p-i-n-k

Disclaimer: Masashi Kishimoto owns Naruto and Maynard Plant owns the song, Canvas. This fanfiction is inspired by blanc.'s Canvas.

Summary: Ino dan Sai tertarik dengan satu hal yang sama—seni. Ini hanyalah sebuah kumpulan ficlet mengenai kisah cinta mereka. AU!SaiIno.

Warning: AU, OOC, ficlet, nggak jelas, setiap chapter tidak selalu berhubungan, profanity, don't like don't read.


"Pink is lust. Don't let him get away."


Haruno Sakura tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Sketsa wajah Sai berserakan di atelier membuat Sakura melongo. Bukan hanya satu sketsa tetapi ratusan sketsa dengan beberapa pose. Sebagai pelukis potret, dia bisa melukis Sai dengan sempurna dan detail. Obsesi Ino terhadap Sai itu menyeramkan. Sungguh menyeramkan untuk Sakura. Seberapa dia sangat posesif dengan Sasuke, Sakura tidak pernah sampai melakukan sesuatu ekstrim seperti ini.

Dia menepuk bahu temannya itu dan memanggil namanya dengan lembut. Yamanaka Ino tidak memberi reaksi apa pun. Sakura hanya menghela napas dan berteriak, "Ino!"

Wanita itu memutar kepalanya untuk melihat temannya itu dan tersenyum lemah. Dia bergumam, "Sakura? Mengapa kau di sini?"

Wajah Ino terlihat sangat berbeda dengan dua hari yang lalu. Sakura heran bagaimana Ino bisa menua hanya dalam waktu dua hari. Matanya sayu dan wajahnya sangat pucat. Jika Sai melihat keadaan Ino, Sakura bisa menebak bagaimana reaksi temannya yang satu itu. Pastinya, Sai akan mengira Ino sudah meninggal dan Ino yang sekarang dia lihat itu adalah hantu Ino yang bergentayangan. "I-Ino. Sebaiknya kau tidur saja. Sudah berapa hari kau tidak makan?"

"Entahlah. Dua? Tiga hari yang lalu?" katanya sambil tertawa seperti orang kerasukan.

"Ino ... Sebaiknya kau coba menelepon Sai atau mungkin SMS dia jika kau rindu dengannya."

Dengan senyuman yang menyeramkan, Ino memperlihatkan ponselnya dan berkata, "Aku sudah meneleponnya lebih dari 50 kali dan oh, SMS lebih dari 100 kali? Jawabannya? Nihil, Sakura. Nihil! Apa yang harus kulakukan? Katanya dia akan pulang tetapi ini sudah lebih dari dua minggu! Apa aku benar-benar harus melaporkan kehilangannya ke kantor polisi?"

Sakura tidak bisa melakukan apa-apa tetapi memberikannya makanan. Mengurus Ino itu seperti mengurus nenek-nenek di panti jompo. Otak Ino tidak mengerti dengan apa yang Sakura perintahkan. Ino tidak akan mandi kecuali Sakura menyiram segelas air. Ino tidak akan mengurus dirinya sendiri ketika Sai menghilang dari pandangannya.

Tidak ada yang berubah dengan Yamanaka Ino selama lebih dari dua minggu. Dia masih menatap pemandangan dari jendela atelier atau ponselnya yang tidak pernah bergetar. Terkadang, dia akan menggambar wajah Sai di kertas ataupun kanvas dan merobeknya setelah dia menyelesaikan sketsa itu. Sehari setelah Sakura mengunjungi Ino, Sai meneleponnya. Ya, akhirnya kekasihnya itu meneleponnya. Dia sudah menunggu lebih dari satu abad untuk momen ini.

"Maaf Ino—"

"Sai, Tu te fous de ma gueule?!(1) Untuk apa jika kau mempunyai ponsel tetapi kau tidak melihatnya? Buang saja ponselmu!"

"Ah, aku baru saja lihat 50 misscall dari seorang wanita bernama Yamanaka Ino. Oh, aku dapat 100 SMS juga dari wanita itu."

"Aku sudah lelah dengan dirimu. Jangan bercanda denganku! Apa susah meneleponku dan bilang bahwa kau tidak bisa pulang dan memperpanjang kunjunganmu ke Itali? Aku curiga bahwa kau sebenarnya selingkuh dariku! Sudahlah, aku tidak ingin melihat wajahmu lagi!"

Ino langsung mengakhiri panggilan itu tanpa memberikan Sai kesempatan untuk menjelaskan semuanya. Lelaki itu hanya bisa menghela napas, sepertinya dia sudah kelewatan. Untuk pertama kalinya, dia mendengar Ino marah seperti ini.


Tiga hari setelah pembicaraan mereka lewat telepon, Sai muncul di depan rumah kecil mereka. Mata Ino terbelalak dan wajahnya terlihat sangat kesal. Bagaimana tidak? Sai hanya pernah meneleponnya dua kali dalam tiga minggu. Ino hanya mendorong pundak Sai dan berteriak, "S-Sebaiknya kau hidup saja sana di Itali! Aku benci dirimu, Sai!"

"Jangan lupa siapa yang membayar sewa rumah ini, sayang."

Ino sudah tidak bisa menahan air matanya yang membasahi pipinya. Suara isakan terdengar sangat kencang. "Bisakah kau tidak bercanda untuk kali ini saja? Aku ... rindu. Apa kau tahu itu?"

Lelaki itu menghela napas dan menangkup kedua pipi Ino untuk mengecup bibirnya dengan lembut. Tentunya, kekasihnya terkejut dengan perlakuan lelaki berwarganegaraan China itu. Inilah senjata rahasia pertama yang dia miliki untuk membungkam mulut Ino yang sangat cerewet. "Ya, aku tahu. Bagaimana aku tidak tahu? Sketsa diriku yang berserakan di atelier dan Sakura yang sangat panik karena kau tidak makan sama sekali selama dua hari ini. Terkadang aku ingin mengakhiri hubungan kita agar kau bisa hidup dengan mandiri seperti dahulu."

"Awas saja jika kau mengakhiri hubungan kita dengan alasan yang tidak realistik itu!"

Senjata rahasia kedua; Sai memeluknya dengan erat. Dia mengelus rambut pirang kekasihnya itu dengan lembut dan berbisik, "Sepertinya aku terlalu memanjakanmu, Ino. Kau harus belajar hidup tanpa aku."

"Sungguh, kau tahu bagaimana mengatakan sesuatu di saat yang tidak tepat!" sahut wanita itu, "aku masih benci dirimu dan terkadang aku bertanya dengan diriku sendiri ... Mengapa aku jatuh cinta dengan seseorang seperti dirimu?"

"Kau ingin tahu mengapa aku butuh lebih dari dua minggu di Itali?"

"Kau selingkuh."

"Aku tahu kau marah denganku dan aku pantas mendapat hukuman darimu. Aku bisa jadi budakmu selama seminggu, aku tidak peduli," katanya sambil meraih sebuah kanvas yang dia bawa dari Itali, "Inilah alasannya."

Lukisan dengan gaya realisme. Karya Sai sendiri. Entah bagaimana Ino harus bereaksi ketika dia melihat sebuah lukisan dengan gaya yang lelaki itu benci. Bakat dan selera mereka berdua itu berlawanan. Ino yang bisa menggambar dengan gaya realisme sedangkan Sai benci dengan gaya itu. Sai hanya suka menggambar pemandangan, Ino sangat benci melukis pemandangan. Untuknya, pemandangan itu sangat membosankan untuk dilukis.

"Kau ingin melihatku melukis realisme. Inilah hasilnya. Mungkin tidak sebagus dan sempurna yang kau lukis tetapi aku harus belajar dengan temanku di Itali untuk mendapatkan hasil seperti ini."

Hari itu, Sai membiarkan Ino memeluknya sampai dia tertidur. Pada akhirnya Ino tidak sadarkan diri selama sehari karena tidak makan selama dua hari. Lelaki itu tahu bahwa tidak ada cara untuk membuat kekasihnya mandiri tanpa dirinya.


Updated: 28.10.2015, 4.00PM (GMT+7)


(1) Are you kidding me?!

A/N: KONFLIK KONFLIK KONFLIK! Haha. Yes, you guessed it right (or maybe not lol). Ini lanjutan chapter 1. :") Bagaimana dengan chapter ini? Sungguh, OOC banget.