Tittle : That Should Be Me

Pairing: KyuMin,YeWook,EunHae

Rate: T

Warn: BL,YAOI,M-PREG

Disclaimer: Kyuhyun dan Sungmin itu saling memiliki. Tapi Sungmin juga milik saya. Yang jelas mereka milik Tuhan,orang tua,nenek,kakek dan sapa aja dah.. Saya hanya pinjam nama. Saya hanyalah yeoja yg Fujoshi dan M-Preg akut

DON'T LIKE DONT READ . Yang ga suka YAOI atau sesuatu di FF ini tinggal klik tanda X di pojok kanan atas aja dah. Gampang kan?

.

.

++_++ That Should Be Me ++_++

Sedari tadi keduanya masih terdiam dalam posisi masing-masing. Suara isakan Ryeowook nyaris tak terdengar kembali saat ia mendengar ucapan seorang namja tampan yang sedang memeluknya kini seakan mengusirnya pada sebuah tempat yang ia rasa pantas untuk hidupnya.

"Pergi katamu?" Ia pun akhirnya mencoba untuk menyahut ucapan namja tampan yang tengah mengelus perutnya itu. Sedikit bergetar menahan tangis namun ia berusaha sekuat tenaga untuk menahannya. Setidaknya untuk saat ini.

"Nde wookie-ah"

"Kenapa?" Katanya singkat dan sedikit dengan nada yang dingin.

"Sudah kukatakan bahwa ini bukanlah tempatmu yang sebenarnya"

"Lalu apa kau pikir kau itu tuhan sehingga kau mengerti pantas dan tidaknya posisi hidupku?" Meskipun dengan nada yang datar,namun suara itu masih terdengar dingin di telinga sang namja tampan bernama Donghae.

Donghae menghela nafasnya dengan berat. Sudah ia duga bahwa membujuk seorang Ryeowook benar-benar akan sesulit ini. "Dengarkan aku. Dia masih hidup"

"Dia siapa?"

"Aku yakin kau tau siapa yang sedang ku bicarakan"

"Aku tidak tau" Jawabnya dengan cepat.

"Aku sudah melihatnya. Kuakui Kyuhyun benar-benar mirip dengan orang itu. Tubuh tegapnya,manik mata hitam dengan sebuah tanda lahir di bola mata putihnya,dan juga cara mereka tersenyum. Benar-benar seperti duplikat dan satu kesamaan"

"Siapa sebenarnya yang sedang kau bicarakan hah?" Sambil memberontak dan melepaskan diri dari kungkungan tubuh Donghae,Wookie segera berdiri kemudian berjalan dan mencoba menjaga jarak dengan pemuda itu.

"Mereka memang sama tapi kepribadian mereka itu berbeda. Jika kau memperhatikan lebih teliti lagi,mereka berdua itu sangat berbeda. Aku sudah bisa memutuskan bahwa kau pasti hanya menjadikan Kyuhyun atas rasa kesepianmu itu,bukan?"

"Jangan sok tau Lee Donghae"

"Aku memang sudah tau Wookie-ah. Bangkitlah. Hidupmu sampai detik ini hanyalah sebuah mimpi dan khayalan. Tidak kah kau lelah terus bermimpi selama ini?"

"Berhenti mengatakan sesuatu yang tidak penting"

"Kalau begitu kali ini kukatakan berhentilah melakukan sesuatu yang tidak penting. Bangunlah dan rasakan indahnya hidup yang sesungguhnya. Kau lebih memilih kebahagiaan semu dibanding kebahagiaan nyata yang bahkan sudah ada di depan mata?"

Ryeowook terdiam sambil menatap lurus ke arah Donghae yang juga tengah menatapnya kini. Ia sedikit mengepalkan kedua tangannya saat melihat ekspresi datar milik pemuda itu. "Siapa yang mengatakan semuanya padamu? Apa si Sungmin?"

"Bukan. Aku rasa dia tak tau apa-apa. Yang ia tau hanyalah kau yang merebut kekasihnya. Ah - calon suaminya,maksudku"

Ryeowook pun terdiam. Matanya sedari tadi hanya dapat menatap dan mengunci pergerakan namja yang tengah berdiri tegap sambil memasukan kedua tangannya ke dalam saku.

"Keluar kau! Atau ku panggil semua orang untuk membakar mu hidup-hidup" Ancam nya pada namja itu.

"Terserah. Aku tidak takut lagi dengan apapun wookie-ya. Setidaknya aku sudah mengingatkanmu. Tapi sejujurnya aku masih tidak ingin mati untuk saat ini."

Donghae pun membalikan badannya dan melangkah ke arah pintu utama rumah itu. Dengan sedikit gerakan diperlambat,ia terus dan terus melangkah. Hingga akhirnya ia berhenti sejenak dan kemudian membalikan tubuhnya untuk kembali menatap namja imut yang tengah meremas kaosnya dengan erat.

"Tolong jagalah anakku itu. Saat ini aku harus menjaga seseorang yang juga telah menungguku sejak lama"

Tak ada jawaban. Ryeowook lebih memilih terpaku pada posisinya yang tengah meremas ujung kaosnya. Melihat itu,Donghae pun hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan berat.

"Jika kau ingin memastikannya sendiri,datanglah ke apartement miliknya. Datanglah saat malam hari,dia cenderung akan meninggalkan apartementnya di saat itu. 84824 sepertinya akan menjadi no keberuntunganmu"

.

.

.

Dengan langkah terburu-buru,Ryeowook berjalan menyusuri kota Seoul dengan mengenakan sebuah mantel tebal untuk menyamarkan perut buncitnya. Berkali-kali ia melambaikan tangannya untuk menyetop beberapa taxi yang sedari tadi berlalu lalang dihadapannya namun tak satupun yang mempedulikannya. Dengan sedikit bermodal kan ide gila dan kenekatan,Ryeowook pun melangkahkan kakinya menuju tengah jalan dan merentangkan kedua tangannya saat melihat sebuah taksi dari arah kejauhan.

CITTTT! Bunyi decitan kerasnya gesekan antara ban mobil dengan aspal jalanan terdengar begitu memekakan telinga bagi siapapun yang mendengarnya. Dengan tak mempedulikan pandangan orang sekitar,Ryeowook langsung membuka pintu penumpang dan menyuruh penumpang yang masih berada di dalamnya untuk segera keluar. Meski menolak dengan keras,namun akhirnya sang penumpang itu pun menuruti perkataannya karna Ryeowook memberinya sejumlah uang yang cukup besar sebagai pengganti.

"Anda ingin saya antar kemana tuan?" Tanya sang supir taxi.

"Antarkan aku ke jalan MyongJul. Turunkan saja aku jika kau melihat Mall besar disana" Ucapnya pada sang supir.

Sedangkan sang supir yang baru menerima perintah dari si penumpang baru kini mulai mempercepat laju kendaraannya untuk segera menuju tempat yang namja imut itu inginkan. Hanya dalam waktu 15 menit,Taxi itu sudah mengantarkannya menuju sebuah kawasan elite yang terdiri dari beberapa tempat yang menyewakan sebuah Apartement mewah,Mall besar dan beberapa bangunan-bangunan perusahaan yang menjulang tinggi.

Dengan cepat,ia pun melangkahkan kakinya menuju suatu tempat dimana seseorang yang tengah ia cari itu berada. Ia pun kemudian melirik jam berwarna putih yang melingkar di pergelangan tangannya.

09.27 P.M

'Apakah ia ada di dalam sana?' Sedari tadi sang namja imut hanya bisa terdiam di dalam lift yang tengah membawanya menuju ke lantai dimana Tutor yang selama ini mengganggunya itu tinggal.

TINGG! Suara dentingan kecil itu tiba-tiba terdengar saat Pintu lift itu terbuka. Dengan langkah yang tak bisa dikatakan lambat,ia terus berjalan menyusuri beberapa ruangan di dalam bangunan tersebut.

"Lantai tujuh kan?" Tanyanya entah kepada siapa.

Sedari tadi tak henti-hentinya ia berbolak-balik di lantai tujuh untuk mencari keberadaan seseorang yang tengah ia cari. Sedikit menggigit bibirnya saat ia mulai merasa ketakutan karna malam yang semakin larut. Berulang kali namja imut itu melirik ponsel dan jam di tangannya untuk memastikan sudah berapa lama ia berdiri disana.

Namun sepertinya dewi fortuna tengah memihak kepadanya. Sedikit menyunggingkan senyum manisnya,ia pun beranjak pergi dari tempatnya saat ia melihat seseorang yang tengah ia cari baru saja keluar dari ruangan yang ia duga sebagai tempat tinggalnya.

"Bukannya dia hanya bekerja sebagai dosen di NewYork? Lalu apa urusannya malam-malam begini?"

Namja berkacamata itu hanya keluar dari ruangan itu sambil memegang handphone ditangannya. Ia terus berjalan menuju lift sambil terus sibuk memegang handphone itu tanpa mengalihkannya sedikitpun.

Setelah memastikan namja itu pergi,Wookie pun kemudian segera berlari dan berdiri di hadapan pintu yang memiliki no 411.

"Passwordnya berapa ya?" Gumamnya sambil menaruh satu jari di dagu miliknya.

Cukup lama ia terpaku di depan pintu namun ia masih belum dapat menemukan beberapa digit angka yang akan membantunya untuk membuka pintu itu. Ia terus berdiri dengan sedikit resah dan berkali-kali ia menatap lift yang tak jauh dari arah pandangnya berharap namja tampan si pemilik ruangan ini belum akan kembali pada beberapa waktu ke depan.

"84824 sepertinya akan menjadi no keberuntunganmu"

DEG!

Ucapan Donghae sebelum pergi meninggalkan rumahnya kini tiba-tiba terdengar begitu jelas di kepalanya. Ia sedikit meremas-remas mantelnya berharap Donghae tidak mengatakan suatu kebohongan kepadanya saat itu. Diarahkan tangan mungil miliknya yang sedikit bergetar dan kemudian mengetikkan beberapa digit angka yang baru saja terlintas di otaknya.

GOTCHA!

Pintu itu pun akhirnya terbuka dengan sendirinya setelah namja imut itu mengetikan beberapa digit angka kedalamnya. Dengan senyum yang merekah ruah,ia mulai melepaskan sepatunya dan menaruhnya dibawah sofa panjang yang berada di ruang tamu. Langkahnya ia perlambat untuk sedikit melihat-lihat sejenak keadaan apartement itu.

"Rapi juga" Pujinya saat melihat beberapa tatanan dan juga dekorasi unik yang terpampang dengan rapi dan sesuai.

Sedikit tersentak saat ia tersadar akan tujuan utamanya untuk menyelinap di apartement itu. Ia sedikit berlari cepat untuk menuju satu ruangan dimana namja tampan bernama Yesung itu menyimpan beberapa barang pribadinya disana.

"Sepertinya ini kamar utamanya"

Setelah menutup pintu,ia pun segera berkeliling ke dalam kamar utama yang ia duga lebarnya bahkan melebihi ruang tamu miliknya.

"Kertasnya banyak sekali yang berserakan di mana-mana"

Ia pun berinisiatif untuk segera memunguti beberapa kertas yang tergeletak diatas kasur yang bersprei putih bersih itu. Sedikit mengernyitkan dahi saat ia melihat beberapa deret angka,rumus,cara penyelesaian maupun kalimat sulit yang tak sengaja terlihat oleh matanya.

Ia pun mendecih keras saat melihat deretan angka sulit,lambang maupun beberapa pilihan yang tertulis didalamnya. "Sedang membuat soal rupanya. Tidak kusangka dibalik tampang babo-nya itu,ia memiliki otak yang segini pintar" Pujinya sambil menyunggingkan sebuah senyuman manis miliknya.

"Sebenarnya tujuanku kemari apa ya? Kenapa aku terlihat seperti penyusup?"

Ia pun tertawa sinis menyadari kebodohannya itu. Sedikit mengecek beberapa kertas itu dan kemudian menaruhnya diatas meja nakas yang berada tak jauh dari posisi letak kasur itu berada. Saat ia menaruh beberapa lembar kertas itu,tiba-tiba setumpuk kertas tebal tak bercover yang berada disampingnya sedikit membuat ia tertarik untuk membukanya. Sedikit lancang memang,namun ia mencoba untuk tak peduli. Dibukanya kertas itu dan kemudian ia baca dengan khidmat.

"MWO? Pemilik universitas itu kenapa bukan atas namanya? Bukannya dia bilang bahwa itu miliknya?"

Ia hanya bisa terpaku dalam posisinya saat membaca beberapa lembar yang ia ketahui sebagai salinan dari sebuah berkas asli milik tutor bernama Yesung. Berkas itu tertulis dalam dua bahasa. English dan Korea. Meski sedikit bingung dengan aturan dan perjanjian yang tertulis,namun ia cukup mengerti bahwa tulisan itu menunjukan tentang hak pemilik Universitas Ok-Jongie.

"Okkie? Kenapa nama yang tertulis di materai ini justru nama orang lain? Dan lagi orang itu belum membubuhkan tanda tangannya disini"

Ia pun membolak-balikan lembar kertas itu berkali-kali dan hasil yang tertulis justru semakin membuatnya jengah. Karna bosan,ia pun kembali meletakannya ditempat semula dan memilih untuk berkeliling kamar. Sedikit tersenyum saat ia melihat beberapa foto yang terpajang disana. Tanpa berpikir panjang,ia pun mengambil salah satu foto itu dan mengambilnya dengan jelas.

"EH? Pemuda kecil ini tampan sekali. Mirip Kyuhyun" Ucapnya tanpa sadar.

'Mirip Kyuhyun,aku bilang?' Gumamnya sambil memiringkan kepalanya kesamping. Ditatapnya lekat-lekat wajah tampan itu dengan seksama. Mata bulatnya dan bentuk rahangnya mengingatkan sosok seseorang yang dulu pernah ia kenal.

'Molla~ Nama ku sulit sekali. Kau panggil saja aku Okkie,karna umma appa dan hyung suka sekali memanggilku seperti itu"

'Jinjja? Kalau begitu panggil aku Woonie. Namaku Jong Woon. Pemuda miskin dengan seribu impian'

PRANGG! Tiba-tiba bingkai foto yang tengah ia pegang dengan erat kini jatuh merosot dari genggaman tangannya begitu saja. Pandangan matanya begitu kosong setelah ia mendengar suara percakapan yang dulu,dulu sekali pernah terjadi di hidupnya.

'Jangan berbohong ya. Kau harus menungguku. Aku pasti datang. Aku pasti bisa menjadi orang hebat seperti apa yang kau mau'

'Baiklah. Aku berjanji,aku akan selalu ingat denganmu'

'Jangan pergi dengan orang lain ya. Kau harus berjanji. Kau tidak boleh berdusta'

'Ya. Aku tidak akan berbohong'

"Ti - tidak mungkin. Bukannya dia sudah meninggal?" Wookie dengan cepat menjatuhkan dirinya diatas kasur empuk milik Yesung sambil menggigiti kuku jarinya dengan tubuh bergetar. Perasaan bersalah dan menyesal entah mengapa mulai menyeruak seakan tengah memeluk erat tubuhnya.

"Bukankah itu berarti aku telah mengingkari janjiku?" Dan setetes air yang menyeruak dari mata indahnya itu pun mulai terjatuh membasahi pipi mulus miliknya.

++_++ That Should Be Me ++_++

Donghae hanya mampu tersenyum menatap Eunhyuk yang tengah merapikan beberapa barang di apartement miliknya itu. Sedari dulu meskipun memang mereka belum resmi bertunangan,namun Donghae selalu mengijinkan Eunhyuk untuk tetap tinggal ditempatnya.

"Aku tidak habis pikir dengan pola pemikiranmu Hae" Ucapnya memulai pembicaraan.

Donghae,namja yang tengah diajak bicara pun kini tersenyum manis kearahnya. "Aku juga tidak habis pikir dengan arah hatimu itu Hyuk Jae" Jawabnya sambil tersenyum menggoda.

Eunhyuk pun tertawa ringan melihatnya sambil melemparkan satu buah boneka monyet yang tengah ia pegang."Diam kau. Baiklah,katakan apa maumu sekarang tuan Lee?" Kata Eunhyuk sambil berkacak pinggang ke arahnya.

"Kau masih bertanya kenapa? Bukannya kita akan bertunangan?" Ucap Donghae dengan santai dan dengan senyumnya yang menawan.

Seketika senyuman Eunhyuk luruh begitu saja. Tangannya yang sedari tadi ia letakan di pinggang kini terjatuh lemas mendengar itu. "Benarkah?" Tanyanya dengan nada yang lesu.

"Tentu saja. Apa kau tidak suka?"

Eunhyuk pun terdiam sambil menggelengkan kepalanya dengan pelan. Sedikit senyuman miris ia sunggingkan pada Donghae. "Aku hanya sia-sia jika berada disampingmu Hae. Aku tau jika kau hanya mencintai Sungmin"

Donghae pun tertawa renyah mendengar itu. Sedikit melirik ke arah Eunhyuk untuk melihat ekspresinya,namun namja itu tetap saja terdiam dan tak gergeming setelah melihatnya tertawa. Melihatnya yang hanya bisa terdiam, sedetik kemudian ia pun memulai memasang wajah seriusnya seperti biasa."Kalau begitu bantulah aku,Hyukkie-ah"

"Membantumu?"

"Nde. Bantu aku untuk mencoba mencintaimu Hyukkie"

Hening. Detik itu juga wajah Eunhyuk berubah menjadi merah saat mendengar ucapan Donghae terlontar begitu saja. Mulutnya sedikit terbuka menandakan betapa terkejutnya ia dengan ucapan Donghae barusan. "A –apa kau sedang bercanda?" Tanya Eunhyuk saat melihat Donghae yang mulai mendekat kearahnya.

"Tidak. Aku serius. Aku sudah mengatakan semuanya pada Wookie. Aku rasa dia pemuda yang cukup pandai untuk mengerti apa maksud dari ucapanku. Begitu juga dengan diriku" Donghae pun kemudian mendekat ke arah Eunhyuk dan setelah itu memeluknya dengan erat.

"A –aku..."

"Aku merelakan Sungmin dengan Kyuhyun. Sudah seharusnya Sungmin lah yang berada di samping Kyuhyun. Hanya Sungmin" Ucap Donghae sambil membelai lembut punggung Eunhyuk.

Eunhyuk pun terisak mendengarnya. Dengan satu tangan yang menutupi mulutnya,kini ia mulai melantunkan kata syukur pada tuhan didalam hati kecilnya. Sepertinya usaha keras yang selama ini ia lakukan akan menuai hasil terindah yang ia harapkan selama ini. Meski ia paham bahwa ia sempat melukai seseorang diluar sana dengan cara bodohnya.

"Hei Hyukkie-ya. Apa besok malam kau senggang?"

"Ermmm kalau disiang hari aku sibuk. Tapi sepetinya besok malam tugas ku akan digantikan dengan dokter jaga yang ada di RS. Kenapa Hae?"

Donghae pun mengulas senyum indahnya setelah menatap wajah Eunhyuk yang mendongak ke atas dan kini tengah menatapnya intens. "Kalau begitu kita berdua besok malam akan pergi"

"Kemana?"

"Ke rumah Cho Kyuhyun yang terhormat"

Eunhyuk pun sontak melepaskan pelukan eratnya dengan terpaksa membuat Donghae yang sudah terlanjur nyaman dengan posisinya kini harus memasang wajah cemberutnya. "Ki -kita mau apa Hae?"

"Menemuinya. Kau keberatan?"

"Untuk apa?" Tanyanya - lagi.

Donghae pun tersenyum dan sedetik kemudian ia pun membelai lembut wajah mulus milik Eunhyuk. "Aku akan menyelesaikan ini semua dengan caraku"

.

.

.

Namja manis itu tak henti-hentinya berjalan bolak-balik dari ruang tengah - dapur -WC- Dapur kemudian menuju ruang tengah lagi. Entah mengapa sedari tadi ia merasa lapar sekaligus mulas hingga membuatnya berjalan bolak-balik menuju dapur dan WC berulang kali. Setelah lama bersantai,tiba-tiba Kyuhyun sang suami pun datang dengan raut muka kelelahannya.

"Baru pulang Kyu?" Tanya Sungmin sambil berjalan kearahnya.

Melihat sang istri yang tengah menyambutnya,Kyuhyun pun merentangkan kedua tangannya kemudian memeluk tubuh Sungmin dengan erat. "Ne. Jung Seonsangnim memberiku banyak tugas karna aku jarang masuk Min" Ucapnya dan kemudian mengecup pipi Sungmin sebentar.

"Tapi tidak sampai semalam ini juga kan Kyu?" Sungmin mulai sedikit merajuk pada suaminya. Bibirnya ia kerucutkan dan kakinya sedikit ia hentakan pertanda ia sedang kesal saat ini.

"Hehehe mian. Tadi aku mampir sebentar ke toko yang kemarin Min" Sambil mengecup pelan bibir Sungmin.

"Untuk apa eoh?"

"Kemarin aku lupa. Seharusnya aku menaruh 3 baju disana. Seharusnya kan ada baju untukku,untukmu dan untuk uri aegya. Ah ya~~ Bagaimana kabar aegyaku?"

Setelah meletakan tasnya ke sembarang tempat,Kyuhyun pun kemudian berjongkok dan mensejajarkan tingginya dengan perut buncit Sungmin. "Annyeong baby-ya? Apa kau baik-baik saja didalam?" Tanyanya sambil mengelus lembut perut Sungmin.

Setelah membelai lembut dan mengecup berulang kali,ia pun menyunggingkan sebuah senyuman manis seakan sang anak didalam perut istrinya mampu melihat senyuman itu. "Hahh mianhae. Appa tau,appa akhir-akhir ini jarang sekali menyapamu. Tapi jangan salahkan appamu ne. Salahkan juga eommamu yang begitu sexy akhir-akhir ini" Tutur Kyuhyun yang sebenarnya tak ada sangkut pautnya sama sekali.

Sungmin pun terkekeh dengan ucapan Kyuhyun barusan. Sedikit tepukan sayang ia layangkan pada kepala Kyuhyun. "Cha-chakkaman. Kau sudah berapa bulan Min?" Kyuhyun pun kemudian berdiri dan menatap intens ke arah istrinya.

"Ermmm 5 bulan Kyu. Masa kau lupa?" Ucapnya dengan nada yang sedikit merajuk - lagi.

"Aniyo. Aku tidak lupa sama sekali"

" Lalu?"

"Kenapa perutmu besar sekali seperti ini Min? Seperti orang yang tengah hamil 8 bulan saja"

Sungmin mengulum senyumannya melihat raut khawatir sang suami. Ia pun sedikit bermanja-manja dan menggelayut dilengan Kyuhyun sehingga membuat sang suami sedikit mengenyitkan dahi,heran. "Mungkin uri aegya itu kembar Kyu"

Kyuhyun pun memalingkan pandangannya dan kembali menatap wajah manis milik Sungmin. "Memang bisa jadi. Tetapi tidak sebesar itu juga kan. Aku takut kau ada apa-apa"

"Mungkin saja anak kita itu gemuk Kyu"

"Seberapa gemuk bayi memangnya yang bisa membuat perutmu sebesar itu. Kembar pun tak akan sebesar itu. Apa kau merasa ada yang aneh pada tubuhmu Min?" Tanya Kyuhyun sambil memegang kedua pundak milik Sungmin.

"Tidak ada yang khusus. Hanya saja akhir-akhir ini aku sering merasa lapar yang berlipat-lipat dari sebelumnya dan sedikit terganggu dengan pencernaanku"

"Ehh? Kau diare?"

"Aniya. Hanya saja aku sering sekali merasa ingin kencing dan sebagainya dalam seharian untuk beberapa kali"

Kyuhyun pun kemudian merengut setelah mendengar penjelasan milik Sungmin. Diliriknya kembali perut buncit milik sang istri yang membatasi jarak keduanya saat ini. "Kalau kembar Fraternal tidak akan sampai mengganggu seperti itu Min"

Keduanya terdiam. Sungmin yang memang tidak mengerti maksud dari ucapan Kyuhyun pun hanya bisa menganggukan kepalanya.

Sedikit memutar otak jeniusnya, Kyuhyun pun sepertinya mulai sedikit mendapatkan suatu pencerahan meskipun itu masih terlihat samar. "Tidak mungkin 'Triplet twins' juga kan?" Gumam Kyuhyun dengan suara pelan namun masih bisa didengar jelas oleh Sungmin.

Baru saja Sungmin hendak bertanya,Kyuhyun sudah melenggang pergi dari hadapannya dan mulai melucuti seragam sekolah yang ia kenakan. "Wookie mana Min?"

Sungmin memutar bola matanya jengah. Bosan sekali dia mendengar pertanyaan itu dari Kyuhyun. "Dia bilang,dia ingin pergi menginap di rumah temannya" Jawab Sungmin asal. Padahal Sungmin sendiri tidak tau dimana Wookie berada.

"Jeongmalyo? Kenapa aku tidak tau?" Kyuhyun pun bersiap mengeluarkan handphonenya dari dalam saku dan mendial nomor seseorang.

Dengan cepat Sungmin beranjak dari tempatnya dan merebut handphone Kyuhyun tanpa mengeluarkan ekspresi aneh dihadapan sang suami. "Hahaha ya dia bilang lebih baik kau tidak perlu menghubunginya Kyu. Dia sedang semacam ermmm - reuni mungkin"

Kyuhyun sedikit merengut melihatnya. Matanya sedikit ia picingkan ke arah Sungmin untuk memastikan sesuatu. Namun sedetik kemudian ia hanya bisa mengangguk-angguk paham setelah melihat tampang innocent Sungmin yang berhasil menutupi kebohongannya untuk sementara. Kyuhyun pun pergi menuju kamarnya untuk segera mengganti baju nya menjadi piyama.

"Dasar anak itu. Padahal usia kandungannya sudah 9 bulan,tapi masih saja ia jalan-jalan seperti itu. Dia pergi kemana memangnya eoh" Gumam Sungmin dengan suara pelan.

Melihat handphone Kyuhyun yang kini di berada digenggamannya,ia pun bermaksud ingin browsing sesuatu yang berhasil membuat rasa penasarannya membuncah sedari tadi. Diketikannya sebuah kata yang baru beberapa menit yang lalu diucapkan oleh Kyuhyun. "Hmmm blablabla.. Bertele-tele sekali. Langsung intinya saja"

Dengan sedikit bersabar,Sungmin pun berjalan ke arah ruang tengah dan mendudukan tubuhnya diatas sofa empuk sambil terus menatap ke arah layar handphone itu.

"Eh? Jinjja?" Teriaknya tiba-tiba. Tulisan yang berada di handphone Kyuhyun kini berhasil membuat sang namja manis berteriak histeris dan melonjak bahagia.

"Semoga itu benar. Puji tuhan jika memang aegyaku ini kembar. Terlebih lagi bisa kembar tiga seperti dugaan Kyuhyun"

Ia pun melempar handphone milik Kyuhyun ke sembarang arah dan mulai berlari ringan menuju kamarnya. Entah mengapa saat ini ia ingin sekali memeluk suaminya.

"Kyu.. Aku -"

Sungmin terdiam tak melanjutkan kembali kalimatnya. Senyumnya yang merekah ruah kini berganti dengan wajah serius dan tegas yang tak biasa ia tunjukan. Ia hanya bisa terdiam terpaku melihat suaminya merintih sambil memegangi kepalanya yang terasa berdenyut.

Sungmin nampaknya tak ingin membantu Kyuhyun. Ia lebih tertarik untuk berdiam diri ditempatnya sambil memandangi suaminya yang tengah kesakitan.

'Ingatlah. Hapus semua kabut hitam yang menghalangi kenangan kita dalam ingatanmu' Ucap Sungmin dalam hati.

Nampaknya Kyuhyun telah menyadari kehadiran Sungmin sedari tadi. Dengan satu tangannya,ia gunakan untuk menarik tangan Sungmin kemudian mendudukannya tempat disamping ia berada saat ini.

"Apa kau baik-baik saja Kyu?" Tanyanya pada Kyuhyun.

Kyuhyun pun tersenyum menanggapi perilaku lembut milik Sungmin. "Nan gwaenchana"

"Apa kau tidak merasa aneh?"

"Aneh dengan hal apa?"

"Dengan semua ini. Apa kau tidak penasaran dengan apa yang ada dipikiranmu? Dan juga dengan Kabut hitam yang selalu kau ceritakan itu?"

Kyuhyun sedikit mendengus mendengarnya. Berbohonglah ia jika mengatakan bahwa dirinya tidak penasaran dengan semua ini. Namun ia merasa terlalu bingung dengan semuanya sehingga terkadang membuatnya ingin sekali mencoba melupakannya.

"Aku - tidak tau" Ucap Kyuhyun datar.

"Begitukah?" Sungmin yang mendengar suara Kyuhyun yang sarat akan keputus asaan pun kini mulai melengos dengan perasaan kecewa.

"Min,rasanya ada sesuatu yang mengganjal dengan perasaanku sedari kemarin?"

"Kenapa memangnya?"

"Aku merasa seperti akan ada sesuatu diantara kita"

"Mungkin hanya perasaanmu saja. Tidurlah Kyu"

Sungmin pun mulai beranjak dari posisi duduknya. Kini ia berjalan dan melenggang pergi meninggalkan kamar itu tanpa mempedulikan Kyuhyun yang tengah menatapnya dengan pandangan sedih.

"Sungmin..."

.

.

.

Next Chapter –

""Tenang saja,ada aku yang akan mengakuinya"

"Hikss andwae. Dia bukan anakmu. Aku tak pantas untukmu. Aku pendusta dan mengingkari semuanya"

"Shh jangan menangis,kau membuatku semakin terluka."

.

.

.

"Kenapa kau selalu membelanya hah?"

"Tidak ada yang kubela. Tapi bicaramu sudah begitu kasar pada Ryeowook"

"Aku mengerti! Sepertinya memang aku harus pergi dari tempat ini"

.

.

.

"Wowww drama keluarga yang sangat menakjubkan,Cho Kyuhyun!"

"Ka - kau?"

"Ya. Ini aku. Lee Donghae!"

#TBC#

A/N : Saya meminta maaf atas keterlambatannya untuk memposting chap terbaru. Akhir-akhir ini saya kurang semangat melihat FF saya yang satu ini. Saya sedih karna banyak sekali yang membaca FF ini namun cukup sedikit yang memberi Review berupa masukan atau apapun kecuali bash yang tidak membangun. Tapi saya tetap senang dan berterimakasih. Benar,saya bersyukur ada yang membaca dan me review FF saya yang tidak seberapa ini. Saya akan memberikan KyuMin moment di chap depan karna banyak yg minta. Tapi jangan protes ya kalau misalnya chapter depan kepanjangan. Saya sungguh minta maaf jika ceritanya semakin aneh. Karna disinilah batas saya. Manusia dengan pentium 2 saja ^^ Hahaha saya bingung ingin bicara apa lagi.

Tapi tetap BIG THANKS TO : ALL REVIEWERS yang namanya tidak pernah bisa saya sebut. Maafkanlah saya atas ketidakbisaan saya ini. Dan untuk Siders yang menambah jumlah viewers pada FF milik saya ini,tetap saya ucap terima kasih ^^

Bye~ Zai Jian.. See You Next time..

Follow me if u want : Im_YesungWife

.

.

.

Sign

(Debbie Jositta Risna)