Baekhyun menghela nafas panjang mendapati orang yang dicarinya duduk di kantin kampus. Bukan apa-apa, ia sama sekali tidak merasa terintimidasi dengan Luhan dan dua teman setianya, ataupun dengan beberapa gerombolan pria yang mengerubungi tempat itu seperti ngengat yang mengerubungi lampu. Ia hanya malas.

Menghembuskan nafas panjang sekali lagi, akhirnya Baekhyun berjalan mendekati kerumunan itu. Ia berdiri didepan meja Luhan dan teman-temannya, menunggu hingga kehadirannya disadari. Untunglah beberapa pria ditempat itu memiliki respon cepat pada gadis sepertinya.

"Aah, Baekhyunee disini. Kau mencariku?" Kim Jongin, pria yang terlihat paling dekat dan paling sering bersama Luhan, langsung menyapanya dengan nada sok akrab yang membuat Baekhyun mengedikkan mulutnya jijik. Namun setidaknya sapaan Jongin menarik perhatian seluruh kelompok itu pada dirinya.

"Luhan-ssi, aku ingin berbicara denganmu" Baekhyun menatap lurus pada Luhan yang dibalas tatapan datar dari gadis itu.

"Baiklah, silahkan berbicara" Luhan menegakkan tubuhnya dari posisi bersandarnya di kursi, tidak peduli walaupun Baekhyun menjadi satu-satunya orang yang berdiri disekitarnya. Ia sama sekali tidak menawari gadis itu untuk duduk di salah satu kursi kosong didekatnya.

Baekhyun memutar matanya jengah, Luhan memang terkenal sangat menyebalkan dan sialnya ia harus menghadapi hal itu demi masa depannya di universitas ini.

"Berdua saja."

Tao membulatkan mulutnya dengan ekspresi yang jelas dibuat-buat begitu mendengar ucapan Baekhyun. "Omo! Omo! Kau tidak sedang mencoba mengutarakan perasaan pada Luhan, kan?" Ejeknya, membuat kerumunan disekitarnya dipenuhi gelak tawa.

Kali ini bukan hanya Baekhyun, namun Luhan juga mendecak jengah dengan ejekan Tao. Namun ia memilih untuk mengabaikan Tao dan tetap fokus pada Baekhyun.

"Bicara saja atau kau bisa pergi."

Baekhyun menghela nafas panjang untuk ketiga kalinya. Baiklah, jika nona menyebalkan ini memaksanya, "Jangan salahkan aku nantinya jika semua orang disini mendengar apa yang sebaiknya tidak mereka dengar."

Meskipun tidak bisa menerka apa yang akan dibicarakan Baekhyun, Luhan mulai ragu mengenai hal yang akan dibicarakan dengannya. Jika hal itu merupakan hal memalukan, sudah pasti ia tidak ingin siapapun mendengarnya. Didalam hati ia juga mengingat-ingat, apakah ada hal memalukan yang dilakukannya berkaitan dengan Baekhyun, namun ia gagal untuk mengingat apapun.

Ia mengangkat tangannya cepat saat dilihatnya Baekhyun membuka mulut lagi untuk berbicara. Baekhyun yang melihat hal itu hanya tersenyum menang, Xi Luhan memang terlihat mengintimidasi namun lihatlah, gadis itu ternyata tidak seberani yang orang lain lihat.

"Ikut aku!" Luhan berjalan mendahului Baekhyun, menjauh dari kerumunan teman-temannya dan Baekhyun mengikuti dengan senang hati. Berbicara berdua dengan Luhan memang tujuan awalnya.

Kedua gadis itu berjalan hingga ke sudut kantin dimana tidak ada satu mahasiswa pun. Setelah menarik kursi untuk masing-masing dan menghempas duduk, Luhan berdeham kecil, memberi tanda pada Baekhyun untuk mulai berbicara.

Baekhyun langsung mengerti, "Aku memiliki pekerjaan untukmu" Ujarnya tanpa merasa perlu berbasa-basi dengan Luhan.

Senyum tipis mengejek keluar dari bibir Luhan, "Apa aku terlihat butuh pekerjaan?"

"Apa hubunganmu dengan Kim Jongin?" Baekhyun mengabaikan Luhan.

"Apa urusannya denganmu?"

"Dengan Kim Junmyeon?"

"Berhentilah bertanya selagi aku masih bersikap baik, Byun!"

"Oh Sehun. Kau mengingatnya?"

Luhan mendecak sebal karena semakin tidak mengerti dengan pertanyaan-pertanyaan Baekhyun. Entah apa hubungan teman-temannya dengan dosen menyebalkan itu.

"Kau bisa langsung pada intinya, aku tidak suka bertele-tele."

Giliran Baekhyun yang tersenyum tipis, "Aku dengar kau berpura-pura menjadi kekasih dua pria itu."

"Wow, kau ternyata seorang penggosip hebat" Luhan menggelengkan kepalanya berpura-pura takjub. Sungguh gadis bernama Baekhyun ini mulai mengikis kesabarannya.

"Tertarik mencoba menjadi kekasih Oh Sehun?"

Melupakan kekesalannya, Luhan justru melongo hebat. Apa yang baru diucapkan Baekhyun? Menjadi kekasih Oh Sehun? Ia mencerna pertanyaan Baekhyun beberapa saat sebelum mulai tertawa.

"Hahaha, kau lucu Baekhyun-ssi. Baiklah, terima kasih atas hiburannya" Ia beranjak berdiri.

Disisi lain Baekhyun mendecak kesal, "Aku serius!" Tambahnya sambil menahan lengan Luhan agar tetap duduk ditempatnya.

Tawa Luhan seketika berhenti dan ia menatap Baekhyun tajam. "Aku tidak mengerti apa yang sedang kau coba lakukan dan aku sedang tidak ingin berkelahi dengan siapapun. Jadi sebaiknya akhiri saja pembicaraan ini."

"Mr. Oh sendiri yang memintanya."

Gerakan Luhan kembali terhenti. Apa-apaan ini? Entah Baekhyun atau pria bernama Oh Sehun itu sedang berusaha mempermainkannya.

"Oh ya? Dia menyukaiku?" Tanyanya sinis.

Baekhyun mencibir dalam hati, yang benar saja, apa Oh Sehun sebuta itu menyukai gadis seperti Luhan?

"Entahlah, kau bisa bertanya padanya nanti. Kau hanya perlu menjawab ya atau tidak."

Luhan melepaskan pegangan tangan Baekhyun pada lengannya dan berdiri. "Kalau begitu sayang sekali, jawabanku tidak."

.

"Gadis bodoh! Kenapa menolaknya!" Tao menjitak kepala Luhan, membuat gadis yang baru saja menempelkan bibirnya pada mulut botol itu tersedak kecil. Ia menatap Tao dengan delikan tajam.

"Aish, aku bukan gadis murahan!"

"Tapi tetap saja, orang itu Oh Sehun! Kau tidak sadar ya betapa hot-nya dia?"

Luhan memutar bola matanya. Ia tidak mengerti apa yang dilihat oleh gadis-gadis dari pria bernama Oh Sehun. Selain menyebalkan dan sok, Luhan tidak bisa lagi memikirkan apa yang ada dari pria itu.

"Tapi mengapa ia bisa tahu mengenai Jongin dan Junmyeon?" Kyungsoo angkat bicara. Setidaknya dari dua teman Luhan, Kyungsoo bisa mengatakan sesuatu yang berguna, tidak seperti Tao yang hanya melihat sesuatu dari permukaan.

Luhan mengangkat bahu dan menempelkan lagi bibirnya ke mulut botol, menyesap sedikit minuman dengan alkohol rendah itu sebelum menjawab pertanyaan Kyungsoo, "Tentu saja dari gosip. Baekhyun itu hanya berpura-pura polos, kau tahu."

Kyungsoo terkekeh kecil, "Tapi yang dikatakannya itu benar. Jika kau tidak berpura-pura menjadi kekasih dua pria itu, mana mungkin gosip seperti ini menyebar."

"Dan lihatlah, uri Luhannie menjadi gadis murahan yang bisa disewa sekarang" Tao menambahkan dan tersenyum manis pada Luhan.

Luhan mendelik pada Tao dan mengangkat sebelah tangannya dengan gerakan hendak memukul Tao, membuat gadis itu segera mundur bersembunyi di tubuh kecil Kyungsoo.

"YA! Ulangi lagi ucapanmu!"

Kyungsoo tertawa kecil, "Tapi itu benar, Lu!"

"Soo-ya, jangan kau juga" Luhan merengek dengan wajah cemberutnya.

"Tapi Baekhyun benar, kau bisa menjadi kekasih bohongan."

"Aku hanya membantu teman, oke?" Ya benar, ia memang pernah melakukannya. Namun itu karena ia membantu teman-temannya. Berawal dengan membantu Kim Jongin ketika menemani pria itu pada acara reuni tahunan sekolah menengah atas. Jongin yang saat itu merasa malu tidak memiliki kekasih mengajak Luhan pergi dan mengakui Luhan sebagai kekasihnya.

Lalu kedua kalinya ketika menemani Kim Junmyeon pada pesta bisnis orang tuanya. Junmyeon yang tidak ingin mengikuti pembicaraan bisnis yang membosankan dan dikenalkan dengan berbagai gadis manja anak rekan bisnis orang tuanya, meminta bantuan Luhan untuk menemaninya.

Hanya dua kali dan sepertinya semua orang menganggapnya gadis murahan. What the hell!

"Cih, membantu dengan ponsel mahal sebagai hadiah, huh?" Tao mengejek lagi.

Luhan benar-benar akan memukul Tao jika saja ia bisa membantah ucapan gadis itu. Tapi ia tidak bisa karena apa yang dikatakan Tao memang benar adanya.

"Itu benar-benar hadiah, aku tidak memintanya pada Junmyeon!" Ia nyaris berteriak didepan wajah Tao.

"Tapi orang lain tidak mengerti, Lu" Kyungsoo mengambil alih sebelum Luhan benar-benar menyerang Tao.

Luhan menghembuskan nafas kasar dan menghempaskan tubuhnya ke sandaran kursi.

"Sudahlah, lagipula sejak kapan kau peduli dengan ucapan orang lain?" Kyungsoo menepuk lengan Luhan pelan.

Luhan mendesah, ia memang biasanya tidak peduli dengan orang lain dan apapun yang mereka pikirkan tentangnya, jadi mengapa ia harus peduli sekarang? Tidak ada alasan untuk peduli. Satu-satunya dalam pikirannya saat ini adalah mencari Baekhyun dan berurusan dengan gadis itu. Jika diingatnya semakin lama, tawaran Baekhyun makin terasa menghinanya.

Ketiga gadis itu kemudian terdiam. Luhan dan Tao sesekali menempelkan mulut botol minuman ke mulut masing-masing, sedangkan Kyungsoo hanya mengaduk lime squash-nya. Well setidaknya ada yang harus tetap sadar ketika mereka bertiga keluar dari bar ini nanti, dan menilik dari minuman yang dipilih kedua temannya, mereka sepertinya tidak berniat untuk mempertahankan kesadaran. Jadi seperti biasa, Kyungsoo-lah satu-satunya yang harus mempertahankan kesadarannya.

"Ehm, Lu. Gadis itu sepertinya keras kepala" Kyungsoo yang sedang memutar matanya menatap sekeliling bar langsung berkata ketika mendapati sosok Baekhyun yang berjalan memasuki bar, lurus kearah mereka.

Luhan dan Tao serentak mengikuti arah pandang Kyungsoo dan senyum miring tercetak di bibir Luhan, "Baguslah, aku jadi tidak perlu mencarinya sendiri."

Baekhyun menuju lurus kearah tiga gadis yang duduk di salah satu meja di bar itu. Luhan itu ternyata benar-benar gadis liar, batinnya dalam hati. Setelah sikap sok yang menyebalkan, ternyata bar juga menjadi kehidupan gadis itu. Dalam hati ia juga mulai merasa ragu mengenai rencananya sendiri, apakah Luhan tidak terlalu berlebihan bagi pria baik-baik seperti Sehun? Tapi ia tidak bisa mundur lagi, tidak jika Sehun sendiri yang akhirnya memintanya mengurusi gadis itu. Lagipula ia sudah mengambil segala resiko dengan pergi ke tempat ini demi Luhan. Jika saja orang tuanya tahu, atau yang lebih parah jika Chanyeol tahu ia pergi ke bar maka habislah dirinya. Jadi ia harus bisa meyakinkan Luhan kali ini, bagaimanapun caranya.

"Aku baru akan menemuimu" Luhan menyapanya dengan sapaan mengancam begitu ia berhenti tepat didepan gadis itu.

Sayangnya Baekhyun bukan gadis penakut yang mengkeret hanya dengan tatapan Luhan, "Baguslah, lagipula pembicaraan kita tadi belum selesai."

Mendengar itu justru Tao yang mendadak semangat, ia menarik kursi disebelahnya untuk Baekhyun, "Duduklah, kalian bisa berbicara disini. Tenang saja, Luhan sudah menceritakannya pada kami" Ia menyambut ramah dan berkedip pada Baekhyun.

Baekhyun dan Luhan mendengus tidak percaya dengan reaksi Tao. Gadis itu justru terlihat paling bersemangat dengan rencana ini dibanding mereka semua. Sementara itu Kyungsoo hanya mengulum senyum, ia sudah mengerti dengar sikap Tao.

"Aku sudah bilang aku tidak mau!" Titah Luhan ketika Baekhyun baru mendudukkan tubuhnya di kursi.

Tao memukul lengan Luhan, "Kita bisa mmbicarakannya lagi."

"Ini bukan urusanmu, panda!"

Tao mendelik pada Luhan. "Setidaknya hargailah Baekhyun-ssi yang susah mengikutimu hingga kesini!"

Baekhyun benar-benar dibuat tercengang dengan sikap Tao. Bagaimana bisa gadis yang diklaim paling sombong di geng ini membelanya sedemikian rupa. Ah sudahlah, ia tidak peduli.

"Mr. Oh meminta bantuanmu. Kau tahu kan, bagaimanapun dia dosen kita."

Mulut Luhan melongo mendengar ucapan Baekhyun, "Apa sekarang kau mengancamku?"

Baekhyun menggeleng sekali, "Tidak. Aku hanya menawarkan pekerjaan."

"Lalu apa untungnya hal ini bagiku?"

Kali ini Baekhyun mengangkat bahunya, "Kau bisa membicarakannya langsung dengan Mr. Oh."

Bibir Luhan membentuk senyum mengejek, "Cobalah untuk bersikap sedikit lebih ramah dan membujukku dengan lebih baik, Baekhyun-ssi. Kau membutuhkanku."

Baekhyun tersenyum tipis tidak kalah sinis, "Sangat percaya diri, Luhan-ssi."

"Apakah aku salah? Bukankah Oh Sehun menginginkanku? Aku satu-satunya kesempatanmu."

Baekhyun menggeram kecil. Sial! Entah bagaimana Luhan bisa membalik keadaan dengan menekannya. Seolah gadis itu tahu ada perjanjian dibelakang ketersediannya menghadapi gadis itu.

"Kau bisa membuat perjanjian yang menguntungkan dengan Mr. Oh."

Luhan mengetuk jari telunjuknya ke dahi, berpura-pura berpikir. "Hanya itu?"

Baiklah, tidak ada cara lain dan Baekhyun juga tidak ingin merendahkan harga dirinya didepan gadis tengik yang sedang dihadapinya.

"Aku bisa menjamin kelulusanmu di kelas Mr. Park."

Mata ketiga gadis didepannya membola dan Baekhyun mengutuk pelan didalam hati. Ia sudah kepalang basah dan Luhan sedikit lebih sulit dari perkiraannya. Ia harus bisa meyakinkan Luhan meskipun setelah ini ia harus menerima amukan Chanyeol.

"Waahh, kau membuatku terkejut, Baekhyun-ssi. Siapa sebenarnya kau ini?" Luhan bertanya takjub. Ia tidak menyangka gadis seperti Baekhyun bisa menjadi kepercayaan seseorang seperti Oh Sehun sekaligus mengatur seorang Park Chanyeol. Entah kuasa apa yang dimiliki gadis kecil itu.

Baekhyun mengeluarkan lagi senyum kecilnya, "Karena itulah, kau cukup menyetujuinya. Aku bukan gadis sembarangan" Sombongnya.

Luhan mencondongkan tubuhnya kearah Baekhyun, mulai tertarik dengan tawaran yang ditujukan padanya. "Baiklah, atur pertemuan untukku dan Oh Sehun. Ada banyak hal yang perlu dibicarakan jika ia ingin memakai jasaku."

Luhan bisa mendengar suara Tao yang menyorak kecil dan Baekhyun yang menghembuskan nafas lega meskipun tidak kentara. Menyetujui hal ini sama saja mengakui bahwa ia gadis yang bisa dibayar, tapi pada kenyataannya ia tidak peduli. Persetan dengan apa yang akan dipikirkan orang lain tentangnya, rasa penasarannya tersentuh dan ia harus memuaskannya.

Meskipun kesal dengan nada memerintah yang diberikan Luhan padanya, Baekhyun tetap menghembuskan nafas lega. Setidaknya ia bisa meyakinkan Luhan, selanjutnya tinggal urusan Luhan dan Oh Sehun.

Baekhyun berdiri, bersiap-siap pergi dari tempat itu ketika Tao menarik tangannya, "Karena kau sepertinya juga kenal baik dengan Mr. Park, apakah menurutmu Mr. Park tidak membutuhkan jasa yang sama?" Tao bertanya centil.

Siku-siku imajiner muncul di pelipis Baekhyun. Pertama, ucapan Tao mengingatkannya lagi bahwa masih ada Chanyeol yang harus dihadapinya setelah ini. Kedua, Chanyeol itu kekasihnya. Chanyeol sudah pasti tidak membutuhkan bantuan seperti itu.

"Ia tidak membutuhkannya" Ia menjawab datar lalu segera berlalu pergi dari bar itu.

.

Sehun tidak melepaskan tatapannya dari Luhan yang melenggang santai berjalan kearah mejanya. Sesuai dugaannya, gadis ini berbeda. Bahkan belum apa-apa, Luhan sudah menunjukkan sikap yang ia yakin tidak akan didapatnya dari gadis manapun diluar sana.

Gadis itu membuatnya menunggu hampir dua jam lamanya!

Sesuai ucapan Baekhyun, ia dan Luhan seharusnya bertemu di restoran ini dua jam lalu. Bahkan menurut Baekhyun, Luhan sendiri yang mengatur waktu dan tempat pertemuan mereka ini. Dan lihatlah sekarang, gadis itu melenggang santai setelah membuatnya menunggu. Apalagi gadis itu sama sekali tidak mengucapkan permintaan maaf seperti yang normalnya dilakukan orang lain. Gadis itu hanya menarik kursi dan kemudian duduk tenang didepannya.

"Tidak kusangka anda sudah menunggu, Mr. Oh. Kukira anda akan tersesat mencari tempat ini" Luhan membuka obrolan dengan nada manis walaupun arti dari ucapannya sama sekali tidak manis. Ia sengaja bermain-main dengan membuat Sehun menunggu. Lagipula Sehun itu seorang dosen, sudah pasti ia pintar. Ia tidak akan tersesat hanya karena Luhan membuat janji disebuah restoran yang letaknya jauh dari universitasnya.

Sehun mempertahankan wajah datar meskipun Luhan sudah mulai menguji kesabarannya. Ia tidak memiliki waktu untuk meladeni kelakuan Luhan.

"Baekhyun bilang kau menyetujui pekerjaan yang kutawarkan" Ujarnya tanpa merasa perlu berbasa-basi.

Luhan mengangguk lalu mengangkat bahunya, "Saya hanya merasa kasihan pada Baekhyun yang terus memohon."

Sehun tersenyum sangat tipis, harus ia akui Luhan gadis yang berani. "Well, jadi apa yang ingin kau bicarakan denganku?"

Luhan memutar bola matanya, "Pekerjaan itu, tentu saja. Dan beberapa peraturan standar" Ia hampir terkikik sendiri ketika mengucapkan kata-kata 'peraturan standar'. Kata-kata itu benar-benar muncul begitu saja di kepalanya.

Sehun menegakkan posisi duduknya, mulai serius. "Kau hanya perlu diam dan mengikutiku dan tidak membantah apa yang kukatakan. Singkatnya, menjadi kekasih penurut."

Luhan mengangguk, tidak sulit.

"Berapa lama saya harus melakukannya?"

Sehun nampak berpikir beberapa saat, "Mungkin beberapa minggu."

Luhan mengangguk lagi, masih mudah.

"Apakah anda tahu bahwa bayaran saya tidak murah?"

Sehun tersenyum mengejek, "Uang tidak menjadi masalah bagiku."

"Satu lagi. Anda harus meluluskan saya pada kelas anda."

Kali ini Sehun menghela nafas. Ia sudah mengira akan seperti ini. Baik Luhan maupun Baekhyun sebenarnya memiliki sifat yang sama, meraup segala keuntungan yang mungkin mereka dapatkan. Jadi ia mengangguk.

Luhan tersenyum manis, "Sekarang saatnya membicarakan peraturan standar yang saya ungkit tadi."

Sehun mengeryitkan dahinya, "Apa itu peraturan standar?"

Luhan mengeluarkan selembar kertas, meletakkan kertas itu diatas meja dan mulai membaca, "Pertama, kontak fisik yang saya izinkan hanya sebatas mengenggam tangan dan merangkul, dan itu hanya diperbolehkan pada saat memang dibutuhkan, bukan setiap saat. Anda tidak berhak meminta lebih daripada itu" Ia mengangkat wajahnya menatap Sehun yang mulai mengulum senyum, meminta persetujuan pria itu.

Sehun berdeham kecil, sayang sekali ia tidak bisa menyentuh Luhan, tapi tujuannya memang bukan hal itu, jadi ia mengangguk.

Luhan balas mengangguk lalu menundukkan kepalanya dan membaca lagi, "Kedua, anda tidak berhak mencampuri urusan pribadi saya."

Sehun mengangguk lagi. Lagipula siapa yang ingin mencampuri urusan gadis itu? Maaf saja, tapi Sehun tidak tertarik.

Luhan juga mengangguk dan menggeser kertas yang dibacanya tadi kehadapan Sehun. "Anda bisa tanda tangan disini" Ia menunjukkan tempat yang memang disediakan untuk tanda tangan.

Sehun nyaris tidak bisa menahan tawanya melihat kelakuan Luhan. Ia merasa perjanjian yang dibuatnya dengan Luhan seperti sebuah perjanjian penting. Mereka hanya berpura-pura dekat selama beberapa saat, yang benar saja!

Namun demi menghormati Luhan, ia membubuhkan tanda tangannya di kertas perjanjian itu. Luhan kemudian menarik kertasnya dan tersenyum puas.

"Nah, jadi apa pekerjaan pertama kita?" Luhan kembali menatap Sehun.

"Hanya ada satu pekerjaan sebenarnya, orang tuaku."

Luhan mengangguk tenang, membuat Sehun lagi-lagi merasa sedikit takjub dengan gadis itu. Luhan bahkan tidak terlihat terkejut ketika ia menyebutkan orang tuanya, padahal awalnya ia merasa yakin Luhan akan mengkeret khawatir.

Luhan sendiri bukannya tidak terkejut, hanya saja ia sudah menerka pekerjaan apa yang ditawarkan Sehun padanya. Seorang pria mapan seperti Sehun tidak akan memintanya untuk menemani ke acara reuni sekolah seperti yang Jongin lakukan. Jadi sudah pasti ini adalah urusan orang tua, yah, kurang lebih seperti Junmyeon. Hanya saja kali ini mungkin urusannya lebih serius.

"Baiklah, ini nomor ponsel saya" Luhan menjulurkan secarik kertas berisi nomor ponselnya pada Sehun. "Anda bisa menghubungi saya jika sudah waktunya bekerja."

Sehun menerima kertas itu dan menyimpannya didalam saku kemejanya.

Luhan berdiri dari duduknya, "Saya permisi, Mr. Oh"

"Tunggu sebentar."

Luhan menahan langkahnya dan kembali menatap Sehun.

"Panggil aku Mr. Oh ketika kau menjadi mahasiswiku. Kau bisa memanggilku Sehun ketika menjadi kekasihku."

Luhan mengangguk lalu kembali melangkah, melenggang pergi dari tempat itu. Ia sedikit tersenyum dalam langkahnya, jadi sekarang -dalam waktu-waktu tertentu- ia bukan hanya mahasiswi seorang Oh Sehun, namun juga kekasihnya.

Menarik.

.

Di waktu yang sama namun di tempat yang berbeda, Chanyeol nyaris menjatuhkan rahangnya sebelum melotot pada gadis yang menunduk dalam-dalam di depannya.

"YA! Lancang sekali kau Byun Baekhyun!"

Baekhyun memberanikan diri sedikit mengangkat wajahnya, lalu meraih lengan kemeja Chanyeol dengan kedua tangannya.

"Mianhae, oppa. Aku benar-benar terpaksa."

"Aku tidak mau melakukannya!"

Kali ini wajah Baekhyun benar-benar terangkat menatap Chanyeol yang lebih tinggi darinya, "Oppa"

"Tidak!"

"Aku mohon"

"Tidak!"

Mata Baekhyun mulai berkaca-kaca dan ia melepaskan pegangannya pada lengan kemaja Chanyeol dengan sedikit menyentak.

"Baiklah, sepertinya kau memang ingin melihatku membusuk di kelas temanmu itu!"

Chanyeol melongo, bukankah seharusnya ia yang marah saat ini? Baekhyun membuat perjanjian dengan Luhan untuk meluluskan gadis itu pada kelasnya. Persis seperti perjanjian Baekhyun dengan Sehun. Tapi kenapa justru sekarang gadis itu yang merajuk padanya.

Ia melunak, "Bukan begitu, Baekki-ya..."

"Aku benci padamu!"

Chanyeol mengusap wajahnya dengan sebelah tangan, "Baiklah, baiklah, aku akan meluluskannya."

Wajah Baekhyun langsung mencerah, "Benarkah?"

"Hmmm"

Baekhyun tersenyum senang lalu melompat memeluk leher Chanyeol dengan kedua lengannya, "Saranghae, oppa."

Chanyeol hanya memutar matanya, sungguh wanita memang makhluk terkejam yang pernah ditemuinya.

TBC