Halo, minna :D
Kagoya kembali dengan chapter 14 !
Enjoy !
P.S : Ini adalah chapter terakhir !
Haruno Sakura
Summary : Another Story About Sakura's Life History ...
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Part 9. The End
"Aku tahu kalian masih sangat lelah, tapi kita tidak bisa membuang waktu." Tsunade berujar dengan tegas. "Kita harus menyelamatkan Naruto secepatnya, sebelum semuanya terlambat."
Tsunade menatap sepuluh orang ninja yang berada di depannya dalam diam. Mereka bersepuluh masih terlilit perban akibat pertarungan mendadak pada malam dua hari yang lalu, namun mereka sudah cukup kuat untuk bertarung lagi.
Mata Tsunade memandang satu persatu kesepuluh ninja muda yang berpotensi di depannya.
Yamanaka Ino.
Nara Shikamaru.
Akimichi Chouji.
Hyuuga Hinata.
Inuzuka Kiba.
Aburame Shino.
Tenten.
Rock Lee.
Hyuuga Neji.
Dan mata Tsunade jatuh ke wajah pemuda terakhir.
Uchiha Sasuke.
Tepat saat itu, Shizune membuka pintu ruang kerja Tsunade.
"Tsunade-sama, Temari-san dan Kankuro-san dari Sunagakure sudah datang."
Tsunade mengangguk singkat. "Suruh mereka masuk."
Temari dan Kankuro menginjakkan kaki mereka dan memberi salam sopan. Tsunade mengangguk sekali lagi lalu beralih ke kesepuluh ninja muda lainnya.
"Aku tahu kalian sudah saling mengenal satu sama lain. Alasanku meminta bantuan mereka adalah karena Gaara sudah ditangkap oleh Akatsuki." ujar Tsunade.
"Dengan ditangkapnya adikku, berarti Naruto adalah satu-satunya jinchuriki yang masih hidup." Temari menyahut. "Kita harus segera menyerbu markas Akatsuki dan menyelamatkannya sebelum semuanya terlambat."
"Apakah kita sudah mengetahui keberadaan markas mereka?" tanya Tenten.
Temari mengangguk. "Dan aku yakin mereka akan menyambut kita dengan meriah saat kita sampai disana." lanjut Temari sambil mendengus.
"Tsunade-sama, ada sesuatu yang membuatku penasaran." sahut Shikamaru. "Kenapa Sakura mencuri Permata Abadi dan menculik Naruto pada hari yang sama namun pada waktu yang berbeda? Dan sesungguhnya, apa yang akan dia lakukan dengan Permata Abadi?"
Keheningan menyelimuti ruangan Tsunade. Tsunade menarik napas dalam-dalam.
"Aku sudah memikirkan pertanyaan itu sejak dua hari lalu," Tsunade memulai. "dan aku yakin aku sudah berhasil mengetahui jawabannya."
"Tentu kalian sudah tahu bahwa Permata Abadi berisi chakra para Hokage Konoha sebelum diriku, dan permata itu akan menjadi sangat berbahaya apabila disalahgunakan. Dan itu berarti, apabila Sakura berhasil mencurinya, akan membutuhkan waktu dan latihan supaya ia dapat menggunakannya tanpa efek berbahaya. Aku yakin itu alasannya mengapa dia mencuri Permata Abadi dan menculik Naruto pada saat yang berbeda. Apabila ia melakukan kedua hal itu pada saat bersamaan, tidak akan membutuhkan dua hari bagi kalian semua untuk menyerbu markas mereka, sedangkan Sakura memerlukan waktu untuk mengendalikan permata itu."
"Kita menerima serangan dadakan saat Sakura mencuri Permata Abadi itu, dan disaat kita semua belum pulih benar, Sakura melancarkan serangan dadakan berikutnya untuk menculik Naruto. Hasilnya? Kita memerlukan waktu dua hari sebelum kita mengirimkan tim untuk menyelamatkan Naruto. Aku yakin, dengan besarnya chakra Sakura sekarang, dua hari adalah waktu yang cukup bagi Sakura untuk mengendalikan Permata Abadi."
Keheningan kembali menyelimuti ruangan kerja Tsunade. Siapa sangka ternyata Sakura begitu lihai?
"Lalu, kegunaan Permata Abadi ketika Sakura berhasil mencuri dan mengendalikannya. Aku percaya, ia akan menggunakan kekuatan permata itu untuk membantunya menarik Kyubi keluar dari Naruto. Seperti yang kalian tahu, kekuatan monster berekor akan bertambah kuat seiring banyaknya ekor yang mereka miliki. Sakura adalah jinchuriki Jyuubi, sang monster berekor sepuluh. Namun aku yakin, chakra Jyuubi digabung chakra Akatsuki tidak akan cukup untuk menarik Kyubi keluar tanpa melukai Sakura dan Akatsuki. Kalian tahu benar Kyubi adalah bijuu yang paling liar, dan paling sulit dijinakkan."
"Jadi dia menggunakan permata itu untuk menambah kekuatannya." Shikamaru menyimpulkan. "Semakin besar chakra yang ia punya, semakin mudah menarik Kyubi keluar sekaligus menjinakkannya dan tanpa melukai Sakura dan Akatsuki terlalu jauh."
Tsunade mengangguk. "Dan ketika seluruh anggota Akatsuki bertarung melawan kalian, semakin besar alasan Sakura menggunakan kekuatan Permata Abadi untuk menarik Kyubi keluar. Chakra Permata Abadi akan dengan mudah menggantikan chakra para anggota Akatsuki lainnya."
"Ketika kami sampai disana, bolehkah kami membunuh Sakura?" tanya Ino.
"Tidak!" Sasuke spontan melarang. "Ino!"
"Dia adalah ancaman, Sasuke!" Ino membantah.
Sasuke menatap Ino dengan tajam, secara tidak sadar mengaktifkan sharingannya. "Kau tidak akan membunuhnya, Ino. Tidak ada yang boleh membunuhnya."
"Sasuke! Sampai kapan kau akan terus membelanya?" tanya Ino marah. "Dengan segala perhatian dan perlindungan yang kau berikan, pernahkah Sakura membalasnya? Dia bahkan tidak menghargainya!"
"Aku tidak peduli." Sasuke menyahut dengan dingin. "Aku mencintainya, Ino, dan aku akan melakukan apapun yang aku bisa untuk melindunginya."
"Sasuke, sadarlah!" seru Ino kesal. "Kau lihat apa yang ia lakukan terhadap Konoha? Terhadap Gaara? Terhadap semua jinchuriki di luar sana? Apa yang akan ia lakukan terhadap Naruto? Buka matamu!"
"Aku tetap tidak akan membiarkan siapapun membunuhnya." sahut Sasuke.
"Sasuke!"
"DIAM!" seru Tsunade. Ino segera menutup mulutnya, namun membuang mukanya dengan kesal. Tsunade menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan dirinya.
"Ini perintahku." Tsunade menatap kedua belas ninja muda yang ada di ruangannya. "Satu. Selamatkan Naruto sebelum terlambat. Dua. Hentikan Akatsuki apapun yang terjadi, aku tidak peduli apabila kalian membunuh mereka. Tiga. Aku mau kalian TIDAK membunuh Sakura. Sebagai pemimpin Akatsuki, aku ingin kalian menangkapnya dan membawanya kembali ke sini hidup-hidup. Mengerti?"
"Tsunade-sama!" Ino hendak memprotes.
"Mengerti?" Tsunade mengulang dengan nada yang lebih keras.
Ino mengigit bibir bawahnya dengan kesal namun mengangguk. Tsunade tersenyum puas. "Sekarang pergi dan kerjakan misi kalian!"
Napas Sasuke tercekat. Ia melihatnya. Ia bisa melihatnya. Sakura.
Dengan menggunakan jalan pintas dan kecepatan yang luar biasa, Sasuke dan teman-temannya berhasil mencapai markas Akatsuki sebelum matahari pagi bersinar untuk menandakan pagi baru yang hendak dimulai.
Ketika Sasuke dan teman-temannya akhirnya menginjakkan kaki mereka di markas Akatsuki, mereka disambut oleh Sakura dan para anggota Akatsuki lainnya. Mereka saling berhadapan, tanpa mengucapkan sepatah kata apapun.
Ketika sehelai daun jatuh dan menyentuh tanah dengan lembut, secara serempak para ninja Konoha dan para ninja Akatsuki saling menerjang maju.
Akan tetapi, Sakura dan Itachi membalikkan badan mereka dan berlari pergi, meninggalkan para anggota Akatsuki lainnya menangani para ninja Konoha.
Sasuke tidak membuang waktu. Ia percaya teman-temannya tidak akan kalah, dan dengan gesit mengejar Sakura dan Itachi.
Sasuke terus mengejar mereka hingga akhirnya Sasuke melihat Sakura memasuki sebuah tempat gelap. Itachi berhenti berlari dan membalikkan tubuhnya, siap bertarung melawan Sasuke. Sasuke mendecih dan menarik sebuah kunai, menerjang maju untuk menyerang Itachi yang ia tangkis dengan kunainya.
Ini kali pertama Sasuke bertarung melawan kakaknya semenjak hari pertama Itachi kabur meninggalkan Konoha untuk bergabung dengan Akatsuki.
Sharingan melawan Sharingan.
Uchiha melawan Uchiha.
"Sudah lama kita tidak bertemu, adikku." Itachi menyapa.
Sasuke menggertakkan giginya. "Jangan panggil aku adikmu." geramnya. "Aku tidak sudi menjadi adikmu."
Itachi tidak berkata apa-apa lagi.
Sesaat kemudian, bunyi kunai beradu terdengar dengan keras.
"Naruto."
Naruto menoleh dan menatap Sakura yang berdiri di sampingnya. Ia sedang berbaring di sebuah meja batu.
"Mereka sudah tiba?" tanya Naruto yang dibalas anggukkan oleh Sakura.
Naruto mengangguk balik. "Ayo kita mulai."
Sakura mengangguk lalu menghela napas. "Maafkan aku menyeretmu dalam situasi ini."
"Tidak apa." cengir Naruto. Ya, ketika Naruto sudah tersadar, Sakura menceritakan segala kebenaran termasuk rencananya kepada Naruto. Membutuhkan waktu lima menit bagi Naruto untuk berpikir dan akhirnya menyetujui untuk membantu Sakura.
Sakura tersenyum dan menarik napas panjang. Ia lalu mengaktifkan mangekyo rinnegannya—mata yang diwariskan Kyoga untuknya—dan satu jam kemudian, ledakan besar terjadi.
Empat tahun kemudian..
"Sakura?"
Sakura membuka matanya perlahan dan ia dihadiahi oleh kecupan kecil di keningnya. Sakura tersenyum dan segera mengenali siapa yang baru saja menciumnya.
Uchiha Sasuke.
Tunangannya.
"Pagi." bisik Sasuke.
"Selamat pagi." Sakura menyapa kembali.
Sasuke melingkarkan tangannya di pinggang Sakura dan memeluknya erat. Empat tahun sudah berlalu semenjak hari itu dan kini Sakura berada di tangan Sasuke, bersamanya.
Jujur saja, Sasuke enggan mengingat rinci kejadian empat tahun lalu. Bagaimana Itachi memberitahu semuanya kepadanya ketika mereka beradu, bagaimana takutnya Sasuke melihat tubuh Sakura yang lunglai dan kaku di atas tanah, bagaimana Itachi tersenyum kepadanya ketika mereka kembali ke Konoha—meninggalkan para anggota Akatsuki yang sebagian besar kalah dalam pertarungan—dan bagaimana Tsunade berusaha menyembuhkan Sakura.
Dan bagaimana bahagianya Sasuke ketika Sakura terbangun dengan perlahan dan menatapnya.
Dan akhirnya, mereka berdua ada di sini. Di rumah Sasuke, dengan pernikahan mereka hanya tinggal menghitung hari. Sasuke sangat bahagia—meskipun Itachi sering menggoda Sakura dan membuatnya ingin membunuh kakaknya—dan setiap kali ia melihat Sakura ketika ia tidur, Sasuke tidak dapat menghentikan ingatannya untuk kembali ke empat tahun lalu.
Sepertinya, Sakura bisa membaca pikirannya.
"Kau masih teringat mengenai empat tahun lalu?" tanya Sakura pelan.
Sasuke terdiam sebentar.
Sasuke lalu menggeleng dan memperat pelukannya. "Selama kau ada disini bersamaku."
Selesai !
Akhirnya, fic ini selesai !
Yeay !
Kagoya mau berterima kasih kepada para readers fic ini yang setia, terima kasih banyak sudah mau membaca fic ini !
Kagoya juga mau berterima kasih kepada para readers yang sudah memberikan reviews terhadap fic ini !
Arigato, minna :D
