"Sasuke.. kau dari mana?". Tanya seorang wanita.

"Jalan-jalan". Jawab Sasuke kemudian mengambil air di kulkas.

"Kau tahu apa tujuan kaa-san membawamu ke Konoha?".

"Pekerjaan". Jawab Sasuke sekenanya dan melanjutkan acara minumnya.

"Iya, kau dipindahkan ke Konoha, tapi ada yang lebih penting lagi". Ucap Mikoto dengan nada agar Sasuke penasaran. "Kau akan menikah". Mata Sasuke melebar. "Dua hari lagi".

"Uhuuk". Sasuke tersedak mendengar penuturan ibunya. "Apa maksud kaa-san?".

"Dengan Haruno Sakura".

"Kaa-san bercanda?". Tanya Sasuke berharap-harap cemas semoga ini hanya tipuan sebelum memberinya kejutan.

"Eheem". Tiba-tiba Fugaku datang dan menatap mata Sasuke tajam.

"Baiklah, aku mengerti". Ya, satu hal yang ditakuti Sasuke. Ayahnya.

.

.

Disclaimer: tetep Masashi Kishimoto

Warning: Gaje, OOC, gak beraturan

.

.

Two Faces Second Chapter

"Bwahahahaha..". Tawa seorang perempuan cantik berambut blonde.

"Ino pig diamlah! Semua orang di café meihat kita!". Ucap Sakura dengan tampang horror.

"Jadi, besok kau menikah forehead? Dengan siapa? Hmmpff..". Wanita berambut kuning yang dipanggil Ino itu masih menahan tawa.

"Namanya Uchiha Sasuke, syukur kalau tahu wajahnya, kenal saja tidak".

"Uchiha? Setauku putra Uchiha cuma satu. Uchiha Itachi". Sahut sang ratu gosip itu seolah mengetahui semuanya.

"Hmmm.. aneh. Lalu Sasuke siapa?". Sakura bertanya-tanya.

"Jangan-jangan.. dia anak.. haram". Mulut Ino mulai berkata yang tidak-tidak.

"Huss, jangan ngaco. Tapi.. dulu aku pernah dengar anak bungsu sahabat ibuku diculik, penculiknya sudah tertangkap sih, lalu gak tau kabarnya lagi". Kata Sakura mencoba mengingat-ingat.

"Mungkin si Sasuke itu,di suratnya tertulis kalau Sasuke anak bungsu sahabat ibumu kan?".

"Mungkin. Tapi pig, jaga mulut besarmu itu. Yang ku undang dalam pernikahan ini hanya kau, Naruto dan Hinata".

"Baiklah. Tapi, kau yang bayar minumanku".

"Hmm, tak masalah".

000

"Kau yakin tak ikut satu taksi denganku?". Tanya Ino kepada Sakura.

"Aduh pig rumah kita kan arahnya berlawanan".

"Biar taksinya putar balik.. Ayolah..".

"Gak.. ah.. entah aku ingin sendiri".

"Terserah kau forehead, aku pulang dulu.. salam untuk suamimu.. hahaha". Ucap Ino kemudian masuk ke dalam taksi.

"Dasar pig!". Sakura men-deathglare Ino. Buru-buru Ino menutup pintu taksi.

"Huh". Cukup lama Sakura menunggu taksi lewat. Tak ada, tak ada satupun taksi yang lewat. 'Aneh padahal baru pukul tujuh', pikirnya. Sedikit rasa penyesalan tidak mengiyakan permintaan Ino. Sakura memutuskan berjalan dari pada menunggu taksi yang tak kunjung tiba.

Ia berjalan sambil menatap bintang-bintang di langit. Pandangannya tak lepas dari satu bintang yang paling terang. 'Kaa-san' Sakura berbisik dalam hati. Mengingat ibunya membuatnya mengingat pernikahannya. "Kaa-san mengapa aku harus menikah dengan orang yang justru tidak ku kenal? Apa aku bisa mencintainya?". Tiba-tiba bintang itu berkedip. Sakura memandang keheranan, memastikan ia tidak salah lihat. 'Apa maksudnya?'. "Hei! Awas!".

Sakura yang masih terpaku melihat bintang itu tidak menyadari ada seseorang yang meneriakinya. Bruk. Selang beberapa detik terdengar teriakan, "AAAAA!".

000

Sasuke mulai bosan menatap layar televisi. Ia beranjak dari kursi dan mematikan televisi. Melihat-lihat rumah barunya ini bukanlah ide buruk. Ya, rumah baru yang akan ditempatinya dan istrinya, ehm.. calon maksudnya. Pintu berwarna merah tua yang terletak di ruang paling belakang menarik perhatian Sasuke. Pelan-pelan Sasuke membuka pintu tersebut. Kotor dan berdebu, ternyata gudang. Ketika akan menutup pintu itu kembali, sebuah benda menyilaukan mata Sasuke. Tanpa ragu Sasuke membuka kembali pintu itu dan mengambil barang 'menyilaukan' tadi. Sebuah papan berwarna merah dengan strip kuning di tengah dan dua buah roda untuk menjalankan papan tersebut. Memang papan tersebut pantas disebut skateboard.

"Hm, masih bagus". Sasuke berniat mencoba skateboard 'barunya' itu. Mengingat dulu ia sangat lihai memainkan benda yang satu itu. Ia senang berkeliling dengan skateboard. Namun itu berubah ketika Fugaku mengetahuinya. Papan kesayangannya itu dipatahkan di depan matanya sendiri. Sasuke juga tidak diperbolehkan keluar dari mansion Uchiha. Miris, memang.

Peluncuran pertama, berhasil.

Peluncuran kedua, berhasil.

Sasuke menyeringai bangga. Ia berinisiatif berkeliling kompleks rumah barunya. "Hn, masih pukul tujuh".

Sasuke mulai menyusuri jalan. Dengan santai ia menggerakkan skateboard sambil memandang langit. Bintang yang bersinar paling terang terlihat menarik bagi Sasuke. Anehnya bintang itu berkedip membuat Sasuke menatap heran. Tanpa ia sadari terdapat gundukan kecil di hadapannya. Duk. Sasuke terkejut. Ia tidak bisa mengendalikan laju skateboard. Ia mencoba meneriaki seseorang di depannya, "Hei awas!". Sialnya, orang tersebut tak menghiraukan Sasuke. Bruk. Keduanya saling beradu tatap beberapa saat, hingga mereka sadar dan orang itu berteriak, "AAAAAA!". Sasuke terperanjat dan segera menjauhkan tubuhnya dari orang yang telah ditabraknya tadi.

"Haruko".

"Uchida-san". Keduanya bertatapan kemudian membuang muka.

"Hn, panggil saja Masao". Otak jenius Sasuke tentunya dengan mudah mengingat nama buatannya sendiri.

"Kenapa kau tiba-tiba menabrakku? Dan.. panggil aku Suki".

"Baiklah Suki, kau sudah kuperingatkan, kaunya saja yang tidak dengar".

"Oh begitu ya?". Ucap Sakura sinis.

"Hn". Mereka kembali terdiam. Tiba-tiba Sasuke berdiri dan mengulurkan tangannya ke Sakura.

"Berdirilah". Ucap Sasuke tanpa ekspresi.

"Apa?".

"Apa aku harus mengulanginya lagi?". Dengan acuh Sakura menerima uluran tangan Sasuke untuk berdiri.

"A..aaww". Rintih Sakura sambil memegang pergelangan kaki kirinya.

"Hn, apa lagi?". Sasuke mengangkat salah satu alisnya.

"Gara-gara kau kakiku terkilir!". Sakura menatap tajam Sasuke. Sasuke hanya menanggapinya dengan memutar bola matanya, berbalik, lalu berjongkok di hadapan Sakura.

"Mau apa kau?".

"Naiklah ke punggungku".

"Hei! Rumahku masih tiga kilo lagi! Tidak mungkin kau ".

"Ck, cepat naiklah".

"Tidak! Aku masih menunggu taksi".

"Ini hari Rabu, kau lupa? Taksi terakhir jam enam tadi. Jika kau tak ingin diperkosa oleh preman lagi, naiklah!".

Sakura mendengus kesal menyadari kebodohannya, dan.. mengapa Ino tidak mengingatkannya tadi. Ia pun mulai mengalungkan tangannya ke leher Sasuke. Dengan sigap, Sasuke memegangi kedua kaki Sakura. Kemudian mereka berdua meluncur dengan skateboard Sasuke. Hening. Tak ada yang memulai percakapan. Entah, Sakura merasa tidak nyaman karena harus mengendalikan detak jantungnya. Sedang Sasuke? Dia hanya berkonsentrasi terhadap jalan yang mereka lalui. Soal ekspresi, detak jantung dan emosi, dia sangat mahir mengendalikannya.

Saat Sakura sibuk dengan detak jantungnya, tiba-tiba Sasuke menghentikan laju skateboard.

"Hn, sudah sampai" . Sakura terkesiap dan menyadari berada di depan rumah besar nan mewah yang diklaim sebagai rumahnya kemarin. Pelan-pelan Sasuke menurunkan Sakura dari punggungnya.

"Arigatou, Uchida.. ehm Masao". Ucap Sakura sambil membungkukkan badannya.

"Hn. Lain kali jangan melamun". Sasuke membalikkan badannya dan bergegas meluncur. Sakura yang mendengarnya hanya mengerucutkan bibir dan berkata, "Hati-hati di jalan". Namun Sasuke tak menggubris, ia tetap melanjutkan perjalanannya.

Seperti yang dilakukannya kemarin, Sakura meninggalkan rumah gadungannya dan menuju rumah tertatih-tatih ia membuka pintu perlahan. Kriieet. Tak menemukan sosok ayahnya membuatnya sedikit lega. Ia takut ayahnya yang akan sangat khawatir jika melihat putri semata wayangnya seperti ini. Dengan telaten dokter muda itu merawat kakinya yang terkilir. Hari ini ia sangat lelah. Ia memilih untuk cepat tidur. Mengingat besok ia menjadi ratu dalam sehari dengan pria errr.. yang tidak dikenalnya, apalagi dicintainya.

000

Berdiri di depan cermin, seorang wanita berbalut dress cantik berwarna putih panjang melebihi kakinya. Dan rambut pink yang ditata apik sehingga sekali melihat saja semut pun tahu kata yang tepat untuknya. Cantik.

Ia menatap sayu bayangan yang ada di dalam cermin. Perasaannya sekarang campur aduk antara ragu, sedih, bingung, dan tak percaya bahwa ini bukanlah mimpi. Tiba-tiba ia dikagetkan oleh sebuah suara. "Forehead kau cantik sekali!". Teriak Ino yang muncul tiba-tiba di belakang Sakura.

"Apa-apaan sih kau pig!". Sakura menatap Ino kemudian memalingkan mukanya sebal.

"Tapi sayang, suamimu itu tak bisa melihat kecantikanmu itu". Sakura memandang heran sahabatnya itu. "Karena kalian akan memakai ini". Ino mengacungkan selembar kain hitam di depan wajah Sakura. Sakura memicingkan matanya. "Eh?!".

000

"Teme.. kau dimana?!". Seorang laki-laki bernama Uzumaki Naruto tengah berteriak-teriak memanggil seseorang.

"Teme ". Duk. Sebuah hantaman cukup keras mendarat di kepala Naruto. Sambil menggosok pelan bagian yang dipukul tadi, Naruto mencari-cari siapa yang tega melakukan itu padanya. "Teme!"

"Hn, kau berisik Dobe". Ucap laki-laki keturunan Uchiha, Uchiha Sasuke.

"Kenapa kau memukulku Teme?! Aku hanya ingin kau menggunakan ini!". Naruto berteriak sebal sembari menyerahkan selembar kain hitam. Sasuke hanya menanggapi dengan memberikan tatapan yang seolah berarti, 'Untuk Apa?'. "Ketika kau menikahi Sakura-chan, kau harus menutup matamu.. tapi tenang saja, setelah kalian menikah tidak ada kain ini lagi". Sasuke meraih kain hitam itu dari tangan Naruto. Ia tidak bisa menolak, ia tahu kalau ini bagian dari perintah Fugaku.

000

Upacara pernikahan dimulai, kedua mempelai mengucapkan janjinya masing-masing dibimbing penghulu. Kemudian mereka bertukar cincin dan.. berciuman. Seorang mempelai wanita yang bernama Sakura sedang mengatur nafas dan detak jantungnya. Bagaimana bisa? Orang yang belum dikenalnya merenggut ciuman pertamanya. Ia merasakan nafas hangat yang semakin mendekat, semakin mendekat. Tanpa disadari penghulu dan para undangan, mempelai pria meletakkan dua jarinya di bibir Sakura dengan cepat dan mencium dua jari itu seolah-olah dia benar-benar mencium Sakura. Lima detik, dirasa sudah cukup, sang mempelai pria melepaskan ciumannya. Tak berselang lama, suara tepuk tangan terdengar. Mempelai wanita, Sakura, dibimbing turun oleh Ino. Sedangkan mempelai pria, Sasuke, dibimbing Naruto.

"Teme, ciuman tadi rasanya bagaimana?". Ucap Naruto sedikit berbisik. Sasuke yang mendengarnya langsung menendang kaki Naruto. "Aaaww.. Teme sakit". Rintih pria berambut jabrik kuning itu menahan rasa sakit sambil tetap membimbing Sasuke turun dari altar.

000

"Forehead, apakah kau berdebar-debar ketika Uchiha akan menciummu?". Kata Ino saat membuka penutup mata Sakura.

"Ck, diamlah kau pig!". Sakura mendengus sebal kepada Ino yang sedang tertawa meledek.

"Hahaha.. Apa kau tidak penasaran dengan wajah Uchiha Sasuke itu? Aku bisa memberitahumu". Kata Ino dengan nada yang dibuat-buat.

"Tidak, buat apa. Toh nanti dirumah aku akan mengetahui wajahnya". Jawab Sakura acuh. "Oh ya pig, bolehkah aku ganti baju sekarang?".

"Boleh saja, tapi bukankah pengantin tidak melepas pakaiannya sebelum malam pengantinnya?". Ucap Ino menggoda Sakura.

"Tidak ada malam pengantin Ino!". Sakura mendesis. "Aku muak dengan semua ini!".Sakura menundukkan kepalanya, tetesan air mulai meluncur di pipinya.

"Lepaskanlah kalau itu membuatmu lebih baik". Ino mengelus pelan pundak Sakura

000

Uchiha Sasuke kini sedang berjalan-jalan di sekitar gedung tempat resepsi pernikahahannya. Ketika semua orang sedang menikmati makanan di dalam, ia memilih menjernihkan pikirannya dengan berjalan-jalan dan menghirup udara segar. Tentunya, ia tidak memakai pakaian pernikahannya tadi. Ia sudah berganti dengan kemeja berwarna biru, jas hitam, serta celana hitam untuk menghormati pesta-nya yang masih berlangsung.

Di musim semi seperti ini, bunga-bunga sedang bermekaran tak terkecuali bunga Sakura. Tak buruk bila duduk bersandar di bawah pohon berbunga pink itu dan bermeditasi, menurut Sasuke. Tapi setelah berada disana beberapa saat, ia mulai terganggu dengan suara hentakan. Duk. Duk. Duk. Sasuke tetap mencoba tenang dan mengacuhkan suara tadi. Duk. Duk. Duk. Namun, lama kelamaan suara hentakan itu membuat telinganya risih. Sedikit sebal ia mencari pelaku yang menimbulkan suara tadi. Ditemukannya seorang wanita berambut pink dengan dress selutut berwarna hijau pupus dan sebuah bando menghiasi rambut uniknya.

"Suki"

"Masao".

"Apa yang kau lakukan disini?". Sahut mereka bersamaan.

TBC

Yee.. akhirnya apdet juga XD

Sebenarnya mau apdet lebih awal, tapi nunggu pengumuman kelulusan SMP. Yah, akhirnya gue lulus juga.

Kemarin aku ulang tahun lho.. #gak ada yang nanyak tuh

Oh ya, Maid itu singkatan dari Mai Dai, panggil Mai aja ya?

Okelah saatnya bales review

Shichi Hzr: salam kenal.. kurang panjang? *wow.. kalau chapter ini udah panjang? arigatou udah ngeriview :D

Shinji Aime: wah.. anda sudah mau kutarik?! #dilempar sandal.. arigatou udah ngereview :D

Aoi Kimie:salam kenal.. aku Mai.. ikutin ceritanya terus yak! #maksa arigatou udah ngereview :D

TheHandsomeManJedi: Wah.. bahasa mana tuh?! eh.. nggak kok just kidding :D arigatou udah ngereview :D

mau nge-Review?! lagi?! :D