Assassination Classroom/Ansatsu Kyoushitsu © Matsui Yuusei

Memory © shichigatsudesu

Chapter 1 : Tragedy!

.

.

.

"Kita putus saja ya?"

"Hah?"

Gadis berambut pirang itu menganga kecil, tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.

"Aku... tidak mau." Jawabnya lirih. "Bukankah kau sudah berjanji untuk tidak meminta putus, Karma?"

"Benar sih," Karma menghembuskan napas pelan. "Tapi kali ini berbeda."

"Apanya yang berbeda?" Rio berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh. Hal itu berdampak pada suaranya yang sedikit bergetar. "Kalau kau minta putus karena aku posesif, cengeng, atau apapun itu, kasih aku kesempatan satu kali untuk berubah!"

"Maafkan aku, Rio. Keinginanku untuk putus saat ini lebih besar dibandingkan rasa cintaku padamu." Karma ikut menunduk, menatap kepala pirang Rio yang berada di hadapannya. "Maafkan aku."

"Tidak mungkin..."

Selanjutnya tangis Rio pecah. Ia tak lagi mati-matian menahan air matanya, semuanya tumpah begitu saja. Dengan sigap jari jemari Karma memutuskan aliran cairan bening itu, mengusapnya lembut lalu memandangi iris biru gadis Nakamura itu.

"Jangan menangis. Bukan berarti hubungan kita putus lalu persahabatan kita putus juga." Ucap si surai merah. Ia pun mendekap tubuh tinggi langsing Rio. Kepalanya dibiarkan menempel pada dada bidangnya, kemudian surai sepungggung itu ia usap. "Kita masih bisa bersahabat."

"Sungguh?" Rio menengadah ke atas, menatap wajah rupawan pemuda Akabane yang tersenyum ke arahnya. Mungkin ia berusaha menghibur.

Kemudian Karma menganggukkan kepalanya. Detik berikutnya ia kembali menenggelamkan kepala Rio ke dalam dadanya.

"Tapi, kalau kau ingin dipeluk, akan aku kabulkan."

Lagi-lagi Rio menganga kecil. Tak lama kemudian ia menghilangkan jejak air mata yang masih tersisa di wajahnya.

"Mau bagaimana lagi." Akhirnya Rio menyerah. Ia pun mengabulkan permintaan Karma yang sesungguhnya berat sekali untuk diterima batinnya. Namun apa boleh buat? Ia tak mungkin memaksa pemuda itu untuk meneruskan hubungan spesial mereka. "Karma,"

"Hmm?" sahutnya.

Rio mengeratkan pelukannya. Tak lama kemudian, Karma mengikuti gadis pirang itu.

"Terima kasih, karena kau telah bersedia menjadi kekasihku."

.

.

.

Sudah lama sekali kejadian itu berlangsung, namun mengapa ia masih memikirkannya?

Ini sudah lewat dari satu semester, tapi mengapa kejadian itu masih bersarang di otaknya?

Sungguh itu hanya masalah sepele sebenarnya, tapi begitu mengganggu kehidupannya saat ini. Karenanya ia selalu merasa gelisah sendiri, bahkan terkadang melamun.

Nakamura Rio dan Akabane Karma sudah putus, di pertengahan semester 4 bulan Maret, bertepatan dengan datangnya musim semi. Sampai saat ini mereka masih menjalani hubungan persahabatan, hanya saja Karma begitu cuek padanya.

Itu yang membuatnya merasa terganggu.

DUK!

"Aaawwww..."

Rio merintih kesakitan. Bersamaan dengan itu, lamunan yang menghantuinya sepanjang jalan pulan hilang dalam sekejap. Mungkin karena bis yang ditumpanginya sedikit oleng dan menabrak trotoar di sisi jalan, sehingga kepala pirangnya terpaksa menjadi korban.

Setelah bis kembali bergerak, Rio merasa tas sekolah miliknya terjatuh. Tangan yang barusan mengelus kepalanya kini ia gunakan untuk memungut benda berbentuk balok itu.

Tiba-tiba wajahnya berubah ketika mendapati tasnya yang sobek karena tersangkut kaki bangku.

"Yaahh, tasnya rusak."

Kemudian Rio mulai membongkar tas sekolahnya, berharap barang-barang di dalamnya tidak mengalami kerusakan. Namun sayang, harapannya tidak terkabul.

"Duh, dompetku juga rusak. Mana uang 1000 yenku selembar-lembarnya juga ikutan sobek!" keluhnya.

Manik serupa warna laut itu melirik dompetnya sekilas— melihat foto dirinya dengan seseorang. Diambilnya foto tersebut, kemudian menatap gambar perawakan dirinya dan si surai merah yang tengah tersenyum menghadap kamera.

Ada secuil perasaan sedih dalam dirinya.

Foto dalam dompet tersebut ikut tersobek, tepat pada bagian dirinya. Ia menatapnya lamat. Detik berikutnya ia merasa ada sesuatu yang mengganjal dalam hatinya.

Tiba-tiba ia merasakan suatu firasat buruk.

.

.

.

Sudah 30 menit berkelana di toko perabotan, akhirnya dua sejoli ini mengakhiri kegiatan mereka. Mereka segera pergi menuju kasir, membayar semua barang yang dibelinya untuk keperluan kelas.

Terkutuklah dengan para pengunjung toko yang tengah mengantri di depannya ini.

Dengan terpaksa kedua sejoli ini berada di tengah barisan menyebalkan itu sambil menenteng sejumlah perabotan kelas yang sejujurnya ukuran benda-benda tersebut membuat risih.

Salah satu dari mereka menoleh ke arah luar toko. Manik matanya berbinar-binar melihat pemandangan yang membuat atensinya tertarik.

"Isogai, aku pergi ke sana dulu ya?" pamitnya.

Seorang pemuda lainnya, Isogai Yuuma, menatap penuh tanya. "Kemana?"

"Di seberang ada yang menjual crepes. Mereka baru buka. Aku ingin ke sana."

"Lalu, barang-barang ini bagaimana?"

"Tenang saja, aku akan kembali lagi."

Isogai akhirnya mengangguk. Ia pun memberikan izin kepada sahabat surai kecokelatannya.

"Yasudah. Jangan lama-lama, Maehara."

Maehara Hiroto, pemuda belah tengah itu melenggang pergi meninggalkan Isogai yang masih mengantri di depan meja kasir. Pemuda surai hitam itu hanya tersenyum, ikhlas jika ia harus menanggung barang-barang ini sendirian.

10 menit sudah Maehara pergi meninggalkannya, namun ia tak kunjung kembali. Apa crepes disana itu enak, sehingga Maehara mendapat antrian ke sekian puluh karena banyak yang membeli? Kini Isogai sudah berada di barisan depan. Tinggal membayar perabotan itu dengan beberapa lembar ribu yen, kemudian ia bisa langsung keluar dari toko ini.

Kemana Maehara?

Isogai berusaha dengan sekuat tenaga menenteng perabotan-perabotan yang sudah diberi kantong plastik. Langkahnya sedikit terganggu karena gagang sapu, pel, dan serokan terus menerus menghantam wajah ikemennya, bahkan salah satu diantaranya hampir menancap netranya.

Pada saat Isogai sedang tertatih dengan barang bawaannya, samar-samar ia mendengar suara jeritan orang-orang yang begitu histeris. Kemudian paduan suara tersebut semakin jelas, sampai akhirnya ia mendengar suara decitan ban kendaraan dengan jalanan aspal, dan...

BRAK!

Isogai ternganga. Manik madunya membelalak ketakutan. Tanpa sadar kantong plastik yang ia pegang terjatuh ke lantai.

Sebuah kecelakaan lalu lintas terjadi tepat di seberang jalan. Bis menabrak sebuah toko alat musik di sana, dekat dengan toko crepes yang baru saja grand opening.

—tempat dimana Maehara Hiroto, sahabatnya berada.

"Onee-san, aku titip barang-barangku di sini!" ucapnya sambil menengok ke arah seorang kasir yang sama terkejutnya karena insiden tersebut.

Isogai mulai menancap gas. Ia menerobos pintu keluar otomatis dengan langkah seribunya. Beruntung lampu penunjuk jalan menampakkan warna hijau, sehingga ia tidak perlu berurusan dengan polisi karena melanggar aturan lalu lintas.

Sampailah ia di lokasi kejadian. Kepalanya dipaksakan bergerak cepat untuk mencari sobat tercintanya. Nihil, sosok yang dicari tidak dapat tertangkap lensanya.

Isogai semakin panik.

"MAEHARA!" teriaknya, namun si empunya nama tidak menyahut.

Isogai memperhatikan sekelilingnya. Saat ini orang-orang sudah mengelilingi bis yang terjungkir itu. Mereka semua bahu membahu mengembalikan bis agar kembali berdiri. Isogai yang sedang dikuasai aura negatif menyangka kalau sahabatnya tertimpa bis itu, sehingga si ikemen berusaha membantu orang-orang membalik bis itu.

"Hei bocah! Jangan ikut campur, bahaya!" teriak salah satu orang tua di sana.

"Biarkan aku membantu, paman. Temanku ada di sana."

"Kau tidak akan kuat mengangkat ini. Menjauhlah dari sini!"

"Tapi—"

"ISOGAI!"

Sebuah suara mengejutkannya. Isogai pun menghadap ke belakang, menatap si surai kecokelatan yang tengah berlari kecil menghampirinya.

"Maehara?!"

Dalam sekejap Isogai berseri-seri. Bersyukur ia dalam hati karena sahabatnya tidak menjadi korban.

"Apa yang sedang terjadi?"

"Kecelakaan bis." jawab Isogai seadanya. "Aku tidak tahu apa penyebabnya."

Maehara memperhatikan kerumunan orang di depannya. Ia melihat orang-orang tua memasuki bis yang berhasil ditegakkan. Entah kenapa ia merasa ingin sekali membantu menyelamatkan para penumpang bis. Tidak biasanya si cassanova seperti itu.

"Isogai, ayo kita bantu mereka."

Isogai mengangguk antusias. Akhirnya ia dan Maehara segera berlari menuju tempat perkara, memasuki bis yang sudah rusak sebagian, kemudian berusaha membantu mengeluarkan para penumpang bis yang tidak sadarkan diri.

"Isogai," panggil Maehara.

Isogai menoleh dengan tatapan bertanya. "Apa?"

"Lihat gadis itu!" Maehara menunjuk seorang gadis berseragam abu dengan darah segar menutupi sebagian wajah, dan sebagian lainnya menutupi wajah rambutnya yang diperkirakan sepanjang punggung. "Seragamnya sama seperti kita."

Isogai sedikit terkejut dengan pernyataan sahabatnya. Si ikemen mengambil posisi jongkok, tangannya ia gunakan untuk menyingkirkan surai yang menutupi wajah si korban. Sebenarnya si surai hitam itu merasa ngeri, tetapi ia berusaha memberanikan diri untuk melihat seorang gadis yang memakai almamater yang sama dengannya.

Isogai membelalakan manik madunya setelah menyingkirkan surai sepunggung si korban. Maehara juga melakukan hal yang sama. Tak lama kemudian, mereka membawa korban keluar dari bis, beserta dengan tas sekolah dan selembar foto yang sobek sebagian.

Si gadis pirang. Mereka mengetahui siapa korban itu.

.

.

.

Saat ini Isogai dan Maehara sedang menunggu dokter yang tengah memeriksa korban yang mereka selamatkan, korban yang menggunakan almamater sama seperti mereka, korban yang identitasnya mereka ketahui.

Hanya saja dua sejoli itu tidak yakin dengan jawaban mereka. Akhirnya mereka memeriksa isi tas korban untuk memastikan apakah dugaan mereka benar atau salah.

"Nakamura Rio... 3-A."

Maehara menoleh ke arah Isogai yang tengah menggumamkan nama korban beserta kelasnya. Pemuda pemilik rambut mencuat itu pun memasukkan sebuah buku milik Rio ke dalam tas si pirang. Kemudian ia menghembuskan napasnya berat.

"Sudah kuduga, dia itu Nakamura-senpai."

"Aku tidak menyangka Nakamura-senpai menjadi korban." Maehara ikut bergumam. "Semoga dia bisa selamat."

Isogai meng-amin-kan doa Maehara. Kemudian keduanya pun terdiam.

Isogai menatap ke lantai rumah sakit dengan posisi tangan yang ditopang oleh pahanya. Jari-jari tangannya sengaja ditautkan. Kedua kakinya sengaja dibuka, agar lantai seputih susu itu bisa ia tatap.

Tak lama, si ikemen beranjak dari kursi tunggu. Maehara yang sedari tadi bersandar di dinding sambil melipat tangan menatap sahabatnya kebingungan.

"Isogai?"

"Nakamura-senpai sedang diperiksa oleh dokter." Ucapnya setelah ia mengintip ke dalam kamar bertuliskan nama 'Nakamura' itu. "Aku akan masuk ke dalam."

"Yasudah, aku tunggu di luar saja."

Isogai memutarkan kenop pintu, kemudian melangkah masuk setelah benda kayu jati itu terbuka. Setelah si ikemen menghilang dari pandangan mata, Maehara kembali pada posisi semula— bersandar di dinding sambil melipat tangan.

Samar-samar Maehara mendengar suara langkah terburu-buru mendekat ke arahnya. Ia menoleh ke samping. Tak lama, sosok empat orang pemuda seusianya muncul menghampirinya.

Maehara memicingkan matanya bingung ketika salah satu dari mereka, yang memiliki rambut merah, melangkah dengan terburu-buru dan rasa khawatir yang berlebih.

Bukankah itu Karma-senpai, kekasih dari Nakamura-senpai? Batin Maehara.

"Dimana Rio?!" tanya Karma setibanya ia di ruang ICU tempat Rio dirawat. Ia kehilangan rasa sabar.

"Sebentar!" Maehara menahannya. "Aku mohon jangan berisik."

"Aku ingin masuk, tolong jangan halangi aku!"

"Nakamura-senpai sedang diperiksa, sebaiknya kau tidak mengganggunya dulu, senpai."

Karma menatap Maehara tajam. "Hah?! Kau bilang aku mengganggu? Sialan!"

"Karma, jangan emosi. Tenangkan dirimu." Senpai berambut biru langit, Shiota Nagisa, berusaha memegangi tubuh si surai merah itu agar tidak menerkam si surai kecokelatan.

"Senpai, aku akan beritahu semuanya, tapi kumohon jangan dulu masuk. Nakamura-senpai masih diperiksa."

Mendengar kalimat yang keluar dari mulut si cassanova membuat tubuh Karma melemas. Nagisa yang tengah memegangi tubuhnya segera menjauh. Ia akhirnya menduduki kursi tunggu, begitu juga dengan dua orang lainnya— Sugino Tomohito dan Kayano Kaede. Karma tidak duduk. Ia memilih berdiri di samping Maehara, tepatnya di depan pintu ruang ICU.

"Apa kau menyaksikan kecelakaan itu, Kouhai-kun?" tanya Kayano.

Maehara mengangguk. "Tapi sahabatku yang lebih tahu, karena saat itu aku sedang pergi ke toilet di toko sebelah toko alat musik."

"Bisa kau ceritakan bagaimana kejadiannya?"

Maehara diam sejenak sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Kayano. "Tapi aku tidak tahu detailnya."

"Tidak apa-apa, ceritakan saja seadanya." Ujar Sugino. "Untuk detailnya, kita bisa tanyakan pada temanmu itu."

Mendengar itu, Maehara mulai mengumpulkan ingatannya soal insiden gadis bermarga Nakamura yang terjadi 30 menit yang lalu. Ia menatap wajah para kakak kelasnya itu. Mereka semua terlihat sangat khawatir, terutama pemuda bersurai merah di sebelahnya selaku (mantan) kekasih korban.

Si cassanova memulai ceritanya.

"Kejadiannya..."

.

.

.

"Permisi."

Isogai memasuki ruangan ICU tempat salah satu korban kecelakaan bis di toko musik itu. Suaranya terdengar seperti berbisik, karena ia tak ingin mengganggu seorang dokter yang tengah memeriksa pasien. Ia juga berusaha menutup pintu sepelan mungkin agar tidak menimbulkan suara bising.

Sang dokter menoleh ke arah si surai hitam. Tatapannya terlihat tajam.

Merasa tidak enak, Isogai menghentikan langkahnya.

"Ano... apa aku mengganggu, dokter?"

Lelaki paruh baya itu kembali memusatkan pandangnya pada pasien di hadapannya. "Tidak, tidak. Apa kau mengatakan itu karena mataku?"

Isogai mengangguk. Sangat pelan, sampai tak terlihat kalau ia benar-benar mengangguk. Tapi dokter itu melihatnya, sampai akhirnya terkekeh pelan.

"Maaf, maaf. Aku kurang tidur jadi mataku agak buram. Aku mempertajam mataku agar penglihatanku jelas. Maaf ya? Aku tidak bermaksud begitu."

Isogai bernapas lega. Syukurlah dokter itu tidak memarahinya.

"Jadi, bagaimana kondisi Nakamura-senpai?" akhirnya Isogai bertanya.

Wajah sang dokter kembali serius. Atmosfer ruangan serba putih itu mendadak tegang.

"Luka di kepalanya cukup parah. Sepertinya ia terbentur dengan sangat kencang." Tutur sang dokter.

"Apa luka itu mempengaruhi bagian dalam kepalanya?"

"Berhubung dia belum sadar, jadi aku tidak tahu." jawabnya. "Tetapi..."

"Tetapi?"

"Kemungkinan besar dia mengalami..." frasa sang dokter menggantung, membuat Isogai penasaran bukan main.

"Apa yang terjadi dengan Nakamura-senpai?"

"... amnesia."

Isogai membelalak. Rasanya waktu berhenti bergerak ketika dokter menyebutkan kata terakhir dalam kalimatnya yang menggantung. Napasnya tiba-tiba tercekat. Apa itu benar?

"Tidak mungkin..."

Atensi sang dokter teralihkan ketika melihat kelopak mata Rio bergerak-gerak. Dalam hati ia merasa senang, tetapi perasaan itu hanya sekejap saja. Detik berikutnya lelaki paruh baya itu kembali gelisah. Bagaimana kalau seandainya dugaannya itu benar?

"Hei, nak." Panggil dokter pada Isogai. "Pasien akan sadar sebentar lagi. Kalau dugaanku barusan benar, datanglah ke ruanganku. Aku akan mempersiapkan pemeriksaan selanjutnya di sana."

Sang dokter pergi meninggalkan ruangan dimana Rio dirawat. Sedangkan Isogai masih mengalami serangan kejut. Ia tak berkutik sedikit pun, juga tidak merespon perkataan orang berjas putih itu.

Pintu ruang ICU yang sudah tertutup rapat kini kembali terbuka. Serombongan pemuda memasuki ruangan dengan ekspresi khawatir masing-masing— minus Maehara yang sudah terlihat lebih tenang. Mereka semua mulai mengerubungi ranjang rumah sakit, melihat dengan seksama kelopak mata pasien yang sedikit demi sedikit mulai terbuka.

"Benar kata dokter, Rio-chan sudah siuman." Ucap Kayano senang.

Iris biru itu mengerjap beberapa kali, sampai pandangannya sudah tidak buram lagi. Mata itu pun memperhatikan sekelilingnya.

Mengapa ada banyak orang disini?

"Syukurlah Nakamura sudah sadar." Giliran Sugino yang merasa senang.

Si gadis pirang berusaha menggerakkan tubuhnya. Kepalanya terasa pusing, sehingga ia ingin mengubah posisi tidurnya menjadi duduk.

"Jangan memaksakan diri, Nakamura-san. Biar aku bantu." Ucap Nagisa sambil membantu Rio mengubah posisi.

Setelah tubuhnya bersandar di dinding, Rio menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, menatap wajah orang-orang untuk yang kedua kalinya.

"Kau baik-baik saja, Rio?"

Rio menolehkan kepalanya ke arah sumber suara. Seorang pemuda surai merah bertanya padanya. Dari wajahnya ia kelihatan khawatir sekali.

"Apa kepalamu terasa sakit?"

Karma bertanya untuk yang kedua kalinya, dan Rio pun tidak menjawabnya. Ia hanya menatap pemuda Akabane itu dengan tatapan bingung.

"Siapa kau?"

.

.

.

TBC

.

.

.

A/N : YEEEEYYYY MINNAAAA kembali lagi bersama saya dengan fic trio jenius di kelas 3-E *entah kenapa saya seneng banget mereka bertiga jadi main chara di satu fic XD* tapi kali ini settingnya AU dan agak nyerempet indo sepertinya. Maaf ya kalau ceritanya gak seru karena (lagi-lagi) saya nyoba buat longfic dengan genre romance-hurt/comfort.

Terima kasih buat yang menyempatkan diri untuk baca. Minat untuk me-review?

Next Chapter 2 : Forget!