Unconditionally Plus (sequel)

.

Chapter 2

.

Shingeki no Kyojin milik Isayama Hajime-san

Saya hanya pinjam beberapa chara kece yang ia buat untuk menyenangkan imajinasi saya.

Yoooo~ author balik lagi nih! Belum banyak yang review nih Q_Q.. apa kalian masih pundung karena author udah ngilang lama waktu di unconditionally? Aaah gomenneeee

Readers, kembalilaaaah~ author bikin ini buat kalian loh

Yang udah review di cahpter 1, makasih banyak ya nak TwT.. author seneng banget, sumvah..

Author masih ngarep review kalian, readers tercintah

Para silent readers, author juga hargain kalian kok.. tapi bagaimana caranya author tau kalian pernah mampir Q_Q author bingung... hks

Maapin author gak sempet ngedit ulang chapter kemaren.. jadi banyak typo deh T-T maap ya...

Yuk ah mulai dulu aja

Di chapter depan author akan sempetin buat jawab review yang udah masuk di awal paragraf. Jadi yuk? Review yuk? Ehehehe

Warning : sedikit OOC, author pake OC dari fanpict yang author temuin di blog (yaitu Kiddo) kalo ada yang belum liat, bisa dicari di tumpukan foto grup fb rivetra indonesia. Cari foto yang warnanya dominan kuning caramel.

flat kaya muka kecengan author, konflik aneh dan mungkin mainstream, author juga re-write adegan yang ada di fict author yg dulu (judulnya rainbow days) walaupun agak beda dikit, ini fict rate T yang kadang menjurus ke M, tp author gak akan jelasin lebih panjang kalo ada adegan yg begituan.. silahkan readers sendiri yg bayangin hehe

Ok please enjoy,

RnR

.

.

.

Rivaille hanya terpaku. Melihat bagaimana calon pengantinnya tampak sangat menawan dalam balutan gaun putih yang dicobanya. Rivaille tidak akan menyesal seumur hidup karena memilih gadis ini. Manik caramel yang menatapnya tampak malu-malu menanyakan pendapat. Dan hey ayolah, memakai apapun Petra selalu tampak cantik. Tidak perlu meminta pendapatnya kan.

"Kau kan yang memakainya. Jadi tentukan sendiri. Tapi pastikan kalau pakaian itu akan dipakai untuk yang pertama dan terakhir."

Petra menunjukkan senyum canggungnya. Pria itu tampak sangat bertele-tele. Tapi apapun yang dikatakannya, Petra selalu menikmati bagaimana suara bariton dengan nada sarkastis itu berbicara padanya. Yap, Petra sudah sangat tahu kalau Rivaille tidak pernah bisa berbicara tanpa nada mengejeknya itu. Bahkan pada klien dan ibunya. Tak apa lah, itu sudah jadi rahasia umum ini..

Gadis dengan gaun pengantin indah itu kembali menuju ruang ganti, diikuti oleh wanita staf butik yang membantunya tadi.

Rivaille kembali menjatuhkan pandangan pada Kiddo yang duduk disampingnya. Yang ditatap menoleh. Lihat, jika mereka berada dalam posisi itu mereka memang seperti ayah dan anak. Wajah datar yang tidak ramah, tatapan membunuh, perkataan sarkastis, dan harus diakui bahwa Rivaille mulai merasa bahwa reinkarnasi itu memang ada. Ada sebuah perasaan tertahan saat memerhatikan lebih detail wajah anak itu. Seperti melihat dirinya di masa kecil.

"Hey bocah."

"Apa?"

Rivaille menghembuskan napas. Ah anak ini memang sangat mirip dengannya. Semuanya. Rivaille akui itu.

"Apa kau punya rencana untuk kembali ke jamanmu?"

Kiddo menggelengkan kepalanya. Tampak manis.

"Kenapa?"

"Aku ingin tinggal bersama orang tuaku."

Rivaille menyipitkan matanya. Lagi-lagi bocah ini mengatakan tentang orang tua.

"Aku masih tidak percaya kalau kau datang dari masa lalu. Setelah ini pulanglah ke rumahmu."

"Aku sudah janji pada kakek Kenny akan kembali sebulan lagi. Aku tidak bisa kembali sebelum waktu itu tiba."

"Terserah. Aku tidak akan membawamu pulang."

Kiddo masing memasang wajah datarnya. Dengan begitu Rivaille tidak akan bisa membaca perasaan apa yang terlukis disana. Pandai sekali.

Tak lama Petra kembali, dengan pakaian yang ia gunakan saat datang kemari. Dengan tersenyum ia memberi arahan bahwa ia sudah selesai memilih gaun. Saatnya untuk pulang.

"Ayah-"

Rivaille bangkit berdiri. Berjalan lebih dulu sambil menggenggam tangan Petra. Tidak menghiraukan sebuah suara kecil memanggilnya beberapa detik lalu. Ia terus melangkah. Menarik pintu mobil untuk Petra dan menutupnya kembali. Langsunglah ia menuju pintu yang berlawanan, masuk, dan menutupnya dengan keras. Tak memiliki niat sama sekali untuk mendengar protes Petra karena membiarkan Kiddo masih di luar. Rivaille menyalakan mobilnya, meninggalkan tempat dimana Kiddo masih berdiri mematung. Menatap kepergian mobil itu dalam diam.

Kiddo mengarahkan tangan kecilnya ke arah dada. Memandanginya dengan ekspresi yang tidak berubah.

"Kakek, kenapa.. rasanya sakit ya.." ia berguman.

Setitik air jatuh dari atas kepalanya. Sontak kepalanya menatap ke arah asal air itu. Awan putih yang menjadi latar tempat ini beberapa jam lalu ternyata sudah berubah warna. Kelam. Ini terlihat gelap. Tetesan yang lain menyusul dengan cepat. Membasahi setiap inci daratan yang tak terhalangi apapun.

"Nee kakek.. apa seperti ini.. langit yang menemani ayah di hari itu.."

.

Rivaille berhasil menghindari semua bentuk protes dan pertanyaan Petra tentang alasan kenapa membiarkan Kiddo tetap disana. Tidak seperti biasanya, Rivaille langsung menancap gas kembali setelah Petra turun dari mobilnya. Tentu saja alasannya adalah untuk menghindari ocehan gadis itu. Tapi tentu saja diam-diam Rivaille memastikan bahwa Petra masuk ke dalam kediamannya, tidak berbuat nekad untuk memanggil taksi dan kembali ke butik. Lagipula saat ini hujan, tentu saja Petra harus berteduh, di dalam rumahnya.

Rivaille sendiri tampak memikirkan banyak hal. Alisnya berkerut karenanya. Tangan kirinya ia gunakan untuk mengetuk-ngetuk kemudi sembari terus melaju. Dia tidak peduli dengan bocah aneh itu, tentu saja. Tapi kenapa ia terus merasa gelisah seperti ini..

Tidak boleh cepat percaya pada orang lain yang baru dikenal, itu didikan ayahnya dari dulu. Dan Rivaille yakin nasihat itu mencakup banyak arti, termasuk bocah pemimpi yang mengaku anaknya. Ya, Rivaille meyakinkan diri bahwa apa yang ia lakukan adalah benar. Ia yakin bahwa besok, bocah itu tidak akan menemuinya lagi dan mengatakan semua hal omong kosong tentang orang tuanya lah, reinkarnasi lah, mesin waktu lah, atau apapun itu. Ia yakin, bocah itu akan sadar dalam beberapa menit kemudin bahwa dirinya sedang tidur berjalan dan melakukan hal gila. Iya yakin itu. Yakin namun masih memikirkan hal yang sama.

"Sudahlah.." gumannya menenangkan diri sendiri.

Yakin atau tidak yakin, ia harus dilakukan hanyalah 'tidak mrmikirkan ini lagi'. Anggap bocah itu tidak pernah datang dan mengganggu harinya. Sederhana.

.

.

Rivaille baru saja selesai mandi. Handuk kecil masih bertengger dipundak tegapnya, meski kaos putih dan celana hitam panjang sudah melekat ditubuhnya. Rambut yang basah terus meneteskan air pada handuk dipundaknya itu. Jika biasanya ia selalu cepat menghentikan tetesan air di rambutnya, kali ini tidak. Entah kenapa perhatiannya tertuju pada hujan di luar sana. Hujannya lebih lebat dari sebelumnya. Rivaille yang menyadari itu berjalan menghampiri jendela besar yang menarah ke halaman depan rumahnya. Terlihat aliran air memenuhi halaman. Rerumputan basah sudah berbaur dengan daun-daun dari pohon maple samping rumahnya. Tidak, Rivaille tidak merasa terganggu dengan dedaunan yang berantakan di halamannya, ia malah terus menatap bagaimana langit terus menumpahkan banyak air sampai menambah air yang mengalir itu terus menerus. Kapan akan berhenti?

Hujan lebat itu sangat menghipnotisnya. Membuatnya merasa kedinginan tanpa sebab. Padahal perapian di ruangan itu masih menyala dan menghangatkan seisi ruangan. Ada sebuah kedinginan yang kasat mata.

Tangan Rivaille menyentuh permukaan dingin kaca yang memisahkan tempat ia berada dengan hujan. Kaca di luar sana basah. Sesekali air yang hinggap mengalir ke bawah. Dan menghilang dari pandangannya.

Tiba-tiba sebuah kilat membelah langit yang hampir gelap. Rivaille mengerjap.

"Bocah itu.."

Kakinya bergerak sendiri. Bergerak cepat. Ia menyimpan handuknya, langsung meraih mantel hitam yang tergantung ditempatnya. Kakinya terus berjalan. Menuruni tangga, mengambil sembarangan payung yang selalu disimpan di samping pintu. Ia meraih gagang pintu, membukanya dan menyaksikan sendiri derasnya hujan disana.

Tidak ada hambatan saat ia terus melaju menuju mobilnya.

Ada sebuah rasa sesak saat mengingat bagaimana mata bocah itu menatap kepergiannya sore tadi.

Hey bukankah Rivaille sudah tidak peduli? Lalu kenapa ia terus melaju dan seolah tubuhnya bergerak sendiri, menyadari kemana mobilnya melaju. Butik itu. Terakhir ia meninggalkannya disana.

.

.

Mobil yang ia parkirkan di samping jalan benar-benar tidak ia pedulikan. Jalanan sepi. Tak ada siapapun disana. Termasuk Kiddo. Walaupun sudah mengamati setiap sudut jalan dan belokan, Rivaille tetap tidak menemukan sosok siapapun.

Payung yang ia genggam tidak ia gunakan sama sekali. Ia hanya terus mencengkram payung yang belum dibuka itu sambil berlari sesuai firasat liarnya.

Jika dugaan kasarnya benar, jika ingatannya tentang masa kecilnya dulu benar, bahwa saat ia tidak mau pulang Rivaille akan bersembunyi di taman, maka Kiddo pasti ada disana. Sendirian.

Ada sebuah kepedulian yang nampak. Tubuhnya yang sukses basah, berhenti setelah menemukan taman yang paling dekat dengan kawasan butik.

Napasnya terengah. Membuat uap transparan berbaur dengan air hujan. Wajahnya yang tegang kembali merileks saat mendapati sosok yang ia cari berada dalam jangkauan pandangannya. Rivaille akhirnya melanjutkan langkahnya, mendekati bocah itu yang tengah duduk di salah satu ayunan.

Manik caramel yang tadinya menunduk menatapnya saat Rivaille tepat berada di hadapan si bocah. Mata itu terlihat polos. Kulit pucat, tangan bergetar mengenggam besi ayunan yang menjadi tempatnya duduk. Tubuhnya basah tentu saja, sama seperti Rivaille.

"Apa yang kau lakukan disini? Kenapa tidak pulang ke rumah?" Rivaille bertanya.

Kiddo memalingkan wajahnya. Sedikit merajuk. Ia tidak mau bicara pada orang dihadapannya saat ini. Merasa diacuhkan, Rivaille langsung membuka payung ditangannya, membiarkan payung itu melindungi kepala Kiddo.

"Jangan katakan kalau kau memang tidak memiliki tempat untuk pulang."

Kiddo semakin memalingkan wajahnya.

Hembusan napas Rivaille yang sempat memburu beberapa saat lalu kini sudah stabil. Wajah pucat didepannya sangat mengingatkan Rivaille pada masa kecilnya, saat ia marah pada sang ayah, Kaney.

Rivaille memutuskan menyejajarkan wajahnya dengan Kiddo, berjongkok didepannya.

"Hey, aku bicara padamu bocah."

Masih tak ada jawaban.

Diam-diam Rivaille memerhatikan bagaimana tangan Kiddo semakin menegang di pegangan ayunan saat Rivaille berbicara padanya. Menimbulkan suara decitan dari besi ayunan yang digenggamnya dengan kuat.

Rivaille menghembuskan napas, menyerah. Mungkin seharuhnya ia memang tidak meninggalkan bocah ini tadi.

"Aku minta maaf karena meninggalkanmu. Itulah kenapa aku datang kemari."

"Setelah itu apa?" Kiddo memotong perkataan Rivaille yang belum selesai seutuhnya. Matanya menyiratkan sebuah amarah.

"Menyuruhku kembali ke jamanku lagi? Meninggalkanku dan berpura-pura tidak melihatku? Meneriakiku kalau semua yang kukatakan adalah omong kosong?!" lanjutnya.

Hening. Meski tidak bisa dipungkiri lagi bahwa terlihat kumpulan air yang lain selain air hujan. Tepat berada di kedua manik caramel didepannya.

"Jika memang itu, kau tidak usah datang.. hks."

Bocah itu terisak. Kekuatannya untuk menahan semua emosi yang tertampung sejak tadi sudah melemah. Ia tidak peduli jika dirinya disebut cengeng. Apa keinginannya untuk bersama ayah dan ibunya selama sebulan saja tidak bisa ia dapatkan dengan mudah? Apa perjuangannya selama ini mengumpulkan keberanian dan bahan langka untuk membuat mesin waktu dengan kakeknya berujung sia-sia? Apa ia akan kembali tanpa hasil dan membawa pulang kekecewaan akan hal ini? Apa 2 hari yang ia lalui untuk mencari sosok reinkarnasi ayah dan ibunya di masa depan tidak ada artinya sama sekali? Apa semuanya, berakhir begitu saja setelah ini?

Rivaille mengamati setiap gerakan kecil yang Kiddo lakukan. Dalam sikap diamnya ini, Rivaille memikirkan banyak hal. Terutama bagaimana cara agar ia bisa menjelaskan alasan sebenarnya ia datang kemari, menjelaskan seberapa khawatir dirinya memikirkan ada bocah aneh yang memanggilnya ayah berada diantara hujan lebat ini. Tsundere? Sekitaran sana..

Akhirnya ia tidak lagi berpikir. Rivaille langsung meraih tangan Kiddo agar berdiri bersamanya, tentu saja kepalanya masih dilindungi oleh payung.

"Aku datang untuk membawamu pulang."

Kedua mata Kiddo membulat sempurna. Tangan dingin yang mengenggam tangan kirinya tampak besar. Mampu melindungi tangannya yang kecil. Kiddo menunduk. Tatapannya yang mengabur akibat tampungan air dimatanya, membuatnya tidak bisa melihat tanah dengan jelas.

"Hatch!"

"Sebenarnya untuk apa kau hujan-hujanan seperti ini? Kau jadi bersin kan."

Rivaille mengajak rambut Kiddo dengan tangan yang tadi ia gunakan untuk menggenggam tangan Kiddo yang lebih kecil darinya. Tak lama Rivaille berbalik, berjongkok dan menoleh ke belakang tubuh basahnya.

"Naiklah, kita pulang."

Walaupun sempat terdiam beberapa saat karena terkejut, Kiddo menurut dan naik ke punggung yang tersodor didepannya.

Hup. Rivaille berdiri kembali. Tubuh ringan Kiddo tak seberapa baginya. Satu tangannya masih memegang payung. Sebenarnya tidak ada gunanya juga, toh mereka berdua sudah basah.

Tak lama Rivaille dihadang oleh seseorang yang juga membawa payung.

"Petra? Kenapa kau ada disini?"

Petra menghembuskan napas, antara lega dan khawatir.

"Tentu saja aku mencari Kiddo. Tapi syukurlah.."

Gadis itu tersenyum ke arah Kiddo. Dan yang diberi senyuman hanya bisa terpaku.

Petra mendekat, kemudian mengelus kepala Kiddo dengan lembut. Sangat penuh kasih sayang.

"Lain kali, jika pria ini meninggalkanmu lagi, pulanglah padaku. Ya?"

"Hey.. kau membuatku terlihat seperti orang jahat."

"Orang yang meninggalkan anak kecil seorang diri memang jahat. Nah, ayo pulang bersama!"

"Kau datang kemari dengan apa? Kau kan tidak bisa mengemudi.."

"Apa kau lupa ada sebuah jasa pengantar orang yang bernama 'taksi'?"

"Ah iya iya. Hoy Kiddo, berhentilah menangis."

Namun isakan itu malah semakin menjadi. Kiddo merasakannya sekarang. Bagaimana jika ia bersama mereka, di saat seperti ini.

.

"Aku sudah memberitahu ibu tentang pernikahan kita seminggu lagi." ucap Rivaille yang baru datang membawa cangkir kopi miliknya.

Petra yang sibuk memakaikan kemeja kebesaran milik Rivaille pada Kiddo melirik sebentar.

"Baguslah. Kapan ibu pulang?"

"Entah. Mungkin 2 hari lagi. Dia bilang sedang sibuk dengan proyek baru disana."

Petra menepuk-nepuk pundak Kiddo setelah selesai memakaikannya baju. Tampak senang dengan hasil kerjanya sendiri.

"Kau manis sekali, Kiddo. Mirip sekali dengan ayahmu saat kecil."

"Hey!"

Hanya delikan yang Rivaille dapat dari protesnya tadi. Lagipula, ya sudahlah.. ia hanya perlu menemani anak ini selama sebulan kan? Tidak sulit.

"Jadi, bocah.. kau sudah berjanji akan menceritakan semuanya. Mulailah."

Kiddo yang dari tadi menggenggam sebuah benda bulat pipih menyerupai koin di tangan kirinya mulai menunjukkan benda itu. Rivaille dan Petra menunggu penjelasan lebihnya.

"Aku berpindah tempat ke masa ini karena memegang benda yang berhubungan dengan mesin waktunya. Jadi aku sudah bilang, aku tidak bisa pulang karena kakek Kenny yang mengatur mesinnya. Sebulan lagi baru aku akan dikirim kembali kesana."

"Kenapa bisa menciptakan benda seperti itu?"

"Aku tidak tahu. Aku hanya membantunya mengumpulkan bahan. Aku sama sekali tidak mengerti bagaimana kakek merangkainya. Lagipula, kakek Kenny memutuskan untuk keluar dari polisi militer jadi memiliki banyak waktu luang."

"Polisi militer? Ah kau juga pernah menyangkut-nyangkut soal raksasa dan pasukan pengintai, apa itu?"

Kiddo mendudukan dirinya diatas sofa merah yang berada tak jauh dari posisinya tadi. Cerita yang akan ia katakan sangat panjang, apalagi tentang teror yang menghantuinya selama hidup disana.

"Aku yakin umat manusia akhirnya bisa mendapatkan kebebasannya. Di masa ini.. tidak ada raksasa kan?"

Baiklah, untuk ukuran bocah berumur 7 tahun, Kiddo terlihat sangat jenius saat menjelaskan sesuatu. Kemampuan istimewa huh?

"Raksasa hidup meneror manusia di jamanku. Mereka memakan kami hidup-hidup. Untung saja kami dilindungi oleh 3 dinding besar yang dipuja beberapa orang. Tapi terkadang raksasa bisa menghancurkan bagian dinding dan menerobos masuk. Karena itulah kami memiliki 3 kelompok prajurit yang memiliki tugas berbeda-beda. Ada penjaga dinding, polisi militer dan pasukan pengintai."

Kiddo mengambil sebuah jeda. Mengecek apakah Rivaille dan Petra benar-benar menyimaknya atau tidak. Tapi ternyata, melihat bagaimana keduanya menunggu Kiddo melanjutkan, membuat bocah caramel itu kembali berbicara.

"Ayah adalah prajurit terkuat yang mengabdi di pasukan pengintai. Dan ibu adalah pemilik kedai kopi terkenal. Tak lama setelah menikah, ayah diangkat menjadi komandan. Mengadakan ekspedisi luar dinding. Dan saat yang sama anggota polisi militer gila menyudutkan ibu. Ibu membawaku lari, dibantu kakek Kenny. Meskipun berhasil melarikan diri, karena lengah dan terjebak oleh raksasa yang menerobos dinding, ibu jatuh ke tangan musuh. Kakek bertarung melawan raksasa sambil menggendongku. Saat terdesak ayah kembali, dengan luka tembakan yang parah. Dia berhasil menusuk psikopat itu, menyelamatkan ibu. Tapi ternyata si psikopat gila itu masih bisa bangkit berdiri dan menusuk ayah juga ibu, bersamaan. Saat itulah aku... kehilangan mereka. Aku dirawat oleh kakek sampai saat ini."

"Apa.. raksasa disana masih ada?"

"Ya.. namun yang aku dengar kami mulai dekat dengan kebebasan. Tapi aku tidak peduli."

Tiba-tiba Petra memeluk Kiddo, sangat erat. Perasaan tulus mengalir begitu saja.

"Kau sudah hidup dengan berat..."

Dan Kiddo hanya memejamkan matanya. Merasakan bagaimana sensasi hangatnya seorang 'ibu'.

.

"Tuan, nyonya besar sudah pulang." ucap kepala pelayan di rumah Rivaille.

Rivaille yang baru saja bangun dan menyesap kopi paginya, serasa ingin menyemburkan kopi dimulutnya. Tapi baiklah, itu menjijikkan.

Rivaille langsung berjalan menuju ruang tengah. Pasti ibunya ada disana. Ia harus segera menjelaskan situasi yang ia hadapi sebelum kesalahpahaman muncul. Rivaille bergegas, tanpa sadar dengan kehadiran Kiddo yang juga baru bangun tidur mengikutinya.

"Rivailleee~" suata ibunya melengking memanggil Rivaille. Sungguh, ia membenci itu.

Akhirnya Rivaille berhasil menangkap sosok yang memanggilnya. Tengah duduk dengan elegan di sofa antik miliknya.

"Aku ingin segera pulang saat tahu kau akan menikah, jadi aku membiarkan asistenku yang mengurus pekerjaan disana."

"A-ah.. ibu.. pernikahannya kan seminggu lagi."

"No no no! Itu genap 6 hari lagi!"

Wajar terawat Kuchel tampak sumringan. Helai rambut hitam yang ia sanggul alakadarnya memberi kesan 'ibu-ibu' dari wanita awet muda yang berstasus sebagai ibu Rivaille itu.

Rivaille hanya bisa menghela napas kasar mendengar ocehan ibunya yang kembali ia dengar setelah sekian lama libur.

"Aah Rivaille! Aku ingin bertenu dengan Petra-chan mu itu nanti siang. Pertemukan aku dengannya ya~"

"Iya iya.. sekarang ibu istirahat saja dulu. Kau kan baru sampai dari bandara. Lagipula.. kenapa tidak bilang akan datang hari ini."

"Kau tidak tahu yang namanya kejutan ya?"

"Ya, aku sangat tidak tahu." Rivaille menekankan.

Kuchel yang masih senyum-senyum mulai menangkap sosok dibelakang anaknya. Sosok yang lebih pendek.

"Ayah, apa itu nenek?"

Mendengar itu, senyum di wajah Kuchel menghilang. Matanya menajam memandang bergantian ke arah Rivaille dan Kiddo. Merasa alarm bahaya berbunyi, Rivaille mati kutu. Tidak tahu harus mengatakan apa.

"Kau.. membuat anak dan aku baru mengetahuinya sekarang?" perkataan itu lebih terdengar mendesis.

"Biar aku jelaskan, ibu. Aku-"

PLAKK!

Rivaille mendapat sarapan tamparan dari ibunya selain kopi tadi. Sarapan terburuknya.

"Aku tidak pernah mengajarimu menjadi pria bejat dan menghamili seorang gadis tanpa hubungan pernikahan. Membesarkan anak itu sampai sebesar ini dan menyembunyikannya dariku? Siapa ibunya huh? Siapa gadis malang yang berhasil kau hasut untuk menghabiskan hasratmu hah?!"

"Karena itu dengarkan aku dulu!"

"Tidak tidak.. aku tidak mau mendengar penjelasanmu tanpa ibu dari anak ini. Batalkan pertemuanku dengan Petra, dan ganti dengan pertemuanku dengan penghasil anakmu ini."

"Tapi, ibu-"

"No no no! Biarkan aku istirahat sekarang. Persetan dengan bocah yang mirip denganmu itu."

Kuchel berlalu pergi. Tangannya memegangi kepalanya, pose orang pusing. Rivaille bisa mendengar gumanan Kuchel yang berlalu. Terdengar seperti umpatan baginya.

"Ah tidak tidak.. aku tidak cukup tua untuk menjadi seorang nenek.."

Lagi-lagi Rivaille menghembuskan napas kasar. Kemudian melirik Kiddo disampingnya. Tanpa emosi sama sekali.

"Maaf.. itu salahku ya.."

"Tidak. Sama sekali bukan salahmu. Dia hanya terlalu terobsesi dengan umur muda. Tidak usah khawatir, aku akan menyelesaikan ini dengan cepat."

.

.

-TBC-

.

.

.

.

Kuchelnya OOC banget ya? Jadi kaya tante-tante girang... -_-'

Maapkan...

Adakah typo?

Maapkan...

Kependekan?

Maapkan...

Author kece?

Maapkan...

Author ngantuk nih ... see you next chapter aja ya? Hoaaaaam ... #gubrag

Review please ^^

-author shigeyuki-