"Uang hasil dari penghasilannya sebagai kekasih bayaran?"
Sehun hanya memutar matanya mendengar pendapat Chanyeol.
"Dia seorang chaebol?"
"Mengapa menurutmu seorang chaebol mau bekerja bersamaku? Dia meminta bayaran mahal."
Chanyeol terpaksa mengangguk menyetujui ucapan Sehun, pendapat keduanya terpatahkan.
"Aaah, bagaimana jika ternyata ia simpanan ahjussi hidung belang?"
Mau tidak mau Sehun menyergit mendengar pendapat terakhir Chanyeol. Ia tidak bisa membantah untuk yang satu itu karena ia sendiri juga mulai membayangkan hal yang sama didalam otaknya. Tidak ada penjelasan lain yang lebih memungkinkan mengenai siapa sebenarnya Luhan. Otaknya buntu ketika memikirkan hal itu.
"Ugh, kau yakin masih mau berurusan dengan gadis itu?"
Ucapan Chanyeol membuat mata Sehun berkilat kesal, "Bukankah kau yang menyodorkannya padaku?"
"Well, aku tidak tahu bahwa ia separah itu. Lebih baik selesaikan dengan cepat urusanmu bersamanya, Sehunah."
Sehun memijit puncak hidungnya sambil tetap berjalan pelan melintasi halaman kampus. Mengabaikan mahasiswa yang menunduk menyapa dua dosan muda itu. Sementara Chanyeol menebarkan senyum ramahnya ke semua orang yang menyapa mereka.
Tidak, Luhan tidak mungkin seperti apa yang Chanyeol pikirkan. Ada satu hal lagi yang sebenarnya bisa dijadikannya sebagai penguat pendapatnya. Peraturan Luhan mengenai kontak fisik diantara mereka. Jika Luhan adalah gadis seperti yang Chanyeol bayangkan, ia tidak mungkin memberikan Sehun batasan mengenai kontak fisik diantara mereka berdua.
"Tapi dia. . ."
"Lihat itu!" Belum sempat Sehun menyelesaikan kalimatnya, Chanyeol sudah terlebih dahulu memotong ucapannya dan menyikut Sehun dengan siku. Dagunya menunjuk satu arah didepan mereka.
Sehun mengikuti arah pandang Chanyeol, menatap sekelompok mahasiswa yang berjalan kearah mereka. Luhan berada didalam kelompok itu, dengan pria yang merangkulnya mesra. Semua yang berada didalam kelompok juga itu tertawa riuh, tidak menyadari jarak mereka dengan ia dan Chanyeol yang semakin menipis.
Seseorang, gadis manis bermata bulat yang Sehun yakini bernama Kyungsoo, akhirnya menyadari kehadirannya dan mengguncang lengan Luhan, menarik perhatian gadis itu. Luhan tampak terganggu dengan guncangan di lengannya dan menatap gadis disebelahnya dengan wajah heran. Sehun bisa melihat gadis itu memberi tanda samar pada Luhan sebelum kemudian Luhan memutar kepalanya menghadap tepat kearah Sehun.
Keduanya saling memandang sambil tetap melangkahkan kaki masing-masing, mempersempit jarak diantara mereka. Dan Sehun menunggu Luhan, menunggu gadis itu terkejut melihatnya atau mungkin salah tingkah dan melepaskan diri dari pria yang merangkulnya. Namun hal itu tidak terjadi, Luhan justru hanya tersenyum manis kepadanya.
Memandang Oh Sehun didepannya membuat Luhan merasakan dorongan untuk sedikit bermain-main dengan pria itu. Salahkan saja sikap sok pahlawan Sehun beberapa hari lalu yang ingin tahu mengenai kehidupannya. Padahal dengan jelas ia sudah menyuruh pria itu pergi, namun pria itu sepertinya penasaran dengan kehidupannya dan Luhan tidak menyukai hal itu. Jadi tidak ada salahnya sedikit bermain-main, kan?
Ia tersenyum manis pada Sehun, memperhatikan wajah Sehun yang sedatar biasanya bahkan setelah ia melemparkan senyum paling manisnya. Dengan langkah yang dibuat lebih menggoda -seperti yang selalu Tao lakukan- ia melangkah mendekati Sehun. Dan ketika jarak mereka hanya sekitar dua atau tiga meter, dibungkukkannya badan dengan hormat, membuat rangkulan Jongin di lehernya terlepas dan ia yakin semua teman-temannya melongo menatap tingkahnya saat ini.
"Mr. Park" Sapanya lembut, membuat Chanyeol menghentikan langkah kakinya selama sedetik. Dan kemudian ketika ia menatap Sehun, ditatapnya pria itu dengan binar jenaka yang jelas di matanya.
"Sehun" Sapanya sangat pelan, tanpa embel-embel seperti yang digunakannya untuk menyapa Chanyeol sebelumnya.
Seperti dalam adegan slow motion, Jongin dan Kyungsoo yang berada di sisi kiri dan kanan Luhan jelas mendengar sapaan pelan itu dan melongo terkejut. Ekspresi wajah yang tidak berbeda juga terlihat didepannya, Chanyeol yang sedikit lebih tenang dari kedua teman Luhan jelas berusaha keras mengontrol rasa terkejutnya. Lalu ada Sehun, yang meskipun terlihat paling tenang, jelas Luhan bisa melihat kerutan di dahi pria itu selama beberapa detik. Merusak ekpesi dingin dan angkuh yang dimiliki Sehun.
Adegan menegangkan itu berakhir dengan Sehun yang tetap melangkah tenang, mengabaikan sapaan kurang ajar Luhan padanya. Bahkan ia bertindak seperti tidak melihat Luhan yang berdiri dengan kelompoknya. Chanyeol disisi lain hanya bisa mengikuti langkah Sehun.
"Kau gila, Lu!" Kyungsoo mendesis di telinga Luhan dan Tao yang tertawa senang melihat kelakuan temannya itu.
"Wooaah, daebak! Kau mengenalnya, Lu? Kau memiliki masalah dengannya?" Jongin mengoceh heboh.
Luhan hanya mengangkat bahunya tidak peduli dan kembali berjalan, kali ini saling memunggungi dengan Sehun.
Sehun sendiri bukannya tidak mendengar kehebohan dari kelompok yang baru saja dilewatinya dan bukannya tidak peduli dengan sikap Luhan padanya, ia menutup mata dan mengatur nafas untuk menenangkan dirinya.
"Heol, gadis itu.. Woaah, dia kurang ajar sekali! Woaah, aku tidak menyangka dia seberani itu. Dia mempermalukanmu Sehun!" Disebelahnya Chanyeol berkomentar heboh, namun tetap dengan ekspresi tenang. Bagaimanapun ia seorang dosen di tempat ini.
"Diamlah, Chanyeol!"
"Tidak, tidak, aku masih terlalu terkejut. Gadis itu benar-benar keterlaluan. Kau akan membiarkannya begitu saja?"
Luhan memijit puncak hidungnya sekali lagi. Kepalanya mulai terasa berdenyut. Tidak, ia tidak akan melepaskan Luhan begitu saja.
.
Kelas itu sunyi ketika Sehun menyelesaikan materinya siang itu. Aura Sehun yang terasa sedikit lebih gelap dari biasanya lah yang membuat hal itu terjadi. Sehun terlihat lebih dingin dari biasanya, jika pada hari biasa ia masih membagikan sedikit senyum tipis ketika akan memulai kelasnya, maka hari ini senyum itu digantikan tatapan super datar. Belum lagi matanya yang menyorot lebih tajam dan lebih mengintimidasi daripada biasanya.
Menggoda sekaligus menyeramkan.
Sehun memutar mata menatap ke sekeliling kelasnya, sekali lagi beradu pandang dengan Luhan yang masih tersenyum manis kepadanya setelah gadis itu berhasil membuat harinya terasa buruk. Namun kemudian satu senyum tipis berbahaya terbentuk di bibir Sehun. Jika Luhan bisa membuat harinya buruk maka ia juga bisa membuat hari gadis itu terasa buruk.
Ia memandang jamnya dengan gaya berpikir yang dibuat-buat, "Kita masih memiliki beberapa waktu, bagaimana dengan kuis?"
Ia bisa melihat berbagai tatapan serta seruan protes dari kelasnya, membuatnya kembali menatap Luhan. Namun sayangnya ekspresi Luhan masih tidak berubah, tidak terpengaruh dengan ucapannya.
Sambil terus menatap Luhan, Sehun menambahkan sedikit kejutan pada ucapannya sebelumnya.
"Oral quiz!"
Suara terkesiap memenuhi kelasnya dan ia juga bisa mendengar beberapa bisikan sumpah serapah yang ditujukan padanya. Hampir seluruh mahasiswa di kelasnya bergerak gelisah sekarang. Tidak ada yang lebih membuat mahasiswa cemas dibandingkan dengan oral quiz mendadak.
Tapi kepuasan mengintimidasi itu masih tidak didapat Sehun dari Luhan. Gadis itu masih mempertahankan senyumnya, bahkan kadang tertawa kecil ketika kedua temannya meliriknya dengan tatapan menuduh. Tentu saja hal ini merepotkan bagi Kyungsoo dan Tao, mengingat mereka tidak memiliki perjanjian diluluskan di kelas ini seperti Luhan. Dan mengetahui tingkah menyebalkan Sehun hari ini diakibatkan oleh Luhan, tentu saja Kyungsoo dan Tao merutuki Luhan dengan gerutuan kecil.
"Kau terlihat percaya diri, miss Xi. Mungkin kita bisa memulainya denganmu."
Luhan mengalihkan tatapan dari kedua temannya dan kembali menatap Sehun. "Ya?"
Sehun menatap datar, menyembunyikan senyum meremehkan untuk Luhan dengan sangat baik. "Tidak akan ada pertanyaan. Kau bisa mengulangi penjelasanku sebelumnya. Aku yakin tidak semua orang di kelas ini memahami apa yang sudah kujelaskan."
Seluruh kelas itu senyap, menunggu Luhan memulai penjelasannya dan bersyukur mereka bukan menjadi yang pertama yang mendapatkan kesialan ini.
Luhan mengerutkan dahinya dengan lagak berpikir dan beberapa detik berlalu sebelum gadis itu membuka mulutnya.
"Saya tidak bisa menjelaskannya, Sir. Saya tidak mengerti."
Kelas kembali terkesiap mendengar jawaban berani Luhan sedangkan gadis itu hanya mengangkat bahunya kemudian tersenyum konyol pada kedua temannya. Disisi lain Sehun menutup matanya beberapa saat dan menghembuskan nafas berat. Sekali lagi Luhan membuatnya harus menahan kesabaran.
.
Menyadari bahwa Luhan bukan gadis yang bisa diintimidasi dan dipermainkan dengan mudah, Sehun memutar otaknya agar tetap bisa mengajari gadis itu untuk tidak berbuat sesuka hatinya. Bagaimanapun ia harus bisa membuat Luhan menyadari bahwa tidak semua orang bisa dipermainkannya.
Dan rencana Sehun itu dimulai ketika Luhan merasakan ponselnya yang bergetar ketika ia sedang menyeruput bubble tea di sebuah kafe, hanya dua jam setelah kelas Sehun berakhir. Gadis itu mengambil ponselnya dan tersenyum mendapati nama Sehun tertulis di benda itu.
Hari ini menyenangkan, sungguh. Luhan tidak menyangka semudah itu mengusik seseorang seperti Oh Sehun. Jadi ketika mendapati Sehun menghubunginya, ia merasa semangat lagi. Ia tahu Sehun tidak akan melepaskannya begitu saja namun ia juga percaya diri karena pada kenyataannya Sehun tidak sesuperior yang dibayangkannya.
Luhan menggesek tombol hijau di ponselnya dan menempelkan benda itu ke telinga, "Hmmm."
Sehun harus menahan geramannya ketika Luhan bahkan tidak membalas panggilannya dengan sopan. "Dimana kau?"
"Kafe"
"Kau punya pekerjaan. Bergegaslah, temui aku di tempat biasa."
"Apa kita memiliki 'tempat biasa'?" Luhan tersenyum diakhir pertanyaanya. Ia tahu tempat yang dimaksud Sehun adalah gerbang kampus tempat mereka bertemu beberapa hari lalu. Tapi mengganggu Sehun sedikit lagi tidak ada salahnya, kan?
"Ck, kau dimana? Aku akan menjemputmu."
Tawa Luhan akhirnya pecah. Merdu sebenarnya bagi orang lain, namun bagi Sehun tawa itu terdengar mengejeknya. Untunglah gadis itu tidak berniat mengujinya lebih lama, Luhan menyebutkan sebuah alamat yang tidak begitu jauh dari kampus dan Sehun segera memacu mobilnya ke tempat itu.
Luhan masih tertawa kecil ketika panggilan telepon diputus begitu saja oleh Sehun. "Dia masih kesal" Ia menggoyangkan ponsel didepan Tao yang duduk diseberangnya.
Tao tertawa renyah, "Jika Kyungsoo tahu ia akan memarahimu."
"Aku tidak akan marah" Kyungsoo datang dengan sepotong cheese cake dan minuman di nampan yang dibawanya dan duduk dengan tenang disebelah Tao.
Luhan masih saja tersenyum, "Ini menyenangkan. Membuat Sehun yang menyebalkan tidak bisa berbuat apa-apa."
Tao mengangguk setuju dan mengangkat dua jempolnya pada Luhan sedangkan Kyungsoo memilih untuk fokus pada kuenya.
"Ayolah, Soo. Ini memang menyenangkan" Tao menggoyang bahu Kyungsoo dengan tangannya, memaksa gadis itu untuk setuju dengan ucapannya.
"Ya, ya, memang menyenangkan. Tunggu saja Sehun membalasmu. Ia tidak akan melepaskanmu begitu saja."
Luhan mengangkat bahunya, "Pasti akan lebih menyenangkan!" Setelahnya gadis itu tertawa lepas diikuti Tao, tidak lupa berhigh-five, membuat Kyungsoo tidak tahan untuk tidak ikut tertawa sekaligus membuat beberapa pengunjung kafe mendelik kearah mereka yang ribut. Beberapa delikan itu hanya bertahan sebentar sebelum kemudian berganti menjadi tatapan memuja ketika memandang tiga gadis cantik itu.
Hanya sekitar lima menit setelah itu, Luhan melambai pada kedua temannya sebelum berjalan santai menuju mobil gelap Sehun yang sudah menunggunya dipinggir jalan didepan kafe. Ia masuk kedalam mobil Sehun, membagikan senyum manis pada Sehun yang bahkan tidak meliriknya sedikitpun. Pria itu hanya menatap lurus kedepan dan menginjak pedal gas mobilnya.
"Jadi, apa pekerjaan hari ini?" Luhan membuka suara, masih terdengar riang.
"Kita akan membeli baju."
Mata Luhan membulat, "Kau mengajakku shopping?"
"Kau akan menemui ibuku. Pakai pakaian yang lebih pantas."
Luhan spontan menundukkan kepala menatap pakaiannya, "Apa pakaianku tidak pantas?" Suaranya sedikit meninggi.
Akhirnya Sehun melirik Luhan, memandangi gadis itu dari kepala hingga kaki dengan cepat. Kemeja yang dipakai Luhan tadi sudah terlepas dan terletak begitu saja di pangkuannya. Saat ini ia hanya memakai kaos putih berleher lebar dengan lengan super pendek. Memperhatikan lengan dan leher putih gadis itu.
Sehun mengangguk singkat, "Hmm, tidak pantas."
Luhan nyaris meneriaki Sehun sebelum kemudian ia sadar bahwa pria itu hanya berusaha membuatnya kesal. Tidak ingin terbawa permainan Sehun, ia mengangguk. "Baiklah, lagipula tidak ada salahnya berbelanja pakaian baru."
"Aku akan memotongnya dari bayaranmu."
"Hei!"
Sehun tersenyum kecil mendengar protes Luhan, "Ada apa? Pakaian itu untukmu."
"Tapi aku tidak meminta membeli pakaian baru."
"Bukankah kau sendiri yang mengatakan tidak ada salahnya membeli pakaian baru?" Dan kalimat itu sukses membungkam Luhan.
Sehun mengulum senyumnya agar tidak terlalu terlihat. Well, siapa suruh Luhan bermain-main dengannya?
.
Sehun dan Luhan berjalan menuju pintu masuk rumah Sehun dengan bergandengan tangan. Tentu saja, sandiwara kecil yang dibutuhkan jika mereka ke rumah Sehun.
"Gerah!" Luhan menarik leher baju yang digunakannya untuk mendapat sedikit angin. Bagaimana tidak, baju yang digunakannya saat ini memang lebih pantas digunakan saat musim dingin dan bukannya musim panas seperti sekarang. Oh Sehun dengan kurang ajarnya berhasil memaksanya membeli baju itu. Dengan alasan bahwa mereka sedang bekerja -Luhan diharuskan menjadi kekasih yang penurut ketika bekerja- dan ancaman Sehun bahwa mereka tidak akan keluar dari butik yang mereka masuki jika Luhan tidak mau memakai baju yang dipilih Sehun, akhirnya Luhan menyerah dan mengikuti keinginan menyebalkan pria itu.
Ia bahkan masih ingat bisikan dan kikikan kecil pagawai toko ketika melihatnya keluar dengan baju koleksi musim dingin. Membuat wajahnya memerah menahan malu dan kesal disaat bersamaan.
"Rumahku memiliki pendingin, tenang saja" Sehun mengeratkan genggamannya pada tangan Luhan untuk menarik perhatian gadis itu.
Luhan hanya mendengus, masih terlalu kesal untuk berbicara dengan Sehun.
Keduanya masuk kedalam rumah, mengabaikan maid yang menyambut mereka dan Sehun menggiring Luhan menuju bagian dapur. Benar dugaan Sehun, bau harum yang menguar ke penjuru rumah memberi tahunya dimana harus mencari ibunya dan tentu saja ia menemukan wanita itu berkutat dengan adonan didepannya. Hal ini bagus dan akan menambah seru rencananya.
"Umma" Ia memanggil dan ibunya segera mengangkat kepala, tersenyum menyambut Sehun dan Luhan.
"Kau pulang. Oh, ada Luhan, ayo kemari" Heechul memberi isyarat bagi kedua orang itu untuk mendekatinya.
Sehun melepaskan genggamannya pada tangan Luhan dan sebagai gantinya pria itu berdiri dibelakang Luhan, menumpukan kedua telapak tangannya pada bahu gadis itu dan mendorong dari belakang. Luhan hanya melongo heran sedangkan Sehun tersenyum kecil. Mendorong Luhan seperti ini dibutuhkan sebelum gadis itu mencari cara keluar dari dapur. Sehun yakin gadis seperti Luhan tidak akan tahan berada di dapur.
"Luhan ingin bertemu dengan umma" Ujar Sehun setelah berhasil mendudukkan Luhan di salah satu kursi di konter dapur. Mengabaikan tatapan protes Luhan atas ucapannya.
Heechul memutar matanya mendengar ucapan Sehun namun tetap tersenyum ramah, "Kalau begitu kau datang disaat yang tepat. Kau suka muffin?"
"Ne, eomeoni."
Kali ini giliran Sehun yang sedikit terkejut. Eommoni? Ia harus mengakui kehebatan Luhan. Hanya sekali bertemu dan gadis itu sudah berhasil memanggil ibunya dengan panggilan eomeoni.
Heechul melirik Luhan dan tersenyum kecil, "Apa kau sedang sakit?"
"Eh?" Luhan heran sebelum kemudian sadar bahwa yang dimaksud ibu Sehun adalah baju yang dipakainnya.
"Hmm, Luhan flu" Suara berat mendahului jawabannya diiringi usapan lembut pada kepalanya. Ia menoleh kesal pada Sehun yang tengah menatapnya dengan tatapan sayang yang menjijikkan.
"Oh dear, apa sekarang kau tidak apa-apa?" Sebuah usapan pelan di pipinya dan Luhan segera mengalihkan tatapannya dari Sehun. Terkejut mendapati ibu Sehun yang baru saja mengusap wajahnya lembut.
"N-ne eomeoni."
"Baiklah kalau begitu aku pergi, kalian bersenang-senanglah!" Sehun beranjak berdiri dari duduknya.
Kedua wanita yang mendengarnya menoleh menatap Sehun heran.
"Aku masih ada pekerjaan, aku akan menjemputmu nanti" Sehun menatap Luhan. Berusaha tidak tertawa melihat wajah Luhan yang tiba-tiba panik. Gadis itu menggeleng samar, memohon pada Sehun dengan puppy eyes-nya, membuat Sehun tiba-tiba gemas menatapnya.
Sehun juga menggeleng samar, kemudian berjalan menjauh meninggalkan Luhan dengan ibunya. Ketika akan membelok keluar dari dapur, ia menyempatkan diri menatap kembali kepada Luhan yang menatapnya balik dengan tatapan ingin membunuh.
.
Empat jam setelah Sehun meninggalkan Luhan bersama ibunya akhirnya pria itu memutuskan untuk pulang. Empat jam dirasanya cukup untuk mengajari Luhan untuk tidak bermain-main dengannya. Apalagi sudah mendekati malam dan Sehun tidak ingin Luhan bertemu dengan ayahnya. Ibunya mungkin bisa menerima Luhan dengan baik, namun ia masih ragu membiarkan Luhan berada disekitar ayahnya yang terkenal kritis.
Ia melangkah masuk kedalam rumah tanpa seorangpun menyambutnya. Suasana rumahnya juga terlalu hening sehingga Sehun penasaran apa yang dilakukan ibunya kepada Luhan. Namun kemudian ia mengangkat bahunya tidak peduli, ada cukup waktu sebelum ayahnya pulang dan ia sudah merasa gerah, jadi mandi sebentar tidak akan masalah. Ia urung melangkahkan kakinya ke dapur, tempat ia meninggalkan Luhan beberapa jam lalu, dan justru melompati tangga menuju kamarnya.
Sehun tidak mengambil waktu lama untuk mandi, tidak sampai 15 menit setelah itu ia kembali melompat tangga untuk turun ke lantai dasar rumahnya. Badannya sudah jauh lebih segar dengan jeans dan kaos dan rambutnya yang masih terlihat basah. Suasana rumahnya masih tidak berbeda, masih tetap hening.
Baru saja ia memutuskan untuk mencari ibunya dan Luhan di dapur, sebuah teriakan dari ruangan itu mengejutkannya sehingga ia melompat berlari. Ia menjeblak masuk kedalam dapur ketika satu teriakan lagi kembali terdengar, namun kali ini justru terdengar seperti sebuah tawa.
"Kyaaa, kyeopta~" Ibunya berdiri dengan sebuah nampan besar ditangan, membawa nampan itu ke konter dapur tempat dimana Luhan menunggu dengan antusias. Keadaan dapur sudah berbeda dengan saat ia tinggalkan tadi, konter dapur dipenuhi dengan berbagai benda yang berserakan. Mulai dari tepung hingga cokelat dan beberapa benda lain yang tidak bisa ia identifikasi. Singkatnya, dapur rumahnya yang biasanya rapi dan bersih kali ini terlihat berantakan.
Keadaan kedua wanita disana juga tidak lebih baik. Ia tidak melihat Luhan memakai baju yang baru dibelinya tadi, gadis itu hanya memakai kaos putih yang tadi disebutnya tidak pantas. Lalu baik baju ibunya dan baju Luhan kotor oleh tepung, cipratan cokelat dan lelehan sesuatu yang terlihat seperti adonan kue. Wajah dan rambut Luhan juga tidak luput dari hal-hal itu.
"Ada apa ini?" Ia berjalan mendekat, memandang nampan yang diperhatikan dengan antusias oleh ibunya dan Luhan ternyata berisi cookies berbagai bentuk lucu yang ditaburi choco chips.
Kedua wanita itu serentak menatapnya, membuatnya merinding dengan senyum manis yang diberikan keduanya. Kemana perginya tatapan membunuh yang diberikan Luhan padanya tadi? Ia bahkan sudah mempersiapkan diri menghadapi amukan Luhan.
"Kau sudah pulang? Kami membuat kue" Jelas ibunya. Sedangkan Luhan memilih mengabaikannya dan sibuk menghias kue-kue yang baru dipanggang itu.
Sehun mengedarkan pandangannya ke sekeliling dapur hingga matanya menangkap tumpukan muffin yang berencana dibuat oleh ibunya tadi. Sepertinya muffin bertambah menjadi kue-kue lain.
"Karena inilah aku menginginkan anak perempuan. Anak sepertimu tidak akan bisa diajak melakukan hal menyenangkan seperti ini!" Ibunya berbicara lagi, menarik kembali perhatian Sehun.
Mendengar ucapan ibu Sehun, Luhan mengangkat kepalanya dari kue dan tersenyum menggemaskan pada wanita itu, membuat Heechul tidak tahan untuk tidak mencubit gemas kedua pipi Luhan dan menambahkan tanda dari adonan di pipi Luhan.
Sehun mengamati interaksi itu. Tubuhnya menegang dan ia tiba-tiba merasa jengah.
"Sudah malam, kuantar kau pulang!" Sehun mendapati dirinya tiba-tiba berbicara dengan suara yang sedikit keras hingga ibunya dan Luhan memandangnya dengan sedikit terkejut.
"Kalian harus makan malam dulu."
Sehun menggeleng mendengar ucapan ibunya dan Luhan hanya menatap kedua orang itu bergantian dengan wajah heran.
"Kami akan makan malam diluar" Sehun membalas cepat dan memegang lengan Luhan, menarik gadis itu turun dari kursinya.
"Tapi kuenya. . ."
"Ayo ambil barang-barangmu" Ia menginstruksikan Luhan yang hanya menurut, masih dengan wajah bingung.
"Setidaknya biarkan aku membungkus kuenya!" Heechul berteriak kesal pada Sehun karena telah menganggu kesenangannya.
Tidak lama setelah itu, setelah Luhan membersihkan wajahnya dan membawa bungkusan kue di tangannya, ia membungkuk kepada ibu Sehun yang masih terlihat sedikit kesal. Sedangkan Sehun sendiri menyiapkan mobilnya.
"Hari ini menyenangkan, sayang sekali bocah itu mengganggu kita" Heechul menunjuk Sehun yang berjalan ke mobil dengan dagunya.
Luhan mengangguk sambil tertawa kecil, "Terima kasih eomeoni."
"Hmm, datanglah lagi dan kita bisa melakukan hal lain Lulu."
Senyum Luhan perlahan menghilang dan wajahnya terlihat tegang mendengar panggilan ibu Sehun untuknya. Ia mengangguk kaku, terlalu tegang untuk menjawab lagi ucapan ibu Sehun.
"Nah, pergilah. Ia terlihat tidak sabar" Heechul mengangguk menatap kebelakang punggung Luhan, tempat Sehun sudah menunggu didalam mobilnya.
Luhan mengangguk lagi dan berjalan menuju mobil Sehun.
Keduanya tidak berbicara sepanjang perjalanan, Sehun masih terlalu jengah dengan keadaan yang baru saja dilihatnya dan Luhan juga terdiam. Senyum dan tawanya bersama ibu Sehun menghilang tidak bersisa.
Untunglah Sehun masih mengingat tempatnya mengantar Luhan tempo hari. Begitu mobilnya berhenti didekat apartment Luhan, ia menunggu gadis itu untuk keluar dari mobilnya. Namun Luhan masih tidak bergerak bahkan setelah beberapa detik.
Sehun menatap Luhan heran, menyadari bahwa gadis itu melamun.
"Luhan? Hei Luhan, kita sudah sampai" Ia mengguncang pelan bahu Luhan hingga gadis itu tersadar dari lamunannya.
"Oh. Terima kasih" Balas Luhan pendek dan keluar dari mobilnya tanpa mengatakan apapun lagi. Sehun menghembuskan nafas pelan, menunggu Luhan menghilang kedalam apartment sebelum ia pergi.
.
Sehun bisa merasakan bahwa sesuatu yang tidak enak akan terjadi ketika ia pulang, karena itu ia mengendap masuk kedalam rumahnya, sebisa mungkin menghindari bertemu siapapun hingga ia sampai kekamarnya.
Rencananya hampir berjalan sempurna dan ia sudah hampir meraih kenop pintu kamarnya ketika pintu itu lebih dulu terayun membuka dari dalam. Sehun nyaris melompat terkejut mendapati ibunya keluar dari kamarnya.
"Apa yang umma lakukan di kamarku?"
"Meletakkan beberapa camilan. Cepat sekali kau pulang, bukankah kau ingin makan malam diluar?"
"Tidak jadi" Sehun berjalan masuk ke kamarnya dan berniat menutup pintu.
"Sehunah"
Sehun hampir saja mengerang mendengar panggilan ibunya. Ia batal menutup pintu kamar.
"Apa terjadi sesuatu?"
"Tidak ada, Luhan merasa lelah dan ingin langsung beristirahat" Jelas Sehun cepat. Ia sedikit lega mendapati ibunya mengangguk.
"Sehunah"
Lagi-lagi ibunya memanggil dan Sehun menutup matanya sesaat.
"Apa lagi umma? Aku ingin istirahat."
"Tidak, hanya ingin mengatakan bahwa umma senang kau membawa Luhan hari ini. Tadi benar-benar menyenangkan."
Sehun mengangguk kaku. Sungguh ia tidak ingin mendengar apapun yang berhubungan dengan Luhan dari ibunya.
"Kau dan Luhan terlihat baik. Kau tidak ingin membuat hubunganmu menjadi lebih serius?"
Sehun kembali menutup mata sesaat untuk menenangkan dirinya. Inilah yang berusaha dihindarinya dari tadi. Ia tidak bodoh untuk bisa mengerti apa yang terjadi ketika melihat interaksi antara Luhan dan ibunya tadi. Dan sejujurnya hal itu membuatnya ketakutan. Ia tidak merancanakan hubungan pura-puranya dengan Luhan menjadi sejauh ini.
"Ummaaa" Sehun merengek pelan tanda protes pada ucapan ibunya.
Disisi lain Heechul tertawa kecil, "Baiklah, baiklah. Umma tidak memaksamu" Wanita itu mengangkat kedua tangannya dengan sikap menyerah dan berjalan mundur meninggalkan kamar Sehun.
Sehun menghempaskan tubuhnya ke ranjang memikirkan apa yang terjadi hari ini. Ia baru menyadari bahwa Luhan jauh lebih berbahaya dari yang dibayangkannya, bahkan ketika gadis itu tersenyum menggemaskan seperti yang dilakukannya tadi, Luhan masih berbahaya. Ia tersenyum sendiri menyadari Luhan telah mengalahkannya telak hari ini tanpa bisa ia balas sama sekali.
Sekali lagi Luhan membuatnya terkejut. Gadis itu sama sekali tidak bisa diprediksi. Gadis angkuh dan menyebalkan seperti Luhan ternyata berubah menggemaskan bersama ibunya. Bahkan perkiraannya bahwa Luhan akan tersiksa terkurung bersama ibunya di dapur ternyata tidak terbukti. Hal itu bisa dilihatnya dari setoples cookies lucu berbagai bentuk buatan ibunya dan Luhan yang terletak di nakas disebelah ranjangnya.
Luhan terlalu membuatnya penasaran dan Sehun mendapati dirinya mulai tertarik dalam pusaran gadis itu. Hal yang seharusnya tidak ia biarkan karena ia juga menyadari bahwa semakin ia tertarik, maka keadaan akan semakin sulit bagi dirinya sendiri.
TBC
Annyeong~ baru sempat ingat meninggalkan author's note di chapter ini. Sebenarnya karna ada beberapa review yang nanya mengenai karakter Luhan atau Sehun di ff ini. I just wanna let you know, bukannya nggak mau menjawab pertanyaan-pertanyaan readers. Cuma kalau dijawab nanti ceritanya jadi nggak bikin penasaran lagi. Jadi readers tunggu aja ya, nanti di ceritanya semua pertanyaan readers akan dijawab.
Thanks for reading and leaving review *chu*
