Stereo Heart
All characters belong to Masashi Kishimoto
.
.
.
Semuanya dimulai saat musim panas lima tahun yang lalu. Ada beberapa hal yang tak bisa dilupakan oleh pria dalam hidupnya dan gadis yang mengambil hati mereka adalah salah satunya. Hinata Hyuga. Aku dua tahun lebih tua darinya dan sedang mengunjungi saudara tirinya kala musim panas saat aku berumur dua puluh satu tahun. Itu bukanlah cinta. Lebih seperti pelajaran hidup.
Kami bertemu di Florida. Tepatnya saat ayahku menikah lagi dan bertolak menuju Paris dengan istri barunya. Semua berjalan lancar, setidaknya. Tapi akhirnya begini-begini juga. Semua adalah salahku.
Yang pertama: Tuhan telah membenciku. Yang kedua: aku telah menjadi cowok yang sangat, sangat nakal hampir sepanjang hidupku dan ini adalah balasannya. Dan kalian tahu kutipan yang sering orang katakan tentang pembalasan, kan?
Benar. Dia salah satu wanita yang sulit dihadapi.
"—Ceritakan saja secara singkat" Hatake Kakashi— aku tidak sungkan-sungkan memanggil namanya langsung, dia memenggal ceritaku.
"Aku jadian, aku melakukan kesalahan, dan dia pergi"
"Tidak, tidak, tidak. Terlalu singkat, sayang. Ulangi lagi"
Aku melanjutkan ceritaku lagi, saat ini aku memasukkan kepalan tanganku kesaku celana. Aku akan memukulnya nanti setelah ceritaku selesai.
Aku menatap pada rumah besar tiga lantai yang mengarah langsung pada pasir putih di pantai Rosemary, Florida. Ini adalah rumah baru Ayahku, tetangganya bilang begitu. Keluarga barunya. Aku tidak cocok hidup disini.
Pintu trukku tiba-tiba terbuka. Dengan spontan, aku meraih ke bawah kursi dan mengambil pistol sembilan millimeterku. Aku mengayunkannya dan mengarahkannya pada penyusup itu, memegang senjata itu dengan kedua tanganku siap untuk menarik pelatuknya.
"Whoa… Aku baru saja akan bertanya padamu kalau kau tersesat tetapi aku akan mengatakan padamu apapun yang ingin kau lakukan padaku asalkan kau jauhkan senjata itu,"
Seorang perempuan dengan rambut keunguan yang diselipkan dibelakang telinganya berdiri di sisi depan senjataku dengan kedua tangan terangkat dan matanya yang melebar. Aku menatapnya bingung dan tetap mengacungkan senjataku. Aku masih tidak tahu siapa wanita ini. Membuka pintu truk orang lain bukanlah hal biasa bagi orang asing.
"Tidak, kupikir aku tidak tersesat. Apakah ini rumah Namikaze Minato?"
Srekk!
Dia merampas senjataku. Dame mittai.
Aku menelan ludah dengan gugup, "Uh, aku tidak bisa berpikir jika senjata itu diarahkan ke wajahku. Kau membuatku sangat gugup, Sayang. Bisakah kau menurunkan senjatamu sebelum terjadi kecelakaan?"
"Aku tidak mengenalmu. Diluar gelap dan aku di tempat asing, sendirian. Jadi, maafkan aku jika kau merasa tidak nyaman saat ini. Kau bisa mempercayaiku kalau aku bilang padamu bahwa tidak akan terjadi kecelakaan. Aku bisa memakai senjata. Dengan sangat baik."
"Namikaze?" dia mengulangnya perlahan dan mulai menggelengkan kepalanya kemudian berhenti, "Tunggu, aku bertemu dengannya sebelum dia dan istri barunya pergi ke Paris."
Pandangannya terlempar kearah lain. Aku tidak tahu harus berbuat apa selagi aku fokus pada senjata dan menahan nafasku. Dia menurunkan senjata dan memastikan untuk mengembalikan rasa aman seperti semula.
"Kau punya surat ijin untuk menggunakan senjata?" tanyaku ragu. Dia tidak menjawabnya. "Namikaze di Paris?" tanyaku meminta konfirmasi. Dia tahu aku akan datang hari ini. Kami sudah membicarakannya beberapa minggu yang lalu setelah aku mengunjungi Ibu di Jepang.
Perempuan itu mengangguk pelan dan bersikap santai. "Kau mengenalnya?"
Tidak juga. Aku menemuinya dua kali sejak dia meninggalkan ibu dan aku lima tahun yang lalu. Aku ingat Ayah datang ke pertandingan sepak bolaku dan memanggang burger di luar rumah untuk pesta antar tetangga. Aku benci mengakuinya sebagai Ayahku lagi.
"Aku baru saja menjual tanah untuknya. Kau siapanya?"
"Aku sepupu istri barunya, Hinata"
Terdengar gila.
Mataku melebar dan aku menghempaskan kepala ke belakang dan tertawa. "Ayo Hinata, aku ingin kau bertemu dengan seseorang. Dia akan menyukainya."
Aku menatap tangannya dan meraih tas miliknya.
"Apakah kau menaruhnya di dalam tasmu? Haruskah aku memperingatkan semua orang agar tidak membuatmu marah?" nada menggoda di suaranya menjauhkanku dari berkata kasar.
"Reaksi cepatmu karena takut dengan mengacungkan senjata pada seseorang? Cewek sialan, dari mana asalmu? Kebanyakan gadis yang aku kenal akan menjerit atau semacamnya."
Kebanyakan gadis yang aku kenal tidak terpaksa untuk melindungi dirinya hampir selama tiga tahun. Aku punya seorang ibu yang sakit untuk dijaga tetapi tidak ada seorang pun yang menjagaku.
"Aku dari Osaka," jawabnya sambil mengacuhkan uluran tanganku dan melangkah keluar dari truk.
Angin sepoi pantai membelai wajahku dan bau asin dari laut terasa begitu nyata. Aku belum pernah melihat laut sebelumnya. Paling tidak belum secara langsung. Aku melihatnya di lukisan dan film. Tapi baunya, benar-benar seperti apa yang aku harapkan.
"Terima kasih, uh…aku belum tahu namamu."
Aku menarik koper keluar kemudian berpaling padanya.
"Apa? Kau lupa untuk bertanya ketika merampas senjata sembilan millimeter yang diarahkan padaku?" jawabku. "Aku Naruto, temannya Utakata,"
"Utakata?"
Aku menyeringai lebar lagi. "Kau tidak tahu siapa itu Utakata?" aku benar-benar gembira. "Aku sangat senang kau datang malam ini." Aku menganggukkan kepala ke arah rumah, "Ayo. Aku akan memperkenalkanmu."
"Jadi, Utakata tinggal disini?" tanyanya.
"Ya, dia tinggal disini, paling tidak saat musim panas. Dia pindah ke rumahnya yang lain sesuai musim."
"Rumahnya yang lain?"
Aku tertawa, "Kau tidak tahu apa-apa tentang keluarga yang pernah dinikahi saudaramu, kan Hinata?"
"Pelajaran singkat sebelum kita masuk ke dalam kegilaan," jawabku atas petanyaanku sambil berhenti di puncak tangga yang mengarah ke pintu depan dan menatapnya. "Utakata adalah saudara tirimu. Dia adalah anak tunggal dari drummer terkenal Girugamesh, Ryo. Orang tuanya tidak pernah menikah. Ibu nya, sepupumu itu, adalah satu penggemarnya saat itu. Ini rumahnya. Ibunya bisa tinggal disini karena dia mengijinkannya." aku berhenti dan melihat ke belakang pintu, dan membukanya. "Ini semua adalah temannya."
Ruangan itu tidak seramai biasanya. Saat kami melewati serambi yang terbuka lebar, sebuah pintu masuk melengkung mengarah ke tempat yang merupakan ruang tamu. Meskipun begitu, ruangan itu lebih besar dari rumah terakhirku atau rumah yang pernah menjadi rumahku. Dua pintu kaca berdiri dengan pemandangan laut yang mempesona.
"Utakata, kenalkan Hinata, aku yakin dia mungkin milikmu. Aku menemukannya di luar dan terlihat sedikit tersesat," ucapku dan dia mengalihkan tatapan dari kumpulan orang-orang yang penasaran untuk melihat siapa itu Utakata.
"Oh ya?" jawab Utakata dengan malas dan maju dari posisi santainya di sofa dengan bir ditangannya. "Dia menarik tapi masih muda. Tidak bisa dikatakan dia milikku."
"Oh ya, dia memang milikmu"
"Aku punya banyak tamu malam ini dan semua kamar sudah penuh." Utakata mengalihkan tatapannya padaku. "Kupikir lebih baik kita membiarkannya pergi untuk mencari hotel hingga aku bisa menghubungi Ayahnya."
Hinata meraih dan menarik koper yang masih ku pegang. "Dia benar. Aku seharusnya pergi. Ini adalah hal sangat buruk," dia menjelaskan tanpa melihatku. Dia menuju pintu.
Aku mengabaikan ucapan Utakata, aku ingin tertawa keras rasanya. Tapi apa? Kenyataannya adalah aku akan puas jika memberi tahu sebenarnya tentang sepupunya, tapi rasa puas itu berubah menjadi penyesalan. Aku merasa bersalah telah menyakiti hatinya.
"—Kau menyakiti hatinya, Uzumaki-kun," Hatake Kakashi memberikan sebuah celaan padaku sebelum ia menunjukkan tampang sedihnya sambil meminum habis mocktail dari gelasnya.
Aku tahu itu. Tanpa kau beritahu juga aku sudah tahu. "Kau terbawa suasana Hatake, cerita lainku tentang dirinya lebih menyedihkan lagi"
.
.
.
TBC
Terima kasih banyak yang udah baca, follow, dan alert. Yang udah review juga, bakal gw bales.
Guest1 : Hai, guest! Review mu paling panjang. Dan semuanya gak sepenuhnya bener, karna ada yang tidak diperhatikan. Pertama, di summary tertulis bahwa mocktail dan Coke. Artinya semua minuman terpisah dan bukan campuran. Siapa juga yang bilang campuran :v Kedua, panggilan chan-san. Naruto memang gak akrab sama Kakashi (dijelaskan tersirat dalam dialog juga), dan sebagai konsultan dia harus mencoba akrab kan? Coba anda renungkan kembali.
Guest2 : Memang di setting latarnya mundur. Ini udah lanjut. Tetep ikuti kedepannya.
Yoriko : Hae Pak, mangkannya baca dulu. Keburu review aje lu :v Katanya support SasuSaku tapi lu kagak tau siapa rambut raven. Pffftt, tetep ikuti kedepannya ye Pak.
Which including : Sudah lanjut, semoga chapter ini juga menarik karena dialog Kakashi dan Naruto kagak banyak disini. Udah diusahakan banyak juga words-nya. Semoga suka sama karakter Kakashi yang OOC, wkwk. Tetep ikuti kedepannya. Ok.
.
.
Keep review to support my story
