g-r-e-e-n

Disclaimer: Masashi Kishimoto owns Naruto and Maynard Plant owns the song, Canvas. This fanfiction is inspired by blanc.'s Canvas.

Summary: Ino dan Sai tertarik dengan satu hal yang sama—seni. Ini hanyalah sebuah kumpulan ficlet mengenai kisah cinta mereka. AU!SaiIno.

Warning: AU, OOC, ficlet, nggak jelas, setiap chapter tidak selalu berhubungan, profanity, don't like don't read.


"Green, yes you can."


Ada yang berbeda dengan Sai setelah dia kehilangan kedua matanya. Dia masih tertawa dan membuat Ino kesal dengan sarkasmenya. Dia masih melakukan semua aktivitasnya seperti normal. Dia masih menghabiskan waktu bersama Naruto di siang hari dan malamnya bersama Ino. Hanya saja dia berbeda. Ya, Sai yang sekarang berubah. Lelaki berwarganegaraan China ini tampak lebih serius. Dia tidak pernah berpergian seperti dulu. Selama lebih dari 20 tahun bersama Sai, Ino merasa perubahaan yang sangat besar. Dia seperti kehilangan semangat dan arti hidup.

Tetapi di umurnya yang sudah genap setengah abad itu, dia masih bisa membuat sebuah pameran seni. Oh, Sai tidak pernah gagal membuat Ino terkejut. Sebelum lelaki itu memberitahu rencananya itu, dia berkata, "Ino, aku akan memajang karya-karyamu."

Hari itu, mereka tidak melakukan apa-apa. Hanya duduk di sofa dan Sai menemani istrinya yang sedang asyik nonton opera sabun kesukaannya. Meskipun dia hanya bisa mendengar percakapannya, dia tidak keberatan. Ino membiarkannya tidur di pangkuannya dan terkadang, Sai akan memainkan rambut pirang panjang itu. Rambut Ino yang sangat halus dan harum. Sai menyukai sampo yang dipakai oleh istrinya. Wangi bunga mawar yang menenangkan seperti aromaterapi. Dia tidak pernah mengatakannya kepada Ino tetapi sepertinya wanita itu tahu.

Dia masih menunggu jawaban Ino dan seperti biasa, Sai bisa menebak istrinya itu masih menatap televisi dengan seru. Tanpa sungkan, dia menarik rambut pirang milik istrinya dan menghela napas. "Ino, kau dengar apa yang kukatakan tadi?"

"Ya. Untuk apa?" gerutu Ino. Tentu dia mendengar semua perkataan suaminya itu tetapi Ino paling benci ketika Sai mengganggunya.

"Pameran seni—"

"Non.(1)"

"—terakhirku."

"Non. Kau tidak pernah melihat karya-karyaku akhir ini, Sai," jujur wanita itu sambil mengecilkan suara televisi itu.

"Terus?"

"Y-Ya, harus kuakui karyaku akhir-akhir ini sangat jelek."

"Aku tidak akan menikahi seorang wanita yang tidak bisa melukis dengan baik."

"Jadi selama ini kau tidak mencintaiku?"

"Aku tidak bilang begitu."

"Terserah. Aku malas berdebat denganmu, Sai. Lakukan apa yang kau inginkan. Semua lukisanku kebanyakan sketsa dirimu."

"Maka itu, aku ingin memajang karyamu di pameran seniku. Aku ingin semua orang tahu bahwa kau mempunyai obsesi yang aneh. Kau terobsesi denganku."

"Diamlah, sebaiknya hanya kau yang tahu itu."

"Sayangnya, aku ingin semua orang tahu."

Ino tidak sungkan memukul dada suaminya dengan keras. Tentunya, Sai merintih kesakitan dan akhirnya malah terkekeh. Setelah dia puas tertawa dengan kencang, Sai berdeham. "Sebaiknya ... aku jujur denganmu. Sebenarnya, aku ingin memajang salah satu karyamu di pameran seni terakhirku. Potret wajahku yang sudah kau lukis selama ini. Entahlah, aku ingin semua orang melihat bahwa aku mempunyai istri yang hebat dan dialah seorang pelukis potret yang sungguh berbakat. Mungkin aku tidak pernah mengatakannya kepadamu, Ino. Aku membutuhkanmu di masa-masa seperti ini. Tertawalah sesukamu tetapi ... aku sebenarnya takut dengan apa yang orang pikirkan. Ini pertama kalinya aku muncul di mata publik dan sekarang, aku buta. Sungguh, aku juga tidak bisa percaya dengan nasibku ini. Mungkin semua orang akan menertawakanku."

Keheningan membuat sepasang suami-istri itu merasa sangat canggung. Perkataan Sai membuat kedua mata Ino terbelalak. Selama ini dia tidak pernah melihat Sai yang jujur dan beropini tentang sesuatu. Ya, ini bukan Sai yang Ino ketahui. Sejak kapan suaminya itu jujur di depannya dan cerewet seperti ini?

"Kau akan baik-baik saja dan kau pasti bisa, Sai. Lagipula kau adalah pelukis yang hebat." ucap Ino sambil menunduk dan memberikan sebuah kecupan bibir yang manis dan hangat untuk suaminya.

"Dan ... kau juga pasti bisa, Ino," katanya sambil tersenyum.

"Maksudmu?" Ino sama sekali tidak mengerti dengan perkataan suaminya. Apa maksudnya dia pasti bisa? Untuk apa?

"Ya, kau harus mengerti bahasa Mandarin sebelum aku mati."

"Kau selalu saja merusak momen yang serius. Apa hubungannya dengan—"

Sai mendengus dan berkata, "Aku serius, kau harus bisa berbahasa Mandarin, Ino sayang."

"Bie di gu wo. Wo ke yi jiang han yu, Sai.(2)" gerutunya dengan kesal, "Hai you, ni bu neng si zai wo mian qian!(3)"

Lelaki itu hanya tertegun. Dia tidak pernah mendengar istrinya berbicara dalam bahasa Mandarin sebelumnya. Sepertinya, Ino juga belajar melafalkannya dengan intonasi yang tepat. "Sekarang kau bisa berbicara bahasa Mandarin. Sepertinya aku sudah tidak bisa mengatakan hal-hal jelek mengenaimu dengan bahasa Mandarin. Tetapi baguslah, aku mempunyai istri yang sangat pintar," akunya sambil tersenyum menyeringai.

Wajah Ino langsung tersipu dan demi Tuhan, kali ini dia bersyukur bahwa Sai tidak bisa melihat seberapa merah kedua pipinya itu. Ino tidak terbiasa semua hal ini. Suaminya tidak pernah memujinya lebih dari dua kali dan juga mengakunya sebagai 'istri'-nya. Mengapa Sai berubah menjadi suami yang mempunyai bibir manis dan ... perhatian setelah lebih dari 20 tahun mereka mengucapkan janji suci itu? Wanita itu hanya menggigit bibirnya dan mengelus rambut suaminya dengan lembut.

"Diamlah."

Yamanaka Ino percaya bahwa banyak hal yang berubah dengan suaminya yang aneh ini.


Updated: 27.11.2015, 3.05AM (GMT+7)


(1) Tidak

(2) Jangan meremehkanku. Aku bisa berbicara bahasa Mandarin.

(3) Dan juga, kau tidak boleh mati sebelum aku.

.

A/N: Aku masih hidup kok. Tenang aja HAHAHAHA. Maaf kalo percakapan di sini kepanjangan. :) So, what do you guys think? Oh ya, ini untuk hadiah ulang tahun Papa Sai yang sudah lew—ah sudahlah, yang penting aku updet bukan? :D