Tittle : That Should Be Me

Pairing: KyuMin,YeWook,EunHae

Rate: T

Warn: BL,YAOI,M-PREG

Disclaimer: Kyuhyun dan Sungmin itu saling memiliki. Tapi Sungmin juga milik saya. Yang jelas mereka milik Tuhan,orang tua,nenek,kakek dan sapa aja dah.. Saya hanya pinjam nama. Saya hanyalah yeoja yg Fujoshi dan M-Preg akut

DON'T LIKE DONT READ . Yang ga suka YAOI atau sesuatu di FF ini tinggal cabut aja dah. Gampang kan?

Previous Chapter-

"Biar saja,apa pedulimu eoh?"

"Tentu saja aku peduli dan aku hanya peduli padamu" Yesung menjawab dengan tegas dalam nada bicaranya membuat Ryeowook sedikit tersentak.

"Eh kau bicara apa tadi?" Ryeowook sedikit terdiam mendengar ucapan Yesung barusan.

"Hahaha sudahlah Wookie-ya,lupakan ucapanku tadi. Aku akan datang besok ke rumahmu. Sekarang aku sedang sibuk membuat soal,jadi kau tidurlah. Annyeong"

"Oh,ne ne. Annyeong"

Setelah menutup sambungan telpon itu, Wookie langsung melemparkan Handphonenya ke sembarang arah dan memalingkan wajahnya menghadap jendela kamarnya yang masih terbuka.

"Jo-Jong Woon? Dia bukan Jong woon yang pernah aku kenal kan?" Tanyanya entah pada siapa.

Namun sedetik kemudian pandangannya beralih lurus kedepan dengan tatapan kosong tanpa menyiratkan apapun.

"Tidak mungkin dia Woonie. Jong woon yang aku kenal sudah meninggal 11 tahun yang lalu"

++_++ That Should Be Me ++_++

Namja imut itu tengah serius berkutat di dapur yang berada di dalam rumah mewah milik suaminya itu. Ia sedari tadi berjalan kesana kemari saat mencoba untuk menyiapkan hidangan yang tengah ditunggu-tunggu kehadirannya oleh namja tampan berkacamata di ruang tengah. Namja imut yang biasa dipanggil Wookie itu kemudian menuangkan Samgyetang-nya ke dalam mangkuk khusus yang biasa dipakai olehnya saat sang umma mertua datang berkunjung ke kediaman mereka.

"Dasar manusia merepotkan" Sambil mengumpat,Wookie pun melangkahkan kakinya menuju ruang tengah dimana namja yang ia umpat sedang terduduk sambil menulis beberapa soal di atas kertas.

Namja tampan itu pun mendongakkan kepalanya saat ia mendengar langkah milik seseorang tengah datang mendekat ke arahnya. Senyum manis pun tak lupa ia perlihatkan saat melihat Wookie tengah kerepotan membawa mangkok panas berisi Samgyetang kemudian meletakannya diatas meja.

Dahi namja berkacamata itu berkerut saat melihat isi di dalam mangkok. Ia berpikir bahwa ia merasa tidak pernah meminta makanan itu sebelumnya. "Kenapa harus Samgyetang? Kau bilang akan memberiku Bulgogi?" Tanyanya.

"Bulgogi sudah habis,Yesung hyung"

"Kalau begitu kenapa tidak Samgyupsal saja?"

"Tokonya baru saja tutup 30 menit yang lalu saat aku sampai disana"

"Kenapa tidak Bibimbap saja yang kau berikan padaku?"

"Aku takut jika kau bukan vegetarian dan tidak menyukai sayuran seperti Kyuhyun" Ujarnya mencoba untuk bersabar.

"YA! Jangan samakan aku dengan suamimu itu. Daripada ini kenapa tidak Soon Dubu eoh?" Namja itu berkata dengan nada datar tanpa rasa bersalah sedikit pun.

Wookie mulai geram. Tangannya mengepal erat seakan siap menghantam namja di depannya dengan tinju yang ia punya. Dipejamkannya dengan erat mata caramel-nya itu dan mengelus dadanya pelan. 'Jangan pikirkan dia. Pikirkan hal yang menyenangkan. Hal yang menyenangkan. Hal yang menyenangkan' Namja imut itu terus mencoba untuk memikirkan hal yang menyenangkan agar dapat meredam amarahnya yang menumpuk. Setelah merasa amarahnya mulai reda,ia pun membuka matanya dan mencoba untuk tersenyum.

"Kau pasti tau kan jika makanan itu biasanya di beri udang atau kerang? Aku hanya takut jika kau ternyata memiliki alergi pada makanan tertentu dan jika aku tetap membelikannya bisa-bisa makanan itu akan terbuang dengan percuma. Tidak sedikit kan manusia yang memiliki alergi seperti itu?"

Yesung terdiam. Bibirnya sedikit ia kerucutkan sambil menaruh jari telunjuk di dagu miliknya. "Benar juga. Aku memang sedikit merasa gatal jika memakan salah satunya. Tapi kenapa yang kau khawatirkan itu bukannya aku tapi malah justru makanan nya yang akan terbuang dengan percuma? Kau tidak mengkhawatirkanku eoh?" Ucapnya dengan nada sedih dibuat-buat.

"Ya aku memang mengkhawatirkanmu" Wookie pun menjawab pertanyaan Yesung dengan cepat.

Yesung sedikit tersentak mendengarnya. Tiba-tiba binar-binar kebahagiaan muncul begitu saja di mata Yesung saat mendengar Wookie mengkhawatirkannya. "Jinjja? Apakah benar itu?" Tanya Yesung dengan antusias tinggi.

"Tentu saja aku khawatir padamu. Jika kau tidak datang,siapa lagi yang akan membantuku membersihkan kamar?" Jawab Wookie dengan nada datar dan dengan tampangnya yang super polos.

Hati Yesung mencelos seketika. Kebahagiaan yang baru saja ia dapat tiba-tiba menguap entah kemana. Ia pun menundukan kepalanya dan kemudian mengambil pisau kecil dan garpu yang terletak di atas meja. Memotong daging ayam itu dengan kasar dan menusuknya dengan garpu kemudian memakannya dengan cepat. 'Hanya dianggap pembantu eoh?' Ucapnya dalam hati.

Wookie sedikit terkikik melihat ekspresi Yesung yang mendadak berubah menjadi suram. Aura hitam tiba-tiba saja menguar dari tubuhnya seakan-akan sedang menggambarkan bagaimana sedihnya hati seorang Yesung saat ini.

"Hahahahaha kau kenapa Sungie? Merasa tidak suka dengan ucapanku?" Wookie mencoba bertanya kepada Yesung saat melihat Yesung hampir selesai menghabiskan satu porsi Samgyetang.

Yesung pun menggeleng lemah sambil menggigit garpunya. Diletakannya kacamata Y-Style favoritenya itu ke atas meja dan menatap sendu kea rah Wookie. Ekspresinya benar-benar seperti bocah berumur lima tahun yang tengah memasang tampang memelas saat tak di ijinkan makan Ice Cream oleh ibunya.

"Hahahahaha kau semakin membuatku tidak bisa berhenti tertawa. Tampang memelas yang kau gunakan sama sekali tak berguna"

"Aishhh kau sama sekali tidak menyenangkan" Dengus Yesung.

Wookie pun kemudian mencoba menghentikan tawanya dan menatap datar kea rah Yesung. "Lalu kau ingin aku berkata apa? Bukannya kau memang selalu membantuku membersihkan kamar saat jam belajar selesai?"

"Setidaknya kau mengatakan 'Tentu saja aku mengkhawatirkanmu. Jika kau sakit,bisa-bisa aku tidak dapat bertemu lagi denganmu. Aku tak akan kuat jika memendam rasa rindu terlalu lama padamu,Hyung' Nah seperti itu" Ucap Yesung sambil menirukan suara Wookie yang sudah pasti amat sangat tidak mirip.

Wookie sedikit mengangkat satu alisnya pertanda ia bingung dengan ucapan Yesung. Namun sedetik kemudian ia pun mengerti dan mulai menyunggingkan senyuman yang terksesan meremehkan kea rah Yesung. "Jangan harap aku akan berkata semanis itu padamu"

"Kenapa?"

"Karna aku hanya akan bersikap manis pada Kyuhyun. Orang asing hanya mengganggu"

"Benarkah kalau aku hanya orang asing untukmu?"

Wookie pun menganggukan kepalanya dan mulai menjawab pertanyaan Yesung. "Memang kenyataannya seperti itu kan? Aku tidak ingin terlalu baik pada orang asing. Orang asing memang tidak perlu mendapatkannya"

Yesung pun terdiam. Otaknya sedikit berfikir dengan apa yang baru saja Wookie katakan padanya. Entah mengapa ucapan Wookie barusan seperti mengandung arti yang tersirat.

'Dia memperlakukanku dengan baik walaupun ia tau bahwa aku hanya lah orang asing dirumahnya. Hingga akhirnya ia membenciku karna aku menghancurkan kebaikannya'

Yesung sedikit mengulas senyum di bibir manisnya. Entah mengapa suara Donghae muncul begitu saja dipikirannya. Membuat dia kembali mengingat kejadian mencekamnya bersama Donghae dan Eunhyuk. "Jjja. Lupakan semuanya. Lebih baik kita belajar saja" Ujar Yesung sambil memberikan secarik kertas.

Wookie sedikit mengerutkan dahinya pertanda ia tak suka memandang deretan angka yang tertulis diatas secarik kertas putih tersebut. Mulutnya sedikit berdecih mengingat tujuan awalnya memanggil Yesung bukanlah untuk belajar namun karna ada alasan yang lebih khusus. "Aku akan mengerjakannya tapi jawab pertanyaanku dulu"

Yesung pun mengalihkan pandangannya dari Iphone yang baru saja ia pegang dan menatap lembut kea rah Wookie. "Kau mau bertanya apa hmm?"

"Sekarang kau tinggal dimana?"

"Di Apartement" Jawab Yesung dengan ekspresi khasnya- polos.

"Apartement yang berada dimana?"

"Di Seoul"

"Aissshhh arraseo. Tapi di bagian mananya? Seoul itu luas dan besar sebesar kepalamu"

Yesung sedikit mengerucutkan bibirnya sebentar,namun sedetik kemudian ia mulai menjawab pertanyaan Wookie. "Dekat kok. Dari sini kau hanya tinggal mencari bus dan pergi ke Supermarket di jalan MyongJul"

"YA! Di MyongJul tidak ada Supermarket. Jika pun ada sudah dipastikan mereka akan bangkrut karna kalah saing dengan Mall disana"

"Ada Wookie-baby. Supermarket yang besar sekali itu. Yang katanya menjual apa saja di dalamnya. Masa kau tidak tau?"

"Dasar pabbo. Itu Mall. Itu mall milik keluarga Cho. Mana mau Mall milik suamiku kau anggap Supermarket yang biasa saja" Ucap Wookie dengan ketus.

"Aishhh apalah itu terserah,pentingnya kau cari saja disana. Di dekat Mall kan ada Apartement besar. Kau masuk saja. Aku berada di lantai 7"

"Hmm begitu? Kalau misalnya-

"Wookie-ya kemari sebentar. Aku ingin berbicara sesuatu" Kyuhyun tiba-tiba muncul begitu saja di hadapan Wookie dan langsung menariknya menuju dapur.

"Ada apa Kyu?" Tanya Wookie.

"Kenapa ada Yesung hyung? Kau bilang jika Yesung hyung sedang kau liburkan beberapa hari ini?" Kyuhyun bertanya sambil membelai rambut Wookie dengan lembut.

"Ahh masalah itu.. Aku sedikit bosan,aku kan tak ingin bodoh Kyu makanya aku panggil dia kemari"

Kyuhyun sedikit memicingkan matanya kea rah Wookie setelah mendengar jawaban dari salah satu istrinya itu.

"Pasti ada maksud tertentu. Wajahmu mudah sekali ditebak" Sungmin yang sedari tadi duduk di kursi sambil meminum susu coklat buatan Kyuhyun pun tiba-tiba ikut berkomentar.

"A,aniya. Kau jangan sok tau Sungmin. Kau tinggal duduk diam dan urusi saja anakmu itu" Jawab Wookie sedikit panic.

"Ya ya. Aku percaya padamu. Tak usah bertengkar chagi" Kyuhyun pun mencoba menengahi keduanya yang sepertinya akan menjadi mengerikan jika dibiarkan terlalu lama.

"Kau memang harus selalu mempercayaiku Kyu" Ucap Wookie final.

.

.

.

.

.

Namja tampan itu sedari tadi tak henti-hentinya melayangkan pandangannya pada taburan bintang di langit malam kota Seoul. Meskipun begitu, pemikirannya tetap tengah memikirkan hal lain yang selalu mengganggu hidupnya. Tangisan histeris yang tiba-tiba muncul dalam ingatannya entah mengapa sedikit menyunggingkan senyuman meremehkan yang ia tujukan pada dirinya sendiri. Tangannya tergepal seakan ingin sekali ia layangkan tinju itu pada wajah tampannya.

"Aku harus bagaimana? Apa yang harus kulakukan?"

Setelah puas memandangi langit berbintang berjam-jam,ia pun segera melangkahkan kakinya menuju ruang tengah. Dia pun menyunggingkan senyum menawan di bibirnya setelah melihat seorang namja yang ia sayangi tengah terduduk diatas sofa.

"Merasa tak enak badan?" Tanyanya pada namja yang ia kenal bernama Hyukkie.

"Aku baik-baik saja"

"Tidurlah di kamarku. Biar aku tidur disini saja" Namja tampan itu pun bergegas pergi dari hadapannya untuk pergi ke suatu tempat. Namun tak sampai beberapa langkah ia berjalan,tiba-tiba suara Hyukkie memanggilnya.

"A,aniya. Chakkaman Donghae-ya"

Namja yang baru saja dipanggil dengan panggilan Donghae pun sontak menghentikan langkahnya dan memandang sejenak ke arah Hyukkie. Melihat ekspresi sahabatnya yang sedikit gelisah,ia pun memutuskan untuk berbalik arah dan kemudian memposisikan dirinya untuk duduk bersila di hadapan Hyukkie.

"Apa kau tak ingin melihat keadaannya?" Hyukkie pun akhirnya berani untuk menanyakan sebuah pertanyaan yang berhasil menggugah hatinya sedari tadi.

Donghae sedikit mengangkat satu alisnya pertanda bingung dengan ucapan Hyukkie. Jujur saja,ia tak tau siapa yang tengah dibicarakan oleh pemuda manis dihadapannya sekarang. "Nugu Hyukkie-ya?"

"Ermm dia- Pemuda itu" Jawabnya dengan sedikit ragu. Nampaknya dia sedikit canggung untuk sekedar menyebut nama seseorang yang ia maksud.

"Siapa yang kau maksud Hyukkie? Katakan saja" Donghae pun menggenggam erat tangan Hyukkie yang sedikit dingin dan memucat. Sedikit menyalurkan rasa hangat yang berada di tubuhnya meskipun ia tau itu tak akan berpengaruh banyak.

Hyukkie sedikit menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Namun sedetik kemudian ia pun berani mendongakkan kepalanya dan menatap lembut mata Donghae. "Tentu saja dia. Cho Ryeowook"

Donghae terdiam mendengar nama yang baru saja disebut Hyukkie. Sedikit malas memang, namun ia pun mencoba untuk menjawabnya. "Aku jauh lebih ingin melihat keadaan anaknya. Dia sudah tumbuh sebesar itu dan aku ingin sekali menengoknya"

"Kalau begitu temuilah dia. Dia pasti-"

"Dia pasti akan takut melihatku jika aku pergi menemuinya" Donghae pun memotong ucapan Hyukkie dengan cepat.

"Be,benarkah? Aku yakin dia pasti tau jika anak yang ia kandung bukan anak milik Kyuhyun" Jawab Hyukkie dengan nada yang penuh dengan kesedihan.

Donghae pun menyunggingkan senyuman manisnya kea rah Hyukkie dan membelai lembut pipi mulusnya itu. "Tentu. Dia tak akan mungkin melupakan kejadian itu"

.

.

.

8 Months ago~

Dia tersenyum dengan manisnya menghadap kea rah taburan bintang yang menghiasi malam indah kota Seoul. Hatinya begitu bahagia mengingat namanya dan juga posisinya kini berganti menjadi apa yang ia inginkan selama ini. Menjadi Nyonya Cho adalah suatu hal yang sangat ia syukuri mengingat usahanya yang tak mudah selama ini untuk mendapatkannya.

"Chaggy kemarilah. Udara malam tak baik untukmu" Kyuhyun pun tiba-tiba muncul dan langsung memeluk tubuh mungil itu dari belakang.

"Baiklah Kyu. Aku akan ke ruang tengah bersamamu"

Mereka pun berjalan beriringan sambil bergandengan tangan bersama menuju ruang tengah. Tetapi tiba-tiba namja imut itu sedikit mengernyitkan dahinya melihat seseorang yang tengah duduk di atas sofa sambil berbicara dengan namja manis yang tepat duduk di sebelahnya.

"Itukan Donghae Hyung,Kyu. Tumben kau mau mengijinkan orang lain untuk masuk kesini?" Bisiknya dengan pelan ke telinga milik Suami tercintanya.

Sang suami pun hanya tersenyum manis mendengarnya. Dimatanya itu,apa yang dilakukan istri pertamanya ini benar-benar terlihat menggemaskan layaknya seorang bocah berusia lima tahun. "Sungmin bilang, namja bernama Lee Donghae itu sahabat dekatnya. Mana mungkin aku melarangnya untuk bertamu kemari kan?"

Mereka pun berjalan mendekat kea rah keduanya yang tengah sibuk berbicara dengan serius di ruang tengah. Dia dapat melihat dengan jelas wajah milik sang namja manis sedikit meneteskan air matanya ketika berbicara dengan namja bernama Donghae. Sepertinya hanya ia yang menyadari air mata namja itu,karna suami yang berada di sebelahnya tengah sibuk berkutat dengan IPad yang sedari tadi ia bawa.

Entah apa yang sedang dibicarakan oleh keduanya, tiba-tiba sedetik kemudian matanya bertemu pandang dengan Donghae hingga entah mengapa berhasil membuat nyalinya sedikit ciut. Tatapan tajamnya yang begitu mengerikan membuatnya berpaling menghadap Kyuhyun yang berada di sebelahnya.

"Ahh Sungmin-ah, sepertinya kita melupakan sesuatu?" Kyuhyun pun mendekat kea rah Sungmin namun pandangannya tetap tak teralihkan dari IPad di tangannya.

Namja manis itu pun dengan cepat menghapus air matanya saat ia menyadari bahwa suaminya itu tengah berjalan ke arahnya. "Melupakan apa Kyu?"

"Sepertinya kita belum mengambil baju seragam yang kau titipkan di tempat Laundry min. Kau pasti tak lupa kan jika besok kita masih harus berangkat sekolah?"

Sungmin pun tiba-tiba berdiri dari tempatnya dan menatap jam dinding yang terpasang di ruang tengah. Sedikit terkejut melihat dua jarum jam itu, ia pun bergegas menuju kamar dan mengambil mantelnya.

"Kau mau kemana Min?" Tanya Kyuhyun pada istrinya yang tengah sibuk memasangkan mantel di tubuh mulusnya.

"Aku lupa mengambilnya tadi siang Kyu. Sekarang sudah jam setengah 10 malam,sebentar lagi tempat itu akan tutup dan besok tempat itu tak akan dibuka sesuai jadwal yang tertulis"

"Jinjja? Aissshh kau itu pelupa sekali. Lalu kau akan kesana menggunakan apa?"

"Aku bisa menggunakan taksi Kyu. Kau tenang saja"

"Taksi kau bilang? Malam-malam begini?"

"Tenang saja. Aku bisa jaga diri Kyu. Lagipula ini kan akibat dari kelalaianku"

"Meskipun begitu tetap saja berbahaya. Bagaimana kalau misalnya supir taksi itu adalah seorang penjahat yang menyamar? Kau pasti tak tau kan?"

"Tapi Kyu-"

"Aku tak menerima penolakan apapun Min. Biar aku yang akan mengantarmu" Ucap Kyuhyun final.

Sungmin pun sedikit menyunggingkan senyum manisnya setelah mendengar beberapa penolakan dari suaminya yang sarat akan ke khawatiran. "Arraseo Kyu. Kalau begitu kita pergi sekarang"

Mendengar Sungmin dan Kyuhyun yang akan pergi bersama,Wookie pun sedikit merasa tak rela hingga akhirnya ia memegang lengan Kyuhyun bermaksud untuk mencegahnya.

"Ada apa Chaggy?"

"A,aku ikut Kyu" Rajuk Wookie pada suaminya sedangkan Sungmin yang melihatnya hanya bisa terdiam dan mengalihkan pandangannya kea rah lain.

"Aku hanya pergi sebentar saja. Lagipula aku akan menggunakan motor untuk mempercepat waktu. Tempat Laundry-nya sudah hampir tutup dan aku tak mau jika besok kita harus membolos hanya karna alasan tak ada seragam yang akan kita kenakan" Bujuknya pada Wookie.

"Kalau begitu kita pergi berdua saja" Rayu Ryewook pada suaminya.

"Apa kau yakin tau dimana letak tempat Laundry itu? Yang menaruh seragam kita disana kan Sungmin. Dan yang tau tempatnya secara detail pasti dia" Bujuk Kyuhyun pada Ryeowook yang masih sibuk memegangi lengannya.

"Ne. Tempatnya sedikit jauh dari keramaian dan agak sulit untuk dijelaskan" Ucap Sungmin dengan senyum sinis mengembang di wajahnya. Sepertinya dia paham jika namja yang pernah menjadi adiknya itu tengah cemburu terhadapnya.

"Omo~ sudah jam 9.40. Kita harus bergegas Kyu" Ucap Sungmin setelah matanya menatap jam dinding itu untuk yang kedua kalinya.

"Jinjja? Aisshh kalau begitu aku pergi dulu ne chaggy. Ahh~ Donghae-ssi,bisa bantu aku untuk menjaga istri kecilku ini? Dia tidak boleh sendirian dirumah malam-malam begini" Ucap Kyuhyun pada Donghae yang sedari tadi hanya bisa terdiam memperhatikan ketiganya.

Donghae pun kemudian menyunggingkan senyuman menawan andalannya kea rah Kyuhyun sambil mengacungkan jempolnya. "Tenang saja. Akan kujaga istri manismu itu"

"Baiklah. Yeoreo gagiro Gomawoyo (Terima Kasih atas bantuannya). Jja Minnie-ah,kita pergi sekarang"

Setelah melihat keduanya menghilang dari pandangan mata caramel-nya itu,ia pun bergegas untuk mencari kesibukan untuk mengisi suasana canggung antara dia dan juga tamu bernama Donghae. Namun sepertinya ia sudah tak dapat lagi menahan suasana canggung yang meliputinya,dengan perasaan ragu ia pun melayangkan sebuah pertanyaan pada tamu-nya itu.

"A,apa kau ingin aku buatkan sesuatu untukmu Donghae Hyung?" Tanyanya pada Donghae yang tengah terduduk sambil mengangkat satu kakinya diatas meja.

"Boleh saja. Menurutmu apa yang sedang aku inginkan sekarang?"

Wookie sedikit mengernyitkan dahinya mendengar pertanyaan Donghae itu. Pandangan matanya ia alihkan menuju jendela yang tengah terbuka dan dengan itu ia dapat melihat embun yang menempel pada lapisan kaca bagian luar menandakan dinginnya udara malam saat ini. "Ah~ kau pasti kedinginan? Apa kau ingin secangkir teh?"

Donghae pun hanya bisa menggeleng dan tersenyum ramah kearah Ryeowook. Benar-benar senyuman yang sangat menawan. "Kalau begitu secangkir kopi?"

"Tidak. Aku tidak butuh itu" Tolak Donghae dengan nada halus.

"Ah~ Bagaimana jika aku buatkan sesuatu makanan untukmu? Ramen mungkin?"

Donghae pun sedikit terkekeh mendengar penawaran dari Ryeowook. "Meskipun kau berbuat manis padaku,tapi aku tidak peduli" ucapnya dengan wajah yang kini terlihat sedikit berbeda dari sebelumnya.

"Huh dasar aneh. Baiklah,aku anggap itu jawaban iya darimu. Baiklah akan kubuatkan ramen untukmu. Kebetulan aku pun sedang merasa lapar. Lihat saja akan kubuat lidahmu terkejut dengan masakan yang aku buat"

Dengan cepat ia pun bergegas menuju tempat favoritenya-dapur- untuk membuat sebuah ramen untuknya dan Donghae. Dengan gesit ia mulai mengambil bahan-bahan yang ada didalam lemari pendingin kemudian meletakannya diatas meja.

"Kau sedang apa Wookie-ah?" Tiba-tiba terdengar suara Donghae yang kini tengah mendekat menuju tempatnya berdiri. Sedikit terkejut namun tetap ia lanjutkan kegiatannya itu.

"YA! Kau mengagetkanku. Apa kau tak lihat jika aku sedang memasak eoh? Kau sama saja dengan Sungmin,hobi sekali mengejutkan seseorang" Ucapnya dengan nada sedikit ketus.

"Tapi aku sedang tak ingin makan sesuatu Wookie-ah. Sebenarnya tujuan awalku kemari untuk bertemu dengan Sungmin"

"Hmm lalu?"

"Tentu saja tujuanku berubah detik ini juga"

Wookie pun terdiam sambil sedikit mengernyitkan dahinya. Dilepasnya alat-alat memasak yang baru saja ia pegang dan kemudian menatap kea rah Donghae. "Lalu kau mau apa? Kau ingin kubelikan sesuatu?"

"Jangan terlalu baik denganku. Bukankah aku orang asing di rumah ini?"

"Baiklah hyung,kuakui kau membuatku bingung sedari tadi dengan ucapanmu. Katakan apa keinginan dan tujuanmu sekarang?"

Sedikit mengukir seringai di wajahnya,Donghae pun semakin mendekat kea rah Wookie. "Aku sedang ingin berurusan denganmu,Wookie-ah"

#TBC#

Mind to Review? Tolong berikan lah review anda sebagai penanda jika anda telah membaca FF milik saya ini. Budayakan Review jika anda ingin FF ini lanjut. Terima kasih.. ^^ Akan saya usahakan FF ini sampai END tapi dengan catatan tergantung dengan para readers sendiri. Saya tidak bisa membuat FF yang terlalu panjang,jadi besar kemungkinan FF ini tidak akan sampai chap 20 ^^. Bersabarlah dengan saya.

Oh ya mari kita berdoa untuk dua Negara yang tengah dalam lingkup ketegangan saat ini. Doakan semoga tidak akan terjadi sesuatu yang buruk,terutama untuk KorSel. Semoga masalahnya cepat selesai dan keduanya dapat hidup damai bersama. Aminn.. ^^

My twitter : Im_YesungWife. Mention for Follback. Tengkyu~