tidak ingin mengatakannya, tidak apa-apa," jawabnya sambil mencoba untuk tersenyum. Namun siapa yang bisa menghilangkan perkataan itu dari fikiran mereka setelah mendengarkan hal itu—ada keraguan entah datang darimana yang dirasakan oleh Naruto, "aku lelah..."

"Kita akan ke Rumah Sakit dan kau bisa tidur..."

"Aku ingin pulang ke rumah," jawabnya dengan mata yang nyaris tertutup. Minato hanya bisa terdiam sejenak sebelum tersenyum tipis dan mengangguk. Naruto tidak pernah memintaa sesuatu yang menentangnya namun tidak apa-apa, lagipula itu tidak masalah yang besar. Melihat anaknya yang menutup mata, Minato memindahkan gendongannya ke gaya bridal.

"Minato-sensei..."

"Aku tidak apa-apa, aku hanya sedikit terkejut dengan pertanyaannya dan tidak memiliki jawaban untuk pertanyaannya," jawab Minato menghela nafas berat, "aku tahu maksud pertanyaannya. 'Apa arti keberadaannya—kenapa dengan mudahnya aku mengunci Kyuubi dalam tubuhnya'..."

Sasuke dan Sakura yang tidak mengetahuinya tampak hanya diam dan mendengarkan dengan baik. Mereka baru pertama mendengarkannya dan itu cukup untuk membuat mereka kehilangan kata-kata.

"Aku mengunci Kyuubi karena aku yakin ia bisa mengontrol chakra Kyuubi," melihat Itachi yang membawakan jubah Hokage untuk menyelimuti Naruto, Minato hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya untuk Kakashi menyelimutinya. Yah, walaupun sudah berusia 12 tidak salahnya melakukan itu, "namun, kalau aku memikirkannya. Rasanya aku memperlakukannya seperti—"

...

"Sensei?"

"Pulanglah Kakashi, aku tahu kau lelah..." Minato tampak tersenyum dan menatap mantan muridnya itu yang hanya diam dan mengangguk pelan, "Itachi, Sasuke, Sakura kalian juga—Naruto akan kembali ke kelompok beberapa hari lagi..."

"Baiklah Hokage-sama..."

Setelah semuanya pergi, dengan segera Minato menggunakan Hiraishinnya untuk pergi ke rumah mereka dan menidurkan Naruto di atas tempat tidurnya. Menatap wajah anaknya dan mengusap rambutnya perlahan sebelum ia mengecup dahinya.

"Selamat malam, Naruto..."

Perlahan pergi, menutup pintu dengan pelan hingga suara pintu yang tertutup itu terdengar pelan. Naruto yang tampak tertidur awalnya sekarang membuka mata perlahan. Dan sebenarnya, ia tidak pernah tidur dan mendengarkan pembicaraan Minato sejak awal hingga akhir.

'Kau akan menjadi senjata yang sempurna dan bisa mengendalikan chakra Kyuubi...'

'Aku bukan senjata yang sempurna, tou-san juga menungguku bisa menggunakan chakra ini,' menutup matanya tanpa mengubah emosinya, 'sampai kapanpun, aku selalu menjadi sebuah senjata. Dan itu tidak pernah berubah...'

-oOo-

"Selamat pagi Naruto," Minato tampak tersenyum pada anaknya yang tampak baru saja bangun dan sudah memakai kaus hitam dengan lambang uzumaki berwarna merah dan celana putih. Hitai ate juga tampak sudah berada di dahinya, "eh, kukira kau butuh waktu untuk beristirahat Naruto. Kemarin kau baru saja diculik oleh orang-orang itu."

"Tidak apa-apa tou-san, aku ingin kembali ke kelompok Itachi-sensei," jawabnya sambil menggeleng pelan. Tentu, kalau ia beristirahat ada kemungkinan untuknya menjadi lebih lemah, "karena aku akan menjadi lebih kuat untuk menjadi alatmu dan desa..."

PRANG!

Suara itu membuat Naruto menoleh dan menemukan Minato yang memecahkan piring yang tadi ia pegang. Tampak sedikit terkejut, namun dengan segera memunguti pecahan piring itu.

"A—ah, sepertinya aku salah mendengarmu mengatakan tentang dirimu menjadi senjata lagi," Minato mencoba untuk tertawa meskipun tentu terdengar sangat dipaksakan. Meskipun ia tahu kalau apa yang didengarnya itu tidak salah, dan melihat Naruto yang tampak membantunya—ia segera menyadari mata Naruto yang kembali kosong, "kau—benar-benar mengatakan hal itu?"

...

"Tou-san juga percaya kalau aku akan menjadi senjata yang hebat untuk Konoha—" Minato bahkan tidak merasakan tangannya yang tanpa sadar menggenggam pecahan gelas hingga darah mengalir di kepalannya, "—bukankah...karena itu selama 5 tahun tou-san tidak pernah mencariku? Karena aku adalah 'alat' yang belum matang..."

-oOo-

Fuu—suruhan Danzou yang tampak mengawasi Naruto sejak awal ia ditugaskan tampak muncul di belakang Danzou yang tampak membelakanginya. Ia membungkuk hormat dan tidak bergerak sedikitpun.

"Bagaimana keadaannya?"

"Semenjak penculikan malam itu—fikirannya kembali negatif, menganggap kembali dirinya sebuah senjata—" Fuu yang memang merupakan orang dari klan Yamanaka tentu saja bisa membaca fikiran anak itu, "—saya kira ini ada hubungannya dengan Kyuubi di dalam tubuhnya."

...

"Bagus—kalau begitu, ini adalah kesempatan kita untuk merebutnya kembali. Emosinya masih labil, dan tentu saja tidak akan semudah itu—" tersenyum penuh arti, rasanya Danzou benar-benar yakin kalau Naruto tidak akan menjadi apa yang Minato inginkan, "selama ia tidak menyadari apa yang sudah kutanamkan pada anaknya, Minato tidak akan bisa membuat anak itu menjadi anak yang normal..."

-oOo-

"Naruto, cukup—"

Tim tujuh tampak sedang berlatih dan mencoba untuk bertarung satu sama lainnya. Pertarungan pertama adalah Sakura melawan Naruto yang dimenangkan oleh Naruto, lalu Sasuke dan juga Naruto—yang melanjutkannya karena dianggap menang (untuk melatih stamina juga), membutuhkan waktu yang cukup lama namun Sasuke kalah karena Staminanya yang kurang. Dan sudah 3 jam semenjak latihan ketiga Naruto dan juga Itachi.

"Masih...belum sensei..."

Itachi bisa melihat ada yang berbeda dengan Naruto—dan sepertinya Sasuke dan juga Sakura juga menyadarinya.

"Bagaimana kalau kita istirahat makan siang? Aku akan mentraktir kalian di Ichiraku—" Itachi tampak mencoba untuk menghentikan Naruto yang sepertinya memaksakan dirinya. Yang benar saja, kira-kira 5 jam lebih ia bertarung tidak henti-hentinya, "mungkin saja ayahmu akan berada disana..."

"Tidak—" Naruto masih memegang kunainya dan hanya diam beberapa saat sebelum melanjutkan perkataannya, "—beberapa hari ini tou-chan tampak menjauhiku..."

"Menjauhimu? Kurasa tidak pernah membayangkan Hokage-sama akan menjauhimu dobe. Kau tahu sendiri kalau ayahmu itu sangat protektif padamu bukan?" Sasuke benar-benar tidak mengerti apa yang sebenarnya difikirkan oleh Naruto saat itu, "mungkin itu hanya perasaanmu?"

"Ia pulang sangat malam—dan tidak masuk ke dalam kamarku sebelum aku berpura-pura tidur," Naruto tampak melempar beberapa kunai kearah sasaran, "dan saat pagi ia hanya meninggalkan sarapan dan sudah kembali ke gedung Hokage atau mungkin hanya mengunci diri di kamar..."

Dan perkataan itu sukses membuat ketiganya percaya kalau Minato menjauhi Naruto. Namun apa dan kenapa?

"Kami akan segera kembali Naruto—" Naruto hanya mengangguk dan tetap melanjutkan latihannya tampak memperdulikan Sasuke, Sakura, dan juga Itachi yang sudah berbalik dan meninggalkannya. Ia terus mencoba untuk berlatih tanpa henti.

'Belum cukup…'

-oOo-

"Kau harus ceritakan apa yang saat ini kau fikirkan," Jiraiya tampak berada di depan meja kerja sang Hokage. Minato hanya menatap sang Sannin sekaligus mantan gurunya itu dengan tatapan bingung, "kau tidak berkonsentrasi, dan yang lebih mengherankan kau tidak meruntuk saat laporan semakin bertambah."

Minato tampak terkejut dan menoleh untuk menemukan laporan yang sudah semakin banyak dan menumpuk di depannya. menjedukkan kepalanya diatas meja dan tampak benar-benar tidak bisa bergerak sedikitpun dari sana.

"Sensei…" Jiraiya, mendengar mantan muridnya itu tampak berbicara dengan nada seperti itu sudah dipastikan masalah yang dihadapi tidaklah cukup mudah untuk ia lakukan, "apakah aku gagal sebagai orang tua?"

"Kukira aku selalu iri pada Naruto yang memiliki ayah sepertimu…"

"Ia mengatakan kalau aku meninggalkannya hingga 5 tahun karena menganggap kalau ia adalah senjata yang kurang matang," Jiraiya tampak mengerutkan dahinya mendengar itu. Naruto lagi, seharusnya ia sudah tidak kaget mendengarnya, "kalau saja aku tahu kalau ia masih hidup, aku akan mengorbankan apapun untuk mendapatkannya—jabatan, bahkan nyawaku sekalipun."

.

.

.

"Bahkan kalau memang saat itu aku bisa memilih untuk memasukkan Kyuubi kedalam tubuhku, aku akan melakukannya…"

-oOo-

"Eh? Mengawal seorang Hunter Nin yang akan berada di Konoha?"

Sakura tampak bingung saat keesokan harinya tampak dipanggil oleh sang Hokage untuk mengambil misi selanjutnya. Misi yang cukup aneh, karena para gennin tidak pernah mendapatkan misi seperti itu.

"Tampaknya ada seseorang yang mencoba untuk menyerang Konoha—dan Hunter Nin yang akan kalian temani selama 1 minggu ini akan melakukan pengawasan karena orang yang akan menyerang Konoha adalah Missing Nin dari Kirigakure," Minato tampak mengangguk, menatap kearah anaknya, dan juga tim tujuh.

"Apakah tidak apa-apa Yondaime-sama?"

"Tenang saja, kalian akan tetap berada di Konoha—dan tentu saja aku akan tahu kalau kalian dalam masalah," Minato tampak tersenyum kearah tim tujuh saat itu, "dan Kakashi akan membantu kalian dalam misi ini untuk terjadinya kemungkinan terburuk…"

Kakashi yang sedaritadi berada di samping Minato membuka topeng anjingnya dan tersenyum kearah mereka. Naruto masih merasa ayahnya menghindar saat melihat bahwa ayahnya tidak sama sekali terlihat menatapnya begitu sering.

"Dan untuk klien kalian," Minato menoleh pada pintu di belakang Naruto dan juga yang lainnya yang tampak terbuka dan menunjukkan seseorang yang berambut hitam cukup panjang dan disanggul ke atas. Menggunakan sebuah topeng dengan lambang Kirigakure, "selama kau disini sebaiknya tidak menggunakan topeng atau akan terlihat mencurigakan…"

"Baiklah, saya akan melepaskan topengnya kalau saya sudah sampai di penginapan," orang itu tampak mengangguk dan Minato hanya membalas anggukannya.

"Akan kuantarkan ke penginapan," Itachi tampak yang pertama kalinya menawarkan itu. Dengan segera mereka berempat bersama dengan sang klien keluar dari ruangan Hokage meninggalkan Kakashi dan juga Minato disana.

"Aku melakukan ini untuk mengurangi kecurigaan, dan Naruto serta Itachi memiliki kemampuan setara dengan Chuunin dan tentu Itachi adalah Jounnin yang sangat berbakat—" Minato tampak menghela nafas. Tidak menatap pada Kakashi namun ia tahu kalau gurunya itu berkata padanya, "kuharap ini tidak membuatnya salah paham."

.

.

.

"Aku hanya percaya padanya—apakah itu salah?"

-oOo-

'Yondaime-sama tidak akan memberikan misi seperti ini begitu saja—apakah beliau meminta pada kami sesuatu selain menemani pemuda ini,' tampak Itachi yang melihat kearah sekeliling kota sambil berjalan bersama dengan sang klien, adiknya, dan juga murid Genninnya.

"Baiklah, saya tidak akan lama untuk mengganti pakaian—mohon maaf kalau kalian harus menunggu," jawab pemuda itu sambil membungkuk sedikit sebelum berjalan kearah penginapan. Itachi menatap pada Sasuke dan juga Naruto serta Sakura.

"Naruto, apa yang sebenarnya kau lakukan kemarin, lihat luka di tubuhmu ini," Sakura yang tampak panik melihat beberapa lecet di tubuh Naruto. Ia memang menyembunyikannya dari Minato dan tentu ayahnya tidak tahu karena tertutupi oleh pakaian.

"Latihan—aku tidak apa-apa Sakura-san…"

"Apanya yang tidak apa-apa, darahmu sampai merembes seperti ini dobe," Sasuke tampak menatap pada darah yang ada di pinggang Naruto. Sakura yang baru menyadari luka dalam itu terkejut dan mencoba untuk memastikan Naruto tidak apa-apa.

"Naruto, biarkan Sakura memeriksamu…" Naruto menoleh pada Itachi, terdiam sebelum mengangguk pelan. Sakura sudah cukup pandai menggunakan chakra medis meskipun hanya untuk luka-luka kecil. Itachi menyuruhnya untuk melatih chakra medis itu dan ternyata siapa yang menyangka kalau itu akan berhasil.

Tidak ada sama sekali perubahan ekspresi dari Naruto saat chakra hijau itu tampak menutup lukanya. Yang Sakura tahu, seharusnya terasa nyeri karena sel-sel tubuh yang dipaksa tumbuh lebih cepat.

"Sudah selesai," Sakura sebenarnya cukup terkejut dengan bagaimana luka itu bisa cepat sembuh segera menjauh dan menatap Naruto yang hanya mengangguk. Baru saja akan mengatakan hal lain saat suara baru terdengar dari arah bangunan.

"Maaf membuat kalian menunggu lama…"

Tim tujuh menoleh untuk menemukan gadis (?) berambut hitam panjang yang manis dan tersenyum kearahnya. Itachi cukup terkejut dan Sasuke serta Sakura benar-benar terkejut dan Naruto tampak biasa-biasa saja.

"Maaf, siapa kau?"

"Fufufu, bukankah Hokage-sama menyuruhku untuk melepaskan topengku?" dan Sasuke dan juga Sakura tampak benar-benar terkejut saat ini melihat gadis di depannya adalah orang yang mereka kira laki-laki dan merupakan seorang Hunter Nin.

"Maaf, aku belum mengenal kalian semuanya—"

"Namaku adalah Uchiha Itachi, lalu ini Uchiha Sasuke, dan juga Haruno Sakura serta Namikaze Naruto," jawab Itachi sambil memperkenalkan tim 7 pada gadis itu. Saat mendengar nama Namikaze, gadis itu melihat Naruto dengan tatapan sedikit—membuatnya waspada.

"Kalian bisa memanggilku Yuki, senang berkenalan dengan kalian—" jawab gadis itu sambil tersenyum dan tampak menatap kearah Naruto kembali. Itachi yang menyadari itu tampak mencoba untuk waspada—bagaimanapun Naruto baru saja diculik dan kalau sampai dalam misi ini ia dalam bahaya, ia benar-beanr akan berhadapan dengan seseorang dengan julukan Yellow Flash itu dan akan melihat kenapa julukan itu tersematkan di namanya.

"Bagaimana kalau kita makan dulu? Aku cukup lapar—"

"Bagaimana dengan Ichiraku Ramen?" kata-kata Naruto membuat Itachi dan yang lainnya tampak menatapnya seolah melihat seorang yang asing di mata mereka, "ada apa?"

"Tidak pernah melihatmu menawarkan sesuatu dobe," Sasuke tampak tertawa pelan. Tentu ia tidak keberatan walaupun ia tidak begitu suka ramen. Karena tidak ada orang yang bilang Ichiraku Ramen itu tidak enak.

"Hanya, merasa lapar…"

"Baiklah kalau begitu, aku juga cukup suka dengan ramen," Yuki tampak tertawa dan menatap kearah Naruto yang hanya mengangguk dan berjalan tanpa mengatakan apapun lagi. Misi diatas segalanya, dan kalau begitu itu artinya ia harus melakukan yang terbaik untuk melayani klien mereka.

-oOo-

Hanya pada saat berada di Ichiraku sepertinya Naruto lebih nyaman—tentu saja selain bersama dengan ayahnya. Tampak menikmati miso ramen yang ada di depannya, Itachi tampak berbicang dengan Yuki sementara Sakura dan Sasuke tampak mencoba mengajaknya berbicara.

"Naruto, kau baru menghabiskan ramen keduamu!" Sakura tampak menatap kearah Naruto yang tampak tidak menyentuh ataupun meminta ramen lagi. Walaupun ia tampak dingin dan juga tidak berekspresi, tidak bisa ia menutupi saat ia menyukai ramen yang dibuat oleh Teuchi itu.

Melihatnya makan hanya dua mangkuk hanya membuat kedua rekannya tampak bingung dan tahu ada yang difikirkan oleh anak itu dan benar-benar sesuatu yang penting.

"Hah dobe, kalau bukan ramen yang kau habiskan dua mangkuk kami tidak akan mungkin menanyakan itu—" Sasuke tampak mencoba untuk tidak khawatir namun tentu saja masih bisa melihat kekhawatirannya akan rekan satu tim dan sahabatnya itu.

"Hanya—aku tidak memiliki selera untuk makan…"

"Bolehkah aku meminta waktu untuk hanya dijaga oleh Naruto-kun saja? Hanya satu hari ini," Yuki tersenyum dan memiringkan kepalanya. Itachi, Sasuke, dan juga Sakura tampak mengerutkan dahinya—mana mungkin ia akan membiarkan Naruto sendirian.

"Tidak apa-apa, aku akan baik-baik saja Itachi-sensei. Kalau memang kalian khawatir, aku hanya ingin kalian tidak mendengar apa yang kami bicarakan, namun bisa melihat kami—apakah tidak apa-apa Yuki-san?" Naruto seolah mengetahui apa yang diinginkan oleh gadis di depannya itu tampak membuatnya membulatkan mata dan mengangguk.

"Ya, aku hanya ingin berbicara dengan Naruto-kun."

-oOo-

"Matamu sama denganku Yuki-san," satu hal yang dikatakan oleh Naruto saat melihat Yuki. Mereka berada di tempat dimana tim 7 biasa berlatih—dengan Itachi, Sasuke, dan juga Sakura yang memutuskan untuk mengawasi mereka dari jauh.

"Tidak seharusnya anak seorang Hokage mengatakan hal itu bukan? Kau memiliki kehidupan yang bagus bersama dengan ayahmu yang terlihat ramah," Yuki tampak menatap kearah Naruto yang hanya menundukkan kepalanya saja. Tentu saja Hunter Nin itu tahu, karena bagaimanapun nama keluarga yang dipakai Naruto sama dengan nama dari sang Hokage.

"Aku hanya merasa kalau aku menjadi penghambat bagi tou-san, hanya membuatnya terlihat lemah."

"Kau adalah sebuah 'alat' dari seseorang bukan?" pertanyaan Naruto tampak membuat Yuki membulatkan matanya. Siapa anak ini, ia bertindak seolah ia bukanlah bocah berusia 12 tahun, "seperti yang kubilang, tatapan matamu sama denganku."

"Kau adalah—"

"Aku tidak akan mengatakannya—tidak sekarang, karena aku tidak boleh begitu saja percaya dengan orang yang baru dikenal bukan," menoleh dengan senyuman datar di wajahnya, "dan aku yakin kalau kau bukan hanya ingin menangkap Missing Nin itu, dan kalau kau sampai mencoba menghancurkan desa, aku tidak akan tinggal diam."

Yuki bisa melihat bagaimana chakra merah keluar samar dari tubuh Naruto, membuatnya reflex memegang lengannya karena tekanan chakra yang membuatnya gemetar.

'Siapa dia—dan chakra apa itu…'

'Kalau aku tidak kembali tou-san akan khawatir—' berjalan setelah misinya selesai dan juga selesai berlatih, Naruto baru saja akan ke rumah saat waktu menunjukkan pukul 9 malam. Walaupun ia tahu kalau ayahnya saat ini masih berada di kantor, kalau sampai beberapa ANBU yang mengawasi rumah mereka mengetahui ia tidak berada dirumah tentu saja itu akan membuat ayahnya khawatir.

"KYAAA! DASAR MESUM!" suara yang berasal dari sebuah pemandian umum membuatnya menoleh dan menatap kearah asal suara dimana beberapa baskom dan juga ember besar dilemparkan di tempat itu. Hanya butuh beberapa saat ketika seseorang sudah keluar dari tempat itu.

"Mattaku, aku hanya ingin mencari seseorang kau tahu!"

"Selamat malam Jiraiya-sama," tahu namanya? Tentu saja, pengetahuan tentang Konoha adalah pelajaran dasar yang didapatkan oleh Naruto saat kecil. Salah satu Sannin tentu bukan masalah untuknya mengingat mereka.

"Ah Gaki, aku mencarimu kemana-mana!"

"Tetapi aku tidak pernah ada di pemandian umum apalagi dibagian perempuan, Jiraiya-sama…" Naruto tampak memiringkan kepalanya tidak mengerti kenapa Jiraiya malah mencarinya disana. Padahal terang-terang kalau ia tidak mungkin berada disana atau akan berakhir seperti pria itu tadi.

"Sudahlah, dan bisa kau tidak memanggilku seperti itu? Aku tidak suka dengan formalitas seperti itu Gaki!"

"Tou-san pernah bilang untuk memanggilmu dengan sebuah julukan. Walaupun cocok, tetapi…"

"Panggil saja dengan itu!" Jiraiya benar-benar risih dengan formalitas itu, lagipula yang memberikan julukan adalah mantan muridnya—apa yang bisa terdengar lebih parah—

"Ero-sennin…"

"Ya-ya seperti i—" baru sadar dengan apa yang dikatakan oleh Naruto, Jiraiya terdiam dan menggaruk telinganya, "apa yang kau katakan tadi?"

"Tou-san menyuruhku memanggil anda Ero-sennin..."

Dan Jiraiya jatuh dengan tidak elitnya.

"MINATO!"

Di kantor Hokage, tampak sang Yondaime Hokage yang tiba-tiba saja menghentikan pekerjaannya dan merasa merinding walaupun angin malam itu tidak dingin. Kakashi yang melihat itu tampak mengerutkan alisnya.

"Ada apa sensei?"

"Hanya merasa kalau—Jiraiya-sensei akan melakukan sesuatu yang buruk padaku." Kakashi hanya tertawa mendengarnya—memangnya apa yang bisa membuat sang Sannin sampai marah kecuali berhubungan dengan ide Minato memanggil sang Sannin sebagai Ero-sennin.

-oOo-

"Kau ingin menceritakan sesuatu padaku Gaki?" Jiraiya membawa Naruto ke Ichiraku Ramen lagi dan mentraktirnya sambil mencoba berbicara dengan anak itu karena menganggap Minato tidak bisa menyelesaikan masalah kali ini.

"Tidak ada Ero—"

"Jangan memanggilku dengan sebutan itu," ia benar-benar akan memberikan perhitungan pada mantan muridnya itu. Heh, bagaimanapun ia adalah wali Naruto dan ia yang memberikan nama untuk anak ini.

"Baiklah Jiraiya-sama—"

"Tidak juga itu," Jiraiya tampak menatap Naruto yang bingung dengan apa ia bisa memanggil pria di depannya ini, "jii-san! Panggil saja seperti itu, aku sudah menganggap ayahmu sebagai anakku jadi kau juga sudah kuanggap sebagai cucuku. Lagipula ayahmu mendapatkan nama Naruto dari bukuku."

"Buku porno?" Dan Jiraiya menyemburkan kuah ramennya mendengar hal itu. Menatap Naruto dengan arti tatapan 'bagaimana kau tahu kalau aku memiliki buku seperti itu?', "bukankah anda penulis buku Icha-Icha Paradise yang sering dibaca oleh Kakashi-san? Tou-san terkadang mencoba melihatnya juga..."

"Memang—tetapi buku pertama yang kutunjukkan pada ayahmu bukan buku porno kok," Jiraiya tampak menghela nafas dan menundukkan kepalanya. Mengambil buku yang ada di pinggangnya dan memberikannya pada Naruto, "bacalah, aku yakin kau menyukainya!"

Naruto hanya mengangguk.

"Jadi, apa yang ada difikiranmu?" Jiraiya masih mencoba untuk mengetahui apa yang difikirkan anak ini. Naruto tampak sedikit terdiam dan menundukkan kepalanya semakin dalam, "ayahmu tampak sedih kau tahu?"

"Aku tidak pernah ingin membuatnya sedih—hanya saja, aku masih bingung pada tou-san..." Jiraiya menatap Naruto yang tidak menyentuh ramennya, "keluarga selalu membutuhkan satu sama lain. Tetapi—apakah tou-san tidak membutuhkanku?"

Jiraiya mengerutkan dahinya mendengar itu.

"Kenapa tou-san tidak sama sekali mencariku selama 5 tahun? Aku berada di Konoha—dan mudah untuk tou-san mencariku karena dia adalah seorang Hokage," memainkan jarinya dan sebenarnya ia bingung kenapa bisa berbicara dengan jelas seperti ini di depan pria berambut putih yang menyuruhnya untuk memanggilnya Jii-san, "dan yang terfikirkan olehku adalah. Karena aku kurang kuat—karena aku terlahir untuk menjadi sebuah alat dan senjata..."

Jiraiya tidak habis fikir apa yang ditanamkan oleh Danzou pada anak itu hingga berfikir seperti itu.

"Kau hanya tidak melihat apa yang terjadi pada ayahmu gaki," Jiraiya mengacak rambutnya dan menghela nafas, "perlu waktu 1 tahun untuknya keluar dari rumahnya—dan selama itu Sarutobi-sensei harus mengambil alih sementara kepemimpinannya. Perlu waktu 2 tahun untuknya bisa berkomunikasi lagi dengan orang lain—dan bebas dari keterpurukannya karena kematian Kushina. Lagipula, ayahmu tidak tahu kau masih hidup selama 5 tahun itu—kalau saja ia tahu, aku tahu kalau ia akan melakukan apapun untuk mendapatkanmu kembali."

...

"Kau sangat beruntung bisa memiliki ayah sepertinya Gaki, kufikir tidak ada orang yang lebih baik selain ayahmu—" Jiraiya mengedipkan matanya dan tersenyum lebar. Naruto hanya mengangguk dan menunduk lagi, "ia tidak menjauhimu karena membencimu. Ia hanya membutuhkan waktu untuk memikirkan apa yang ia lakukan. Apakah benar atau salah. Ia juga mengunci Kyuubi bukan karena ingin kau menjadi senjata tanpa emosi seperti ini—"

Memiringkan kepalanya bingung—kalau bukan apa yang menjadi alasan ayahnya?

"Ia hanya percaya padamu—percaya kalau kau akan bisa menjadi pahlawan di desa ini, menjadi seseorang yang paling bersinar diantara shinobi lainnya," menepuk kepala Naruto yang membulatkan matanya, "ia percaya kalau kau akan menjadi orang yang paling bisa diandalkan di desa ini melebihi dirinya. Tentu tanpa menghilangkan emosi seperti ini—"

"Bagaimana kalau aku tidak bisa mengendalikan Kyuubi?"

"Kau bisa atau tidak mengendalikan Kyuubi, ayahmu tetap akan menyayangimu. Lagipula, ayahmu tidak pernah mempermasalahkan tentang Kyuubi bukan?" Naruto mengangguk, ayahnya memang tidak pernah sama sekali membicarakan apakah ia bisa menggunakan chakra Kyuubi atau tidak. Membebaskannya untuk melakukan apapun—tidak seperti saat berada di bawah bimbingan Danzou.

"Sepertinya aku benar-benar menyusahkannya eh—" tersenyum pahit, tampak menghela nafas dan Jiraiya hanya tersenyum pelan.

DHEG!

"Kh—" merasakan sesuatu seolah memukul kepalanya, Naruto memegangi kepalanya dan meremas rambutnya sendiri. Matanya tampak membulat dan tubuhnya gemetar. Rasa sakit tampak menjalar dari otaknya menuju ke seluruh tubuhnya. Rasa panas, bukan hanya pertama kalinya—setiap merasakan sebuah emosi seperti menangis, tertawa, ataupun marah. Perasaan ini selalu ia rasakan. Tetapi tidak sesakit ini—semakin lama rasa itu semakin menyiksanya.

"Gaki?" Jiraiya merasakan tubuh Naruto gemetar membuatnya mengerutkan alisnya, "oi, kau tidak apa-apa Gaki!"

"A—aku tidak apa-apa jii-san... Sepertinya aku harus meminta maaf pada tou-san?"

"Dan memberikannya sedikit kejutan setelah itu—" Jiraiya tampak menutup sebelah matanya dan tersenyum penuh arti. Naruto hanya diam dan memiringkan kepalanya, "—kau harus bertemu denganku minggu depan Gaki, aku akan menunggu di tempat latihanmu yang biasa!"

"Kita mau apa?"

"Lihat saja nanti—sebaiknya kau pergi menemui ayahmu, jam malammu sudah cukup lama lewat—" Naruto menatap langit malam yang tampak larut sebelum berdiri dan akan berjalan kearah kantor Hokage namun segera berbalik, "terima kasih jii-san. Ngomong-ngomong, kalau kau adalah jii-san—siapa orang yang harus kupanggil baa-san?"

"Huh?" Jiraiya yang kali ini memiringkan kepalanya dan memikirkan hal itu. Menggerakkan kepalanya kekiri dan kekanan, mencoba memikirkan pertanyaan itu, "ah—" membisikkan sebuah nama pada Naruto dan berjalan mundur sebelum menepuk kepalanya.

"Baiklah, selamat malam jii-san..."

-oOo-

"Naruto belum kembali?! Apakah kalian yakin dia belum pulang?" Para ANBU tampak mengangguk dan masih menunduk hormat. Pukul 9 malam dan para ANBU tidak menemukan Naruto kembali ke rumah. Apakah para orang-orang dari Amegakure itu menculiknya lagi—atau...

CKLEK!

Suara pintu yang tampak terbuka membuatnya menoleh dan menemukan Naruto yang menundukkan kepalanya. Minato tampak terdiam dan tidak bergerak, para ANBU segera pergi meninggalkan ayah anak itu.

"Naruto?"

"Apakah tou-san membenciku?" Minato tampak mengerutkan dahinya bingung dengan apa yang dikatakan Naruto, "karena aku berbeda dengan anak lainnya. Tidak bisa membuatmu bangga, hanya bisa membuatmu sedih. Lagipula Kyuubi yang membunuh kaa-san dan juga hampir membunuhmu ada di—" belum sempat Naruto mengatakan apapun saat Minato memeluknya dengan erat.

"Tidak pernah aku merasa kecewa denganmu—tidak pernah dalam fikiranku aku memikirkan itu," ia mencoba untuk berbicara dengan nada selembut mungkin, "aku sudah sangat senang karena kau sudah lahir. Aku sudah cukup bangga melihatmu tumbuh setiap hari. Aku tidak pernah merasa kau membuatku sedih Naruto—"

"Lalu kenapa tou-san terlihat sedih?"

...

"Karena aku menyesal," memegang kedua bahu Naruto dan menatap mata Saphirre anaknya itu, "bukan karena keputusanku malam itu untuk mengunci Kyuubi di dalam tubuhmu, tetapi karena membayangkan kalau karena itu kehidupanmu selama 5 tahun itu sangat susah. Maafkan aku Naruto... Maafkan aku..."

"Tetapi bagaimana kalau aku tetap tidak bisa mengendalikan Kyuubi?"

"Mengendalikannya atau tidak—aku tetap bangga padamu. Meskipun aku akan tetap percaya kalau kau akan bisa mengendalikannya—" menepuk kepala Naruto sambil tersenyum lebar.

"Sebegitu percayanyakah tou-san padaku?"

"Tentu—karena tugas orang tua adalah percaya pada anaknya. Apapun yang terjadi..." Berjalan mundur beberapa langkah dan mencoba melihat bagaimana reaksi dari Naruto, "kau akan memaafkan tou-san?"

"Tidak—" menggelengkan kepalanya membuat Minato bingung, "tidak perlu ada yang dimaafkan. Tou-san sudah memberikan semua yang tidak pernah diberikan padaku. Itu sudah cukup untukku daripada tidak pernah bersama dengan tou-san..."

"Aku akan selalu bersama denganmu—Naruto..." Memeluk anak itu dan mengusap kepala belakangnya. Naruto hanya tersenyum tipis dan menggerakkan tangannya untuk memeluk balik ayahnya.

DHEG!

Sensasi itu lagi—saat perasaan hangat masuk ke dalam tubuhnya. Rasa sakit di kepala, rasa panas yang menjalar ke dadanya. Seolah tubuhnya terbakar dari dalam.

'Hilangkan... Semuanya, hilangkan...'

"Naruto?" Minato merasakan tubuh anaknya tampak gemetar membuatnya mengerutkan dahinya. Mencoba untuk melihat keadaannya saat ia melihat mata Naruto yang membulat seolah ketakutan, "Naruto, kau tidak apa-apa?"

'Hilangkan semuanya...kau tidak butuh itu semua...'

"Naruto!"

"T—tidak, aku tidak apa-apa tou-san... Sungguh—" Naruto mencoba untuk menutup matanya dan mengatur nafasnya. Ia tidak bisa membuat ayahnya cemas lagi. Ia masih bisa menahan rasa sakit itu, asalkan ayahnya tidak cemas, "—hanya lelah..."

"Kalau begitu ayo pulang..."

-oOo-

"Kau terlihat berbeda Naruto," Sakura tampak menatap Naruto saat mereka sedang berjalan menemani gadis bernama Yuki itu. Itachi sepertinya sedang membicarakan sesuatu pada Minato, dan hanya mereka bertiga yang tampaknya menemani gadis itu.

"Benarkah?"

"Ya, aku juga merasakannya—" Yuki memiringkan tubuhnya dan melihat kearah Naruto. Beberapa hari tampaknya mereka sudah cukup untuk membuat mereka bertiga cukup akrab. Namun Naruto dan juga Itachi masih mencoba untuk waspada dengan gadis itu.

"Jadi apa yang akan kita lakukan hari ini?" Menatap kearah Yuki, Sakura mencoba untuk menanyakannya. Yuki sendiri tampak memikirkan sesuatu sebelum matanya menangkap seekor Elang yang terbang menuju kearahnya. Mengangkat tangannya, tampak mencoba untuk membiarkan elang itu mendarat di tangannya.

"Apa itu?"

"Elang pembawa pesan," Naruto membisikkan sesuatu dan tampak menatap kearah elang itu. Setiap Negara tentu saja memilikinya—tetapi ada yang aneh dengan elang itu. Yuki membaca surat yang ada di elang itu sebelum tatapannya berubah.

"Maaf, sepertinya hari ini aku harus diam di penginapan karena akan ada pesan dari Kirigakure—" tampak menggaruk kepala belakangnya dan tertawa. Naruto hanya menatapnya curiga dan kali ini begitu juga dengan Sasuke.

"Baiklah kalau begitu," Sakura hanya bingung mendengarnya. Dan mereka mengantarkan Yuki ke tempatnya menginap. Berpamitan dan Naruto serta Sasuke dan Sakura tampak berjalan kembali menjauhi penginapan, "apa yang bisa kita lakukan sekarang? Itachi-sensei belum selesai bertemu dengan Yondaime-sama."

"Ada sesuatu yang aneh dengannya," Naruto tampak menundukkan kepalanya dan melihat kearah lantai. Memang tidak baik mencurigai klien apalagi mengancam mereka seperti itu—tetapi ia juga tidak boleh membiarkan seseorangpun menghancurkan desa apapun itu, "sesuatu yang disembunyikan olehnya…"

"Eh? Kenapa kau berkata seperti itu Naruto?" Sakura bertanya sementara Sasuke tampak menatap kearah Naruto. Ia tahu ada yang lain dengan pemuda itu. Dunianya berbeda dengan dunia anak itu dan juga Sakura—bahkan Itachi kakaknya juga mengakui kalau ia adalah anak yang kuat. Pengetahuannya luas dan mengendalian chakranya cukup baik—seolah tidak ada sama sekali celah padanya.

'Ia berada dalam tingkatan yang berbeda denganmu Sasuke—'

'Aku berbeda dengannya? Yang benar saja, aku tidak mau kalah dari siapapun bahkan sahabatku sendiri—' Sasuke tampak kesal namun tidak mau mengatakan apapun, "aku akan mencoba untuk mengawasinya. Kalian berdua istirahat saja…"

"Eh? Tetapi apakah tidak apa-apa, kalau sampai ternyata benar ada yang aneh dengan orang itu akan sangat berbahaya—sebaiknya kita pergi saja bersama, lagipula ada Naru—"

"Aku bisa melakukannya sendiri!" selalu saja mengandalkan Naruto, itu membuatnya terlihat lemah. Apa perbedaan Naruto dengannya, bahkan ia lebih tua darinya walaupun hanya beberapa bulan. Sakura yang mendengarnya tampak terkejut dan sedikit tersentak, "maaf—tenang saja, aku akan kembali…"

"Aku percaya padamu," Naruto tampak mengangguk dan menatap Sasuke yang tampak sedikit terkejut sebelum mengangguk dan tersenyum. Naruto tidak main-main, ia tahu kalau Sasuke adalah anak yang kuat, dan benar-benar bekerja keras untuk menjadi lebih kuat, "kau bisa membawa ini Sasuke…"

Naruto memberikan kunai cabang tiga milik ayahnya pada Sasuke yang membulatkan matanya. Bagaimana ia tidak mengetahui kalau itu adalah kunai milik Yondaime Hokage. Baru saja akan menanyakannya saat Naruto hanya tersenyum datar.

"Hanya untuk berjaga, tou-san akan menemukanmu kalau kau dalam bahaya…"

"Baiklah," Sasuke hanya mengangguk dan segera berbalik menuju ke penginapan saat itu. Naruto sendiri hanya menatap Sasuke hingga hilang dari hadapan mereka. Sakura tampak cemas dengan Sasuke namun hanya bisa percaya padanya.

"Apakah benar-benar tidak apa-apa?"

"Ia bisa melakukannya—kau hanya perlu percaya padanya Sakura-san…"

-oOo-

Sasuke tampak berjalan sendirian dan menuju ke penginapan. Ia benar-benar akan membuktikan kalau ia tidak akan kalah dengan Naruto dan tidak butuh bantuan siapapun. Dan dengan segera, ia berlari sebelum berhenti karena sebuah pergerakan asing diatas atap penginapan itu.

"Dia—" sosok yang ia kenal dengan Yuki, yang tampak menggunakan pakaian Hunter Ninnya dan sedang berlari kearah hutan yang ada di dekat penginapan itu. Mengerutkan alisnya, tampak mengikuti sosok itu dari belakang. Gerakannya cukup mencurigakan dan membuat Sasuke merasa tidak boleh sampai kehilangan jejak.

Hingga akhirnya tiba di salah satu sisi hutan, menemukan ia yang tampak berdiri disebuah ruang kosong yang ada di hutan itu seolah menunggu seseorang. Tetapi siapa—tidak ada yang dilaporkan oleh sang Hokage ataupun yang lainnya tentang hal ini.

"Aku sudah datang…" suara itu membuat Sasuke mengerutkan dahinya. Apakah ia berbicara dengan seseorang? Tetapi siapa—siapa yang sedang ia bicarakan.

"Tidak menyangka kalau kau membutuhkan waktu selama ini untuk menjalankan misi ini—" seseorang tampak muncul dari balik salah satu pohon. Seseorang dengan perban yang melilit setengah wajahnya dan membawa sebuah pedang besar di punggungnya, "—Haku…"

"Maaf, saya tidak menyangka kalau mengecoh mereka membutuhkan waktu yang tidak sebentar, Zabuza-sama…"

-oOo-

"Zabuza Momochi?"

Itachi tampak mengerutkan dahinya saat mendengar itu. Tentu saja, ia pernah mendengar nama itu namun kenapa dengan nama itu, ia tidak mengerti hubungannya dengan misi yang sedang kami hadapi. Minato hanya mengangguk dan menatapnya serius.

"Itu adalah target dari Hunter Nin yang kalian kawal, dan mereka akan melakukan apapun untuk memburu mereka. Namun—" Minato tampak sedikit ragu untuk mengatakan selanjutnya. Itachi tampak semakin bingung, namun Minato menyerahkan sebuah foto padanya. Sosok mayat Hunter nin yang tergeletak begitu saja, "Kakashi menemukan mayat itu 2 hari yang lalu. Dan diduga mayat itu sudah terbunuh 1 minggu yang lalu…"

"Tunggu—anda tidak berfikir kalau—"

"Kakashi pernah mengalahkannya sekali—dan yang kutakutkan adalah, hunter nin yang seharusnya berada di Konoha sudah dibunuh sebelum sampai di Konoha…"

"Lalu, siapa Yuki itu?" Itachi tampak menatap dengan dahi berkerut saat Minato memikirkan sesuatu. Sesuatu yang menurutnya tidak baik dan benar-benar buruk.

"Mungkin saja, ia adalah bawahan dari Zabuza…"

-oOo-

"Aku tidak memiliki dendam pada Konoha selain pada Hatake Kakashi," Zabuza tampak menyenderkan badannya di salah satu pohon dan tampak berfikir, "tetapi, pekerjaan adalah pekerjaan—mencari Jinchuuriki Kyuubi begitu juga untuk memancing Yondaime Hokage…"

Sasuke yang mendengar itu tampak sedikit terkejut. Ia tidak tahu siapa dan apa itu Jinchuuriki, tetapi memancing Yondaime Hokage—itu artinya orang ini akan menghancurkan Konoha. Dan Yuki atau siapapun itu namanya adalah tangan kanan dari orang itu.

"Termasuk juga para Shinobi muda seperti kalian," suara itu berasal dari belakang tubuh Sasuke, membuat yang bersangkutan tampak terkejut dan segera menoleh untuk menemukan sosok Zabuza yang tampak menatapnya dengan tatapan tajam.

'Sial—' dan satu hal yang terakhir kali ia ingat hanyalah tekanan air yang sangat besar sebelum kegelapan menyelimutinya.

-oOo-

"Membosankan," Minato yang baru saja selesai berbicara dengan Itachi tampak kembali berkutat dengan pekerjaannya. Ia benar-benar sangat lelah dengan semua pekerjaan ini dan hanya ingin menghabiskan waktu dengan Naruto saja.

"Aku tidak mengerti apa yang sebenarnya ingin dilakukan oleh sensei…"

Ya, beberapa hari yang lalu Jiraiya meminta izin untuk membawa Naruto pergi dari desa untuk beberapa hari. Ia tidak keberatan, Jiraiya sudah seperti ayahnya sendiri, dan itu cukup untuk membuatnya mempercayakan Naruto padanya.

"Kuharap bukan hal-hal yang buruk…"

-Beberapa hari yang lalu-

"Mengajak Naruto pergi?"

Minato tampak menatap kearah Jiraiya yang mendatanginya. Ia tidak keberatan dengan Jiraiya yang ingin dekat dengan Naruto, tetapi kenapa tiba-tiba?

"Aku ingin melakukan sesuatu dengannya—sekaligus membantumu menjadikannya lebih beremosi," Jiraiya tampak tersenyum lebar dan meletakkan dua tangannya di saku celana, "mungkin hanya 2 sampai 3 hari saja…"

"Baiklah, tetapi tidak mengajarinya hal-hal yang berbau mesum sensei—" menatap tajam kearah Jiraiya yang tampak tertawa gugup. Yah, sebenarnya salah satu cara yang difikirkannya adalah mengajarinya hal yang seperti itu—tetapi sepertinya itu hanya akan menggali lubang kuburnya sendiri.

"Tenang saja, aku akan menjamin tidak ada hal-hal yang mesum!"

-oOo-

"Tou-san menyuruhku untuk membawa perbekalan saat pergi ke kantornya," Naruto tampak berada di salah satu sisi desa Konoha bersama dengan Jiraiya yang menghentikan aktifitasnya (mengintip di kamar mandi perempuan), "baru saja akan pergi ke tempat pertemuan—tetapi aku melihat jii-san, jadi—"

"Aku hanya melakukan observasi untuk bukuku! Jangan katakana pada ayahmu tentang ini oke?" Naruto hanya menatap bingung sebelum mengangguk walaupun masih tidak mengerti kenapa ia harus merahasiakannya dari ayahnya.

"Jadi, apa yang akan kita lakukan?"

"Melakukan sedikit perjalanan sambil aku mengajarkan sesuatu yang menarik kalau sampai kau bisa menguasainya," Jiraiya tampak menggantungkan omongannya sambil tersenyum lebar pada Naruto yang hanya memiringkan kepalanya saja—semakin bingung.

"Mengajarkan sesuatu?"

"Jurus ciptaan ayahmu—"

.

.

.

"—Rasengan."

To be Continue

Hah, maaf ya para reader—bukannya saya ga mau publish, tapi waktu dan ide yang menghalangi u_u; pengen publish 1 minggu sekali lagi writer block menghalangi jadilah malah lama kaya gini. Sekali lagi maaf ya :'D Waktu yang saya punya juga ga gitu banyak paling Cuma malem-malem begini ^^;

Siapa yang bilang ini bakal full galau XD galaunya Cuma diawal-awal kok, akhir-akhirnya tentang… Haku dan Zabuza XD tapi tanpa misi tingkat B mereka, saya ubah total misi tingkat Anya menjadi seperti itu.

Sasuke diculik karena terlalu cemburu pada Naruto yang lebih hebat darinya. Hasil-hasilnya dia malah diculik gitu aja sama Zabuza karena ga punya rencana. Ckckck… dan Naruto malah disaat seperti itu pergi diajak Jiraiya? O_o tapi buat belajar satu jutsu utama punya Minato. Of Course Rasengan :D!

Pokoknya besok antara full Itachi, Kakashi, dan Sakura action ditambah sedikit action dari Naruto ^^

Dan tentang suara-suara dan juga sensasi sakit yang dirasain sama Naru setiap dia ngerasa seneng atau sedih itu sekedar info adalah sesuatu yang dibilangin sama Danzou-teme D: untuk penjelasan apa itu, nanti di chapter selanjut-selanjutnya bakal diberitahu ^^

Ngomong-ngomong, ada yang sudah baca ffic request-an saya sama CrimsonRedHair? XD tapi saya yang betain gara-gara dia ga bisa nulis yang bener #heh. Judulnya The Twisted Time, tentang Timetravel dengan tokoh dari Road to Ninja juga ^^ cukup menarik saat saya baca, mungkin kalian bisa coba baca XD #bantu promosi#

BTW Review anda semua benar-benar membuat saya semangat untuk segera menulis chapter selanjutnya XD terutama review yang panjang2 xp

Dan maaf, saya ga bisa update tiap 1 minggu sekali dikarenakan terbatasnya otak saya untuk memberikan ide X_X tapi ga sampe 1 bulan sekali kok, mungkin 2 atau 3 minggu sekali gitu…

.

Q&A

.

Guest (Gomenasai (_ _) saya beneran ga ada waktu dan ide buat update secepat itu…)

Uzumakishadow (pertanyaan anda terjawab di chapter ini~)

Guest (maaf u_u saya sedikit bingung untuk menggabungkan sesuatu…)

SakuRinz (yah paling lama mungkin 3 minggu sekali :) tapi ini baru 2 minggu ^^; #plak)

Guest (maaf ^^; ini sudah update :) )

Guest (maaf mendapatkan ide 1 minggu itu sepertinya tidak bisa dilakukan terus menerus u_u;)

Guest (sudah ^^;)

Hancheck (ide saya… #orz #plak)

Doi + 37 guest (maaf kalau lama, saya juga ga bisa update cepet2 habis ini kayaknya ;_; derita mahasiswi…)

Kou Uzumaki (nah tenang aja, yang disini ga Yaoi kok ^^ Cuma Harem!Naru (just straight) )

Guest (maaf u_u)

Kos (maaf juga lama TT)

Guest (sudah dilanjut, maaf lama ^^;)

Adi Uzumaki (makasih :D maaf lama D:)

3 Guest (maaf lama u_u)

Joy (MOtOSnya ditunggu aja ya :) lagi beneran stuck itu)

Jumawanbluez1 (iya, pasti lanjut kok, Cuma ga janji update kilat ^^;)

8 Guest (maaf lama, silahkan dibaca ^^;)

Anaatha Namikaze (Ga terlalu sih XD #plak, thanks for Jiraiya-jii-san XP)

Guest (tentu tapi bukan sekarang, sekarang Jiraiya baru ngajarin Rasengan dulu ^^)

Ninami Kirei (raut wajah kosong tetapi serius itu kaya… deathglare gitu deh eh bener ga ya o.o kira-kira seperti itulah #plak)

Guest (oke ^^)

Armelle 'AquaMar' Eira (ada, tapi nanti :-? Sekarang Naruto baru mulai latihan sama Jiraiya ^^)

Guest (maaf lama ^^)

Vani (oke :D)

Aika Licht Youichi (hm, pertanyaannya sudah dijawab di PM kan? ^^)

Manchester utd (Zabuza ada dong :D tapi dengan versi yang sangat berbeda~)

Manguni (sip, saya juga rencananya gitu kok ^^)

Haruna Kei (Oke ^^ makasih sudah review :D)

Guest (makasih, maaf ga bisa update kilat ^^;)

Widi orihara (sip, maaf lama :D)

Nakato-san (makasih, Kyuubi sih disanain saja XD #plak #dibakar)

Gaamble boy (waah maaf kalau saya bikin bingung u_u Tsunade vs Akatsuki? Di Amegakure :D)

LadySaphireBlue (Waaa maaf ya X| masa juga ga di TBC, ntar bisa sampe 10ribu kata per chapter XD yang ini juga bikin penasaran? XD #heh waaa :O makasih-makasih saya jadi terharu X'|

Dan selamat, review anda bikin saya ga jadi write block, bahkan saya ga kepikiran buat nyamain tujuan Minato yang sebenernya sama jadi senjataitu ternyata sama 8'D #sayagagal maaf saya ga bisa update kilat dan terima kasih untuk review anda yang berharga #beneran (_ _) )

Shichi kage (makasih, saya jadi malu ^\\_\\^)

Earl Louisia vi Duivel (Iya, saya salah tulis jadi Uchiha Mito #plak harusnya Uzumaki Mito #editdong! Karena Tsunade ga begitu dekat sama trio Amegakure jadinya dia ga begitu perhatian XD ga :'| cukup penderitaan Minato, jangan sampe Naruto bener-bener jadi dark…)

Abi . putraramadhan (tentu~)

Koga-san (ah yang itu sudah diupdate kan kemarin XD makasih sudah dibaca~)

Narusaku (oke :D maaf lama ,_,)

Guest (sip sudah~)

Earl grey (gpp kok :D makasih sudah sempetin buat review ^^ yep, dia baik-baik aja kok :) apakah pertanyaan tentang Kyuubi sudah terjawab disini? Sedikit terganggu but thanks for Jiraiya ^^)

Fressia Athena (makasih ^^ maaf agak lama update u.u)

Newbie Kepo (MOtOS sedang stuck, maaf yang itu distop dulu u_u)

Guest (Hahahaha! Sudah saya duga bakal ada yang review begini XD gpp deh XP makasih sudah review ya :D)

Bewinkk (Belum~ dan untuk Nami no Kuni sepertinya tidak :/ daripada stuck lagi… #plak Rasengannya baru aja mau diajarin sama Jiraiya :D)

AN Narra (yah Karena ada campur tangan Danzou-teme tentu X| yang pasti panjang :D ga tau sampe chapter berapa :| dan berguru dengan Jiraiya? Itu sudah XD #plak)

AzuraCantyle (Alurnya agak lambat ya o_o apa sudah sampai di Zabuza Haku + pelajaran Rasengan di chapter ini membuat alur cukup lebih cepat?)

[Waah saya seneng banyak yang review tapi ternyata capek juga nulis balasan sebanyak ini XD BTW makasih buat yang sudah review ataupun yang fave atau follow ^^ saya akan berusaha sebaik mungkin!]

.

Next Chapter

"Yondaime-sama, Sasuke menghilang!"

.

"Kita harus segera menyelamatkannya—Kakashi aku ingin kau membantu kelompok Itachi menggantikan Naruto!"

.

"Tetapi dimana posisi mereka sekarang?"

.

"Naruto sempat memberikan kunai milik anda Yondaime-sama!"

.

"Apakah kau fikir sebegitu mudahnya mereka akan menemukanmu?"

.

"Kirigakure—tunggulah aku ototou…"

.

"Baiklah Gaki, sepertinya kita harus beristirahat dulu dikota terdekat…"

.

"Kirigakure… posisi terdekat yang bisa kita capai sekarang…"