Uchiha Sasuke kini telah memakai pakaiannya, berkat bantuan sang istri, Sakura. Sakura tampak canggung dengan keadaan ini. Ia tak habis pikir, memandikan Sasuke? Oh, ayolah. Sakura masih terlalu dini untuk melakukan itu-setidaknya begitulah pikiran Sakura-dan sekarang, ia juga yang membantu Sasuke mengenakan pakaiannya. Geez, bertambahlah bebannya.
Namun apa daya? Sakura tak dapat menolak semua itu. Selain karena dirinya yang telah resmi menjadi istri Uchiha, juga karena keadaan fisik sang Uchiha yang cacat. Jadi, jika Sakura membiarkan Sasuke mandi sendirian, apa yang akan terjadi? Bisa-bisa ia terpeleset di kamar mandi dan bisa jadi Sakura menjadi tersangka utama dalam masalah ini karena membiarkan Sasuke mandi sendirian. Sungguh tidak masuk akal.
Kini Sakura membantu Sasuke berjalan menuju ruang tengah, mungkin Sasuke ingin menonton atau lebih tepatnya mendengarkan suatu acara di televisi. Sakura menuntun Sasuke hati-hati, tidak ingin pemuda itu tersandung sesuatu. Tangan kanan Sakura tetap setia menggenggam tangan besar Sasuke, namun Sasuke tidak membalas genggaman tangan gadis Haruno itu. Melainkan tangan Sasuke yang lain memegang ujung baju Sakura, seperti adegan film horror di akhir pekan yang sering Sakura tonton.
Sakura membantu Sasuke duduk di sofa berwarna cream yang ada di ruang tengah, dirinya bergegas menuju dapur yang terletak tak jauh dari ruang tengah, untuk sekedar mengambil beberapa cemilan yang dapat dirinya dan Sasuke gunakan untuk mengganjal perut ketika bersantai seperti sekarang.
"Ne, Sasuke, ini cemilan untukmu," ucapnya sambil meletakkan beberapa toples dengan isi yang berbeda-beda. Kemudian Sakura menekan tombol power/on pada remote yang ia pegang.
"Suapi aku," suara Sasuke membuat Sakura menoleh kearahnya dengan wajah yang menunjukkan ekspresi are-you-sure- dan tentu tidak dapat Sasuke lihat. Sakura bengong untuk beberapa saat, sebelum suara Sasuke kembali menyeruak ke indera pendengarannya.
"Cepatlah," tambah Sasuke, nada suaranya terdengar datar namun tegas dan juga sedikit lembut. Lembut? Barangkali. Sakura kelabakan memilih cemilan yang cocok untuk Sasuke. Berulang kali ia menggunakan metode cap-cip-cup untuk memilih cemilan. Sasuke yang sepertinya mengerti keadaan kembali bersuara.
"Aku tidak suka makanan manis," Sakura menoleh sebentar kearah Sasuke, kemudian kembali mengalihkan pandangannya kearah cemilan-cemilan itu. Matanya menyipit, berusaha mencari cemilan yang dikategorikan oleh Sasuke. Dan, bingo! Sakura menemukan cemilan dengan penutup kaca. Ia menguluurkan tangannya untuk mengambil cemilan tersebut, dengan gerakan cepat ia membuka tutup cemilan dan mengambil cemilan tersebut.
"Buka mulutmu, aaaaa…" Sasuke menoleh dan sedikit membuka mulutnya, membuat Sakura kesal. Hello? Bahkan lalat pun tak bisa masuk ke sana, sekiranya begitulah perkataan inner Sakura. Sasuke mulai mengunyah perlahan cemilan yang Sakura berikan, kemudian menelannya. Tidak ada yang berubah dari wajah Sasuke, tetap datar. Tak ada kata 'enak' yang keluar dari bibir Uchiha bungsu itu. Dan hanya ada Sakura yang melongo karenanya.
Sakura kembali menyuapkan cemilan ke Sasuke, sambil menikmati acara yang ada di televisi. Entahlah, Sakura merasa atmosphere di ruangan ini terasa hangat, padahal di luar sedikit gerimis. Sepertinya mereka sudah dapat menerima kehadiran orang lain dalam hidup mereka.
.
.
.
Jam dinding di ruang tengah keluarga kecil Uchiha ini telah menunjukkan pukul 09.37, belum terlalu larut malam, tapi dapat membuat Sakura menguap lebar. Mengingat ia biasa tidur dibawah jam 10 malam. Sedangkan Sasuke yang duduk di sebelahnya tetap memasang wajah datar andalannya, tiba-tiba Sasuke bangkit dari sofa, ia berjalan meninggalkan Sakura yang terbengong-bengong karenanya. Wajahnya tetap datar, Sakura jadi ragu, apakah Sasuke manusia atau bukan? Jangan-jangan ia vampire? Atau zombie? Atau mungkin jelmaan iblis? Bisa juga ia—
DUAGH
-dan kepala Sasuke terbentur dengan tidak elitnya.
.
.
.
"Makanya, Sasuke harus hati-hati, kalau mau pergi, tidak boleh sembarangan," celoteh Sakura sambil mengompres dahi Sasuke yang membiru karena telah mendapat first kiss dari dinding rumah. Sakura dengan telaten mengobati dahi Sasuke, wajah serius Sakura membuatnya terlihat sangat lucu.
"Ne, Sa-su-ke-kun, bolehkah aku memanggilmu seperti itu?" tanya Sakura, tanpa memberhentikan kegiatannya mengobati dahi Sasuke. Hening sejenak, Sasuke sepertinya enggan menjawab, sedangkan Sakura tetap mengobati dahi Sasuke.
"Hn," hanya gumaman kecil dari Sasuke, namun dapat membuat Sakura tersenyum senang-sangat senang.
"Sasuke-kun, dekatkan wajahmu," ucap Sakura, agar ia lebih mudah mengobati dahi Sasuke. Namun belum ada pergerakan dari Sasuke. Baiklah, pikiran kesal mulai berseliweran di otak Sakura.
'Apakah dia tuli? Atau lemot? Daritadi respon-nya lama banget.' Kesal inner Sakura yang agak berlebihan itu.
Karena sampai saat ini belum ada pergerakan dari Sasuke, Sakura memilih mendekatkan diri kearah Sasuke dan-
CUP
-Sasuke mendekatkan wajahnya kearah Sakura.
DEG DEG DEG…
BLUSH…
Wajah Sakura sukses memerah tak karuan. First kiss-nya telah raib hari ini, dengan cara yang tidak romantis pula. Sedangkan Sasuke, ia tidak terlalu bodoh untuk mengenali benda yang bibirnya sentuh saat ini, ia tahu persis apa yang menempel di bibirnya saat ini.
Hening…
Keduanya tidak ada yang mampu bergerak, dengan keadaan seperti ini, serasa canggung untuk keduanya. 1 detik berlalu, keduanya masih terdiam. 2 detik, tetap sama. 3 detik kemudian, keduanya saling menjauhkan posisi.
"Aaaa..Sasuke-kun, sebaiknya kita tidur," ucap Sakura canggung, ia lebih memilih membereskan peralatan P3K yang ia gunakan mengobati Sasuke tadi. Kemudian ia menuntun Sasuke menuju kamar mereka berdua.
.
.
.
"Oyasumi, Sasuke-kun," Sakura mematikan lampu yang berdiri tegak di meja dekat ranjangnya dan Sasuke. Kemudian membenarkan posisi tidurnya dan memejamkan matanya perlahan.
"Hn." Sahut Sasuke, kemudian ikut memejamkan mata obsidian-nya.
Keduanya tidur dengan arah berlawanan. Sakura yang sepertinya tidak bisa tidur, terus bergerak gelisah kesana-kemari dan akhirnya berhenti untuk menatap punggung tegap Sasuke. Akibat kegiatan Sakura yang bergerak kesana kemari tadi, membuat Sasuke terganggu, "tidurlah." Ucap Sasuke, posisinya masih membelakangi Sakura, namun Sakura tidak menyahut. Bahkan sepertinya ia tidak mendengar ucapan Sasuke barusan. Mungkin volume suara Sasuke terlalu kecil, atau Sakura yang terlalu gelisah sehingga tidak mendengarkan perkataan Sasuke? Entahlah.
Sakura tahu bahwa dirinya harus sekolah besok. Maka dari itu ia mulai berusaha membawa dirinya terbang ke alam mimpi, namun hasilnya nihil, ia masih tidak bisa menjamah alam mimpi. Banyak hal yang gadis pink ini pikirkan. Mulai dari first kiss-nya tadi-yang berhasil membuatnya blushing sendiri jika memikirkannya-dan juga pertanyaan yang akan dihadiahkan dari sahabat berambut blonde-nya ketika ia masuk sekolah besok. Memikirkannya saja sudah membuat Sakura pusing. Setelah lama berpikir tentang masalah-masalah tadi, akhirnya Sakura terlelap tidur.
Sasuke yang mendengar dengkuran halus dari Sakura, segera membalikkan badannya kearah Sakura. Sasuke berusaha meraba-raba untuk mencari tangan mungil Sakura. Ah, ketemu! Sasuke merapatkan tubuhnya ke Sakura sambil membawa tangan Sakura ke dada bidangnya dan menggenggamnya erat, sangat erat. Tak ada pergerakan berarti dari Sakura. Sasuke tersenyum kecil, Perasaan hangat mulai menjalari hati Sasuke saat bersama Sakura. Ia sangat suka dengan sensasi seperti ini. Sensasi tenang namun memabukkan. Entahlah, Sasuke juga tidak tahu apa arti dari sensasi ini. Namun, Sasuke tahu bahwa orang-orang di luar sana sering mengatakannya dengan istilah 'cinta'. Ya, Sasuke rasa, ia telah jatuh cinta pada Sakura. Entah sejak kapan, mungkin saat pertama kali bertemu dan mendengar suara merdunya. Yah, biarkan Sasuke menikmati acaranya kali ini.
.
.
.
Sakura membuka matanya perlahan, kemudian bangkit dari tidurnya. Ia mengambil posisi duduk, untuk mengumpulkan kembali nyawa-nya yang masih belum lengkap. Terbukti dari dirinya yang masih mengantuk hebat. Mengingat ia tidur sekitar jam setengah 12 malam. Sakura berjalan ke kamar mandi setelah menguap lebar dan mengucek matanya pelan.
Zrrsshhh Zrrssshhh Zrrssshhhh…..
Suara shower dari kamar mandi sukses membangunkan Sasuke yang terlelap. Matanya bergerak ke kanan dan kiri dengan pandangan kosong. Setelah itu, ia bangkit, mengambil posisi duduk di tepi ranjang. Hanya suara shower yang ia dengar, dan Sasuke tahu pasti siapa yang sedang menggunakannya. Sasuke memilih bangkit dari duduknya, kemudian berjalan sambil meraba sekitar, memastikan bahwa tidak ada sesuatu yang menghalanginya. Sasuke tidak tahu akan kemana, ia hanya berjalan mengikuti gerak kakinya. Sasuke tidak tahu menahu tentang isi dalam kamar ini, dikarenakan rumah ini baru saja dibelikan ayahnya dan ayah mertuanya sebagai hadiah pernikahannya. Kakinya berhenti. Sasuke mengulurkan tangannya untuk meraba sesuatu di depannya dan-
"KYAAAAA! Sasuke-kun?"
-terdengar suara pintu diikuti teriakan Sakura yang menggelegar.
"Sasuke-kun? Kenapa berdiri di sini?" tanya Sakura setelah berhasil menstabilkan detak jantungnya yang tidak karuan. Sasuke diam saja, antara malu dan bingung bercampur jadi satu. Sasuke tak menyangka langkah kakinya membawanya kesana. Ke depan pintu kamar mandi yang ada di dalam kamarnya dan Sakura.
"Hn, tidak ada," Sakura tersenyum kecil. Tangan mungilnya menggenggam tangan besar Sasuke. Sasuke tak bereaksi, maka dari itu Sakura menariknya.
"Ne, Sasuke-kun duduk saja," Sasuke menuruti ucapan Sakura. ia duduk di tepi ranjang. Kemudian Sakura berjalan menuju lemari untuk mengambil perlengkapan sekolahnya. Sakura kemudian melepaskan handuk yang melilit di tubuhnya dan memakai pakaian sekolah. Setelah selesai memakai bajunya, ia mengambil tas sekolahnya dan mendekat kearah Sasuke.
Tangan mungilnya kembali menggenggam tangan Sasuke. Menuntun Sasuke keluar kamar mereka dan mengajaknya ke ruang tengah. Sakura berjalan dengan ria, sedangkan Sasuke tetap dengan wajah datarnya. Setelah sampai di ruang tengah, Sakura membantu Sasuke duduk di meja makan. Sakura mulai menyiapkan 2 piring roti dengan selai untuk dirinya dan Sasuke.
"Sasuke-kun, ayo makan, aa….." Sakura menyuapkan roti dengan selai coklat kearah Sasuke dan Sasuke hanya membuka mulutnya. Satu suapan sudah Sakura berikan pada Sasuke dan suapan selanjutnya berjalan seperti biasa.
Sakura meletakkan 2 piring tadi di tempat cucian, mungkin setelah pulang sekolah akan ia cuci. Kemudian ia menatap jam dinding dan wajahnya seketika berubah masam.
"Huh, masih pukul lima kurang seperempat," gumam Sakura malas. Ia menuju Sasuke yang masih duduk tenang di kursi. Belum sampai 5 langkah Sakura berjalan, Sasuke sudah berkata sesuatu yang membuatnya hampir terjatuh.
"Aku mau mandi."
.
.
.
"Err.. Sasuke-kun bisa melepas celana sendiri'kan?"
"Hn,"
"Baiklah, sa-sa-at-nya man-man-di,"
Begitulah suasana di dalam kamar mandi tersebut. Sakura harus menahan malu karena memandikan Sasuke. Sedangkan Sasuke tetap stay cool, tidak peduli dengan apapun yang terjadi. Dan sepertinya Sakura harus menyediakan stok tissue lebih banyak.
.
.
.
"Aku berangkat, Sasuke-kun." Ucap Sakura riang. Sasuke hanya tersenyum lembut, namun Sakura tak dapat melihatnya karena terlebih dahulu berlari keluar rumah.
Sasuke rasa, hubungannya dengan Sakura menjadi lebih dekat dan mudah-mudahan akan terus berkembang menjadi lebih dekat dekat dan jauh lebih dekat lagi.
.
.
.
"Oi, Forehead. Kau dicari Gaara-senpai tuh," Sakura menolehkan kepalanya kearah sahabat blonde-nya yang bernama Ino itu.
"Ada apa? Kok tumben?" tanya Sakura bingung. Pasalnya, ia sama sekali tidak pernah berurusan dengan Gaara, sang cassanova sekolah sekaligus pemilik sekolah.
"Gak tau tuh," jawab Ino sambil mengangkat bahunya. Sakura masih memandang Ino bingung kemudian berjalan menuju Gaara yang berada di depan kelasnya.
"Hati-hati, ya. Forehead." Ucap Ino disertai tawa usil darinya. Sakura menolehkan kepalanya dan men-deathglare Ino.
.
.
.
"Err.. ada apa, senpai?" tanya Sakura malas, bayangkan saja, ia sejak 30 menit yang lalu duduk di kursi taman belakang sekolah dengan Gaara yang sama sekali tidak mengutarakan maksudnya bertemu Sakura.
"Jadilah kekasihku."
Dan detik berikutnya, Sakura menganga dengan perkataan Gaara. Dilemma? Tentu. Di satu sisi ia telah menikah, di sisi lain, ia tidak ingin menyakiti Gaara.
Sakura bergeming. Otaknya mulai mencari jawaban yang tepat untuk membalas perkataan Gaara. Ya atau tidak? Ah, Sakura bingung dengan jawabannya. Sakura menari napas perlahan, kemudian menghembuskannya. Gaara menatap Sakura dalam, membuat Sakura salah tingkah.
"Gomen ne, senpai. Tapi aku tidak bisa," ucap Sakura pelan. Wajah datar Gaara kini sedikit menunjukkan ekspresi kecewa. Sakura menggigit bibir bawahnya, jujur, ia merasa bersalah sekarang. Namun, jika ia menerima Gaara, sama saja ia mengkhianti Sasuke yang telah resmi menjadi suaminya.
"Baiklah, senpai. Aku harus kembali ke kelas." Ucap Sakura, Gaara tetap terdiam. Matanya menerawang ke langit, sedikit terpancar kesedihan di matanya.
"Ne, Aishiteru." Ucap Gaara, "Sakura…" gumamnya pelan.
.
.
.
Sakura terus berlari di koridor sekolah untuk menuju kelasnya. Ia tahu bahwa ia sudah ketinggalan pelajaran. Ia membuka pintu kelasnya perlahan.
"Gomen, sensei. Aku merasa tidak enak badan. Jadi, aku ijin pulang lebih dulu." Ucap Sakura sambil membungkuk hormat pada gurunya tersebut.
"Baiklah, hati-hati." Sakura mengangguk pasti kemudian berjalan ke dalam kelas untuk mengambil tasnya dan segera berjalan pulang.
.
.
.
TBC
.
Prok…prok…prok /dilempar/
Hana kembali minna-san! Muehehe /hatchi/
Gimana hasil ff Hana? Keren gak? Haha. XD
Gomen, baru update sekarang. Dikarenakan otak buntut saya yang gak nemu ide yang pas dan juga ulangan semester yang membuat otak saya tambah konslet /derita lu/
Oke, doakan Hana ya. Mudah-mudahan, Hana bisa dapet kelas unggulan. Muehehehe /plak/
So, review, please?
Deep Thanks,
Hana.
Special Thanks to :
KunoichiSaki Mrs Uchiha Sasuke, Aika Yuuki Uchiha, Salmonella Typhosa, Blue-Origami, , Nina137Elf, Pita-chan, Afisa UchirunoSS, Fran Fryn Kun, Guest, sasusaku uciha, Guest(1), Michelle.
