Caution.
No flame in this fict
Disclaimer.
Naruto © Masashi Kishimoto
I'll forget Her! © Eru Kan Riku
Inspiration © Look the last chapter
Song? © you can see at the last chapter
Ceramah singkat ERU.
Ekhm.. ekhm... hoeks... berhubung kalo openingnya kepanjangan pas ngedit Eru rada males. Jadi Eru sekip ya... semoga gak marah. Well.. maaf kalo alurnya rada di cepetin, updatenya kelamaan. Syndrome gue kambuh nih. Gomen. Well selamat menik mati ya... ~minaa~ :D
I'll Forget Her
~ Chapter 2~
(4,5 bulan setelah penerimaan siswa baru.)
Hinata Pov
Haft... akhirnya selesai... ku senderkan punggungku di senderan kursi. "Naruto! Cepatlah!" "Tunggu Sakura!" ku menoleh ke luar jendela.. pandanganku tertuju pada sekumpulan orang yang ada di bawah dengan tas mereka.. perlahan ku lihat mereka mulai menjauhi sekolah... ku mulai tersadar senja mulai tiba.. "Heh.. Naruto.. hehe... " gumam ku, dengan cepat ku bereskan draf-draf study ex-changeku dan memasukkannya kedalam map yang ada di tasku dengan rapi. "Aku harus segera pulang" ku pakai tasku lalu berdiri dan berjalan menuju pintu.
Naruto Pov
"Naruto! Cepatlah!" Sakura mulai meninggalkanku,"Tunggu Sakura!" sahutku, eh... ku rasa ada yang memperhatikanku? Kupalingkan wajahku kebelakang, mencari sumber aura itu... daguku terangkat tatapanku tertuju pada sosok gadis berambut ungu yang sedang menggendong tasnya di lantai 2. "Gadis itu..." ungkapku reflex. "Narutooooo..." Teriak Sakura memecahkan lamunanku... "Oh kau duluan aja deh... maaf aku ada urusan...daa..." balasku sambil berlari kembali ke sekolah. "Dasar anak itu... ya sudah deh" Sahut Sakura yang menggandeng tangan Sasuke dan menariknya agar cepat pulang.
Aku berlari dan terus berlari menaiki tangga di dalam benakku.. mengiang kata-kata gadis ningrat itu ga mungkin bisa pulang sendirian. Akhirnya kutemui dia di depan lorong. "Akhirnya. Kau ngapain aja sampai senja begini? Kau tak mungkin pulang sendiriankan?" ku dekati dia... "Seperti yang kau kenal, aku Naruto aku tinggal di rumah keluarga Uzumaki, tak jauh dari rumahmu. Bagaimana kalau kita berteman? Ah.. matahari mulai hilang, sebaiknya kita bergegas. Aku akan mengentarkanmu dahulu sebelum aku pulang." Kutarik tangannya untuk segera pulang, jujur saja awalnya aku sangat ingin pulang bersama Sakura, tapi ketika melihatnya sendirian dan harus menembus gelap malam untuk mencapai rumahnya... rasanya... aku kasihan hatiku iba padanya. Entah ku tak tahu kenapa.
Hinata Pov
"Aku harus segera pulang" ku pakai tasku lalu berdiri dan berjalan menuju pintu. Ketika ku keluar dari pintu ..."Naruto?" sedang apa dia di sini. Tanpa komentar akan kata-katanya aku langsung mengikutinya dengan tanganku yang di gandengnya dengan erat dan hangat.
Malam mulai datang... kami sudah ¾ perjalanan menuju rumahku... angin dingin mulai menghembus... nyaris bahkan suaranya tak terdengar... perlahan ku tanjamkan pendengaranku... seseorang memanggilku, "Kau ga kedinginan?" , "ah apa?" ku tajamkan lagi pendengaranku. "Hinata... kau ga kedinginan? Ini dingin sekali lho!" sahutnya bergetar dan mulai berhenti berjalan, kali ini aku mendengarnya. "Iya" jawabku perlahan, kemudian... kuliat dia melepaskan gengamanya, dan dengan cepat melepaskan jasnya dan memakaikannya ke tubuhku. "why?" tannyaku padanya. Dia menggeleng cepat. Lalu menggandengku lagi aku tahu dia juga kedinginan, bahkan kali ini telapak tangannya bagaikan mayat hidup alias vampir. Maka itu dia berlari lebih cepat dari yang tadi. Ku mulai merasakan kehangatan meskipun di terpa dinginnya angin malam. Sunny.. Naruto bagiku kau itu memanglah bintang yang amat hangat dan Indah. Hm... sunny.. yak bukankah matahari juga bintang ya?
Naruto Pov
Sumpah saya bingung sama diri dan hati saya yang bergerak tolak belakang, weit.. kok saya?, Aku yang sangat mengagumi bunga Sakuraku tapi... di sisi lain tubuhku melakukan hal-hal yang bisa di sebut romantis kepada sang pelangi yang selalu muncul dikala mendung dan hujan menyelimutiku. Ya Hinata siapa lagi kalau bukan dia yang pantas menyandang sebutan itu dariku. Orang.. hm.. gadis itu selalu datang di saat hujan menghiasi wajahku. Jadi... ah tau ah... yang pasti rumah yang ku tuju itu tinggal 1 meter lagi, pikirku dalam hati. "Ah, tidak! Ayah dan Ibu pasti marah aku pulang malam... gimana nih... kalau ayah aku masih berdaya melawan yah bisa lah di kompromi tapi... kalau... ibu" pikiranku kacau, benakku membayangkan amukan ibu makin menjadi, rambut merahnya nan eksotis itu... Sesampainya di rumah keluarga Hyuga, seseorang menyapaku dengan ramah, " Hinata... kau kemana saja? Naruto terimakasih telah mengantarkan anakku ya..." sahutnya ramah, persis seperti anaknya. "Ah iya..." aku mulai gemetar parah, tubuhku mulai takkuat menahan aura dingin di awal bulan Desember ini. "ibu..." Hinata menatap ibunya seperti memberikan isyarat. Benakku kembali bergumam... " Hadoh apa lagi ini...ga kuat dinginnn...".
"Hinata sudah pulang bu?"Suara pria memecahkan lamunanku pada tanah. Saat itu keluar Neji dan ayah Hinata dari ruang tamu. "Naruto kau kenapa?" tanya Neji. Aku hanya bisa menggeleng kaku. Sekujur tubuhku rasanya membeku. "Hinata! Ayo bawa Naruto masuk, Cepat."sambar ayah Hinata yang memahami keadaanku yang mulai hypotermia.
Aku di persilahkan duduk di depan meja kecil dengan selimutnya, yah meja khas orang jepang gitu, yang by the way... aku lupa namanya apa mungkin ini efek Hypotermia yang mulai menjadi. Ku masukkan kakiku ke kolong meja. Tubuhku bagaikan batu di kutub utara yang tak kenal kehangatan, bahkan gemetarpun tak sanggup. Aku disuruh menunggu di situ, aku tahu pemanas menyala tapi tetap saja tak ada kehangatan yang menempel di tubuhku. Tiba-tiba ku lihat Hinata membawa 2 baskom ,syal, sweater, jasku, sapu tangan dan sarung tangan. Dia duduk di hadapanku lalu berkata, "Mana tanganmu?kemarikan.."pintanya lembut. Ku lakukan apa yang di inginkan. Ia memasukan tanganku pada baskom air hangat itu. "Gimana?" tanyanya cemas. Aku hanya menganguk-anguk saja, "Kakimu?" pintanya lagi. Ku keluarkan saja kakiku dari bawah meja. Aku heran, dia memasukkan sapu tangan ke dalam baskom yang satunya, kali ini aku bertanya penasaran, "Kamu mau ngapain sih?". Dia menggeleng, sambil melepas kaus kakiku, di tempelkannya sapu tangan yang telah di masukkan ke air hangat dan di remasnya tadi di kakiku lembut. Kakiku menghangat ?. "Gimana?" Tanyanya lagi, kali ini aku menjawab "Ya baikan. Makasih ya... walaupun aku bingung kamu ngapain...". "Ohh.. tentu saja mencoba menyembuhkan sweater, syal, sarung tangan ini dan kaus kakimu lagi ya.. setelah kau puas merendam tanganmu pada baskom air hangat itu. Oh ya.. makasih ya jasnya!" Sahutnya lembut sambil tersenyum, dia selalu membuatku heran, "Kenapa kau begitu baik padaku?" ingin sekali ku katakan itu tapi rasanya itu selalu tertahan di lidahku. "oh GOD! Ayah!" sahutku terkejut. "Oh..tenganglah.. ayahku telah menelpon rumahmu, memberi kabar tentangmu dan berterimakasih atas bantuanmu. Ah.. ibu sudah menyiapkan makanan bersama kak Neji, ayo kita ke ruang makan!" Tanpa komentar setelah memakai semua baju penghangat ku ikuti dia dari belakang, jujur saja perutku sudah berdemo sejak ku berlari tadi, jadi tentu saja aku ikut makan dengan sangat senang hati. Gratis.. hehehe.
Tak kusangka, Semua keluarga Hyuga menerimaku dengan senang hati. Terutama Neji, asyik juga ngobrol dengan si genius ini saat di rumah, tak ku sangka ia berubah drastis dari imagenya di sekolah. Tapi yang ku herankan adalah tatapan bahagia nan manis dari putri sulung keluarga ini. "Bibi.. masakan bibi enak sekali, terimakasih ya! Maaf sudah merepotkan."Sahutku sesaat ku langkahkan kaki menuju pintu gerbang. "Sering-sering datang kemari ya! Bibi akan membuatkan makanan yang enak juga ya telah mengantarkan Hinata, Kau benar-benar sudah pulih kan?" Jawab Ibu Hinata ramah. "Iya itu pasti! Aku pergi dulu ya..." sahutku sambil berlari secepat mungkin. "Hati-hati Naruto!" teriak Neji. "Ya itu pasti!" jawabku sambil mengacungkan jempol padanya, lalu berlari secepat mungkin kerumah, karena yang ada di bayanganku adalah akan jadi apa aku nanti ketika sampai di rumah?dan... bertemu... i...bu.. hiiii...
Hinata Pov
"Dia baik ya Kak." Sahut adikku dari balik pintu rumah. "Ah iya. Sangat." Jawabku senang. "Ah ayah,ibu,kak,dek, aku duluan ya ke kamar! Selamat malam!" sapaku sambil tersenyum bahagia.
Ku tutup pintu kamarku. Ku banting diriku ke ranjang, dan bergelinding bolak-balik ga jelas, bahkan menggeliat-geliat. Tersenyum sambil mengigit guling. Ku berdiri lalu berjalan ke arah meja belajarku, ku duduk di kursi kamarku dan mengambil buku Diaryku. Lalu ku mulai menorehkan tinta hitam pada buku diary itu, menceritakan kejadian hari ini serta doaku untuk hari ini dan esok. Ku baca lembar demi lembar... "Ah ini" pandanganku tertuju pada lembar yang terkena tetesan air mataku. "Oh ya... tinggal 3 ½ bulan lagi waktukku bersama Naruto." Air mataku mengalir, ku rapatkan lagi tangan dan ku pejamkan mata dengan segenap hati ku katakan... "Tuhan... bantulah kisah cintaku ini.. persatukan aku dengan dia. Buatlah kami bahagia... izinkan aku bersamanya .. izinkan cintaku di balasnya... izinkan cintaku dengannya menjadi cinta yang sejati... Aaaammmmiiinn.."ku menutup buku diary ku dan menaruhnya ke tempat semula, lalu ku baringkan tubuhku di kasur. Ku pejamkan mataku.. dan tak luput adalah selalu menyertakan namanya di setiap doaku kepada tuhan. Ku tertidur dan berharap esok bisa lebih baik dari sekarang.
~Ke esokan harinya...
Naruto Pov
"Naruto! Ayo cepat sarapan nanti telat!" seru ibuku yang berada di ruang makan. Aku keluar dari kamar menggendong tas dan langsung menyamber roti di atas meja, dengan segera loncat dari jendela... lalu berlari ke sekolah.. aku ga perduli deh ibu mau ngomel apa.. yang penting aku harus ga boleh telat lagi... nanti kalo telat Hinata juga telat... (?) Dengan kecepatan super ku berlari menuju rumah Hinata.
Kushina Pov
"AAAA! NARUTOOOOO! KAU JANGAN KABUR! SARAPAN YANG BENER DONG! BIAR PINTER!" omelku pada Naruto yang mungkin sekarang tinggal siluetnya saja yang terlihat dari kejauhan. "Sudahlah Kushina.. percuma kau ngomel sekarang, toh dia juga udah pergi.." Sambar Minato sambil menurunkan koran yang di bacanya dan menaruhnya ke atas meja, lalu menyeruput tehnya. "Sudahlah sini kita saja yang sarapan ber dua. Nanti aku bisa telat juga kalau kau terus mengomel." Sahutnya dengan senyuman manis innocent yang membuatku selalu meleleh. "ok" aku mendekat dan bersiap sarapan. "Dasar kau dan anakmu sama saja..." sahutku seketika sambil tersenyum menatap Minato. "Kau juga kok..bukankah dia anakmu juga? hehehe!" jawabnya sambil perlahan cengengesan ke arahku. Orang ini.. benar-benar tak bisa ku mengerti...
Naruto Pov
"Oi Hinata! Di sini rupanya kau! Pantas saja ku jumpai rumahmu katanya kau sudah berangkat." Ku berhenti sejenak dan menghela nafas sebentar. Lalu berlari lagi sambil menggandengnya menuju sekolah. "Ayo tinggal 15 menit lagi sebelum masuk!" seruku sambil melihat hp. "Ah iya..." jawab gadis itu simple, sambil menyeimbangkan langkahnya denganku. "Em.. Naruto... dasimu ..itu mau lepas cepat benarkan, kalau hilang nanti bermasalah lho!" Kata-katanya menyadarkan ku akan hal yang penting. Penampilanku nan ambruladul kayak orang utan. Dengan sigap ku rapihkan diriku. Kulihat gadis itu hanya tertwa kecil padaku sambil berlari, rambut ungunya yang di terpa angin.. baru kali ini ku sadari betapa indahnya sang pelangiku ini. Tiba –tiba dengan pewe bin ajaibnya saat aku telah menyebrangi gerbang sekolah lonceng sarapanku berbunyi nyaring... "KRUCCUUUUKKK..KRUCCCCCCCCCCUUUUUUUUKKKK.." "blush.." mukaku berubah memerah dan pias. Seakan apabila perutku ini manusia kan ku pulul dia lalu berteriak ' kenapa kau haru mempermalukan ku di depan gadis berdarah biru dengan nyaringnya?!'. Ku hanya menunduk dan sedikit bergumam dengan harapan dia akan mendengarku.. "sumimasen." "Nih... makan lah..," katanya lembut sambil mengulurkan sebungkus roti isi, "Kau.. mau sampai kapan menunduk dan membiarkan perutmu berdemo? Hingga terjadi kegaduhan kah?". Ku angkat kepalaku perlahan yang malah tak sengaja menyenggol roti itu. "eh... sumimasen.." ku ambil roti itu, "ini..serius untuk aku?iyah?" "iya? Kenapa engga? Kan aku sudah memberikannya, makanlah." Jawabnya tenang. "ok lah, aku makan yak." Balasku yang sambil meneruskan berjalan. Sambil berjalan aku merangkap 2 pekerjaan lain. Yaitu berbincang dan mengunyah roti. Yaaa… sekarang mungkin aku akan bertanya pada personifikasi perutku, yang seandainya ada.. 'bagaimana rasanya? Kenyangkah? Janganlah membuatku malu untuk kedua kalinya ya.'
Hinata POV
"Ini enak... kau beli di mana?" tanyanya semangat sambil mengunyah dengan kekuatan super. Dengan sedikit ragu adan tawa.. " wah.. kau antusias sekali dengan roti itu? itu aku dapet gratisan. Hehehe... lagi pula kalau kau memang ingin membelinya kau beisa lihat di kemasannya saja kan naruto-kun?" . "Eh kemasan? Ada tulisannya ya? Oh iya ada... sip deh entar oe beli. Wkwkwk." Balasnya sambil tertawa puas, mungkin energinya sudah kembali. "Wah segitu laparnya ya sampai lesu dan gak sempat memperhatikan bungkus benda yang kau telan habis itu. Kalau itu sudah kadaluarsa bagaimana coba?" tanyaku yang sedikit menyindir kebiasaannya yang asal-asalan. "Hm... itu tak mungkin." Balasnya polos, sambil menaiki tangga. "Kenapa?" tanyaku balik yang sedikit terdiam di depan anak tangga. "Itu karena... kau yang memberinya. Ayo cepat." Balasnya sambil tersenyum dan mendahuluiku. "Yaah.. begitu ya.. tapi kenapa?kau begitu percaya?" balasku yang mungkin sudah tak di dengarnya karena dia tak menjawab. " aku tidak tahu, aku hanya ingin percaya saja kenapanya aku tak tahu." Balasnya pelan dari lantai 2. Dia mendengarku? Kok?
Kamipun akhirnya memasuki kelas yang hampir seluruh muridnya sudah datang. Tiba – tiba dengan gampangnya Kiba mengeluarkan kata-kata yang freak, "Oy Naruto.. kau ini mau ngegebet Sakura atau Hinata sih?" Jujur saja benakku tak menerima kata-kata itu.. 'orang ini... pagi-pagi sudah membandingkanku dengan sakura? Benar-benar.' "Haah... apa berteman dengan siapa saja itu di larang ya kiba? Kalau aku berteman dengan Hinata haram kah? Problem? Wkwkwkwk..." balasnya yang malah di sertai tawa. "iya nih.. jangan – jangan kau iri ya pada Naruto? Ayolah Kiba kita ini kan teman... jangan takut kehilanganku. Hehehe..." candaku yang di sertai tawa anak lain. "Huaah Kiba senjata makan tuan ya." Timpal Shikamaru puas. "kau… ini.. ngapain ikut-ikutan ngomong haaah?" seru Kiba dengan mata yang mengerenyit menampakkan kekesalan yang luar biasa. "suka-suka Shikamaru dong. Problem?!"balas Naruto dengan wajah yang Troll. Tak bisa di pungkiri itu adalah adegan yang sangat lucu. Seluruh penghuni kelas yang mendengar perbincangan kamipun tertawa terbahak-bahak sampai suatu dering nyaring menghentikan kami. "Krriiiinggg..kriiiing." bel tanda masukpun berbunyi dengan indahnya, ironi sekali ya?
Naruto POV
"Kriingg.." bel tanda berakhirnya pelajaran guru Kurenai yang juga berarti mengawali waktu istirahat berbunyi. Dengan kekuatan halilintar aku langsung melesat menuju kantin untuk memberi makan si personofikasi perutku yang tak tahu ampun berdemo di dalam pertuku. 'aaaah.. bisakah kau diam sedikit?' sepertinya itulah yang sangat ingin ku katakana padanya jakalau dia benar – benar ada di dunia ini. "hhheeeeaahh.. akhirnya sampai juga. Pak saya pesan ramen porsi Giant 2 mangkok ya!" seruku pada bapak penjual ramen, "Oh ya narutonya yang banyak yah. Entar anter ke sono yak. Ini duitnya pak, pas yak." Sambungku sambil menunjuk sebuah bangku dan memberikan sejumlah uang. Dengan sigap aku menempati tempat duduk itu. Tiba-tiba… "Haah Naruto, kau sendirian kan? Kami boleh ikutan gak?" tanya Sakura dengan nada serta suasana seakan mengatakan ' katakanlah iya jika tidak nyawamu melayang, kkkeeek.' "boleh kan Naruto?" serunya lagi, aku sempat melirik mereka, ya siapa lagi kalau bukan Sakura…. dengan… Sasuke. Lagi?. "Ya." Balasku pias, yaa.. itu karena tidak ada pilihan selain kata 'iya'. Beberapa menit kemudian ramen yang ku pesan datang, otomatis itu bisa membuat moodku naik drastis. "Selamat maaa—" "Narutoooooo!" "bwwbwbejuuaaahhh panaaas… apa lagi sih lu pada?!" pekikku, lalu palingkan wajahku ke arah di mana suara itu datang. "Kalian iniiii.. apaa?" seruku dengan muka datar dan amat malas. "Bolehkan kita ikut di sini? Ya yayayaaa.. iya kan sasuke.. boleh kan…?!" pinta Ino yang gak kalah eksotisnya dengan Sakura. Bahkan belum sempat ku izinkan Sasuke telah mengizinkan mereka.. yaa.. acara istirahat forever ALONE ku jadi gagal karena sekarang aku berada di antara Sasuke, Sakura, Shikamaru, Kiba, Chouji, dkk. " Hoi Sasuke… Kenapa kau mengizinkan mereka begitu saja? Tanpa seizinku pula." Seruku putus asa sambil memakan ramenku yang kedua. "Kenapa? Karena di akhir kata merea meminta izinku, kalau kau tidak mengizinkannya ya itu urusanmu dengan mereka. Bukan urusanku.. nyamm.." balas Sasuke yang bahkan tak sedikitpun melirik diriku. "Damn." Gumamku pelan.
Setelah ku selesaikan makan siang nan nista itu aku kembali ke kelas, yang tak luput di buntuti Shikamaru, Chouji, dan Kiba. "Oy Naruto.. kau masih kepikiran kata-kata Kiba tadi pagi ya?" Tanya Chouji sambil mengunyah keripik kentangnya dengan nikmatnya. "Tidak?." Balasku pendek. "Tapi ya Naruto.. kau itu hari ini lesu sekali… kelainan banget. Atau kewarasanmu itu sudah menurun 100%?" pekik Kiba sambil mencibir. "Tidak juga. Aku hanya… aku hanyaaa-" balasku yang terdiam sejenak. "Kau hanya apa Naruto?" sambung Shikamaru. "Aku hanyaa…" 'Krucuuukk' ' sial si personifikasi perutku mulai lagi..' . "Apa bodoh?" seru Kiba mulai nyolot. "Aku hanya masih lapar…" balasku sambil tertunduk… "….." hening. "HUAKAKAKAKAKAKKAKAKAKAKAKKK…. DASAR KAU PERUT KARET!" tawa Kiba, Shikamaru dan Chouji sukses membuat kami ber-4 menjadi sorotan bagi pandangan siswa lain. "Kalian ember banget ya.." balasku kesal, "Sudahlah cepat masuk kelas!" sambungku sambil menendang Kiba masuk kelas. "Kampret ! Lo kok nendang gue sih!" pekik Kiba. "Udah diem aja deh. Malu-maluin aja lo!" teriakku padanya yang jujur saja tak kalah eksotisnya dari petir.
"Kaliann… bahasanya dewa semua yaaa!" "bletak. Bletak." Seru Tenten sambil melandaskan buku ensiklopedia tepat di atas kepala aku dan Kiba. "Eh dia si perut karet ya yang mulai duluan!" pekik Kiba yang sudah menyeringai. "EH gilee.. lu juga nyari reeeebut tau! NGALANGIN JALAN PULA!" bentakku tak terima. "PLAK.. PLAKK…" ya, aku tak sadar di belakangku ada nenek Tsunade yang sudah memperhatikan entah sejak kapan… telapak tangannya sukses membuat aku dan Kiba terdiam dan terpental ke ujung kelas. "KALIAN BERISIK! SAYA MAU NGASIH PENGUMUMUAN SEMUANYA DUDUK DI BANGKU MASING-MASING!" pekik nenek Tsunade nan membahana. Dengan tubuh yang tertatih-tatih aku dan Kiba berjalan menuju bangku kami masing-masing dan mulai mendengarkan ceramah ibu Kepsek tercintah yang satu ini.
"Eh tadi si ibu ceramahin apa sih gak jelas?" Tanya Shikamaru sambil ngorek-ngorek kuping dan mengoap. "AELAH….itumah bukannya gak jelas Lo-nya aja yang gak DENGERIIN!" pekik Kiba gak selow. "Eh.. emang kan gue tidur di balik buku catetan.. gue hebat kan?!" balas Shikamaru yang malah membanggakan diri. "Ah.. kupreet kau Shikamaru…. Tadi si nenek ceramah tentang Study Tour musim dingin." Sambungku sambil mencibir.. "Tuuuullt.." "Eh hp gue bunyi ada sms.. bentar yak…" langsung saja ku buka dan ku lihat hp ku itu, ternyata terdapat sebuah pesan dari orang yang tak lama ini ku kenal dengan dekat…
"Naruto.. kau ikut Study Tour gak? ~Hinata"
.
'AH… HINATA?'
.
'aku harus jawab apa yaa?'
.
.
.
.
.
~Tengil Bin Centil~
_To Be Continued_
.
.
.
Pesan singkat Eru :
Ekhm... Ekhm... Eru mau bilang makasih buat semua yang menginspirasi Eru dan memberikan kritik & saran yang membangun. Maafkan ke-TYPOAN Eru yang mungkin saja parah. Daaaaaaaaannnn ini dia yang paling parah… maafin syndrome ERU ya… lupa alur/ digeplak/
Curcol singkat AUTHOR :
awalnya fict ini mau di buat one shoot tapi karena ada beberapa scane yang aku belum sempet buat dan terlihat amat panjang kalo di buat one shoot jadi Eru bikin jadi per-Chapter namun karena pas di buat per-Chapter kedikitan Eru mikir lagi alurnya harus gimana. intinya serbasalah Tapi Eru berharap aja semoga fictnya jadi lumayan seru. Maaf kalau episode kali ini sedikit kepanjangan dan ending yang kurang Greget itu mungkin karena Eru terpaksa memutus ending di tengah, karena takut kepanjangan dan Eru kasian sama readers yang baca. Mohon dukungan, saran, dan kritiknya ya… ~Love You All~
...MOHON KERIPIK DAN SARANA...
;;;;;Maaf kalo ada tulisan, kata – kata, jabatan, dsb Yang kurang & salah alias Typo;;;;;
,,,Siap menerima delevery order,,,
(promosi lagi...)
_SIAP MENAMPUNG BENDA BERNAMA REVIEW Dan PELURU BERNAMA LIKERS maupun Readers apalagi POLOWERS_
#Mohon sabar menanti episode selanjutnya#
