Unconditionally Plus (sequel)

.

.

.

Chapter 6

Shingeki no Kyojin disclaimer by Isayama Hajime-san

Unconditionally Plus disclaimer by author shigeyuki

Tadaaaaaaa! Author kembali~~ huhuhu lalalala :DD

Author kelamaan nongolnya ya? Hehee gomennee~ lagi sibuk pulang-pergi rumah, jadi kerasa cape binggo, agak males-males gitu ngetiknya ._.

Author juga sebenernya belum kepikiran isi chapter ini, ga kaya chapter 1 & 2 yg udah ada bayangan bahkan sebelum nulis judul dan disclaimernya..

Mungkinkah author lelah? Buahahahahaha XD

Lelah pun author bakalan namatin fict ini kok, author ga tega sama yang nunggu TvT

Tetep kasih review yg banyak yaaaa buahahahaha

Thanks alot for : Akito Brzenska, Fiiyuki, Yamasaki Naomi, BLamprouge-kun, Lilac, , aiharakotoko, MiyuTanuki, Mitha Angely

Love you guys~~

Yuk kunjungi juga fict author yg laennya~~

Sesudah fict ini tamat, mungkin author bakal bikin fict baru lagi sembari lanjut yg never find ending story. Pairing fict selanjutnya tetaplah Rivetra, tapi agak-agak nyakitin gituu biar greget -w-

Kan udah banyak tuh yg manis-manis tersuguh, jadi nanti author bikin ya yg agak kejam dikit.. dimana mereka berdua gak terlalu akur bahkan sampai mau- ah sudahlah.. kok author malah ngasih spoiler :'v mending tunggu aja fict author itu sambil terus ngikutin fict yg ini sampai tamat ^v^

Mari dinikmati *v*

Warning for this chapter : typo, abal, maksa, ada bumbu lemon gagal.

.

Apakah ini akan berakhir di chapter ini? Entahlah.. author pun tak tau haha

RnR please

Sorry for typo

Muaaaach *jijik ih._.*

.

.

.

.

.

Sehari berlalu setelah keluarga kecil Ackerman yang baru itu berlibur ke pantai. Sekarang Rivaille mulai memaksakan diri datang ke kantor. Rupanya ia sadar diri akan posisinya di perusahaan dan merasa tidak enak karena sudah terlalu lama mengambil cuti. Padahal ia bisa melakukan apapun yang ia mau, vakum setahun pun mungkin tidak akan menjadi masalah besar.

Tapi tidak untuk kali ini. Rivaille datang begitu pagi setelah diberi tahu ada orang penting yang ingin bertemu dengannya. Mungkin rekan bisnis dari luar negeri atau salah satu pemilik saham, orang penting pastilah sekitaran sana.

Biasanya Rivaille sendiri yang akan mengatur waktu pertemuan, namun sekarang untuk pertama kalinya pria itu menurut untuk segera datang ke kantor. Alasan paling kuat yang membuatnya menurut adalah suara tertahan dan gusar asistennya yang memberi kabar. Pasti ada yang tidak beres, sampai seorang Erd Gin -asisten Rivaille- yang terkenal begitu tenang dan sigap dalam pekerjaan bisa bersuara segusar itu. Jadi tanpa banyak bertanya, Rivaille langsung menyetujui pertemuannya dengan seseorang yang sudah menunggunya di kantor.

Saat akan berangkat, Rivaille tidak sempat berpamitan pada Kiddo karena anak itu masih terlelap tidur. Ia hanya bisa berpamitan pada Petra dengan memberinya ciuman sebagai sarapan. Setelahnya ia langsung melesat mengendarai mobil hitamnya ke kantor.

Saat perjalanan, Rivaille mulai memikirkan sebuah perasaan aneh yang ia alami saat ini. Terasa seperti firasat yang mengingatkannya akan sesuatu, yang tidak ia ketahui apa. Bisa jadi firasat itu akan membawanya pada hal yang menyenangkan, atau sebaliknya?

Merasakan perasaan yang membelenggu itu semakin kuat, membuatnya menggenggam kemudi dengan kasar. Dan dari kedua tangan yang bertengger disana, terlihat salah satu jarinya dihiasi cincin perak yang terlihat elegan, cincin pengikat hubungannya dengan Petra. Benda itu mengkilat sesekali saat terkena cahaya matahari pagi yang menembus kaca mobil. Membuat pria itu diam-diam merasakan sebuah kebanggaan telah mengenakan cincin itu sebagai simbol kehadiran seseorang yang spesial baginya.

Tak membutuhkan waktu yang lama untuk bisa sampai di kantor. Selain karena jalanan yang terlihat lengang, juga karena Rivaille memacu mobilnya dengan kecepatan di atas standar.

Tepat saat ia turun dan menutup kembali pintu mobil miliknya, Rivaille langsung melangkah memasuki pintu utama, juga menyerahkan kunci mobil pada bawahannya agar diparkirkan di tempat yang semestinya.

Mata kelam nan tajam itu melirik ke arah Erd yang ternyata sudah menunggunya disamping meja resepsionis. Tanpa berkata apapun, Rivaille langsung bisa menebak ada dimana orang yang ingin bertemu dengannya itu, pasti di ruangannya.

Merasa paham betul akan langkah tegap sang atasan yang meliriknya sekilas, Erd langsung mengikutinya memasuki lift.

Rivaille menjatuhkan pandangan pada jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, kemudian melirik Erd dengan tampang yang biasanya.

"Sudah berapa lama orang itu menunggu?" tanyanya.

"Menurut petugas keamanan yang berjaga disini, beliau sudah datang sangat pagi sekali. Sekitar jam 4 pagi."

Rivaille mulai merasa heran dengan siapa yang ingin menemuinya itu. Datang begitu pagi ke kantornya? Itu bukan lelucon kan?

"Kau tahu siapa dia?" Rivaille langsung menjatuhkan pertanyaan mutlak.

"Ah.. itu.."

Pembicaraan terpotong dengan terbukanya pintu lift. Hal itu memaksa keduanya untuk segera kembali melangkahkan kaki. Toh Rivaille akan mendapatkan jawaban dari pertanyaannya itu sesegera mungkin saat ini.

Sekarang Rivaille tinggal membuka pintu didepannya sekali hentakan ringan. Namun sebelum itu ia menyampaikan sesuatu pada Erd.

"Kau kembalilah ke pekerjaanmu. Aku yang akan menghadapinya sendiri."

Mengerti dengan interupsi tersebut, Erd langsung membungkuk hormat dan meninggalkan Rivaille disana.

Melihat Erd mulai menjauh dari posisinya, ia membuka pintu ruangannya yang terasa asing karena ada orang lain di dalamnya. Saat latar ruangan pribadinya itu masuk ke dalam pandangan, mata Rivaille membelalak. Ia terkaget bukan main dengan seseorang yang menunggunya disana.

Pria paruh baya yang tengah duduk menopang kaki kanannya itu sontak melirikkan mata tajamnya ke arah Rivaille.

"Kaney?"

"Ternyata disini juga kau tidak pernah mau memanggilku 'ayah'." komentar orang yang dipanggil Kaney itu.

Ya, bukan rahasia lagi jika Rivaille tidak pernah memanggil ayah kandungnya dengan panggilan yang semestinya. Jadi ya, yang ditemuinya saat ini adalah Kenny dari masa lalu. Kenny yang di masa sekarang dieja Kaney. Kenny yang memiliki maksud tertentu datang kemari.

"Tunggu, siapa kau sebenarnya?" Rivaille mencurigai sosok mirip ayahnya yang sudah meninggal itu.

"Aku yakin kau sangat familiar denganku. Kiddo juga pasti berbicara tentang aku padamu. Aku kakeknya, ayahmu di masa lalu."

Rivaille menaikkan sebelah alisnya, mulai menimbang-nimbang. Perasaan kagetnya mereda dengan cepat mengingat semua ketidak-masuk-akalan yang sudah menimpanya.

"Jadi ada keperluan apa kemari?"

"Keadaan di sana sedang gawat, jadi aku akan membawa Kiddo pulang."

"Apa?"

"Kenapa reaksimu seperti itu? Aku pikir kau akan senang karena anak itu akan pergi dari kehidupanmu."

Rivaille terdiam cukup lama. Ia juga tidak mengerti kenapa reaksi refleksnya terdengar seperti tidak terima.

"Tapi kenapa tiba-tiba? Bukankah masih ada seminggu lebih lagi?"

Kenny tampak menghela napas berat setelah pertanyaan itu meluncur dari mulut Rivaille. Sungguh bukan keinginannya memisahkan mereka begitu cepat. Tapi tak ada yang bisa dilakukan lagi, semuanya akan berakhir jika mesin waktu jatuh ke tangan pemerintah sebelum Kiddo kembali. Kiddo akan terjebak di masa sekarang dan merubah sejarah yang ada. Merubah masa depan juga. Menyalahgunakan waktu memang bukanlah hal yang bijak dari awal. Namun Kenny hanya bisa melakukan ini untuk menyenangkan cucunya, ya cucunya, satu-satunya Ackerman yang mewarisi darah murni Kenny.

"Jika dia kembali sesuai jadwal, dia tidak akan bisa pulang lagi. Aku hanya punya waktu 2 hari untuk membawanya pulang sampai polisi datang ke rumah untuk menggeledah benda mencurigakan."

"Apa tidak bisa disembunyikan?"

"Jika itu memang bisa, sudah aku lakukan dari kemarin tanpa harus datang kemari juga."

Rivaille tak berkomentar. Ia hanya mematung di posisi berdirinya. Memikirkan semua kemungkinan yang terjadi.

"Kau tidak tahu seperti apa polisi militer sekarang disana."

Pria yang masih berdiri itu mengernyit. Merasa ganjil dengan pernyataan Kenny barusan.

"Kiddo bilang polisi militer hanya dipenuhi orang-orang bejat."

"Dulu memang begitu, tapi pemerintahan sudah dirubah total setelah raja diganti. Sekarang tidak ada lagi yang namanya prajurit tanpa pengalaman tempur. Semuanya jadi semakin ketat dan adil, sedikit saja ada hal yang ganjil bisa dianggap sebagai pemberontakan."

Merasa tidak nyaman dengan posisi tubuhnya yang ditopang oleh kedua kaki, Rivaille berjalan menuju kursi dibalik mejanya. Ia sudah hampir melupakan kenyamanan menduduki kursi tersebut.

"Bagaimana kalau aku tidak mengijinkannya?"

"Mengijinkan apa? Kau kan bisa membuat anak sendiri dan menamainya Kiddo."

"Memangnya kau yakin anak pertamaku akan laki-laki?"

"Yakin sekali. Kau masih tidak percaya dengan ikatan masa lalu yang terulang kembali di masa depan? Coba pikirkan lagi, soal ayahmu disini, ibumu, Petra, dan orang-orang disekitarmu, bukanlah sebuah kebetulan mereka hidup lagi di waktu yang sama denganmu. Dan aku yakin kau sempat terkejut melihatku disini karena aku sangat mirip dengan ayahmu, bukankah begitu?"

Rivaille menyadari semua analisis Kenny saat itu. Tidak dipungkiri lagi bahwa semua ini memang terikat dengan masa lalu. Walaupun ada beberapa hal yang tampak berubah.

"Tapi aku sudah menyugestikan agak aku tidak kaget jika saja aku bertemu dengan Kuchel." tambah Kenny dengan yakin.

Tak lama, suara telepon yang ada di atas meja Rivaille berdering. Dengan sedikit malas, pria itu mengangkatnya. Baru saja Rivaille akan menyuarakan kata-kata pembuka, suara di seberang sana sudah menyerbu dengan kencang. Membuat Rivaille mau tak mau harus sedikit menjauhkan gagang telepon dari telinganya.

"Kenapa kau pergi ke kantor sekarang hah?!"

Suara kencang yang sangat familiar bagi Rivaille itu berhasil ditangkap oleh Kenny juga.

Dan seperti telah termakan oleh perkataan sendiri, tubuh Kenny sedikit menegang dan ekspresinya berubah total. Tersirat sebuah rasa ambigu diwajahnya.

"Apa itu.. Kuchel?"

Rivaille mengangguk dengan sebelah alis yang terangkat, menandakan bahwa ia menyadari perubahan total Kenny. Ia juga sengaja memberikan gagang telepon pada Kenny yang mulai mendekati mejanya. Mungkin saatnya melepas rindu yang berkepanjangan bagi Kenny.

"Untuk apa ada asisten dan bawahanmu hah? Bukankah jahitan lukanya belum kering? Harusnya kau memikirkan kondisimu yang seperti itu! Dari dulu kau sulit sekali diperingatkan! Harus sebanyak apa lagi aku merecokimu hah?!"

Rivaille menopang dagunya dengan tangan kanan. Menyaksikan bagaimana ekspresi Kenny mendengar rentetan petuah yang sebenarnya untuk dirinya itu. Mungkin ocehan itu malah menjadi hiburan bagi pria di hadapannya.

"Hey Rivaille! Aku berbicara padamu! Kau masih disana kan?!"

Kenny tetap terdiam.

"Kau bilang kau sudah buat sugesti agar tidak kaget jika bertemu dengannya. Ini baru mendengar suaranya kau sudah seperti ini." tiba-tiba Rivaille berkomentar.

Tak ada reaksi yang berarti. Pria paruh baya itu tetap teguh pada kebungkamannya.

"Jika kau tidak akan bicara apapun padanya, sebaiknya kembalikan itu padaku."

Meski sedikit ragu, akhirnya Kenny memberikan telepon yang ia genggam pada Rivaille. Itu akan lebih baik daripada terus berdiri mematung hanya karena merindukan ocehan ringan yang telah lama tak ia dengar.

"Aku tutup teleponnya ya?"

"Hey! Tunggu dulu! Aku belum selesai bicara!"

"Apa lagi?"

"Ada siapa disana?"

"Hah? Hanya klienku. Kenapa memang?"

"Entahlah.. aku rasa.. ada hawa ayahmu disana.."

Kali ini Rivaille yang terdiam. Sejenak ia menatap ke arah Kenny yang tengah berjalan untuk kembali duduk. Jadi ini yang namanya ikatan masa lalu itu? Menarik.

"Mungkin perasaan ibu saja. Karena merindukannya."

Helaan napas terdengar dari seberang telepon. Sebelum dilanjutkan dengan..

"Mungkin kau benar.. sudah lama juga.."

Rivaille berusaha untuk turut merasakan kesepian ibunya. Ya meski ia juga terkenal dengan hati batu, tetap saja Rivaille masih memiliki sisi kemanusiaan dimana ia merasakan empati tanpa harus dipaksakan.

"Aku tutup sekarang ya?"

"Ah baiklah. Jaga dirimu."

"Mm."

Dan telepon pun terputus.

Perasaan campur aduk tengah dialami Kenny sekarang. Tentang Kuchel, tentang benda yang ia gunakan untuk mendengar suaranya, dan tentang berbagai benda asing yang ia lihat selama berada disini. Tentu saja ia merasa takjub. Tapi sungguh, ini bukanlah saatnya untuk tertarik mempelajari lebih lanjut.

Terlepas dari hal itu, tepat setelah Rivaille menyamankan posisi duduknya, telepon kembali berdering. Dengan sedikit kesal ia mengambil gagang telepon itu dan menempelkannya di telinga lagi.

Hampir semua telepon yang ia dapat hari ini selalu berawal dari terdengarnya suara lawan bicaranya yang tergesa-gesa. Entah sejak kapan tata krama mulai luntur disana.

"Rivaille! Gawat!"

Kali ini yang terdengar adalah suara Petra. Suaranya terdengar panik, sangat panik.

"Kenapa?"

"Tadinya aku akan pergi ke super market untuk membeli kebutuhan rumah, tapi saat aku baru sampai gerbang, disana banyak wartawan. Dan mereka.. menanyaiku soal Kiddo."

"Kiddo?"

Kenny bereaksi dengan nama itu, ia langsung berdiri menatap Rivaille dengan penasaran.

"Dari mana mereka tahu?"

"Aku tidak tahu.. tapi mereka langsung bertanya siapa dia, dari mana asalnya, apa hubungannya dengan kita."

"Lalu kau jawab apa?"

"Aku.. ditolong oleh Mike yang langsung membawaku ke dalam. Jadi aku belum sempat menjawab apa-apa. Tapi mereka masih disana sekarang, bahkan jumlahnya sedikit bertambah."

"Jangan keluar rumah apapun yang terjadi. Tunggu aku pulang, baru kita akan memikirkan jalan keluarnya. Lagipula.. Kiddo dijemput oleh kakeknya."

"Eh? Dijemput?"

"Kakeknya bersamaku sekarang."

"A-ah.. begitu ya.."

"Ingat pesanku tadi, aku akan pulang sebentar lagi jika tidak ada masalah."

"Baik, aku mengerti."

Untuk kedua kalinya Rivaille menutup telepon. Ia langsung menjatuhkan pandangan pada Kenny yang juga sedang menatapnya.

"Kapan Kiddo harus pulang?"

"Besok adalah hari terakhir."

Rivaille menghela napas dengan enggan, ada sebuah perasaan yang tertahan disana, tepat setelah mendengar jawaban dari perwujudan ayahnya itu.

"Berdoalah agar tidak ada masalah yang bisa menunda kepulangannya."

"Apa yang terjadi?"

"Mungkin kau tidak tahu. Jika di duniamu musuh berbahaya adalah raksasa, kalau disini musuh berbahaya adalah wartawan dan paparazzi. Mereka bisa menghancurkan hidupmu."

"Apa itu yang akan menghalanginya?"

"Aa, entah siapa yang memulai menggosipkan ini."

Rivaille berdiri, berjalan mendekati jendela besar dibelakangnya. Memandangi sekilas tatanan gedung di luar sana, juga deretan orang yang terlihat berkumpul di satu titik di halaman kantornya. Pasti itu wartawan juga, mereka membagi tugas untuk semua ini ternyata. Jangan-jangan hal yang lebih buruk telah terjadi tanpa ia sadari. Lebih buruk dari ancaman diwawancarai.

"Ah aku lupa untuk menyuguhkan minuman untukmu." Rivaille berguman, tanpa membalikkan tubuhnya pada orang yang diajak bicara.

"Tidak usah dipikirkan. Lebih baik kau memikirkan kertas-kertas ini. Aku tidak terlalu mengerti dengan tulisannya karena berbeda jauh dengan bentuk tulisan kami, tapi aku yakin ini tentangmu."

Merasa kurang mengerti dengan pernyataan Kenny, akhirnya Rivaille berbalik, mendapati Kenny tengah memerhatikan koran pagi yang entah sejak kapan berada di atas meja di depan kursi yang Kenny duduki.

Perasaan buruk mulai tercipta dengan sendirinya. Rivaille mendekati objek yang membuatnya tertarik. Ia langsung mengambil koran di tangan Kenny, membacanya baik-baik.

Di koran itu tertulis namanya, juga nama Petra. Anak diluar nikah? Hubungan gelap? Hey, siapa orang bodoh yang berani mencari masalah dengan seorang Ackerman? Tanpa mengonfirmasi kebenarannya pula. Cari mati dia.

"Sialan.."

"Apa itu berita buruk tentangmu?"

"Kiddo juga."

"Kiddo? Kalau begitu, aku harus cepat membawanya pulang."

"Apa hubungannya dengan pulang?"

"Ah kau belum diberitahu oleh Kiddo? Kalau anak itu kembali, ingatan kalian tentangnya akan hilang. Begitu juga dengan orang lain yang pernah melihatnya."

Dan pernyataan itu berhasil membuat Rivaille membelalakkan mata dengan otomatis. Ada sebuah rasa tidak terima di dalam benaknya, yang enggan untuk muncul.

.

X

.

"Ibu? Siapa orang-orang diluar?" Kiddo yang baru saja selesai mandi dan berpakaian mulai menyadari kebisingan yang berasal dari orang-orang di depan gerbang rumah.

Petra gelagapan untuk menjawab pertanyaan yang ia dapat. Ia tidak mau membuat Kiddo khawatir akan kondisi yang mereka hadapi saat ini. Ditambah kenyataan bahwa anak itu tak lama lagi akan pulang ke masanya.

"Mereka hanya orang-orang yang mencari berita terbaru."

"Lalu kenapa mereka berkumpul disini? Memangnya sumber beritanya ada disini?"

"Ibu tidak tahu. Mungkin mereka hanya menumpang tempat disana.."

"Begitu.."

Perasaan Petra semakin kalut setiap detik berlalu. Semua itu terjadi karena banyaknya masalah hari ini. Baru saja ia mendapat koran yang disodorkan Mike. Dan koran itu berisi berita miring tentang Rivaille.

Sungguh, Petra tidak mau mengalami ini semua. Ia sangat tahu bagaimana baiknya reputasi keluarga Ackerman, jadi tidak mungkin mereka membiarkan hal seperti ini terjadi. Apalagi pada Rivaille, orang yang paling berpengaruh di marga itu saat ini. Kuchel juga pasti sudah mendengar tentang berita miring ini, tapi berusaha tenang karena tahu semua itu tidaklah benar. Kuchel mengetahui semuanya, tentang apa yang terjadi dan latar belakang munculnya gosip itu.

Jika saja mereka lebih hati-hati saat bersama Kiddo, mungkin tidak akan ada serangan mendadak seperti sekarang.

Dari waktu yang berlalu dengan lambat, Petra yakin Rivaille juga mendapati kerumunan wartawan itu di kantor. Terjebak dan sedang mencari jalan tersembunyi agar bisa lolos tanpa harus menjelaskan apapun. Yah, jika menjelaskan apa yang terjadi pun, para wartawan itu pasti tidak akan percaya tanpa adanya bukti. Satu-satunya objek yang membuat mereka yakin adalah Kiddo, sebagai anak yang tiba-tiba tertangkap mata orang lain dan memanggil ayah dan ibu pada pengantin baru Ackerman.

"Kiddo, jika kau pulang.. tetaplah ingat pada kami ya.."

"Ah? Um.. tentu.."

.

X

.

Ini sudah melewati siang. Tapi Rivaille dan Kenny masih berada di kantor, terjebak oleh wartawan yang terus berdatangan.

Pihak keamanan sudah mencoba menghampiri kerumunan wartawan itu, tapi selalu berakhir dengan serangan berjuta pertanyaan yang bersangkutan dengan sang presiden direktur. Jadi tak ada pilihan selain bertahan beberapa jam lagi agar setidaknya volume banyaknya wartawan berkurang dengan sendirinya.

Rivaille sudah menghabiskan waktu dengan menelaah proposal yang tersuguh di meja kerjanya, menandatangai beberapa berkas, mengoreksi kesalahan berbagai data, bahkan meminum beberapa cangkir kopi sudah ia lakukan untuk menghabiskan waktu menunggu orang-orang diluar sana bubar. Sedangkan Kenny tidak bisa melakukan banyak hal selain menikmati kopi di masa depan dan pemandangan dari balik jendela ruangan ini. Gedung-gedung yang menjulang tinggi disana mengingatkannya pada raksasa, di masanya.

Rivaille mengetuk-ngetuk meja di hadapannya dengan bosan dan setengah kesal. Waktu sudah menunjukkan pukul 2, dan ia benci harus mengingkari perkataannya sendiri tentang 'pulang cepat'.

Kegelisahan yang ia rasakan melebihi kegelisahan yang pernah ia alami sebelumnya. Mungkinkah karena kali ini menyangkut seorang bocah?

"Sebenarnya kenapa harus kau sendiri yang menjemput Kiddo?" Rivaille memulai percakapan.

"Benda yang Kiddo bawa sebagai penghubungnya dengan mesin waktu tidak bisa membawanya kembali dengan cepat."

"Ah baiklah terserah, lalu apa kalian juga akan lupa tentang semua ini?"

Terdapat jeda untuk Kenny menjawab.

"Tidak. Karena kami yang menjelajah waktu."

"Alasan yang aneh. Memangnya tidak bisa kalau kami juga tetap ingat?"

"Jika kalian ingat, kalian akan terus memikirkan masa lalu, melupakan masa depan, dan itu juga bisa merubah sejarah. "

"Sejarah? Bukankah kalian yang tetap ingat yang akan mengubah sejarah. "

"Itulah resiko mesin waktu, kami sudah sepakat untuk kembali seperti semula jika misinya berhasil."

"Aku tetap tidak terima."

Kenny melirik sebentar. Tak ia sangka bahwa Rivaille akan tidak terima akan hal ini.

"Aku hanya minta satu hal padamu." Rivaille melanjutkan.

"Apa?"

"Jangan biarkan Petra tahu kalau kami tidak akan ingat apa-apa."

Kenny tersenyum kecut sebelum mengiyakan permintaan dari Rivaille. Ya, permintaan.. bukan perintah.

.

.

X

.

.

Di jam yang sama, dalam masa yang berbeda. Irvine yang baru kedatangan Hange di kediaman Kenny terlihat mulai gusar. Kedatangan Hange adalah untuk menyampaikan berita bahwa polisi militer mempercepat waktu pemeriksaan di derah ini. Hanya perlu menunggu kapan mereka sampai disini.

"Kita harus menyampaikan ini pada Kenny-san." Hange memutuskan.

"Kau benar, tekan tombol itu."

Berhasil.

Mereka yakin Kenny pasti menerima tanda itu. Tak bisa dipungkiri lagi bahwa keadaan kali ini mendekati kata darurat. Tanggung jawab mereka berdua akan mesin ini memang menentukan segalanya. Mereka hanya tinggal menunggu Kenny dan Kiddo kembali untuk bisa mengakhiri semuanya. Semua ketidak-masuk-akalan yang tetap bersemayam di benak masing-masing.

.

X

.

Setengah jam berlalu, Rivaille yang terus berjalan mondar-mandir akhirnya memutuskan untuk mempertaruhkan kesabarannya agar bisa kembali ke rumah. Ia langsung menyuruh Erd untuk menyiapkan mobil di depan pintu utama. Setelah itu ia akan langsung tancap gas menuju gerbang dan kabur, kabur dari masalah yang sebentar lagi akan hilang ditelan bumi, bagai tak pernah terjadi sebelumnya.

Rivaille memberikan syal dan topi pada Kenny, agar pria itu tidak menunjukkan wajahnya pada karyawan lain. Ya meski beberapa dari mereka sudah sempat menyadari kemiripan Kenny dengan presiden direktur terdahulu.

Tanpa pikir panjang lagi Rivaille -juga Kenny- keluar dari persembunyian. Dengan cepat memasuki mobil yang sudah disiapkan dan langsung menerobos gerbang tepat saat pagar besi itu dibuka lebar-lebar dan para wartawan berhambur mendekat. Untung saja keamanan kantornya membantu menyingkirkan orang-orang gila berita itu. Dengan begitu Rivaille -yang memang sudah sangat lihai mengendarai mobil- bisa lolos dengan mulus tanpa harus mendapat serbuan pertanyaan membabi-buta. Tinggal menunggu waktu sampai ke rumah, dan menghapuskan semua masalah di kedua belah pihak.

Saat beberapa menit melewati jalan raya, sebuah cahaya menerobos dari dalam saku mantel yang dikenakan Kenny.

Rivaille sontak memastikan asal cahaya itu dari kaca spion.

"Apa itu?"

Kenny mengeluarkan benda dari dalam sakunya, memperlihatkan sumber cahaya yang terlihat.

"Ah sepertinya aku harus cepat membawa Kiddo pulang. Irvine memberi tanda ini sebagai peringatan."

.

X

.

Kiddo tak henti memerhatikan orang-orang di luar sana dari balik jendela. Ia yakin kalau mereka semua pasti ada hubungannya dengan Rivaille dan Petra, itulah kenapa mereka ada disana. Intuisi yang tajam membuat Kiddo merasakan hal lain yang membuat perasaannya tidak tenang. Sesuatu telah menunggunya. Entah itu apa.

Kiddo melirik pada Petra yang duduk tak jauh dari tempat ia berdiri, tengah sibuk dengan kertas-kertas di hadapannya.

"Ibu.."

"Mm?"

"Perasaanku tidak enak."

Petra sedikit tersentak. Ia berhenti memokuskan diri pada rangkaian paragraf yang tersuguh didepannya. Kali ini Kiddo yang lebih menjadi fokus.

"Kenapa?"

"Aku tidak tahu."

Petra berusaha untuk tersenyum sebisa mungkin.

"Semuanya akan baik-baik saja."

Melihat senyuman dipaksakan yang terlihat di wajah Petra, Kiddo semakin merasa akan ada sesuatu yang terjadi.

Tak lama pintu ruangan itu terbuka dengan tiba-tiba. Menampilkan Rivaille dan Kenny yang berjalan tergesa menghampiri keduanya.

Kiddo terbelalak kaget, mendapati Kenny juga berada disana.

"Kakek?"

Petra menatap Rivaille penuh arti, dan dibalas juga oleh yang ditatap.

"Kita harus pulang."

Satu perkataan itu membuat Kiddo meyakini perasaan tidak enaknya yang tertanam sejak tadi. Itu sudah terdengar bagaikan vonis kematian baginya.

"Polisi militer akan menemukan mesin waktunya jika kita tidak kembali dengan cepat. Setelah itu, aku akan hancurkan mesinnya." Kenny melanjutkan, tahu kalau Kiddo pasti meminta penjelasan lebih.

Kiddo menunduk. Perasaan kalut menyerangnya.

"Ibu juga sudah tahu?" Kiddo bertanya dengan pelan.

Merasa jawaban yang Petra berikan pastilah 'iya', Kiddo melanjutkan mulutnya berucap.

"Kenapa tidak memberitahuku.."

"Kiddo mengertilah, kita tidak memiliki banyak waktu." Kenny memotong.

Melihat kondisi yang dihadapi saat ini, Rivaille berjalan mendekati Kiddo. Ia berjongkok didepannya.

"Cepat atau lambat kau memang akan pulang kan." Rivaille mengawali.

Dengan tenang Rivaille menunggu Kiddo mengatakan sesuatu. Saat itu Petra juga mendekatinya, mengusap pelan pundak Kiddo yang terlihat bergetar menahan emosi. Sentuhan itu memang sedikit menenangkan bocah itu, hanya sedikit. Nyatanya Kiddo masih menahan ucapannya dengan cemberut sebagai aksi protes.

"Tapi kalau secepat ini.."

"Ini demi stabilnya masa lalu dan masa depan. Masalah akan muncul di masamu jika kau tetap disini."

Kiddo kembali menunduk. Ia menekan segala keegoisan yang terbenam dalam dirinya. Elusan kembali ia dapat. Saat menengok ke arah Petra berada, Kiddo mendapati ibunya itu tengah tersenyum menenangkan. Sebuah perkataan hangat terdengar selanjutnya.

"Reinkarnasimu nanti akan menggantikan posisi ini, sebuah ikatan takdir tidak akan putus dengan mudah bukan? Dengan kedatanganmu kemari, kami jadi semakin mengerti bagaimana ikatan itu terjalin. Kami tidak akan melupakanmu, tentu saja."

Kiddo mengangkat wajahnya, ia langsung menatap Rivaille dan Kenny bergantian. Dari tatapan balasan yang ia dapatkan, Kiddo mengerti bahwa Rivaille sudah tahu tentang ingatan yang tidak akan tersisa pada mereka jika ia pulang. Entah Kiddo mendapat kemampuan tatapan itu darimana. Analisis yang tajam memang sudah menjadi bibit Ackerman dari dulu.

Tanpa disangka Kiddo mengangguk mengerti. Meski air yang mengembun di matanya itu masih belum hilang, Kiddo mulai meneguhkan keharusannya untuk pulang.

"Aku tahu tidak akan sulit membujukmu, kau kan anak yang baik, Kiddo."

Kiddo tersenyum pahit mendengar ucapan Rivaille. Tapi bukankah perkataan itu hanya akan membuat Kiddo semakin enggan untuk pulang? Sayangnya tidak ada pilihan dalam tantangan kali ini. Hanya ada satu akhir yang akan terjadi. Maka dari itu, Kiddo hanya bisa mengikuti alur yang disuguhkan.

"Terima kasih untuk semuanya. Aku tidak akan lupa tentang semua ini, aku janji."

Kenny bernapas lega karena keputusan Kiddo yang tidak aneh-aneh, tidak seperti anak kebanyakan yang akan menolak mentah-mentah jika diminta untuk berpisah dengan orang tuanya.

"Ibu, maaf sudah menyita waktu begitu banyak, merepotkanmu, membuatmu tidur malam hanya untuk menungguku tidur, melakukan banyak hal untukku, direpotkan olehku, mengganggu hidup tenang kalian.."

Kali ini Kiddo benar-benar terisak, tidak bisa lagi menampung air mata di kedua matanya.

Petra terenyuh. Gadis itu langsung memeluk Kiddo dengan erat, seakan tidak memperbolehkan siapa pun membawanya pergi.

"Kau sama sekali tidak mengganggu kami, sungguh.."

Kiddo membenamkan wajahnya di pundak sang ibu. Melakulan hobi Rivaille yang suka menyesap aroma tubuh Petra yang lembut.

Tak lama Petra melepas pelukan itu. Ia melanjutkan dengan menyeka air mata bocah didepannya.

Setelah selesai, Kiddo kembali menghadap pada Rivaille yang masih dalam posisi yang sama. Tak ada perubahan ekspresi sama sekali. Tidak seperti pada Petra, kali ini Kiddo sendiri yang menunggu Rivaille mengatakan sesuatu. Karena ia tahu sebanyak apapun ia bicara, tidak akan ada gunanya sama sekali. Semuanya akan terhapus. Jadi lebih baik Kiddo yang mendapat banyak bekal kata-kata. Ditambah lagi Rivaille memang sudah tahu tentang hilangnya ingatan selama Kiddo bersama mereka dari Kenny.

Mengerti dengan maksud Kiddo yang terdiam menatapnya, akhirnya Rivaille mengeluarkan suara.

"Kau sudah cukup besar untuk mengerti apa yang benar dan yang salah. Jadi kurasa tidak ada yang perlu aku katakan lagi soal itu."

Rivaille terdiam sejenak. Memberi jeda bukanlah ide yang buruk.

"Kau akan mengingat yang terjadi disini. Jadikan itu bekal untuk kau hidup disana. Pegang tanggung jawabmu karena telah mempermainkan waktu. Menentukan keputusan memang sulit, tapi buatlah keputusan tanpa rasa penyesalan sesudahnya. Dan terakhir.."

Dentingan jam mendominasi kesunyian yang sengaja dibuat.

"Lakulanlah apa yang ingin kau lakukan."

Perkataan Rivaille diakhiri dengan tangannya yang menggenggam tangan Kiddo. Tangan kecil itu hanya terasa separuh dari besar tangannya sendiri. Sensasi menggelikan terasa tatkala ia memainkan jemari itu dengan pelan.

Kiddo mengakhiri genggaman itu karena ia lebih memilih untuk memeluk sang ayah. Kali ini tak ada tangisan darinya. Ia memang terlihat lebih tegar jika dihadapkan dengan Rivaille. Nalurinya berjalan agar bisa kuat seperti ayahnya.

Awalnya Rivaille hanya menerima pelukan itu tanpa membalas apa-apa. Ia termangu sendiri karena itu. Namun tak lama kedua tangannya bergerak melingkar di tubuh Kiddo yang kecil. Memberi tanda perpisahan yang akan ia lupakan dengan cepat dan akan diingat Kiddo sepanjang waktu. Setelah ini, semuanya akan kembali seperti semula. Seperti sebelum mereka mengenal Kiddo.

Kiddo membuka matanya yang tadi terpejam. Ia langsung menangkap Kenny dalam pandangannya. Saat menyadari itu, Kenny mengangguk pelan sebagai isyarat sekaranglah waktunya.

Mau tak mau Kiddo melepas pelukan yang diawali olehnya tadi. Sebuah senyuman sekarang ia lukis di wajahnya. Menyiratkan kesiapannya untuk pulang.

Rivaille berdiri kembali, menyaksikan Kiddo berjalan menuju Kenny.

Berbaliklah Kiddo menghadap ke arah Rivaille dan Petra. Ia juga bersiap dengan menggenggam tangan Kenny yang ada disampingnya. Penjelajahan waktu akan berakhir di sini.

"Aku menyayangi kalian berdua." ucap Kiddo akhirnya.

"Kami lebih menyayangimu, Kiddo.." Petra membalas dengan siratan kesedihan di wajahnya.

Kenny menyentuh benda yang terhubung dengan mesin waktu miliknya. Seketika cahaya menyelimuti tubuh Kenny dan Kiddo bersamaan.

"Jaga dirimu baik-baik!" Petra kembali berseru.

Sedangkan Rivaille telah kehabisan kata untuk disampaikan. Atau bingung mau mengatakan apa pada bocah itu?

Akhirnya Rivaille hanya bisa memberikan senyuman sampai Kiddo dan Kenny termakan oleh cahaya terang yang terlihat. Senyuman itu pastinya tidak akan pernah dilupakan oleh Kiddo. Sampai kapan pun.

Tepat setelah cahayanya lenyap dari pandangan, Petra memegangi kepalanya karena merasa pusing. Melihat hal itu Rivaille langsung memegangi Petra yang terhuyung karenanya. Keduanya dalam keadaan yang tidak bisa dikatakan baik. Otak mereka sedang dipaksa menghapus memori beberapa pekan ke belakang, terlebih memori yang mendekatkan mereka dengan Kiddo.

Meski terlihat baik-baik saja, Rivaille sebenarnya juga merasakan pening yang teramat sangat menyerang kepalanya. Tapi nyatanya rasa itu berhasil ditahan oleh kekhawatirannya pada Petra.

"Kau baik-baik saja?"

"Entahlah.. mungkin aku hanya butuh istirahat sebentar. Aku merasa telah mengalami sesuatu yang tidak aku ketahui itu apa.."

"Kalau begitu, aku akan membawamu ke kamar. Sepertinya aku juga akan istirahat sejenak."

"Um.."

.

X

.

"Syukurlah anda kembali dengan cepat setelah aku mengirim sinyal itu, setengah jam lagi polisi militer akan memasuki kawasan ini." Irvine berseru setelah mendapati Kenny dan Kiddo sudah kembali melalui mesin waktu itu. Dengan begini misinya telah selesai.

"Sekarang apa yang akan kita lakukan dengan mesin waktunya?" tanya Hange.

Setelah memastikan telah mendudukkan Kiddo di salah satu kursi, Kenny pun menjawab dengan serius.

"Hancurkan mesin itu."

"Eh? Apa anda yakin? Bukankah anda sudah membuat ini dengan bersusah payah? Tidak mudah untuk membuat-"

"Semuanya salahku karena telah mempermainkan jaman dengan seenaknya. Tidak boleh ada yang melakukan percobaan ini lagi. Aku harus memastikan tidak akan ada lagi yang menjelajah waktu setelah ini. Jadi, Kiddo.. maafkan kakek.."

Kenny meraih palu yang berada tak jauh darinya, memukulkannya pada mesin waktu. Suara dentuman keras dan sesekali suara kabel yang terlutus terdengar. Setelah membuat benda persegi itu penyok, barulah Kenny menodongkan benda seperti pistol yang terlihat misterius. Benda itu adalah penemuannya juga. Pistol yang bisa melelehkan benda dengan cepat hanya dengan sekali menarik pelatuknya.

Kiddo menatap dengan tatapan tanpa semangat. Tanpa tertarik sedikitpun, ia menyaksikan bagaimama benda yang sudah berhasil membawanya pada kebahagiaan sekarang meleleh menjadi zat cair. Yang ia pedulikan hanya sebuah benda didalam saku celananya, benda yang sengaja ia minta dari Rivaille kemarin malam. Sebuah bolpoin. Bolpoin hitam dengan garis emar maskulin dengan lambang Arck. Corp terpampang disana. Kiddo tahu benda itu adalah benda dari masa depan yang tidak mungkin ditemukan disini. Dan akan sangat jadi masalah jika Kiddo memperlihatkannya pada orang lain dan merubah sejarah. Karena itu, Kiddo akan menyimpannya sendiri. Dan jika ia sudah tua nanti, ia akan menggunakan pistol milik Kenny untuk melenyapkan benda itu. Dengan begitu bukti sejarah akan terhapus. Yang ada hanyalah ingatan kecilnya tentang semua yang terjadi disana. Sendirian.

.

X

.

Malam menjelang. Disaat orang-orang bersiap untuk tidur, Petra malah bangun dari tidurnya sejak sore tadi. Kepalanya yang pusing sudah terasa membaik. Ia ingat saat ia tidur, Rivaille berada disampingnya. Tapi kemana pria itu pergi sekarang?

Gorden sudah menutupi jendela dan lampu tidur sudah menyala. Cahaya temaram dari lampu duduk di samping tempat tidur membuat pandangan Petra sedikit tersamarkan. Juga membuatnya tidak menyadari bahwa Rivaille ada di kursi sofa tunggal di samping jendela, tengah duduk santai sembari menikmati secangkir kopi hitam.

"Kau sudah bangun?"

Barulah Petra menyadarinya saat suara pria itu menegur.

"Rivaille? Ini jam berapa?"

"10 malam."

Petra menyamankan duduknya di atas tempat tidur. Tapi seperti apapun ia akan tetap nyaman berada di kasur empuk yang disuguhkan keluarga Ackerman.

Rivaille menyesap kopinya sekali lagi, sebelum akhirnya meletakan cangkir itu di atas meja. Ia merasa menemukan hal yang lebih menarik daripada kopi.

Ia bangkit berjalan dan duduk dipinggiran tempat tidur. Dalam diam ia meraih tangan yang tergeletak bebas milik Petra, memainkan jemarinya, lalu mengecup tangan itu dengan lembut.

Pandangannya kini berhasil terkunci pada Petra.

"Kau tau? Aku merasa kehilangan sesuatu." ucapnya memulai lagi pembicaraan.

"Ini mungkin aneh.. tapi aku juga merasa kehilangan sesuatu."

Rivaille tak terkejut sama sekali. Apa lagi menganggap perkataan Petra terdengar aneh. Ia memaklumi dengan sendirinya.

"Aku ingin menemukan sesuatu yang hilang itu." Rivaille berguman. Ia mulai merangkak menaiki tempat tidur. Mendekatkan diri dengan Petra.

"Dimana kau bisa menemukannya?"

"Di dalam dirimu."

Tanpa menjelaskan apapun, Rivaille memulai dengan mencium lawan bicaranya dengan lembut. Ia begitu menikmati bagaimana wangi tubuh si gadis langsung menyeruak di indera penciumannya saat ia semakin menyatukan diri dengan Petra. Ciuman itu terasa singkat karena Petra ternyata menuntut penjelasan atas pernyataan ambigu yang diberikan Rivaille sebelumnya.

"Kenapa ada padaku? Aku tidak mengerti."

"Kau tahu, Petra? Kita belum melakukan lebih jauh lagi selama ini."

"A-ah? Maksudmu?"

"Sudahlah. Aku tahu kau tidak sepolos itu, Petra."

"Ta-tapi-"

Rivaille langsung membungkam mulut gadis itu dengan mulutnya. Ciumannya tidak lagi lembut. Kali ini lebih menuntut dan tegas. Disaat Rivaille memiliki kesempatan mendapatkan celah, ia langsung memasuki celah itu dengan lidahnya. Mengabsen segala yang tersimpan disana.

"Ri-umm-"

Petra sama sekali tidak mendapat kesempatan untuk mengajukan protes. Dalam bentuk apapun. Lagi pula..

"Aku akan benar-benar melanjutkannya kali ini, apa boleh?"

Tak disangka Rivaille mengambil jeda untuk meminta ijin. Padahal Petra yakin walaupun ia menolak, Rivaille akan tetap melanjutkannya.

"A-aku tidak bisa menolak kan?" Semburat merah terlihat. Berhasil membuat Rivaille menyeringai dengan sendirinya.

Tanpa interupsi lagi, Rivaille melanjutkan aksinya. Dimulai dengan bibir, dilanjutkan tanggalnya kemeja putih yang dikenakan Petra.

Tangannya mulai menjamah ke beberapa tempat. Sepertinya Rivaille memang bermaksud untuk melanjutkannya sampai klimaks.

Permainan baru dimulai. Tapi desahan tertahan mulai dikeluarkan Petra saat bagian-bagian tubuhnya yang sensitif merasakan sentuhan asing kulit seseorang. Sudah tak terhitung lagi berapa banyak jejak kemerahan yang dibuat oleh Rivaille di sepanjang leher sampai dada gadis itu. Rivaille sibuk menghisap segalanya. Tangannya yang satu ia guanakan untuk mengencangkan objek hisapannya, dan tangannya yang lain ia gunakan untuk mencari satu lubang yang akan ia jamah sebentar lagi.

Lampu yang memang temaram membuat Petra tidak peduli bahwa sekarang dirinya tidak mengenakan apapun di tubuhnya. Entah sejak kapan Rivaille bisa melepaskan benang-benang itu dengan cepat.

Petra mengerang. Ia merasakan ada sesuatu yang masuk melalui lubang di tempat miliknya.

Sedangkah Rivaille, yang masih menghisap objek yang ia pegang mulai merasakan rasa hangat karena satu jarinya berhasil menembus lubang sempit itu. Perlahan namun pasti, ia menambah jarinya yang masuk, agar miliknya nanti bisa masuk dengan mulus tanpa harus mengulang.

Erangan kembali terdengar. Hawa tiba-tiba menjasi panas. Peluh menghiasi pelipis Petra.

Gadis itu menutup matanya dengan kencang. Sampai lubangnya terasa kosong dan mendapat hentakan lagi dengan cepat. Ia yakin Rivaille sudah melakukannya dengan baik.

Dirinya terasa penuh. Rivaille yang sudah memasukinya mengalihkan rasa sakit yang mungkin dirasakan Petra dengan ciuman yang lebih menuntut.

Ia biarkan dirinya berada disana beberapa saat lagi sampai klimaks terjadi. Sampai itu terjadi yang mereka lakukan hanya saling berbagi ciuman. Dengan beberapa percakapan singkat di sela-sela semua itu.

"Aku rasa.. tidak lama lagi, aku akan menemukan apa yang hilang dari hidupku."

"Aku pun.. merasa begitu, Rivaille.."

Akhir malam itu akan mereka alami sendiri. Tetap menunggu apa yang hilang dari diri mereka.

.

X

.

.

-end-

.

.

"Selamat ya Petra! Ternyata setelah sebulan kau menikah, akhirnya kau akan punya anak!"

"Hange, jangan berteriak terlalu kencang. Nah, Rivaille, selamat ya. Jadilah ayah yang baik nanti."

"Aku tahu."

"Apa sudah punya rancangan nama untuk anak kalian?"

"Um.. itu.. bagaimana, Rivaille?"

"Aku rasa namanya akan Kiddo."

"Kiddo? Bagus bagus.. tapi kenapa kau terlihat yakin sekali kalau yang lahir nanti adalah anak laki-laki."

"Entahlah. Firasat?"

"Sayangnya firasatmu selalu benar."

"Aku terima ejekanmu."

"Itu pujian, Rivaille."

"Bagaimana mungkin aku bisa membedakannya? Dia si topeng besi tersenyum."

"Aku anggap itu pujian."

"Terserah."

"Wah wah, Rivaille! Kau jadi banyak bicara ya? Apa karena kau senang akan segera jadi ayah?

"Dari dulu aku memang banyak bicara, kuso-megane."

"Ah Rivaille.. sudahlah.."

.

X

.

.

-Truly End-

.

.

.

Woaaaaaa akhirnya author tamatin di chapter ini *v*

Itu karena author bakalan sibuk kedepannya, mau ospek dulu. Jadi kayanya yang never find ending story juga dipending dulu pengerjaannya ._. Gomenneee

Pasti ending cerita ini gak greget ya? Ga menarik ya? Lemonnya ga mentep ya?

Hmm.. sudah kuduga..

Author banting setir loh ini ngerjainnya -

Mohon minta reviewnya ya minnaaaa

Author tau fict ini masih jauh dari kata baik, tapi... yuk difav dan difollow juga hejejejehehe. Di share juga link-nya, biar temen-temen rivetra gengs yang lain bisa baca juga. Yuk ah ramein fandom ini! Huahahahahaha

Rencana author yang bikin fict rivetra lagi tetep ditunggu yaaaa

Mungkin pengerjaannya akan dilakukan setelah chapter 2 never find ending story dipublish

Yuuk sambil nunggu, baca juga fict punya author yang lainnya yaaaaa

Jangan lupa kasih jejak ^^

Any Typo?

Maap banget kalo ending fict ini sangatlah mengecewakan TvT author kehabisan ide buat lanjutin lagi, sumvah ._.v

Jangan gebukin author ya guys...

Jangan benci author ya guys...

Kasih aja bang rivai buat author ya guys... TvT

Ok

Mungkin suatu saat akan ada lagi sequel dari sequel ini (?), kalo sempat sih..

Judulnya ga akan jauh dari unconditionally plus plus (karena sequel ke-2)

Dadaaaaaah author mau hibernasi dulu yaaaaa

See you next fict~~~ dudududulalalalala

Salam sayang buat readers tercintaaah

-author shigeyuki-