Kuroko Tetsuya is Dating Who?!
Disclaimer : 黒子のバスケ© Fujimaki Tadatoshi.
Warning : Shounen-ai, OOC parah, abal, dll.
Pair : …?/Kuroko, GoM/Kuro.
Genre : Humor, Friendship, Romance.
Rated : T
Summary : Kuroko telah berpacaran dengan 'seseorang'! GoM pun penasaran. Jadilah mereka membuntuti Kuroko untuk mengetahuinya. Ini saatnya para Kiseki no Sedai beraksi untuk melindungi pemain bayangan tercinta mereka dan menyingkirkan 'pengganggu' tersebut. Protect Kuroko Tetsuya at all cost!
.
.
.
Chapter 2 : Stalking and Confession
[ Tokyo, pukul 12.00 siang. ]
"Apa kau yakin tindakanmu ini benar, Akashi?" tanya Midorima.
Saat ini, para Kiseki no Sedai plus Kagami sedang berjalan menuju rumah Kuroko guna melakukan beberapa penyelidikan. Di tengah perjalanan itu, Midorima tidak henti-hentinya mengingatkan Akashi soal rencananya untuk membuntuti sang pemain bayangan itu yang―memang―berlebihan.
Tentu saja berlebihan. Lihatlah benda-benda seperti karung, tali tambang, dan benda-benda mengerikan lain yang sedang dibawa oleh Murasakibara―atas perintah Akashi, tentunya.
"Kenapa kau terus-terusan gelisah seperti itu?" tanya Akasi―heran.
"Aku bukan gelisah, nanodayo, tapi menurutku Kuroko juga punya privasi yang disimpan untuk dirinya sendiri. Kalau kita ketahuan sedang membuntutinya, bisa saja dia jadi membenci kita semua," tuturnya.
Lirikan sinis Akashi pada Midorima langsung membuatnya mematung di tempatnya berdiri. Dia tidak berani mengeluarkan komentar-komentar ketidaksetujuannya lagi.
"Ne~ bagaimana kalau pacarnya Kuro-chin itu ternyata salah satu dari kita?" Murasakibara bertanya dengan mulutnya yang masih penuh dengan pocky.
"!"
Salah langkah kau, Mukkun. Itu ucapan yang terdengar seperti alarm peringatan bagi para laki-laki di sana.
Semua orang yang ada di sana langsung menghentikan pergerakkannya masing-masing. Mereka langsung menatap dengan sengit satu sama lain―seperti sedang menatap musuh.
"Benar juga kata Murasakibara. Bisa jadi salah satu di antara kita ternyata pacarnya Tetsu, tapi tidak mau mengaku!" ujar Aomine. Momoi menganggukan kepalanya, setuju. "Dan pacarnya adalah orang yang paling dekat dan sering menghabiskan waktu dengan Tetsu," tambahnya.
Semua orang berambut pelangi itu terdiam sebentar untuk mencerna kata-kata dari mantan 'Ace' Teiko itu. Beberapa detik berselang, mereka langsung menoleh ke arah Kagami dengan tatapan bengis.
"Jangan tatap aku dengan tatapan menyeramkan begitu, sudah pasti bukan aku orangnya!" teriaknya, tidak terima dengan tuduhan tersebut. "Kalau itu aku, buat apa aku ikut misi kalian ini?!"
Akashi terdiam, kemudian mengangguk sejenak. Alasan yang logis, jadi dia bisa menerimanya.
Selanjutnya, tatapannya pun jatuh pada pemuda berambut blonde yang langsung terlonjak kaget.
"BU―BUKAN AKU, AKASHI-CCHI! SUMPAH-SSU!" Kise berteriak histeris sambil menggeleng dengan kecepatan tinggi. Jujur, tukang copy itu sangat ketakutan sekarang. Apalagi kalau mengingat mantan kapten timnya yang suka membawa-bawa benda keramatnya (?).
Benar juga. Kise tidak mungkin bisa jadi pacar Kuroko. Kagami, Murasakibara dan Momoi juga. Apalagi Aomine, karena dia yang paling buluk/?. Jadi, satu-satunya orang yang tersisa―
"Apa itu kau, Shintarou?"
Pilihan terakhirnya jatuh pada Oha-Asa freak itu. Memang, perilaku Midorima cukup mencurigakan.
Sejak pertemuan di Majiba tadi pagi, dia selalu menghalangi Akashi untuk membuntuti Kuroko. Bisa jadi kalau pacar Phantom Sixth Man itu tidak lain adalah shooter nomor satu di Teiko itu sendiri.
Midorima meneguk ludah. Suara Akashi saat ini sangat mengerikan, hampir sama seperti seorang psikopat yang tidak akan segan-segan membunuh orang.
"Bu―bukan aku, nanodayo," ujarnya, gugup.
Akashi malah menatapnya semakin tajam. "Kau tidak sedang berbohong karena ketakutan, 'kan?"
Semua orang yang ada di sana ikut menatap sengit Midorima. Semakin lama dia menjawab, kecurigaan yang ditujukan padanya itu pun semakin meningkat.
"Jadi, ternyata Midorin…" ujar Momoi, tidak sanggup melanjutkan kata-katanya.
"Midorima teme! Ternyata kau ini pengkhianat, ya!" teriak Aomine dan Kagami bersamaan.
"Midorimacchi, hidoi-ssu! Beraninya merebut Kuroko-cchi untuk dirinya sendiri!" Kise gegulingan di aspal sambil menangis.
Murasakibara yang sedang ikut mencurigai pemuda berambut hijau tersebut, ikut berkata, "Aku tidak akan segan-segan menghancurkan pacarnya Kuro-chin―sekalipun itu kau, Mido-chin."
Biasanya pemuda yang suka snack itu tidak terlalu peduli dengan urusan orang lain, tapi lain halnya kalau ini menyangkut seorang Kuroko Tetsuya.
"Bukan aku, nanodayo! Kalau itu aku, untuk apa aku penasaran soal pacarnya Kuroko?!" Midorima berteriak, wajahnya sedikit memerah.
"Baiklah, kalau begitu. Jadi, orang yang menjadi pacar Tetsuya sudah dipastikan bukan salah satu dari kita," jawab Akashi.
"Kalau begitu, siapa―ng?"
Pertanyaan dari Kagami terputus saat matanya melihat sosok seseorang sedang berdiri di depan rumah Kuroko. Orang itu sesekali menengok ke kanan dan kiri―seperti memastikan agar tidak ada orang yang melihatnya.
"Gawat , ayo sembunyi!" ujar Kagami pada kelima orang yang lain. Mereka langsung bersembunyi di dekat semak-semak yang berada tak jauh dari rumah Kuroko.
"Kenapa kita harus sembunyi segala, sih?!" desis Aomine.
"Lihat itu, Dai-chan! Ada orang di depan rumah Tetsu-kun!" Momoi langsung menujunjuk orang itu dengan hati-hati.
Orang misterius itu membalikkan badan, jadi sekarang para Kiseki no Sedai bisa melihat dengan jelas wajahnya. Ternyata, dia seorang laki-laki. Bisa terlihat juga kalau dia sedang membawa seikat bunga di slah satu tangannya.
Tunggu, seorang laki-laki berdiri di depan rumah Kuroko? Dan yang lebih parahnya lagi, sambil membawa bunga?!
Para Kiseki no Sedai plus Kagami langsung menyipitkan mata untuk melihat wajah orang itu dengan lebih jelas. Murasakibara, yang sepertinya sudah tahu terlebih dulu, langsung berkata, "Are? Itu, kan―"
"Yo," ujar orang itu sambil menghampiri Kuroko yang baru saja keluar dari rumahnya.
"Ah, Hanamiya-kun?" ujar Kuroko.
'HANAMIYA?!' batin semua orang yang ada di semak-semak itu, shock maksimal.
Yang benar saja?! Masa, pacarnya Kuroko itu si Hanamiya sih?!
I―ini tidak mungkin terjadi, kan? Tidak mungkin kalau si brengsek itu adalah pacarnya Kuroko, kan?
Ini pasti cuma mimpi! Mimpi yang sangat buruk!
Tapi, sayangnya ini adalah kenyataan yang harus mereka hadapi.
"Beraninya si Hanamiya itu…" ujar Akashi. Aura menyeramkan keluar dari seluruh tubuhnya.
"Tunggu dulu, Akashi! Belum pasti, kan kalau dia pacarnya Kuroko!" bisik Midorima sambil menahan tubuh Akashi yang sedari tadi ingin keluar dari tempat persembunyian itu untuk membunuh Hanamiya.
Setelah itu, Akashi bergumam pelan, nyaris tidak terdengar. Walau masih bisa didengar kata-kata seperti, "akan kubunuh" atau, "orang brengsek" atau seperti, "Tetsuya milikku".
Mereka semua sweatdrop plus bergidik ngeri mendengar gumam pelan dari sang kapten tim Rakuzan itu dan tingkahnya saat menancapkan guntingnya di batang pohon terdekat―berharap kalau pohon itu adalah Hanamiya.
"Hei, lihat apa yang Hanamiya lakukan-ssu!" ujar Kise, tumben sekali tidak menggunakan embel-embel -cchi pada nama seseorang. Semua yang ada di sana akhirnya sadar dari shock mereka, dan kembali memperhatikan adegan antara Hanamiya dan Kuroko.
Walaupun bisa mengintip, tapi mereka tidak dapat mendengar dengan jelas percakapan dua orang itu.
Hanamiya seperti sedang mengatakan sesuatu pada Kuroko, lalu menyerahkan sebuket bunga di tangannya. Kuroko balas berkata sesuatu dengan memasang wajah datar.
Hanamiya terlihat terkejut, tapi kemudian mengangguk singkat. Kuroko lalu mengambil bunga dari tangan Hanamiya, lalu tersenyum lebar padanya.
Melihat senyuman yang jarang ditunjukan oleh si pemain bayangan itu ditunjukan untuk orang lain, membuat mereka semakin terpuruk di semak belukar.
"Sial, sial, sial!" kata Aomine sambil mengepalkan tangannya.
"Kuroko-cchi bahkan tidak pernah tersenyum seperti itu padaku-ssu!" gumam Kise sambil menangis berguling-guling di rumput.
Midorima meremas-remas kerosuke―yang seharusnya menjadi benda keberuntungannya hari ini, saking kesalnya.
Momoi membekap mulutnya sendiri, untuk menahan teriakan yang sedari tadi ingin keluar.
Murasakibara dipenuhi aura suram sambil menggigiti bungkus snack-nya. Dia juga ingin mendapat senyuman dari Kuroko tercintanya.
Kalau Akashi sendiri, tidak usah ditanya lagi. Dia sedang menggenggam boneka voodoo bertuliskan nama Hanamiya―entah dapat dari mana―sambil tertawa pshyco.
Hanamiya lalu tersenyum kecil dan mengacak rambut biru Kuroko. Kuroko membungkuk sebentar padanya, lalu kembali masuk ke dalam rumah.
Kapten dari tim Kirisaki Dai Ichi itu kemudian berjalan menjauh dari rumah Kuroko diselingi dengan helaan nafas.
SRINGG!
Mata para Kiseki no Sedai itu berkilat mengerikan saat melihat Hanamiya akan melewati semak-semak tempat mereka bersembunyi. Ini adalah kesempatan emas! Mereka harus memberikan pelajaran untuk orang menyebalkan yang sudah berani-beraninya merebut Kuroko Tetsuya.
"BANTAI DIA!"
…
Setelah sekian lama pingsan, Hanamiya membuka kelopak matanya dan mengedip-ngedipkannya sebentar untuk membiasakan diri dengan cahaya yang masuk. Kepalanya terasa benar-benar pusing karena ulah seseorang yang telah membuatnya pingsan dengan pukulan mautnya itu. Dan sekarang, dia bahkan merasa kalau tangannya itu sedang diikat oleh tali dengan ikatan super kencang sampai pergelangannya terasa sakit.
Tunggu, tali?!
"HMPPHHH!" Hanamiya menjerit tertahan.
Sekarang dia ada di dalam posisi duduk di suatu semak-semak yang tadi dilewatinya dengan tangan dan kaki yang terikat―bahkan mulutnya pun di tutup dengan lakban.
"Hoo, kau sudah bangun, ya?" ujar sebuah suara yang ada di sampingnya.
Dia menolehkan kepalanya dan sepertinya harus menyesal telah melakukan itu. Karena di sampingnya, ada enam orang berambut bak pelangi sedang tersenyum mengerikan padanya. Dia tentu mengenali mereka semua. Para anggota KIseki no Sedai dan sang 'Ace' dari Seirin yang berusaha untuk dihancurkannya samapi menjadi sampah.
Akashi mengulurkan tangannya untuk membuka lakban yang menempel di mulut Hanamiya.
SRET!
"Si―"
Tetapi sebelum Hanamiya sempat bicara, Akashi melemparkan senyum yang sangat mengerikan padanya―dan membuat kapten dari Kirisaki Dai Ichi itu terdiam.
"Sebaiknya kau jangan berteriak, atau kau akan tahu akibatnya," tutur pemuda berambut merah itu, masih dengan senyumannya.
Hanamiya bergidik ngeri. Sungguh, baru pertama kali ini dia melihat ada orang yang lebih 'iblis' daripada dirinya.
"Nah, pertama-tama, apa kau itu pacarnya Tetsu?" tanya Aomine. Tangannya terkepal ke arah pemuda yang sedang disekap itu.
Bingung, Hanamiya pun bertanya, "Hah? Pacarnya Kuroko?"
"Tadi aku melihatmu sedang membawa bunga untuk Kuroko-cchi dan dia tersenyum senang saat menerimanya-ssu. Kau pasti pacarnya Kuroko-cchi," ujar Kise. Pemuda kuning itu tampaknya tidak seriang biasanya. Bahkan, suaranya terdengar sedingin es.
Mengingat tentang Kuroko, Hanamiya tiba-tiba jadi terpuruk. Dia menundukkan kepala dan aura nan suram menyelimuti sekitarnya.
"Tunggu, kau kenapa, nanodayo?" tanya Midorima―heran melihat perubahan dari pemuda bernama lengkap Hanamiya Makoto itu.
"Pacar apa? Aku…" gumamnya―pelan, tapi masih dapat didengar oleh kumpulan orang-orang berambut pelangi yang sinting tersebut.
"Ya?"
"Aku baru saja ditolak, tahu!" teriak Hanamiya, suaranya terdengar seperti orang yang sedang putus asa. Oke, ini OOC.
"!"
Ekspesi kaget dan tidak percaya langsung terlihat di wajah Akashi, Aomine, Kagami, Kise, Momoi, Midorima dan Murasakibara. Mereka tidak salah dengar, 'kan? Seorang Hanamiya yang notabenenya adalah seorang yang kejam dengan mulut yang kasar, sekarang sedang berteriak putus asa karena baru saja ditolak oleh Kuroko Tetsuya.
"Ka―kau ditolak Tetsu-kun? Coba ceritakan!" pinta Momoi, sambil berusaha menahan tawa kesenangannya.
Hanamiya membuang mukanya. Dengan sedikit culas, dia berkata, "Akan kuceritakan kalau kau membuka ikatan ini."
Momoi yang terlalu penasaran dengan cerita itu, langsung mengangguk menyetujui permintaan Hanamiya dan langsung membuka semua ikatan tali di tubuh pria itu.
Pemuda berambut hitam itu sedikit memegang pergelangan tangannya yang masih sedikit sakit. Dia melirik ke arah keenam orang di sana yang tampaknya sangat tertarik mendengar cerita darinya.
Dirinya sendiri sedang patah hati, tapi kenapa mereka malah memasang muka yang kelihatan senang begitu? Dasar, mereka itu… orang yang bahagia di atas penderitaan orang lain!
Hanamiya menghela nafas, berat, lalu dia berkata, "Jadi, seperti ini…"
…
[ Flashback. ]
'Cih, si Kuroko itu mana, ya? Lama sekali,' batin Hanamiya.
Dia sedang berdiri di depan rumah Kuroko Tetsuya. Beberapa hari lalu, dia sudah mengirim email pada pemain bayangan itu kalau dirinya akan datang hari ini untuk mengatakan hal yang penting. Yah, lebih tepatnya, sih menyatakan cinta.
Seorang Hanamiya menyatakan cinta pada seseorang? Apalagi, seorang laki-laki?
Seperti kata pepatah. Jangan menilai buku hanya dari cover-nya. Biarpun bisa dibilang Hanamiya itu seperti berandal, berkelakuan kasar, dan bermulut tajam, tapi masih ada sisi lembut di dalam dirinya. Contohnya, ya saat ini.
CKLEK!
Saat telinganya mendengar suara pintu yang dibuka, dengan cepat dia merapikan penampilannya dan langsung menghampiri pemuda bersurai baby blue itu.
"Yo."
"Ah, Hanamiya-kun?" ujar Kuroko. "Sudah lama menungguku?"
Hanamiya menggeleng pelan. Dengan gaya sok cool, dia menjawab, "Tidak, aku baru saja sampai."
Sudah jelas kalau perkataannya tadi itu bohong besar. Sejak kapan dia jadi ketularan sifat tsundere-nya Midorima?!
"Kalau begitu, hal penting apa yang mau kau sampaikan?" tanya Kuroko.
Hanamiya meneguk ludahnya saat mendengar hal itu. Hal yang ingin dia sampaikan―tentu saja pernyataan cinta.
"Aku suka padamu, jadilah pacarku!" ujarnya sambil menyodorkan bunga mawar itu ke depan wajah Kuroko.
"Eh?"
Kuroko sedikit terkejut, walaupun wajahnya masih datar. Matanya melirik wajah Hanamiya yang sedang dialihkan ke samping. Wajah itu sedang memerah.
Kuroko terdiam sebentar. Sebenarnya, dia merasa tidak enak, tapi dia tidak bisa menerima Hanamiya.
"Maaf, tapi aku sudah punya pacar, Hanamiya-kun."
KRAK!
Mata Hanamiya melebar terkejut. Diikuti oleh kokoro miliknya yang hancur berkeping-keping saat mendengar jawaban tegas dari Kuroko.
"Setidaknya, terima bunga sialan ini dariku! Kau bisa menganggapnya sebagai tanda pertemanan atau apalah!" timpalnya.
Kuroko terkejut sesaat, tapi keterkejutan itu berubah menjadi senyuman. Tangan pucat Kuroko terjulur untuk mengambil bunga yang ada di tangan Hanamiya.
"Aku menghargai pemberian darimu, Hanamiya-kun."
Hanamiya terpaku pada Kuroko yang sedang tersenyum padanya. Ah, memang tidak salah dia menyukai orang ini. Walaupun dia ditolak, mungkin belum tentu dia harus menyerah.
[ Flashback : Off. ]
…
"HAHAHAHAHA!" tawa Kise langsung membahana. "Seperti shoujo manga saja-ssu!"
Di sisi lain, Aomine juga sedang tertawa mengejek mendengar cerita barusan.
"Penolakan yang sadis, hahaha!" Kagami bahkan sampai menunjuk-nunjuk Hanamiya dengan kurang ajar. Momoi, Murasakibara, Midorima dan Akashi bahkan sampai menutup mulut mereka―menahan keinginan untuk tertawa.
"Pftttt…"
"SIALAN! SETIDAKNYA BERSIMPATI SEDIKIT, KEK!" teriak Hanamiya―tidak terima. Tadinya, dia sudah berbaik hati untuk menceritakan pengalamannya yang menyakitkan, tapi begitu selesai malah ditertawakan.
"Warui, warui. Habis, mendengarmu ditolak seperti itu membuatku senang, entah kenapa," jawab Kagami.
Tanpa mereka sadari, seorang pria berambut hitam dengan wajah yang kelewat tampan sedang berjalan melewati jalan itu, tapi langkahnya terhenti saat mendengar suara tawa yang familiar dari balik pohon dan semak-semak itu.
Penasaran, orang itu langsung menyibak semak-semak itu dan melihat beberapa orang yang dikenalnya sedang berada di sana.
"Kalian sedang apa di sini?" tanyanya.
Butuh beberapa detik untuk mereka menghentikan tawa, sebelum Kagami langsung terkejut melihat kedatangan tiba-tiba dari pemuda barusan.
"Tatsuya!"
…
"Jadi seperti itu, ceritanya," ujar Himuro, mengangguk singkat. Dia telah diceritakan kejadian dari awal sampai saat ini oleh Kagami.
"Lalu, kenapa kau ada di sini, Muro-chin?" tanya Murasakibara dengan lazy tone-nya.
"Ah, soal itu, Atsushi. Pelatih menyuruhku untuk menyeretmu pulang ke Okita untuk latihan basket."
"Tidak mau. Aku masih mau di sini untuk menghancurkan pacarnya Kuro-chin~"
Walaupun masih memasang nada malas, tapi bisa terdeteksi nada sinis dan mengancam dari perkataannya barusan. Dalam hati, Hanamiya bersyukur kalau dia bukanlah pacar Kuroko―walaupun dia ingin juga, sih.
Himuro menghela nafas. Dia sudah terbiasa dengan sifat kekanak-kanakan bocah titan itu. "Baiklah, tapi untuk kali ini saja."
"Yaiiii~"
Himuro tersenyum padanya, lalu beralih kepada yang lain.
"Ngomong-ngomong soal Kuroko-kun, sebenarnya aku mengajaknya untuk kencan besok," Himuro sweatdrop saat mendapat death glare dari semua orang yang sedang berada di sana.
"Tenang saja, dia tidak menyetujui ajakanku, kok," ujarnya, berusaha menenangkan. "Dia bilang, besok dia akan pergi kencan dengan pacarnya."
DEG!
Kiseki no Sedai plus Kagami dan Hanamiya terlonjak mendengar hal itu.
Kuroko besok akan pergi kencan dengan pacarnya? Sial, sepertinya mereka ingin cepat-cepat tahu siapa pacarnya itu dan langsung membunuhnya saat itu juga.
"Lalu, saat kutanya siapa pacarnya, dia mengirimiku foto seseorang lewat email," jelas Himuro. Dia mengambil handphone dari saku celananya, dan langsung membuka email tersebut.
BETS!
"Maafkan ketidaksopananku." ujar Akashi yang langsung menyambar telepon genggam itu dari si empunya dan melihat ke layar. Semuanya langsung mendekati kapten Rakuzan itu untuk ikut melihatnya juga.
Terlihatlah sebuah email dari Kuroko yang menolak ajakan kencan Himuro dan foto seorang laki-laki sebagai lampirannya.
"!"
Mata mereka melebar―kaget saat melihat foto orang itu. Jadi, dia pacar Kuroko Tetsuya?
"O―orang ini―!"
Mereka tidak salah lihat, 'kan?!
.
.
.
To be continued!
See you next chapter-ssu!
