w-h-i-t-e
Disclaimer: Masashi Kishimoto owns Naruto and Maynard Plant owns the song, Canvas. This fanfiction is inspired by blanc.'s Canvas.
Summary: Ino dan Sai tertarik dengan satu hal yang sama—seni. Ini hanyalah sebuah kumpulan ficlet mengenai kisah cinta mereka. AU!SaiIno.
Warning: AU, OOC, ficlet, nggak jelas, setiap chapter tidak selalu berhubungan, profanity, don't like don't read.
"White is innocent."
Lelaki itu hanya menatap sketsa pemandangan itu. Dia tidak puas dengan gambarnya akhir-akhir ini. Jika saja lukisan itu untuk seorang klien, dia akan menjadi seseorang yang perfeksionis. Tanpa sungkan, dia mulai menggoreskan kuasnya sesuai dengan goresan pensil arang di kanvas tersebut. Lukisan hutan itu sudah delapan puluh persen jadi dan sebenarnya, dia hanya butuh memainkan warna—meskipun itu hal yang paling susah bagi Sai—untuk menyelesaikan lukisannya itu. Dia tidak pintar melukis menggunakan teknik realisme. Inilah mengapa dia putus asa dengan tugasnya tersebut.
Keputusasaan membuatnya teringat dengan kakak angkatnya, Shin. Sai tidak mengetahui siapa orangtua kandungnya sejak kecil dan orangtua Shin yang mengadopsinya dari sebuah panti asuhan yang menemukannya di dalam kardus. Jika saja Shin ataupun orangtua angkatnya tidak berada di sampingnya, mungkin dia tidak akan bisa berada di apartemen itu dan melukis dengan tenang. Kakaknya itu adalah orang pertama yang menyadari bakat Sai dan dialah yang membantu Sai untuk meraih cita-citanya di Perancis. Sebelum Sai meninggalkan negeri China, Shin memberikan kata-kata terakhir untuk Sai. Apa yang kau butuhkan di karyamu itu bukan hanya talenta, tetapi kau harus juga menuangkan perasaanmu di atas kanvas itu. Kakak harap kau bisa menemukan itu di Perancis. Sai tidak sepenuhnya mengerti dengan perkataan Shin tetapi dia selalu ingat karena itulah satu-satu nasehat yang Shin pernah berikan kepadanya.
"Kak Shin," gumamnya, "aku tidak akan lupa dengan perkataanmu."
Tiba-tiba temannya, Sakura, masuk ke dalam kamarnya dan membuyarkan lamunannya. Dia berseru, "Sai! Kau tahu ada anak baru datang hari ini? Kudengar dia mahasiswa jurusan seni rupa dan juga cantik. Dia pindah di kamar sebelahmu!"
Haruno Sakura memang seperti itu. Dia selalu seenaknya masuk ke kamarnya tanpa mengetuk pintu dahulu. Sai sebenarnya kesal. Sangat kesal. Hampir saja dia salah mengoreskan kuasnya karena suara teriakan wanita itu. Dia pun menoleh ke belakang untuk melihat wajah Sakura dan menjawab, "Ah, benarkah?"
Untuk Sai, mendengar kata "tetangga" dan "mahasiswa jurusan seni" itu sangatlah aneh. Di apartemen itu, tidak ada yang masuk ke jurusan seni rupa selain dia. Kata "cantik" membuatnya lebih penasaran dan sepertinya hanya ada satu cara bagaimana dia bisa cari tahu mengenai tetangga barunya ini.
"Aku tidak bisa tinggal di sini. Paman sudah menghabiskan uang paman untuk aku yang bukan anak paman."
Dengan ponsel yang masih dia genggam dan koper di sampingnya, Ino terbelalak dengan apa yang dia llhat. Apartemen yang diberikan oleh pamannya terlihat sangat indah. Apartemen tersebut khusus untuk anak mahasiswa. Tidak heran ketika dia masuk ke apartemen tersebut, banyak orang yang melihatnya seakan mereka melihat seorang model yang terkenal. Seperti yang dia inginkan selama ini, Yamanaka Ino baru saja sampai di Perancis, kota idamannya. Dia tidak pernah membayangkan bahwa pamannya akan memberikannya sebuah apartemen yang mahal dan membayarkan uang kuliahnya.
"Sudahlah. Apakah itu penting? Paman sudah menganggapmu sebagai anak sendiri dan kau pasti bisa, Ino. Semua perlengkapan lukismu sudah ada di sana juga."
"Mengapa aku dimasukkan di jurusan seni rupa? Paman, aku tidak bisa melukis sama sekali. Karena itu, aku ingin masuk di jurusan fashion design saja."
Dia mempunyai pengalaman yang membuatnya berhenti melukis. Ino adalah putri dari seniman populer di Jepang, Yamanaka Inoichi. Di saat Ino berumur tujuh tahun, ayahnya meninggal karena sakit jantung. Sejak itu, dia diperlakukan seperti robot dan pengganti ayahnya oleh ibu kandungnya sendiri. Tidak ada hari di mana Ino tidak membenci bakatnya ini. Ratusan karyanya sudah dibeli oleh para penikmat seni dan ibunya menjadi obsesi dengan bakat anaknya. Tiap hari, Ino harus melukis dan kadang dia tidak ada waktu untuk belajar. Pamannya, Asuma adalah kakak ayahnya. Dia mengetahui perbuatan ibunya kepada Ino dan mencoba untuk merebutnya dari ibunya. Sejak saat itu, Ino tidak pernah melukis lagi.
"Kau bisa. Hanya saja kau tidak ingin mencoba untuk melukis lagi. Aku tahu kau akan menjadi pelukis yang hebat, Ino. Kau mempunyai bakat dan paman bertaruh bahwa kau bisa menjadi pelukis yang hebat. Paman ingin kau menerima bakat senimu sebagai sebuah hobi, bukan karena ibu atau paman menyuruhmu. Maaf paman sudah berbohong kepadamu dan mengganti jurusanmu tanpa memberitahukan kamu dahulu."
"Tapi aku—"
Suara ketukan pintu sukses mengganggu percakapannya dengan Asuma. Dia pun mengakhiri panggilan tersebut dan membuka pintu. Seorang lelaki berambut hitam di depan apartemennya hanya tersenyum manis. Wajahnya sangat pucat dan kemeja putihnya penuh dengan noda cat yang berwarna-warni. Dia pelukis juga? gumam Ino dalam hati. Lelaki itu tiba-tiba mengulurkan tangannya dan berkata, "Bonjour, je suis votre voisin. Je m'appelle Sai. Et vous?(1)"
"I-Ino. Yamanaka Ino."
"Kau pelukis, kan? Punya cat minyak warna burnt sienna(2)? Aku punya habis. Jujur saja, aku harus menyelesaikan lukisannya hari ini."
Ini bukan pertemuan pertama yang romantis. Sejak itu, lelaki bernama Sai selalu menganggunya dan meminta perlengkapan lukisnya dengan alasan malas membeli yang baru.
Updated: 16.10.2015, 4.28PM (GMT+7)
(1) Halo, aku tetanggamu. Namaku Sai. Dan kamu?
(2) Warna cokelat kemerahan
A/N: Jujur aja, aku nggak tahu mau bilang apa. Terima kasih yang sudah membaca fanfic-ku ini dan maaf jika ada kesalahan. Jangan lupa review dan... Bagaimana menurutmu? Sampai jumpa di chapter ketiga :)
