Unconditionally Plus (sequel)

.

.

Chapter 3

.

Shingeki no Kyojin by Isayama Hajime

Fict ini murni hasil otak nista author

Sebelumnya... author... sangat terharuuuuuuu /

Author senyum-senyum sendiri pas baca review kalian readers.. :'))

Love you alllll~~

Review yang udah masuk~~

#BLamprouge-kun : ehehehe author speachless bacanya ^/^ awalnya author jg ga srek soal mesin waktu dan hal-hal tak masuk akan lainnya, tapi author kekeh pengen datengin Kiddo dari masa lalu hehe. Jujur, author nyesek-nyesek gitu pas tulis yg ujan-ujanan.. tapi yah... author kan masocist :'v lalu soal typo, iya author juga sadar pas udah diupload jadi maapin yaa, author usahain typonya ilang kedepannya ^^ duh author seneng sangaaaat~~ arigatou gozaimasu ^o^

#Lilac : idung author udah terbang jauh tuh~ jadi pengen peluk kamu nak TwT author seneng banget dipanggil kece -v- ah jadi maluuu -/- nanti ya, erwin-hange bakal nyempil juga disini hehe. Keep enjoy~

# : author baca review faraz-san sambil dinyanyiin loh wkwkwk. Iya, author rasa juga emang kurang panjang.. tapi author udah mentok disana, daripada kelamaan upload mending author udahin seadanya eheheh ;) semua pertanyaan darimu bakal dijawab di ending ceritanya nanti buahahaha *tawaniata* jadi~ tetp baca yaaa~ duh author terharu sudah jadi favorit kamu TwT hueeeee author sangat terharuuuu hks hks hks.. yuk dibaca juga fict author yg lain ^^ masih ditunggu untuk RnR looohh kebanyakan bumbu-bumbu rivetra yg author bikin ^v^ love youu

#Yamasaki Naomi : selamat datang naomi-saaan~ mari silahkan nikmati kenistaan dunia fict author ini ^w^ terimakasih udah baca sama fict yg sebelumnya juga hehehe. Author seneng banget nih! Masih ada loh fict author yg rivetra, silahkan ketik nama 'shigeyuki zero' di kolom pencarian writer. Silahkan berkunjung~~~

#aiharakotoko : aduh aihara-chan, author malah lebih kaget dan seneng dapet review dari aihara-chan ^w^ *guling-guling* author emang udah punya rencana bikin fict yg kamu rekomendasiin kok~~ tunggu rilisnya yaaaak~ mari dibaca fict author yg lain lagi yaaa love u

#MiyuTanuki : arigatou gozaimasu sudah menyempatkan review ^^ jujur ya, author emang belum siap buat sequel yg sekali tamat, soalnya banyak masalah yang pengen author masukin hehehehe nista banget yak. Tapi author harap Miyu-san tetep baca sampai akhir yaaaa~ maap juga soal typo gak tau diri yang berkeliaran disana *bow* author yang salah kok, bukan Levi (?)

#Mitha Angely : sebagai orang pertama yg review, author kasih gelas yaa *kasihgelas* hehehehe review mitha-san sungguh membangkitkan semangat buat nulis chapter selanjutnya! Keep RnR yoooo ^o^

.

Nah sekarang masuk chapter 3 nih, wehehehehy keep RnR ya guys ^^

You're my spirit

Mari dinikmati,

Author bikin agak panjang ya.. biar greget

Enjoy

.

.

.

.

Kuchel mengetuk-ngetukkan kuku mengkilat miliknya di atas meja. Tatapannya yang tak kalah tajam dengan Rivaille terus terpaku pada objek dihadapannya, yaitu Rivaille, Petra dan Kiddo. Tak lama wanita itu menghembuskan napas dengan bosan. Restoran mewah yang menjadi tempatnya saat ini terlihat sepi. Tentu saja, karena seisi restoran ini sudah dipesan khusus oleh Kuchel. Jadwal makan siang nyatanya masih sekitar satu jam lagi, namun ia dan 3 orang yang bersamanya ini sudah ada disana sejak setengah jam lalu.

"Jadi anak ini datang dari masa lalu dan akan tinggal bersamamu sebulan kedepan?" Kuchel menyuarakan pikirannya.

Rivaille mengangguk malas. Menjelaskan hal seperti ini pada ibunya memang termasuk hal yang sulit. Karena siapa yang akan percaya.

"Jadi, ibu anak ini Petra?" lanjutnya lagi sambil mengalihkan jarinya untuk menunjuk Petra.

"Di masa lalu." tegas Rivaille.

Wanita itu tampak mengangguk-angguk sebagai tanda sedang mencerna semua informasi kurang masuk akal yang ia terima. Sepertinya memang sulit untuk percaya hal aneh seperti datang dari masa lalu untuk mencari reinkarnasi. Tapi ya sudahlah.. bagaimanapun, anak didepannya ini akan tetap disana selama sebulan kedepan. Setidaknya Kuchel bisa bernapas lega karena dirinya tidak benar-benar menjadi seorang nenek. Mungkin setelah masalah ini berlalu, ia harus memperingati Rivaille agar tidak terlalu cepat membuat anak. Secara fisik dan mental, Kuchel sangatlah belum siap untuk kehadiran seorang cucu. Oh ayolah, umurnya yang sudah lebih dari kepala empat bahkan sama sekali tidak nampak di wajahnya.

"Uh baik baik, terserah kalian. Yang penting dia bukan cucuku."

"Tapi ibu.."

"Buatlah anggapan kalau Kiddo memang cucumu, hanya sebulan kan." potong Rivaille.

Awalnya Kuchel hanya menatap alakadarnya pada Rivaille. Ia berpikir sejak kapan putranya itu terlihat sangat serius terhadap sesuatu -selain Petra-. Mungkin bocah ingusan yang mirip dengan Rivaille itu memang memiliki suatu ikatan tak kasat mata. Ikatan dari masa lalu? Mungkin iya. Walaupun Kuchel masih menaruh ketidakpercayaannya terhadap omong kosong ini.

Akhirnya Kuchel mengela napas menyerah. Kedengarannya memang tidak sulit, tapi lihat saja nanti. Semoga saja Kiddo adalah anak baik seperti Rivaille dulu, semoga.

"Baiklah. Tapi jangan minta yang aneh-aneh ya!"

Senyum di wajah Petra mengembang, begitu juga Kiddo. Tapi Rivaille tampak bereaksi biasa saja. Ya baginya tidak ada pengaruh banyak juga sih, toh Kiddo akan tinggal bersama Rivaille. Sepertinya Rivaille melupakan fakta kalau Kuchel juga akan tinggal disana untuk sementara.

"Ah karena semuanya sudah cukup jelas, aku pulang duluan saja ya? Ada yang harus aku kerjakan." Kuchel berdiri dari duduknya, lantas segera pamit untuk pergi. Padahal wanita itu yang mengajak mereka ke tempat ini, tapi nyatanya dia sendiri yang pulang lebih dulu.

Rivaille memandang kepergian ibunya dengan bosan. Kemudian memandang bergantian pada Petra dan Kiddo.

"Kita akan tetap menunggu makan siang disini?" Suara bariton itu terdengar dari mulutnya

"Terlanjur dipesan kan? Setidaknya hargai pelayanan restoran ini."

"Bukankah jika kita pergi, mereka mengurangi kesibukan dan tetap mendapat bayaran dari kita?"

"Tidak semuanya senang diperlakukan seperti itu, dasar orang kaya."

Rivaille mendengus dengan sedikit senyuman kecut dibibirnya. Ia selalu suka bagaimana cara gadis itu mengejeknya tanpa sensor. Dirinya jadi merasa seperti manusia normal.

"Semoga saja tidak ada yang datang dan menyadari kehadiran bocah ini diantara kita."

"Memangnya siapa lagi yang suka menghambur-hamburkan uang hanya untuk makan siang? Kurasa itu hanya keluargamu saja."

"Kau saja yang belum tahu. Pasangan Erwin-Hange, kurasa mereka juga sama sepertiku. Malah lebih ekstrem."

"Ah.. pengantin baru itu ya.."

Sebuah senyum miris terlihat. Sebelum bibir itu menempel pada gelas berisi wine yang akan ia teguk. Sebuah sensasi pahit langsung menyerbu rongga pengecapnya. Rasa pahit yang tentu berbeda dengan rasa pahit pada kopi. Jika tidak disuguhkan, Rivaille tidak akan sengaja memesan wine untuk menghiasi meja makan siangnya. Tapi itu semua ibunya yang memesan. Apa boleh buat kan.

Melihat bagaimana Rivaille meneguk wine itu dengan tenang, Kiddo tampak tertarik dengan cairan berwarna merah itu. Matanya terlihat berbinar karenanya.

"Ayah, itu apa?" tanyanya.

Rivaille yang mendengar pertanyaan itu langsung menghentikan aksinya. Kembali menyimpan gelas di tangannya ke atas meja.

"Ini anggur. Kau tidak boleh meminumnya."

"Kenapa?"

"Kau bisa mabuk."

"Mabuk? Seperti saat setelah meminum sake?"

Rivaille, juga Petra langsung tertegun. Dari mana anak ini tahu tentang sake?

"A-ah.. Kiddo, kenapa kau tahu soal sake?" kali ini Petra yang bersuara.

"Kakek Kenny yang menjelaskannya padaku. Soalnya aku selalu mendapatinya meminum sake saat malam. Dan setelahnya dia bicara tidak karuan karena mabuk."

"Wah.. dunia disana ternyata sangat kejam ya.."

"Tapi dia sudah bilang kalau kau tidak boleh minum itu kan?"

"Tentu saja."

"Baguslah."

Petra tersenyum penuh arti pada Rivaille. Ia sangat senang karena sepertinya Rivaille mulai terbiasa dengan sosok 'ayah' yang ia emban saat ini. Tampak dari bagaimana Rivaille mengkhawatirkan lingkungan Kiddo.

"Sebentar lagi makan siangnya datang." seru Petra riang.

.

X

.

Malam ini Kiddo diajak Petra untuk tidur di rumahnya. Lagipula, kemarin Kiddo menginap di rumah Rivaille, jadi hari ini gilirannya menghabiskan waktu dengan anak itu. Petra tentunya sudah menceritakan semuanya pada sang ayah, agar tidak terjadi kesalahpahaman seperti pada Kuchel. Tidak akan menunggu banyak waktu untuk saat dimana Petra benar-benar bisa merasakan 'keluarga' yang sebenarnya.

Petra dengan sangat perhatian memainkan jemari milik Kiddo. Bahkan terlihat sangat menikmatinya, tidak menghiraukan tatapan heran dari bocah yang berstatus sebagai anaknya ini. Petra hanya ingin menghabiskan waktu sebulan itu dengan menyenangkan. Mengingat bagaimana masa lalu Kiddo, membuat Petra semakin ingin memanjakan anak itu. Tidak ada salahnya kan? Tapi sayangnya ia tidak bisa membawa Kiddo ke tempat umum dengan sembarangan, apalagi dengan Rivaille juga. Bisa-bisa media menjatuhkan gosip yang aneh-aneh. Dan itu akan menghancurkan reputasi perusahaan dan keluarga mereka. Ya, memangnya apa lagi jika bukan tuduhan melakukan hubungan di luar nikah.

"Ibu.." Kiddo bersuara.

Manik milik Petra yang tadinya memandangi jemari itu dengan seksama mulai menjatuhkan pandangan pada Kiddo. Dan menunggunya berbicara lebih banyak.

"Apa tidak apa-apa kalau aku bersama kalian?" ucapnya sedikit ragu.

"Tentu saja. Lagipula kau tidak bisa pulang kan? Dan Rivaille juga sudah menyetujuinya. Kau tidak usah khawatir."

Kiddo menundukkan kepalanya. Terlihat sebuah kesenangan yang disembunyikan. Itu malah menambah kegemasan Petra padanya.

"Nah, Kiddo, apa aku boleh bertanya sesuatu padamu?" Petra mulai bisa mengendalikan perasaan senang yang melimpah itu.

Kiddo mengangguk.

"Bagaimana sosok Rivaille di masa lalu?"

Setelah pertanyaan itu terlontar tanpa sedikitnya senyuman yang menurun. Kiddo tampak menimbang-nimbang. Ia memang tidak memiliki kenangan apapun tentang kedua orang tuanya. Tapi untung saja Kenny mau menceritakan apa yang ia tahu tentang mereka. Mungkin itu yang akan dikatakan Kiddo sebagai jawaban pertanyaan Petra tadi.

"Dia sangat hebat. Itu yang kakek katakan."

"Lalu?"

"Mm.. dia selalu melindungi ibu dan mengutamakannya, prajurit yang sangat kuat dan selalu dipanggil sebagai prajurit umat manusia terkuat. Catatan penaklukan raksasa milik ayah sangat mencengangkan, itulah kenapa orang-orang menaruh harapan besar padanya. Tapi..."

Kiddo mulai mengalihkan pandangannya ke arah lain, pandangan kosong. Melihat itu Petra sedikit demi sedikit menurunkan senyumannya. Pasti ada yang membuat Kiddo tertekan.

"Nyatanya ayah pergi terlalu cepat, ibu juga."

Sekarang Petra merasakan bagaimana tekanan-tekanan itu bertumpuk di pundak mungil Kiddo. Dunia yang tidak aman, kehilangan orang terkasih, kesepian, mimpi buruk apa yang tidak sepedih itu?

Petra tidak bisa berkomentar apapun. Bagaimana pun, Petra tidak begitu mengenal bagaimana sosok-sosok di masa lalu. Apa ada cara untuk menghibur bocah ini? Jika ada Petra akan dengan senang hati mengorbankan apapun. Ada sebuah ikatan yang membuatnya merasa sangat berhubungan dengan ini. Kekuatan reinkarnasi benar-benar luar biasa.

Kiddo kembali menatap Petra yang duduk menyejajarkan wajahnya. Tekanan itu tidak kembali terlihat.

"Tapi sekarang ada ibu disini. Aku yakin aku baik-baik saja." seru Kiddo.

Petra tersenyum miris. Kemudian mengelus pipi dihadapannya dengan lembut.

"Maaf sudah mengingatkanmu pada masa-masa sulit itu.."

Kiddo membalas dengan senyuman. Tanpa beban sedikitpun, yang sebelumnya sangat nampak disana.

"Aku sangat senang bisa ada disini. Tapi, ibu.. kenapa, ayah tidak disini juga?"

"Ah itu.. belum bisa seperti itu."

"Kenapa belum bisa? Aku ingin tidur bersama kalian berdua."

"Tidak bisa, nanti saja ya?"

"Kalian bertengkar?"

"Tidak, tidak mungkin."

"Jadi kenapa?"

Petra terdiam sejenak. Ia meninbang-nimbang jawaban yang akan ia berikan. Tapi ini terasa berat karena keinginan sederhana Kiddo. Jangan sampai anak itu menangis karenanya. Walaupun itu tidak mungkin.

"Ibu?"

"Ah? Itu.. kami.. belum bisa tinggal serumah. Jadi bersabarlah, ya?"

Kiddo hanya mengangguk murung. Mungkin memang itu yang terbaik untuk saat ini.

"Kalau kau merindukannya, bagaimana kalau ditelepon saja?"

"Apa? Apa itu?"

Disanalah Petra menyadari kalau di masa Kiddo tinggal belum ada yang namanya alat komunikasi.

"Ah dengan telepon kau bisa berbicara dengan orang yang jauh. Mungkin itu bisa membuatmu senang."

Masih dengan kebingunan dibenaknya, Kiddo memerhatikan Petra yang sibuk memainkan jarinya di atas ponsel. Sampai benda tipis itu diberikan padanya, Kiddo masih bertanya-tanya tentang hal apa yang akan terjadi setelah benda itu ditempelkannya di telinga, sesuai intruksi dari Petra.

Tak lama sebuah suara selain bunyi 'tut tut' terdengar. Suara itu berhasil membuat rona bahagia terlukis di wajah Kiddo.

"Hallo? Petra? Ada apa? Apa ada masalah?"

Petra memberi tanda agar Kiddo mulai berbicara. Tapi tampaknya ia masih cukup terkejut dengan suara di telinganya itu.

"Petra? Kenapa kau diam saja?"

"Ayah.."

Giliran suara di seberang yang tak terdengar. Mungkin keterkejutan melanda Rivaille disana.

Namun tak membutuhkan banyak waktu untuk kembali mendengar suara itu. Diawali sebuah kekehan ringan, Kiddo bisa mendengar suara lagi.

"Ada apa, Kiddo? Aku tidak menyangka kau yang menghubungiku. Pasti disuruh ibumu kan?"

"Ayah, kapan kita bisa tidur bersama?"

"Hah?"

Kiddo masih menunggu jawaban yang pasti. Dengan wajah yang jelas sumringan.

"Ah.. mungkin beberapa hari lagi. Tapi sebelum itu, bukankah lebih baik jika kau mau membiarkan kami tidur berdua dulu? Siapa tahu nanti kau bisa dapat adik."

"Adik? Aku belum memikirkan itu. Aku belum mendapatkan apa yang aku mau, aku tidak mau adik!"

"Kau egois juga ya.."

"Aku tidak akan membiarkan aku punya adik! Aku tidak mau!"

"Hey, kau tidak boleh menentang ayahmu."

"Aku tidak peduli! Pokoknya tidak boleh!"

Sebuah kekehan kembali terdengar dari sana.

"Akan kupertimbangkan nanti. Sekarang, berikan ponselnya pada ibumu."

Walau sedikit enggan, Kiddo tetap menurut dan membiarkan Petra yang mengambil alih pembicaraan. Satu sisi ia bisa mendengar apa yang Petra katakan, dan sisi lain ia tidak tahu Rivaille berbicara apa dari sana.

"Kenapa membiarkannya menelepon?"

"Kurasa dia merindukanmu. Aku jadi tidak tega kan."

"Ya sudahlah.. ini sudah malam, ajak dia tidur. Kita bisa mengobrol lagi besok di kantor."

"Tapi sepertinya Kiddo masih ingin berbicara denganmu."

"Bujuk saja dia, kau kan pintar melakukan itu. Nah tutup teleponnya."

"Ah, kau masih sama seperti dulu."

"Tidak bisa menutup telepon lebih dulu? Ya, aku memang masih sama."

Sesaat Petra tersenyum hangat. Sukses membuat Kiddo sangat penasaran.

"Baiklah, aku tutup ya?"

"Ah tunggu."

"Apa?"

"Aishite iru yo."

Petra menghembuskan napas dengan tenang, senyumannya tampak lebih bermakna.

"Aku juga, Rivaille."

"Oyasumi."

"Mm, oyasumi."

Percakapan pun berakhir. Melihat Petra meletakan ponsel itu di atas meja, Kiddo yakin kalau perbincangan dengan Rivaille sudah berakhir. Itulah kenapa ia menggembungkan pipi karena kesal. Saatnya Petra membujuk.

"Ayahmu bilang kita harus cepat tidur. Bagaimana kalau kita menurutinya?"

"Tapi!"

"Masih ada hari esok, Kiddo."

"Uh.."

Akhirnya Kiddo menyerah. Ternyata sesuai dengan apa yang dikatakan Rivaille, Petra pandai membujuk. Kemampuan yang hebat dimatanya.

.

X

.

Tanpa disangka, Rivaille datang ke ruang kerja Petra. Otomatis 2 orang rekan satu ruangannya nampak terkejut dan langsung memberikan hormat mereka pada sang presiden direktur.

"Bisakah meninggalkanku berdua saja dengan Petra?"

Mendengar permintaan yang seperti perintah itu terlontar dari mulut Rivaille, 2 rekan Petra langsung menurut untuk meninggalkan ruangan. Tapi tentu saja tidak ada jamiman tentang gosip yang menyebar soal hubungan Rivaille dan Petra.

Rivaille menyandarkan tubuhnya pada meja yang berada tepat di depan meja kerja Petra. Ia menyedekapkan kedua tangannya di depan dada, terlihat sangat berkuasa.

"Ada apa?" Petra mengawali pembicaraan.

Tak ada respon apapun dari Rivaille. Ia terus menatap Petra dengan caranya, mengikat dan menekan.

"Aku tidak menerima alasan sepele loh ya." ucap Petra lagi. Disusul dengan helaan napas dan aktivitas membereskan beberapa lembar kertas yang ada di mejanya.

"Bagaimana kabarmu?" akhirnya suara Rivaille terdengar.

Petra langsung memandang lawan bicaranya dan tersenyum kecut. Walaupun Rivaille sering menanyakan hal itu pada Petra, tetap saja gadis itu selalu membalas dengan senyuman kecut. Seolah meremehkan kemampuan pandangan si pria akan kondisinya.

Merasa mengerti dengan arti senyuman kecut itu, Rivaille kembali bersuara.

"Baguslah. Kuharap keadaan bocah itu juga sama sepertimu."

"Sepertinya kau mulai memerhatikan Kiddo seperti anakmu sendiri ya? Aku senang."

"Dia di rumah dengan siapa?"

"Mm? Kebetulan ayahku tidak ke kantor hari ini, jadi Kiddo bersamanya."

Rivaille mengangguk tanda mengerti. Yah setidaknya ia bisa memercayai calon ayah mertuanya, daripada anak itu diserahkan pada pengasuh anak. Kalaupun memang mendesak, Rivaille harus memberi tes terlebih dahulu pada orang yang akan menjaga Kiddo.

Sebenarnya bukan tanpa alasan Rivaille memikirkan hal itu. Ini tentang rencana bulan madunya nanti. Akan sangat sulit jika membawa serta Kiddo dalam perjalanan. Bukannya tidak mungkin, namun istilah privasi tidak akan terwujud. Yang ada seharian akan dilalui bertiga.

Bukan, bukannya Rivaille tidak mau mengajak Kiddo. Tapi tetap saja membawa seseorang saat bulan madu adalah hal langka yang hanya dilakukan orang tidak waras. Oh baiklah, mungkin Rivaille memang akan jadi tidak waras setelahnya.

"Bagaimana dengan acara kita di Perancis nanti?"

Petra menoleh. Jarang-jarang Rivaille menanyakan soal rencana-rencana dalam hidupnya, terkecuali jika ada hal yang bisa dikhawatirkan menjadi sumber ketidak-lancaran acaranya.

"Tidak ada masalah kan?" Petra bertanya balik, belum menyadari maksud Rivaille.

Rivaille melangkah mendekati Petra, tepat berdiri di hadapannya. Bisa saja Rivaille memajukan tubuhnya sedikit saja untuk bisa menyentuh bibir gadisnya, tapi itu bukan saat yang tepat. Mungkin nanti.

"Maksudku.. kita akan membawa Kiddo juga?"

Petra mengedipkan matanya beberapa kali.

"Tentu. Tidak mungkin meninggalkannya berhari-hari kan?"

Entah dorongan dari mana, Rivaille mulai memainkan rambut lembut Petra dengan jemarinya. Ada sebuah sensasi tersendiri saat rambut itu menyentuh permukaan kulitnya.

"Kau terlihat khawatir.. apa kau keberatan jika Kiddo ikut?"

Manik kelam kebiruan itu menangkap manik caramel didepannya.

"Tidak juga."

Petra memandang Rivaille dengan lekat. Tatapan yang sangat menghipnotis. Sampai gadis itu mulai menyadari sesuatu.

"Rivaille.. apa kau sadar kalau karyawan lain sedang mengintip di balik pintu kaca itu?" ucapnya sambil berbisik, tanpa menimbulkan kecurigaan dalam gerakannya.

"Biarkan saja. Toh sebentar lagi kau jadi istriku."

Dan setelahnya, karena memang tidak peduli dengan beberapa karyawan yang telah seenak jidat mengintip dibalik pintu, Rivaille langsung mengecup bibi Petra dengan lembut. Paling yang akan ditanyai nanti bukan dirinya, tapi Petra. Nista sekali..

.

X

.

Di sebuah gereja megah terdengar suara denting lonceng yang menggema. Sorakan bahagia tak menghalangi suara lonceng yang bergaung. Mawar putih tersebar dimana-mana, sebagai hasil dari perbuatan para tamu yang melemparkan kelopak-kelopak bunga pada sepasang pengantin yang baru mengucap janji suci.

Pengantin pria mengenakan jas tuxedo lengkap berwarna putih, terlihat sangat berkarisma dan menawan. Dan wanitanya terlihat bagaikan malaikat dengan menggunakan gaun putih indah yang menjuntai di bagian belakangnya. Jahitan sederhana namun elegan itu terlihat sangat cocok dikenakan si gadis.

Siapa lagi kalau bukan Rivaille dan Petra. Ya, sesuai dengan apa yang direncanakan sebelumnya, tepat seminggu setelah Rivaille melamar gadis itu di sebuah kafe mereka mengadakan upacara pernikahan. Dan pestanya bertemakan pesta taman. Itulah kenapa sekarang mereka berada di lahan terbuka berumput hijau yang asri, tepat berada di samping gereja yang menjadi saksi bisu janji suci itu terucap.

Kini mereka berdua menjadi objek utama di tengah para tamu yang mengenakan dress code putih. Terlihat beberapa orang-orang penting yang hadir. Tak banyak memang tamu yang hadir di upacara ini. Hanya sanak saudara dan orang berpengaruh yang mendapat undangan khusus menghadiri upacara pernikahan. Barulah nanti malam, pesta diadakan di sebuah hotel berbintang. Dimana semua karyawan dan orang-orang yang Rivaille dan Petra kenal bisa menghadiri pesta.

Banyak yang memberikan selamat secara langsung pada pasangan itu. Ada juga yang hanya melihat dan tersenyum ikut merasakan kebahagiaan.

Di salah satu kursi tamu terduduk Kiddo disana. Anak itu memakai setelan rapi. Baru sekarang ia mengerti kenapa ayah dan ibunya itu belum bisa tinggal bersama. Kiddo sedikit lega akan hal itu. Karena dugaannya tentang pertengkaran tidak terjadi.

Tak sedikit orang yang menyadari kehadiran Kiddo disana. Tentu saja bocah itu terlihat memancing perhatian. Tidak salah lagi, itu karena wajah Kiddo yang sangat familiar dengan pengantin pria di acara ini.

Memang ide yang buruk membawa Kiddo ke tempat dengan orang banyak seperti sekarang. Tapi apa boleh buat, tidak mungkin juga Kiddo ditinggal sendiri di rumah. Persetan dengan semua dugaan kasar para tamu tentang Kiddo. Jika ada yang berani mengusik bocah itu, Rivaille sendiri yang akan membereskannya.

Kiddo menatap sekitar dengan mata bulatnya. Sama sekali tidak ada celah untuk menghampiri Rivaille dan Petra. Itu artinya, ia harus menunggu lebih lama lagi. Sampai keadaan lengang.

Sibuk mengamati objek di depan sana, Kiddo tidak menyadari ada seorang pria tegap yang menghampirinya dengan mencurigakan. Kiddo baru menyadari kehadirannya saat pria itu menyapanya.

"Kau sendirian adik kecil?"

Spontas Kiddo menoleh pada asal suara. Sebenarnya ia bukan tipe orang yang akan dengan mudah menjawab pertanyaan orang asing, tapi lihat saja kelanjutan tindakan pria ini.

Merasa dihiraukan oleh Kiddo, pria itu langsung menambah pertanyaannya.

"Sepertinya kau berhubungan langsung dengan tokoh utama acara ini kan?"

Kiddo mendelik. Entah kenapa ia merasa sangat membenci pria sok akrab dihadapannya. Seperti ada sebuah trauma tersendiri yang membuat Kiddo teramat sangat tidak aman jika berada didekatnya. Keringat dingin pun sukses meluncur di pelipisnya.

"Aku Moses, sahabat Rivaille. Kau tidak usah takut seperti itu. Aku bukan orang jahat."

Tetap tak ada respon apapun dari Kiddo selain tatapan sengitnya.

"Nah, adik kecil, katakanlah pada paman siapa namamu?"

"Kau bukan pamanku."

"Ahahaha anggap saja aku dan Rivaille adalah saudara. Nah, katakan padaku, kau.. anaknya kan?"

Kiddo tertegun. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Tidak mungkin ia menceritakan bahwa Rivaille memang ayahnya, di masa lalu. Orang bernama Moses ini masih sangatlah asing baginya. Walaupun perasaan kuat menyatakan kalau orang ini adalah musuh.

Kepalanya mencoba untuk mengingat hal pahit yang sudah lama ia kubur untuk memusnahkan rasa dendam. Untuk kali ini saja, ia harus menggali kembali kuburan itu. Demi mengaktifkan ingatannya.

Tak lama kemudian, Kiddo tampak menggigil. Keringat dingin yang mengucur semakin banyak. Ia mulai mengingat apa yang sudah ia lupakan. Nama itu..

"Moses..." suranya menggeram.

"Sepertinya darah Rivaille memang mengalir pada dirimu. Tidak menghormati orang penting, ah aku tidak terkejut."

Tangan gemetar yang mengepal itu semakin jelas terlihat.

"Kau.. yang menghancurkan semuanya.." Kiddo kembali menggeram. Segala emosi terkumpul membuat suaranya terdengar tertahan oleh desakan emosi itu.

"Jadi, kau benar-benar anak Rivaille kan?" tanya Moses, menghiraukan pernyataan Kiddo sebelumnya.

Kiddo -yang memang dekat dengan meja aneka minuman- langsung meraih satu gelas jus dan menyiramkannya ke arah Moses.

Sontak Moses langsung mengerutkan alisnya. Jas putih yang ia kenakan kini ternoda. Untung saja Moses tidak mengundang keributan dengan mencaci-maki atau berteriak-teriak. Ia langsung menguasai emosinya. Dan kemudian menyeringai.

"Terima kasih kenang-kenangannya, anak Rivaille. Semoga kita bertemu lagi lain waktu."

Sosok Moses langsung menjauh dan tidak terlihat lagi. Kiddo masih berusaha mengatur napasnya yang memburu.

Yang benar saja, psikopat itu ternyata terlahir kembali di masa yang sama dengan Rivaille dan Petra. Jika perasaannya benar, akan ada suatu hal buruk yang terjadi. Pastinya niat orang itu tidaklah baik. Apapun yang akan dilakukan Moses, Kiddo bertekad untuk menghalanginya sekuat tenaga. Tidak.. ia tidak akan membiarkan orang itu kembali membuat keluarganya sengsara. Tidak akan lagi.

.

X

.

"Kiddo.. kau yakin tidak apa-apa ditinggal disini?" Petra tampak khawatir.

Kiddo memgangguk lemah di atas tempat tidur. Setelah acara pernikahan kemarin, ia memang terlalu memikirkan tentang Moses. Jadi ia terbaring sakit sekarang. Terpaksa tidak ikut ke Perancis.

"Kami bisa menunda keberangkatan jika kau mau." Rivaille menambahkan.

"Tidak boleh. Kalian pergi saja.. aku baik-baik saja ditinggal."

Rivaille dan Petra saling berpandangan. Yang bisa menjaga Kiddo saat ini hanya Mike, kepala pelayannya. Karena Kuchel juga akan kembali ke Perancis hari ini. Dan ayah Petra? Tiba-tiba ada panggilan ke luar kota.

Bisa saja Rivaille tidak jadi berangkat dan memutuskan tinggal bersama Kiddo. Namun anak itu tetap bersikeras meminta mereka jadi pergi.

Akhirnya kedua orang itu menghela napas bersamaan. Mungkin menuruti permintaan Kiddo adalah pilihan terbaik, mungkin.

"Baiklah.. baik-baik di rumah ya. Mike akan menjagamu. Jika membutuhkan sesuatu minta saja padanya. Aku akan meninggalkan nomor ponselku untuk keadaan darurat."

Saat Rivaille sibuk menulis nomor ponselnya di atas kertas, Petra mengelus kening Kiddo yang terasa panas. Sangat disayangkan.

Setelah selesai menulis, Rivaille meletakan kertas di atas meja nakas. Tak lupa ia juga menulis langkah-langkah menggunakan telepon, ia tahu hal ini adalah yang pertama bagi bocah itu.

Petra bangkit dari posisinya menatap Kiddo, masih dengan wajah khawatir.

"Maaf ya Kiddo.. 2 hari lagi kami pulang. Semoga kau baik-baik di sini."

"Makan yang benar, beri kabar sesering mungkin tentang kondisimu, andalkan saja Mike."

"Mm.."

Keduanya mengelus kepala Kiddo bergantian, bukti sebuah kasih sayang. Dan kemudian mereka pamit berangkat. Hanya tinggal Kiddo yang berada di kamar besar itu, sendirian. Dengan suhu tubuh yang melebihi normal.

.

X

.

Pesawat yang dinaiki Rivaille dan Petra menuju Perancis mulai melayang di angkasa. Tapi nampaknya kekhawatiran Petra masih menghalangi minatnya terhadap langit yang begitu biru. Tidak seperti Rivaille yang mampu menyembunyikan rasa khawatirnya.

"Tenang saja, dia pasti baik-baik saja."

"Kuharap begitu.."

Rivaille menggenggam tangan Petra yang terasa dingin. Membagi sedikitnya kehangatan yang ia miliki ditangannya sendiri. Berharap dengan begitu suasana akan membaik.

.

.

Sudah beberapa jam dari keberangkatan Rivaille dan Petra. Kiddo masih dalam suhu tubuh yang sama. Matanya tak bisa terpejam. Saat terpejam, kelopak matanya serasa dibakar. Ia tidak tahan dengan itu. Itulah kenapa meski sudah malam seperti ini Kiddo masih tetap terjaga dalam posisi rebahannya di tempat tidur.

Entah apa yang sedang dilakukan kedua orang yang berstatus sebagai ayah dan ibunya saat ini. Tapi cukup, sudah terlalu banyak hal yang dipikirkan Kiddo. Itu hanya akan membuat kepalanya semakin pening. Ia butuh istirahat yang banyak. Mungkin besok ia bisa bangun dengan segar jika tidur sekarang.

Akhirnya Kiddo menyerah. Ia memejamkan matanya walaupun masih terasa panas. Ini demi kebaikannya. Terlelap dan tidur nyenyak. Itu yang harus ia lakukan.

.

.

Entah bagaimana caranya, sekarang Kiddo yang masih tertidur berada di dalam sebuah mobil. Di dalam mobil itu terdapat 3 orang pria berbadan tegap dengan setelan jas rapi. Salah satu dari mereka tampak menyeringai setelah melihat kondisi Kiddo dari kaca spion.

"Sesuai rencana." gumannya penuh kemenangan.

Mobil itu terus melaju di kegelapan malam. Menembus dinginnya udara. Merasa tak ada masalah yang menghampiri sejauh ini. Itu artinya mereka berhasil mengecoh si kepala pelayan. Lihat saja apa yang akan terjadi setelah ini.

Seseorang dengan seringai tadi menggenggam sebuah kertas di tangan kirinya. Kertas berisikan nomor ponsel milik Rivaille.

"Lihat saja apa yang akan aku lakukan padamu, Rivaille." Desisnya penuh ancaman.

"Ano, Moses-san, apa kita tetap akan membawanya ke gudang itu?"

"Ya.. disana sepi. Jadi tidak apa-apa jika hal buruk terjadi pada mereka nantinya."

Dan seringai itu semakin jelas terlukis.

.

X

.

Pagi hari Rivaille sudah berada di balkon rumahnya yang ada di Perancis, bersama Petra disampingnya. Sepertinya Petra sudah mulai tenang soal kondisi Kiddo. Entah bujukan macam apa yang Rivaille gunakan untuk mengalihkan perhatian gadis itu.

"Apa kau tidak bosan meminum kopi setiap hari?" Petra menjatuhkan kepalanya di bahu Rivaille.

"Aku tidak akan pernah bosan."

Petra tak menyahut lagi. Ia sibuk memandang langit biru yang disuguhkan dihadapannya. Andai saja Kiddo juga bisa melihat ini.

Tiba-tiba suara ponsel terdengar, tanda adanya panggilan masuk.

Merasa familiar dengan nada itu, Rivaille langsung merogoh saku celananya, bermaksud untuk menerima panggilan itu.

"Ya?" ucapnya tanpa basa-basi.

"Tuan, maafkan aku.. tapi, Kiddo.."

"Ada apa?"

"Kiddo hilang."

Sebuah refleks membelalaknya mata adalah pilihan terbaik disaat seperti ini. Suara Rivaille langsung terdengar tertahan setelahnya.

"Apa.. maksudmu?"

"Sepertinya dia diculik."

"Cukup. Jelaskan itu nanti. Dan akan kupastikan juga hukumanmu atas kecerobohanmu ini. Aku akan kembali sekarang juga."

Rivaille menutup telepon itu dengan kasar. Ia juga langsung berjalan ke dalam, menyisakan Petra yang bertanya-tanya dalam hati sambil mengikuti langkah sang suami.

"Kita pulang sekarang."

"Eh? A-apa yang terjadi?"

"Keadaan gawat. Kiddo ada di tangan orang tidak tahu diri."

.

X

.

-TBC-

.

.

.

.

Apa udah lumayan panjang? ._.

Di dokumen sih udah nyampe 11 halaman.. jumlah katanya juga udah nyampe 4 ribu lebih.

Tapi kok author masih ngerasa kurang ya? Aduh gomenne kalo emang masih kurang panjang .

Author udah menitikan keringat penuh perjuangan saat mengetik chapter ini (keliatan boongnya thor)

Author berpikir keras buat konfliknya sambil nonton nar*to.

Tapi seribu tapi! Author harap readers semuah sukaaa

Sorry for typo

Tetep tunggu kelanjutannya ya minaa~~~

See you~

-author shigeyuki-