Unconditionally Plus (sequel)

.

.

.

Chapter 5

.

Aiyem kaaaaaming~~ yohoooo author langsung nulis lagi nih : tapi nyatanya selesai setelah beberapa hari hehehehe

Maapin author yg ngaret ini yaaa lalalalalala :**

Bikin yang greget-greget emang kesukaan author :v jadi mohon maklum yaa kalo kalian semua jadi greget sama sayaah kkkk~

Chapter kemaren kependekan lagi ya? ._.

Author mulai ngantuk sih pas deadline ~_~ jadi diudahin disana, gomenneeeeeee

Yuk ah

Warning : dilengkapi bumbu OOC dan sayuran kering (?), typo nyempil bagaikan hantu, bahasa agak maksa dan acak-acakan, tidak sesuai dengan EYD, tidak sesuai dengan penulisan suku kata yang benar dimana adanya pemakaian imbuhan me- berhadapan dengan kata yg huruf depanny (author agak bingung soalnya.. ada yg melebur ada yg nggak), mungkin mainstream, endingnya pasti ketebak.

RnR please

Tinggalkan jejak

Enjoy

.

.

.

.

.

Semuanya masih terlihat sama. Satu minggu berlalu sejak hari itu, dan Rivaille masih dalam kondisi koma di rumah sakit. Berbagai alat kedokteran menempel ditubuhnya. Jika salah satunya dicabut, pasti akan mengganggu kelancaran pemulihannya.

Moses dan komplotannya sudah mendapat balasan yang setimpal. Tapi entahlah, berita yang beredar Moses telah mati setelah operasi pengangkatan peluru dikepalanya.

Seperti biasa Petra selalu menjaga Rivaille disana. Masih terngiang dibenaknya bagaimana reaksi Kuchel saat tahu keadaan Rivaille. Ia melupakan tatanan rambutnya yang berantakan, menghiraukan tatanan dandanannya yang kacau. Wajah pucatnya terlihat histeris mendapati anaknya terbaring. Dan untuk kali pertama dalam hidupnya, Petra melihat tangis Kuchel pecah disana. Ya, Petra tahu pasti bagaimana rasanya berhadapan dengan situasi ini. Tapi ia bisa apa? Sebuah garis bernama takdir sudah menggurat dikehidupannya. Hanya saja ia tidak menyadari ketidaksengajaan dan musibah itu memang akan terjadi meski lihainya menghindar.

Petra belum berbicara pada siapapun kecuali Kiddo. Itupun jika anak itu yang mengawali pembicaraan dengan enggan. Separuh kehidupannya seolah telah menguap setiap harinya. Bukan karena ia tidak yakin kapan Rivaille akan bangun, namun ia tidak tahu penantiannya akan berakhir kapan.

Kondisi Rivaille tidak menunjukkan perkembangan itu. Bahkan Petra sempat bersumpah-serapah agar Moses masuk neraka atas perbuatannya ini. Racun macam apa yang telah melalui tubuh Rivaille saja ia tidak mengerti. Dokter juga mengatakan kalau racun itu sangat jarang ditemukan dan hampir tidak ada yang memproduksinya. Kecuali negara-negara besar seperti Amerika yang menyeludupkan beberapa kemari. Koneksi benda-benda berbahaya membuat Petra pusing. Ia hampir frustasi dengan pernyataan dokter tentang lamanya pemulihan dari efek racunnya.

Racun yang berhasil mengenai hati dan kaki suaminya bisa berakibat fatal jika salah menanganinya. Dokter juga tidak yakin hati itu akan bekerja normal kembali tanpa masalah. Prediksi adanya kerusakan organ akan diketahui setelah Rivaille terbangun. Dan entah itu kapan.

Petra tak pernah bosan duduk di samping ranjang itu. Ia menggenggam hangat tangan dingin Rivaille. Berharap dengan sentuhan sederhana itu akan menambah kemungkinan sadar lebih cepat.

Wajah gadis itu tidak terlihat cerah seperti biasanya. Sudah beberapa kali ia menolak untuk makan dan hanya meminum air putih. Walaupun Kuchel, juga ayahnya, sudah membujuk beberapa kali, tetap saja Petra keras kepala. Disaat Rivaille berusaha mempertahankan nyawanya dalam keheningan, mana mungkin ia bisa asyik-asyik makan dan menikmati keduniawian.

Denting jam terdengar menyayat benaknya. Ini sudah waktunya makan siang. Dulu, Rivaille pasti akan mengajaknya makan siang bersama di tengah kesibukan kantor. Sesibuk apapun pria itu, ia selalu meluangkan waktu makan siang bersamanya.

Petra tahu dengan pasti bahwa ia telah mendapatkan pria paling spesial di dunia ini. Meski Rivaille adalah orang yang kurang bisa bersosialisasi, keras kepala, seenaknya, tidak sopan, dan segala kenistaan yang selalu ia lakukan dengan kesadaran dirinya, nyatanya Petra menemukan sifat lain yang hanya bisa ia lihat jika berduaan dengan Rivaille.

Mengingat semua itu, diam-diam Petra tersenyum pahit. Ia juga mengeratkan genggamannya disana. Sampai setitik air kembali jatuh seperti di hari-hari lalu. Ia merasa sendiri.

"Daijoubu.." lirihnya pelan.

Tiba-tiba pintu terbuka. 2 orang muncul dari balik pintu itu. Merasa familiar, Petra segera menghapus air matanya dan menyambut kedatangan mereka dengan senyuman.

"Hange, Erwin, lama tidak bertemu."

Hange langsung memeluk Petra yang terlihat tegar di luar. Ia juga mengusap-usap punggung temannya itu dengan penuh pengertian. Sebagai sesama wanita, Hange mengerti betul apa yang sedang dialami Petra saat ini. Itulah kenapa wajahnya sangat menyiratkan kesedihan disana.

"Maaf kami baru bisa datang kemari." ucap Erwin mengakhiri pelukan Hange.

"Mm, tak apa. Lagipula.. tak ada perubahan sejak operasinya." Petra tetap berusaha menunjukkan kalau ia baik-baik saja.

"Kami sangat khawatir saat diberi tahu oleh ibunya. Tapi kami tidak bisa datang dengan segera, karena kami yakin dia akan sadar dengan cepat."

"Dia pria yang kuat, satu atau dua hari lagi pasti dia sadar. Percayalah.." Hange menimpali.

Petra membalas dengan senyuman.

"Ah terima kasih sudah membantu ibu mengurus perusahaan. Aku belum bisa kembali ke ke kantor dengan kondisi seperti ini."

"Tidak usah dipikirkan. Kami sudah seperti saudara dengan Rivaille, kau juga tahu itu kan."

Petra kembali memaksakan bibirnya untuk mengukir senyuman. Sepanjang ia mengenal Rivaille, nama Erwin dan Hange memang tidak pernah absen dalam kehidupannya. Ia dengar mereka sudah berteman sejak kecil, walaupun Petra baru mengenal kedua sejoli itu saat SMA.

Keluarga Erwin juga adalah pemilik sepertiga saham di perusahaan Rivaille. Dan keluarga Hange memang memiliki kekerabatan jauh dengan Ackerman.

"Jadi.. benar-benar tidak ada perkembangan?" pertanyaan itu terlontar begitu saja dari mulut Erwin.

Setelah menghembuskan napas perlahan, Petra berguman untuk mengiyakan.

"Aku tahu ini sangat berat bagimu, apalagi kalian baru saja menikah. Ah.. sebenarnya, apa yang terjadi sebelum kejadian itu terjadi? Kenapa Rivaille menemui Moses?"

Sebenarnya Petra enggan untuk kembali mengingat mekanisme kejadian dan penjelasan dari Kiddo yang menyaksikan langsung waktu itu. Hanya akan menjadi kenangan pahit dikehidupannya. Dan apakah ia juga perlu menceritakan kehadiran Kiddo disana?

Belum sempat Petra menjawab pertanyaan itu, tanpa disangka Kiddo membuka pintu dan masuk ke sana. Mata bocah itu berhasil membelalak. Menandakan keterkejutannya pada orang selain Petra di dalam ruangan.

"Komandan?" mulutnya refleks mengucap kata itu.

Erwin mengernyit, begitu juga dengan Hange. Tidak mengerti maksud anak itu.

"Ah! Dia anak yang aku katakan padamu Erwin! Yang aku lihat di pernikahan Rivaille waktu itu!" Hange teringat.

"Oh? Jadi dia yang mirip dengan Rivaille itu? Memang mirip sih.."

Hange mengangguk dengan senang kemudian berjalan mendekati Kiddo dan berjongkok di depannya. Masih dengan senyuman dibibirnya, Hange memerhatikan ekspresi terkejut Kiddo yang menurutnya sangat manis. Sampai ia menyadari warna manik Kiddo mirip dengan seseorang yang ia kenal.

Senyuman itu akhirnya menghilang. Wajahnya berubah serius.

"Petra.. dia, siapanya kalian?"

Petra disuguhkan dengan pertanyaan yang sulit untuk ia jawab. Jika sudah seperti ini, apa ia benar-benar harus mengatakannya pada mereka? Bahwa Kiddo datang dari masa lalu.

"Ah.. itu.."

Hange masih menunggu jawaban. Dan rasa penasaran itu juga menimpa Erwin, terlihat dari air mukanya yang tampak berbeda.

Sambil menunggu, Hange mengulurkan tangannya untuk menyentuh pipi Kiddo dengan tangan kanannya. Dan sesaat setelah wanita berkaca mata itu merasakan permukaan kulit di depannya, matanya membelalak hebat. Sesuatu di dalam dirinya menghantam dengan keras, bertubi-tubi. Keringat dinginnya mulai mengucur. Tangannya yang gemetar melepas kontaknya dengan Kiddo. Ia langsung menggunakan kedua tangan miliknya untuk menutup wajah. Badannya melemas setelah sebelumnya berteriak dengan kencang.

Sontak Erwin langsung menopang tubuh istrinya yang terkulai. Terlampau khawatir.

"A-Ada apa?!"

Dengan tangan gemetarnya, Hange memberi isyarat agar Erwin menyentuh Kiddo juga.

Walaupun sedikit bingung, ia menurut untuk melakukannya. Erwin melakukan kontak dengan menyentuh pundak Kiddo. Saat itu terjadi, matanya juga membelalak. Seperti telah melihat sebuah kenangan pahit yang datang dengan sekali hentakan. Menyuguhkan segala kisah masa lalu yang terhubung bagaikan reinkarnasi. Takdir yang terikat benang merah.

Tidak seperti Hange yang bereaksi histeris, Erwin tampak lebih tenang. Setelah berhasil mencerna apa yang ia alami sesaat setelah menyentuh Kiddo, Erwin menghembuskan napas untuk menenangkan diri. Ia juga menyuruh Hange melakukan hal itu agar ia bisa tenang.

Erwin membantu Hange berdiri dan mendudukkannya di sofa yang berada di ruangan itu, ia juga turut duduk disampingnya.

Lagi-lagi Hange menutup kedua wajahnya untuk mengumpulkan segala informasi dadakan yang baru ia dapat.

"Apa.. yang terjadi?" tanya Petra penasaran.

Kiddo menghampiri Petra, kemudian menggenggam tangannya dengan erat. Menandakan sesuatu akan ia ketahui sebentar lagi.

"Tak kusangka kau benar-benar datang kemari, Kiddo.." ucap Hange dengan lirih, mulai duduk dengan tenang tanpa menyembunyikan wajahnya lagi di balik tangan.

Kiddo membalas dengan senyuman kecut.

"Ternyata kakek benar, jika aku bersentuhan dengan reinkarnasi seseorang di masaku yang masih hidup, mereka akan mengetahui semuanya."

"Eh?" Petra kebingungan.

"Tak usah khawatir, Petra. Aku mengenal Kiddo. Dia anak Levi kan? Datang kemari untuk mencari reinkarnasi orang tuanya. Kebetulan aku dan Hange masih hidup di dunia sana, jadi jika kami melakukan kontak dengannya kami akan mengingat bahwa kami yang sekarang adalah reinkarnasi dari kami yang dulu." Erwin menjelaskan dengan penuh wibawa.

"Dia komandan pasukan pengintai, ibu " Kiddo berucap.

"Lalu.. aku dan Rivaille tidak menyadari hal itu karena kami sudah mati disana?"

"Yah seperti itulah.. Kuchel-san juga tidak ingat karena di masa kami dia sudah meninggal. Sedangkan Kaney-san sudah meninggal disini, walaupun di masa lalu masih hidup. Moses juga sudah mati disana." jelas Hange.

Petra terdiam. Berusaha memahami segalanya dengan cepat.

"Kakekmu memang hebat bisa menciptakan alat yang mempertemukan waktu. Andai saja kalau ada raksasa juga disini.."

"Hange!"

"Maaf maaf.. aku bercanda ahahaha!"

Tatapan Erwin semakin terlihat serius. Tidak menghiraukan lagi istrinya yang dulu sangat terobsesi dengan raksasa.

"Aku tidak menyangka tragedi itu bisa terjadi sampai merenggut nyawa kalian. Jika saja aku tidak seenaknya menyuruh Levi menjadi komandan dan menjalankan ekspedisi mendadak, mungkin semuanya tidak akan berakhir buruk. Kiddo juga.. tidak akan kesepian."

Kiddo mengalihkan pandangannya.

"Bukan salah anda.. komandan.."

Entah kenapa atmosfer disana menjadi tidak enak untuk membicarakan apapun. Tak ada yang memulai pula, terlalu enggan. Hanya keheningan yang tercipta, selain denting jam yang menggema tanpa diminta.

.

X

.

Banyak hal yang terjadi selama setengah bulan ini. Dan satu minggu lebih seolah terbuang percuma. Kiddo yang tengah duduk di kamar Rivaille termenung memikirkan banyak hal. Tangannya bergerak santai memainkan sebuah benda yang menghubungkannya dengan mesin waktu.

Ia tak memiliki banyak waktu lagi untuk berada di sini. Tapi apa yang harus ia lakukan? Tidak ada yang bisa mencampuri urusan takdir. Ia tidak bisa seenaknya sendiri membangunkan Rivaille dengan paksa. Ia juga tidak bisa meminta Petra menemaninya di saat seperti ini. Bahkan Kiddo masih merasa canggung untuk berbicara dengan ibunya itu jika tidak dipaksa egonya.

Tepat 2 hari setelah ia bertemu dengan Erwin dan Hange di masa ini, juga membangkitkan ikatan reinkarnasi dengan mereka di masa raksasa. Untung saja yang ia temui adalah orang-orang baik yang tidak mungkin memiliki niat buruk dengan membeberkan tentang mesin waktu atau sebangsanya. Kiddo bisa tenang akan hal itu. Ia juga mendapat tawaran bantuan jika ada hal yang sulit ia lakukan dari mereka berdua.

Hanya tinggal menunggu waktu dimana ia bisa benar-benar bersama Rivaille dan Petra. Dan entah itu kapan.

Sekarang ia hanya ditemani Mike di rumah sebesar ini. Ya meski batang hidung si kepala pelayan itu pun tidak terlihat sama sekali. Jadi bisa dibilang ia hanya sendirian.

Sebenarnya jika ia mau, ia bisa menemui Hange atau pun Erwin, juga jika ia berani tentunya.

Tak memerlukan banyak menghitung mundur untuk tahu kapan ia kembali. Itulah yang ia pikirkan dengan khawatir. Tak ada pilihan lain baginya selain memanfaatkan waktu yang ada untuknya. Jika ia mulai memikirkan kesendiriannya seperti ini, Kiddo hanya bisa menangis dalam diam. Sebagai seorang anak kecil yang bahkan belum genap 7 tahun, ia memang memiliki masalah yang lebih kompleks dari bocah seusianya. Kehilangan banyak hal, merasakan banyak hal, mengorbankan banyak hal, dan itu semua mulai terobati saat ini. Di dunia masa depan yang masih belum ia mengerti seutuhnya. Misalnya saja dengan gambar yang muncul dan bergerak dari benda persegi yang ditempel pada dinding, lemari dengan suhu dingin yang menggigit, bangunan-bangunan tinggi yang hampir mencapai tinggi dinding di dunianya, dan masih banyak lagi yang tidak begitu ia mengerti. Ia ingin sekali menanyakan itu semua pada ayah dan ibunya, tapi..

Kiddo merebahkan tubuhnya yang lelah berpikir di atas tempat tidur. Seperti malam-malam sebelumnya, Petra tidak ada disini, menemaninya. Kiddo harus tidur sendiri lagi. Semoga saja saat ia bangun, kabar baik menyambutnya. Tidak lagi memberinya harapan palsu.

.

X

.

Pukul 11 tepat. Kiddo masih meringkuk di atas tempat tidur, tertidur. Seolah sudah melakukan perjalanan jauh sehingga kelelahan, ia tidak terusik sama sekali dengan suara apapun. Cukup banyak yang ia lewatkan saat itu.

Misalnya saja kedatangan Petra dan Rivaille. Ya, Rivaille sudah sadar dari komanya. Dan pria itu langsung meminta pulang pagi ini karena mengkhawatirkan Kiddo. Meski sebenarnya ia harus mendapat perawatan lebih lanjut, Rivaille tetap memaksa dengan mengintimidasi dokter rawatnya. Itulah kenapa ia bisa berada di rumah sekarang.

Tak bisa dipungkiri lagi sebesar apa rasa senang yang terlukis di wajah Petra. Sedangkan Rivaille tampak seperti biasa dengan wajah datarnya. Pokerface yang menyembunyikan berbagai emosi.

Rivaille berhasil dipaksa untuk berbaring di kasur sebagai acara pemulihan oleh Petra. Tentu saja ia berbaring disamping Kiddo yang masih terlelap. Sebenarnya Rivaille tidak benar-benar tiduran, ia hanya menyandarkan punggungnya pada bantal tebal.

"Aku tidak suka diperlakukan seperti orang sakit.." keluh Rivaille setelah menerima sodoran air putih dan obat dari istrinya.

"Sayangnya kau memang sakit, jadi berhentilah menggerutu."

Tak ada komentar lagi selain desahan napas pasrah. Sedetik kemudian senyum Petra mengembang melihat Rivaille memakan obatnya dengan baik.

"Apa Kiddo sudah sembuh dari demamnya?" Rivaille bertanya sambil meletakan gelas yang ia pakai di atas meja nakas.

"Sehari setelah kejadian itu, demamnya sempat naik lagi. Tapi sekarang sudah lebih baik."

"Begitu.."

"Lalu.. apa kau mengalami sesuatu di bawah alam sadarmu saat tertidur begitu lama?"

"Entahlah. Aku tidak begitu yakin. Yang aku lihat hanyalah teror yang kejam."

Petra sedikit tersentak. Mungkinkah itu berhubungan dengn masa Kiddo tinggal?

"Seperti apa?"

Rivaille menyipitkan matanya untuk mengingat sekilas apa yang ia alami di alam mimpi. Ia juga memegangi kepala saking kerasnya mengingat.

"Semua yang pernah Kiddo ceritakan masuk ke dalam mimpi itu. Tapi kebanyakan aku terjebak dalam suasana kosong tanpa penghuni."

Melihat Rivaille mulai mengerutkan dahinya dalam, Petra merasa tidak enak karena membuatnya mengingat sesuatu di saat seperti ini.

"Kau baik-baik saja?"

"Aa tak usah dipikirkan."

"Tidak mungkin aku tidak-"

"Sst!" Rivaille memberi isyarat untuk diam. Tentu saja bukan tanpa alasan, ia melihat Kiddo mulai bergerak gelisah disampingnya. Pasti karena percakapan mereka tadi.

Kiddo mulai mengerang perlahan. Tubuhnya beralih menghadap ke arah Rivaille, membuat pria tak jangkung itu bisa melihat dengan jelas bagaimana wajah anak itu tidur.

Beberapa detik berlalu. Akhirnya Kiddo membuka matanya dengan sedikit enggan. Namun kemalasannya itu langsung menghilang saat berhasil menangkap objek yang memenuhi pandangannya.

Melihat Rivaille yang benar-benar ada disana, Kiddo langsung bangkit. Mata menggemaskannya membelalak sempurna. Sebuah perasaan mengalir dengan sendirinya. Ia melupakan rasa ego dan harga dirinya yang tinggi, toh ia hanya anak kecil.. tidak perlu memikirkan hal seperti itu.

Rasa senangnya tidak bisa disembunyikan lagi -seperti yang dilakukan Petra-. Tanpa perintah yang berarti, matanya langsung memproduksi air yang berlebihan di kelopak mata Kiddo. Membuat genangan itu berjatuhan karena tidak kuat menampung banyaknya air.

Kiddo menghambur pada tubuh yang ia rindukan -lebih dirindukan daripada bertahun-tahun yang ia lalui-, ia menangis sesenggukan disana.

Sangat samar, namun tetap disadari oleh Petra, Rivaille tampak tersenyum hangat. Dia menyambut pelukan bocah itu dengan usapan menenangkan di pucuk kepalanya.

"Ternyata kau cengeng ya." cibir Rivaille.

Kiddo hanya terus menenggelamkan wajahnya di tubuh Rivaille. Tentu saja tidak di daerah bekas operasi.

"Kapan pulang?" suara pelannya terdengar dari sana.

"Baru tadi pagi. Tenang saja, kita masih memiliki waktu ke depan untuk menghabiskan waktumu. "

"Kenapa tidak memberitahuku kalau sudah bangun?"

"Mike bilang kau sedang tidur. Lagi pula aku tetap tidak akan membiarkanmu datang ke rumah sakit malam-malam."

Kiddo tak menjawab lagi. Terlalu nyaman dengan posisinya.

"Kiddo, kau belum makan kan? Ayo ke bawah, kita makan. Nanti kau sakit lagi." Petra mengambil alih pembicaraan.

Rivaille menghentikan elusannya. Hal itu membuat Kiddo menengadahkan kepalanya menatap Rivaille. Saat itulah Rivaille mengarahkan dagunya dalam sekali gerakan, sebagai tanda agar Kiddo mau menurut pada perkataan Petra.

Tak ada yang bisa dilakukannya selain mengikuti arahan. Mungkin makan bersama kedua orang tuanya ini juga akan lebih menyenangkan dari pada berdebat kecil tentang hal yang sudah lalu.

.

X

.

"Rivaille, kau yakin sudah tidak apa-apa? Kau kan baru sadar kemarin malam. Yakin ibu boleh pulang ke Perancis sekarang?"

Untuk kesekian kalinya Rivaille mengangguk malas sebagai jawaban dari pertanyaan dengan embel-embel 'kau yakin' dari Kuchel. Padahal ia sudah mual terus mendengar segala bentuk kekhawatiran berlebihan yang ditunjukkan Kuchel padanya. Ayolah, Rivaille suda dewasa dan berumah tangga, tidak perlu dikhawatirkan seekstrem ini.

Melihat jawaban Rivaille yang selalu sama setiap pertanyaan, Kuchel mulai memeriksa barang bawaannya yang sudah dibawa Mike ke depan pintu.

"Baiklah, aku pergi sekarang ya! Nah, baik-baik di rumah. Jika ada apa-apa jangan lupa hubungi aku. Petra, jangan mau diapa-apakan oleh si mesum Rivaille ya. Dan Kiddo.."

Tanpa disangka Kuchel memberi elusan lembut di kepala bocah itu. Semburat merah karena senang terlihat di wajah Kiddo sekarang.

"Jadilah anak baik ya!" lanjut Kuchel.

Setelah itu ia melambaikan tangan dan berjalan menuju mobil yang sudah disiapkan. Ia memang harus cepat kembali karena tugas menumpuk di kantor, sudah terlalu lama ia membiarkan asistennya mengatasi hal-hal berat.

"Tch. Seharusnya dia tidak usah meledekku mesum segala di depan Kiddo."

"Itu kan kenyataan."

"Sebenarnya kau berpihak pada siapa huh?"

Petra tersenyum manis untuk menghindari jawaban. Dan segera mengalihkan perhatian pada Kiddo.

"Kiddo, tempat apa yang ingin kau kunjungi hm?"

Kiddo sedikit terkejut dengan pertanyaan itu. Dan seperti telah ketahuan berbohong, Kiddo melirik pada sisi lain tubuhnya. Dengan pipi bersemu merah.

"Kakek pernah bilang.. ada tempat dengan air yang rasanya asin.."

"Air yang rasanya asin?"

"Mungkin maksudnya laut."

"Laut? Jadi nama tempat itu laut ya.." Kiddo berguman sendiri.

"Karena sekarang sudah sore, kita berangkat besok saja." Rivaille tiba-tiba memutuskan.

Masih tampak bingung, Kiddo pun bertanya.

"Kemana?"

"Tentu saja ke pantai, kau ingin melihat laut kan?"

Wajah sumringan telah nampak.

"Tapi! Kau baru sembuh! Luka jahitanmu belum kering benar!"

"Kita tidak punya banyak waktu hanya untuk berdiam diri di rumah."

"Tapi-"

"Sudahlah. Tidak akan ada hal buruk yang terjadi."

"U-Um.."

.

X

.

Kiddo tampak sangat takjub dengan air berlimpah yang bergulung mendekatinya sampai menyentuh kaki kecilnya. Matanya berbinar senang merasakan segalanya. Angin pantai yang menyapanya, suara gemeresik air bernama ombak yang terdengar dari kejauhan sampai kedekatan (?), aroma laut, rasa panas yang menyatu dengan sejuknya suasana, sensasi menggelikan saat menginjak pasir, dan masih banyak lagi hal yang baru pertama kali ia rasakan.

Setelah belasan menit lalu sampai di pantai, Kiddo tidak mengalihkan perhatiannya sama sekali. Dia membiarkan Rivaille dan Petra duduk di bawah payung pantai di atas karpet yang cukup untuk 3 orang.

"Lihat bagaimana terkesannya bocah itu dengan laut."

"Mm.. memang ide yang bagus membawanya kemari."

"Makanya aku bilang tidak apa-apa."

Hening setelahnya. Keduanya asyik memandangi Kiddo dari kejauhan. Matahari saat ini tidak terlalu menyengat. Itulah kenapa mereka bisa bertahan berjam-jam berada disana, untuk menyenangkan Kiddo.

Entahlah. Bocah bersurai hitam itu sudah sangat memengaruhi hidup Rivaille dan Petra. Ikatan reinkarnasi itu membuat mereka berdua bisa merasa nyaman dengan cepat walaupun awal pertemuan mereka tidak mengenakkan.

"Waktunya sudah tidak lama lagi." Tiba-tiba Rivaille berguman.

Mendengar hal itu, Petra merubah ketenangan diwajahnya. Langit yang terlampau cerah tidak lagi membuatnya nyaman dalam kondisi ini. Begitu juga dengan kehadiran Rivaille disampingnya. Jika biasanya Rivaille akan membuat perasaan Petra lebih baik, kali ini tidak.

"Apa kita akan mendapatkan anak seperti Kiddo.." kali ini Petra yang berguman.

Rivaille sempat menoleh sebelum mengeluarkan senyuman samar dibibirnya.

"Makanya kita harus segera membuat anak agar bisa tahu akan hal itu."

"Ternyata ibumu benar tentang peringatannya, dasar mesum."

"Ini bukan mesum, ini hanya naluriku sebagai pria."

Petra mengerucutkan bibirnya karena kesal, tidak bisa membalas perkataan Rivaille barusan. Petra tidak menyadari serigala ganas nan mesum sedang berusaha sekuat tenaga agar tidak lepas kendali dan menyerang gadis itu di sini. Tidak bisakah Petra mengendalikan pesona yang ia punya agar tidak dihambur-hamburkan seperti sekarang.

Tapi menciummya saja tidak apa kan?

Rivaille menarik dagu Petra agar dapat ia raih dengan mudah. Ia langsung menempelkan bibir miliknya pada bibir Petra. Meraup keuntungan begitu banyak dengan terkejutnya Petra dalam posisi itu. Misalnya saja saat Petra ingin mengatakan protesnya, Rivaille dengam cekatan memanfaatkan kesempatan itu untuk menelusuri bagian dalam mulut si gadis. Ciuman panas di udara yang mulai panas.

Tanpa disangka Rivaille mulai menelusuri daerah lain selain bibir. Leher jenjang Petra menjadi sasaran selanjutnya. Rivaille tidak menggigit kulit mulus itu, ia hanya menghisapnya dengan lembut agar tidak membuat Petra keberatan.

Sedangkan Petra yang sudah mendapatkan serangan itu hanya bisa memejamkan mata dengan rapat dan menahan suara desahan akibat gerakan yang bisa-bisa sangat mendadak.

"Ri-Rivaille.. berhentilah.." pinta gadis itu dengan pelan.

Rivaille sama sekali tidak menggubris. Ia masih dengan lihai melakukan intimidasi yang memabukkan itu. Sampai pada akhirnya ia meringis dan melepas ciumannya.

Selain merasa lega, Petra juga tak kalah khawatir karena ringisan itu.

"Kenapa?"

"Uh tidak.. bukan apa-apa. Perutku hanya sakit kecil saja, tidak buruk."

Petra terdiam memandangi Rivaille dengan tatapan yang tak berubah. Ia harus memastikan sendiri kondisi suaminya, tidak mungkin tidak buruk jika sampai meringis seperti itu kan.

"Lebih baik kau mengkhawatirkan itu. Kalau tidak kau akan berakhir di kamar bersamaku." ucap Rivaille sambil menunjuk kemeja Petra yang terbuka di bagian atas, menampilkan sesuatu yang menonjol dari balik kemeja itu.

"Hey! Sejak kapan kau- aaaah! Dasar mesum!" Cepat-cepat Petra mengancingi kemejanya yang terbuka, melingkarkan tangan di tubuhnya agar Rivaille tidak lagi memandanginya dengan liar.

"Tidak usah histeris begitu, tadinya aku memang akan melanjutkan sampai klimaks."

Rivaille tersenyum jahil setelahnya. Mungkin ia memang harus menunggu sampai dirinya sembuh total agar tidak ada gangguan sama sekali. Yang barusan anggap saja pemanasan.

"Ah Riveille, aku lupa tidak mengatakannya padamu." Petra mengalihkan pembicaraan. Bukan sesuatu yang disengaja tentunya.

"Apa?"

"Erwin dan Hange sudah tahu semuanya."

"Semuanya?"

"Tentang Kiddo, masa lalu, dan makaud kedatangannya. Jiwa mereka terhubung dengan jiwa di masa lalu. Begitulah."

"Hm.. souka. Baguslah, dengan begitu Kiddo punya teman sebangsanya."

Rivaille kembali duduk dengan nyaman disamping Petra. Merasa adanya kesenangan tersendiri disana, Petra menyandarkan kepalanya di bahu pria itu. Menyesap diam-diam aroma tunuh maskulin yang ia sukai.

"Nee Rivaille.."

"Kenapa lagi?"

"Jika Kiddo sudah pulang.. kita akan melakukan apa?"

"Membuat anak?"

"Hey!"

"Kenapa? Dengan begitu kita bisa menghadirkan Kiddo lagi kan?"

Hening. Petra tampak berpikir sejenak. Matanya yang bercahaya saat terkena sinar matahari terlihat berbinar indah memandang lurus.

"Aku tidak mau kehilangan semua kejadian ini.."

Rivaille melirik sebentar. Ia kemudian melanjutkan dengan elusan ringan di pucuk kepala gadis itu. Berusaha membuatnya merasa lebih baik dan tenang.

Tak lama sosok Kiddo dari kejauhan mulai terlihat jelas, bocah itu berlari ke arah mereka dengan riangnya.

"Ayah! Ibu! Ini apa?" ujarnya saat sampai dihadapan mereka berdua. Napasnya yang terengah karena lelah berlari tersamarkan dengan tampak senangnya bocah itu.

Di kedua tangan Kiddo yang terulur, nampak hewan laut tak bergerak disana.

"Itu bintang laut, Kiddo."

Mendengar jawaban dari Petra, mata Kiddo semakin berbinar. Terlihat sekali kalau ia sangat senang.

Tanpa disangka Kiddo menunjukkan rasa terima kasihnya dengan ciuman di pipi keduanya. Cepat memang, karena dengan cepat pula ia kembali berlari ke arah laut.

"Ah dia manis sekali.." Petra berguman.

"Sepertimu."

"Eh?"

"Tindakan yang tiba-tiba dan tidak bisa menutupi rasa senang."

"Dia juga sepertimu kok!"

"?"

"Bermulut pedas dan memiliki harga diri juga ego tinggi."

Mendengar itu, Rivaille memandang punggung Kiddo yang terlihat kecil dari sana. Apa benar Kiddo terlihat seperti itu?

"Juga tampan."

Rivaille menoleh pada Petra lagi. Perlu memastikan ucapannya barusan.

Tanpa memandang lawan bicaranya, Petra memperjelas ucapan sebelumnya. Senyuman manis tersungging disana.

"Dia tampan sepertimu. Entah kebahagiaan macam apa yang bisa menandingi ini. Aku orang yamg beruntung bukan?"

Dan Rivaille hanya terpaku dengan kecantikan berlimpah yang tersuguh dihadapannya.

.

X

.

Kenny mulai merasa gusar setelah mendapat informasi bahwa dalang dibalik pembantaian raksasa pada manusia sudah terungkap. Bukan, bukan karena Kenny juga terlibat sebagai dalang dan ia sedang terdesak sekarang, namun yang membuatnya gusar adalah Kiddo yang tengah berkelana di masa depan.

Meskipun musuh umat manusia sudah benar-benar lenyap dan tidak ada makhluk yang perlu ditakuti lagi, ada rumor juga yang mengatakan bahwa kepolisian akan menggalakkan pemeriksaan ke setiap rumah untuk meminimalisir adanya musuh yang bersembunyi. Semua rumah akan digeledah, dan jika ditemukan barang mencurigakan akan langsung di bawa ke pusat dan dimintai keterangan.

Kenny menyimpan mesin waktu miliknya di rumah, tepat di ruang kerjanya. Jika polisi menemukan ini dan tahu apa yang sedang ia lakukan, pihak pemerintahan pasti akan menyita mesin itu dan beberapa oknum yang tertatik akan menyalahgunakan. Apalagi satu percobaan berhasil akan semakin membuat manusia ingin juga berkelana melampaui waktu.

Ia yakin bahwa Kiddo akan cukup puas hanya dengan sekali pergi. Tapi bagaimana dengan orang-orang dewasa yang serakah itu? Apalagi jika mesin waktu tercium juga oleh para bangsawan berperut besar. Pasti mereka mulai membuka bisnis petualangan dengan bayaran mahal dan mengintimidasi Kenny untuk membuat mesin yang lebih banyak. Hal paling buruk adalah, sejarah akan berubah karena keserakahan itu. Semuanya akan kacau.

Tidak ada pilihan lain bagi Kenny selain membawa Kiddo pulang dan menghancurkan mesin waktu sampai tidak ada jejak. Membakar habis mesin itu misalnya.

Tinggal 4 hari lagi sebelum kepolisian datang ke wilayah tempat tinggal Kenny. Ia harus cepat bertindak sebelum hal buruk terjadi.

Sebelum itu, ia harus menghubungi Erwin dan Hange. Ya, kedua orang itulah yang mengetahui akan hal ini dan cukup paham dengan cara kerjanya. Ia harus meminta bantuan mereka berdua untuk mengatur kepergiannya menjemput Kiddo. Meskipun Kenny yakin hal itu akan sedikit sulit mengingat pasukan pengintai adalah pahlawan yang sedang terkenal dimana-mana. Tapi jika tidak mencoba, ia tidak akan pernah tahu.

.

.

.

"Aku mengerti. Aku bisa menyerahkan tugasku pada asistenku. Dan saat keadaan tugas mendesak, aku akan bergantian dengan Hange." Ucap Erwin.

Kenny bisa bernapas lega karena hal ini. Ternyata meminta bantuan komandan pasukan pengintai tidak terlalu sulit seperti bayangannya. Mungkin karena ia datang sendiri ke kediaman si tuan Smith. Dan tidak usah ditanya lagi, Hange juga sudah berada di rumah ini sejak mereka berdua menikah.

"Aku sangat menghargai kebaikan kalian."

"Tidak usah sungkan. Aku sudah menganggapmu seperti ayahku sendiri."

"Erwin benar. Lagipula, dulu Levi juga sudah banyak membantu kami."

Kenny tersenyum pahit. Mengingat kesedihan yang ditanggung Kiddo selama ini, tak bisa dipungkiri lagi kalau ia harus melindungi anak itu apapun yang terjadi, satu-satunya keluarga yang ia miliki saat ini.

"Sekali lagi aku ucapkan terima kasih. Jika kalian sudah siap berangkat, aku menunggu di luar."

Kenny bangkit berdiri dan melangkahkan kalinya menuju luar. Semoga saja rencana ini berjalan dengan lancar.

.

X

.

Setelah mendengar penjelasan rinci tentang fungsi tombol dan segala macam kemisteriusan mesin itu, Erwin memersilahkan Kenny masuk ke dalam mesin waktu. Mesin yang terlihat seperti telepon umum di masa depan itu hanya muat ditempati satu orang.

kenny sudah siap dengan nyali dan tak lupa dengan pin kecil yang terhubung dengan mesin waktu. Tinggal menunggu Erwin menekan tombol maka semuanya akan berubah.

"Aku akan kembali 2 atau 3 hari lagi. Jika terjadi hal darurat, kau bisa tekan tombol silver itu agar aku bisa tahu."

"Ah anda menambahkan komponen itu ya?"

"Ya, dulu aku tidak yakin akan berhasil jadi tidak aku sambungkan pada Kiddo. Tapi sekarang aku sudah meningkatkan kemampuannya."

"Anda memang ilmuan yang hebat!"

Kenny tidak membawa apapun lagi. Ia siap dengan segala kemungkinan yang ia hadapi nanti.

"Tekan tombolnya." perintah Kenny pada Erwin, tidak menghiraukan mata berbinar Hange yang takjub dengan hasil temuannya ini.

Tepat setelah Erwin menjalankan intruksi itu, cahaya memenuhi ruangan. Tanda mesin sedang bekerja melawan waktu.

Bagai kecepatan cahaya. Sosok Kenny sudah menghilang dari sana. Itu artinya pria itu sedang dalam perjalanan menuju tempat tujuan di masa depan. Semoga saja ia tidak berada terlalu jauh dengan tempat Kiddo berada.

Pekerjaan menjaga mesin waktu bukanlah tugas yang mudah juga. Jika lalai sedikit saja, bisa jadi benda itu berakhir di pusat. Buruk memang.

Semuanya akan berakhir jika Kenny bisa kembali dengan Kiddo sebelum waktu polisi militer datang. Dan kehidupan normal akan segera dimulai kembali. Tanpa ketidak-masuk-akalan seperti raksasa dan mesin waktu.

.

X

.

-TBC-

.

.

.

Hyaaaaaaa ~ akhirnya dapet posisi berhenti yang enaak

Kakek Kenny mau jemput Kiddo nih! Padahal waktu kedatangannya belum sebulan penuh.. duh berkurang deh waktu kebersamaan mereka..huhuhu.. ..

Any typo? ._.

Yuk ah bentar lagi tamat niiih yohooooo

Keep waiting yaaaaaa

-author shigeyuki-