Neottaemunae (baecause you)

By :

Kim Elin

.

.

Cast :

Namjin

Kim Namjoon

Woo (Kim) Seok Jin

Woo Ji Ho (zico)

.

.

Other Cast :

BAP member,BTS member, Kiddoh Top Dog and other find it your self.

.

.

Genre :

Romance,friendship,little hurt

.

Warning!

TYPO,OOC,bahasa berantakan,GS!(Gender Switch)

.

Summarry:

Woo Seok Jin seorang yeoja cantik sederhana yang bertemu dengan namja kecil yang manis bernama Jiho, anak yang ia temukan di depan pintu rumahnya. Jin yang iba pun merawat Jiho, namun tanpa ia ketahui Jiho membawa ia ke takdirnya. Bertemu dan menjalin kasih, dengan seorang Rapper agency terbesar bernama Kim Namjoon. Namun perjalanan mereka tidak akan berjalan dengan mulus. Banyak rintangan yang menunggu mereka.

.

.

.

Kim Elin Present.

.

.

..

.

.

..

.

.

..

Yoongi terdiam mengamati layar komputer yang menampilkan walpaper default windows yang ia setel. Berkali kali yeoja berambut pastel itu menghela nafasnya.

"eottokhae?"

Yoongi merunduk sambil meremasi rambutnya. Matanya melebar ketika debaran dijantungnya kembali terdengar menyapanya.

"AHH! MICHIGAETTAA!" Yoongi berseru keras membuat beberapa karyawan menoleh kearahnya. Namun yoongi tidak memperdulikan itu.

Yoongi mengambil ponsel putihnya, menekan beberapa angka dan mulai mendialnya. Sementara menunggu panggilan terangkat ia mulai membersihkan meja kerjanya.

"halo? Kau dimana?" seru Yoongi ketika telfon itu tersambung

"aish! Selalu saja tidak sopan, aku lebih tua darimu!"

"hhh... kurae.. oppa, kau dimana?" tanya yoongi kemudian

'' charada! Dikantor, hendak pulang"

"some cake and coffe?" tawar Yoongi

"sure"

" 'Kamong' aku yang traktir.."

"eish~ tumben sekali kau—"

Yoongi segera menutup telfonnya dan segera bergegas.

.

.

.

Yoongi sekali lagi membenahi penampilan dirinya. Entah kenapa wanita berambut pastel ini terlihat berbeda hari ini.. apa karena ia ingin bertemu seseorang?

TRIING!

Bell restoran itu berbunyi, menandakan seorang pelanggan baru saja tiba.

"Yoongi!" seorang pria memanggil Yoongi membuat ia menoleh.

"Jimin!" pria bernama itu mendekat dan langsung mengacak rambut Yoongi.

"aish! Anak nakal, sudah kubilang panggil aku oppa! Karena aku lebih tua darimu!" ujar Jimin.

"yaa.. yaa... tapi jangan mengacak rambutku atau kutendang kau!" ancam Yoongi. Jimin tertawa.

"lihatlah betapa galaknya kau! Pantas saja kau belum punya pacar sampai sekarang" ujar jimin. Yoongi menyesap kopinya

"tapi sedang ada seseorang yang ku sukai sekarang.." ujar Yoongi sambil tersenyum.

Jimin hampir saja tersedak kalau bukan ia menahan ice coffenya di dalam mulut.

"eiiss! Lihat senyuman itu.. sedikit menakutkan, tapi kau terlihat lebih cantik jika seperti itu." Ujar Jimin

"hahaha, sayang aku baru menyadarinya.. pria itu dekat tapi jauh diraih.." ujar Yoongi sambil menelusupkan anak rambutnya kebelakang telinga.

"hmmm.. lalu bagaimana dengan pria itu? Apa dia sudah mengatakan perasaannya?" tanya Jimin

"dia bilang kalau,—"

"JIMIN!"

Suara teriakan wanita itu membuat Jimin dan Yoongi menoleh, seorang wanita berambut kecokelatan berjalan kearah tempat Yoongi dan Jimin duduk.

"ini benar kau kan Jimin?!" wanita itu berseru agak kencang.

"Wo-Woah! Irene Noona!" jimin balas berseru

Jimin dan wanita yang bernama irene itu saling berpelukan tanpa memperdulikan yoongi yang hanya duduk dan menatap gelas kopinya yang sudah kosong.

"urimaniya.." ujar Irene

"nee.. sudah lama sekali, Noona sekarang kau kerja dimana?" ujar Jimn memulai percakapan mereka

"aku? aku bekerja sebagai sekretaris presdir Lee" jawab Irene

"woah, Jinjjayo? Noona seenaknya kau meninggalkanku pergi ke amerika waktu itu.. aku masih dendam sampai sekarang" ujar Jimin. Irene mencubit pipinya

"aigoo.. kau sudah bukan anak high school lagi.. kenapa masi seperti ini hah? Oh iya siapa ini?" tanya irene yang kini sadar dengan adanya Yoongi disitu.

"ini temanku Yoongi, cantik kan?" ujar Jimin. Yoongi hanya tersenyum kaku

"oh, temanmu.. tentu, tapi aku lebih cantik darinya.. hahaha" Irene tertawa.

Yoongi tau tawa itu sirat akan sesuatu, ia hanya bisa tersenyum walau kaku.

"pria itu bilang kalau ia begitu menyukaiku berkali kali, bahkan pria itu mencintaiku.."

Yoongi hanya bisa memperhatikan Jimin dan Irene yang saling mengobrol, sambil tertawa dan sesekali melakukan skinship entah itu pegangan tangan, mengusak rambut atau berbisik.

"tapi apa yang harus aku lakukan ketika pria yang aku sukai itu bersama orang lain? Haruskah aku berontak? Tidak bisa bodoh! Memangnya kau siapanya dia huh?! Diam saja!"

.

"noona kau semakin cantik saja..."

.

"yaa, dia memang cantik, dia bisa membuatmu tertawa dengan tulus sedangkan aku? hanya bisa membuatmu mengumpat, menghela napas panjang dan mengatahiku saja.."

"memang apa bagusnya aku Park Jimin? Kau bilang menyukaiku, bahkan mencintaiku.. tapi bagaimana nanti kalau perasaanmu hilang dan beralih pada orang lain sebelum aku mengatakan aku menyukaimu?"

.

"hahaha biar bagaimanapun aku ini cinta pertamamu.. aku juga masih ingat bagaimana caramu menyatakan perasaan padaku saat aku dibandara.." ujar Irene.

Yoongi menengok jam tangannya, meninggalkan beberapa won dan bangkit.

"sebaiknya aku pergi saja kalian terlalu asik mengobrol.." ujar Yoongi

"kau sudah selesai?" tanya Jimin

"sudah dari tadi.. sebenarnya aku ingin mengajak kau ke suatu tempat dan mengatakan hal yang sangat penting, namun.. yaa.. temanmu kan ada disini.. yasudah.." ujar Yoongi. Memang benar Yoongi ingin mengajak Jimin ke suatu tempat dan menyatakan perasaannya, namun.. perasaannya duluan hancur sebelum diungkapkan.

"Yoongi tunggu dulu, aku tidak tau kalau kau ingin—"

"sudahlah sekarang hal itu sudah tidak menjadi hal yang penting, nikmati acara kalian,.." Yoongi tersenyum sambil melangkah tanpa menoleh lagi.

Jimi ingin mengejar Yoongi, namun mengingat irene yang ada disitu membuat iajadi tidak enak. Jimin tidak tahu kalau Yoongi ingin mengatakan sesuatu padanya, sungguh ia merasa bersalah.. Jimin tidak buta, ia tahu tatapan Yoongi tadi, adalah tatapan kecewa.

.

.

.

Yoongi duduk lemas di meja kerjanya. Ia ingin menyelesaikan semua pekerjaannya sampai tuntas meskipun ia tidak bisa tidur, ia harus kerja dan melupakan semuanya.

Perlahan ia mulai membuka berkas berkas pembelaan yang diberikan kliennya untuk ia periksa dan ia ajukan pembelaan. Namun perlahan pandangannya mengabur tertutup dengan liquid bening yang siap tumpah..

Liquid itu terjatuh dari pelupuk matanya, mengalir di kedua pipinya membuat Yoongi mengusapnya kasar.

"Sial! Sial! Sial! Untuk apa kau menangis huh?! Kau bukan wanita lemah! Jangan menangis min Yoongi bodoh!" serunya sambil menatap pantulan wajahnya di layar computer yang gelap

"sesakit apapun itu, kau tidak boleh menangis! Tidak boleh menangis!"

Yoongi mengusap airmatanya kasar, ia memukul mukul dadanya yang terasa sesak.

"uuhh... kenapa sesak sekali disini.. kenapa sakit? Apa jantungku kambuh lagi?"

Yoongi masih memukuli dadanya. Ia menggeleng.

"tidak! Aku harus bekerja.. agar aku cepat dipindahkan ke kantor pengacara yang lain... walaupun aku sudah terkenal sebagai pengacara bermulut pedas."

Yoongi pun kembali bekerja ia tidak peduli lagi pada kesehatan ataupun pada kondisinya saat ini.

.

.

.

.

.

.

"maaf sajangnim, saya terlambat" ujar seorang wanita berambut blonde didepan pria yan sedang membaca berkas dihadapannya yang tidak lain adalah Hoseok.

Hoseok mengangkat kepalanya, ia memang terkejut dengan kehadiran wanita ini, wanita ini memang benar benar mirip dengan seseorang yang sdah memenuhi segala ruang didalam hatinya 7 tahun lamanya. Namun ia masih bisa mengontrol wajahnya.

"bagus sekali, Haeri-ssi.. kau terlambat 1 jam 25 menit. Kau pikir berapa juta won di luar sana yang saya biarkan menunggu hanya karena sekretaris sepertimu?" jejar Hoseok.

Haeri sedikit berjenggit

"maaf sajangnim"

"kau pikir dengan maaf bisa mengembalikan kontrak dengan E&D Corp?" Hoseok bangkit. Ia ingin sedikit menguji sekretarisnya ini..

"maaf—"

"berhenti mengatakan perkataan terkutuk itu! Sekarang kau tunggu apa lagi hah?! Tunggu ditendang? Cepat jelaskan kenapa kau terlambat?" bentak Hoseok

"saya terlambat bangun sajangnim.." jawab Haeri. Hoseok tersenyum, ia yakin wanita dihadapannya ini adalah eunhye. Eunhye memang tidak bisa bangun pagi, ia akan bangun pukul 8. Tentu saja haeri tidak tau kalau Hoseok sedang tersenyum

"kau fikir umurmu berapa huh? Sampai kau terlambat seperti itu? YA! Jangan menunduk!" bentak Hoseok, Haeri berjenggit dan segera mengangkat kepalanya.

"maaf sajangnim, kalau bisa—"

"kalau bisa apa huh?"

"apa kita bisa melanjutkan rapatnya? Saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi dan akan bekerja dengan baik.." ujar Haeri

"hahaha.. setelah kau mengacaukannya kau ingin aku memohon kepada para investor begitu?! Mau kau taruh dimana mukaku ini!"

"maaf sajangnim—"

"kalau begitu selamat Lee Haeri, anda resmi—"

"saya mohon jangan pecat saya sajangnim! Saya tidak tahu harus kerja dimana lagi kalau saya dipecat.." ujar haeri sambil memohon pada hoseok dengan menarik Jas nya.

Hoseok menaikkan telunjuknnya menjauhkan kepala Haeri dari hadapannya dan menepis tangannya.

"saya belum selesai bicara Haeri-ssi, jangan biasakan memotong pembicaraan orang lain. Saya Cuma mau bilang, selamat anda berhak menjadi sekretaris saya." Ujar hoseok sambil tersenyum dan mengulurkan tangannya.

"a-apa?" Haeri tampak terkejut dan bingung sampai membiarkan tangan Hoseok menggelantung diudara

"setidaknya kalau kau bingung jangan biarkan tangan bosmu menggelantung diudara seperti ini." Tegur Hoseok. Haeri segera menjabat tangan Hoseok

Hoseok mempersilahkan Haeri duduk. Ia tersenyum menyembunyikan debaran kencang didadanya.

"jadi? Sajangnim? Ada apa ini?" tanya Haeri

"hahaha, jadi begini... setiap saya memiliki sekretaris baru, saya akan mengerjainya terlebih dahulu, terutama mentalnya. Kalau ia menangis dia akan saya pecat dan kalau tidak ia tidak akan saya pecat seperti anda haeri-ssi" ujar hoseok

"jadi? Rapat dan semuanya?"

"itu bohong.. kau sudah pegang jadwalnya kan? Lainkali pakailah alaram. Walau bagaimanapun saya tidak suka keterlalmbatan seperti tadi Haeri-ssi." Ujar Hoseok

"ah! Iya.. jadwalnya memang saya yang pegang... eumm... anda punya rapat dengan perusahaan Blanc Eclaire 45 menit lagi." Ujar Haeri.

'baiklah.. siapkan segala berkas dan ruangan rapatnya. Catat semua hasl rapat dan berikan laporannya padaku sore ini." Titah Hoseok

"baik sajangnim"

.

.

.

.

.

.

.

Yoongi mengangkat kepalanya yang terasa begitu berat. Ia memijit pelan kepalanya perlahan ia menengok ke samping. Sejak kapan ia tertidur di kantor? Hanya lampu mejanya yang menyala.

Yoongi menengok kearah jam tangan miliknya. Pukul 4 pagi. Yoongi membenahi rambutnya, membereskan mejanya dari gelas kopi dan makanan ringan kembali membolak balik kertas laporannya. Pekerjaannya sudah selesai sekarang..

Yoong mengecek ponselnya ada 145 panggilan tak terjawab berasal dari Hoseok,Jin,Namjoon dan eommanya namun tak ada satupun telepon dari orang yang sedang ia tunggu.

"kalau ia menelfonku pagi ini aku akan melupakan kejadian kemarin" ujarnya sambil membuka icon message

17 message dari Hoseok, Jin dan klientnya

"pengadilan cheonsak, aku akan ketemu lagi dengannya hari ini.. hhh.. tidak perlu risau Yoongi! Sekarang pulanglah mandi dan tidur lah sampai pukul 12 setelah itu kau harus ke pengadilan.. ah tidak! Aku tidak bisa tidur sekarang... aku harus bermain dengan Jiho pagi ini... ahk! Aku merindukan anak itu"

Yoongi pun bergegas mematikan lampunya dan pergi keluar kantor untuk pulang ke rumah.

.

.

.

.

.

.

.

.

"huksss~~ huweeeh!" tangisan bayi itu terdengar membuat Namjoon segera terlonjak dari tidurnya.

"Jiho sayang? Waeyo?" panggil Namjoon sambil menengok tempat tidur Jiho

"appa~~ neomu appoyo~~" ujar Jiho sambil memegangi pipinya yang dilapisi oleh plester

"Gwaenchana.. Jiho-ya neo Namja-ga.. namja tidak boleh menangis" ujar Namjoon sambil menggendong putra kesayangannya itu.

"ada apa?" tanya Jin yang baru saja bangun dari tidurnya.

"Jiho menangis memegang pipinya yang sakit lagi.." ujar Namjoon sambil menepuk nepuk bokong Jiho yang sepertinya sudah tertidur kembali dalam gendongannya.

"seharusnya waktu itu aku membawanya... seharusnya waktu itu aku tidak meninggalkannya bersama Hyosang.. seharusnya aku—"

"sudahlah Jinniee... berhenti memikirkan hal ini.. Jiho sudah ada di tangan kita.. walaupun dengan luka dan trauma yang mendalam.." ujar Namjoon sambil meletakan Jiho di tempat tidur mereka

"seharusnya Jiho tidak mendapat ini semua... dia terlalu kecil untuk dipukuli.. hikss.. dibentak.. dan diperlakukan tak sewajarnya—"

"sudahlah sayang, Jiho akan baik baik saja.. traumanya pasti akan berrangsur angsur hilang... tenang saja, setelah ini aku tidak akan membiarkan satupn orang menyentuh orang orang yang aku cintai, apalagi menyakitinya." Ujar Namjoon sambil menangkup pipi Jin.

"tapi Namjoonie aku..."

"tatap mataku, sekalipun dunia ini terbelah dua pun aku tidak pernah berbohong padamu.. kalau aku berkata ingin menjaga kalian aku pasti menjaga kalian.. karena aku sangat mencintai kalian berdua.. kau dan Jiho.." ujar Namjoon, Jin terharu dan segera memeluknya.

"aku mencintaimu Namjoon, terimakasih.. aku bahagia.."

.

.

.

.

.

.

.

"aku pulang," sapa seorang wanita berambut pastel saat memasuki rumahnya yang tentu saja sudah mulai beraktifitas

Sang ibu Himchan menatap nyalang sang anak

"YAAA! Nappeun-yeon! Darimana saja kau! Hah! Kau fikir tidak pulang semalam itu lucu hah?" himchan segera saja memukuli Yoongi

"Yaaa! Yaaa! Eommaa... appoyoo~" ujar Yoongi

Namjoon yang sedang menyuapi Jiho pun hanya bisa menatap keduanya, sebab kalau Himchan sedang marah tidak akan ada yang bisa menghentikannya.

"Ya! Jinjja... anak nakal ini sudah pulang eh? Darimana saja huh?" hoseok yang baru turun dari kamarnya segera menanyai Yoongi.

"aaa! Eommaa appo! Yoongi dari kabtor! Semalam lembur membereskan semua tugas tugas.." ujar Yoongi

"jinjja?"

"yaa! Kau fikir aku yeoja murahan huh? Kau fikir aku sudah menghabiskan malam bersama namja lain?" tegas Yoongi

"Aaah! Jinjjayo?! Yoongiku yang polos kenapa jadi bicara soal ini? Ah... sebenarnya kau kemana semalam, katakan dengan jujur..." ujar Jin

"sudah ku bilang aku dari kantor dan sedang lembur.. ayolah eonni," cegat Yoongi

"sudahlah, jangan menyudutkan Yoongi seperti itu kasian dia. Lagipula Yoongi kan sudah bilang kalau ia dari kantor, apa susahnya untuk percaya sih?" ujar Namjoon yang masih membersihkan mulut Jiho yang belepotan bubur.

"kau benar Namjoon, mereka bertiga ini terlalu over terhadap yoongi, bagaimanapun, yoongi sudah dewasa, ia dapat menentukan hidupnya sendiri—aigoo ilyeoaba (kemari)" ujar Yongguk sambil meraih Jiho ke gendongannya. Yoongi berjalan menuju kamarnya

"benar juga Yah.. apalagi sekarang aada jimin." Ujar Hoseok membuat Yoongi menoleh

"Jangan sebut namanya lagi!"

BRAK

.

.

Yoongi menghempaskan tubuhnya di kasur empuk putihnya. Ia menghiraukan pakaian kantor yang masih melekat di tubuhnya ia membuka lock screen ponselnya yang tidak menampilkan apapun.

"kalau ia masih belum menelfonku sampai pukul 9 nanti, aku tidak akan mengenalnya lagi." Ujar Yoongi kemudian bangki untuk ke kamar mandi.

.

.

.

.

.

.

.

.

Hari memang masih pagi, tapi Jungkook terlihat sudah sangat siap. Ia tengah memasak sarapan paginya.

"kau jahat karena tidak membangunkanku" ujar seorang pria yang memeluk Jungkook dari belakang

"Kkamchagiya! Aish, oppa" seru Jungkook. Jantungnya berdebar tak karuan entah itu karena ia kaget atau karena yang lain

"itu salahmu karena membiarkanku bangun sendiri Jeon."

"yaa, itu karena oppa yang tidur terlalu nyenyak.." ujar Jungkook sambil berbalik.

"morningkiss?" tanya pria itu, yang tak lain adalah Taehyung. Jungkook tak menanggapinya, dan malah berlalu ke meja makan dan duduk.

"anii.. tidak akan ku berikan."

"yaaa... mana bisa seperti itu?" Taehyung mengikuti Jungkook duduk di meja makan.

"oppa melanggar 2 aturan yang sudah kubuat!" ujar Jungkook sambil memasukan sarapannya kedalam mulutnya.

"yaa! Peraturan apa? Aku tidak melakukan apapun.." cegat Taehyung.

"tidak, oppa melakukannya! Semalam oppa terlalu kasar! Dan lihat! Sudah kubilang jangan membuat tanda di bagian yang tidak tertutup pakaian! Aahhh! Tandanya terlihat jelas sekali,.." seru Jungkook sambil memperlihatkan perpotongan lehernya yang terdapat tanda merah sedikit keunguan.

"hanya seperti itu dan kau tidak memberiku morningkiss? Keterlauan.." ujar Taehyung

"oppa yang keterlaluan! Kita punya pemotretan hari ini dan tanda ini sungguh menyiksaaa... aahhh... kalau nanti kelihatan para netizen, kita pasti hancur oppa.." jejar Jungkook

"tapitidak seperti itu juga Jungkookie.."

"tidak! Pokoknya 2 hari tidak ada kegiatan yang namanya berciuman! Oke!" ujar Jungkook

"yaa! Yaa! Aku tidak setuju jika seperti itu.." cegat Taehyung

"diam! Makan sarapanmu oppa, kalau kau protes sekali lagi, aku tidak akan mau dicium olehmu 2 minggu!" ujar Jungkook yang langsung membuat taehyung bungkam dan segera memakan sarapannya.

.

.

.

.

.

.

.

Hoseok berjalan keluar dari ruangan rapat didampingi sang sekretris dan beberapa staf yang lain.

"senang sekali bekerja sama dengan anda Hoseok-ssi" ujar pria paruh baya dihadapannya.

"terimakasih Choi ahjussi, sekali lagi terimakasih karena sudah mau bekerja sama dengan perusahaan kami," ujar Hoseok sambil menjabat tangan tn. Choi

"wah igeoba, anda masih muda, sukses dan berbakat dalam bidang bisnis tapi anda belum memiliki pendamping dan masih lajang.. apa anda berkenan untuk dikenalkan pada putri saya?" tanya tn. Choi

"hahaha sebelumnya terimakasih atas pujiannya Choi ahjussi, mungkin kita bisa atur jadwal pertemuannya, saya juga penasaran dengan putri anda yang katanya lulusan universitas Oxford itu ya?" tanya Hoseok.

"ya, anda benar Hoseok-ssi bagaimana jika sabtu ini?" tanya tn. Choi

"tentu, untuk waktunya silahkan anda atur, karna pasti saya akan menghadirinya.. saya merasa tersanjung untuk mengenal putri anda."

"ahahah, benarkah. Kalau begitu nanti saya hubungi.." ujar tn. Choi

"baiklah... terimakasih Choi ahjussi, hati hati dijalan..

.

.

"arghh... perkenalan lagi.. saya paling benci hal itu.." ujar Hoseok saat tiba di ruangannya.

"kalau anda benci hal itu kenapa anda terima?" tanya sang sekretaris. Haeri

"kau harus tau Haeri, ini salah satu siasat dalam berbisnis, anaknya dapat kita gunakan sebagai alat menarik keuntungan dari perusahaan sang ayah, kalau kita memperlakukan anaknya dengan baik kita bisa menarik ayahnya y=untuk berinvestasi dengan jumbah besar diperusahaan kita." Ujar Hoseok. Haeri mengangguk

"jadwalku selanjutnya?"

"anda tidak memiliki jadwal apapun sajangnim sampai akhir jam makan siang, setelah itu anda harus meriview semua dokumen para pegawai." Ujar Haeri

"ah begitu, ah ya.. berniat makan siang bersama?" tanya Hoseok. Ia merasa inilah saat yang tepat mengenal haeri lebih jauh

"uh? Maaf sajangnim? Anda mengajak saya?" tanya haeri lagi, wajahnya tampak merona halus

"ya tentu saja.. masa iya saya mengajak nyamuk atau angin yang berada di ruangan ini?" ujar Hoseok. Haeri mengangguk

"kalau begitu bereskan pekerjaanmu dan kembali pada ruangan saya saat selesai.."

"baik sajangnim.."

.

.

.

.

.

.

.

.

Yoongi menghela nafas kasar, sebentar lagi sidangnya akan di mulai, ia tengah menunggu sang klien sambil membolak balik ponselnya.

"dia tidak menelfonku sekalipun,.. hhh.. apa dia bersenang senang dengan first lovenya itu?" ujar Yoongi sambil menatap ponsel yang samar membayangkan wajah cantiknya

Mata Yoongi mulai berair, ia merasa ingin menangis jantungnya terasa tertusuk tusuk membuatnya merasa nyeri dan pilu,.

Yoongi segera menghapus airmatanya, bagaimanapun ia paling benci terlihat seperti wanita lemah yang menangisi seorang pria. tak lama kliennya pun muncul membuat ia segra memasuki ruang sidang.

.

.

.

.

.

.

.

"bagaimana eomma, apa sudah siap?" tanya seorang pria melalui telepon

"jujur saja, eomma tidak mau merendahkan diri untuk meminta maaf, tapi berhubung karena ia adalah calon istrimu yang eomma ketahui berasal dari keluarga yang terpandang dan juga pintar eomma rela merendahkan diri untuk itu" ujar sang eomma

"tidak usah seperti itu eomma, aku tahu kau tidak sejahat itu, apalagi padaku.. dan sebentar lagi kau akan punya menantu yang akan segera memberikanmu apa yang eomma idam idamkan selama ini.." ujar sang pria

"yaa Namjoon, eomma tau. Tapi tanpa disebut seperti itupun eomma sudah punya 1 kan? Siapa namanya? Jiho yah?" tanya sang eomma. Si pria—Namjoon—hanya bisa tersenyum dari balik telepon.

"iya, namanya Jiho, besok pagi aku akan kembali ke rumah untuk mempersiapkan segalanya yang akan dipakai untuk lamaran nanti.. bagaimana dengan appa?" tanya Namjoon

"seperti biasa ayahmu tidak pernah mengomentari apapun tentang dirimu, ia selalu berpendapat jalan yang kau ambil adalah jalan yang benar... bahkan ia memesan tiket hari itu juga, saat eomma memberitahu kalau kau akan menikah.." jelas sang ibu, Namjoon kembali tersenyum

"selalu doakan yang terbaik untukk anakmu ini eomma, aku menyayangimu."

"eomma juga menyayangimu."

.

.

.

.

.

.

Yoongi melenggang keluar dari kantornya, setelah menyelesaikan sidang serta beberapa dokumen dan arsip yang harus ia periksa. Ia melangkah kearah cafe yang berada di seberang jalan.

TING!

Yoongi memasuki cafe itu dan duduk disalah satu meja, mulai memesan makanan dan kembali terdiam.

"haruskah aku membeli mobil?" tanyanya

"baiklah aku akan membelinya, supaya aku tidak bergantung pada Hoseok oppa dan juga..—jimin—"

Mengingat orang itu membuat Yoongi kembali bersedih. Memang Yoongi yang bersikap cuek pada Jimin saat di pengadilan tadi.. tapi sikap Jimin yang bertingkah seolah tak terjadi apapun membuat Yoongi merasa sakit.

"aish! Jantung ini.. jinjja.." Yoongi kembali memegangi dadanya yang terasa berdenyut.

Pesanannya sudah datang dan ia pun segera memakannya karena memang ia sedang Yoongi menghabiskan 4 gelas kopi dan beberapa snack ringan yang memang ia simpan di laci kantornya.

KRIIIING...

Ponselnya berdering membuat Yoongi segera menjawab telepon yang ternyata video call dari Jin.

" imoo!" suara cadel Jiho lah yang pertama kali terdengar, Yoongi segera memasang wajah bahagia pada anak itu.

"hai sayang..." sapa Yoongi.

"imoo~ jiho mmm~~ mmm~ pelmen jelly" jiho berbicara khas suara cadelnya membuat yoongi terkikik geli

"wae? Jiho pingin permen jelly? Imo belikan nee?" ujar Yoongi sambil tersenyum

"banyakkk" seru Jiho

"neee, yang banyakkk..." balas Yoongi

"Yoong! Jangan belikan dia macam macam... ilyeowa, sini bareng eomma.." terdengar suara Jin dari sebelah.

"aku tidak membelikannya macam macam unnie, aku hanya membelikan Jiho permen jelly"

"tapi Yoong, giginya bisa sakit kalau kebanyakan makan permen.." sanggah Jin

"Jiho kan punya sikat gigi eonnii.."

"baiklah terserah apa katamu"

"eonni, jantungku sakit lagi.." ujar Yoongi.

"kali ini apa lagi? Kau merasa seperti apa? Apa berdentum keras seperti waktu itu?" tanya Jin

"bukan seperti itu eonni.. ini lebih ke sakit, rasanya sakit sekali... seperti ada yang menusuk nusuknya.. aku jadi ingin menangis... sangat sakitt..." ujar Yoongi, matanya sudah terihat berembun

"apa yang kau lihat? Apa yang kau lihat sampai jantungmu terasa sakit?"tanya Jin

"jimin.."

"hanya dia?"

"tidak.. dia.. dia bersama wanita lain.." akhirnya airmata itupun jatuh.

"kau cemburu, itu yang membuat jantungmu terasa sakit.. sebenarnya bukan jantungmu yang sakit—"

"imo? Imo menangith?" seru Jiho

"diam Jiho sayang... sebenarnya bukan jantungmu yang sakit, tapi hatimu.. kurae.. sekarang kau menyadari perasaanmu setelah berlama lama menyangkal perasaan itu hmm?"

"imo tidak apa apa sayang... iya unnie.. aku mencintainya.. tapi rasanya sakit sekali.." ujar Yoongi

"nyatakan perasaanmu, setidaknya kau sudah pernah menyatakannya, kalau sudah menyatakannya tidak akan terasa sakit lagi.."

"baiklah unnie.."

"cepatlah pulang, kau harus segera membantuku menjaga Jiho.. dan mencoba bajumu.." ujar Jin

"neee.."

.

Tanpa Yoongi sadari seorang wanita menyeringai di tempatnya.

"tidak akan semuda itu kau mendapatkan Jimin."

.

.

.

.

.

.

.

"OMONA! Igeoba! Jungkook apa ini?" tanya sang manager saat melihat tanda di lehernya.

"uunniee... bagaimana cara menghilangkan ini? Sebentar lagi kita pemotretan, kalau tidak segera hilang aku akan dapat berita burukk!" seru Jungkook

"kalian making love? Semalam?" tanya sang manager.

"unniee, kecilkan suaramu... iya, semalam Tae oppa mabuk dan lepas kendali.." ujar Jungkook

"lalu bagaimana ini? Unnie tidak tahu cara menghilangkannya?" tanya Jungkook

"emm... sebentar.. kalau sajangnim tau bisa gawat!" ujar sang manager.

"kalian sedang apa?" jokwoon sang stylish masuk kedalam ruangan pribadi mereka.

"in, Jokwon-ah,, kau berjanji tidak akan memberi tahunya pada siapapun?" tanya sang manager.

"yaa.. memangnya soal apa? Rahasia apa sih?" tanya Jokwoon

"lihat ini..." ujar sang manager sambil memperlihatkan tanda di perpotongan leher Jungkook..

"what? Kau making love semalam kook? Astaga... kalau sampai netizen sampai tau kau bisa di cap perempuan tak benar.." ujar Jokwoon.

"iya aku tau itu oppa.. makanya sekarang aku sedang memikirkan cra bagaimana menghilangkan tanda ini biar aku bisa langsung pemotretan.' Ujar Jungkook.

"hmm,.. begini. Aku datang untuk meriasmu.. sebentar lagi pemotretan akan dimulai.. jadi bagaimana kalau tanda itu kita tutupi dengan makeup?" ujar Jokwoon. Jungkook tersenyum.

"bagus! Kenapa tidak daritadi?"

.

.

.

.

.

.

.

Hoseok dan haeri memasuki restoran tempat mereka akan makan siang. Hoseok telah memesan tempat yang terbaik. Dimana tempat itu berada di dekat taman yang sangat hijau dan segar.

Hoseok melepas jas nya dan menutupi paha haeri dengan jasnya itu. Rok yang digunakan oleh Haeri memang terlalu minim, cukup membuat lelaki disekitarnya memperhatikan itu.

"trimakasih sajangnim.." ujar Haeri. Hoseok tersenyum membuat Haeri terpesona.

"tidak usah seformal itu.. kalau didalam kantor kau bisa memanggilku dengan ucapan formal, tapi kalau diluar seperti itu panggil saja aku sesukamu.." ujar Hoseok.

"a-ah.. tapi.. apa yang harus aku.. ennhh.."

"kau boleh panggil namaku saja.. tidak perlu dengan embel embel ssi atau apapun.. yah.. kau lebih muda dariku beberapa bulan.." ujar Hoseok.

"tapi apa boleh?" tanya Haeri

"tentu... di dalam kantor kita boleh saja menjadi atasan dan sekretaris, tapi diluar kantor kita menjadi teman.. tidak perlu setegang itu.. hahahaha"

"hahaha.. baiklah.. Hoseok, oppa?" ujar Haeri.

"baiklah, tidak buruk. Tidak ingin memesan makanan?" tanya Hoseok.

"tentu.."

Setelah memesan beberapa macam makanan, mereka kembali dalam diam. Hingga haeri bersuara.

"aku seperti pernah melihat oppa sebelumnya, tapi entah dimana.." ujarnya. Jantung Hoseok berdentum kencang.

"benarkah? Mungkin di tempat lain... "

"yaa.. mungkin.."

"kalung yang bagus.." ujar Hoseok 'tentu, karena aku khusus mendisgn itu untuk Eunhye..'

"ah.. kalung ini? Sebenarnya aku juga tidak tahu sejak kapan kalung ini ada disini.." ujar Haeri sambil memegang kalungnya.

"benarkah?"

"iya... kata Cha ahjuma, kalung ini memang sudah ada..." ujar Haeri.

'Cha ahjumma? Memang sudah lama? Tunggu sebentar.. sepertinya aku harus menyelidiki sesuatu... kemungkinannya 50% dia adalah Eunhye.'

"wah? Lalu kau tinggal dimana sekarang?" tanya Hoseok

"aku tinggal di rumah Cha ahjumma.. dulu.. aku ditemukan, tak sadarkan diri di kawasan pantai Gyeongpo. Saat itu Cha ahjumma sedang berlibur bersama putranya. Karena Cha ahjumma yang terlalu baik, ia membawaku ke rumah sakit, merawatku hingga sadar.." ujar Haeri.

Makanan yang mereka pesanpun datang. Hoseok menyantap pastanya.

"berarti kau korban kecelakaan?" tanya Hoseok.

"aku tak tahu apapun.. Cha ahjumma pun begitu.. saat aku sadar aku tak ingat apapun.. siapapun.. dimanapun bahkandiriku sendiri.. yang tersisa hanya kalung ini.. aku begitu menyayangi kalung ini.. entah kenapa" ujar Haeri sambil mengaduk lemon juicenya

"sepertinya kalung itu sangat langka.. dan seperti dibuat oleh ahli saja.." ujar Hoseok

"yaa.. kurasa juga seperti itu oppa.."

"Haeri-ah? Apa kau tidak berminat mencari tau siapa dirimu yang sebenarnya?" tanya Hoseok hati hati.

"sbenarnya ingin... sangat ingin... apalagi akhir akhir ini aku sering memimpikan seorang pria yang sering membawaku ke taman dan memberiku balon..." ujar Haeri.

"cobalah berjalan jalan.. siapa tau ada tempat tempat yang akan membuatmu teringat akan sesuatu?" saran Hoseok.

" Hmm.. mungkin aku akan mencobanya nanti..." ujar Haeri.

"kalau perlu aku akan mngajakmu berkeliling kota ini.." 'menggali kembali kenangan yang sudah terkubur lama'

"tidak usa oppa—"

"gwaenchana.. kita teman skarang..."

.

..

.

.

.

.

.

.

.

.

"hei Yoongi?!" panggil seseorang, membuat Yoongi yang sedang berjalan di trotoar itu menoleh.

"ada apa?" Yoongi memamerkan wajah ratanya saat menyadari orang itu adalah Jimin.

"sedang apa kau disini?" tanya Jimin.

"ingin pulang. Bagaimana kencanmu?" tanya Yoongi

"kencan apa? Hahaha aku hanya sedang menemani irene noona yang ingin membeli minuman di toko itu. Pulang bersama?"

"JIMIN!" panggil Irene yang sudah berjalan ke arahnya.

"ah, Noona.. apa sudah?" tanya Jimin.

"sudah, Hai Yoongi... kau sedang apa?" tanya Irene

"sedang mnapaki jalan."jawab Yoongi acuh.

"yaa... anak kecil, jangan kasar seperti itu. Dia lebih tua darimu." Ujar Jimin.

"terserah apa katamu Jimin. Aku tak mau lagi berurusan denganmu! Pergilah! Dan jangan kembali lagi!" ujar yoongi, kemudian menyetop Taksi. Jimin yang mendengarnya segera menahan tangannya.

"hye... tunggu dulu, apa maksudmu?" tanya Jimin

"bersenang senanglah. Dan jangan ganggu hidupku lagi."

Yoongi segera melepaskan tangan Jimin yang menggenggam tangannya dan segera masuk kedalam taksi.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Namjoon tengah mencoba memandikan Jiho sore ini, namun seperti biasa. Ia pasti ditemani oleh Jin.

"Jiho-ya, angkat tanganmu.." ujar Namjoon. Namun bukan mengangkat tangannya, Jiho malah menyipratkan air yang menyebabkan Namjoon turut basah.

"Aigoo... hahahaha" Jin malah tertawa melihatnya.

"jangan tertawa Jinie.." ujar Namjoon sambil mengusap wajahnya.

"appa.. appa.. appaaa~~.." Jiho berseru memanggil Namjoon sambil memai kan Shower yang berada ditangannya.

"Jiho, Nappeun.. appa Jadi basah kan..." ujar namjoon sambil kembali mengusapkan sabun pada tubuh putranya.

"khehehehe"

SPLASHH

Jiho tertawa dan mengarahkan Shower itu pada Namjoon, alhasil Namjoon betul betul basah Kuyup.

"aigoo aigoo... Jiho tidak boleh seperti itu pada appa.. kasihan appa kan?" ujar Jin sambil mengambil alih Jiho.

"tidak apa apa Jinie, lagipula aku ingin bermain main sedikit dengannya sebelum pulang besok.. semuanya sudah siap kan?"

"iya semuanya sudah siap.. terimakasih, aku akan berusaha besok agar terlihat baik didepan orangtuamu.." ujar Jin.

'tidak perlu.. kau sudah baik seperti ini.. lagipula aku menyukai Jin yang seperti ini..." Namjoon tersenyum.

"baiklah.. Jiho sudah selesai, sebaiknya kau juga ikut mandi.." ujar Jin sambil membalut Jiho dengan handuk.

"baiklah..."

.

.

.

.

.

.

.

"aku pulang.." ujar seorang Yeoja berambut pastel—Yoongi—

"IMOO..."

Baru saja Yoongi pulang ia langsung disambut oleh sang ponakan. Dengan senyuman Yoongi segera menggendong bocah semok itu.

"hai sayang... aahh wanginyaaa..." seru Yoongi saat Jiho memeluk perpotongan lehernya.

"imo, pelmen jelly.." ujar Jiho sambil menengadahkan tangannya.

"ah iya. Ini imo beli kok.." Yoongi mendudukkan Jiho di sofa dan membongkar belanjaannya.

"ini diaa..." ujar yoongi sambil menyerahkan sekantong penuh dengan permen jelly.

(permen jellynya Jiho itu bentuknya kayak JellyBean gitu.. karena Elin suka banget permen itu, elin juga pernah beli sekantong penuh, hahaha)

"Imo gomawoyo..." ujar Jiho dengan mata berbinar.

"apa itu Jiho?" tanya Jin yang baru datang dari dapur membawa bubur Jiho.

"pelmen eomma... Yoo-chan imo belikan" ujar Jiho.

"kau membelikan Jiho permen sebanyak ini?" seru Jin

"tidak apa apa kan eonni? Lagi pula Jiho suka.." ujar yoongi.

"tapi kalau sebanyak ini gigi Jiho bisa sakit.. dia juga bisa malas makan.." ujar Jin.

"tidak kalau Jiho tidak memakannya sekaligus semua unnie.. lagi pula Jiho kan anak pintar.."

"yoongi..."

"sudahlah unnie... biarkan saja..."

""ada apa ini?" tanya Namjoon yang barusaja trun dari kamar.

"ini.. Yoongi membelikan Jiho terlalu banyak permen Jelly Namjoon.." adu Jin

"sebanyak apa?" tanya Namjoon

"sekantong penuh.." ujar Yoongi.

"itu masih kurang banyak.. kalau Yoongi membelikan Jiho satu toko penuh permen itu baru kebanyakan Jin." Ujar Namjoon.

"tapi itu tetap saja brbahaya bagi kesehatan giginya.."

"kau bisa memberinya secara berangsur.. misalnya sehari 2 kali, setelah itu sikat giginya.. Jiho pasti tidak akan sakit gigi" ujar Namjoon.

"tapi.."

"ayolah Jinie, ini hanyalah soal permen.. lagipula Yoongi juga bisa ikut menghabiskannya.. masa iya Yoongi harus mengembalikan semua permen ini ke toko?" tanya Namjoon.

"baiklah baiklah.. sebagai gantinya kau yang harus memberi makan Jiho." Ujar Jin.

"baiklah unnie.. Jiho-ya.. kajja, kita makan di taman belakang.." ujar Yoongi kemudian menggendong Jiho kearah taman belakang tanpa menghiraukan ia yang baru pulang kerja dan butuh istirahat.

.

.

.

.

,

.

.

.

Esok paginya industri hiburan dikagetkan kembali dengan datangnya kabar dari seorang artis muda berbakat. Kim NamJoon alias Rap Monster.

"saya membenarkan berita tentang hubungan khusus yang saya jalin bersama seorang dokter tempo hari. Tapi saya tidak membenarkan kabar bahwa saya sudah berumah tangga dengan dokter itu, dan memiliki seorang anak. Itu tidak benar.. kami berdua sama sama belum pernah terikat dengan yang namanya tali pernikahan. Untuk anak yang bernama Jiho itu, ia bukan anak kami, tapi ia permata hati kami.. ia sangat berharga bagi kami walaupun bukan darah daging kami berdua.. oleh karena itu saat ia diculik waktu itu kami berdua sangat panik." Ujar seorang pria dengan surai blondenya.

"tapi dari itu semua saya ingin menjelaskan satu hal. Bahwa kami berdua akan menikah.. saya akan melamarnya hari ini kami telah sepakat, apapun yang akan terjadi kami akan tetap bersama.. saya lebih mementingkan keluarga daripada karirsaya.."

"oleh karena itu hari ini.. saya siap melepaskan karir saya jika banyak pihak yang tidak mendukung keputusan yang saya ambil, untuk para penggemar, saya tahu kalian kecewa tapi saya hanya bisa memita maaf dan tetap memita dukungan kalian. Terimakasih telah mendukung saya hingga saat ini, saya harap kalian tetap mendkung saya terimakasih."

.

Berita pagi yang cukup mengejutkan memang.. namun itulah Namjoon. Ia akan melakukan apapun untuk kebahagiaan orang orang yang dicintainya walaupun harus mengorbankan dirinya sekalipun.

"jadi, kau betul betul ingin melamar Jin noona?" tanya Taehyung.

"tentu, kau tahu aku ini sangat beda darimu walaupun kita kakak adik" ujar Namjoon.

"ya! Hyung!"

"wae?!"

"kim Taehyung! Kim Namjoon! Berhentilah bertengkar! Ingat umur kalian." Ujar sang ibu.

"lebih baik kita segera pergi ke butik untuk mengambil baju kalian berdua. Kalian sudah harus bergegas nanti malam jadi jangan berbuat macam macam." Ujar sang ibu sambil melangkah keluar.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Yoongi melangkah keluar dari kantornya untuk segera pulang kerumah, namun barusaja ia keluar dari kantor segerombolan wartawan segera menyergapnya membuat ia terkejut.

"astaga!"

"Min Yoongi-ssi, apa benar Rap Monster ingin melamar kakak anda yang bernama Seok Jin?" tanya salah satu wartawan.

"iya, itu benar.. ada apa?" tanya Yoongi.

"apakah anda menyetujui kabar ini?"

"tentu saja.. ini demi kebahagiaan mereka berdua, jadi saya setuju setuju saja.. apalagi Namjoon oppa itu orang yang baik, jadi kenapa tidak?" ujar Yoongi.

"tapi bagaimana dengan perasaan para penggemar rap Monster?"

"ya, persetan dengan mereka aku tak peduli selama mereka tidak melukai Jin unni seperti waktu itu lagipula kalau mereka penggemar yang baik mereka akan menyetujui bahkan mendukung keputusan idola mereka walau itu berat." Ujar yoongi.

"aku harus segera pergi. Permisi" ujar Yoongi kemudian melangkah kearah basemnt kantor.

.

Baru saja Yoongi sampai di basement sebuah mobil berwarna hitam metalik memblokir Jalannya.

"Yoongi!" tanpa rasa penasaran Yoongi sudah tau mobil siapa itu dan siapa yang memanggilnya.

"mimnggir, aku harus pulang." Ujar Yoongi sabil mencari jalan namun Jimin tetap menahannya.

"tunggu sebentar!" taan Jimin.

"maaf, saya tidak mengenal anda, dan saya harus segera pergi.

Tanpa ba bi bu, Yoongi segera meninggalkan Jimin dan segera memasuki mobilnya.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Hoseok berfikir keras, berkali kali ia menggeleng meninggalkan kemungkinan yang pernah singgah diotaknya.

"tidak! Aku yakin!"

Tidak perlu dipertanyakan lagi siapa yang difikirkan hoseok. Hanya 1 orang siapa lagi kalau bukan Haeri. Hoseok tidak pernah berhenti memikirkan haeri apalagi setelah haeri menceritakan kehidupan keluarganya, membuat Hoseok semakin penasaran.

"hosiki, ayo bersiap dan segera turun, sebentar lagi acaranya akan dimulai.." ujar sang ibu dari balik pintu.

"ne eomma.."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Puluhan mobil berjejer dengan rapih disetiap sudut rumah keluarga Min, beberapa anak anak remaja berjejer di pagar rumah ingin melihat langsung kedatangan sang idola, begitupun dengan beberapa wartawan yang memang sudah siap menunggu sedari tadi.

Tak lama 2 mobil mewah berhenti di depan pagar yang segera dibuka oleh para pengawal keluarga min. Jin dan keluarganya sudah menunggu sedari tadi di depan pintu mulai memasang senyum sumringah.

Seorang wanita cantik berambut hitam turun dengan percaya diri dari sebuah mobil putih yang terparkir di halaman rumah keluarga Min disusul oleh 3 orang pria tampan, yang satunya berambut cokelat sama sepertinya, satunya lagi berambut blonde dan yang satunya berambut cokelat terang.

Namjoon—pria berambut blonde—segera mengajak sang ibu dan ayah menjajakkan kaki di rumah keluarga gadis yang akan menjadi calon istrinya samar terdengar sorak sorak para penggemarnya yang berada di luar pagar mengeluh eluhkan namanya.

Keluarga Min tersenyum.

"selamat datang..." ujar Himchan dan Jin.

"terimakasih," Jaejoong sang ibu dari namjoon tersenyum namun membelalak.

"Himchan? Kau? Kim Himchan kan?" tanya Jaejong.

"iya.. saya Kim Himchan ada ap—OH! Jaejoongiee!"

Himchan dan Jaejoong segera berpelukan tanpa menghiraukan tatapan aneh dari anak anak mereka. Seperti tidak ingat umur mereka berpelukan sambil meloncat seperti anak kecil saja..

"Yeobo, ini Jaejoong kita, Kim Jaejoong." Ujar Himchan sambil menepuk kuat lengan Yongguk.

"aigo, ya.. lihat si keriput yang satu ini, tidak mengenalku heh?! Yaa! Bbang!" seru Jaejoong

"heeh-? Kim Jaejoong? Siapa yang melupakanmu huh? Urimaniya..." Yongguk pun memeluk Jaejoong.

"sebaiknya kita mengobrol di dalam saja, lihat tatapan anak anak yang sangat penasaran itu.." ujar himchan kemudian mempersilahkan keluarga Kim memasuki rumahnya.

.

.

Kini kedua keluarga itu tengah berkumpul bersama di ruang tengah. Kedua ibu berkepala 4 itu tak henti hentinya mengobrol.

"Himchanie, mianhae nee... untuk aku yang sudah mengatai anakmu... mian..." ujar Jaejoong.

"gwaenchana, aku sudah memaafkan dan melupakan semuanya.." jawab Himchan.

"jadi... appa? Eomma? Kenapa bisa kenal dengan ibu namjoon oppa?" tanya Yoongi

"appa, eomma dan ibunya Namjoon dulu satu sekolah dari sekolah dasar saat di Jepang dulu.. kami bersahabat, bahkan hingga eomma dan appa berpacaran di bangku smp, Jaejoong lah orang yang pertama memberi selamat.. hingga saat kami lulus sma Jaejoong tidak punya kabar lagi.. kami mencarinya kemana mana, namun tidak ditemukan.. hingga appa dan eomma memutuskan pindah ke korea dan menikah disana.." ujar Himchan"

"aigoo ya... ini anakmu Himchanie? Cantik sekali.." ujar Jaejoong sambil mengelus pipi Yoongi.

"Min Yoongi imnida.." ujar yoongi sambil trsenyum

"Min Hoseok imnida," ujar Hoseok.

"emm.. Woo Seok Jin imnida." Ujar Jin.

"anak anda sangat cantik dan tampan Himchan-ssi Yongguk-ssi." Puji anak anda sangat cantik dan tampan Himchan-ssi Yongguk-ssi." Puji Yunho ayah Namjoon.

"terima kasih Yunho-ssi." Balas Yongguk.

"jadi yang mana yang akan menjadi calon istri anakku?" tanya Yunho.

"ini, Seok Jin yang akan menjadi istrinya" ujar Himchan.

"yeppo.. neomu yeppo.. Namjoon-ah beruntung sekali kau memiliki istri seperti Jin, dia sangat cantik dan aku yakin dia sangat berbakat mengurusmu.. aigo ya.." Yunho tak berhenti memuji Jin yang hanya tersipu.

"nona muda, tuan muda Jiho sudah terbangun dari tidurnya.. dia sudah siap.." ujar salah satu Maid. Jin segera bangit.

"Jiho sudah terbangun ahjussi ahjumma, saya permisi dulu.." ujar Jin sambil pamit.

"ada apa denganmu Namjoon? Kenapa terus berhembus nafas kasar seperti itu?" tanya Hoseok.

"a-aku, hanya grogi Hyung." Jawab Namjoon yang segera ditanggapi oleh tawa.

"tidak perlu gugup nak. Kau pasti bisa.." ujar Yongguk.

"oh ya, Himchanie, maafkan aku, karena kami rumahmu jadi penuh wartawan.. seperti ini.." ujar Jaejoong.

"tidak apa apa Jja.. selama mereka tidak mengacau disini.." ujar Yongguk.

.

"annyeonghasseyoo.." ujar Jin yang kembali sambil menggendong seorang batita yang sangat tampan dengan tuxedo putihnya.

"annyeong.. aigoo yaa.. ini Jiho Namjoon?" Jaejoong menjerit

"iya eomma, ini Jiho.." ujar Namjoon.

"kau yakin ini bukan anakmu? Kenapa begitu mirip huh?" tegur Yunho.

"memang banyak yang bilang kalau Jiho begitu mirip dengan namjoon ahjussi ahjumma.." ujar Jin sambil duduk.

"eisss.. kau ini calon menantu kami, ayo panggil kami umma dan appa.." ujar Jaejoong.

"nee umma, appa.. Jiho ya beri salam... pada Haelmoni dan haraboji" ujar Jin

Jiho segera meluruskan duduknya. Dan mulai menunduk,

"annyeong hatheyo.. halabuji,haelmuni" ujar Jiho.

"aigoo kiyeowoyo... Namjoon-ah.. eomma tidak akan memarahimu lagi.." Jaejoong segera menggendong Jiho dari pelukan Jin.

"kau bisa melamarnya sekarang hyung" bisik taehyung.

Namjoon mulai bangkit. Berlutut dihadapan Jin dan mengluarkan sebuah kotak cincin berwarna putih.

"aku tahu aku bukan pria yang romantis saat ini, aku tau ini juga begitu memalukan tapi yang aku inginkan saat ini hanya satu. Woo Seok Jin, will You marry me? I promise we will have a happinese life from today together and forever"

Namjoon membuka kotak cincin itu, memperlihatkan sebuah cincin perak bertahtahkan berlian yang sangat cantik. Jin tersenyum, air mata menggenang di pelupuk matanya, ia terlalu bahagia sekarang.

"yes i will." Ujar Jin sambil mengangguk.

Namjoon segera bangkit dari posisi berlututnya, mulai menarik sebuah cincin dari kotaknya dan segera memasangkan cincin itu di jari lentik Jin (emang jari jin lentik yah? *abaikan*)

"terimakasih..." Namjoon segera memeluk Jin.

Himchan dan Jaejoong terharu, sebagaimana seorang ibu mereka pasti sangat bahagia mendapati anak mereka kini akan memulai hidup baru dalam ikatan pernikahan..

"kajja, kita makan malam.. sambil mengatur tanggal mereka berdua akan menikah.." ujar Himchan sambil bangkit.

"kau benar Hime.. aku jadi tidak sabar.." ujar Jaejoong.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

.

.

Readernimm... mianhaeeee... laptop elin rusak sumpah abis dibanting sama jeong hu.. pacarnya elin. Jadi elin ngehabisin waktu sebulan lebih nunggu laptop ini baik..

Oiya.. Elin juga hadir di comeback stage dan end of stagenya BTS yang DOPE lohh... itu suga kenapa ganteng bangettt yaolooohhh

Oiya elin mau balas balas review ini..

Dari

Shel :

Annyeong :) aku baru baca ff ini tadi pagi dan sekarang baru selesai
Maaf review nya di chapter ini *puppyeyes

MinYoon kapan jadiannya? Mereka udah saling suka :3

Sungjae jadi PHO VKook? Tambah seru nih :D

Kalau ada adegan NC, mending jangan bulan sekarang aja deh un, lagi puasa takut pahalanya berkurang .

Ok un, segitu aja review nya :D
ditunggu next chap nya

.

An/

Hahaha iya udah.. tapi MinYoonnya ada perubahan dikit looh.. hahaha...

.

AlienGoldenHope

kak itu vkook nya kurang -_- yoonmin nya apalagi -_- vkook perasaan datar gt...
btw kak denger cerita kakak yang di fanmeet kemaren jadi dapet inspirasi buat edit fotonya jin jadi cewek, dan BOOM gila cantik banget itu jin nya habis dikasih rambut panjang ngk nyangka lol

.

An/

Iya itu Jinnya cantik banget... yaampuunn.. hahah iya ini gimana udah tambah banyak nggak?

.

heyoyo

Haahaha ceritanya makiin kereeen.. kasian jiho digituiiin..
puasa dulu ye FF nc nya? wkwkw keep writing authooor

.

Haduh kayaknya nggak ada ncnya deh.. hahaha makasih buat supportnya..

.

yoitedumb

Maaf elin eonnie, aku baru review. Soalnya baru baca juga, aku baca semuanya. Wooow, eonnie orang korea? swag~ * pose suga *
Ikut fansign bts ? Wow, pasti asik~ kalau ikutan lagi sampaikan salam ku pada mereka. Oh, ya kalau v goda eonnie lagi bilang ' godain aja jungkookie, jangan goda aku ' hahaha. Oh, ya eonnie sebenarnya aku dah lama lihat ff mu tapi karena GS aku mengurung hati untuk baca. Soalnya gimana ya? agak gak dapat aja feel bacanya. Soalnya mereka pria tiba-tiba jadi wanita. Aneh, aja. Namun persepsiku yang seperti itu terbantahkan oleh ff buatan eonnie. Aku malah terhanyut dalam fanfiction eonnie. Aku sangat menyukainya. Fighting noona~ cepat updatenya hahahaha
Aku suka pairing buatan eonnie namjin, vkook, minyoo

.

An/

Makasih.. iya... iya tuh si V tiap kali fansign tiap fans pasti di bilang, Yeppeo nee.. makasih makasih makasiiihh.. hahaha iya ini udah dilanjut kok.. bahkan udah mendekati episode akhir..

.

Anunya Bangtan

KAK LUPH YU PUL KAK :"V

UR STORY MAKE ME TERSENTUH(?) SUKAAAAA. ITU WAKTU KAKAK KE FANSIGN BANGTAN ITU KENAPA GAK SURUH NAMJIN BACA CERITA KAKAK :"v WAKAKAKAK. KAK EMANG NIH FF ADA POSTERNYA? KOK GAK KELIATAN T_T POKOKE INI FF KECE GAMAU TAU HARUS DILANJUT CEPET :"V

.

An/

Aduh capslocknya... hahaha iya ada kok.. makasih makasih... iya udah dilanjut maaf ya udah nunggu lama..

.

.

Sgitu dulu ya... oiya kalo ada typo mohon dimaafkan... elin kan Cuma manusia biasa.. oiya di end chapter akan ada kejutan khusus buat Yoonmin Shipper.. dan kemungkinannya juga bakalan ada sequelnya.. kalo ada yang mau ditanya silahkan.. chat elin di kakaotalk idnya atau nomer ditinggalin aja di comment.. daahh..