Tittle : That Should Be Me

Pairing: KyuMin,KyuWook,HaeMin

Rate: T

Warn: BL,YAOI,M-PREG,FLASHBACK.

WORDS: 4521 *Udh 4521 kata dan 15 page di PC. Jadi jangan bilang kependekan ya..

Disclaimer: Kyuhyun dan Sungmin itu saling memiliki. Tapi Sungmin juga milik saya. Yang jelas mereka milik Tuhan,orang tua,nenek,kakek dan sapa aja dah.. Saya hanya pinjam nama. Saya hanyalah yeoja yg Fujoshi dan M-Preg akut.

DON'T LIKE DONT READ . Yang ga suka YAOI atau sesuatu di FF ini tinggal cabut aja dah. Gampang kan?

o0o0 That Should Be Me Chap 5 0o0o

Namja manis itu begitu frustasi melihat angka-angka yang terderet rapi di depan papan tulis. Rasanya dia ingin sekali menghilang dan pergi jauh saat Lee Seonsangnim tengah sibuk menjelaskan beberapa penjelasan tentang pelajaran yang begitu membuat ia merasa seperti nyaris gila. Ia berkali-kali menggosok-gosokan mukanya yang nyaris teratuk meja karna menahan kantuk yang sangat menyiksa. Baginya,pelajaran itu adalah obat bius terkuat yang pernah ada.

'Sial. Kalau begini keadaannya pasti aku langsung teringat dengan bocah evil itu' batin namja manis itu.

Dengan sedikit menunduk, namja manis itu mulai berani menutup matanya saat merasakan semilir angin yang masuk melalui celah-celah jendela kelasnya yang sedikit terbuka. Membuatnya semakin merasa tidak tahan untuk tidak menutup matanya dan segera mengunjungi dunia mimpi yang membuat hidupnya terasa semakin menyenangkan.

.

.

.

.

.

Drapp.. drapp.. Drapp! Langkah itu terasa semakin cepat dan berat saat melihat sosok yang sudah ia cari beberapa jam lalu akhirnya berhasil ia temukan. Pemilik langkah itu begitu merindukan sosok yang sedari tadi tengah ia cari,terlebih lagi ia tengah membawa sebuah kabar yang baginya itu ialah sebuah kabar yang sangat menggembirakan. Dengan cepat,namja tampan itu pun segera memeluk namja manis yang tengah sibuk berkutat dengan handphone-nya. Namja tampan itu memeluknya dengan erat seakan mengatakan pada pemilik tubuh itu bahwa ia tengah merasakan rindu yang berhasil membuatnya tersiksa.

"Ada apa Kyuhyun-ah? Kau mengagetkanku saja eoh?" ucap namja manis itu tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun dari handphone miliknya.

Sedangkan namja yang dipanggil dengan sebutan Kyuhyun itu hanya bisa mengerucutkan bibirnya dan kemudian memilih untuk duduk di samping namja manis itu. Ia merasa di acuhkan oleh orang yang begitu ia sayangi.

"Ming. Aku punya kabar bagus,kau tau apa itu?" Kyuhyun begitu semangat berbicara dengan namja itu sampai-sampai seringai yang selalu muncul di wajahnya kini terganti oleh senyum sumringah.

"Hmmmm" Namja bernama asli Sungmin itu hanya bisa mendehem mendengar ucapan Kyuhyun dan masih asik dengan dunianya.

"Jangan acuhkan aku ming. Kau selalu begitu" Kyuhyun pun mulai merajuk sambil melipat kedua tangannya di depan dada bidangnya.

"Arraseo. Kalau begitu,apa yang ingin kau katakan adik kecil?"

Sungmin mulai mempause-kan game yang sedari tadi ia mainkan di dalam Handphone miliknya dan berganti untuk memandangi lekat-lekat wajah yang sudah hampir 5 tahun ini mulai menjadi salah satu orang yang berarti dalam hidupnya. Entahlah,Sungmin bingung menganggap keberadaan Kyuhyun itu sebagai apa dalam hidupnya.

"Jangan anggap aku seperti anak kecil, Sungmin-ah. Aku sudah berusia 16 tahun,kau pasti tau kan ming?"

"Arraseo,maka dari itulah aku menganggapmu bocah. Kau bahkan belum berusia 17 tahun"

"Kau sombong sekali min. Baru 17 tahun saja kau sudah sombong begitu. Kita itu sama,kita masih belum bisa disebut dewasa"

"Tak apa,yang penting aku sudah berusia 17 tahun. Coba lihat dirimu sendiri Kyuhyun-ah. Kau itu hanyalah bocah berusia 16 tahun yang hanya bisa bermain PSP. Hahahahaha" hina Sungmin dengan keras sehingga membuat Kyuhyun mulai jengah.

"Setidaknya aku adalah anak yang cerdas. Bahkan kemarin saja aku mengerjakan semua tugas mu itu kan? Coba kau teliti lagi buku tugasmu itu. Apa ada satu kesalahan saja ditulisan itu eoh? Kau bahkan berhasil medapatkan nilai sempurna kan? Aku tau ming,kalau selama setahun ini kau jarang ah—bahkan tidak pernah mendapatkan nilai sempurna. Iya kan?"

Wajah Sungmin seketika memerah mendengar ucapan yang keluar dari mulut Kyuhyun. Ia merasa seakan dipermalukan atas kebodohan yang ia miliki. Karna merasa tak sanggup berdebat dengan Kyuhyun,ia pun berdiri dari tempatnya dan bergegas meninggalkan Kyuhyun dengan raut yang sedikit marah. Melihat itu,Kyuhyun pun ikut berdiri dan bergegas mengejar seseorang yang ia klaim sebagai kekasihnya.

"Kau tak mau mendengar kabar bagus itu chagi?" ucap Kyuhyun di telinga Sungmin dan sedikit menjilatnya sehingga membuat Sungmin sedikit bergidik karna merasa geli.

"Ya! Jangan menjilat telingaku,Kyu. Kau itu pervert sekali"

"Jawab saja ming. Kau ingin mendengarnya atau tidak?" ucap Kyuhyun yang lagi-lagi memunculkan sifat kekanakannya.

Melihat Kyuhyun yang begitu antusias itu pun akhirnya Sungmin sedikit tidak tega untuk berkata 'tidak' meskipun ia ingin sekali mengatakannya. Ia tau bahwa Kyuhyun memang seperti itu dari pertama ia bertemu. Terkadang sifat Kyuhyun akan menjadi dingin jika ia bertemu dengan orang asing maupun orang yang menurutnya biasa saja baginya. Namun sifatnya akan menjadi seperti anak berusia 10 tahun jika ia sedang berhadapan dengan orang yang dekat dengannya. Memang ada yang sedikit salah dengan otak Kyuhyun semenjak anak itu ditinggalkan oleh Namdongsaengnya untuk selamanya.

"Dengarkan ya ming. Jebal~" rengek Kyu sambil bergelayut manja di tangan Sungmin.

Sungmin sedikit menghela nafasnya saat melihat sifat manja Kyuhyun yang belum juga hilang semenjak ia bertemu dengan Kyuhyun. Ia menyerah harus melakukan apalagi untuk membuat Kyuhyun tidak berperilaku seperti anak kecil lagi yang terkadang membuatnya sedikit jengah. Sungmin heran atas semua yang ada di dalam tubuh Kyuhyun. Namja itu—Kyuhyun,memang sedikit aneh dengan psikologisnya namun ia tergolong anak yang cerdas. Dia bahkan di sekolahkan di tempat sekolah yang sama dengan anak-anak normal lainnya. Tapi Sungmin sama sekali tak masalah dengan keadaan Kyuhyun dan tetap menyayangi sosok itu.

"Arraseo. Coba katakan,apa yang ingin kau beritau padaku Kyuhyun-ah?"

Dengan cepat Kyuhyun melepaskan rangkulannya kemudian berjalan dan merubah posisinya hingga sekarang ia berdiri di hadapan Sungmin. Diraihnya tangan Sungmin dan kemudian mengenggamnya dengan erat hingga cincin silver yang mengikat mereka berdua pun bersentuhan tanpa ada jarak sedikitpun.

"Apa kau tau chagi? Ummaku ingin bertemu denganmu"

"MWO? Kenapa bisa begitu?" Sungmin begitu terkejut mendengar ucapan Kyuhyun yang terbilang sangat tiba-tiba itu.

"Ne. aku sudah mengatakannya bahwa aku akan segera menikahimu. Aku sudah berjanji akan memperkenalkanmu dengan mereka"

Tangan Sungmin terjatuh dan melepaskannya dari genggaman tangan Kyuhyun. Ia tak menyangka jika Kyuhyun akan mengambil keputusan sepihak tanpa meminta persetujuannya terlebih dahulu.

"Jangan sembarangan Kyunnie. Aku masih berusia 17 tahun" ucap Sungmin lirih.

"Bukankah kita sepasang kekasih? Bukannya sepasang kekasih yang sudah saling mencintai itu kemudian akan menikah dan hidup bersama selamanya" ucap Kyuhyun yang tak kalah lirih setelah melihat ekspresi sedih milik Sungmin.

"Bahkan aku tak pernah meng iyakan untuk menjadi kekasihmu kan Kyunnie? Kau hanya memberiku cincin ini dan memutuskan seenaknya" ucap Sungmin ketus.

Kyuhyun yang mendengar itu pun kemudian menundukan kepalanya dalam-dalam. Ia kecewa melihat ekspresi Sungmin yang begitu jauh dari rasa senang. "Bukannya kau menyukaiku Sungmin?"

Kali ini giliran Sungmin yang terdiam. Dia bingung ingin menjawab apa pertanyaan yang dilontarkan Kyuhyun padanya. Ia sendiri bingung dengan perasaannya. Ia takut jika ia salah mengartikan rasa sayangnya itu terhadap rasa yang lebih serius kepada namja dihadapannya yang masih betah dalam posisinya itu. Ia menyayangi Kyuhyun,tapi ia bingung apa rasa yang semakin mendalam itu bisa disebut dengan cinta?

"Aku menyayangimu Kyuhyun"

"Umma dan appa juga menyayangiku. Aku butuh perasaan yang lain juga darimu min. Perasaan yang berbeda dari sebuah rasa sayang. Perasaan yang memang pada dasarnya dimiliki dari dua orang yang sudah melalui masa suka dan dukanya bersama"

Sungmin tersenyum melihat perubahan sikap Kyuhyun itu. Entahlah,hanya sekilas dia sudah merasa Kyuhyun semakin dewasa dan tak lagi terlihat terlalu manja seperti dulu. Yang ada sekarang justru sosok Kyuhyun yang kesepian dan begitu rapuh sehingga membuatnya ingin sekali memeluk namja itu.

"Tidak semua orang harus memiliki perasaan seperti itu. Ada juga seorang sahabat yang selalu bersama melewati masa suka dan dukanya itu dan selalu berjalan bersama hingga akhirnya justru salah satu dari mereka ada yang menyimpan rasa benci di hatinya. Bahkan ia pun tega menusuk temannya dari belakang karna rasa benci itu. Banyak kemungkinan bisa terjadi,Kyuhyun-ah"

"Lalu bagaimana denganmu? Apa kau membenciku? Apa kau menganggapku hanya sebagai sahabatmu? Apa kau akan menyerangku suatu hari nanti?"

"Tentu tidak. Kau itu sudah ku anggap seperti-"

"Seperti apa? Coba kau katakan padaku. Kau menganggapku seperti apa?"

Sungmin terkejut mendengar suara Kyuhyun yang terdengar sedikit keras ditelinganya. Nyalinya sedikit menciut mendengar suara Kyuhyun yang sedikit berbeda dari biasanya. Dia bingung dengan sikap Kyuhyun yang jauh berbeda dari sebelumnya.

"Kau memang begitu min. Kau seakan tak mempedulikan keberadaanku. Kau hanya kasihan saja kan padaku karna melihat aku yang bagaikan manusia gila beberapa tahun yang lalu?"

"Aniyo,aniyo Kyunnie. Aku tak menganggapmu seperti itu. Jebal jangan berpikiran seperti itu padaku. Aku selalu dan selalu mempedulikan keberadaanmu"

"Kalau begitu coba kau katakan,kau anggap aku sebagai siapa didalam hatimu?"

Lagi-Lagi Sungmin hanya bisa terdiam dan menggigit pelan bibir bawahnya. Ia kembali bimbang dengan jawaban yang akan ia lontarkan pada Kyuhyun. Ia menyayangi Kyuhyun,tapi apa benar perasaan itu hanya sebatas rasa sayang dari seorang Hyung kepada dongsaengnya?

.

.

.

.

.

Sungmin terduduk manis di ranjang milik sahabatnya, sambil sesekali meminum jus labu yang baru saja ia dapatkan dari sahabat lamanya—Donghae. Matanya memandang lurus kea rah depan dan mengahadap kea rah computer Donghae namun tatapannya begitu kosong. Ia tengah memikirkan sesuatu dan mencoba memastikannya. Melihat Sungmin yang hanya terdiam,Donghae pun memberanikan diri untuk duduk disisi Sungmin sambil menatap kea rah Sungmin.

"Ada masalah apa lagi,Kelinci kecil?"

Merasa mendengar dirinya disinggung, Sungmin pun akhirnya menoleh kearah Donghae yang tengah duduk dan tersenyum manis ke arahnya. "Jangan memanggilku seperti itu! Kau membuat ku menjadi teringat padanya"

"Pada siapa? Pada anak autis itu?" ejek Donghae sambil menyerobot jus yang berada ditangan Sungmin.

"Kukatakan padamu hae. Kyuhyun itu tidak autis,ia hanya sedikit terguncang di bagian otaknya saja saat mendengar kabar itu. Wajar saja kan seorang anak begitu merasa kehilangan saat ia ditinggalkan saudara yang begitu dekat dengannya?" Sungmin mulai merajuk mendengar Kyuhyun yang lagi-lagi dihina oleh Donghae.

"Kau membelanya lagi min"

"Tentu sja aku membelanya. Aku tidak suka kalau Kyunnie itu dihina walaupun kau sendiri yang menghina kyuhyun"

"Hemmm aku rasa ada yang semakin aneh pada uri bunnyming eoh? Kau tak sadar jika kau selalu bersikap aneh jika menyangkut anak aneh itu?"

"Eh? Aneh yang bagaimana?"

"Yahhhh misalnya seperti saat kau begitu antusias saat menceritakan Kyuhyun, kau yang begitu marah jika Kyuhyun dihina oleh teman-temannya termasuk diriku dan jangan lupakan wajahmu yang merona hebat saat kau bercerita bahwa semakin hari Kyuhyun memperlakukanmu bak seorang namja pada yeoja yang sangat ia sayangi. Bukankah itu aneh,mengingat dirimu yang hanya berniat menjaga Kyuhyun hingga menjadi seperti ini?"

"Entahlah,mungkin karna aku menyayanginya"

"Sebagai adik?" Tanya Donghae dengan raut penasaran.

"Tentu. Sebagai adik" ucap Sungmin yakin.

"Kau yakin?"

"Aku-"

DEGGG! Tiba-tiba ucapan Sungmin terhenti ketika ia merasa ada yang mencekat suaranya untuk tidak melanjutkan ucapannya. Hatinya seakan memaksa Sungmin untuk diam dan berpikir. Berpikir sebelum berucap dan bertindak. Seketika ia kembali memutar kembali memori saat-saat kebersamaannya bersama Kyuhyun. Saat yang begitu ia sukai dan begitu hangat ketika ia bersama Kyuhyun.

Sungmin tetap terdiam dalam posisinya. Matanya tetap terarah ke depan namun pikirannya entah kemana. Pandangan itu kosong,dan seketika bibir mungilnya mulai terbuka untuk mengucapkan sesuatu. "Apa aku mencintainya?" ucap Sungmin tanpa sadar.

"Sepertinya iya. Kau saja yang tak pernah menyadarinya"

"Apa kau yakin?" ucap Sungmin sambil tetap mempertahankan posisinya dan jangan lupakan tatapan matanya yang begitu kosong.

"Seharusnya kau tanyakan itu sendiri pada hatimu min. Tutup matamu dan lihatlah. Lihat,siapakah orang yang muncul meskipun kau tengah menutup matamu sekalipun? Bayangan siapa yang muncul saat kau tak memilih untuk menatap indahnya dunia ini walau sekejap? Dan setelah itu dengarlah. Suara siapa yang teringat dan terdengar jelas dalam ingatanmu saat dunia dalam keadaan senyap dan saat kau merasa sendiri? Itulah cara yang bisa kau gunakan agar kau mengetahui perasanmu sendiri"

Sungmin terdiam dan kemudian tersenyum manis mendengar ucapan Donghae. Seketika ia menutup matanya untuk beberapa menit dan Donghae pun memutuskan untuk meninggalkan Sungmin sendiri di dalam kamarnya. Setelah selesai menutup matanya,Sungmin pun kemudian membuka matanya perlahan dan detik itu juga ia langsung menatap cincin silver yang melingkar jelas di jarinya. Di kecupnya sekilas dan ia sentuh dengan sangat lembut seakan takut jika benda itu akan hancur meski hanya sentuhan ringan yang ia berikan. Ia pun tersenyum dalam diamnya mengingat sosok itu. "Aku memang mencintainya. Aku mencintai Kyuhyun-ku. Dia kekasihku. Dia bukanlah adikku. Adikku hanya satu dan itu bukan lah Kyuhyun" ucap Sungmin mantap.

.

.

.

At SiBum House

Namja manis itu hanya bisa berguling-guling di atas kasurnya sambil sesekali menenggelamkan wajahnya di balik boneka bunny yang ia dapat dari pemberian seseorang yang sedari tadi berhasil membuat namja manis itu uring-uringan karna wajahnya yang selalu terngiang di pikirannya setiap saat. Wajahnya merona saat mengingat kebiasaan Kyuhyun yang selalu menciumnya maupun Kyuhyun yang selalu sembarangan memeluk maupun melakukan hal intim lainnya selama ini. Ia begitu merutuki kebodohannya karna selama ini ia selalu saja mengelak saat namja itu menanyakan perasaannya terhadap Sungmin. Kegiatannya terhenti saat ia melihat sosok namja mungil tengah memeluk boneka jerapahnya dan berjalan menghampirinya.

"Hyung. Kau kenapa? Sepertinya kau sedang senang sekali?" ucap namja mungil itu dan kemudian ia pun beranjak ikut masuk ke dalam selimut yang digunakan oleh hyungnya itu.

Melihat adiknya yang ikut bersembunyi dibawah selimut bersamanya,ia pun langsung melempar boneka bunnynya dan memilih untuk mendekap erat namdongsaeng yang begitu ia sayangi.

"Apa aku terlihat seperti itu WookieBaby?"

" .. Kau sangat senang sekali hari ini. Kau bahkan terus tersenyum saat kita sedang makan malam bersama. Apa ada sesuatu hyung?"

Dengan cepat Sungmin menganggukkan kepalanya dan kemudian menciumi muka adiknya itu dari samping.

"Hyuuuunngg.. berhenti memperlakukanku seperti seorang bayi"

"Tapi kau memang seimut dan semanis baby,wookie-ah" ucap Sungmin dengan nada menggoda.

"Aku sudah besar. Aku sudah berusia 16 tahun hyunggggg.. berhentilah.. yakkk" Wookie mencoba menghindar dari pelukan Sungmin dan dengan cepat ia menutup mukanya itu dengan menggunakan boneka jerapah yang sedari tadi ia bawa.

"Jinjja? Kalau begitu coba tunjukan. Bawalah kekasihmu kemari dan buatlah hyungmu ini percaya jika kau memang sudah besar"

"SHIREO. Aku tak punya kekasih hyung"

"Itu berarti menandakan bahwa kau memang masih kecil,wookie-ah"

"YA! Meskipun begitu,aku juga sudah bisa merasakan jatuh cinta hyung. Aku sedang jatuh cinta dengan seseorang" ucap namja yang dipanggil dengan sebutan wookie itu dengan lantang.

"EH? Cinta? Tau apa kau tentang itu? hahahahaha lagipula siapakah manusia malang yang sudah berhasil mendapatkan hati adik kesayanganku ini eoh?" ucap Sungmin sambil mencolek hidung adiknya dan kemudian mencubit pipinya dengan gemas.

"Huh! Kau menyebalkan hyung"

"Hahaha,ne mianhae nae saeng. Hyung hanya bercanda. Coba katakan,siapa orang itu? namja atau yeoja?"

"Na,namja hyung.. Dia orang yang sangat tampan" ucapnya dengan malu-malu.

"Jinjja? Beritau aku Wookie,siapa orang itu? Apa aku mengenalnya?"

Sungmin pun berdiri dari posisi tidurnya dan diikuti oleh Wookie. Mereka berdua duduk saling berhadapan seakan seorang sahabat yang sedang bersama dan membicarakan masalah cinta di antara salah satunya.

"Na—namanya Cho Kyuhyun,hyung"

DEGGG! Senyum Sungmin yang merekah lebar kini beruabah menjadi wajah yang menyiratkan keterkejutan yang mendalam. Dia bergerak gelisah dalam duduknya. Berkali-kali dia meremas ujung piyamanya saat mendengar nama itu. 'Cho Kyuhyun siapa? Pasti bukan Kyuhyun-ku kan?' batin Sungmin.

Melihat kekegelisahan yang di pancarkan oleh Sungmin,Wookie pun kemudian menarik tangan Sungmin dan menggenggamnya. "Dia namja yang tampan,cerdas dan lucu. Aku suka sekali dengannya. Sangat,sangat suka. Tingkahnya juga sangat lucu hyung"

"Cho Kyuhyun? Kyuhyun siapa wookie-ah?"

"Dia teman satu sekolahku. Dia itu namja yang suka bermain PSP dan jangan lupakan kebiasaannya yang suka menjahili orang lain. Apa kau tau hyung? Kemarin baru saja aku menjadi 'Stalker' dan membuntuti dia. Dia sangat jahil,apa kau tau? Dia memasang sebuah kaitan di celana Seonsangnimnya dan setelah itu dia menariknya sampai-sampai boxer Changmin Seonsangnim itu kelihatan. Dan sampai akhirnya seluruh murid menertawakan guru itu. hahahahahaha kau pasti akan tertawa bila melihatnya" Wookie pun tertawa terbahak-bahak saat menceritakan kronologis kejadian itu sedangkan Sungmin yang sudah paham betul sifat Kyuhyun hanya bisa tersenyum miris.

"Hyung, gwaenchanaeyo?"

"Kenapa harus dia?" ucap Sungmin pelan.

"Eh? Hyung bilang apa tadi?"

Seketika Sungmin tersadar dari lamunannya dan sedetik kemudian ia pun menatap kembali dongsaengnya itu. "A,aniyo. Hahaha lain kali kau harus kenalkan dia pada hyungmu ini. Arraseo?"

"EH? Hyung,kau-"

"Eh,wookie-ah? Sepertinya aku merindukan Umma dan appa lagi. Tidak bertemu beberapa minggu membuat Hyung sangat merindukan mereka. Kajja kita temui mereka di bawah"

Tanpa mendengar persetujuan dari Wookie, Sungmin pun langsung menarik tangannya dan membawa Wookie untuk keluar dari kamarnya sambil mengenggam tangannya dengan erat. Tapi sebelum ia sampai di lantai bawah,langkah mereka tiba-tiba terhenti saat melihat kedua orangtuanya tengah sibuk dibawah sana. Di ruang tengah terlihat Siwon dan Kibum yang tengah mengurusi beberapa berkas dengan raut wajah yang sedikit kusut. Mereka pun memutuskan untuk memperhatikan orang tuanya dari atas sana tanpa ada suara sedikit pun.

"Bummie.. bagaimana keadaan perusahaan kita di NewYork? Apa masih baik-baik saja?"

"Tidak apa Wonnie. Keadaan perusahaan mu disana baik-baik saja. Hanya saja perusahaan kita di Jepang,Cina,dan Singapura sedikit ada masalah"

"Ya tuhan! Kenapa harus perusahaan itu?! Sial! Apa kita tidak bisa meminta bantuan dana pada perusahaan lain?"

"Bisa wonnie. Tapi itu masih kurang mengingat ketiga perusahaan itu ialah perusahaan ternama dan juga besar dan otomatis kita juga membutuhkan dana dari perusahaan yang berpengaruh juga. Tidak mungkin kita harus menggunakan perusahaan kita di New York sebagai perantara semuanya,bukan?"

Siwon mendesah berat. Dilepasnya kacamata yang ia kenakan dan menaruhnya di atas meja. Tak lupa Ki Bum sebagai istri yang baik pun mendekat dan memijat pelan bahu Siwon berusaha menghilangkan beban yang bertumpu dan semakin menumpuk di benak suaminya. "Kita harus sebisanya untuk berhemat. Kita kurangi kebutuhan yang tak penting dan tak terlalu dibutuhkan. Sebisanya kita harus berusaha jika bukan karna terdesak maka kita tak perlu melakukan pengeluaran secara besar-besaran. Kita kurangi juga beberapa pelayan yang bekerja dirumah ini. Bagaimana menurutmu chagi?"

Dengan cepat Ki Bum pun memeluk bahu suaminya dan tersenyum lembut ke arah Siwon menandakan ia akan selalu setuju apapun keputusan yang diambil oleh suaminya.

Sungmin menggigit bibir bawahnya melihat kedua orangtuanya yang tengah terhimpit dalam masalah perusahaannya itu. Ia merasa bersalah karna ia sempat menolak saat mereka menawarkan Sungmin untuk masuk ke dalam universitas yang mempelajari bidang Bisnis. Dia lebih memilih jika ia sudah lulus nanti,dia ingin bekerja menjadi seorang Idola. Dia mempunyai impian untuk bernanyi diatas panggung megah dengan beribu orang yang akan meneriakan namanya saat ia selesai bernyanyi. Untuk itu dia memilih Universitas yang hanya mengacu pada pembelajaran Drama,Musikal,dan hal-hal seni ataupun lainnya. Dan tentu saja,Universitas seperti itu ialah universitas khusus dengan uang masuk yang sangat besar mengingat hanya beberapa orang saja yang hanya bisa masuk ke dalam Universitas itu. Sekilas ia melihat sosok adiknya yang hanya bisa terdiam melihat kedua orangtuanya sedang kesusahan itu. merasa dipandangi,wookie pun menoleh ke arah Hyungnya sambil tersenyum manis.

"Ada apa hyung?"

Sungmin pun mendesah dan sedetik kemudian ia pun mengacak-acak surai hitam legam milik adiknya. "Apa kau tak apa-apa jika aku pergi?"

Raut muka Wookie mendadak mengeras mendengar ucapan hyungnya itu. Pegangannya pada boneka jerapah pemberian Sungmin itu semakin mengeras. Wookie benci sendiri,wookie benci ditinggalkan. "Aku tidak suka jika kau mengatakan hal itu lagi hyung. Sudah kukatakan aku tak mau jika kau pergi meninggalkanku"

"Aku juga sudah mengatakannya,bukan? Aku tak akan pergi jauh. Aku hanya ingin pergi dan belajar mandiri saja"

"Tapi kemana hyung?" Ucap Wookie sambil bersiap mengeluarkan air matanya.

"Shhhhh.. namja itu tidak boleh menangis. Tenang saja,hyung akan pindah tidak jauh dari sini,Hyung akan pindah ke rumah Donghae untuk sementara. Jika kau rindu atau membutuhkanku,kau bisa datang saja kerumahnya"

"Ta,tapi kenapa?" Wookie semakin terisak dan mulai memeluk tubuh Sungmin hingga membuat kemeja bagian bahunya mulai basah karna air mata Wookie.

"Karna aku sudah cukup menyusahkan kalian. Biar aku saja yang pergi. Dan jangan katakan apapun pada umma dan appa tentang tempat tinggalku ne"

"SHIREOOO.."

"Jebal wookie-ah. Berjanjilah padaku. Janji antar lelaki"

Wookie terdiam. Isakannya sudah mulai berkurang namun ia masih saja tetap menangis. Didongakkan kepalanya itu menghadap Sungmin dan tersenyum tipis. "Hyung pasti mau kan menemui Wookie lagi?"

"Hyung janji wookie-ah"

"Kalau begitu. Mana buktinya? Setidaknya berikan aku sesuatu yang berharga darimu. Benda itu akan kujaga sebagai bukti bahwa kau tidak akan meninggalkanku"

Sungmin terlihat berpikir. Dia bingung benda apa yang termasuk dalam benda berharga dalam dirinya. Ia hanya punya Handphone,Ipad dan..

"Kalau kau bingung,kau bisa berikan cincinmu padaku hyung"

"EH?" Sungmin terkejut dengan ucapan Wookie barusan. Ia menatap cincinnya kemudian menatap ke arah adiknya dengan cepat.

"Sepertinya itu sangat berarti untukmu? Aku melihatnya sebelum masuk ke dalam kamarmu hyung. Kau selalu saja menciumi cincin itu terus menerus. Aku rasa itu sangat berharga unutkmu"

Sungmin menggeleng pelan mendengar penuturan dari adik angkat satu-satunya itu. Ia tidak sanggup jika memberikan benda itu pada siapapun. Itu terlalu berharga. Cincin itulah salah satu benda yang mengikatnya dengan namja yang ia cintai.

"Tidak bisa? Apa itu berarti hyung memang tidak mau menemuiku lagi?"

"A,aniya.. bukan seperti itu. Hanya saja—"

"Apa cincin itu lebih penting dariku?"

Sungmin bimbang. Dia tidak bisa memilih mana yang akan ia pilih. Dua-duanya juga sangat berharga dalam dirinya,dalam hidupnya. Dia menundukan kepalanya dalam-dalam. Berulang kali dia berdoa dalam hati semoga saja keputusannya itu tidak salah kali ini. Ia pun melepaskan cincinnya dan kemudian memberikannya pada Wookie. "Berjanjilah bahwa kau akan menjaganya dengan baik. Benda itu sangat berharga untukku"

Wookie pun tersenyum manis mendengarnya dan dengan cepat ia pun mengangguk. "Aku berjanji hyung. Cincin ini sangat indah,jadi akan kujaga dengan sangat amat hati-hati"

.

.

.

Namja tampan itu terduduk dengan tenang di bangku taman sambil memainkan PSP di tangannya. Sesekali mulutnya itu akan mengucapkan beberapa sumpah serapah saat melihat permainannya nyaris kalah maupun diserang oleh musuh. Sedangkan namja manis disampingnya hanya bisa sweatdrop karna merasa dirinya seakan dicampakan. 'Balas dendam,eoh?' batin Sungmin.

"Dengarkan aku,Kyu. Aku kan sudah bilang jangan campakan namjachingumu ini" ucap Sungmin yang entah sudah yang ke berapa kalinya.

"Kau aneh. Tiba-tiba datang dan mengatakan hal seperti itu" Kyuhyun kembali merajuk. Mulutnya ia kerucutkan dan memilih mempause kan PSP nya.

"Apa kau tak senang jika aku mencintaimu?"

"A,aniyo. Tentu saja aku sangat amat senang. Aku senang karna kau pun juga mencintaiku hyung. Aku senang jika perasaanku juga terbalas"

"Kalau begitu. Kenapa kau tak mempercayaiku eoh?"

Kyuhyun menunduk. Dia tak sanggup memperlihatkan raut wajahnya yang baginya sangat menyedihkan itu ke arah Sungmin. "Aku hanya takut jika kau tak mencintaiku. Sedangkan aku benar-benar mencintaimu"

Sungmin tersenyum dan kemudian meraih tangan Kyuhyun dan membawanya ke arah dadanya. Membawa tangan Kyuhyun untuk merasakan detak jantungnya yang berdebar dengan sangat kencang.

"Min,jan-jantungmu kenapa?"

"Dasar pabbbo. Ini semua karnamu. Karna aku sekarang sedang berada didekatmu. Karna adanya kau disinilah jantungku bisa berdesir sekuat ini. Karna kau dan itu semua hanya karna Cho Kyuhyun. Saranghae Kyuhyun"

Kyuhyun terdiam mendengar ucapan Sungmin yang baginya terdengar sangat indah detik itu juga. Matanya berkaca-kaca melihat kesungguhan hati Sungmin yang tersirat jelas di matanya. Kyuhyun kemudian dengan cepat menarik tubuh Sungmin dan membawanya dalam pelukannya. Memeluknya dengan erat dan menenggelamkan wajahnya ke dalam ceruk leher Sungmin. Setelah puas memeluk Sungmin,Kyuhyun pun kemudian langsung menarik tangan Sungmin untuk membawanya ke suatu tempat.

"Cha.. chakkaman Kyuhyun. Kau akan membawaku kemana?" ucap Sungmin dengan kesulitan karna Kyuhyun yang membawanya sambil berlari melewati jalanan yang entah kenapa sedang sangat ramai seperti ini.

"Ummaku kebetulan sedang ada di rumah hyung. Kita akan pergi menemuinya sekarang"

"ha,hajiman—hahhh..hahh.. aku tidak kauu mengajaaku menikah. Terlalu cepat"

"Apa saja akan umma turuti karna itu adalah permintaan ku. Anak satu-satunya sekarang hyung" dengan satu helaan nafas Kyuhyun berhasil mengucapkannya.

Mereka terus berlari dan berlari. Bahkan mereka sama sekali tak mempedulikan ramainya jalanan Seoul siang itu. Mereka berjalan sambil bergandengan tangan dan ikut bergabung dalam gerombolan pejalan kaki yang ingin menyebrang. Karna banyaknya pejalan kaki saat itu,pegangan tangan Sungmin tiba-tiba terlepas dari tangan Kyuhyun saat ada seseorang yang mencoba untuk mendahului mereka. Sungmin yang berpikir bahwa Kyuhyun sudah mendahuluinya,dengan cepat ia berjalan dan mencari sosok Kyuhyun. Sedangkan Kyuhyun masih berada di tengah kerumunan itu sambil menengok ke arah kanan dan kiri untuk mencari Sungmin. Hingga tersisa orang terakhir di belakangnya,Kyuhyun pun tersadar jika ternyata Sungmin sudah berada jauh di depannya. Ketika ia akan berlari,tiba-tiba lampu yang semula berwarna merah kini berubah dengan cepat dan berganti menjadi warna hijau.

Sedan hitam itu melaju dengan sangat cepat melebihi batas maksimal kecepatan yang sudah ditetapkan di Seoul. Pengemudi itu terus melajukan mobilnya hingga ia tak bisa menyadari bahwa di depannya terdapat sesosok orang yang tengah berusaha berlari dan mencari kekasihnya. Hingga akhirnya..

CIIITTT! BRAKKK!

Bunyi gesekan keras antara roda mobil itu dan aspal terdengar sangat mengerikan bagi siapa saja yang mendengarnya. Dan jangan lupakan suara itu. Suara antara benturan dari kerasnya mesin mobil dengan tulang milik seseorang hingga menimbulkan bunyi mengerikan menandakan kerasnya tabrakan yang telah menimpa orang itu. Tubuh itu—tubuh itu tertabrak dan terpental dengan sangat jauh. Dan tergeletak tepat tak jauh beberapa meter di tempat kekasihnya itu berdiri..

.

.

.

Tangan Sungmin bergetar hebat. Dirinya tidak bisa melakukan apa-apa saat ini. Hanya bisa berdoa dan terus berdoa. Namja yang sedang berada di samping Sungmin juga hanya bisa terdiam. Ia juga tak kalah takutnya dari seseorang yang berada di sampingnya. Sungmin menelepon namja itu karna ia tak tau lagi siapa yang bisa ia hubungi untuk menemaninya selama di rumah sakit. Ia sangat ketakutan dan ia membutuhkan seorang teman. Dan ia lebih memilih untuk menelepon adiknya – Wookie,yang entah kenapa nama itu langsung terbesit begitu saja di benaknya

"Aku tau hyung. Aku tau jika Kyuhyun itu kekasihmu"

Sungmin terdiam. Dengan cepat ia tolehkan wajahnya ke arah Wookie tanpa mengucapkan apapun.

"Aku mengenalnya karna kau hyung. Aku selalu mengikuti saat kau pergi sepulang maupun sebelum berangkat sekolah. Aku mengenalnya juga karna dirimu"

Lagi-lagi Sungmin terdiam. Ia mengijinkan Wookie untuk berucap lebih untuk sekedar mengurangi rasa takutnya. "Sejak saat itu aku semakin tertarik untuk membuntuti kegiatan kalian berdua. Hingga akhirnya aku hanya menjadi 'Stalker' Kyuhyun. Dan entah sejak kapan pula aku menjadi sangat mencintainya. Setiap malam aku Berharap agar tuhan bisa memberiku kesempatan untuk bisa mengajaknya berbicara walau hanya sebentar"

Hening. Dalam beberapa menit hanya suasana heninglah yang mengisi keberadaan mereka. Hingga akhirnya Wookie menghela nafasnya dengan berat. "Hyung—" panggilnya dengan sedikit parau.

Sungmin pun menolehkan kepalanya. "Ne wookie-ah?"

"Bolehkah?"

"Hmm? Kenapa?"

"Bolehkah biar aku saja yang menggantikanmu untuk menjaganya sementara?"

###TBC###

a/n: Astaga.. ini chap terpanjang yang pernah Debbie bikin. Dan maka dari itu jangan bilang ini pendek lagi ya.

Buat yang bilang umur ming ketuaan buat jadi anak SMU sebenarnya itu justru umur yang wajar bagi pelajar SMU di Korea. Silahkan membaca komik Korea dengan judul 'Sweety' karangan Park Jae Sung dan Kim Ju Ri. Disitu tokoh utama yang namja (Yun Myongho) aja masih berusia 18 tahun tapi masih menjadi kelas 2 SMU. Jadi Debbie sama sekali ga ngarang ya. Debbie cari di nyai google juga itu adalah umur kisaran pelajar korea kecuali jika anak itu cerdas maka bisa naik kelas dengan cepat.

Buat yang bilang Debbie mungkin agak ngasal di bagian rontgen atau semacamnya,itu juga Debbie ga ngarang. Debbie tau karna Debbie suka sekali membaca buku tentang Korea. Dan sekali lagi,peralatan indonesia dengan Korea itu sangat berbeda jauh dalam segi kualitas maupun apapun. Di Indonesia memang mungkin lama dalam hasil penelitian organ dalam,tapi di Korea yang alatnya udh canggih bgt itu bisa hanya dilakukan dalam beberapa menit. Begitu juga dgn FF Debbie yang It Was Destiny. Debbie udh tanya-tanya langsung sama guru biologi Debbie jadi Debbie ga ngarang sama sekali.. Dan maaf jika bahasa penulisan Debbie mungkin masih berantakan.. oh ya Kritik boleh bgt,tapi kalimatnya jangan kasar-kasar ya.. Debbie juga punya perasaan.. hikss T-T

MAKASIH BUAT YANG UDH REVIEW.. HIKSS.. AKU CINTA KALIAN BEUDTTT :D *BOW 30 MENIT* #ENCOK DAH. Yang mau tanya silahkan,jika ada waktu pasti akan ku jawab lewat PM.

SILENT READERS = SUPER SLOW UPDATE.

Jangan salahkan Debbie kalau bakal update lama. Ngeliat readersnya banyak tapi yang review dikit. Miris.. #pundung