Naruto© Masashi Kishimoto
Solitariness © Jong Aeolia
…
Malam telah bertakhta di atas singgasana tertinggi. Didampingi hembusan semilir angin Oktober yang menggigiti pori terluar kulit. Tubuh kian menggigil dibelai dingin. Dalam pekat kehampaan kamar, sepi tanpa seorang pun di sisi. Hanya berbalut tumpukan selimut polos tak bermotif.
Sakit menjalar dari ujung rambut hingga ujung kaki. Sesaat kupikir mati akan menghampiri. Toh, biarlah, tak ada yang peduli nanti.
Namun, kehangatan datang menyongsong. Mengusir kelu serta mati rasa oleh kebekuan dalam hati yang kosong. Lewat sepasang lengan melingkari pinggangku dari balik punggung, membawa aroma familiar yang membrongsong.
Gigilan perlahan mereda. Gemeletuk gigi teredam. Perih memudar lalu tiada. Aduan napas selaras dan udara tak bersahabat jadi jeda. Lantas pecah lantunan suara pengusir sepi menyambangi telinga. Berbisik pelan, dalam.
"… aku di sini."
―berulang-ulang bersamaan mengeratnya dekapan. Serupa buaian simfoni keabadian. Belaian sarat afeksi selaras menghujan. Kecupan hangat menyeretku makin dalam pada jerat maya tak tertahan. Menyenandungkan nyenyak dalam lelap tanpa takut takkan kembali terjaga di esok kemudian.
Dan sebelum kesadaran terenggut penuh, sekali lagi, bisik suara itu menggema.
"Aku akan tetap―selalu di sini. Hingga saat kau terbangun nanti."
…
Kelopak berhias bulu mata lentik membelalak terbuka. Degup pusat kehidupan membentur bertalu-talu. Peluh melurus seiring kembang kempis paru-paru. Kondisi stagnan beberapa saat. Nyawa di awang-awang maya ditarik kembali realita dan Kurenai menemukan dirinya tertidur dengan posisi duduk di sofa panjang ruang tamu. Terkurung dalam remang-remang. Satu-satunya penerangan berasal dari lampu pijar bercahaya hangat di atas meja nakas di sisi sofa. Tidak ada siapapun. Hanya seorang diri.
Mimpi.
Kesadaran kembali penuh. Punggungnya terasa lengket akibat banjir keringat dingin, menandakan ia telah lolos dari belenggu siksa demam. Meski dingin sesekali membelai ganjil epidermis di luar kuasa busana. Namun, sisa-sisa kehangatan surealis masih dapat Kurenai rasakan. Bahkan dalam ketidaknyataan, dalam dimensi imajinernya, dia mampu menarik Kurenai dari ajal. Kini, setidaknya―seharusnya―napas lega bisa terhirup leluasa dan bebas. Dan tetesan bulir air mata yang jatuh mengikuti gravitasi berkata sebaliknya. Kurva di bibir Kurenai berubah kesan masam yang disesap habis sarinya hingga pahit meraja.
Kurenai tidak sudi di sini. Ia ingin kembali kepangkuan mimpi. Ia tidak ingin terjaga. Karena dalam dimensi realitanya hanya menyisakan ia seorang diri tanpa orang itu dimanapun.
Kurenai hanya ingin pulang. Pulang ke tempat dimanapun orang itu berada. Karena di sini kesoliteran menyiksanya keji bak hamba sahaya.
