p-u-r-p-l-e
Disclaimer: Masashi Kishimoto owns Naruto and Maynard Plant owns the song, Canvas. This fanfiction is inspired by blanc.'s Canvas.
Summary: Ino dan Sai tertarik dengan satu hal yang sama—seni. Ini hanyalah sebuah kumpulan ficlet mengenai kisah cinta mereka. AU!SaiIno.
Warning: AU, OOC, ficlet, nggak jelas, setiap chapter tidak selalu berhubungan, profanity, don't like don't read.
"Purple is how I feel when I make mistakes."
"Jujur saja. Kau memang harus diancam baru sadar."
Hari itu adalah pertama kalinya Sai membuat istrinya sangat marah. Sebuah pertanyaan yang sangat simpel dapat membuat Ino sangat membenci Sai. Pada akhirnya, dia tidak tahu apa yang dia harus lakukan untuk membereskan masalah ini dan pelarian satu-satunya adalah ... Uzumaki Naruto. Sepertinya sahabatnya yang satu itu tidak terkejut. Lagipula, Naruto pernah menduga hal ini akan terjadi.
"Aku hanya bertanya," ucap Sai dengan gampang.
Naruto menggelengkan kepala dan menyilangkan kedua lengannya. "Ya, kau bertanya hal yang tidak lazim," katanya.
Anak dari lelaki berwarganegaraan China itu, Inojin juga ikut mendengarkan percakapan ayahnya bersama Naruto. Dia hanya menopang dagu dan setuju dengan perkataan Naruto. "Tentu saja itu membuat mama seperti ini."
"Kau sudah menikahi Ino lebih dari 17 tahun dan kelakuanmu seperti ini? Sai, apakah kau seorang remaja berumur 17 tahun? Inojin saja terlihat lebih dewasa daripada dirimu."
Sai menghela napas dan berkata, "sudah kubilang, aku hanya bertanya. Aku penasaran dengan jawabannya itu."
"Rasa penasaranmu itulah yang membuat Ino selalu marah! Sekarang pulanglah. Kau harus meminta maaf kepada Ino."
Naruto mengebrak meja restoran sampai membuat semua pengunjung menoleh ke arah mereka. Tentu saja, manajer dari restoran itu hampir saja mengusir mereka. Inojin hanya bisa meminta maaf dengan bahasa Perancis, sedangkan kedua pria itu tidak peduli dengan manajer itu.
"Semuanya tidak sesimpel itu, Naruto."
"Apa maksudmu?"
"Ino juga ingin cerai."
Kedua mata Naruto dan Inojin terbelalak ketika mendengar kata 'cerai'. Sai tidak menceritakan semuanya kepada mereka. Naruto dan Inojin tahu bahwa Yamanaka Ino tidak akan mengancamnya sampai sebegitunya jika semua hal ini adalah sangat simpel.
Pagi itu, Sai memeluk istrinya dari belakang. Inilah yang mereka lakukan sebelum meninggalkan kamar mereka untuk melakukan kegiatan mereka masing-masing. Pelukan itulah yang Ino butuhkan ketika musim kemarau tiba. Memang, dia membutuhkan kehangatan dari suaminya.
Sai memulai percakapan mereka dengan memanggil istrinya itu. "Ino."
"Hmm?" gumam wanita itu.
"Apa kau masih mencintai Sasuke?"
Satu pertanyaan itu membuat kedua mata Ino terbelalak. Sai itu tidak peka. Ya, itu memang sebuah fakta. Apa yang membuat suaminya itu berpikir bahwa dia masih mencintai suami sahabatnya itu? Itu pertanyaan yang bodoh. Mereka sudah menikah lebih dari 15 tahun dan sekarang, suaminya menanyakan sesuatu yang tidak masuk akal.
Memang, dia pernah menyukai Uchiha Sasuke, seorang arsitek terkenal di Perancis. Memang, dia masih menyukai Sasuke ketika dia berpacaran dengan Sai. Tetapi sekarang? Ino sudah tidak menganggap Sasuke sebagai seorang lelaki, melainkan suami dari sahabatnya, Sakura. Demi Tuhan, dia sudah mempunyai seorang anak bersama Sai dan lelaki itu masih berpikir seperti ini? Sungguh Ino tidak percaya. Apa maksudnya? Apa Sai berpikir bahwa selama ini dia berselingkuh bersama Sasuke? Apa Sai tidak bahagia bersama dirinya maka dari itu dia menanyakan hal ini? Mereka sudah hidup bersama lebih dari 20 tahun. Apakah ini adalah sebuah pertanda bahwa Sai sudah lelah bersamanya? Jika begitu, dia tidak akan memaksa lelaki itu untuk berada di sampingnya sampai ajal menjeputnya. Meskipun begitu, Ino tidak mengerti mengapa Sai bertanya hal seperti ini.
Ino menghela napas dan berbalik agar dia tidak harus melihat wajah suaminya itu. Jika itulah apa yang dia inginkan, wanita berwarganegara Jepang itu tidak memaksa dan akan menurut. Dia bisa mengurus Inojin sendiri, lagipula Inojin sudah remaja. Dia tahu bahwa Inojin akan mengerti dengan keputusannya ini.
"Bagaimana jika ... kita cerai saja, Sai?"
Mereka tidak berbicara selama seminggu. Entah bagaimana mereka bisa tahan, tetapi Inojin tidak tahan dengan situasi seperti ini. Yamanaka Ino tanpa sungkan melempar bantal kepada muka Sai setelah mereka berdua dari kedai kopi. Dalam seminggu itu, Sai tidur di sofa dan tidak seperti biasanya, wanita itu tidak memberikan sedikit belas kasihan.
"Kapan kalian akan saling memaafkan satu sama lain?" tanya Inojin sambil menyantap makan malamnya, "aku sudah mendengar dari kedua sisi dan aku tidak merasa ini adalah masalah yang sungguh besar seperti yang papa katakan. Tentunnya, kalian juga tidak bisa cerai hanya karena masalah sepele."
"Mama masih akan menceraikan papamu itu. Mama sudah lelah dengan papa."
"Itu bukan alasan yang masuk akal, mama. Sebaiknya kalian saling meminta maaf. Aku tidak suka melihat papa tidur di sofa, mama yang terlalu egois dan juga keluarga kita yang sepertinya akan hancur karena masalah kecil."
"Inojin sayang, mama—"
"Aku akan telepon oncle(1) jika kalian tidak berbaikan sekarang juga," ancam Inojin sambil mengenggam ponselnya.
Sai menghela napas dan tidak sungkan menarik tangan istrinya. Lelaki itu tidak peduli meskipun istrinya meronta untuk beberapa kalinya. Dia pun menyeret Ino ke kamar mereka dan mengunci pintu itu agar Ino tidak bisa melarikan diri.
Yamanaka Inojin hanya tersenyum menyeringai dan menghabiskan makan malamnya sendirian. Sepertinya perkataan Naruto benar. Inojin memang lebih dewasa daripada kedua orangtuanya.
Mereka tidak berbicara selama lebih dari lima menit. Oh bukan, mereka berbicara dengan bahasa tubuh. Sai menatap istrinya yang masih saja tidak sudi melihat wajahnya itu. Lelaki itu meraih tangan Ino dan memanggil nama wanita itu dengan lembut, "Ino ..."
"J-J-Jika aku masih mencintai Sasuke, aku tidak akan mempunyai anak bersamamu! Dan jika aku masih mencintai Sasuke, aku sudah selingkuh bersama Sasuke di belakangmu dan juga Sakura!"
"Kau tidak melakukan itu, kan?"
"Hampir."
"Apakah kau bahagia bersamaku?"
Ino tidak menjawab pertanyaan itu.
"Aku tidak keberatan jika kau ingin cerai denganku ataupun selingkuh di belakangku. Kau harus tahu. Aku akan baik-baik saja asalkan kau bahagia, Ino."
Ino tidak bisa menatap wajah suaminya. Tidak, wanita itu tidak ingin cerai dengan Sai karena lelaki lain. Dia hanya berbohong kepada dirinya sendiri. Sasuke tidak pernah berada di hatinya. Konyol, tetapi rasa suka kepada Sasuke itu hanyalah cinta monyet. Dulu, dia hanyalah gadis berumur 19 tahun yang tidak mengerti apa artinya cinta. Sai. Dialah yang selalu berada di sampingnya dan lelaki itu ada ketika hatinya hancur setelah mendengar sahabatnya akan menikah dengan Sasuke.
"I-ini bukan yang kuinginkan. Dasar bodoh! Kau tidak mengerti apa artinya bahagia untukku, Sai. Aku bahagia ketika kau berada di sampingku. Itu saja dan kau berpikir bahwa Sasuke dapat membuatku bahagia? Kau sungguh ... bodoh!" isak wanita itu.
"Itu karena aku mencintaimu, selamanya," bisiknya sambil mengenggam tangan wanita itu yang berusaha memukul dadanya dan mengelus rambut pirang istrinya. Ino tidak berkata apa pun dan hanya memeluk Sai dengan erat. Suara isakan istrinya itu sangat merdu di malam yang sunyi.
Updated: 20.12.2015, 10.15PM (GMT+7)
(1) Paman. Panggilan untuk Naruto.
