Luhan bahkan belum sepenuhnya terjaga ketika membuka pintu apartmentnya pagi ini. Jika saja tamu yang memencet bel apartmentnya sedikit lebih sopan Luhan mungkin akan mengabaikan saja bunyi bel itu, namun sayangnya tamu itu sepertinya tidak mengerti mengenai kesopanan. Lima menit terakhir bel apartmentnya berbunyi tanpa henti dan membuat Luhan terpaksa beranjak dari tempat tidurnya, berjalan sempoyongan menuju pintu.

Luhan juga sama sekali tidak peduli dan tidak bisa menebak siapa yang bertamu ke apartmentnya pada pagi akhir pekan. Satu-satunya yang ada di pikiran gadis itu adalah bagaimana caranya mengusir tamu itu agar ia bisa kembali melanjutkan tidurnya. Karena itulah ia luar biasa terkejut mendapati Sehun berdiri didepan pintunya.

Oh Sehun berarti urusan yang panjang dan lama dan Luhan tidak membutuhkan itu. Jadi ia mendorong pintu apartmentnya lagi, secepat ia bisa untuk menutup pintu. Sayangnya Sehun lebih cepat, sebelah kakinya bergerak menahan pintu apartment Luhan.

Sial!

.

Sehun menahan senyumnya yang hampir terbentuk. Ia duduk nyaman di sofa empuk Luhan tanpa mempedulikan tatapan yang diberikan oleh gadis itu, sebaliknya justru hal itulah yang membuat senyum Sehun hampir merekah.

Rambut panjang Luhan yang biasanya tertata cantik hari ini mencuat kesana kemari, pipinya menggembung karena menahan kesal dan bibirnya membentuk satu garis lurus, dugaan Sehun karena menahan teriakan yang akan disemburkan Luhan padanya. Belum lagi matanya yang sepertinya dimaksudkan untuk memelototi Sehun, namun gagal karena mata itu merah dan sayu menahan kantuk.

Siapa lagi yang bisa melihat Luhan dalam kondisi kacau seperti ini? Karena itulah Sehun sedikit berpuas diri.

"Darimana kau tahu rumahku?"

Keinginan Sehun untuk senyum menghilang, ia menghembuskan nafas, "Ini ketiga kalinya kau menanyakan pertanyaan yang sama."

"Karena itu jawab pertanyaanku!" Paboo!

Luhan menahan kata terakhir untuk dirinya sendiri. Bagaimanapun Sehun pasti akan lebih menyusahkannya jika ia mengeluarkan kata itu.

"Ini bukan pertama kalinya aku mengantarmu ke tempat ini dan hanya perlu sedikit ini untuk mengetahui unitmu" Sehun mengetukkan telunjuknya ke pelipis dengan gaya sombong.

Luhan mendengus dan didalam hati bersumpah akan menuntut pengelola gedung karena membocorkan informasi unit apartmentnya kepada orang lain dengan mudah.

"Apa yang kauinginkan?" Luhan bersedekap, semoga saja Sehun tidak akan menyusahkannya.

"Akhir pekan bukan berarti kau libur dari pekerjaanmu, Luhan."

Sial!

Sehun tersenyum menang, tentu saja ia bisa melihat raut wajah Luhan ketika ia mengucapkan kalimat itu. Luhan sendiri menutup mata menahan kekesalannya. Ia baru pulang dini hari dan efek dari segelas entah cocktail apa yang ditawarkan Jongin padanya semalam jelas membuatnya ingin berada lebih lama di tempat tidur. Tentu saja Sehun akan datang untuk mengganggunya.

"Hei, Lu! Kau tidak tidur kan?"

Luhan membuka lagi matanya dan mendapati Sehun menjentikkan jari didepan wajahnya.

"Tidak!" Luhan menghentakkan kakinya karena semakin kesal. "Apa kita perlu ke rumahmu sepagi ini?"

"Tergantung"

"Apa?"

"Tergantung apakah kau ingin ke rumahku sepagi ini."

Luhan mengerutkan dahinya bingung. Apalagi yang direncanakan Sehun kali ini? Sungguh, Luhan pusing dan tidak ingin berbelit-belit.

"Katakan saja apa maumu Sehun!"

Kali ini Sehun benar-benar tidak menahan senyumnya. "Tidak ada, lakukan apapun yang kau mau, aku hanya akan menemanimu."

Dan Luhan nyaris menjatuhkan rahangnya.

.

Sehun mendesah kesal. Rencana brilliant yang tiba-tiba terpikir olehnya tadi malam sekarang tidak terasa benar-benar brilliant. Salahkan otaknya yang tidak bisa menahan rasa penasaran terhadap Luhan sehingga tanpa berpikir panjang ia muncul di apartment sang gadis pagi ini dengan keyakinan ia bisa mengikuti Luhan seharian dan mengetahui lebih banyak mengenainya.

Sayangnya ia lupa bahwa Luhan itu menyebalkan.

Senyum puasnya melihat wajah terkejut Luhan tidak bertahan lama karena tanpa diduga Luhan kemudian balas tersenyum, mengatakan bahwa ia menjetujui pekerjaannya hari itu kemudian masuk ke kamarnya dan mengatakan bahwa ia berencana tidur seharian.

Sehun mendesah sekali lagi. Mungkin ia menggunakan kalimat yang salah pada Luhan. Mungkin seharusnya ia tidak pernah mengeluarkan kalimat 'lakukan apapun yang kau mau' dari mulutnya karena Luhan benar-benar melakukan apapun yang diinginkannya, tanpa peduli bahwa Sehun duduk sendirian di sofanya dengan sekaleng kopi dingin yang diambil Luhan dari kulkasnya sebelum melenggang santai masuk ke kamar untuk melanjutkan tidur.

Desahan Sehun nyaris menjadi geraman. Tidak ada yang meminum kopi dingin untuk sarapan!

Sehun menarik nafas panjang beberapa kali untuk menenangkan dirinya. Baiklah kalau begitu berarti rencananya tidak berjalan lancar tapi setidaknya ia tidak akan menyerah dengan mudah. Mungkin Sehun tidak bisa memaksa menguntit Luhan namun lihatlah apa yang didapatnya? Luhan mengurung diri di kamar, meninggalkannya bebas berkeliaran di rumah gadis itu. Sehun mengangguk optimis, setidaknya ia bisa memuaskan sedikit rasa penasarannya sebelum pergi dari apartment Luhan.

Jadi Sehun berdiri dari duduknya, melangkah perlahan mengitari apartment Luhan. Sesuai dugaannya, Luhan tidak mungkin menerima pekerjaannya karena membutuhkan uang yang ia tawarkan, apartment gadis itu saja jelas cukup mewah untuk seorang mahasiswa biasa. Apartment Luhan juga terasa terlalu sepi, sepanjang Sehun melangkahkan kakinya mengitari tempat itu ia tidak menemukan orang lain. Sehun bahkan dengan berani membuka ruangan-ruangan di apartment Luhan. Sebuah kamar lain yang terlihat seperti kamar tamu, toilet dan ruangan yang sepertinya digunakan untuk menyimpan buku-buku dan berbagai CD dengan sound system besar, mirip seperti ruang kerja. Apartment Luhan juga lumayan rapi, tentu saja dengan mengenyampingkan Xbox yang terletak di lantai di bawah televisi, baju Luhan yang tersampir di sofa dan beranda kecil Luhan yang anehnya dipenuhi banyak bunga. Sehun juga memperhatikan foto-foto yang tersusun rapi didekat sofa. Kebanyakan foto Luhan bersama teman-temannya. Luhan sepertinya tidak tinggal dengan siapapun dan Sehun diam-diam menarik nafas lega, tidak ada yang aneh sejauh ini. Luhan terlihat normal.

Pintu kamar Luhan tiba-tiba terbuka dan gadis itu keluar, membuat Sehun cepat melangkah mundur dari foto-foto Luhan yang sedang dilihatnya. Luhan terlihat segar sehabis mandi dan matanya menyipit curiga menatap Sehun.

"Apa yang kau lakukan?"

Sehun tertangkap basah namun ia berdeham dan segera mengalihkan pertanyaan Luhan. "Kukira kau tidur."

Luhan melangkah mendekati Sehun. "Ya, seharusnya aku tidur jika kau tidak membuatku merasa tidak nyaman dan membuat kantukku menguap."

Sehun nyaris bersorak dalam hati, sepertinya rencananya tidak seburuk yang dipikirkannya.

"Jadi apa yang kita lakukan?"

Luhan mendengus mendengar kata 'kita' dari mulut Sehun namun tidak membantah.

"Aku lapar. Bertanggung jawablah dan belikan aku sarapan."

.

"Jadi kau tinggal sendiri?"

Luhan mengangguk, mengabaikan Sehun yang masih mengedarkan pandangan ke sekeliling apartmentnya. Ia lebih memilih menyuapkan potongan besar galbi dan kimchi ke mulutnya. Tidak tanggung-tanggung, kesal karena Sehun mengganggu harinya, Luhan meminta Sehun membelikannya sarapan rumahan tradisional Korea.

"Apa yang biasanya kau lakukan akhir pekan?"

Kali ini Luhan mengangkat bahunya acuh, "Apapun yang kuinginkan."

"Apa yang kau inginkan hari ini?"

Luhan mendecak kesal. Ada apa dengan Oh Sehun? Datang mengganggu dan sepertinya benar-benar berniat mengekorinya hari ini.

"Aku ingin galbi-mu? Kau tidak mau memakannya?"

Luhan menunjuk potongan daging jatah Sehun dengan sumpitnya dan menatap Sehun penuh harap.

Sehun tertegun, tatapan Luhan itu jelas juga belum pernah diberikan gadis itu padanya. Ia terdiam sedetik sebelum kembali sadar.

"Kukira gadis sepertimu tidak akan pernah meminta makanan orang lain."

Luhan tidak peduli dengan ucapan Sehun, ia menggoyang-goyangkan sumpitnya tidak sabar. "Kau mau memakannya tidak?"

"Makanlah"

Sehun mendorong piring kecil berisi potongan daging itu kearah Luhan yang langsung disambut dengan suka cita oleh gadis itu. Setelahnya Sehun memperhatikan Luhan menghabiskan makanannya hingga mangkuknya benar-benar bersih.

"Kau benar-benar berniat mengikutiku?"

Sehun tersadar ketika Luhan berbicara. Ia baru menyadari bahwa ia terlalu serius memperhatikan Luhan.

"Ehm. Ya, seperti yang kukatakan."

Luhan mengangguk, "Dan pekerjaan macam apa itu?"

"Antisipasi. Kau lihat kita hampir ketahuan ketika Appa dan Ummaku bertanya mengenaimu. Kuputuskan untuk setidaknya mengenalmu sedikit untuk menghindari resiko itu."

"Kau lupa dengan syaratku?"

"Tidak. Aku tidak mencampuri hidupmu, aku hanya ingin tahu."

Aku terlalu penasaran.

"Kau bisa bertanya saja padaku apa yang ingin kau ketahui."

Sehun menggeleng, "Tidak, kau bisa saja berbohong. Aku perlu melihatnya sendiri, tapi mungkin nanti aku akan bertanya padamu."

Mulut Luhan membulat, apa Sehun baru saja mengatakan ia pembohong?

"Kau!"

"Ada apa?" Sehun mengangkat kepalanya dari mangkuk sarapannya. Ia baru saja menyelesaikan makanannya.

Luhan menahan geramannya. Apa Sehun memang selalu berkata tanpa memikirkan akibat ucapannya? Mulut pria itu benar-benar perlu disaring.

Seringai menyebalkan kemudian terbentuk di bibir Luhan. Baiklah jika Sehun memaksa untuk mengikutinya. Akan diberikannya apa yang diinginkan pria itu.

"Aku sudah tahu apa yang ingin kulakukan hari ini."

Sehun memajukan wajahnya menatap Luhan. "Baik. Ayo lakukan."

.

Sehun menghempaskan tubuhnya ke sofa Luhan dan melemparkan vacum cleaner dari tangannya. Pelipisnya penuh dengan keringat setelah membersihkan debu di hampir seluruh sudut apartment Luhan.

"Sehuunn, kau melewatkan yang ini!"

Teriakan Luhan terdengar di belakangnya dan Sehun segera memutar tubuhnya menghadap Luhan. Gadis itu berdiri dengan pembersih kaca di tangannya.

"YA! Kau mengerjaiku, kan? Kau sengaja melakukannya!"

Luhan mengerjabkan matanya -sok- polos mendengar gerutuan Sehun. "Aniyo. Aku memang berencana membersihkan rumah hari ini dan kau datang dan berkata akan mengikutiku, jadi-"

"Aku tidak mau melakukannya lagi!"

Sehun kembali memutar tubuhnya membelakangi Luhan dan gadis itu terkikik geli. Ia meletakkan pembersih kaca di dapur dan mengambil sebotol air dingin di kulkas dan meletakkan air dingin itu didepan Sehun.

"Baiklah, lagipula aku tidak memaksa kau melakukannya."

Sehun yang menyandarkan kepalanya ke sofa nyaris menggeram lagi begitu mendengar ucapan Luhan. Gadis ini benar-benar licik.

"Aku tidak mau bersih-bersih lagi. Katakan apa yang akan kau lakukan selanjutnya!"

Luhan tersenyum cerah, "Minum airmu, kita akan melakukan hal selanjutnya."

Sehun mengangkat kepalanya dan menyipit curiga menatap Luhan. Kalimat Luhan terdengar mencurigakan dan ia yakin gadis itu masih memiliki banyak rencana menyebalkan didalam otaknya.

"Eeii, jangan menatapku seperti itu. Aku pastikan kali ini akan menyenangkan."

Menyenangkan dalam versi Luhan ternyata pergi berbelanja. Hal standar sebenarnya karena tidak ada gadis yang tidak menyukai kegiatan berbelanja. Dengan alasan ia kehabisan persediaan, maka Luhan menyeret Sehun ke sebuah supermarket besar, memilih apapun yang dibutuhkannya dengan riang sementara Sehun mendorong troli untuknya.

Sehun awalnya menolak gagasan mendorong troli itu, namun kemudian Luhan melompat ke sebelahnya, melingkarkan tangannya di lengan Sehun. Membuat Sehun terkejut dan merasakan dadanya berdebar aneh.

"Aku sedang bekerja, kan? Saat ini aku kekasihmu, kan?"

Sehun menggangguk ragu, tidak bisa menangkap maksud pembicaraan Luhan. Namun kemudian ia mengerti ketika gadis itu menunjuk pasangan lain didepan mereka.

"Lihat itu, aku yakin mereka itu sepasang kekasih. Kau lihat, pria itu mendorong troli untuk kekasihnya."

Sehun menghela nafas berat, sepenuhnya mengerti maksud Luhan.

"Apa kau tega membiarkan kekasihmu mendorong troli sendiri? Kau tidak mau orang-orang menyebutmu lelaki yang tidak gente, kan?"

Jadi disinilah Sehun, mendorong troli sementara Luhan memilih barang-barang yang akan dibelinya. Namun setidaknya mendorong troli jauh lebih baik daripada Luhan yang memperdayanya untuk membersihkan apartment.

Kegiatan berbelanja selesai cukup cepat dan bahkan Sehun dan Luhan telah berada di apartment gadis itu lagi. Luhan selesai menyusun beberapa barang yang dibelinya sebelum menghampiri Sehun yang duduk di sofanya.

"Apa berbelanja tidak menyenangkan?"

Sehun mendengus, "Berbelanja itu untuk wanita."

Luhan terkikik kecil, ia kemudian melihat jam di ponselnya, "Masih belum terlalu sore dan aku rasa aku benar-benar memiliki sesuatu yang pas untukmu."

"Aku tidak percaya padamu, kau mengerikan!"

Luhan terkikik lagi, "Tidak, kali ini aku sungguh-sungguh. Kau akan menyukainya."

"Hmm"

"Tunggu disini!"

Luhan melesat masuk kedalam kamarnya lalu kembali beberapa menit kemudian. Di tangannya terdapat beberapa tumpuk buku.

"Ayo mengerjakan tugas."

Luhan tersenyum lebar. Ia mengambil tempat di lantai di sebelah kaki Sehun dan menjatuhkan buku yang dibawanya ke atas meja. Sementara itu Sehun hanya memperhatikan dengan wajah terkejut.

"Serius, Lu! Kau benar-benar memanfaatkanku. Aku tidak percaya kau menghabiskan akhir minggumu dengan mengerjakan tugas kuliah."

Luhan menatap Sehun, masih dengan senyum lebarnya, "Aku mengerjakan tugas, Mr. Oh. Memangnya aku bisa lulus jika tidak mengerjakannya?

Sehun hanya menatap Luhan dengan wajah datarnya.

"Oh baiklah, baiklah. Aku memang biasanya tidak mengerjakannya di akhir minggu. Tapi tugas-tugas ini sulit dan kau ada disini dan kau jenius dan aku berpikir kenapa tidak meminta bantuanmu saja. Kau lebih suka aku mengerjakannya sendiri daripada mencontek tugas Kyungsoo, kan? Lagipula kau sendiri mengatakan akan mengikuti apapun yang kulakuan hari ini dan aku sudah mengatakan aku melakukan apapun yang aku inginkan."

"Kau mengerjakannya dengan bantuanku, tidak dengan kemampuanmu sendiri."

"Apa itu berarti kau akan membantuku mengerjakannya? Benarkah?"

Sehun hanya memutar bola matanya mendengar nada antusias Luhan, ia yakin gadis itu sengaja melebih-lebihkannya.

Tapi mungkin Luhan benar, duduk di apartment Luhan dan membantu gadis itu menyelesaikan tugasnya terdengar lebih baik daripada membersihkan rumah atau bahkan berbelanja sekalipun. Jadi Sehun membenarkan posisi duduknya dan mulai membantu Luhan mengerjakan tugas.

.

Sehun pulang agak malam. Tugas-tugas Luhan ternyata tidak main-main dan banyak. Satu jam terakhir sebelum pulang saja Sehun bahkan menuliskan contekan untuk Luhan karena gadis itu sudah tertidur dengan kepala yang ditumpukan pada meja. Entah karena kasihan atau karena tahu tugas-tugas itu cukup berat untuk Luhan, Sehun menuliskan jawabannya setelah sempat menyentil pelan dahi Luhan yang sedang tertidur.

Sehun tersenyum sendiri menyadari bahwa rencananya kali ini gagal lagi. Entah bagaimana Luhan dapat membuatnya mengikuti kemauan gadis itu. Membersihkan apartment, menemani berbelanja dan bahkan membantu Luhan mengerjakan tugas kuliahnya. Sementara ia malah tidak terlalu banyak bertanya pada gadis itu mengenai apa yang ingin diketahuinya.

Seharusnya Sehun menerima tawaran Luhan untuk bertanya saja mengenai apa yang ingin diketahuinya. Ia akan mendapatkan jawaban atas rasa penasarannya. Namun Sehun mendapati dirinya tidak menyesal. Memang banyak yang belum diketahuinya tapi dibalik itu ia mendapatkan hal lainnya.

Seharian bersama Luhan membuat Sehun merasa mengenal gadis itu lebih banyak, bukan mengenai pertanyaan-pertanyaan didalam otaknya, namun diri Luhan secara keseluruhan. Ia tahu bahwa Luhan tidak selalu bersikap brengsek seperti yang sering dilakukannya di kampus atau bahkan ia tahu bahwa Luhan ternyata suka tertawa dan tersenyum. Ia tahu bagaimana gadis itu menggerutu atau bagaimana wajah gadis itu ketika tertidur.

Dan Sehun menyadari, harinya yang diisi dengan membersihkan apartment, mendorong troli dan mengerjakan tugas tidak terlalu buruk. Sebaliknya, harinya mungkin sedikit menyenangkan.

"Kau baru pulang?"

Sehun tersadar dari lamunannya dan menghentikan langkahnya menuju kamar lalu menatap ummanya yang sedang bersantai di sofa.

"Hmmm"

"Kemana saja hari ini? Sudah makan malam?"

Sehun mengangguk, "Aku makan malam bersama Luhan."

Senyum menggoda muncul di bibir ummanya, "Menyenangkan sekali. Kencan seharian, eh?"

Sehun tersenyum kikuk mendengar pertanyaan ummanya.

"Kurasa begitu."

TBC

Annyeong, I'm back. Hehehe

I'm really sorry for a very late update. Tiba-tiba kehilangan semangat nulis jadi baru sekarang bisa posting lagi. Maaf juga kalau chapter yang ini agak pendek. Hehe

Yang kemaren pm dan review nanyain kapan cerita ini dilanjut, I'm doing this for you.