g-r-e-y

Disclaimer: Masashi Kishimoto owns Naruto and Maynard Plant owns the song, Canvas. This fanfiction is inspired by blanc.'s Canvas.

Summary: Ino dan Sai tertarik dengan satu hal yang sama—seni. Ini hanyalah sebuah kumpulan ficlet mengenai kisah cinta mereka. AU!SaiIno.

Warning: AU, OOC, ficlet, nggak jelas, setiap chapter tidak selalu berhubungan, profanity, don't like don't read.


"I am grey."


Dia masih bertahan hidup. Setelah suaminya meninggalkan wanita itu sendirian di dunia kelam ini, setelah dia menjadi gila karena rasa kesepian itu, setelah dia berhasil melawan depresinya, setelah dia bisa hidup seperti biasa. Di usianya yang genap delapan puluh tahun, dia masih bertahan di dunia ini. Yamanaka Ino tidak membiarkan emosi mengendalikan dirinya.

Dia benci hidup sendirian. Anaknya sudah berkeluarga dan sekarang, dia sudah menjadi seorang nenek bagi kedua cucu imutnya. Terkadang, anaknya akan mampir ke rumahnya dan Ino akan senantiasa mendengar curahan hati sang anak. Dia sebenarnya senang mempunyai anak yang baik dan menantu yang sangat baik. Dia percaya bahwa mereka berdua sangat bahagia seperti dirinya bersama suaminya.

Suaminya. Dia dan suaminya mempunyai profesi yang sama. Mereka adalah sepasang pelukis. Suaminya adalah seorang pelukis pemandangan dan sedangkan dirinya adalah seorang pelukis potret. Ino tidak pernah peduli dengan perkataan orang. Menjadi pelukis adalah hal yang tidak berguna, apalagi menikah dengan lelaki yang mempunyai profesi itu. Ino tidak mempercayai mitos itu. Selama hidupnya bersama sang suami, dia sangat bahagia dan bercukupan. Apakah uang segalanya? Tidak. Baginya, kebahagiaan lebih penting daripada harta. Dia merasa bahagia bersama suaminya. Masa-masa yang selalu akan dia simpan selama hidupnya.

Ino beranjak ke kamarnya. Langkah kakinya terhenti ketika dia melihat sebuah lukisan yang berada di dindingnya. Sebuah lukisan potret dirinya dengan hiasan daun-daun di samping wajahnya. Inisial pelukis itu tertulis dengan cat berwarna hitam di bawah kanan lukisan itu. Untuknya, lukisan itulah barang yang paling berharga untuknya. Dia tidak akan menukar mahakarya itu dengan apa pun. Dia rela mati untuk karya itu. Karena untuk pertama kali, suaminya menggambar lukisan realisme yang sangat sempurna. Lukisan itu adalah karya terakhirnya sebelum dia meninggal.

Wanita itu memejamkan kedua matanya dan meraba kanvas itu dengan pelan. Aroma cat minyak masih melekat di kanvas itu. Inilah kebiasaannya. Tiap hari, dia akan menatap lukisan itu sampai dia tidur terlelap.

Wanita itu tidak segan membawa lukisannya ke ranjangnya. Tidur bersama lukisan itu seakan dia memeluk almarhum suaminya tercinta. Kenyamanan dan ketenangan yang tidak bisa dimengerti oleh orang lain. Mungkin dia sudah gila tetapi dia tidak peduli. Lagipula, tidak ada seorang pun yang akan menilainya lagi.

"Dasar bodoh," gumam Ino sebelum mimpi membawanya pergi dari dunia ini.


Beberapa bulan setelah ulang tahun anak mereka yang ke dua puluh enam, Sai didiagnosis akan kehilangan penglihatannya. Jujur saja, Ino tidak percaya dengan perkataan dokter spesialis itu. Ironisnya, Sai tidak terkejut dengan pernyataan dokter itu. Wanita itu merasa dikhianati oleh suaminya sendiri.

Setelah beberapa bulan Ino mengetahui kebenaran itu, penglihatan Sai semakin pudar dan kabur. Semakin lama dia tidak bisa melakukan apa-apa. Sai mulai mempelajari huruf-huruf braille, menghafalkan denah rumah dan jalan di sekitar rumahnya. Hal yang menakjubkan adalah ... Sai masih bisa melukis dengan baik. Selama tiga tahun setelah Sai kehilangan penglihatannya untuk selamanya, dia bisa hidup dengan normal. Cukup normal. Tentunya, ini semua karena Ino membantunya dengan tulus dan sabar. Ini semua karena sebuah percakapan malam setelah mereka pergi ke dokter spesialis itu.

"Mengapa kau menyembunyikan hal ini dariku?" tanyanya sambil memberikan secangkir kopi kepada suaminya itu. Ino langsung duduk di ranjang mereka.

"Aku tidak ingin kau mengetahuinya," jawabnya dengan enteng.

"Aku istrimu, Sai."

"Aku ingin kau meninggalkanku, Ino," ungkapnya dengan tawa kecil. Senyuman palsu itu membuat mata Ino terbelalak. Dia benci ketika Sai berbohong. Senyuman itulah yang membuat hatinya sakit dan pedih.

Lelaki itu merintih kesakitan ketika istrinya memukul punggungnya. Dia berteriak, "Jangan bercanda!"

"Sungguh, aku ingin kau hidup bahagia dan menikah dengan lelaki lain jika aku buta, Ino. Aku akan menjadi suami yang tidak—"

"Diamlah. Aku tidak ingin mendengar perkataanmu hari ini," ucap wanita itu sambil memeluk suaminya dari belakang dengan erat. Saat itu juga, dia bersumpah untuk tidak mencintai lelaki lain selain suaminya. Dia bersumpah untuk menjaga dan melindungi Sai selama hidupnya.


Updated: 19.10.2015, 10.54PM (GMT+7)


A/N: Tahan tangisanmu, Dra /plak Ada yang baper? Ayo angkat tangannya XD Sampai jumpa dan jangan lupa review ya~