Neottaemunae (baecause of you)

By :

Kim Elin

.

.

Cast :

Namjin

Kim Namjoon

Woo (Kim) Seok Jin

Woo Ji Ho (zico) 4 thn

.

.

Other Cast :

BAP member,BTS member, Kiddoh Top Dog.

.

.

Genre :

Romance,friendship,little hurt

.

Warning!

TYPO,OOC,bahasa berantakan,GS!(Gender Switch)

.

Summarry:

Woo Seok Jin seorang yeoja cantik sederhana yang bertemu dengan namja kecil yang manis bernama Jiho, anak yang ia temukan di depan pintu rumahnya. Jin yang iba pun merawat Jiho, namun tanpa ia ketahui Jiho membawa ia ke takdirnya. Bertemu dan menjalin kasih, dengan seorang Rapper agency terbesar bernama Kim Namjoon. Namun perjalanan mereka tidak akan berjalan dengan mulus. Banyak rintangan yang menunggu mereka.

.

.

.

Kim Elin Present.

.

.

..

.

.

..

.

.

..

.

..

Sudah sekitar 6 bulan semenjak Jin tinggal di rumah Yonggi. Ia sudah menyelesaikan kuliah kedokteran miliknya dan menjadi salah satu staff perawat di sebuah rumah sakit terkenal di daerah gangnam.

Yonggi dan Jungkook pun sudah. Yonggi dengan sarjana hukum miliknya dan Jungkook dengan magister Seni. Yonggi kini tengah magang di salah satu kantor pengacara terkenal di seoul dan Jungkook tengah merambah di dunia tarik suara.

Soal Jiho? Anak itu tumbuh dengan sehat dan tidak pernah lewat dari pengawasan Jin. Jiho sekarang sudah bisa berdiri dan duduk dengan baik, gigi gigi susu kecilnya mulai bermunculan. Semua orang sangat senang dengan kedatangan Jiho ditengah tengah keluarga Min.

Orang tua yonggi sendiri malah melimpahkan pekerjaan mereka pada kakak tertua Yonggi, Hoseok. Pasalnya Himchan dan Yongguk—orang tua Yonggi—sangat menyukai kedatangan Jiho dikeluarganya. Himchan yang saat itu baru pulang mendampingi suaminya yang habis bertugas di Jepang langsung menjerit kaget melihat anaknya menggendong seorang bayi yang tampan.

.

FLASHBACK

.

Himchan dan Yongguk kala itu baru saja sampai di seoul. Mereka sangat ingin bertemu dengan anak mereka, Min Yonggi. Namun, betapa kagetnya Himchan saat melihat sang anak tengah menggendong seorang bayi dengan balutan selimut kuning ditanganya.

"DEMI TUHAN! BAYI SIAPA ITU YONGGI!" Himchan langsung saja berteriak membuat bayi mungil itu menangis karena kaget.

"aigo aigoo! Eommaaaa! Jangan berteriak! Cup cup cupp... Jiho sayang.." Yonggi segera enenangkan Jiho yang saat itu masih menangis keras.

Yongguk yang mendengar kegaduhan pun ikut masuk, seakan tidak kalah kagetnya dengan Himchan iapun berjenggit melihat bayi itu,.

"Yonggi! Kau punya anak?!" suara berat yang berujar dengan nada tinggi itu membuat Jiho tambah mengeraskan volume tangisannya. Membuat Yonggi panik

"appaa! Jiho kaget! Eonniee! Eonniee!" yonggi yang sudah tidak tau harus berbuat apa langsung memanggil sang ibu dari Jiho

"huweeeeeeee~! Huweeeee!" tangisan itu makin keras,. Himchan dan Yongguk pun ikut panik, mereka sibuk mencari sesuatu yang dapat menenangkan bayi itu.

"astaga! Ada apa Yonggi? Kenapa Jiho menangis?" tanya seorang wanita cantik yang tangan dan bajunya setengah basah.

"appa dan eomma mengagetkannya dengan cara berteriak! Eonni eotthokae?" tanya Yonggi yang senantiasa mencoba membujuk Jiho yang masih meronta dalam pelukanya.

"sini berikan padaku." Jin mengeringkan tanganya dengan tisu kemudian meraih bayi itu dari gendongan Yonggi.

Ia membuka setengah dari kancing bajunya menempelkan pipi mulus bayi itu ke payudara putih miliknya mendekap bayi itu erat dan menepuk nepuk pantat bayi itu. Tak lama bayi itupun berhenti menangis. Himchan dan Yongguk terperangah. Mereka masih bingung dengan apa yang terjadi.

Merasa tidurnya terganggu bayi Jiho pun membuka matanya kemudian tertawa menampilkan gusi merah mudanya saat ia melihat wajah ibunya. Jin mengancingkan kemejanya kemudian membalikkan tubuh Jiho agar menghadap kearah yonggi,Himchan dan Yongguk.

"aah.. sudah bangun ternyata.." ujar Yonggi.

"ada apa ini Yong?" tanya Himchan

"ah ahjumma.. annyeonghasseo.." ujar Jin sambil membungkuk..

"Jinnie? Ini anak Yonggi?" tanya Yongguk yang masih buta akan keadaan membuat Jin tertawa.

"duduklah dulu eomma, appa.." ujar Yonggi mempersilahkan Himchan dan Yongguk untuk duduk.

"ini anakku ahjumma, ahjussi.. lebih tepatnya anak asuhku.." jelas Jin

"MWO?" Yongguk dan Himchan terkaget mendengar penuturan Jin

"lalu dimana suamimu?" tanya Himchan.

"Jin eonni belum menikah, ini anak Hyemi eomma, Hyemi meninggal karena serangan jantung dan menitipkan anaknya pada Jin. Dan jadilah Jiho anak Jin eonnie." Ujar Yonggi menjelaskan. Himchan dan Yongguk menoleh kearah bayi itu yang terus menerus menepuk nepukkan tangan kecilnya ke paha milik yongguk.

"aigoo.. Gukkie, lihat bayi ini.. lucu sekali.." Himchan segera mencubit pipi Jiho membuat anak itu meringis lucu.

"sepertinya dia ingin digendong ahjussi. Jiho tidak mau tenang bersamaku.." ujar Jin

"jinjja? Baiklah berikan dia padaku.." ujar Yongguk sambil membuka tangannya dan Jin pun memberikan Jiho ke pangkuan Yongguk.

"jinnie, sebaiknya jangan panggil kami Ahjumma dan Ahjussi lagi. Panggil kami eomma. Kau sudah resmi menjadi kakak dari Yonggi dan adik Hoseok." Ujar Himchan sambil mengelus rambut kecokelatan milik Jin.

"tapi ahjumma.."

"kau kan tinggal sendiri Jinnie, orang tuamu juga menyerahkanmu pada kami. Memang sejak dulu kau ingin kami adopsi, tapi kau selalu menolak, sekarang dengan adanya Jiho kau tidak bisa menolak lagi.. Jiho akan jadi cucu-ku dan kau akan jadi anakku.." ujar Yongguk sambil memperhatikan Jiho yang bermain dengan dasi kantor milikknya.

"ne,.. ahjumma, ahju—

"panggil appa dan eomma eonni.." potong Yonggi

"ah nee, appa,eomma.." ujar Jin.

Jin merasa kebahagiaan itu datang kembali semenjak 7 tahun ia tidak bersama dengan orang tuanya kini ia bisa merasakan hangatnya keluarga lagi. Bukan hanya itu, anaknya Jiho pun turut dapat merasakan keharmonisan dan kasih sayang dari sang haelmoni dan haraboji.

"lihatlah gukkie~ dia tersenyum! Aigoo cucukku.." Himchan tersenyum sembari bermain dengan Jiho yang masih setia dalam pangkuan Yongguk.

"sepertinya Jiho menyukai appa dan eomma.. begitu juga dengan Hoseok Oppa.." ujar Yonggi

"dan sepertinya ada yang baru saja menyebut namaku." Ujar seorang pria berjas yang baru saja tiba di ruang tamu keluarganya.

"dan itu aku yang menyebutnya.. hahaha" ujar Yonggi sambil tertawa

"annyeong Jinnie, aahh.. mana Jiho kecilku" sapa Hoseok, sambil meraih Jiho dari pelukan Yongguk dan menggendongnya tinggi membuat bayi mungil itu kembali tertawa

"yaa! Oppa cuci tanganmu terlebih dahulu sebelum kau menggendong anakku!" jejar Jin sambil memukuli Hoseok dengan selimut bayi Jiho.

"hahaha"

Dan sepertinya malam itu akan menjadi malam yang membahagiakan bagi keluarga Jin.

.

FLASBACK OFF

.

Esok Jiho akan berusia genap setahun, kini keluarga Min tengah berkumpul sambil membicarakan konsep ulang tahun Jiho.

"karena ini cucu pertamaku aku akan merayakan ulang tahun yang sangat meriah." Ujar Yongguk

"nee.. aku akan memamerkan Jiho ku yang manis ini kepada teman teman socialitaku" ujar Himchan.

"tapi apa tidak berlebihan eomma?" tanya Jin. Jin yang selalu sederhana tentu saja merasa kaget karena pesta ulang tahun sang anak terbilang cukup meriah dan pastinya menghabiskan banyak uang.

"berlebihan apanya eonni? Jiho sehausnya dimanjakan sperti itu. Dia akan menjadi pewaris kedua Min corp." Ujar Yonggi

"ya, Yonggi benar Jinnie, lagi pula Jiho anak lelaki, anak lelaki memang harus dimanjakan seperti ini.. aku menganggap Jiho seperti anakku sendiri tau." Ujar Hoseok

"dalam artian oppa menganggap Jin eonni istri oppa?" tanya Yonggi

"tentu saja, hey! Siapa yang tidak mau istri seperti Jin? Jin sangat telaten, dia juga cantik dan cerdas. Aku malah tidak mau memiliki istri sepertimu yonggi! Bisa bisa aku hanya diteriaki saja.." ujar Hoseok membuat Yonggi naik pitam.

"apa maksudmu?!" yonggi mulai naik darah

"sudah sudah! Jangan bertengkar di depan anakku!" ujar Jin. Sedangkan Jiho hanya tertawa daam pelukannya.

"ah! Yeobo, betul juga.. kenapa kita tidak nikahkan saja Jin dan Hoseok?" ujar Himchan sambil mengelus lengan Yongguk

"benar juga, jika dilihat mereka sangat cocok! Jin pun masih muda dan berpendidikan serta sopan. Hoseok juga sudah menjadi pengusaha muda yang berbakat.. mereka bisa cocok sebagai pasangan suami istri." Balas Yongguk

Jin dan Hoseok saling berpandangan, mereka bingung dengan apa yang dikatakan oleh Himchan dan Yongguk.

"jadi bagaimana Hoseok? Jin? Kalian setuju?" tanya Himchan

.

1 detik...

.

2 detik...

.

3 detik...

.

"ANDAWAEYOO!" seru Hoseok dan Jin bersamaan membuat Jiho mendongak menatap eomma dan samcheonnya yang berteriak.

"aniya eomma.. Hoseok belum siap menikah! Lagi pula usiaku baru mau mencapai 27 tahun." Bantah Hongseok.

" karena usiamu yang sudah setua itu membuatmu harus menikah Hoseok!" jejar sang eomma.

"bagaimana denganmu Jinnie?" tanya sang appa.

"eh.. anu.. appa.. aku, belum berpengalaman menjadi istri yang baik, mengurus Jiho saja aku harus meminta bantuan Shin ahjumma dan eomma.. bagaimana nanti kalau aku mengurus Hoseok oppa" ujar Jin sambil menunduk

"sudahlah mending kita biarkan ini berlalu dulu siapa tau eonni dan oppa cocok, aku akan sangat senang bila menerima ponakan lagi dari kalian!" ujar Yonggi polos yang mendapat jitakan dari Hoseok

"YAK! Anak ini! Dari mana kau beelajar hal semacam itu Huh!"

.

,

.

Mallam itu Jin tengah berjalan sendirian ditemani Jiho yang berada di gendongannya, ia ingin pulang ke Motelnya untuk membersihkan kamar itu. Bukan apa apa karena kamar itu akan segera ia jual atau ia sewakan mengingat ia sekarang sudah berkeluarga dengan Yonggi, dan tinggal di rumahnya.

Namun, dalam perjalanan Jin merasa seperti diikuti. Jin yang tidak nyaman mendekap Jiho erat takut akan ada sesuatu yang buruk menimpanya..

Dari kejauhan nampak segerombolan namja yang berjalan mengikutinya. Jin mempercepat langkah kakinya yang hanya berbalut stiletto berwarna hitam itu. Namun sepertinya Jin kalah cepat gerombolan namja itu sudah mngepungnya.

"wah.. Lihat ini, seorng yeoja cantik yang sangat sexy membawa seorang bayi yang tampan dan sehat kawan!" seru namja bertubuh cukup tambun disamping Jin.

Aroma alkohol dan rokok tercium kuat, menguar dari tubuh para namja nista dihadapannya saat ini.

"siapa kalian? Mau apa kalian? Kumohon jangan sakiti bayiku" ujar Jin saat tangan salah satu dari mereka terjulur menyentuh Jiho

"yeoja ini sangat seksi kawan! Sepertinya akan menarik kalau kita santap bersama.. hahaha" ujar sang namja tanpa baju yang berada di depan Jin

"dan anaknya akn memberi kita banyak uang jika kita Jual!" ujar pria yang satunya.

"kumohon aku akan memberi kalian uang! Asal kalian pergi! Jangan sakiti aku dan bayiku!" ujar Jin semakin ketakutan, airmata sudah berada di pelupuk matanya

Sementara itu sebuah mobil sesto elemento keluaran terbaru terlihat berhenti dipinggir jalan. Pemilik mobil mewah itu menurunkan kacanya hendak melihat apa yang terjadi di lorong sebelahnya.

Namja bersurai Dirty blonde itu membelalakkan matanya saat seorang wanita dengan susah payah menjauhkan tangan para lelaki itu dari bayinya.

" sepertinya dia akan menjadi korban pemerkosaan dan anaknya pasti akan dijual" gumam namja itu.

Tangannya yang bebas kini meraih ponsel pintar miliknya yang terletak di saku Coatnya. Dengan cepat ia menelfon seseorang.

"ada tindak kejahatan disini! Distrik gangnam lorong ke-3 segera bawa unitmu kesini." Ujar Pria itu kemudian mematikan ponselnya. Dengan cepat pria itu memutar mobilnya kerah lorong kemudian memakirkan mobilnya dengan apik.

Namja itu meraih sebuah benda dari dashboard mobil miliknya kemudian melangkah keluar.

"yeobo?" namja itu memanggil Jin yeoja malang yang tengah di tarik tangan dan Coatnya.

Jin yang menyadari bahwa pria itu penyelamatnya pun segera berteriak "Yeobo!" ia berseru seakan-akan memang pria dihadapannya ini suaminya.

"manusia kotor! Jauhkan tanganmu dari tubuh istri dan anakku!" jejar pria itu.

"oh, suaminya datang rupanya.. haruskah kita bermain dengan suaminya juga?" ujar sang pria tambun sambil memutar pergelangan tanganya.

"hahaha! Pahlawan kesiangan rupanya.."

Pria itu tidak menghiraukan ucapan ucapan para namja kotor itu, ia hanya berjalan lurus kearah jin yang tengah gemeter sambil memeluk Jiho.

"tenanglah, aku disini" ujar namja itu sambil memeluk tubuh Jin yang gemetaran. Samar samar namja itu dapat mendengar isakan yang keluar dari bibir Jin.

"mengharuhkan sekali, tapi sepertinya kau dan keluargamu akan mati malam ini!" ucap pria itu kemudian melayangkan tinjunya.

Namun sayang tinjuan itu dapat ditangkis oleh namja itu.

Melihat pemimpinya kalah para anak buahnya pun ikut memukul namja itu.

BRUKK..

BRAAKK...

DUKKK..

TAPP..

Melihat anak buahnya yang kalah telak dihajar oleh namja itu yang pemimpin tidak tinggal diam, ia mengambil sebuah benda yang berada di sakunya yang ternyata adalah sebuah pisau lipat. Jin menjerit keras. Ia takut namja dihadapannya ini terluka.

Namja itu berbalik dan kembali memeluk Jin yang tengah menangis, memeluk erat putranya.

"tutuplah matamu.. jangan menangis.. aku akan melindungimu.." ucap namja itu kemudian berbalik . Jin menutup mataya erat erat tangannya mencengkram coat yang digunakan namja itu.

BRUKK...

BUAGHH..

SREETT..

"shit tanganku" ujar namja itu Jin tahu bahwa namja itu terluka ia makin terisak. Namja itu mengambil sebuah benda yang berada di saku Coat miliknya mengangkat dan menodongkan benda itu kearah pria tambun yang berada dihadapannya.

"bergerak kau kutembak" ujar namja itu. Ternyata benda itu sebuah pistol.

Tak lama setelah todongan itu diluncurkan, gerombolan mobil polisi datang mengepung lorong itu. Para polisi pun segera memborgol tangan para penjahat nista itu dan membawanya masuk kedalam mobil mereka.

Jin jatuh terduduk, kakinya lemas.

"kami membutuhkan keterangan kaian di kantor kami. Permisi." Sang kepala polisi segera pamit usai berkata dan memperban tangan namja itu.

"kau tidak apa apa agassi?" tanya namja itu. Jin mengangguk

''aku.. aku hanya lemas.." jawab Jin

"kita harus ke kantor polisi, kajja pergilah bersamaku.." ujar namja itu sambil memeluk Jin dan membawanya ke mobil miliknya.

.

.

"terima kasih atas kerja samanya Kim Namjoon-ssi pergilah dan tenangkan istrimu." Ujar sang kepala polisi seusai menanyai Namjoon. Pria berambut dirty blonde itu pun bangkit dan berjalan kearah Jin yang masih Shock.

"bagaimana keadaanmu?" tanya Namjoon

"aku baik baik saja, bagaimana dengan mu? Lukamu? Kau tidak akan dimasukkan kepenjara kan?" pertanyaan pertanyaan Jin itu membuat Namjoon terkekeh.

"aku tidak apa apa.. bagaimana bayi-nya?" tanya Namjoon sambil melihat kearah bayi yang berada di pangkuan Jin.

"dia terbangun.." ucap Jin sambi menghadapkan bayi manis itu ke arah Namjoon

"aigo.. kalian serasi sekali" ucap seorang polisi wanita bermata bulat disamping Jin.

"gomawo Kyungsoo-ssi.." ucap Jin sambil tersenyum.

"ini susunya"ujar polisi bernama kyungsoo itu

'gomawo' dan kai ini Namjoon yang berterima kasih

"bayi kalian sangat tampan, dia mirip sepertimu Namjoon-ssi" ujar Kyungsoo lagi

"hahaha dia memang mirip sepertiku Kyungsoo-ssi.." ucap Namjon yang dibalas senyum oleh Kyungsoo kemudian pergi.

Jiho yang berada dalam pangkuan Jin meronta ronta melihat botol susu yang ada di tangan Namjoon. Kakinya menendang kesana kemari dan tangannya terbuka lebar agar ia digendong oleh Namjoon.

"kemari sayang, biar appa menggendongmu" uja Namjoon sambil meraih Jiho dari gendongan Jin.

"sebaiknya kita pergi dari sini, penjara tidak akan baik bagi Jiho" ujar jin kemudian bangkit. Diikuti Namjoon

.

Di dalam kamar sempit inilah Namjoon, Jin dan Jiho berada. Jin tengah membuatkan teh untuk Namjoon sedangkan Jiho tengah duduk diatas meja pendek sambil memainkan telapak tangan milik Namjoon.

"ppaa~~,Ppaa~" tiba tiba Jiho berucap asal membuat Jin dan Namjoon kaget bukan kepalang.

"kau bilang apa tadi? Ppa? Coba bilang appa.. Ap-pa" Namjoon mencoba mengeja di depan Jiho. Jiho menatap Namjoon kemudian tersenyum.

"Ppaaa~! Appbbh! Ppaaa~!" Jiho berusaha keras melafalkan kata appa sampai air liurnya meleleh. Namjoon terkikik. Jin yang sudah selesai membuat teh segera berlari menuju Namjoon dan Jiho.

"itu kata pertamanya! Jiho-ya, coba bilang sekali lagi?" ujar Jin.

"appbbhh! Appbbhhaa! Pphaa!" Jiho mengulang dengan suara keras khas anak kecil yang diselingi dengan tepukan tangan.

"aahh putraku.. akhirnya dia mengeluarkan kata pertamanya!" seru Seok Jin sambil menggendong Jiho.

"anak mu sangat manis, Jin-ssi" ucap Namjoon sambil menatap jin

"yaa.. panggil Jin saja, aku kurang nyaman kalau kau memanggilku dengan embel2 'ssi' lagipula sekarang kita berteman.." ujar Jin sambil tersenyum, membuat Namjoon terpaku.

"ah.. ya.. Jin.." balas Namjoon sambil tersenyum.

'kau tidak pulang?" tanya Jin

"aku menunggu suami mu pulang, kau tau aku sangat khawatir melihatmu diserang tadi.." ujar Namjoon

"ppaa~! Bbaa!" Jiho terus mengucapkan kata itu sambil menepuk nepuk pipi Namjoon.

"ahh.. kami sudah bercerai.." ujar Jin

"maafkan aku sudah lancang.."

"ah tidak apa.. silahkan minum tehmu.. maaf motelku sempit begini.." ujar Jin.

"tidak apa-apa.. oh iya, mungkin polisi masih akan meminta keterangan kita mengingat ada beberapa penjahat yang berhasil lolos. Jadi aku meninggalkan nomer ponselku." Ujar Namjoon.

"ah.. maaf membuatmu repot Namjoon. Ah mana ponselmu? Biar kutulis nomerku jadi saat kau dihubungi mereka hubungi aku juga.." ujar Jin. Namjoon tersenyum dan memberikan ponselnya.

Perhatian Namjoon kini hanya teralih kepada namja mungil yang kini berada di gendongannya. Jiho yang terus tertawa karena ulah Namjoon yang membuat wajah wajah lucu.

"emm.. Namjoon-ah, besok ulang tahun Jiho, karena kau sudah menyelamatkan kami mau kan kau datang ke ulang tahun Jiho? Aku mengundangmu.." ujar Jin sambil menunduk.

"tentu saja.. berikan saja aku alamatnya dan aku akan datang.." ujar namjoon sambil mengelus surai kecokelatan milik Jin.

"ini undangannya, aku harap kau datang.." ujar Jin kembali sesat menyerahkan undangan bersampul babyblue itu.

"tentu saja.. siapa yang tidak akan datang kalau diundang oleh ibu dari bayi manis nan tampan ini.." ujar Namjoon.

"dan terimakasih juga sudah membantuku membersikan motel ini.."

"sama sama.."

Jiho kini sudah tertidur pulas dalam dekapan Namjoon, bayi mungil itu meringkuk dalam dan mengenggam baju depan yang dikenakan Namjoon.

"ah, dia tertidur.." ujar Jin. Namjoon perlahan mengangkat tubuh bayi mungil itu dan membaringkannya di tempat tidur dibelakangnya. Namjoon pun mengecup pelan pipi gembul bayi itu.

"aku akan pulang, jaga baik baik dirimu dan Jiho. Kalau kau perlu telfon saja aku dan aku akan menjemputmu di manapun kau butuh." Ujar Namjoon

"yaa.. yaaa.. jangan lupa datang.." ujar Jin.

"tentu saja.. aku pergi dulu.. annyeong." Ujar namjoon kemudian melangkah pergi dari motel itu.

Saat Namjoon pergi Jin merasa ada yang aneh di dalam dadanya, ia merasa jantungnya berdebar tak karuan dan berjuta juta kupu kupu melayang diperutnya

"apa yang terjadi denganku?"

.

.

.

Malam ini banyak sekali tamu tamu yang datang dari berbagai kalangan, mulai dari kalangan atas yaitu para colega colega bisnis Min corp dan ibu ibu socialita Himchan, kalangan sedang yaitu para artis artis seperti Jungkook dan teman temannya yang ia ajak, dan juga kalangan bawah yaitu masyarakat tetangga Jin pun turut ia undang.

Namun dimata Jin hanya satu orang yang tengah ia cari. Seorang pria dengan surai Dirty blonde yang baru ia kenal kemarin malam.

"siapa yang kau cari Jinnie?" tanya Hoseok pada adiknya.

"seseorang oppa.. dia yang menolongku dan Jiho semalam.." ujar Jin.

"duduklah, dia pasti akan kemari.." ujar Hoseok sambil menuntun Jin untuk duduk disamping putra tercintanya yang kini sudah berusia 1 tahun tahun.

Malam ini Jin terlihat sangat cantik dengan balutan gaun putih yang sangat cocok dipakainya, rambutnya yang kini ia cat maroon ia biarkan tergerai ditata sedemikian rupa agar menambah nilai kecantikannya, ditambah lagi dengan sematan mahkota putih kecil dikepalanya membuat ia seperti putri malam ini. Acara belum berlangsung mengingat masih ada beberapa colega bisnis yang masih belum datang dan juga Namjoon orang yang sedari tadi ia tunggu belum datang juga..

"maaf aku terlambat.." suara serak itu membuat Jin mengangkat kepalanya melihat siapa orang yang mengejutkannya.

"namjoon-ah! Kupikir kau tidak akan datang..." seru Jin sambil memeluk Namjoon.

"tentu saja aku akan datang , tapi aku harus membelikan kado untuk anakku dulu.." ujar Namjoon sambil menengok kearah Jiho yang sedang duduk di mejanya.

Ternyata, namja kecil itu tengah menahan tangisannya, lihat saja hidung dan alisnya yang berubah merah serta air mata yang sudah menggenang. Oh Jiho cemburu rupanya ia tidak ingin Appanya memeluk orang lain selain dirinya, walaupun itu Jin ibunya sendiri..

"hiksss... ppaa! Bbhhh! Ppaaa!" Jiho mulai menangis.. membuat jin panik.

Ia segera melepas pelukannya dan segera menggendong Jiho, namun Jiho masih saja terisak..

"berikan dia padaku" ujar Namjoon sambil menarik Jiho dan ajaibnya Jiho bisa diam dipelukan Namjoon.

"uhh.. ada apa Jiho sayang? Kenapa menangis? Namja tidak boleh menangis.." ujar Namjoon sambil menghapus jejak jejak airmata dipipi Jiho.

"Ppaahh! Ggeummhhh Mmaa!" ujar Jiho sambil memeluk Namjoon dan menunjuk Jin.

"sepertinya ia cemburu melihatku memelukmu.." ujar Jin

"hahaha... appa hanya memeluk eommamu sebentar sayang.. sekarang duduk.. appa punya sesuatu untukmu.." ujar Namjoon sambil mendudukkan Jiho.

Namjoon mengambil kotak bersampul pita biru yang ia simpan dimeja sebelah dan memberikannya pada Jiho, namja kecil itu langsung tersenyum dan tertawa.

"wahh.. Namjoon-ah mungkin kau tidak sepatutnya memberikan ia ini.." ujar Jin

"tidak apa apa, dia suka denganku, jadi apa salahnya aku belikan dia hadiah? Lagipula aku juga punya ini untukmu.." ujar Namjoon sambil menyerahkan sebuah kotak berwarna merah untuk Jin.

"apa ini? Jiho sayang ucapkan terima kasih.." ujar Jin sambil mengelus rambut Jiho

"mmmaaappthaa.." ucap Jiho sambil menunduk.

"sama sama.. waahh ternyata kau melatih dia seharian ini untuk membuat ia mengucapkan kata terima kasih?"tanya Namjoon

"bukan Cuma itu.. aku juga melaatihnya memanggil eomma, karena aku cemburu padamu! Kata pertama adalah kata appa bukan eomma.." jejar Jin

"hahah.. yaahh.. baiklah.. kau tampak cantik malam ini Jin.." puji Namjoon

"ish apa apaan kau.. emm.. walaupun kau juga Tampan malam ini.." balas Jin sambil merona.

.

"kita mulai sekarang acaranya Jinniee.. aah.. siapa namja ini?" tanya Yongguk yang terkejut ada namja yang tengah mengobrol dengan anaknya.

"ini Namjoon eomma.. temanku.." ujar Jin

"annyeonghaseyo ahjussi ahjumma.. Kim Namjoon imnida" ujar Namjoon sambil membungkuk

"aahh.. Namjoonie, aigoo tampan sekali kau.." ujar Himchan sambil menepuk nepuk pipi Namjoon

"acaranya akan dimulai sayang.." ujar Yongguk sambil merangkul Jin.

"baiklah, ahjussi ahjumma.. aku akan membaur dengan tamu lain dulu.." ujar Namjoon sambil meninggalkan meja itu.

Namun baru saja Namjoon meninggalkan meja itu, Jiho yang tidak melihat keberadaan Namjoon langsung terisak dimeja.

"hikksss... ppaahhh! Apphhaaahh!" Jiho berseru keras membuat Jin dan saudaranya panik.

"eonnii ada apa? Kenapa tiba tiba Jiho menangis?" tanya Yonggi

"tidak biasanya dia seperti ini! Jiho sayang sini sama Samcheonmu.." ujar hoseok sambil meraih Jiho namun ditepis kasar oleh anak itu.

"phaaa! Apphhaaahh!" suara Jiho melengking membuat para tamu undangan menoleh kearahnya.

"Phaaa!" Jiho kembali berteriak.

"namjoon! Dia butuh Namjoon! Namjoonniee!" Jin ikut berteriak, betapa paniknya keluarga itu. Para tamu pun ikut panik melihat sang bayi manis itu menangis.

"Phaaa! Huweeeehh! Appaaahh!" Jiho kembali berteriak.

"aku disini!" Namjoon tiba tiba muncul dengan tergesa gesa.

"phaaahh!" Jiho berseru membuka tangannya minta ingin dipeluk.

"appa disini.." dan Jiho pun terdiam, walaupun masih terisak, Jin meraih tisu dan membersihkan jejak jejak airmata di pipi jiho dan jas mungilnya.

Para undangan pun terkejut, kenapa bayi itu tiba-tiba terdiam didalam pelukan Namjoon padahal dalam pelukan ibunya pun ia tidak bisa diam bahkan merontak.

"maafkan aku, sekarang acaranya sudah bisa dimulai.." ujar Namjoon.

.

Dan acara pun dilalui dengan hikmat, banyak kebahagiaan terdapat disana, dimana saat Jiho meniup lilin pertamanya dan memotong kuenya bersama Namjoon dan Jin.

.

.

.

.

"haruskah aku membuka hati? Membuka telinga dan membuka mata padanya? Apa ia orang baik? Apakah ia akan mencintai anakku? Menerimaku apa adanya?"

.

.

.

.

.

.

.

TBC!.

.

.

.

.

.

WAHAI PARA SIDERS! TOBATLAH DAN JADILAH PARA READER YANG SUKA REVIEWS! TINGGAL KLIK KOTAK DIBAWAH INI DAN HIDUPU AKAN BAHAGIA