Itu adalah hari yang biasa di sekolah, Boboiboy sedang berjalan-jalan keliling sekolah karena merasa tidak ada hal yang bisa ia lakukan. Biasanya di saat seperti itu ia mencoba iseng-iseng berubah menjadi salah satu pecahannya tetapi karena situasi yang sedang ia alami, tidak ada kemungkinan ia bisa memakai kuasanya itu sembarangan.

Di perjalanannya keliling sekolah ia bisa melihat Taufan bermain dengan skateboardnya dengan Api yang bersamanya yang ingin coba menaiki skateboardnya.

Ia melihat Gempa yang sibuk dengan tugas OSISnya.

Dan ia melihat Air yang tertidur di kelas dengan sebuah minuman disebelahnya.

Tapi dimana Halilintar?

Boboiboy coba mencari Halilintar karena daripada berjalan-jalan keliling sekolah tanpa tujuan lebih baik dengan tujuankan?

Ia sudah mencari di halaman sekolah.

Ia sudah mencari di kelas-kelas.

Ia sudah mencari dimana-mana tetapi masih tidak ada tanda-tanda Halilintar.

'Dimana dia?' Batin Boboiboy.

Lalu ia mencari di salah satu sudut tersembunyi di sekolah dan ia melihat ada Halilintar disitu bersama beberapa orang lain yang sepertinya tidak baik.

Halilintar yang sepertinya belum menyadari keberadaan Boboiboy bertanya kepada mereka, "Mau apa kalian?"

Salah satu dari mereka yang sepertinya pemimpinnya menjawab, "Heh! Kau memang tidak pernah berubah ya, Halilintar?"

Halilintar tidak mengatakan apapun tetapi dari raut wajahnya sudah terlihat jelas bahwa ia tidak menyukai mereka.

Boboiboy tahu kalau di dunianya pecahannya yang satu ini memang paling pemarah dan dingin tetapi ia tidak menyangka bila pecahannya yang itu menjadi orang tersendiri bisa menimbulkan sesuatu yang seperti ini. Bahkan sampai membuat musuh sebanyak itu.

Orang yang terlihat seperti pemimpin mereka maju dan sudah mau memukul Halilintar tetapi Halilintar berhasil menghindari pukulan itu dan membalasnya dengan sebuah pukulan lagi. Lalu semua anak buah pemimpinnyapun maju dan mulai mencoba untuk mengeroyok Halilintar tetapi ia berhasil menghindari semua itu dan justru membalasnya lagi.

Boboiboy yang daritadi melihat kejadian itu hanya bisa merasakan kekaguman terhadap Halilintar karena ternyata Halilintar tanpa kuasapun juga masih kuat! Bahkan sangat kuat!

Tetapi setelah lama-lama melihat pertarungan itu hasilnya semakin parah karena orang-orangnya tidak habis-habis, Boboiboy juga menyadari bahwa Halilintar semakin terkuras tenaganya dan ia segera menerima banyak pukulan karena hampir kehabisan tenaga. Boboiboy sudah mulai gelisah, ia ingin sekali membantu Halilintar tetapi apa yang bisa ia lakukan? Nanti ia hanya akan menjadi penghalang bagi Halilintar.. Kecuali..

Boboiboy menatap ke jam kuasanya.

Tapi itu tidak boleh!

Boboiboy tidak ingin selalu merasa tergantung kepada jam kuasanya!

Keadaannya makin parah Halilintar sudah mulai bermunculan luka yang parah. Saat itu jantung Boboiboy berdebar dengan kencang karena ia bingung, lebih baik ia memakai kuasanya atau tidak? Boboiboy menggigit bibirnya lalu ia sudah mulai bercucuran keringat.

Akhirnya Boboiboy sudah menetapkan apa yang harus ia lakukan.

Ia akan membantu Halilintar,

dengan kuasanya.

Boboiboy segera berlari ke depan Halilintar lalu merentangkan tangannya memberikan perlindungan untuk Halilintar. Halilintar melebarkan matanya, kaget, "Apa yang kau..."

"Oh.. Siapa ini? Ada pendatang baru rupanya.. Hmm? Mukamu sama seperti muka si sampah itu!" Pemimpin menunjuk ke Halilintar yang dibalas dengan sebuah delikan dari Halilintar kearahnya, "Ternyata kau perlu diajar juga ya?"

Halilintar terlihat marah, "Boboiboy, kenapa kamu disini!? Tidak seharusnya kamu disini! Ini urusanku bukan urusanmu!"

Boboiboy hanya diam saja.

"Jawab!"

'Pemimpin' hanya tertawa, "Ternyata pertemuan kedua saudara ini berada di keadaan yang tidak tepat, ya?"

Saat 'pemimpin' dan para anak buahnya akan segera kembali meluncurkan pukulan, tiba-tiba..

"KERIS PETIR!"

Muncullah sebuah keris petir di tangan Boboiboy, mereka semua kaget karena bagaimana bisa dari sebuah kekosongan tiba-tiba suatu benda? Lalu setelah itu mereka tertawa(tentu saja terkecuali Halilintar dan Boboiboy),

"APA ITU!? PEDANG MAINAN? HAHAHA!"

"MUNGKIN KAU SALAH TEMPAT! KALAU DARI TK JANGAN KESINI! HAHAHAHA!"

Boboiboy marah lalu ia segera melempar keris petir itu ke salah satu anak buah, lalu orang itu kesetrum sampai gosong lalu pingsan.

Mereka semua terbelalak matanya, "A- apa!?"

Boboiboy tersenyum kemenangan, ia kembali memunculkan keris petir dan melemparnya satu per satu ke anak buah-anak buahnya 'pemimpin' sampai hanya tersisa sang 'pemimpin'.

"KAMU-"

'Pemimpin' itu segera mengeluarkan sebuah pistol dari kantongnya, mata Halilintar terbelalak tetapi Boboiboy masih terlihat tenang. Karena 'pemimpin' itu memegan pistol itu dengan tangan yang bergetaran Boboiboy menggunakan kuasa anginnya untuk menjatuhkan pistol itu dari tangannya dengan mudahnya lalu ia mengambil pistol itu.

Boboiboy menatap dingin orang itu, "Sekarang kamu mau apa?"

"HII!" Lalu sang 'pemimpin' langsung pergi.

Boboiboy menoleh ke arah Halilintar yang daritadi membeku, "Mereka itu siapa?"

Halilintar sudah tidak lagi membeku, "Aku punya pertanyaan yang lebih bagus.."

"Hm?"

"Sebenarnya, siapa kau?"

Boboiboy tersentak, ia baru ingat bahwa tadi ia memakai kuasanya untuk membantu Halilintar! Dan sekarang Halilintar sudah tahu bahwa Boboiboy memiliki kuasa.

"Aku.. Tentu saja aku Boboiboy!"

Halilintar tidak terlihat menanggapi jawaban yang itu lalu ia bertanya lagi, "Sebenarnya, kamu itu siapa?"

Boboiboy tahu kalau ia hanya diam saja Halilintar tidak akan pergi dan tetap menanyai hal yang sama lagi.

"Aku.."

Boboiboy menghela nafasnya, pasrah.

"Aku tahu pasti hari seperti ini akan datang.."

Lalu Boboiboy tersenyum, "Soal siapa aku, aku masih belum bisa memberitahumu karena aku ingin memberitahumu lain waktu."

Halilintar tidak terlihat puas sama sekali dengan jawabannya itu.

"Dan mohon jangan beritahu kepada yang lain tentang yang kau liat, ya?"

"Kenapa?"

Boboiboy tersenyum sedih. Lalu Halilintar menghela nafas, "Ya sudahlah, dari raut wajahmu aku tahu kamu tidak bermaksud jahat. Aku tidak akan memberitahu siapapun tentang kekuatanmu yang itu. Dan..." Halilintar menggaruk-garuk pipinya yang tidak gatal itu sambil berusaha untuk tidak bertatap mata dengan Boboiboy, "Terima kasih.."

Boboiboy tersenyum dan juga kaget, "Sama-sama! Hehe!" Lalu ia kembali ke wajah seriusnya, "Mereka tadi itu siapa?"

Halilintar menghela nafas, "Mereka itu.. Musuh lama.. Aku pernah berduel dengan salah satu dari mereka dan aku menang, sejak saat itu mereka mulai menggangguku.. Sejujurnya hal seperti ini sering terjadi tapi tidak pernah dengan orang sebanyak ini.."

"Oh.."

Boboiboy tersenyum, "Ya sudahlah! Ayo balik! Pasti yang lain menunggu kita!" Boboiboy berjalan ke arah gerbang sekolah

Halilintar tersenyum tipis, tidak mengatakan apa-apa lalu ia mengikuti Boboiboy.

"Oh iya! Lukamu itu perlu diobati!"

Halilintar menatap ke luka-luka yang ia dapati, "Ini tidak separah itu, kok.."

Tiba-tiba..

"Kak Halilintar! Boboiboy! Darimana saja sih kalian-" Lalu Gempa melihat luka-luka yang ada di tubuh Halilintar, "Ya ampun, kak Halilintar! Bagaimana bisa!?" Tentu saja Gempa lumayan panik karena sebelumnya kakaknya yang satu ini tidak pernah mengalami luka separah ini, "Ayo kita pulang dulu! Yang lain menunggu kita, nanti aku obati di rumah!"

Boboiboy menatap mereka pergi ke arah saudara-saudaranya yang lain dan melihat saudara-saudaranya yang lain juga kaget dan khawatir tetapi Halilintar hanya mendengus.

Ia melihat Taufan dan Api melambai-lambaikan tangan mereka kearah Boboiboy dengan Gempa yang tersenyum,

"Boboiboy! Kamu mau ikut tidak! Nanti ditinggal loh~!"

Boboiboy tersenyum, 'Jadi begini ya rasanya punya saudara?' Batinnya.

"Iya!" Lalu Boboiboy segera berlari kearah mereka.

Humikmika : Ini dia chapter 6~! Pengen bikin tapi gak ada ide akhirnya ada ide lalu bikin deh~! Maaf kemarin gak bikin soalnya.. soalnya.. Ehm... Author mau istirahat sehari, nah! Iya! Itu! Mungkin besok aku bakal bikin chapter 7 mungkin nggak nanti lihat~ Terima kasih atas favs, follows dan reviewsnya ya! Itu yang membuat saya sangat berbahagia dan mau melanjutkan cerita ini!

Terima kasih telah membaca!