Huahahahaha #ketawa gaje

Ujianku telah selesai dan saya kembali terjun ke fanfic lagi yeeee~ *goyang-goyang* oke lupakan, ehtapi sudah lumayan lama ya saya nggak update fic ini, maafkan diriku readers yang terhormat. Terimalah suguhan ku ini (?) semoga tidak mengecewakan, tapi harap maklum otak masih rada linglung gara-gara ulangan kemarin, jadi yah begitulah #plak

Ohiya, ini balasan reviewnya, yang lain saya balas lewat pm yaa ^^

Vhy otome saoz : hahaha, saya juga nggak kebayang bisa bikin Hiruma jadi selembut gini #plak okee, ini updatenya, makasihya reviewnyaa XD

Oke, langsung aja,

DON'T LIKE, DON'T READ

Title : Behind The Scene

ES21 Fanfiction

Disclamer : Riichiro Inagaki dan Yuusuke Murata

Warnings : OOC (sangat), AU, GAJE, Typo (s), aneh, dll

Maaf kalau jelek :)

Story : Bii Akari


MAMORI'S POV

Hari masih malam, bahkan kini telah semakin larut. Udara dingin yang merambat melalui koridor Rumah Sakit yang sunyi ini cukup membuat tubuhku sedikit bergedik. Ako dan Sara sedang pergi untuk membeli makanan, sekaligus untuk mencari pemuda bernama Hiruma Youichi tadi, yang tiba-tiba saja menghilang tanpa jejak.

Suster yang tadi memberiku izin untuk menjenguk juga telah pergi, mungkin kembali menjaga pasien di ruangan lain. Sementara aku, kakiku bahkan masih terasa kaku. Padahal sejak tadi aku benar-benar ingin menerobos masuk ke dalam ruangan itu, menemui kedua sosok yang sangat aku cintai.

Tapi sungguh, membayangkan aku akan melihat kedua sosok yang begitu kukagumi itu terbaring lemah di atas ranjang membuat dadaku mendadak sesak. Ada perasaan aneh yang melingkupiku, membuat nyaliku seketika hilang. Dress putih yang kukenakan bahkan tak terlihat anggun lagi, kala pertama kali aku melihatnya di pantulan cermin. Gadis beriris shappire yang tadinya tersenyum bahagia kini telah kehilangan semangat. Pancaran mataku serasa meredup, aku sendiri dapat melihatnya dengan jelas di pintu kaca ini.

Dengan ragu, aku pun memutar knop pintu kaca itu dan mendorongnya dengan perlahan. Dalam sekejap, aroma khas Rumah Sakit di ruangan itu membuat suhu tubuhku semakin menurun, kedua telapak tanganku semakin mendingin dan memucat. Tanpa basa basi lagi, air mataku seketika lepas kendali, begitu mendapati kedua sosok itu terbaring di sana, dengan infus dan perban yang membalut beberapa bagian tubuh mereka.

Kami-sama, apa ini memang benar-benar kenyataan?

Kulangkahkan kakiku mendekati mereka, meski langkahku terkesan gontai karena menahan tangis. Tapi tidak, aku harus siap untuk keadaan ini.

Ayah dan Ibu berbaring bersebelahan, penghangat ruangan yang sejak tadi dinyalakan tak cukup ampuh untuk membuatku merasa nyaman, atmosfer tak menyenangkan tadi kembali berkunjung.

Ayah, Ibu, tak bisakah aku berharap ini hanya mimpi?

Kutarik dengan paksa kursi kayu itu mendekat kearah Ayah yang berbaring di sebelah kanan, lalu kugenggam tangannya dengan erat, masih hangat seperti biasa. Dapat kurasakan sudut-sudut bibirku yang tertarik dengan sendirinya, wajah Ayah yang terkesan tegas tak berubah, meski ada beberapa goresan yang tampak di wajahnya.

Ayah, kau akan segera bangun, kan?

Setelah puas memandangi Ayah dan menghujam berbagai doa untuknya, aku akhirnya berbalik, menggeser sedikit kursi kayu tadi dan segera menyandarkan kepalaku di samping Ibu, menggenggam tangannya yang juga masih terasa hangat, meski tak sehangat kala dia terjaga.

Dibanding dengan keadaan Ayah, yang kepala dan kakinya harus diperban, Ibu lebih beruntung karena tidak mendapatkan jahitan sebanyak itu, meski tangan kanannya harus di-gips karena patah. Denyut nadi Ibu terdengar lembut, seiring dengan suara hembusan napasnya yang teratur.

Aku tahu, Ibu kuat.

Kuhirup aroma khas Ibu dalam-dalam, yang masih tersisa sedikit di antara kumpulan aroma obat yang menyesakkan ini. Aroma yang selalu bisa membuatku nyaman. Aku teringat saat aku masih kecil, kala aku sangat senang memainkan ujung-ujung rambut Ibu yang tergerai bebas, karena rambutku saat itu masih sebahu, jadi aku lebih suka memainkan rambut Ibu yang senada dengan milikku. Mengingat hal sekecil itu saja, hatiku terasa sangat miris. Baru beberapa jam berlalu, tapi hidupku sudah terasa sehampa ini.

Ibu, cepatlah sadar.

Aku merindukan omelan Ibu yang selalu panjang lebar, karena aku tahu aku masih belum dewasa. Meski usiaku telah menginjak angka 17. Tapi belum, masih banyak nasehat yang perlu Ibu katakan padaku, dan aku berjanji akan mendengarkan semuanya dengan baik-baik, aku janji.

Aku juga merindukan Ayah, aku rindu saat-saat di mana Ayah menarik hidungku dengan seenaknya, memberi rona merah di ujung hidungku itu. Ayah memang tak banyak bicara, bahkan tak jarang hanya mendecak kesal ketika aku melakukan hal yang salah. Meski begitu, aku belajar banyak dari Ayah. Segala hal yang Ayah lakukan benar-benar hebat, entah itu dalam hal pekerjaan maupun di saat kita berkumpul bertiga. Ayah adalah sosok pemimpin yang sangat hebat. Dan aku sangat bangga akan hal itu.

Jadi, dapatkan kalian bertahan bersamaku, lebih lama lagi?


NORMAL POV

Aula Rumah Sakit yang luas mulai dipadati oleh sekumpulan pria berjas hitam, lengkap dengan kacamata hitam mereka yang khas. Tubuh-tubuh atletis mereka seakan menjelaskan siapa mereka sebenarnya. Tak hanya itu, pemuda berambut hitam tadi, Hiruma Youichi-beserta ketiga rekannya-juga ikut berdiri di sana. Mimik wajah mereka terlihat geram, namun sunyi masih menyelimuti mereka.

"Agon."

Akhirnya, setelah terdiam selama beberapa menit, Hiruma memutuskan untuk membuka suara, usai berdebat dengan otak jeniusnya sesaat tadi.

"Hn, kenapa?"

Respon singkat dari Agon membuat kedua pemuda yang juga berdiri di sampingnya memandang Hiruma, menenangkan hati mereka yang sejak tadi menahan amarah. Jika saja Hiruma tidak menghentikan mereka, entah hal macam apa yang akan terjadi malam ini, padahal ketiga pemuda itu bukanlah pribadi yang gampang termakan emosi.

"Aku percayakan yang di sini padamu," tutur Hiruma singkat, sambil menatap tajam ke arah sepasang iris Agon, menyiratkan keseriusan yang mendalam.

"Hn," gumam Agon cepat, disertai dengan anggukan pastinya. Sementara kedua pemuda di sampingnya masih tampak cemas, menunggu keputusan sang leader. Karena mereka percaya Hiruma pasti punya rencana tersendiri.

"Akaba," panggil Hiruma, tatapannya masih sama seriusnya dengan tadi. Sementara Akaba hanya mengangkat sebelah alisnya, tak merespon banyak atas panggilan Hiruma.

"Pergilah ke lokasi kecelakaan keluarga Anezaki, temukan sesuatu yang mencurigakan. Tapi ingat jangan biarkan emosi menguasaimu, di antara kalian bertiga, hanya kau yang paling bisa mengendalikan emosimu."

Akaba tersenyum simpul, meng-iyakan perintah Hiruma dan kembali memasang kacamata kesayangannya.

"Dan Sena," lanjut Hiruma lagi. Memandang pemuda berambut coklat di hadapannya dengan tajam.

Sorot mata Sena tampak berkilat-kilat, menyiratkan amarah yang terpendam. Di antara mereka berempat, hubungan Sena dengan keluarga Anezaki memang jauh lebih intens. Jadi wajar saja jika pria yang ter-ramah dan sabar itu bisa menjadi begitu agresif dan emosian, apalagi ini telah menyangkut nyawa orang yang telah dia anggap seperti orang tuanya sendiri.

"Tolong tenang, Sena," nasehat Hiruma ini sukses membuat tatapan Sena sedikit melunak. Sejenak, Hiruma menghembuskan napas berat.

"Ini baru awal, dan kita telah sepakat untuk tidak terjebak dalam perangkap mereka, bersabarlah sedikit lagi," lanjutnya kemudian. Sena pun hanya menarik napas panjang dan tersenyum tipis.

"Lalu, apa yang harus aku lakukan?" tanya Sena kemudian, sorot matanya tak sama lagi dengan tadi, meski kini terlihat agak redup.

"Pergilah ke kediaman Anezaki, hanya kau yang bisa leluasa keluar masuk di sana tanpa perlu dicurigai oleh siapapun. Tunggulah hingga fajar, aku yakin mereka akan bergerak ke sana."

Terlihat jelas ekspresi Sena yang kembali berubah, seolah terbakar semangat yang menggebu-gebu. "Tapi, jangan gegabah," sergah Hiruma.

"Hn, aku mengerti, Hiruma."

Hening untuk beberapa saat lagi, ketiga pemuda itu masih menunggu Hiruma untuk lanjut berbicara, karena biasanya pemuda itu akan menyemangati mereka dengan kata-katanya yang khas. Tapi kini, iris emerald itu seperti tak berniat meluncurkan sepatah kata apapun lagi.

"Lalu, kau bagaimana?" tanya Akaba pelan, disambung dengan anggukan Sena dan Agon.

"Aku akan mengawasinya, percayalah padaku. Kita tidak akan membiarkan mereka melakukan hal yang melebihi ini, jadi akan aku pastikan Nona Anezaki tidak akan terluka sedikit pun."

Sepasang iris emerald itu kini tak sendu lagi, ada seberkas keyakinan yang terselip di dalamnya, membuatnya kembali hidup seperti sebelumnya. Dan mau tidak mau, mereka ber-empat resmi mempertaruhkan hidup mereka sejak malam ini. Tak ada lagi ragu atau pun rasa takut, hanya ada amarah dan benci yang tertahankan, senjata ampuh yang dapat melindungi Nona mereka itu.

"Jadi, mari kita mulai ini. Kita mungkin tidak tahu apa yang sedang kita hadapi saat ini. Tapi, yakinkan pada diri kalian bahwa kita akan menang, selama mereka belum musnah, kita tidak boleh mati."

GLEK

Ini adalah keputusan mereka sendiri, terjun ke dalam medan pertempuran yang bahkan mereka sendiri pun tak tahu lawan seperti apa yang akan mereka hadapi nantinya. Karena hanya ada satu hal yang menyebabkan mereka ingin bertindak sejauh ini, demi sebuah ungkapan terima kasih pada keluarga Anezaki. Bertindak dari balik layar, bersembunyi dalam bayangan kegelapan malam, semua itu adalah keahlian mereka. Demi hari ini dan seterusnya, mereka rela menyisihkan sejenak status kebangsawanan mereka, meninggalkan kehidupan santai mereka yang semula sangat diimpikan setiap orang, dan mempertaruhkan nyawa mereka demi melindungi tiga nyawa yang sangat berarti. Kehidupan mereka sebagai 'secret protector' pun dimulai.


Bulan bersinar terang, wujudnya kini tampak bulat sempurna. Cahayanya cukup terang untuk menyinari jalanan di gang kecil itu, menemani langkah seorang pemuda berbalut kemeja hitam. Seratus meter di depan sana, terlihatlah beberapa wartawan dan polisi yang sibuk meneliti kecelakaan tragis yang terjadi dua jam yang lalu. Akaba menatap lurus mobil limousine hitam itu, ciri khas keluarga Anezaki yang kini berada dalam keadaan rusak parah. Kaca-kacanya hancur berserakan, sementara body limousine itu sudah tak berbentuk lagi. Penyebab kecelakaannya sulit ditebak, melihat tak ada satu kendaraan pun di sekitar sana yang bisa dijadikan tersangka atas hancurnya mobil limousine itu. Terlebih lagi, sang sopir telah ditemukan tewas di tempat, sungguh beruntung suami-istri itu bisa selamat, meski dikabarkan lukanya juga cukup parah.

Akaba terus meneliti kumpulan orang di sana dengan teropongnya, kali ini dia telah berdiri di atas sebuah gedung yang tidak terlalu tinggi, mengamati keadaan di bawah sana yang tampak gaduh. Para wartawan terlihat hendak menerobos masuk ke lokasi kecelakaan, sementara para polisi sibuk menghadang mereka. Terlihat pula beberapa orang detektif yang berkeliaran di sekitar sana, menyelidiki akibat dari kecelakaan itu.

Akaba baru saja hendak berpindah lokasi saat tiba-tiba matanya tanpa sengaja menangkap sosok yang tak asing, berdiri di dekat mobil itu sambil mengamati sekitarnya. Pria itu tidak sendiri, dia ditemani seorang detektif muda dan seorang pria besar yang tampaknya adalah bawahannya. Tanpa ragu lagi, Akaba pun mulai memotret pemandangan itu, mungkin saja ada kejanggalan yang dapat ditangkapnya nanti.

"Tak ada yang aneh," gumam Akaba, setelah merasa jenuh berdiri di sana selama berjam-jam. Semua pemandangan itu tampak normal-normal saja. Tapi tidak, ini bukanlah kecelakaan biasa, dan Akaba tidak akan puas jika harus pulang tanpa membawa bukti apapun.

Setengah jam berlalu, namun Akaba tak juga mendapatkan hasil yang memuaskan. Karena bosan, pemuda itu pun memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar sana. Lagipula keadaan juga mulai sepi, dan hanya terlihat tiga orang polisi saja yang berjaga.

Dengan hati-hati, Akaba memasang beberapa kamera tersembunyi di sekitar sana, sekedar menggantikan dirinya yang akan berjalan-jalan sejenak.

Seperti dugaannya, kedua polisi yang tadi menjaga di sana telah pergi, menyisakan seorang polisi saja yang sekarang tampak susah payah menahan kantuknya. Dengan cepat, Akaba melenggang pergi menuju toko 24 jam yang jaraknya tak jauh dari sana, membeli beberapa kaleng kopi dan cemilan.

Awalnya, Akaba hendak mengajak polisi itu untuk berbincang-bincang, tapi terlambat, seorang wanita berambut pendek telah mendahuluinya. Dari balik kaca mini market itu, Akaba dapat melihat dengan jelas gelagat aneh dari wanita tadi, yang kini terlihat sedang menawarkan sebuah kaleng minuman untuk sang polisi. Dan tanpa ragu, polisi itu pun meminumnya.

'Ah, sial...' batin Akaba, masih sambil mengawasi gerak-gerik wanita tadi dari jauh, yang kini telah berhasil membius si polisi.

Seringai kecil terbentuk di wajah Akaba, "Ini yang aku tunggu," desisnya pelan.

Akaba berlari-lari kecil menuju wanita tadi. Tapi tentu saja, dia tidak berniat menampakkan diri. Sepatu Akaba memang dirancang untuk tidak menimbulkan suara apapun, dan Akaba hanya ingin mengamati aksi wanita tadi dari jarak yang lebih dekat lagi, lalu meringkusnya setelah itu.

Namun tanpa sengaja, Akaba menabrak seseorang ketika dia berjalan cepat melintasi sebuah gang kecil. "Ah, gomen," ucapnya pelan, agar wanita tadi tidak menyadari kebisingan yang sempat diciptakannya.

Rupanya, orang yang ditabrak oleh Akaba adalah seorang gadis, barang belanjaannya juga tampak berserakan di atas tanah. Tanpa menunggu lebih lama lagi, Akaba segera membantu untuk memungutnya.

'Es krimnya, mencair...?' bantin Akaba bingung. Tapi, ada hal yang lebih penting yang menantinya, ketimbang mengurusi es krim gadis itu yang kini telah menjadi air dengan sempurna.

Setelah membantu si gadis kembali berdiri, Akaba segera menjauh dari sana. Perhatiannya kembali terkunci di tempat wanita perambut pendek tadi.

'Tunggu, di mana wanita itu?' pikir Akaba. Dilihat dari mana saja, wanita mencurigakan tadi tak tampak.

'Ah, sial...' sesal Akaba. Dia tadi sempat lengah saat menabrak gadis berambut panjang tadi hingga tidak menyadari bahwa incarannya telah menyadari keberadaannya.

"Keluarlah, aku tak suka bermain sembunyi-sembunyi," tantang Akaba dengan lantang. Suara beratnya menggema sepanjang gang yang remang itu. Lalu, dari balik bayangan hitam di ujung gang, muncullah sosok wanita yang sejak tadi menjadi target Akaba, seringai lebar tampak jelas di wajahnya.

"Untuk apa mengincarku?" tanya wanita itu tanpa basa basi.

Akaba pun tersenyum simpul, "Wanita cantik sepertimu, untuk apa berkeliaran malam-malam begini. Sangat berbahaya, Nona."

"Ah, aku hanya sedang bosan. Mau menemaniku bermain sebentar?" tawar wanita tadi, sambil sedikit berjalan maju mendekati Akaba.

"Tentu saja, suatu kehormatan bagiku."

Akaba hampir terjebak emosi, sejak tadi gigi-giginya terus bergemeletuk menahan amarah. Jika wanita di hadapannya adalah penyebab kecelakaan itu, Akaba bersumpah akan menghabisinya malam ini juga.

"Oh, pelan-pelan saja, Nona," ucap Akaba dengan santai, begitu wanita tadi berlari mendekatinya dan bersiap menyerang duluan.

Perkelahian pun tak terelakkan lagi, dan gerimis kecil menjadi penonton setia mereka. Akaba masih mempertahankan kacamata dan topi putih yang menutupi rambutnya, menjaga identitas aslinya. Sementara wanita tadi, dia tampak acuh, darah segar tampak mengalir dari bahu kanannya.

"Jika memang kau adalah penyebab dari kecelakaan itu, aku akan benar-benar menghabisimiu," ancam Akaba, dengan nada tajam yang mengintimidasi.

Sementara wanita tadi sedikit menjauh, lalu kembali menyeringai lebar."Aku hanya diminta untuk ke sini. Soal kecelakaan itu, bukan menjadi urusanku. Lagipula, jika kau menghabisiku tak ada apapun yang akan kau dapatkan, percuma saja."

"Jadi, kau bekerja untuk siapa?"

"Untuk diriku sendiri," jawab wanita itu pelan, tapi terdengar sangat meyakinkan. Akaba pun hanya berdecak kesal.

Nasehat Hiruma terngiang di kepala Akaba, pemuda itu pasti tidak akan senang jika Akaba terlalu buru-buru. Lagipula, terlihat jelas bahwa wanita itu hanyalah orang sewaan yang amatiran, dan tak ada yang bisa Akaba lakukan untuk memaksanya mengaku, karena memang wanita itu pasti tak tahu siapa yang memberinya tugas seperti itu.

"Huh, baiklah. Aku tidak punya urusan apapun lagi denganmu," putus Akaba, sambil berbalik dan bersiap meninggalkan wanita itu di sana. "Pergilah, sebelum aku berubah pikiran."

Tanpa menunggu apapun lagi, wanita tadi segera berlari pergi. Dia benar-benar sadar bahwa Akaba bukanlah lawan yang pantas dengannya, level Akaba berada jauh di atasnya.

Langit kelam masih bergantung bebas di atas kota Demon, membuat Akaba tersenyum tipis, "Baiklah, mungkin aku akan berjaga sedikit lebih lama lagi."

Tanpa disangka-sangka, sebuah payung bening tiba-tiba melindungi tubuhnya dari tetesan air yang sejak tadi akrab menyapanya.

"K-kau tidak apa-apa?" tanya gadis yang memayunginya itu, wajahnya terlihat ragu tapi sorot matanya menyatakan hal yang sebaliknya.

"Hn. Ah, kau Nona yang tadi sempat kutabrak, bukan? Sekali lagi maaf ya, Nona."

"T-tidak, akulah yang salah karena berjalan sambil menunduk, Maaf," jelas gadis itu dengan singkat, kedua sudut bibirnya membentuk seulas senyum kecil.

'Manis...' pikir Akaba. Gadis di sampingnya memang terlihat pemalu, karena sejak tadi terus-terusan menyembunyikan wajahnya di balik tirai rambutnya yang panjang. Tapi senyum kecil tadi sudah lebih dari cukup untuk dapat membuktikan kecantikan yang dimiliki gadis itu.

"Bagaimana jika kita berteduh sejenak, aku punya beberapa kaleng kopi dan cemilan," tawar Akaba dengan halus, sambil menunjuk mobilnya yang terparkir agak jauh dari sana.

Sementara gadis tadi hanya tersenyum simpul, meski tak dipungkiri bahwa ada sedikit semburat merah yang tampak di kedua pipinya. Akaba pun segera menarik belanjaan gadis itu dari tangannya dan juga merebut payung yang digenggam oleh gadis itu, "Biar aku yang membawanya."

Dan mereka berdua pun berjalan beriringan, tubuh Akaba yang telah basah sejak awal membuat gadis itu tidak sadar bahwa sejak tadi hampir seluruh payung dibebankan untuk melindunginya, sementara Akaba hanya tersenyum puas. Bukan kebetulan gadis itu menunggunya sejak tadi, bukan?


Jam dinding sudah menunjukkan pukul 02.49 malam, itu artinya para pria berjas itu harus lebih melebarkan pandangan mereka, semakin waspada pada sekeliling mereka. Kerumunan wartawan memang telah tampak berkurang jumlahnya, namun bukan berarti mereka bisa bernapas lega, ancaman yang sebenarnya baru saja akan datang.

Agon tampak menguap lebar di sudut ruangan. Kebosanan telah lama menghinggapinya, namun rasa kantuknya masih bisa tertahankan lebih lama lagi. Sekali lagi, dipandanginya seluruh aula yang luas itu, "Masih sama," gumamnya datar.

Tak ada yang menarik sejak tadi, semuanya masih terlihat normal. Agon berdiri dengan malas. Malam semakin larut dan jika seperti ini terus, maka dia tidak akan mendapat hasil apapun malam ini.

'Baiklah, mungkin aku harus sedikit memancing mereka,' pikirnya. Dengan langkah malas Agon meninggalkan tempat itu dan berjalan santai ke arah toilet, tentu saja setelah meninggalkan beberapa kamera mikro berukuran sangat kecil di sekitar sana.

"Cih, tak bisakah kalian bertindak lebih halus lagi?" desis Agon dengan pelan di dalam toilet, sambil memperhatikan layar handphone-nya yang menggambarkan situasi di aula, sesaat setelah dia meninggalkannya.

"Oke, aku tinggal merekam semuanya dan malam ini beres," lanjutnya lagi, masih berbicara dengan dirinya sendiri.

'Tunggu, apa mereka tidak menyadarinya sama sekali? Tidak, ini tidak baik..' batin Agon gelisah, sambil terus mengamati layar yang kini menampilkan adegan penculikan kecil beberapa pria berjas hitam tadi, pengawal khusus keluarga Anezaki. Anehnya, kejadian itu terjadi dengan cepat, tapi sungguh kasar. Bagaimana mungkin para body guard itu tidak menyadari bahwa ada beberapa kawannanya yang diculik?

'Cih, ini sudah di luar kendali. Jika aku kembali ke sana, maka sudah dapat dipastikan bahwa orang-orang sampah itu akan menangkapku juga, sebaiknya aku menyelidiki kemana perginya orang-orang sampah itu membawa pengawal sampah keluarga Anezaki,' batin Agon kesal, membuat sikapnya kembali berubah. Yah beginilah Kongo Agon jika sedang berhadapan dengan rasa emosinya.

Dengan cepat, Agon keluar dari toilet, setelah sebelumnya mengatakan pada Hiruma tentang situasinya sekarang melalui alat komunikasi mereka, dan Hiruma menyetujui usul Agon.

'Baiklah, kuserahkan yang di sini padamu, Hiruma.'

Agon masih sibuk berspekulasi sambil berjalan santai melintasi koridor, dengan satu tangan di dalam saku celana dan tangan lainnya meregangkan otot-otot lehernya. Pandangan mata Agon yang tersembunyi di balik kacamata gelapnya sejak tadi meneliti keadaan sekitar, mencari jejak penculikan singkat tadi.

'Eh, tak kusangka akan semudah ini,' batin Agon kegirangan, cengiran khasnya terlihat menghiasi wajah bosannya. Ya, inilah yang ditunggunya sejak tadi.

Agon berbelok dengan cepat di koridor Rumah Sakit itu, dan duduk tenang di kursi tunggu. Hanya berselang satu detik sejak duduknya Agon hingga seorang pria juga ikut membelok di koridor yang sama.

"Mencariku?" tanya Agon sarkastis, ketika melihat pria tadi sempat berhenti sejenak untuk mengamati sekelilingnya.

"Mari kita selesaikan ini secara adil."

Kali ini Agon terlihat sangat bersemangat, senyum liciknya terus tersungging di bibirnya, membuat pria tadi bergedik ngeri. Karena bagaimana pun dia telah salah memilih musuh.

Tak butuh waktu lama bagi Agon untuk merasa bosan memukuli tubuh lawannya yang kini telah terbujur kaku, mungkin saja dia telah tewas. "Cih, sampah sepertimu ingin mengusik ketentraman keluarga Anezaki? Mati saja sana, sampah."

BUK

Pukulan terakhir Agon itu sukses membuat pria itu kehilangan kesadarannya. Setelah merampas alat komunikasi pria itu dan mengurungnya di dalam bagasi mobilnya yang jaraknya tak jauh dari tempatnya beradu tadi, Agon pun melenggang pergi dengan senyuman puas, 'Jadi, di sana kalian rupanya, sampah-sampah sialan.'


Sementara di sisi lain, Sena tampak sibuk bermain dengan sebuah laptop di hadapannya, di ruang kerja kediaman Anezaki. Sena bukannya sedang bersantai-santai di sana, tapi dia sedang mengamati seluruh tempat di rumah yang megah itu dari layar laptopnya, tentu saja setelah menyadap kamera yang dipasang di sana.

Karena tak menemukan apapun, Sena akhirnya memutuskan untuk berkeliaran seorang diri. Lagipula Sena juga telah mengatakan pada para pelayan di rumah itu bahwa dia akan membantu mengamankan rumah. Dan tak ada satu pelayan pun yang berani membantah, karena mereka tahu pasti bahwa Sena adalah orang yang sangat dipercaya oleh Tuan mereka sejak dulu.

Kedua orang tua Sena memang telah berteman akrab dengan keluarga Anezaki sejak dulu, dan hal itu membuat hubungan di atara mereka menjadi sangat dekat, tak terkecuali antara Sena dengan Mamori. Bahkan ketika mendengar bahwa Mamori akan kembali ke Jepang untuk memainkan sebuah film, Sena merasa sangat senang dan sempat bercerita banyak kepada Mamori dan kedua orang tuanya kemarin siang.

Tak disangka, waktu berjalan secepat itu. Padahal baru kemarin mereka bercanda tawa bersama.

Sena berjalan pelan menaiki tangga. Langkah kakinya membawa dirinya ke lantai dua rumah itu, dan berhenti tepat di sebuah ruangan yang dulunya sempat dia tinggali selama beberapa bulan. Ketika dirinya sedang dilanda masalah, keluarga Anezaki lah yang membantunya dapat bertahan, menahan segala sakit dan kembali bangkit.

Setelah cukup bernostalgia di dalam, Sena pun memutuskan untuk kembali ke luar, mengunjungi ruangan lain.

TING TONG

Bel nyaring itu menggema sepanjang ruangan, membuat kesadaran Sena segera pulih dan kemudian diam-diam mengamati pintu besar itu penuh tanda tanya.

'Siapa yang datang berkunjung larut malam seperti ini?' batinnya berenggut dengan bingung.

Para pelayan mungkin saja telah tertidur, jadi Sena memutuskan untuk memastikannya sendiri. Melalui intercom, Sena dapat melihat sendiri siapa tamu tak diundangnya itu. 'Ternyata hanya seorang gadis,' pikirnya.

Tanpa menunggu lebih lama lagi, Sena segera membuka pintu besar itu. Di hadapannya, berdirilah seorang gadis mungil berambut gelap. Ekspresinya datar dan hanya memandang Sena dengan tatapan tak berarti, "Kau siapa?" pertanyaan itu bagaikan sebuah tamparan keras di wajah Sena, bagaimana mungkin ada seorang tamu yang bertanya seperti itu?

'Seharusnya kan aku yang bertanya begitu? Ah, sudahlah, dia hanya seorang gadis kecil,' pikir Sena.

"Aku adalah Sena Kobayakawa. Kau sendiri siapa?" tanya Sena dengan senyum simpul andalannya, yang sanggup membuat gadis-gadis yang melihatnya cukup terpanah, tapi tidak untuk gadis satu ini.

Gadis beriris violet itu menaikkan sebelah alisnya, lalu memperhatikan Sena dari ujung kaki hingga rambutnya, 'Apa mungkin dia pelayan baru?' pikir gadis itu seenaknya.

Lalu setelah cukup puas mengamati Sena, gadis itu pun kembali membuka mulut. "Kau tidak ingin mempersilahkanku masuk?" kedengarannya memang agak kasar, apalagi setelah ditambah dengan lirikan matanya yang sinis, tapi begitulah dia.

Tanpa menunggu izin Sena, gadis itu langsung saja menerobos masuk, menarik sebuah koper miliknya dan meninggalkan Sena yang masih termangu di depan pintu. "Hei, apa yang kau tunggu? Tak bisakah kau melihat? Aku sedang kerepotan di sini," gerutu gadis angkuh itu, sambil memandang tajam Sena dari dalam ruang tengah.

"Tunggu," sergah Sena secepat mungkin, ditutupnya pintu kayu itu rapat-rapat lalu dipandanginya si gadis mungil di hadapannya. "Siapa kau sebenarnya?" tanyanya pelan, berharap gadis itu tidak tersinggung ataupun marah.

"Siapa?!" pekik gadis itu, kedua manik violet-nya semakin menajam, seakan hendak menusuk iris hazel milik Sena.

"Apa kau pikir kau pantas menanyakannya? Kau hanyalah seorang pelaya-"

"Hei, aku bukan pelayan," tegas Sena, memotong ucapan si gadis berambut pendek.

Sementara gadis itu masih terpengarah dengan ucapan Sena barusan, tanpa disangka-sangka Sena malah mendekati gadis tadi dan membawanya duduk di sofa bersamanya. "Maaf jika terdengar tidak sopan, tapi bisakah kau jelaskan siapa kau sebenarnya?" tanya Sena lagi, masih bersabar atas tingkah angkuh gadis di sampingnya.

"Ehm, baiklah," putus gadis itu, wajah angkuhnya kembali tampak. "Namaku adalah Taki Suzuna, dan aku adalah sepupu dekat Mamo-nee," jelasnya singkat, dengan nada dinginnya yang khas, tapi anehnya malah membuat Sena semakin menarik sudut-sudut bibirnya dan tersenyum kecil.

"Mamo-nee?" tanya Sena balik, ekspresinya terlihat geli menahan tawa.

"Iya, Mamori Anezaki," tegas Suzuna. Merasa bahwa dirinya tadi sempat diejek oleh pria berambut coklat di hadapannya membuat tingkah angkuhnya semakin menjadi-jadi, "Memangnya kau ini siapa?" tanya Suzuna ketus, tanpa memandang ke arah Sena sedikit pun.

"Ahiya, maaf Nona Suzuna, aku adalah kerabat jauh keluarga Anezaki, panggil saja aku Sena," lagi-lagi, Sena memamerkan senyum lembutnya, meski Suzuna tak juga berniat membalasnya.

'Hn, terserah saja, aku tidak peduli. Eh, tapi, di mana Mamo-nee berada? Padahal aku sengaja datang larut malam agar bisa mengejutkannya,' batin Suzuna kecewa. Dipandanginya lagi sosok pria yang duduk di sampingnya itu, 'Tidak buruk,' pikirnya kemudian.

"Suzuna-san, apa kau tidak tahu tentang berita itu?" tanya Sena dengan hati-hati.

"Berita apa?"

Sena sudah menduganya, dan Sena pun telah mempersiapkan langkah selanjutnya. Dilihat dari tingkah lakunya, gadis bernama Suzuna tadi pasti adalah seorang bangsawan juga, dan Sena harus bisa bersabar menghadapi gadis bermarga Taki itu, "Begini, dengarkan aku baik-baik."

Sena pun akhirnya menjelaskan berita mengejutkan itu, tentang kecelakaan yang nyaris merenggut nyawa Ayah dan Ibu Mamori. Dan tepat seperti dugaan Sena, gadis manis itu pasti akan menitihkan air matanya. Namun, semuanya tidak bertahan lama, Suzuna bukanlah tipe gadis yang akan berlarut-larut dalam kesedihan, dia agak berbeda.

"Jadi, di mana mereka sekarang? Aku ingin menjenguknya," pinta Suzuna pelan. Meski agak bergetar, tapi nada suaranya masih terkesan lantang seperti sebelumnya.

"Istirahatlah dulu, besok pagi aku sendiri yang akan mengantarmu kesana," ungkap Sena. Ya, bagaimana pun malam ini dia harus berjaga di sini, mencegah hal apapun terjadi di rumah ini.

"Sudah kubilang, aku akan menjenguknya sekarang, titik," tegas Suzuna, sambil bangkit dari duduknya dan kembali memandang tajam Sena.

"Tidak bisa, ini sudah la-"

CTAR

Kilat menyambar gedung-gedung tinggi di sekitar sana, beruntung rumah tingkat tiga itu tidak ikut terkena dampaknya. Awalnya Sena pikir Suzuna akan melompat takut dan memeluknya. Ternyata tidak, gadis itu masih berdiri di sampingnya, masih dengan wajah kesalnya.

"Baiklah," putus Suzuna, kedua tangannya dilipat di depan dada. "Besok pagi antarkan aku ke sana, sesuai janjimu tadi."

Sena pun tersenyum puas, ternyata Suzuna tidak seburuk yang dia pikirkan. Gadis itu tidak manja seperti kebanyakan bangsawan, meski tingkahnya memang sangat angkuh. Tapi di balik itu Suzuna adalah gadis yang sangat manis.

Setelah mengantar Suzuna tepat di depan pintu kamar tamu-kamar yang dulu sempat digunakannya-Sena pun pamit, "Selamat malam, Suzuna," ucapnya lembut.

Sena memang tidak terlalu suka memanggil nama orang lain dengan embel-embel -san, meski itu adalah orang yang baru dikenalnya. Lagipula, sepertinya usianya dengan Suzuna juga tak jauh beda, dan entah mengapa pemuda itu ingin menjadi sedikit lebih akrab lagi dengan Suzuna.

"Hn," gumam Suzuna seadanya, mungkin gadis itu sudah terlalu lelah terjaga hingga larut malam seperti ini, atau mungkin juga karena dia sudah tidak peduli pada panggilan Sena tadi. Sena pun kembali melanjutkan penjagaannya di depan layar laptop miliknya dengan ditemani secangkir kopi yang baru saja dibuatnya.


Malam masih panjang dan ketiga pemuda itu sama-sama dihadapkan pada situasi yang berbeda. Agon masih sibuk berkompromi dengan alat pelacaknya, mencari lokasi musuh mereka dengan hanya bermodalkan alat komunikasi mereka tadi. Sementara Akaba, dia dikejutkan dengan pengakuan gadis yang ditemuinya tadi. Tapi tidak, tidak ada waktu untuk terkejut. Malam belum berakhir bagi keempat pemuda itu.


Wuss, selesai juga, kepanjangan ya? Gomen *nunduk-nunduk*

Maaf kalo chapter ini masih membahas tentang crime-nya, dan belum merujuk ke film ES21 itu sama sekali, gomen *nunduk-nunduk lagi* mungkin chapter depan akan saya ramaikan dengan para chara ES21 yang lainnya saat syuting filmnya sedang berlangsung, doakan saja hoho #plak

Oke, saya mengharapkan review dari readers yang baik hati, jadi saya tunggu reviewnya yaa~ ^^

Arigatou :)