Yeppy~ akhirnya bisa update *lohloh* maaf karena sudah terlalu lama nggak update fic ini ^^
Yosh, kuucapkan terimakasih yang se-besar-besarnya untuk para readers yang masih sudi membaca ficku *tebar-tebar bunga* Ehm, chapter ini agak lebih panjang, jadi daripada membuang-buang waktu *ditimpuk high heels* langsung aja yaa ^0^
DON'T LIKE, DON'T READ
Title : Behind The Scene
ES21 Fanfiction
Disclamer : Riichiro Inagaki dan Yuusuke Murata
Warnings : OOC (sangat), AU, GAJE, Typo (s), aneh, dll
Maaf kalau jelek :)
Story : Bii Akari
NORMAL POV
Matahari bersinar terang, membawa angin baru yang bertugas mengusir hawa lembab hujan semalam. Kota Demon memang sempat diguyur hujan tengah malam kemarin, meski tidak berlangsung lama. Burung-burung berkicau merdu di atas atap-atap Rumah Sakit yang kokoh itu, memberi kesan damai bagi seluruh pengunjung Rumah Sakit.
Mamori yang baru saja bangun tampak menggeliat kecil di atas sofa, meregangkan tubuhnya yang tanpa sengaja tertidur semalam. Perlahan, iris shappire itu mulai mengintip dari celah-celah kelopak mata Mamori. Sambil mengumpulkan kesadaraannya hingga pulih, Mamori mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Dan hawa Rumah Sakit itu membuatnya sadar akan realita yang sebenarnya. Ternyata, semua itu bukanlah mimpi buruk semata.
Sambil bangkit untuk duduk, Mamori mengusap-usap matanya yang sembab, lelah menangis semalaman. Lalu tiba-tiba, gadis blasteran itu tersadar, ada yang aneh. Semalam, dirinya sedang duduk di samping tempat tidur Ibunya, bukannya tertidur di atas sofa. Dan, jas hitam yang membungkus tubuhnya terasa asing baginya. Mamori pun mempertanyakan pemilik jas tersebut, yang pastinya adalah orang yang sama dengan yang membawanya ke sofa.
Direngkuhnya jas hitam itu dengan perlahan, lalu aroma maskulin pun mulai menguar bebas di sekelilingnya, sesuatu seperti mint, mungkin? Mamori tahu pasti itu tidak berasal dari tubuhnya, sang pemilik jaslah yang mempunyai aroma menenangkan seperti itu.
'Apa mungkin ini milik, Hiruma Youichi itu?' batin Mamori penuh tanya, dan penuh harap (?)
Belum sempat Mamori mengkhayalkan hal yang tidak-tidak, suara bariton yang terdengar tak asing tiba-tiba menyapanya, "Kau sudah bangun, Mamori?"
Jantung Mamori seakan berhenti berdetak ketika mendengar suara berat itu. Dan sedetik kemudian, jantung Mamori tak henti-hentinya berpacu, jauh lebih cepat dari biasanya. Dengan rasa takut, terkejut, dan penasaran, Mamori pun menoleh ke arah datangnya suara tadi. Dan betapa terkejutnya dia ketika mendapati sosok Ayah yang sangat disayanginya tengah duduk di atas tempat tidurnya, sadar dari komanya semalam.
"A-ayah?!" pekik Mamori, senyumnya langsung mengembang dan air matanya tiba-tiba meleleh, seiring dengan langkah kakinya yang melesat pergi, menghambur ke pelukan Ayahnya.
"Huss, jangan menangis, Mamori."
Sang Ayah yang masih sangat lemah berusaha keras menenangkan putrinya, yang kini sedang mendekapnya dengan erat.
"Ehm, kau hanya memeluk Ayah saja?"
Kali ini, Mamori benar-benar merasa bagaikan orang paling beruntung di dunia. Karena tak hanya Ayahnya saja, tapi wanita yang paling dikasihinya juga diselamatkan oleh Tuhan. Tanpa perlu menunggu lagi, Mamori segera melesat ke pelukan Ibunya. Mendekap wanita itu dengan penuh kasih, seerat yang Mamori bisa.
Kedua Ibu dan Ayah itu tersenyum kecil kala putri semata wayang mereka menangis haru sambil menceritakan betapa khawatirnya dia semalam. Mamori menceritakan setiap detail perasaannya, setiap doa yang dilantunkannya malam itu. Hingga Tuhan benar-benar menunujukkan kuasanya, dan menjawab doa Mamori. Tak henti-hentinya bibir Mamori mengucap syukur atas karunia Tuhan yang dihadiahkan kepadanya, ini bagaikan mimpi terindahnya sepanjang masa.
Hiruma menguap lebar sambil menyesap habis kopi ketiganya sejak semalam, jemarinya yang jenjang tampak asyik menari-nari di atas keyboard laptop di pangkuannya. Tak lama kemudian, pemuda itu menekan tombol terakhir, hingga deretan kode yang bergentayangan di layar laptopnya hilang sepenuhnya. Usai menuntaskan pengintaiannya semalaman, Hiruma segera menutup laptop yang sudah sangat berjasa baginya itu. Berkat laptop VAIO putihnya, Hiruma berhasil membajak rekaman kamera di seluruh tempat di Rumah Sakit itu.
Ada yang mengganjal pikiran Hiruma, siapapun yang ada di balik semua ini, singkatnya para pelaku itu-yang sudah pasti tidak bekerja sendiri-kelihatannya tidak bertindak malam ini, tapi kenapa? Apa kecelakaan itu hanyalah gertakan mereka saja? Atau mungkin, mereka sudah yakin bahwa kedua orang tua Mamori tidak akan sadarkan diri?
Dengan gesit, Hiruma mengeluarkan sebuah alat yang bentuknya mirip dengan stetoskop dari dalam sakunya, lalu mulai menguping keadaan di kamar sebelah. Sesaat kemudian, Hiruma tersenyum tipis, kala mendengar percakapan hangat keluarga Anezaki itu. Perbincangan kecil itu didominasi oleh Mamori, sementara Ayah dan Ibunya hanya bergumam singkat saja, sambil sekali-kali ikut menimpali omongan Mamori.
Ini berita baik, terutama bagi Hiruma. Pemuda itu pun melepaskan alat itu dari telinganya dan akhirnya melenggang keluar bersama laptopnya, tak memperdulikan penampilannya yang terlihat kacau. Rambut hitamnya tampak sangat acak-acakan, kemeja putihnya juga terlihat sama kacaunya, sama sekali tidak rapi. Dua kancing atasnya dia biarkan terbuka, dengan ujung kemeja yang keluar dari celananya di sana-sini. Lengan kemejanya juga digulung asal hingga siku, dan dasi hitam panjang yang tadinya dia kenakan sudah dia selempangkan di pundak kirinya, tak terpasang lagi. Sambil menjinjing laptop di tangan kanannya, Hiruma memasukkan tangan kirinya ke dalam saku celananya. Kali ini, Hiruma benar-benar tampak seperti badboy sungguhan. Cocok dengan peran yang sebentar lagi akan dia mainkan.
TIT TIT TIT TIT TIT TIT TIT TIT TIT
Usai memasukkan password di pintu apartemennya, Hiruma segera bergegas masuk. Pemuda tampan-yang tampak berantakan-itu menyimpan sepatunya dengan rapi di dalam rak sepatu dan memakai sendal rumahnya yang berwarna putih. Sejenak, pemuda itu mengamati sekelilingnya, mencari jejak-jejak keberadaan makhluk lain selain dirinya saat ini. Namun nihil, dilihat dari mana saja, tak ada seorang pun di sana. Akhirnya, pemuda jangkung itu menyeret kakinya ke kamar miliknya, yang terletak paling pojok. Saat sampai, Hiruma segera melempar laptopnya di atas tempat tidur, lalu menyambar handuk yang tergantung di balik pintu kamarnya.
Di dalam kamar mandi Hiru-(author ditimpuk handuknya Hiruma) Ehm, kita skip bagian ini. Usai mandi, Hiruma berjalan keluar dengan hanya mengenakan handuk putih polos yang melekat di pinggangnya, sambil menggosok-gosok handuk lain di rambutnya yang basah. Tubuh atletisnya tampak masih sedikit basah, namun terlihat sangat segar. Mandi di pagi hari begini ternyata ampuh untuk mengusir rasa kantuk Hiruma karena terjaga semalaman.
Sebelum masuk ke kamarnya, Hiruma mendengar suara pintu depan terbuka. Akhirnya, pemuda itu menghentikan langkahnya dan menunggu penghuni apartemen lainnya itu masuk. Dari suara langkah kaki yang terdengar, Hiruma tahu persis bahwa yang datang ada dua orang, dan salah satunya adalah seorang gadis. Lupa akan penampilannya, Hiruma pun tetap berdiri di ambang pintu kamarnya sambil menunggu kedua orang itu mendekatinya.
"Kyaaa~"
Dan benar saja, ada seorang gadis tak dikenal yang datang bersama Akaba. Hiruma mengernyitkan dahinya, tidak senang dengan kesan pertama gadis itu. Padahal ini adalah salahnya sendiri yang tampil dalam keadaan setengah telanjang seperti itu. Bahkan author pun akan berteriak dengan heboh jika mendapati Hiruma dalam keadaan hot (?) seperti itu. Ehm, back to story.
Hiruma tampak jengah karena gadis di hadapannya itu tiba-tiba saja berlindung di belakang Akaba sambil memeluk lengan Akaba dengan erat, memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Akaba yang keenakan (?) dipeluk oleh gadis asing itu tak berniat memecah keheningan sedikitpun, dan hanya tersenyum kecil ke arah Hiruma. Tanpa menunggu lebih lama lagi, Hiruma segera masuk ke kamarnya dan berpakaian.
Saat pintu kamar Hiruma tertutup sepenuhnya, Akaba pun berdahem pelan. "Tenang saja, Nona. Dia sedang berpakaian di dalam. Maaf membuatmu terkejut," ucap pemuda tampan itu, sambil tersenyum simpul.
Gadis berambut panjang itu tampak salah tingkah, lalu segera menjauhkan diri dari tubuh Akaba. "Maaf, aku tidak sengaja, Akaba-kun," ucapnya gugup.
Melihat tingkah malu-malu gadis cantik itu, mau tidak mau Akaba jadi semakin tertarik dengannya. Pemuda itu lalu kembali memamerkan senyum mautnya, "Tak apa, ayo duduk dulu, Nona."
"E-err, maaf Akaba-kun, aku merasa agak aneh mendengar panggilanmu. Bagaimana jika kau memanggilku dengan nama depanku saja, boleh kan?" ucap gadis itu, sambil tersenyum kecil ke arah Akaba.
Gadis itu terlihat makin cantik jika tersenyum seperti itu, dan untuk yang ke-sekian kalinya Akaba akhirnya kembali hanyut dalam pesonanya. Tanpa sadar, Akaba kehilangan kontrol atas dirinya sendiri dan malah mengangguk kecil. Sesaat kemudian Akaba tersadar akan kecerobohannya, tapi mau bagaimana lagi? Akaba sudah terlanjur menyetujui permintaan gadis itu.
Bukan mengapa, hanya saja Akaba punya sedikit masalah menyangkut nama gadis-gadis. Bagaimana tidak? Akaba sudah terlalu sering menjalin hubungan dengan para kaum hawa itu, dan tak bisa dipungkiri, bahwa Akaba tidak bisa menghafal nama mereka semua. Saat ini saja, pacar Akaba sudah lebih dari satu, mungkin belasan-atau mungkin puluhan-Akaba saja tidak tahu jumlah pastinya. Bisa dibilang, pemuda tampan itu merupakan senior dari para playboyers di dunia, panutan pria-pria playboy lainnya.
Dan sekarang, pemuda itu terpesona pada seorang gadis biasa? Oke, gadis ini memang lebih cantik dibanding pacar-pacarnya yang lain, tapi mana mungkin seorang Akaba bisa jatuh hati padanya? Stop, lupakan Akaba yang sekarang sedang berusah payah menanamkan nama Koizumi Karin di dalam otaknya, berharap tidak salah menyebutkan nama nantinya.
Tak berapa lama, Hiruma pun keluar dari dalam kamarnya. Pemuda beriris emerald itu kini mengenakan kaos putih polos dengan leher bermodel V, dipadu dengan celana kain panjang yang berwarna senada. Kacamata yang bertengger di batang hidungnya yang mancung serta laptop dalam genggamannya menambah kesan maskulin pemuda tampan itu. Rambutnya yang masih sedikit basah membuat aroma shampoo yang dipakainya sedikit menguar bebas di ruangan itu.
Hiruma pun duduk di hadapan Akaba dan Karin, di depannya sudah tersedia secangkir kopi yang masih hangat. Dari balik kacamatanya, Hiruma mengamati gadis yang duduk di hadapannya dengan baik-baik, berusaha mengingat setiap detail sosoknya. "Jadi, bisa kau perkenalkan dia, Akaba?"
Karin tersenyum sopan kala Akaba dan Hiruma menatapnya secara bersamaan. "Namaku Koizumi Karin," jelasnya singkat. Entahlah, gadis itu merasa tidak tahu harus berkata seperti apa lagi kecuali namanya.
Selanjutnya, Akabalah yang kembali mengambil alih keadaan. "Non-maksudku," jeda sesaat, Akaba tampak berpikir dengan keras. "Ah, Karin. Aku tanpa sengaja bertemu dengannya semalam, Hiruma," jelas Akaba, sambil melirik Hiruma dengan ekor matanya.
Hiruma mengerti penjelasan Akaba belum selesai, jadi pemuda itu hanya diam dan menunggu. Tidak mungkin Akaba membawa gadis itu tanpa alasan yang penting, bukan? Dan dari penampilannya, Karin tidak tampak seperti gadis-gadis manja yang selalu mengeliingi Akaba. Pasti ada alasan tersendiri di balik semua ini.
"Dan dia melihat sendiri peristiwa kecelakaan itu."
Waktu menunjukkan pukul 07.29 AM.
Dan saat ini, kediaman Anezaki tengah heboh membicarakan peristiwa naas semalam. Beberapa pelayan yang tampak acuh terlihat sibuk mengerjakan tugasnya, sementara pelayan-pelayan yang lain malah berkerumun diam-diam sambil membicarakan betapa tragisnya nasib Tuan mereka.
Seorang gadis berambut gelap melangkah dengan anggun menuruni tangga. Gadis itu tampak rapi dalam balutan mini dress-nya yang berwarna ungu pucat, serasi dengan iris matanya. Dress berlengan 3/4 itu terlihat anggun dan cocok dengannya, ditambah lagi dengan motif garis bergelombang pada bagian bawah dress-nya itu. Flat shoes yang dikenakannya menambah kesan modis gadis mungil itu. Make up-nya juga sangat tipis, menandakan bahwa dia adalah tipe gadis yang tidak terlalu suka berdandan. Sayangnya, tak ada secuil senyum pun yang dia pamerkan, wajahnya tetap angkuh seperti biasa.
Para pelayan yang menyadari keberadaannya tampak terkejut. Bagaimana tidak? Mereka belum pernah melihat sosok gadis itu di rumah kediaman Anezaki, dan mereka merasa tidak pernah membukakan pintu bagi gadis berambut gelap itu.
"Mengapa kalian menatapku seperti itu?"
Merasa terkejut, para pelayan-pelayan muda itu pun gelagapan. Tingkah angkuh seperti itu, sudah pasti sang Nona yang berdiri di atas tangga adalah salah satu bangsawan juga.
"T-tidak, kami hany-"
"Nona Suzuna?" seorang wanita tua yang baru saja muncul dari balik pintu menatap Suzuna dalam-dalam, mengamati baik-baik wajah gadis belia itu dari balik kacamata tebalnya.
"Iya Bibi, ini aku," ucap Suzuna, sambil tersenyum manis ke arah wanita tua tadi. Sang wanita yang akrab disapa Bibi itu pun tersenyum lebar, sambil berjalan menghampiri Suzuna.
Tak mau kalah, Suzuna juga segera mendekat ke arahnya, lalu memeluk hangat wanita tua tadi. "Maafkan kelancangan mereka, Nona. Mereka ini pelayan yang baru masuk beberapa tahun yang lalu, mereka belum mengenal Anda."
Suzuna tersenyum maklum, lalu kembali memandang sosok wanita tua yang sudah dia anggap sebagai keluarganya sendiri itu dalam-dalam. Bibi adalah kepala pelayan di kediaman Anezaki. Di antara semua pelayan yang ada, Bibilah yang paling dekat dengan anggota keluarga itu, termasuk Suzuna. Wajar saja, Bibi sudah melayani keluarga Anezaki sejak muda, jauh sebelum Mamori lahir.
"Sudah lama sekali Nona tidak berkunjung ke sini. Lihatlah, sekarang Nona sudah tumbuh menjadi putri yang sangat cantik," puji Bibi, sambil menggenggam hangat tangan Suzuna. Suzuna pun balas menggenggam tangan yang rapuh termakan usia itu, lalu akhirnya memutuskan untuk berbincang-bincang hangat bersama Bibi di taman belakang rumah.
Usai berbincang sebentar bersama Bibi, Suzuna yang sudah kehilangan kesabarannya pun akhirnya memutuskan untuk mencari Sena sendiri. Suzuna merasa agak kesal pada Sena, sebab pemuda itu kemarin telah berjanji akan mengantarnya ke Rumah Sakit pagi ini. Namun, sampai sekarang Sena masih belum menunjukkan batang hidungnya sedikitpun.
TOK TOK TOK
Suzuna mengetuk pintu kayu yang kokoh itu dengan tegas. Kata Bibi, Sena semalam tidur di ruang kerja, karena itulah kini Suzuna berdiri di ambang pintu coklat itu.
Tak ada respon apapun. Kesal karena diacuhkan, Suzuna pun memutar knop pintu itu dengan acuh. Dan ternyata, pintunya tidak dikunci. Terlanjur memutar knopnya, Suzuna pun akhirnya memilih untuk masuk ke sana. Suzuna tahu ini tidak sopan, tapi Suzuna tidak mau mengambil resiko menunggu hingga lumutan di luar sana. Lagipula, cepat atau lambat Sena pasti akan membukakan pintunya juga untuknya, memangnya apa yang akan didapati Suzuna di dalam sana?
Pintu terbuka. Suasana hening, Suzuna hanya berdiri diam di ambang pintu. Tanpa disangka-sangka, Suzuna justru memergoki seorang pelayan yang sedang mengendap-ngendap sambil mengutak-atik laptop yang berada di atas meja kerja-itu menurut Suzuna.
"Apa yang kau lakukan di sini?"
Ucapan ketus Suzuna membuat pria berumur 35 tahun itu terkejut, matanya membulat lebar di balik kacamata minus-nya. Dengan gesit, pria itu bangkit dari duduknya lalu memperbaiki letak kacamatanya dengan jari tengahnya, membuat Suzuna sedikit tersinggung.
"M-maaf Nona, aku hanya sedang merapikan ruangan ini," jelasnya singkat.
Melihat ekspresi tak percaya di wajah Suzuna, sang pelayan pun kembali buka mulut. "Aku tadinya hendak me-nonaktifkan laptop ini, Nona. Tapi aku bingung bagaimana caranya," sambungnya lagi, sambil melemparkan senyum simpulnya ke arah Suzuna dan kembali memperbaiki letak kacamatanya lagi dengan cara yang sama.
Sebelum Suzuna mengintrogasi pria itu lebih lanjut, sang pelayan segera mengambil langkah aman. "Maaf, kalau begitu saya permisi dulu, Nona Suzuna."
Entah apa yang merasuki si pelayan hingga mampu melarikan diri secepat itu, bahkan Suzuna belum sempat mengucapkan satu kata pun. Tapi sudahlah, Suzuna tidak berniat mengejarnya, sungguh bukan gaya seorang Taki Suzuna. Namun tiba-tiba terlintas sebuah memori di kepala Suzuna, tampaknya wajah pelayan tadi tidak asing baginya.
Sambil mengingat-ingat, Suzuna berjalan mendekat ke arah laptop yang masih menyala itu. Bagaimanapun juga, Suzuna tidak bisa percaya seutuhnya pada ucapan pelayan tadi.
'Tunggu, kacamata? Jari tengah? Apa mungkin dia, Andrew?' batin Suzuna, sambil mengingat-ingat kejadian 7 tahun yang lalu, terakhir kalinya Suzuna berkunjung ke sini.
"Tak salah lagi, dia pasti Andrew," gumam Suzuna, sambil duduk di kursi yang ditempati Andrew tadi. Seingat Suzuna, Andrew adalah salah satu pelayan kepercayaan Ayah Mamori, sebab Andrew sudah diasuh sejak kecil. Awalnya, Andrew adalah seorang remaja yatim piatu yang tanpa sengaja bertemu dengan Ayah Mamori, dan akhirnya menjadi pelayan di kediaman Anezaki.
Tak banyak yang Suzuna ketahui tentang Andrew, yang jelas Suzuna tidak menyukai gelagat pria itu. Menurut Suzuna, dari dulu Andrew selalu terlihat aneh, bukan karena kacamata bulatnya ataupun caranya memperbaiki letak kacamatanya yang terkesan tidak sopan, tapi dari gelagatnya. Andrew selalu senang menyendiri dan sering terlihat, dia nyaris ada di mana-mana.
Karena penasaran, Suzuna pun menengok layar laptop di hadapannya itu. Dalam sekejap, kening Suzuna berkerut, heran melihat tampilan layar laptop itu. Layar laptop itu menampilkan kondisi ruangan di beberapa tempat di rumah itu, hal yang membuat Suzuna dilanda kebingungan.
'Apa Sena yang memata-matai rumah ini? Atau mungkin Andrew yang melakukannya? Tidak, kurasa ini ulah Sena. Tapi tunggu, tadi Andrew pasti melakukan sesuatu pada laptop ini. Ini aneh, jika memang Sena berniat memata-matai, dia tidak mungkin meninggalkan laptopnya dalam keadaan seperti ini,' batin Suzuna, memulai perdebatan panjang dengan dirinya sendiri.
"Suzuna?"
"Kau?"
Suzuna memandang Sena dengan pandangan yang sulit diartikan, antara kesal, sinis, dan marah. Sementara pemuda yang baru saja selesai membersihkan diri itu tampak heran melihat aksi Suzuna. Sena lalu menggantung handuk yang baru saja dipakainya untuk mengeringkan rambutnya itu di bahu kanannya, lalu berjalan pelan menghampiri Suzuna.
Kaos kain berwarna kuning pucat yang pakai Sena terlihat kontras dengan warna rambutnya. Namun celana jeans selutut yang dikenakannya cukup bisa menetralisir semuanya, dan membuatnya tetap terlihat tampan pagi ini. Sena dapat melihat apa yang ada di layar laptopnya, dan langsung saja melempari Suzuna pandangan penuh kebingungannya.
"Kau yang membukanya?" tanya Sena sarkastis, masih sambil memandang Suzuna.
Dengan seenaknya, Suzuna mengacuhkan pertanyaan Sena dan malah balik bertanya, "Kau memata-matai rumah ini?"
Sena tertawa kecil mendengar tuduhan Suzuna mengenai dirinya, pemuda beriris hazel itu lalu menatap gadis di sampingnya lekat-lekat. "Kau memata-mataiku?" tanyanya balik, sambil tersenyum menggoda ke arah Suzuna.
Merasa terfitnah, Suzuna tentu saja memasang wajah sinisnya, "Kau pikir aku seorang mata-mata?"
Sekali lagi, Sena tertawa mendengar ucapan bernada dingin Suzuna. Gadis itu benar-benar lucu menurut Sena. "Begini Suzuna," ucap Sena. Pemuda itu lalu menghentikan tawa renyahnya, lalu kembali menatap Suzuna lurus-lurus. "Aku tadi mengunci pintunya dan mematikan laptopku sebelum ke kamar mandi. Ehm, kau tahu sendiri kan apa maksudku?" lanjut Sena, dengan tatapan menyelidiknya.
Merasa dicurigai, ekspresi Suzuna pun semakin menjadi-jadi. Gadis itu menatap Sena dengan tajam, hingga tanpa sadar mengerucutkan bibir mungilnya. Sena yang melihat Suzuna dalam mode ngambek seperti itu berusaha keras menahan tawanya. Bagi pemuda itu, hal yang paling menyenangkan saat ini adalah mengusik ketenangan Suzuna, dan tampaknya Sena benar-benar menikmatinya.
"Aku tidak mungkin melakukannya, Kobayakawa-san," bantah Suzuna, sambil memalingkan wajahnya ke arah sebaliknya, kesal dengan Sena.
Sena tertawa diam-diam, lalu kembali berdahem pelan, "Jadi, bagaimana kau menjelaskan caramu masuk ke sini?"
Bagai diinterogasi seorang detektif sungguhan, Suzuna mengumpat dalam hati. Apa mungkin Sena akan percaya pada orang sepertinya? Yang notabene baru kemarin malam dikenalnya. Meskipun Suzuna menceritakan yang sejujurnya, Suzuna ragu Sena akan percaya.
'Argh, bukannya seharusnya dia yang terpojok? Tapi, mengapa malah aku yang menjadi tersudut sekarang?' batin Suzuna frustasi.
Suzuna tampak berpikir, terdiam sesaat sambil mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja. Usai menimbang-nimbang, akhirnya Suzuna memutuskan untuk menceritakan yang sesungguhnya. Soal dipercaya atau tidaknya, itu urusan belakang.
"Begini, tadi aku mengetuk pintumu, tapi tak ada yang merespon. Lalu, karena pintunya tak terkunci, jadi aku memutuskan untuk masuk. Ternyata di dalam sini ada seorang pelayan yang mengaku sedang membersihkan ruangan, dia lalu pergi sesaat yang lalu. Dan tanpa sengaja, aku melihat layar laptopmu. Begitulah kejadiannya," jelas Suzuna, dengan wajah dinginnya yang khas.
Sena tersenyum simpul mendengar penjelasan Suzuna. Sebenarnya, tadi Sena memang melihat Suzuna masuk ke ruang kerja itu dari jauh. Awalnya Sena bingung, karena sepertinya Suzuna tidak memasukkan kuci dulu sebelum memutar knopnya. Karena penasaran, Sena pun menunggu sejenak di luar. Dan dugaannya benar, ada orang lain yang berada di dalam sana selain Suzuna. Tepat seperti yang Suzuna katakan tadi.
Mengingat layar laptopnya yang menyala, tak salah lagi, pelayan tadi pasti mengutak-atik isinya. Dan pelayan itu sudah tahu bahwa Sena membajak semua kamera keamanan di sana. Tapi, mengapa pelayan itu tidak mengintrogasi Sena langsung? Bukti sudah lengkap, bukan? Pasti karena ketahuan Suzuna, tapi mengapa pelayan itu takut pada Suzuna?
Melihat Sena yang masih bungkam, Suzuna pun menggigit bibir bawahnya perlahan. Sudah dia duga, Sena pasti tidak akan mempercayainya. "Aku tahu kau tidak akan percaya padaku. Tapi sungguh, aku tidak berbohong. Bukan aku yang membuka pintunya," jelas Suzuna lagi. Karena bagaimana pun kata 'penguntit' tidak cocok untuk menjadi gelar gadis berdarah biru sepertinya.
Lagi-lagi, Sena tersenyum kecil. "Aku percaya padamu, Suzuna."
Suzuna merasa heran mendengar kalimat itu. Kalau Suzuna ada di posisi Sena sekarang, mungkin dia tidak akan percaya pada omongan seperti itu. Tapi, bagaimana mungkin Sena bisa dengan mudahnya mempercayai ucapannya?
"Tapi, apa kau mengenal pelayan itu, Suzuna?"
Sejenak, Suzuna lupa akan persoalan rekaman kamera di laptop Sena, gadis itu memang gampang teralihkan. "Hmm, namanya Andrew. Dia sudah bekerja di sini sejak remaja. Yang kutahu dia sudah yatim piatu sejak dulu, itu saja," jelas Suzuna singkat.
Terlambat, Suzuna baru saja menyadari kesalahan kecilnya, yang tiba-tiba saja mengatakan apa yang diketahuinya pada Sena. Padahal Suzuna bukanlah pribadi yang mudah percaya pada orang asing.
Dengan mudah, Sena dapat berkesimpulan bahwa si Andrew adalah salah satu pelayan yang cukup dipercaya Ayah Mamori. Meski tak dapat dipungkiri bahwa Sena merasa tidak pernah melihat Andrew sebelumnya, mungkin hanya sekilas saja dulu. "Lalu, apa yang tadi dilakukan Andrew di sini? Kau melihatnya, bukan?" tanya Sena lagi. Kali ini nada bicaranya benar-benar terdengar seperti seorang detektif profesional.
Sedetik kemudian Suzuna sudah menjawabnya, "Sesuatu seperti mengendap-endap aneh sambil mengutak-atik laptopmu," jawabnya asal, tepat seperti apa yang dipikirkannya tadi saat mendapati Andrew.
Merasa omongannya sudah terlalu di luar kepala, Suzuna pun meralatnya dengan segera, "Tapi katanya dia hanya ingin membersihkan ruangan ini dan berniat me-nonaktifkan laptopmu," sambungnya lagi, menekankan kata 'menonaktifkan' tadi. Sudah jelas bukan bahwa Andrew tadi berbohong pada Suzuna?
Terlalu lama diam, Suzuna pun kembali mengingat permasalahan awalnya. Dengan cepat, gadis itu berbalik mengintrogasi Sena, "Kau sendiri, mengapa kau menyadap kamera di rumah ini?"
Sena sama sekali tidak terlihat terkejut, pemuda itu sudah menduga pertanyaan itu akan keluar dari bibir mungil Suzuna. Dengan santai Sena menjawab, "Aku diberi amanat untuk menjaga rumah ini tetap aman jika Paman sedang berhalangan, contohnya seperti sekarang."
"Menjaga rumah ini tetap aman? Menjaga dari apa?"
Sena kembali tertawa kecil, "Uhm, mungkin dari pelayan seperti Andrew itu."
"Aku juga merasa Andrew itu mencurigakan."
DOR
Lagi, untuk yang ke-tiga kalinya Suzuna mengucapkan sesuatu yang semestinya dia simpan untuk dirinya sendiri. Tampaknya, ada sesuatu yang berbeda pada Sena, hingga bisa membuat gadis se-tertutup Suzuna bicara se-frontal itu padanya. Sesuatu yang membuat Suzuna tanpa sadar merasa percaya pada Sena.
Merasa telah melakukan kesalahan besar, Suzuna pun tersenyum se-biasa mungkin, berusaha keras menenangkan mulutnya yang sejak tadi bicara tak tentu arah. Ah Suzuna, tampaknya kau akan mengalami sesi tanya jawab lagi dengan Sena.
"Jadi, maksudmu ada seseorang di balik ini semua?" tanya Hiruma sarkasitis, berpura-pura tidak tahu apa-apa, sesaat setelah Karin menjelaskan kronologi kejadian yang dilihatnya.
Karin pun mengangguk yakin, masih sambil memandang lurus sang lawan bicara, Hiruma Youichi. Sejenak, suasana kembali menjadi hening. Semua yang ada di sana tampak sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Pikiran yang berbeda-beda, meski masih dalam lingkup kasus yang sama.
"Tunggu, di mana kau berada saat kecelakaan itu terjadi?" tanya Hiruma lagi, kembali memecah keheningan sesaat itu.
"Di sebuah toko 24 jam di samping perempatan."
Akaba agak terkejut mendengar itu, dan akhirnya pemuda beriris unik itu pun buka mulut. "Dari mini market itu, kita memang dapat melihat dengan jelas lokasi kecelakaan, Hiruma. Aku tadi juga habis dari sana," jelas Akaba singkat.
"Lalu, jika memang kejadiannya seperti yang kau katakan. Mengapa dia tidak menghabisi kedua orang itu saat itu juga? Apa yang ditunggu oleh pengendara motor itu?" ujar Hiruma lagi, membuat Karin mengedikkan bahunya.
"Aku juga tidak tahu. Hanya saja, si pengendara motor terlihat menunggu sesuatu di dekat sebuah gang. Dan kebetulan jika aku ingin ke mini market, aku harus melewati tempat itu. Awalnya kupikir dia ingin menunggu seseorang. Tapi, saat aku membayar di kasir, si pengendara motor terlihat mengekori mobil limousine itu. Aku yakin itu si pengendara yang tadi, dan anehnya dia tidak membonceng satu orang pun. Lalu apa yang dia tunggu tadi? Pasti limousine itu."
Mendengar penjelasan panjang lebar Karin, Hiruma pun tersenyum tipis. "Kalau begitu, aku yakin mereka melihatmu."
"Apa?" pekik Karin secara otomatis.
"Dia tidak memanfaatkan kesempatan yang ada, karena dia sadar kau mengamatinya. Karena itu dia langsung saja berlalu pergi. Sudah jelas sekarang, pasti ada sebuah organisasi berbahaya di balik ini semua, mereka tampak profesional," tegas Hiruma, membuat Karin semakin takut.
"T-tunggu, j-jadi maksudm-"
"Mereka melihatmu, karena itu mereka mengutus si agen wanita itu untuk meringkusmu. Tapi karena ada polisi di sekitar sana, si wanita harus membius polisi itu dulu. Saat itu kau pasti bersembunyi di dekat gang, bukan? Sebenarnya, yang diincar oleh wanita itu adalah kau. Tapi malangnya, dia bertemu Akaba dan misinya gagal. Kau beruntung saat itu, Koizumi Karin," diagnosa Hiruma lagi, sambil mengetik sesuatu di laptopnya.
Akaba terlihat bergumam pelan, sambil mengangguk-angguk mengerti. Sementara Karin menjadi semakin gelagapan. Jika keluarga setenar Anezaki saja bisa terancam dibunuh, maka menghabisi nyawa gadis biasa sepertinya adalah hal yang sangat mudah.
Melihat gelagat Karin yang aneh, Akaba pun menepuk pundaknya dengan hangat. "Tenang saja, kau bisa tinggal dengan kami," tawarnya halus. Sifat playboy-nya mulai muncul lagi.
Tiba-tiba Akaba merasakan aura membunuh yang ditujukan untuknya, dan tanpa menoleh pun Akaba yakin bahwa Hiruma tidak suka dengan sarannya itu. Tapi karena tidak tega meninggalkan Karin dalam kesusahan seperti itu, Akaba tetap tidak ingin mencabut ajakannya tadi.
"Tidak bisa," sergah Hiruma. Pemuda itu lalu melepaskan kacamatanya, dan memandang Akaba dengan tajam sejenak. "Mereka akan curiga jika kau tiba-tiba pindah, dan juga kami berdua bisa dicurigai. Jalan teraman hanya ada satu, lakukan saja perubahan," lanjut Hiruma.
"Perubahan?" gumam Karin bingung.
"Hn, Akaba ahli mengubah penampilan seseorang, dia akan membantumu berubah. Dan ingat, jangan bertingkah yang aneh-aneh, cukup bersikap seperti biasa saja. Mereka tidak tahu apapun tentangmu, jadi tenang saja."
"Itu benar, Karin. Aku pasti akan membantu dan mengawasimu agar tetap aman, tenang saja," hibur Akaba, memasang senyum terbaiknya untuk menenangkan Karin.
Tak punya pilihan lain, Karin pun hanya manggut-manggut bak anak baik saja.
TIIIIT
Pintu apartemen itu kembali terbuka, dan perlahan suara langkah kaki kembali terdengar. Lagi-lagi, Hiruma mengutuk telinga tajamnya yang berhasil menduga bahwa ada seorang gadis lagi yang memasuki apartemen mereka itu.
Dan dugaannya lagi-lagi benar, seorang gadis mungil tampak berjalan berdampingan dengan Sena. Tak ada sedikitpun senyum yang menghiasi wajah gadis berambut gelap itu, wajahnya terlihat angkuh seperti biasa.
Kali ini Hiruma benar-benar heran dibuatnya, ada apa dengan kedua rekannya itu? Mengapa di saat seperti ini mereka berdua membawa pulang seorang gadis? Apa Sena dan Akaba sudah janjian duluan? Entahlah, Hiruma tak tahu apapun.
"Ohayou minna," sapa Sena ramah. Sementara ketiga orang di depannya itu hanya bergumam datar, "Ohayou."
Tanpa kehilangan semangatnya, Sena pun kembali bicara, "Ini adalah kerabat dekat Non-maksudku Mamori-nee," jelasnya singkat.
Merasa dipelototi oleh ketiga manusia asing di sekitarnya, Suzuna pun angkat bicara, "Namaku Taki Suzuna," ucapnya datar, tanpa senyum sama sekali.
Mendengar kata 'kerabat dekat' membuat Hiruma dan Akaba saling pandang-pandangan, bertukan pikiran diam-diam.
Karin yang merasa dirinya asing langsung saja memperkenalkan diri dengan ramah, "Hai, aku Koizumi Karin," ucapnya lembut, membuat Suzuna agak heran. Tampaknya, Karinlah satu-satunya orang yang tidak terpengaruh oleh sikap dinginnya tadi.
"Ohiya, namaku Sena Kobayakawa, salam kenal Karin," ucap Sena, membungkukkan badannya sedikit sambil tersenyum hangat ke arah Karin.
"Ahiya Suzuna, yang duduk di samping Karin itu bernama Akaba Hayato, dan pemuda di hadapannya bernama Hiruma Youichi," lanjut Sena, masih dengan senyum ramahnya.
Hiruma tetap berekspresi tenang, sementara Akaba tersenyum sopan. Mereka berdua pun duduk terpisah di sofa lain, di sisi kanan Hiruma. Suasana pun menjadi semakin canggung, karena adanya dua tamu istimewa hari ini.
TIIIIT
Pintu apartemen kembali terbuka, membuat Hiruma secara refleks menajamkan indera pendengarannya. Tak perlu diduga-duga lagi, Hiruma yakin yang datang kali ini adalah Agon. Anehnya, ada orang lain yang juga ikut datang bersamanya. Tapi Hiruma tidak dapat menangkap dengan jelas figur itu, mungkin seorang anak kecil, atau mungkin seorang gadis lagi? Entahlah, langkahnya terdengar terseret-seret.
"Kyaaa~" jerit Karin lagi. Sepertinya gadis itu gampang sekali terkejut ya? Sementara sang gadis keturunan bangsawan kita-Suzuna-hanya memandang objek yang baru muncul itu dengan heran, bersikap tetap tenang selayaknya bangsawan sungguhan.
"Agon? Apa yang terjadi padamu?" tanya Sena khawatir, sambil bangkit dari duduknya dan segera memapah Agon.
Akaba yang tadinya ingin memanfaatkan kesempatan lagi, tampaknya masih sadar akan situasi saat ini. Situasi ini terlalu sempit untuk bisa dimanfaatkan. Dengan gesit, Akaba meraih orang-atau mungkin mayat-yang dipapah oleh Agon tadi dan membaringkannya di atas lantai.
Penampilan Agon benar-benar berantakan. Rambut gimbalnya terlihat sangat kusut-jauh lebih kusut dari biasanya. Kancing-kancing kemeja hitamnya juga sudah rusak parah, tercabut di sana-sini. Tak hanya itu, ada beberapa bercak darah yang memenuhi kemejanya, beruntung hal itu tidak terlalu menonjol. Di sudut bibirnya ada sedikit noda darah yang sudah kering, akibat dari perkelahiannya semalam. Yang terparah, luka tembak di bahu kanannya. Jika dilihat dari ujung kaki hingga ujung kepala, hanya ada satu hal yang masih utuh, kacamata gelap Agon.
"Maaf, sepertinya aku datang terlambat," ucap Agon, masih sambil mengalungkan lengannya di pundak Sena.
"Ada berapa ratus orang yang kau hadapi, Agon? Lihat tubuhmu itu," omel Akaba, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya seraya memeriksa keadaan pria yang dibawa Agon tadi.
Agon tersenyum mengejek mendengar ucapan Akaba, pemuda itu lalu melempar pandangan tajam ke arah Akaba, "Hanya beberapa puluh orang saja," ucapnya pelan. Agon lalu tampak berpikir sejenak sambil menggerak-gerakkan jari-jarinya, seperti gerakan menghitung, "Mungkin tiga puluh, atau empat puluh, entahlah."
Karin makin panik ketika mendengar ucapan Agon itu, berbanding terbalik dengan Suzuna yang tetap bersikap acuh tak acuh, "E-empat puluh? T-tunggu, akan kutelepon Ambulance," pinta Karin dengan panik, sembari mengacak-acak tasnya.
Akaba tertawa kecil melihat aksi Karin, pemuda itu lalu bergumam singkat, "Tak perlu, Karin. Kita punya seorang dokter hebat di sini."
Agon cengengesan gaje. Sena tertawa kecil. Akaba tampak sibuk berkonsentrasi pada denyut nadi pria tadi. Karin melongo dengan heran. Suzuna tetap tak bergeming. Dan Hiruma, pemuda itu hanya berdecak kecil, entah karena kesal atau merasa tersanjung.
Pemuda berambut hitam itu lalu bangkit dari duduknya, lalu berujar singkat, "Bawa dia ke kamar."
.
.
TBC
Hohoho, gimana? Rasanya crime-nya sangat tidak ada di chapter ini ya? Gomen, dan adegan syutingnya kayaknya harus ditunda dulu, hehe. Anehnya, kok ceritanya jadi berubah alur ke misteri gini sih? Saya juga bingung *alah* tampaknya masih banyak misteri disini *apanih* Sebelumnya saya minta maaf karena tampaknya fic ini akan menjadi sangat panjang, jadi bersiap saja. Tapi tenang, selama apapun saya update *eh* fic ini nggak akan kubiarkan menjadi Discontinued, hoho. Ada yang penasaran Agon kenapa? Haruskah kuceritakan adegan action Agon melawan ratusan *lebay* musuhnya? Hohoho, tampaknya chapter depan akan jadi crime sungguhan #plakplak
Ada yang kurang jelas? Silahkan bertanya ^^ Err, tak ada yang penasaran mengapa Agon bisa masuk ke apartemen dengan tubuh babak belur seperti itu tanpa takut disangka pembunuh atau yakuza (?) Hohoho, mudah saja, gedung apartemen itu milik keluarga Agon. Jadi, siapa yang mau marah, hah? Tuan Agon bisa melakukan apapun yang dia mau, khukhukhu
Yosh, akhir kata, terimakasih telah bertahan sampai akhir, REVIEW yaaa ^^
Arigatou :)
