'Kencan' tidak sengajanya selama seharian dengan Luhan jelas membuat Sehun semakin bersemangat mengganggu gadis itu, apalagi dengan kenyataan bahwa Luhan tidak benar-benar bisa menolaknya. Sehun mendapati dirinya selalu berusaha bersama dengan Luhan dengan alasan untuk memuaskan rasa penasarannya terhadap gadis itu.

Hanya saja Sehun tidak menyadari kalau terkadang ia tidak menanyakan atau mencari tahu apapun tentang Luhan ketika mereka bersama dan ia juga tidak menyadari bahwa sikap menyebalkan dan dengusan kesal Luhan setiap kali ia mengganggu gadis itu mulai memudar setelah beberapa minggu.

Tidak satupun dari mereka berdua menyadarinya. Namun tentu saja yang lainnya bisa melihat dengan jelas.

Kyungsoo dan terutama Tao jelas tersenyum mendapati Luhan kerap kali hilang bersama dengan Sehun dengan berbagai alasan. Sehun juga hampir setiap hari menjadi objek pembicaraan diantara mereka. Hubungan Luhan dan Sehun yang membaik dengan cepat membuat Tao -entah kenapa- nyaris tersedak oleh rasa puas

Agak sedikit berbeda, Chanyeol justru mengerutkan dahi tidak suka setiap kali nama Luhan menyentuh gendang telinganya maupun sesuatu yang berhubungan dengan gadis itu yang juga menyangkut dengan Sehun. Sayangnya, akhir-akhir ini hal itu hampir terlalu sering terjadi.

Tanggapan berbeda pun diberikan oleh dua objek pembicaraan. Luhan biasanya akan menggoyangkan tangannya menunjukkan semua itu hal remeh namun tak urung bibirnya tetap membentuk senyum. Sementara Sehun hanya akan memutar matanya tidak peduli namun dengan detakan jantung yang sedikit berbeda dari ritme normalnya.

Kyungsoo dan Tao akan mengangguk paham setiap kali Luhan berkata akan pergi bersama dengan Sehun. Disisi lain Chanyeol akan menatap Sehun khawatir mendapati hampir setiap pertanyaannya dijawab dengan tambahan penjelasan 'bersama Luhan' atau 'dengan Luhan'. Berkali-kali Chanyeol mencoba membicarakannya dengan Sehun, namun berkali-kali juga Sehun seperti menghindari Luhan menjadi topik pembicaraan mereka.

Hubungan Sehun dan Luhan berhasil membuat orang lain merasa tertarik dan merasa khawatir dalam waktu yang sama.

.

Sehun menatap tumpukan kertas-kertas di mejanya sebelum menghembuskan nafas berat. Berhari-hari melalaikan pekerjaannya membuat tumpukan kertas itu semakin tinggi. Tapi tidak masalah karena Sehun sudah membulatkan niatnya untuk menjajah kertas-kertas itu hari ini, bahkan ia bersedia lembur demi melihat mejanya yang kembali rapi esok hari.

Tidak sampai ponselnya berbunyi.

Sehun menatap benda itu, setengah tersenyum dan setengah kesal melihat nama yang terpampang di ponselnya.

Xiao Lu.

"Yeoboseyo?"

"Kau sudah selesai? Aku menunggumu."

Sehun menghela nafas, Luhan lah alasan mengapa mejanya dipenuhi tumpukan kertas dan sepertinya gadis itu masih berniat menambah tinggi tumpukan pekerjaannya. Ini jugalah alasannya setengah kesal mendapati Luhan menghubunginya.

"Xiao lu. . ." Ia memulai.

"Berapa kali kukatakan padamu untuk berhenti memanggilku dengan nama itu! It's Xi! Namaku Xi!"

Sehun tidak bisa menahan tawa kecilnya mendengar gerutuan Luhan. Padahal gadis itu tidak pernah protes setiap kali ummanya memanggil dengan nama itu, bahkan nama panggilan itu berasal dari ummanya, namun Luhan akan meneriakinya setiap kali Sehun memanggil dengan nama itu.

"Baiklah nona Xi, pekerjaanku sangat banyak hari ini."

"Tapi aku sudah berjanji dengan eomoni"

Hal ini bukan pertama kalinya dan Sehun tidak terkejut lagi. Luhan dengan cepat menjadi kesayangan ummanya yang sejak dulu memang menginginkan anak perempuan. Dan seingatnya kedua wanita itu memang berjanji untuk melakukan sesuatu lagi ketika terakhir kali Luhan mengunjungi rumahnya beberapa hari lalu.

"Kau ingin dijemput? Aku bisa meminta supir umma untuk menjemputmu"

"Tidak, kau yang akan mengantarku!"

"Tapi pekerjaanku benar-benar banyak, Lu. Atau kau bisa membawa mobilku, bagaimana?"

Hening diseberang dan Sehun sudah berharap Luhan akan setuju dengan penawarannya. Akhir-akhir ini Luhan sering menunjukkan sikap keras kepala padanya dan meskipun itu cukup menyenangkan, tidak jarang sikap keras kepala Luhan membuatnya susah.

"Tidak!"

Dan Luhan menghancurkan harapannya, membuat Sehun menggeram kecil.

"Berhenti bertingkah dan menyusahkanku, Luhan!"

Diseberang telepon Luhan juga menggeram kecil. Nada rendah dan ucapan sinis Sehun tidak pernah mengganggunya, jangan harap ia akan takut hanya karena Sehun menggunakan nada itu. Tidak ada pilihan lain lagi kalau begitu.

"Aku akan menghubungi eomoni dan mengatakan kau tidak mau mengantarku!"

Geraman Sehun terdengar lebih keras, "Tunggu 30 menit!" Kemudian ia memutuskan sambungan telepon dengan kesal. Sedangkan Luhan? Ia yakin gadis itu sedang tersenyum puas sekarang.

Sehun menyentak salah satu kertas di mejanya dengan kasar, mencoba menyelesaikan berapapun yang ia bisa dalam waktu 30 menit atau Luhan akan menghubungi ummanya dan ia akan lebih kesal karena omelan wanita itu.

Disisi lain, Chanyeol yang sedari tadi berusaha mencuri dengar pembicaraan Sehun melalui mejanya yang berada tepat disebelah meja Sehun pun langsung mendorong kursinya mendekat.

"Gadis itu menyulitkanmu lagi?"

Sehun melirik sebentar pada Chanyeol sebelum kembali pada kertas di depannya. Ia hanya menggumam singkat menjawab pertanyaan Chanyeol. Selalu seperti ini. Sehun bukannya tidak sadar bahwa Chanyeol sedang berusaha berbicara padanya, hanya saja ia tidak benar-benar siap untuk membicarakannya. Ia sendiri tidak tahu mengapa.

"Sehun-" Chanyeol mencoba lagi. Membuat Sehun mengalihkan pandangannya keluar jendela. Sungguh sepertinya semua orang berkonspirasi untuk mengganggu niat sucinya mengerjakan tumpukan kertas-kertas ini. Ia baru saja melupakan niat lemburnya berkat Luhan dan sekarang Chanyeol juga berusaha mencegahnya untuk mencoba mengurangi pekerjaannya sedikit saja.

Untung saja sesuatu yang menarik sepertinya terjadi diluar sana. Ia memanggil Chanyeol dengan jentikan jari, membuat Chanyeol melupakan kalimatnya dan ikut melihat kearah yang ditunjuk Sehun.

Ada kerumunan ditengah lapangan dengan beberapa orang yang berada ditengah-tengah. Awalnya kerumunan itu terlihat kacau, namun setelah mengamatinya lebih lama, Sehun menyadari kerumunan itu berpusat pada dua orang yang sepertinya sedang berkelahi.

Dan salah satu orang itu adalah Luhan.

Sehun tidak mungkin salah karena ketika kemudian ia reflek berdiri dari duduknya, sebelah lengannya langsung dicekal Chanyeol. Sahabatnya itu memandang tajam padanya.

"Jangan bodoh! Kau tidak mungkin turun kesana!"

Chanyeol juga menyadari bahwa gadis itu Luhan, karena itulah ia melarang.

Sehun mendengus dan melepaskan cekalan Chanyeol di lengannya. Bagaimanapun inginnya ia melompat menuju Luhan, ia tahu perkataan Chanyeol benar. Sehun tidak bisa melompat begitu saja kesana dan menarik Luhan keluar dari keributan itu. Jadi ia kembali melirik ke kerumunan dibawahnya, berharap siapapun akan melerai keributan itu.

Saat itulah matanya menangkap satu sosok lain yang dikenalnya, sosok yang menjadi lawan Luhan. Gadis itu berada di posisi membelakanginya sehingga Sehun tidak dapat melihat, namun ketika Luhan berhasil menarik rambut gadis itu hingga ia memutar kepalanya, Sehun lagi-lagi dibuat terkejut.

Dibawah sana, Luhan sedang menjambak Baekhyun.

Baekhyun-nya Chanyeol.

Sehun tidak bisa berkata apa-apa karena pada detik berikutnya Chanyeol segera melesat menghilang dari sampingnya.

Sehun nyaris tertawa kasar ketika menyusul Chanyeol. Padahal pria itu yang baru saja melarangnya untuk bertindak gegabah, namun lihatlah kecepatan Chanyeol ketika mengetahui Baekhyun berada dibawah sana. Persetan dengan status mereka ataupun kemungkinan untuk ketahuan. Di pikiran Sehun saat ini adalah secepat mungkin memisahkan Baekhyun dan Luhan sebelum petinggi kampus mengetahuinya dan kedua gadis itu mendapat masalah yang lebih besar. Memisahkan kekasih Chanyeol dan kekasihnya secepat mungkin.

.

"Aww! Pelan-pelan!"

Sehun mengulum senyumnya ketika berhasil membungkam mulut Luhan yang sedari tadi masih mengutuki Baekhyun. Nada tinggi yang digunakan gadis itu mendadak berubah pelan ketika dingin alkohol menggigit luka disudut bibirnya.

"Karena itu diamlah" Sehun masih sesekali menempelkan kapas berbalut alkohol itu ke sudut mulut Luhan.

"Tidak bisa, aku terlalu marah dan- AWW! SEHUN!"

"Kubilang berhenti berbicara"

Sehun berbicara kalem, mencoba untuk tidak menatap wajah menggemaskan Luhan dengan mata yang berkaca-kaca. Gadis itu menurut diam namun sesekali mendesis perih ketika alkohol dan kemudian salep luka yang dioleskan Sehun membuatnya kesakitan.

"Nah selesai. Padahal kau kuat sekali ketika memukuli Baekhyun tadi, tapi sekarang menangis hanya karena luka kecil"

Luhan merengut mendengar kalimat Sehun. Ia mengerjab-ngerjabkan matanya heboh, berusaha mengusir genangan air mata yang siap jatuh. Sungguh ia tidak ingin menangis karena cengeng, rasa marahlah yang membuat air matanya mengancam untuk keluar. Emosi dan air mata memiliki hubungan yang cukup kuat dalam diri Luhan.

"Aku kesal!"

Sehun membereskan kotak obat dan meletakkan benda itu menjauh sebelum memutar seluruh badannya menatap Luhan. Keduanya duduk di dalam mobil Sehun yang terparkir disebuah jalan lengang ditepi sungai Han. Setelah berhasil menarik Luhan menjauh dari Baekhyun tadi ia langsung menyeret Luhan, melupakan rencana awal Luhan untuk berkunjung ke rumahnya.

"Katakan padaku, apa yang membuat kau dan Baekhyun saling memukul seperti itu?"

Luhan bergeming, "Tidak ada apa-apa"

"Jadi kau memukuli seseorang tanpa alasan?"

"YAK! Tentu saja ada alasannya dan aku juga dipukuli!"

"Karena itu aku bertanya padamu alasannya"

Luhan mendengus dan membuang muka dengan tatapan jengah, menimbang apakah perlu memberi tahu Sehun atau tidak.

"Tidak apa-apa sebenarnya jika kau tidak mau mengatakannya. Lagipula Chanyeol dan Baekhyun akan kesini sebentar lagi."

Luhan langsung memutar kepalanya kembali menatap Sehun dengan wajah heran. Ia menyipitkan matanya curiga.

"Kau menghubungi mereka?"

Sehun mengangkat bahu, "Aku berniat menghubungi mereka, untungnya Chanyeol lebih dahulu menghubungiku" Ia menggoyangkan ponsel ditangannya tepat didepan wajah Luhan, memperlihatkan pesan singkat dari Chanyeol.

Luhan terdiam beberapa detik sebelum meraih seatbelt, memasangnya, dan duduk lurus dengan tangan yang terlipat di dada.

"Aku mau pulang!"

"Nanti, setelah kita bertemu dengan mereka"

"Sehuunn!"

Sehun terkekeh geli, tidak ada yang lebih menghiburnya selain membuat Luhan terganggu.

"Salahmu sendiri yang tidak mau memberi tahu alasannya padaku"

Luhan mendesis kesal, "Baiklah, aku akan memberitahumu, sekarang hidupkan mobil sialan ini dan kita pu-"

"Mereka datang"

Luhan melupakan ucapannya yang terpotong dan menatap mobil lain yang berhenti didepan mobil Sehun. Setelah melihat dua orang yang melangkah keluar dari dalam mobil, ia baru menyadari sesuatu.

"Kenapa Mr. Park berdua dengan Baekhyun?"

Sehun tersenyum tipis, "Karena Baekhyun kekasihnya, menurutmu apalagi? Ayo turun!"

Luhan melongo heran. Jadi selama ini Baekhyun adalah kekasih Chanyeol.

Dasar jalang.

.

4 orang berdiri berhadapan. Sehun yang duduk santai di kap mobilnya. Luhan yang menatap menantang pada Baekhyun yang lebih banyak menunduk dan Chanyeol yang sedikit menyergit menatap Luhan yang mendiskriminasi kekasihnya.

Hanya Sehun yang menyadari betapa menggelikannya keadaan ini. Ia tidak pernah membayangkan akan berdiri berhadapan dengan sahabatnya sendiri karena dua gadis pengacau yang harus mereka urusi masing-masing. Ia juga bisa melihat dampak perkelahian bar-bar antara dua gadis itu pada Baekhyun yang tidak jauh berbeda dari Luhan. Jika sudut bibir Luhan pecah dan berdarah maka Baekhyun mendapatkan sedikit lebam di pelipisnya. Bedanya, Luhan masih berdiri sombong didepan sang lawan meski beberapa saat lalu merengek akibat luka kecil di bibirnya sedangkan Baekhyun menunduk lemah, jelas sekali sudah menghadapi kekesalan Chanyeol.

Chanyeol terlebih dahulu membuka mulut, "Tidak ada yang ingin berbicara?" Tanyanya dengan suara dingin.

Kepala Baekhyun tertunduk makin dalam sedangkan Luhan tersenyum sinis.

"Kurasa Baekhyun akan menjelaskannya"

Kedua mata pria yang ada disana memutar menatap Baekhyun begitu mendengar Luhan berbicara.

"Baek?"

Senyum Sehun semakin tidak bisa ditahan. Dari sikap Baekhyun dan wajah penasaran Chanyeol, ia bisa tahu gadis itu sama rapatnya menutup mulutnya seperti yang Luhan lakukan. Sungguh ini hal terkonyol yang harus dihadapinya.

"Dia memukulku terlebih dahulu!" Baekhyun akhirnya membuka mulutnya, mengangkat wajah dan menuding menatap Luhan dengan tatapan menyalahkan.

Sementara itu Luhan hanya mendengus, "Aku tidak akan memukulmu jika mulutmu sedikit lebih sopan. Ia mengataiku jalang!"

Luhan menatap Sehun diakhir kalimatnya, menatap Sehun seolah meminta persetujuan Sehun untuk berada di sisi yang sama dengannya. Dan memang Sehun tidak tersenyum geli lagi ketika kedua gadis itu akhirnya membuka mulut.

"Ak- Aku melakukannya untuk membelamu Mr. Oh. Dia bermesraan dengan pria lain."

Luhan menggeleng cepat membantah ucapan Baekhyun.

"Ya, Byun! Kau seharusnya bisa membedakan antara berteman dan bermesraan. Jangan menuduh orang sesuka hatimu!"

"Tapi aku melihatnya, kau bersama Jongin dan dia merangkulmu, kalian seperti kekasih."

"Jongin itu temanku!"

"Tidak ada teman seperti itu, kau bohong!"

"Kau! Bagaimana denganmu? Berlagak polos sementara kau menggoda Mr. Park."

"Aku tidak menggoda Chanyeol!"

"Kau juga jalang!"

Kalimat terakhir itu diucapkan Luhan dengan suara rendah, nyaris berbisik, namun dengan nada meremehkan yang terdengar jelas, membuat Baekhyun kehilangan kesabarannya. Baekhyun baru akan bergerak maju menuju Luhan saat kedua pria yang sejak tadi diam mendengar keributan itu akhirnya bergerak menahan. Sehun segera meraih pinggang Luhan dan menarik gadis itu mundur sementara Chanyeol juga melakukan hal yang sama.

"Baiklah! Baiklah! Kami mengerti! Aku pergi!" Chanyeol melemparkan sebuah tatapan penuh arti sekaligus kesal kepada Sehun sebelum menarik paksa Baekhyun untuk masuk ke mobilnya.

Tidak sampai semenit mobil Chanyeol menghilang, meninggalkan Sehun dan Luhan yang masih tetap bersandar di kap mobil. Sehun tidak lagi tersenyum, ia duduk tenang dengan wajah datarnya. Sedangkan Luhan masih menormalkan nafasnya yang memburu karena emosi yang terpancing.

Cukup lama dengan posisi seperti itu sampai kemudian Sehun memutuskan untuk memecah keheningan terlebih dahulu. Ia berdiri dan memandang lurus pada Luhan.

"Masuk! Kita harus bicara."

Lalu melangkah menuju pintu pengemudi mobil.

Luhan menghela nafas berat, sadar bahwa ia berada dalam masalah baru, lalu mengikuti perintah Sehun dengan masuk kedalam mobil.

.

Kali ini mereka duduk berhadapan di meja pantry didalam apartment Luhan. Sehun menutup mulutnya rapat-rapat, membawa Luhan pulang ke apartmentnya dan menyuruh gadis itu duduk berhadapan dengannya. Segelas air dingin terletak di hadapan mereka masing-masing.

"Kau bermesraan dengan pria lain?"

Luhan menarik nafas kesal, ucapan Baekhyun ternyata mempengaruhi Sehun.

"Tidak, sudah kukatakan bahwa Jongin temanku."

"Baekhyun tidak akan berkata sembarangan."

"Apa sekarang kau lebih mempercayai gadis itu daripada aku?"

"Ia membuktikannya, bagaimana mungkin aku tidak percaya."

"Sehuuunn. . ."

"Hmm"

"Aku dan Jongin sudah berteman sejak lama. Kami benar-benar hanya teman."

"Aku juga pernah melihatmu bermesraan bersama pria itu."

Luhan diam, ia tersudut. Hubungannya dengan Jongin memang agak sedikit terlihat berlebihan jika ia mengatakan bahwa mereka teman biasa. Jongin memang sering bersikap sedikit mesra padanya namun benar-benar tidak ada romantisme diantara mereka berdua. Luhan lebih memilih untuk mengatakan bahwa itu tergantung cara mereka berteman.

Sayangnya tidak semua orang memiliki pendapat yang sama dengan Luhan, Baekhyun contohnya. Dan sialnya gadis itu sepertinya berhasil mempengaruhi Sehun hingga Sehun membuatnya terlihat seperti gadis penyelingkuh sekarang. Dan itu membuat Luhan menjadi kesal!

Demi Tuhan, hubungan mereka bahkan tidak nyata.

"Jangan bersikap seolah-olah kau memang kekasihku, Mr. Oh!"

Luhan tahu ia menyesali ucapannya sedetik setelah mulut kurang ajarnya melontarkan kalimat itu. Ia bisa melihat raut terkejut di wajah Sehun selama sedetik. Ia sendiri juga merasakan perasaan terkejut itu.

Berminggu-minggu berada dalam hubungan baik yang melunturkan batas diantara mereka dan sekarang Luhan memutuskan untuk memperjelas batas itu lagi hanya dengan sebuah kalimat singkat. Luhan menunduk dalam-dalam, untuk pertama kalinya menyadari bahwa kalimatnya sudah keterlaluan dan memikirkan perasaan terhina Sehun karena kalimatnya itu. Ia tidak pernah benar-benar peduli pada perasaaan orang lain sebelumnya dan ketika pertama kali ia melakukannya, Sehun-lah yang menerima kehormatan itu.

"Kemarikan surat kontrakmu."

"Eh?"

Sehun berdecak, "Surat kontrak konyol yang kau buat itu, bawa kemari!"

Luhan berpikir untuk membalas Sehun karena menyebut surat kontrak pekerjaan mereka sebagai sesuatu yang konyol, namun demi melihat tatapan tajam mengintimidasi Sehun padanya, gadis itu tetap berdiri dan berjalan ke kamarnya. Ia mengambil selembar kertas di laci dan kembali pada Sehun. Sedikit bingung diserahkannya kertas itu pada Sehun yang sudah menunggunya.

Kertas itu berada beberapa detik dalam genggaman kedua tangan Sehun sebelum dirobek menjadi serpihan-serpihan kecil.

"YAK! Oh Sehun! Apa yang kau lakukan!"

Luhan berteriak kaget melihat Sehun merobek kertasnya.

"Perjanjian kita batal. Dengarkan perjanjian baruku! Kau akan menjadi kekasihku 24 jam mulai dari sekarang. Bersikaplah layaknya seorang kekasih yang baik, kau tidak dibenarkan lagi bersama dengan pria lain dan mulai dari saat ini aku berhak mengetahui apapun yang ingin kuketahui tentangmu karena itu normalnya yang dilakukan sepasang kekasih. Kau mengerti?"

Luhan tidak menjawab apapun, terlalu terkejut dengan ucapan Sehun dan jantungnya yang berdetak keras mengganggu konsentrasinya.

"Aku menganggap kau mengerti. Lagipula aku tidak menerima penolakan."

Sehun berdiri cepat setelah menyelesaikan kalimatnya dan berlalu keluar dari apartment Luhan, meninggalkan Luhan yang masih terkejut. Ia berjalan cepat meninggalkan apartment Luhan dengan jantung yang juga berdetak selaras dengan jantung Luhan.

Lama setelah itu, ketika Luhan sepenuhnya sudah tenang dan kembali memiliki kekuasaan penuh terhadap jantungnya, gadis itu memikirkan lagi ucapan Sehun dan tersenyum dengan wajah merona.

Apakah Sehun baru saja memintanya benar-benar menjadi kekasihnya?

.

Sehun mengerang dan mengacak-acak rambutnya kesal. Sepulangnya dari apartment Luhan ia memutuskan untuk mengalihkan pikirannya dengan mengerjakan lagi setumpuk pekerjaannya yang tertunda. Namun tetap saja, hampir satu jam berusaha berkonsentrasi, Luhan masih merajai pikirannya.

Sehun boleh menyombongkan diri bahwa selama ini ia tidak perlu bersusah-susah hanya untuk mendapatkan wanita disebelahnya. Kebanyakan dari mantan kekasihnya dulu menyodorkan diri padanya dengan suka rela dan Sehun tidak perlu melakukan apapun, bahkan tidak dengan pernyataan cinta karena wanita-wanita itu sudah terlebih dahulu melakukannya untuknya.

Dan apa yang baru saja diucapkannya pada Luhan adalah kalimat pertamanya dalam memiliki hubungan dengan lawan jenisnya. Yang membuat Sehun semakin tidak mengerti adalah karena gadis itu Luhan, gadis yang disangkanya tidak memiliki peluang sedikitpun untuk mendapatkan kalimat seperti itu darinya.

Namun ia sadar bahwa Luhan sudah terlalu menyeretnya.

Berawal dari rasa penasarannya terhadap gadis itu dan akhirnya ketika ia berusaha mengklaim Luhan untuk dirinya sendiri hanya karena ia menyadari perasaan tidak suka ketika nama Luhan disebut-sebut dengan pria lain.

Sehun tahu ini sudah gila. Gadis itu Luhan, gadis yang tidak berada dalam kriteria baik dibandingkan dengan banyak gadis-gadis lainnya. Ia memang mengatakan bahwa ia merubah perjanjian mereka namun ia tidak membantah bahwa hal itu hanya tamengnya untuk bisa mengklaim Luhan. Tapi ia tidak merasakan sedikitpun perasaan bahwa hal yang dilakukannya salah.

Bagaimana mungkin Sehun bisa bekerja dengan tenang saat Luhan benar-benar memenuhi kepalanya.

Ddrrttt. . . Ddrrttt. . .

Sehun mengalihkan pandangannya pada ponselnya yang bergetar di meja. Benda itu menampilkan nama Chanyeol dan Sehun menghembuskan nafas panjang sebelum mengangkat panggilan itu.

"Yeoboseyo"

"Baekhyun mengamuk dan menangis karena gadis itu, mereka berdua benar-benar kacau, heh?"

Meskipun sedikit kesal dengan cara Chanyeol mengucapkan Luhan sebagai 'gadis itu' namun Sehun tetap ikut terkekeh kecil bersama Chanyeol.

"Kurasa aku akan melakukan hal sama jika aku berada di posisi Luhan"

"Walaupun gadisku melakukannya untuk membelamu?"

"Well, aku berterima kasih atas pembelaannya, tapi tidak ada yang akan diam ketika seseorang menghinamu."

"Benar. Baekhyun mungkin sedikit keterlaluan, tapi setidaknya ia mengingatkan lagi pada kita seperti apa gadis itu."

Sehun menutup matanya, mulai merasa risih dengan ucapan Chanyeol yang menyebut Luhan sebagai 'gadis itu' untuk kedua kalinya.

"Terima kasih kepada gadismu, aku benar-benar menghargai perhatiannya. Namun biar aku yang mengurus gadisku, oke?"

Sehun memutus panggilan teleponnya setelah itu, meninggalkan Chanyeol yang terkejut dengan cara Sehun menyebut Luhan. Apa ia tidak salah dengar bahwa baru saja Sehun menyebut Luhan sebagai gadisnya?

TBC