Yaoi KaiLuHun | Saldaga | part 3
Written by : babyLU
Makasiiiih buat yang udah review di part2 sebelumnya, saia senang sekali hahaha #bow
oKAI just enjoy this one . .
.
.
Saldaga . . .
Selama aku masih hidup, Xi Luhan hanya boleh melihat padaku.
Selama aku masih hidup, Xi Luhan hanya boleh tersenyum untukku.
Selama aku masih hidup, Xi Luhan adalah milikku.
Selama aku masih hidup . . .
Selama aku masih hidup . . .
Selama aku masih hidup . . .
.
.
.
Baekhyun P.O.V
Aku menendang kasar pintu kamarku dan mulai bersiap untuk berangkat kuliah meskipun ini masih terlalu pagi.
Jam dinding di kamar menunjukkan pukul 6 pagi padahal mata kuliah pertamaku di mulai 3 jam lagi. Kurasa berangkat terlalu awal jauh lebih baik daripada harus berada di neraka dunia ini.
Semua gara-gara kakak emosionalku itu. Semalaman aku tidak bisa tidur karena harus mendengar suara benda kaca di hantam dengan benda tumpul.
Aku tau jika sudah begini itu berarti dia sedang marah besar, dan aku juga sama sekali tidak berniat untuk bertanya ataupun menenangkannya. Memangnya siapa diriku?
Tuan muda Kim Jongin tak akan mau mendengarkanku.
Baginya aku hanyalah pelengkap. Kalaupun tidak terlahir kedunia juga tidak apa-apa, karena umma telah memilikinya yang hebat.
"pagi tuan Baekhyun" sapa Kris yang berpapasan denganku di lorong menuju ruang makan.
"kali ini iblis apa yang merasukinya?"
Tentu saja Kris tau betul siapa yang kumaksud dengan –nya disini.
"semalam tuan Luhan melarikan diri"
Aku tak kuasa menahan tawa setelah mendengar jawaban Kris. Jadi karena Luhan iblis dalam tubuh Jongin mengamuk?
Padahal aku sudah cemas mengenai kemungkinan dia telah kehilangan saham bernilai milyaran dollar sehingga membuat kami harus hidup di kolong jembatan.
Dan ternyata hanya karena Xi Luhan?
Tidak heran, mengingat betapa sayangnya Jongin hyung pada saudaranya yang satu itu.
Dan benar saja, dia terlihat begitu berantakan. Kurasa dia tidak tidur semalaman melihat besarnya lingkaran hitam di bawah matanya.
Pecahan kaca, piring dan gelas berserakan di lantai.
Bahkan guci antik yang hanya ada satu di dunia juga menjadi sasaran keganasannya.
Untung saja sarapanku yang terletak diatas meja tidak ikut dilemparnya. Sepiring omelet dengan saus tomat dan secangkir hangat vanilla latte.
"kau sudah tau dimana Luhan?" tanyanya pada Kris yang berjalan di belakangku. Tidak berniat ikut campur aku langsung duduk di meja dan mulai memakan sarapanku.
"maaf tuan. Belum ada kabar dari orang-orang suruhan saya"
"BRENGSEEEEK~" jongin melempar sepiring omelet yang menjadi sarapannya tepat kearah lemari kaca. Membuat kedua barang pecah belah itu berserakan di lantai.
Aku sedikit melirik pada telapak kaki dan kedua tangannya.
Ada banyak serpihan kaca yang menempel dan berdarah, dia benar-benar sudah kehilangan akal. Gila.
"ini pasti bukan masakan bibi Jung, rasanya lain" gumamku pelan. Sangat pelan sebenarnya namun entah kenapa Jongin masih bisa mendengarnya.
"WANITA TUA ITU SUDAH MATI" jawabnya.
Kris memberikan beberapa kode agar aku diam saja atau sang tuan muda akan semakin marah, baiklah aku akan diam.
Tapi apa maksudnya tadi, bibi Jung sudah mati? Apa jongin telah membunuhnya?
Hey, bibi Jung itu koki terbaik yang pernah ada.
"sekarang apa yang bisa kulakukan? Aku tidak tau dimana Luhan berada. Apa semalam dia tidur dengan nyenyak? Apa sekarang dia sudah makan . . ."
Jongin makin terlihat frustasi, mengacak-acak rambutnya yang memang sudah berantakan.
"kami akan berusaha keras untuk menemukan tuan Luhan" ujar Kris.
Memuakkan. Aku hampir saja memuntahkan omelet yang telah masuk ke dalam mulutku setelah mendengar ucapannya barusan.
"bukankah bagus jika dia pergi, namja sialan sepertinya mem- . . ."
Ucapanku terpotong saat tiba-tiba kurasakan sesuatu yang panas menyerbu wajahku.
"SEKALI LAGI KAU BERANI MENGHINA LUHAN, CANGKIR INI JUGA AKAN MELAYANG PADAMU!"
Aku masih terlalu shock dengan kejadian yang baru saja terjadi, dia kakak kandungku tapi kenapa tega sekali menyiramku dengan secangkir kopi hanya karena aku mengatakan Luhan sialan?
Aku meraba pipiku yang mulai terasa perih, namun itu tidak seberapa jika dibandingkan dengan sakitnya perasaanku sekarang ini.
"tuan Baekhyun gwaenchana?" Kris mengambil beberapa lembar tisu makan dan membersihkan wajahku perlahan, namun segera kutepis tangannya.
Aku beranjak dari dudukku kasar membuat kursi yang tadi ku duduki terjengkang ke belakang.
Jongin menatapku, tak ada sedikitpun perasaan bersalah pada tatapannya.
"kau tidak menyayanginya sebagai adik bukan?"
Aku sudah muak dengan semua ini, perasaan sayangnya pada namja lemah itu sangat tidak wajar bagiku. Dari dulu aku sudah curiga akan sikapnya yang terlalu berlebihan pada Luhan.
"TAPI KAU MENCINTAINYA! BENAR KAN HYUNG~" teriakku.
"JAGA UCAPANMU BAEKHYUN!" jongin dengan penuh amarah hendak melayangkan tangannya padaku namun buru-buru di tahan oleh Kris.
"tuan Baekhyun, sebaiknya anda berangkat sekarang"
"aku juga sudah muak harus berada di neraka ini!"
Aku meraih tas ranselku dan langsung berlari keluar rumah.
Membiarkan Audi merah ini membawaku entah kemana yang jelas jauh dari neraka dunia itu.
'baekhyun-a, ayo hyung temani bermain'
'kau mengantuk? Naiklah ke punggungku, hyung akan menggendongmu sampai rumah'
'siapa yang berani mengganggu adik manisku? Biar kuhajar mereka'
Aku membanting setir kearah taman di pinggir jalan. Memukul-mukul dashboard mobil dan melempar apapun yang ada di dalam mobil.
Kenapa memori menjijikkan itu harus tiba-tiba muncul, memori yang jujur saja sangat kurindukan.
Semua hal terasa sangat indah saat kami hanya hidup bertiga. Saat sebelum umma menikah dengan tuan Xi si konglomerat pemilik ratusan resort mewah yang tersebar di seluruh penjuru Korea.
Meskipun kami miskin tapi aku bahagia. Ada umma yang menyayangiku dan juga ada Jongin hyung yang selalu membuatku merasa menjadi adik paling beruntung di dunia.
Namun sekarang apa?
Umma baru saja meninggal, sedangkan Jongin hyung menjadi berubah drastis semenjak pernikahan umma dengan tuan Xi.
Aku tau bagaimana perasaannya kala itu, dia sama kecewanya denganku.
Tapi mungkin sekarang dia akan sangat bersyukur karena pernikahan umma telah mempertemukannya dengan Xi Luhan.
Tok. Tok. Tok
Aku menengadahkan kepalaku saat mendengar sebuah ketukan di kaca mobilku. Siapa orang brengsek yang berani menggangguku.
"pemilik mobil keluarlah! Kau parkir sembarangan dan hampir saja menabrak anjingku"
Aku menurunkan kaca mobilku, bersiap untuk memaki orang yang telah berani mengusiku.
"MWOOO?" bentakku.
Seorang namja berambut hitam cepak dengan pakaian olahraga berdiri di hadapanku.
Aku seperti pernah melihat namja ini, tapi dimana ya?
"kau! Namja manis galak yang kemarin" ujarnya.
Dia memasukkan kepalanya ke dalam mobil, membuatku segera menjauhkan kepalaku.
"siapa kau? Keluarkan kepalamu dari mobilku"
Aku mendorong kepalanya untuk keluar namun malah membuatnya membentur atap mobil.
Dia memegangi kepalanya sembari meringis sakit. Serius, aku tidak sengaja melakukannya.
"kau tidak mengingatku?"
Dia menunjuk mukanya sendiri. Iya, aku memang seperti pernah melihatmu tapi dimana? Lagipula aku juga tidak mau bersusah payah untuk mengingatnya.
"aku orang yang kemarin menyelamatkanmu dari 3 berandalan" ujarnya penuh percaya diri.
Aku menepuk jidatku refleks.
Ya tuhan, pagi ini aku harus di hadapkan dengan kakakku yang brengsek. Sekarang aku harus bertemu namja aneh yang dengan bangganya berkata jika telah menyelamatkanku.
"kau pasti salah orang" aku buru-buru menutup kaca mobil namun namja aneh itu memasukkan tangannya untuk menghalanginya tertutup.
"tidak, aku yakin ini kau"
Aku memutar bola mataku sebal.
"lalu sekarang apa maumu? Aku harus ganti rugi karena tidak sengaja menabrak anjingmu?"
"tidak, baekhyun tidak terluka. Untung dia sempat menghindar" namja itu mengusap-usap kepala anak anjing berukuran mungil dengan bulu kecoklatan yang terlihat mengkilap.
Tunggu dulu, dia tadi bilang apa?
"BARUSAN KAU BILANG APA?" aku keluar dari dalam mobil dan langsung berhadapan dengannya membuat namja itu mundur beberapa langkah karena terkejut.
"aku bilang tidak apa-apa, baekhyun tidak terluka" dia menyodorkan anjingnya kehadapanku. Sialan, dia menamai anjingnya seperti namaku.
"kau ingin menghinaku dengan menamai anjingmu sama denganku huh?" sentakku.
Dia menatapku seakan tidak mengerti namun setelah beberapa detik dia tertawa lepas, baru menyadari akan hal yang tengah terjadi.
"kau dengar baekhyun? Namja manis galak ini memiliki nama yang sama denganmu"
"guk . .guk"
Anjingnya menggonggong dan bertingkah seakan minta gendong padaku namun segera kutepis. Aku tidak suka binatang, dalam jenis apapun.
"aku Chanyeol . . ."
Namja aneh yang ternyata bernama Chanyeol itu menyodorkan tangannya untuk berjabat tangan. Aku diam, hanya melirik sekilas tangannya tak ada niat sedikitpun untuk menjawab uluran tangannya.
"GANTI NAMA ANJINGMU . . ." teriakku sebelum berbalik kembali ke mobil.
Kurasa berurusan dengannya hanya akan banyak membuang waktuku. Saat aku berfikir untuk melangkah pergi, Chanyeol menahanku.
Apa lagi sekarang?
Tangannya yang terasa hangat perlahan menyentuh pipiku, membuatku sedikit meringis saat tanpa sengaja mengusap luka akibat siraman kopi tadi pagi.
"ikut aku"
"ANDWAEEE~! KAU MAU MEMBAWAKU KEMANA?"
"diam dan menurut saja"
Dia terus menyeretku untuk mengikutinya, mengabaikan segala teriakan dan tubuhku yang terus memberontak. Sungguh memalukan, aku seperti seorang isteri yang tidak pulang ke rumah selama 3 hari kemudian di seret pulang oleh suaminya.
Dia mendudukkanku di bangku taman yang terletak di bawah pohon mapple. Disana ada sebuah sepeda gunung dan tas ransel yang kuyakini adalah milik Chanyeol .
Chanyeol mengeluarkan sebotol spray yang aku sendiri tidak tau itu spray apa lantas menyemprotkannya perlahan di pipiku yang terasa perih.
Dingin. Aku bisa merasakan ada hawa dingin membungkus pipiku, sedikit demi sedikit mengikis rasa perih yang sedari tadi kutahan.
"biasanya spray ini di gunakan oleh pemain bola yang mengalami cedera namun aku sering menggunakannya karena aku sedikit ceroboh hahaha . . ."
Aku terdiam. Entah kenapa aku begitu merindukan perasaan ini.
Sebuah perasaan bahagia saat ternyata masih ada orang yang mengkhawatirkanmu.
Sadar Baekhyun, di dunia ini tidak ada yang menyayangimu bahkan kakakmu Jongin juga tidak menyayangimu bukan?
"sudah merasa baikan?"
Aku mengangguk sebagai jawaban.
Dan sekarang haruskah aku berterima kasih? Kurasa tidak.
Anggap saja kita impas karena kemarin aku telah menyelamatkannya dari keroyokan tiga berandal tengik itu.
"dari baunya sepertinya itu kopi? Sebenarnya bagaimana caramu minum sampai bisa tumpah ke pipi?"
Tidak mungkin kan jika aku jujur padanya kemudian berkata bahwa aku disiram oleh kakakku hanya karena aku mengatai orang tercintanya sialan.
"bukan urusanmu"
Chanyeol tersenyum singkat kemudian membopong anjingnya keatas pangkuannya. Aku melirik sekilas anjing yang tengah berusaha menggodaku menggunakan puppy eyes-nya.
Hey anjing, kau pikir matamu itu lucu? Aku bisa lebih lucu darimu.
"sesuai permintaanmu, aku akan mengganti nama anjingku. Menurutmu nama apa yang cocok untuknya?"
"apa peduliku! Yang penting jangan Baekhyun" tekanku. Aku tidak mau nama pemberian mendiang umma di pakai sebagai nama anjing.
"mmm . . . bagaimana kalau Baekchan? Gabungan dari nama kita berdua Baekhyun- Chanyeol"
Oke pembicaraan ini menjadi semakin tak tentu arah. Aku memutuskan untuk mengakhirinya dengan beranjak dari tempat ini.
"kau mau kemana?" tanya Chanyeol
"pulang"
"hati-hati. Semoga kita berdua bisa bertemu lagi" bisa kulihat dia melambaikan tangan kanannya padaku.
"Baekchan ucapkan selamat tinggal pada mama" tambahnya lagi.
"guk . .guk . ."
Aku mempercepat langkahku setelah mendengar ucapannya barusan, menjijikkan.
Benar-benar menjijikkan.
Ya tuhan. Semoga aku tidak pernah bertemu dengan namja itu dan anjingnya lagi.
.
.
.
Sehun P.O.V
Nafasku memburu seiring dengan laju kakiku menembus lorong rumah sakit. Aku kehilangan akal, yang ada di pikiranku sekarang hanyalah segera sampai ke kamar nomor 12B dan memastikan bahwa dia baik-baik saja.
Lututku melemas saat melihatnya tengah duduk di deretan bangku yang berada di luar kamar inap. Kenapa dia malah berada di luar? Bukannya tadi dia menelfon jika baru saja mengalami kecelakaan hebat.
"sehunnie~"
Aku spontan memeluk tubuhnya erat, bahkan sangat erat. Aku belum pernah merasa selega ini seumur hidupku. Dia, namja berambut pirang yang tengah kupeluk ini adalah satu-satunya keluarga yang ku miliki.
Aku tidak tau bagaimana jadinya diriku jika harus kehilangan kakakku.
"Lay hyung gwaenchana?"
Lay melepas tautan diantara kami kemudian menepuk punggungku lembut, berusaha meyakinkanku jika dia memang baik-baik saja.
"gwaenchana, hanya luka lecet saja"
Dia sedikit mencincingkan celana jeans berwarna almond yang tengah di kenakannya. Guratan-guratan merah tergambar di sepanjang kaki miliknya.
Aku sedikit meringis melihatnya, pasti sakit sekali.
"tapi . . . orang yang menabrak mobilku sampai sekarang belum sadarkan diri" kata Lay.
"apa dia terluka parah?"
"sepertinya begitu. Semalam saat petugas rumah sakit membawanya, darah berceceran dimana-mana tapi dia juga yang salah. Kenapa menerobos lampu merah"
Aku sedikit menghela nafas lega, untung saja bukan Lay hyung yang ada di posisi si penabrak ini.
"lalu dimana anggota keluarganya?"
"kami tidak bisa menemukan identitasnya. Kartu pengenal, ponsel semuanya tidak ada. Sepertinya dia orang kaya, bisa dilihat dari mobil yang di pakainya semalam. Bayangkan Porsche keluaran 3 bulan lalu yang bahkan belum beredar di Korea . . ."
Aku hanya bisa menghela nafas, bahkan di saat seperti ini bisa-bisanya dia membahas tentang mobil mewah.
"aku ingin melihatnya. Dimana dia?" potongku.
Aku harus memotong ucapannya karena kakak semata wayangku ini begitu menyukai hal-hal mewah dan akan terus membicarakannya sampai mulutnya lelah.
Lay menunjuk pintu kamar bernomor 12B yang berada tepat di sampingnya. Entah kenapa aku menjadi begitu penasaran pada orang yang telah menabrak kakakku.
Sosok itu terlelap dengan berbagai untaian selang yang menancap di tubuhnya, detak jantungnya yang tergambar di monitor terlihat teratur. Dia, seorang namja?
Perlahan aku mendekatinya dan . . .
"hyu- hyung. . . namja ini . . ."
"kenapa? Apa kau mengenalnya" tanya Lay yang merasa heran akan perubahan sikapku.
Aku mendekat pada sosok yang terlihat begitu lemah diatas ranjang. Namja manis dengan senyum sehangat matahari miliknya, yang selama ini hanya bisa kupandang dari jauh kini ada di hadapanku.
Entah sebuah keajaiban atau apa aku melihat sedikit pergerakan pada jari-jarinya. Kelopak mata yang menyembunyikan sepasang mata hazel perlahan terbuka.
Aku mendekatinya, membelai juntaian surai yang setiap hari kukagumi kilaunya. Memastikan jika dia benar-benar telah sadar.
"kau mengenalnya?" Lay hyung tak hentinya bertanya padaku.
"HYUNG CEPAT PANGGIL DOKTER, LUHAN SUDAH SADAR"
.
.
.
Luhan P.O.V
Ini sudah suapan bubur ketiga yang telah dimasukkannya kedalam mulutku. Aku tidak mengenal siapa namja ini, bahkan baru pertama kali ini melihat wajahnya.
Tapi dia mengenalku. Dia tau siapa namaku, dia tau dimana aku kuliah, dan dia juga tau jam berapa biasanya aku sampai di kampus. Dia tau semua tentang diriku.
Namja ini Oh Sehun. Dia satu kampus denganku namun aku sama sekali tidak mengenalnya, itu karena pada dasarnya aku memang tidak memiliki banyak teman.
"kau harus habiskan bubur ini agar cepat sembuh" ujarnya sambil terus menyuapiku.
Aku mengangguk sebagai jawaban.
"baiklah tuan. Sekarang hubungi keluargamu agar aku bisa segera meminta ganti rugi. Kau tau mobilku rusak parah"
Seorang namja yang kuketahui adalah kakak Sehun mulai angkat bicara. Ternyata dia yang kemarin mobilnya kutabrak.
Aku menggeleng lemah. Aku tidak tau harus menghubungi siapa, tidak mungkin aku menghubungi Jongin hyung ataupun Baekhyun. Sedangkan abeoji, aku sendiri tidak tau sekarang dia ada dimana, dia sama sekali tidak menghubungi ponselku.
"aku- aku kabur dari rumah"
"MWOOO~ aish jinjja. Anak muda jaman sekarang, kau tau tidak baik kabur dari rumah seperti itu. Seharusnya kau selesaikan masalahmu dulu jangan malah kabur seperti ini ckckck"
Bisa kulihat jika Sehun melancarkan death glare pada kakaknya karena telah menceramahiku terlalu banyak.
"kau yakin tidak ingin memberitahu mereka mengenai keadaanmu sekarang?" tanya Sehun lembut.
"aku hanya tinggal bersama kakak dan adik tiriku dan aku merasa ada banyak kenyataan yang mereka sembunyikan dariku. Aku- aku sama sekali tidak bisa mengingat apa yang sebenarnya telah terjadi . . ."
Usapan lembutnya di punggungku terasa begitu menenangkan. Sehun seakan bisa memahami kebingungan yang tengah kurasakan.
"lalu apa rencanamu sekarang? Kau tidak mungkin tinggal di rumah sakit terus kan?" tanya Lay.
"aku tidak tau" jawabku lirih. Aku memang tidak tau harus kemana dan dengan apa aku membayar biaya rumah sakit ini. Tas yang akan kubawa kabur masih ada di tangan bibi Jung semalam dan aku tidak membawanya.
Untuk pertama kalinya dalam hidupku aku bingung masalah uang.
"kau bisa tinggal bersama kami"
"MWOO? Sehun apa maksudmu. Andwae dia orang asing" tolak Lay mentah-mentah.
"dia temanku di kampus hyung"
"tetap tidak bisa!"
"hyung ku mohon~"
Lay menggigit bibir bawahnya, menatapku dan Sehun bergantian. Aku ikut memasang muka melas agar Lay hyung mengijinkanku untuk tinggal bersama mereka.
"terserah! Kuharap dia tidak makan banyak"
.
.
.
RnR pleaseeeeee~
