"Siapa kau?"

Semua orang yang mendengar kalimat barusan terkejut dengan kompak. Napas mereka tercekat, dada pun terasa begitu sesak. Tak ada satu huruf pun keluar dari mulut mereka yang menganga. Semuanya terkejut bukan main.

"Rio?" Karma memanggil nama si pirang. Suaranya bergetar, tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. "Kau... tidak mengingatku?"

Dengan polos, Rio menggelengkan kepalanya. Hal itu membuat Karma merasa sakit di dadanya.

"Nakamura-san, kau baik-baik saja kan?" Nagisa berusaha menenangkan Karma dengan bertanya kepada sahabat pirangnya. "Kau kan baru sadar pasti kepalamu masih pusing kan, makanya kau tidak mengingat Karma."

Nagisa berusaha tersenyum ramah pada Rio. Mungkin setelah ini Rio pasti mengingat Karma dan semuanya, begitu pikirnya.

Namun si pirang masih menampakkan ekspresi bingungnya.

"Sungguh, aku tidak tahu siapa dia."

Nagisa tercekat untuk yang kedua kalinya. Sama seperti Karma, ia benar-benar tidak percaya dengan ucapan Rio barusan.

"Bagaimana denganku? Kau ingat aku kan?" sambar Kayano. Tiba-tiba si surai hijau menarik pelan lengan Sugino. "Bagaimana dengan Sugino-kun? Kau tidak mungkin lupa kan? Dia itu—"

Rio menundukkan kepalanya.

"Maaf, aku benar-benar tidak tahu siapa kalian."

Untuk yang ketiga kalinya mereka terkena serangan kejut. Bahkan mereka terlihat kesulitan bernapas, seolah ada sebuah tali yang melilit leher mereka. Apa yang sebenarnya terjadi? Separah apa lukanya?

"Tidak mungkin..."

"Isogai?"

Maehara menoleh ke arah Isogai yang tiba-tiba bergumam. Pemuda berpucuk itu bergetar kecil, tangannya mengepal, matanya tertutup rapat dengan cairan bening di sudutnya.

"Tidak mungkin!"

Isogai melangkah pergi meninggalkan ruangan beserta penghuninya di sana, bersama rasa kesal yang langsung menyelimuti tubuhnya dalam sekejap.

Langkah seribunya mengisi kesunyian di lorong rumah sakit yang terang benderang namun terasa sunyi itu. Kakinya membawa Isogai menuju sebuah ruangan. Sepertinya ia akan menemui lelaki paruh baya itu.

Maehara menatap kepergian Isogai dengan sejuta rasa heran dalam dirinya. Ia ingin mengejar, tapi kemana?

"Isogai!"

.

.

.

Assassination Classroom/Ansatsu Kyoushitsu © Matsui Yuusei

Memory © shichigatsudesu

Chapter 2 : Forget!

.

.

.

"Retrograde amnesia."

"Hah?"

Isogai Yuuma mengerutkan dahi, gagal paham dengan istilah yang disebutkan sang dokter.

"Apa itu?" tanyanya. "Bisa kau jelaskan?"

"Retrograde amnesia adalah salah satu jenis amnesia dimana penderita tidak dapat mengingat informasi atau ingatan dulu. Sama seperti jenis amnesia yang lain, penyebabnya adalah kerusakan pada otak yang menyimpan segala macam ingatannya."

"Apa itu akibat dari luka di kepalanya?"

Dokter itu mengangguk. "Seperti yang kukatakan sebelumnya, ini pasti karena benturan keras pada kepalanya."

Isogai semakin tertekan mendengarkan penjelasan mengenai penyakit yang diderita Rio. Tidak dapat mengingat informasi dulu? Itu artinya Rio melupakan segalanya yang terjadi pada waktu lampau, Rio tidak dapat mengingat orang-orang di sekitarnya.

Nakamura Rio tidak dapat mengingat Isogai Yuuma lagi.

Bagaimana ini?

Isogai kesal. Saat ini hubungan dirinya dengan kakak kelasnya pirang itu sudah cukup dekat, tetapi kenapa? Mengapa setelah semua itu Nakamura Rio harus amnesia?

Kalau takdir bisa ditentang, maka Isogai Yuuma akan mengajukan protes sekarang juga, atau bila perlu menghajarnya agar hal ini tidak akan pernah terjadi.

"Bagaimana agar ingatannya bisa kembali pulih?" tanya Isogai tak sabar. Ia tak ingin Rio selamanya hilang ingatan, ia tak ingin kakak kelasnya itu melupakannya. Ia tak ingin itu!

"Untuk saat ini, hindari hal-hal yang berhubungan dengan penyebab amnesianya." Jawabnya. "Selain itu..."

Isogai berusaha mencerna setiap kata yang keluar dari mulut lelaki berjas putih di hadapannya. Semuanya ia simpan dalam memori otaknya. Selanjutnya ia akan memberitahu teman-temannya soal ini.

"Baiklah. Aku akan mengingatnya, dokter."

"Kalau begitu, aku akan memeriksanya lagi. Setelah itu, aku akan memberinya obat." Ucap sang dokter. Ia bangkit dari kursinya, begitu juga dengan Isogai. Mereka bersiap-siap untuk meninggalkan ruangan dokter. "Hei, nak."

Merasa dipanggil, Isogai berhenti melangkah sambil menatap sang dokter. "Ada apa, dokter?"

"Tolong hubungi orang tuanya. Aku ingin menemui mereka."

"Baik, dokter."

.

.

.

Sekembalinya dokter dan Isogai ke ruang rawat Rio, semua siswa SMA itu menunggu di lorong rumah sakit. Mereka tengah menunggu Rio yang sedang diperiksa kembali oleh dokter.

Mereka semua terlihat prihatin— entah prihatin yang sebenarnya atau bukan, karena ekpresi mereka sangat sulit ditebak antara khawatir atau kesal dan sebagainya.

Terutama pemuda surai merah yang sedang menyudutkan diri di samping kursi tunggu sambil memeluk kedua kakinya.

Maehara Hiroto sudah lama menaruh atensinya pada sosok Akabane Karma. Ia prihatin melihatnya yang begitu terpukul. Jelas lah, siapa yang tak sedih jika mendapati orang terkasih mengalami kecelakaan, harus amnesia pula? Siapa yang tak sedih? Namun apa daya, si surai kecokelatan itu tak bisa melakukan apapun untuk menghiburnya.

"Akabane-senpai."

Karma mendongakkan kepalanya, kemudian iris tembaganya menatap tubuh Isogai yang berada di hadapannya. Anak itu baru saja memanggilnya, namun sejak kapan ia berjongkok di sana?

"Sejak kapan kau berada di depanku?" tanya Karma dengan nada setengah kesal. Mungkin ia masih emosi.

"Akabane-senpai." Isogai mengabaikan pertanyaan Karma. "Bisa tolong hubungi orang tua Nakamura-senpai?"

"Untuk apa?"

"Dokter ingin menemui mereka."

"Apa itu ada hubungannya dengan kondisi kesehatan Rio?"

Isogai mengangguk pelan. "Y-Ya. Dokter ingin—"

TAP!

Masih dengan emosinya yang meluap, Karma meletakkan kedua tangannya di atas bahu Isogai. Si ikemen terkejut ketika merasakan cengkeraman tangan Karma yang cukup kuat. Saat itu juga ia merasa takut, apalagi jika berhadapan dengan iris tembaganya.

"Ceritakan padaku bagaimana kondisi Rio sekarang!" pintanya dengan nada mengancam.

"Akabane-sen— akh!" Isogai meringis, ternyata cengkeraman itu semakin kuat. "Senpai, sa— akh! Akabane-senpai!"

"Hentikan, Karma!" cegah Nagisa. Si surai biru langit itu berusaha melepaskan cengkeraman Karma dari bahu Isogai.

"Karma, tenanglah, jangan emosi!" perintah Kayano.

Karma yang terlihat seperti haus darah masih kalap. Nagisa— yang kini dibantu Sugino, berusaha melepaskan Isogai dari tangan kekar Karma. Sedangkan Maehara bertugas untuk menjauhkan sobat ikemennya itu.

"Senpai, aku akan jelaskan padamu."

"Kau dengar itu, Karma? Sekarang lepaskan dia, jangan emosi." Sugino setengah berteriak pada si surai merah. Untungnya Karma langsung menurut, kalau tidak pasti Sugino menyuruh Kayano untuk mencari tali kemudian melilitkannya pada Karma.

Cengkeraman tangan Karma mulai melemas, dan sekarang anggota gerak atas itu dijauhkan dari si surai ahoge. Kini Isogai sudah tidak terancam lagi. Ia bisa dengan leluasa menceritakan percakapan dirinya dengan dokter beberapa menit lalu.

"Maafkan aku. Aku kalap." Ucap Karma pelan, hampir seperti berbisik.

"Tidak apa-apa, senpai." Isogai tersenyum ramah. "Seharusnya aku langsung mengatakan ini padamu."

"Sudahlah, tidak usah saling meminta maaf begitu." Lerai Sugino. Ia tak ingin ada basa-basi di tengah keadaan genting seperti ini. "Hei, Kouhai-kun. Apa yang ingin kau sampaikan?"

"Ini soal kondisi Nakamura-senpai." Jawab Isogai. "Barusan aku berdiskusi dengan dokter."

Tanpa basa-basi, Isogai langsung menceritakan kronologis percakapannya dengan dokter yang menangani Rio. Semuanya menyimak dengan serius. Sesekali mereka tersentak kaget karena penjelasan dokter yang Isogai sebutkan.

"Untuk saat ini, kita harus menghindari hal-hal yang berhubungan dengan penyebab amnesianya." Jelas Isogai. "Selain itu..."

"Selain itu?"

Isogai meneguk ludah. Jeda sejenak. Tak sanggup meneruskan frasa yang menggantung, tetapi tidak mungkin dilewatkan. Sedangkan yang lainnya hanya bisa meneteskan keringat dari pelipis sebagai perwakilan dari rasa penasarannya.

"...jangan buat Nakamura-senpai menggali ingatannya yang hilang lebih jauh lagi."

Semuanya menghela napas. Mereka mendengarkan ulang kalimat yang baru saja dilontarkan Isogai dalam pikiran masing-masing, memastikan bahwa apa yang diucapkan si surai berpucuk itu benar.

"Apa maksudmu?" tanya Karma yang gagal paham dengan alasan kedua.

"Mungkin kita tidak boleh memaksa Nakamura-senpai untuk mengingat kita lebih jauh lagi, apalagi jika di antara kita ada yang bermasalah dengannya."

Mata Karma membulat maksimal, terlalu terkejut ketika mendengar kata 'masalah' keluar dari mulut Isogai. Separah itukah?

Namun, Karma tidak mempercayai Isogai. Selama ia belum mendengar dari dokter langsung, maka pemuda Akabane itu tidak akan mempercayai bocah setahun di bawahnya itu.

"Apa kau membohongiku?"

"Yang benar saja." Jawab Isogai. "Aku tidak mungkin mengarang cerita seperti ini, Akabane-senpai."

Karma masih menatap Isogai dengan tajam. Dalam hati Isogai merasa risih, tapi ia tak dapat melakukan apa-apa. Baru kali ini si surai hitam mendapatkan tatapan intimidasi Karma seperti itu.

"Senpai, Isogai sungguh-sungguh." Maehara berusaha meyakinkan Karma. "Barusan aku lihat dia berlari keluar. Kukira dia ingin kabur, ternyata dia melapor pada dokter."

Mendengar ucapan Maehara, serta melihat iris emas kedua adik kelasnya yang terlihat meyakinkan itu, akhirnya Karma percaya. Ia pun kembali merilekskan tubuh, begitu juga tatapan matanya yang sebelumnya terasa menusuk. Karma menghembuskan napasnya pelan.

"Baiklah, aku percaya." Ucapnya. Kepalanya ditundukkan. Seulas senyum miris terpasang di wajahnya. "Retrograde amnesia, ya?"

Isogai, Maehara, Nagisa, Kayano, dan Sugino menyusul Karma untuk menundukkan kepala mereka. Mereka kembali menampakkan ekspresi khawatir. Dalam hati mereka berempati serta berdoa atas kondisi Rio saat ini.

Tak lama, pintu ruang rawat Rio terbuka. Seorang dokter keluar dari sana. Serempak mereka berenam bangkit dari posisi duduk masing-masing.

"Isogai-kun? Benar?" tunjuk dokter pada Isogai.

"Ya, saya dokter."

Lelaki paruh baya itu menyerahkan secarik kertas berisi tulisan yang sedikit tidak terbaca.

"Ambil ini di apotek. Ini obat untuk Nakamura-san."

Isogai mengambil kertas tersebut. Setelah mengucapkan terima kasih, ia segera pergi meninggalkan kakak kelasnya serta sahabatnya, Maehara.

Sedangkan rombongan siswa SMA itu bergegas memasuki ruangan yang didominasi oleh warna putih. Mereka menghampiri Rio yang sedang menegak segelas air putih. Tak lama kepala pirang itu menoleh, menatap orang-orang seusianya yang kini mengelilingi ranjangnya untuk yang kedua kali.

"Kalian?" tanya Rio. "Kukira kalian sudah pulang. Apa kalian teman-temanku?"

Semuanya mengangguk ragu. Kayano mati-matian menahan tangis. Karma tak sabar ingin mngacak-acak isi kamarnya sebagai pelampiasan. Sedangkan yang lainnya hanya bisa membisu, tak tahu apa yang harus mereka lakukan.

"Dokter bilang aku terkena ret... ret... ret bla bla bla amnesia. Akh, aku lupa namanya." Rio bingung sendiri. "Berhubung aku tidak ingat ingat apapun, jadi maukah kalian bantu aku mencari ingatanku?"

Mencari? Rio bilang mencari?

Bagaimana ini? Barusan Isogai mengatakan kalau mereka tidak boleh membuat Rio menggali ingatannya lebih dalam. Tapi sekarang, Rio yang memintanya?

Apa yang harus mereka lakukan sekarang?

Mereka semua diam. Tak ada satu pun yang mengatakan ya atau tidak atas pertanyaan Rio. Hal ini membuat si pirang merasa bingung.

"Kenapa kalian diam saja?" tanya Rio lagi. Apa kalian tidak ingin membantuku?"

Lagi. Mereka tak menjawab pertanyaan dari Rio. Merasa diabaikan, si surai pirang menunduk lesu, sedih. Sepertinya tak ada satu pun dari mereka yang bersedia membantunya.

Sesungguhnya Nagisa tidak tega melihat air muka Rio seperti itu, tetapi ia sedang berusaha menenangkan Kayano yang sudah banjir air mata. Bukannya ia ingin mengabaikan Rio, tetapi si surai biru langit itu bingung harus menjawab apa.

Begitu juga dengan Sugino dan Maehara. Tak ada ide yang mereka dapatkan untuk bisa mengalihkan Rio dari topik serius ini. Mereka lebih memilih diam karena menurut mereka hanya ini pilihan yang terbaik untuk saat ini.

Tetapi...

"Baiklah."

Tiba-tiba Karma bersuara. Tentu saja semua penghuni ruangan ICU itu terkejut, khususnya Nagisa, Kayano, Sugino, dan Maehara yang mengetahui peringatan dari dokter yang beberapa menit lalu Isogai sampaikan.

"Aku akan membantumu, Rio." Sambungnya. "Aku akan membantumu... sampai ingatanmu kembali."

Karma mengabaikan peringatan dari Isogai. Ia sengaja melakukan itu agar Rio bisa mendapatkan kembali ingatannya, bagaimana pun caranya. Yang terpenting saat ini adalah ia bisa mengingat siapa dirinya, siapa orang tuanya, siapa teman-temannya.

—dan juga, siapa itu Akabane Karma.

"Sungguh?" Rio memastikan.

Karma mengangguk pelan. "Y-Ya, aku janji."

Rio menyunggingkan senyum dengan lebar. Ia terlihat senang, seperti sedang melihat pemandangan yang luar biasa indah. Wajahnya terlihat cerah, sampai mampu mencairkan suasana tegang dan menyedihkan di sana.

"Terima kasih, ano..." Rio mendadak bingung, pasalnya ia tidak tahu harus memanggil si surai merah dengan panggilan apa.

"Karma. Akabane Karma." Ucapnya seraya tersenyum. Beruntung pemuda itu peka.

Rio pun kembali memasang senyum manisnya. "Terima kasih, Akabane Karma-kun."

Karma tersenyum pada si pirang, senyum paling indah yang pernah ia pasang. Namun sayang, hatinya tak seindah senyumannya. Kini Karma harus mati-matian menahan perasaannya yang begitu sakit karena retrograde amnesia mantan kekasihnya itu.

Saat ini, sampai seterusnya.

.

.

.

Lima menit sudah ia menyendiri di lorong rumah sakit, tepatnya di depan ruangan dimana Rio dirawat. Setelah menghubungi kedua orang tuanya, Akabane Karma tak langsung bergegas pergi menusul teman-temannya pulang ke rumah, tetapi ia malah berdiam diri di samping kursi tunggu.

Karma menggenggam ponselnya erat-erat. Giginya menggertak mengerikan. Sekumpulan cairan bening jatuh melintasi kulit wajahnya. Ia menangis dalam diam.

Perih. Rio melupakannya itu rasanya perih. Tak pernah ia sangka-sangka hal seperti ini akan terjadi.

Apa ini hukum karma, karena dirinya telah mengabaikan Rio, bersikap cuek sejak putus, bahkan tak menganggapnya sahabat?

Ahh, Karma menyesal telah memutuskan hubungan spesialnya dengan Rio.

Sekarang apa yang harus ia lakukan? Nasi sudah menjadi bubur. Tak mungkin ia meminta 'rujuk' pada Rio agar kembali menjalin kasih seperti dulu. Tak mungkin juga ia menarik kembali janjinya untuk membantu gadis pirang itu mencari ingatannya.

Sial, tangis Karma semakin menjadi-jadi. Pikirannya sudah buntu sekarang. Ia tak bisa mencari solusi atas keluhan-keluhannya barusan.

"Akabane-senpai."

Karma terlonjak mendengar suara lembut milik seseorang menyebutkan namanya. Dengan segera ia menoleh ke arah samping. Benar saja, Isogai Yuuma sudah berdiri di sana dengan sekantong plastik berisi obat-obatan.

Karma baru ingat kalau dirinya tengah menangis. Buru-buru ia menghapus air matanya, menampar pipinya sebanyak dua kali, kemudian memasang wajah tampannya seperti biasa.

"Kau lagi?" ucap Karma yang kemudian diakhiri dengan seringaian tipis khasnya. "Bisakah kau tidak muncul dengan tiba-tiba? Kau selalu saja mengejutkanku, Isogai-kun."

"Apa yang terjadi denganmu, senpai?" tanya Isogai.

Karma hanya tersenyum. "Tidak ada." Jawabnya. "Kau tidak perlu mengkhawatirkanku."

"Kau tidak bisa bohong, senpai. Matamu tidak melakukan itu." Isogai menatap Karma yang sedikit terkejut karenanya. "Akabane-senpai."

"Panggil Karma saja." Jeda sejenak. Ia membuang napas pelan, berusaha merelaksasi tubuhnya agar tidak kembali terisak. "Aku gagal membohongimu ya?"

"Karma-senpai, maaf. Aku tak bermaksud mencampuri urusanmu, tapi—" Isogai memberi jeda sejenak. "—mengapa kau menangis?"

"Entahlah. Mungkin aku menyesal karena melakukan suatu kesalahan pada Rio selama beberapa bulan terakhir."

Isogai mensejajarkan dirinya dengan Karma. Ia juga menyandarkan diri di dinding, persis seperti kakak kelas surai merahnya.

"Apa maksudmu?" tanyanya gagal paham.

"Aku merasa kalau aku mendapat hukum karma." Terang pemuda Akabane itu. "Sejak aku dan Rio putus, aku selalu mengabaikannya. Jika bersamanya, sikapku langsung berubah menjadi dingin. Bahkan aku sempat berpikir kalau aku tidak ingin bersahabat dengannya lagi."

Putus? Karma-senpai dan Nakamura-senpai putus? Batin Isogai terheran-heran.

"Ternyata sekarang Rio kecelakaan. Dia mengalami amnesia dan tidak dapat mengingatku. Rasanya sakit sekali." Sambungnya.

"Karma-senpai..." lirih Isogai. Rasa terkejutnya masih bersarang dalam dirinya. "Jadi karena itu kau menangis?"

"Aku payah kan? Aku tak bisa seperti Rio yang masih tetap ceria meskipun aku mengabaikannya."

Karma terlihat menyedihkan. Begitulah isi dari pikiran Isogai saat ini. Pemuda berpucuk itu ingin sekali menghibur kakak kelasnya, tapi ia tak tahu harus berbuat apa. Kelihatannya si surai merah itu masih ingin mencurahkan isi hatinya, jadi yang bisa dilakukan Isogai hanya diam saja.

PLAK!

Karma menampar kembali pipinya untuk yang kedua kalinya. Isogai yang melihat kulit wajah Karma yang kembali memerah menatap ngeri bocah kelas tiga itu.

"Tak ada gunanya aku terus bersedih seperti ini. Lebih baik aku mencari cara untuk menyembuhkan amnesianya Rio." Tekadnya.

Dalam diam, Isogai mendesah kagum. Rupanya jika sudah memiliki tekad bulat, sosok Akabane Karma bisa menjadi orang yang pantang menyerah. Hal itu terlihat dari semangatnya yang membara dalam diri si surai merah.

Isogai Yuuma tersenyum senang.

"Sebelum itu," Karma menatap Isogai yang berada di sampingnya. "Aku ingin mengucapkan terima kasih karena kau dan temanmu telah menyelamatkan Rio."

Isogai mengerjapkan matanya. "Hah?"

Kemudian Karma menundukkan sedikit badannya ke arah Isogai, mengucapkan terima kasih dengan formal.

"Terima kasih banyak."

"S-Sama-sama." Jawabnya gugup. "K-Kami hanya kebetulan ada di sana."

Karma membalas ucapan Isogai dengan seulas senyum. Sepertinya anak itu sudah kembali tenang. Si ikemen pun tersenyum balik ke arahnya.

Dalam hati, Isogai merasa sedikit gelisah. Ia tak ingin kalah. Ia juga ingin memliki tekad bulat seperti Karma.

Aku juga akan berusaha untuk mengembalikan ingatanmu yang hilang, Rio-senpai.

.

.

.

TBC

.

.

.

A/N : Chapter 2 ku yang kacau :'''''''(((((((((

Saya mau tanya dong. Gimana caranya supaya di tag characternya ada tanda kurung sikunya?

Next Chapter 3 : Back!