Setelah menyelesaikan pekerjaan di dapur— mencuci peralatan makan setelah makan malam, Isogai Yuuma segera bergegas mengerjakan tugasnya yang baru setengah selesai. Pekerjaan rumahnya yang menumpuk kini sudah sepenuhnya terkikis. Tinggal mengerjakan beberapa soal matematika yang sempat tertunda karena makan malam.

Tiba-tiba...

"Loh, pensilnya dimana ya?"

Isogai mendadak panik. Pasalnya sebelum makan malam, ia memastikan buku dan alat tulisnya sudah tersimpan rapi. Tetapi sekarang, pensilnya malah hilang begitu saja.

"Jangan sampai pensilku hilang lagi. Ini sudah yang ketiga, dan aku tak punya cadangan lagi." Gerutunya sambil mengorek-ngorek tas sekolahnya.

Detik berikutnya Isogai mengerjap. Ia meraih sebuah benda yang dirasa asing di tasnya.

Benda itu adalah selembar foto yang sobek sebagian.

"Loh, ini kan foto Karma-senpai dan Nakamura-senpai?" gumam Isogai. Tak lama ia mengerjap, mengingat sesuatu tentang benda di genggamannya. "Oh ya, aku dapat ini saat kecelakaan minggu lalu."

Tak terasa waktu berjalan begitu cepat. Satu minggu sudah Rio dirawat di rumah sakit. Kini kondisinya sudah jauh lebih baik. Sebagian besar lukanya juga sudah sembuh.

Isogai menatap foto yang ada di genggamannya. Ia tersenyum sambil menatap Nakamura Rio yang sobek tepat di bagian wajah.

Rasanya ia tak sabar ingin segera bertemu dengan kakak kelas pirang itu.

.

.

.

Assassination Classroom/Ansatsu Kyoushitsu © Matsui Yuusei

Memory © shichigatsudesu

Chapter 3 : Back!

.

.

.

Hari yang ditunggu akhirnya datang juga. Sudah satu minggu ia berdiam diri di rumah sakit dan sekarang, gadis berambut pirang itu sudah diizinkan untuk pulang ke rumah.

Akhirnya...

Hari ini Nakamura Rio sudah kembali masuk sekolah. Jujur saja ia sangat senang, sampai semalam dirinya tidak bisa tidur dengan nyenyak. Ia ingin bertemu dengan teman-temannya, berkenalan dengan mereka, kemudian saling bertukar cerita layaknya anak-anak perempuan yang lain.

Satu demi satu anak tangga Rio pijaki. Berhubung masih pagi, sekolah terlihat sepi sehingga suara langkah kakinya dapat terdengar. Samar-samar ia mendengar suara teman-temannya yang sedang tengah bercakap-cakap. Benar saja, mereka ada disana.

"Rio-chan!"

Kayano Kaede segera menangkap perawakan Rio begitu melihatnya muncul dari tangga. Si surai hijau memeluk sahabatnya gemas, membuat si pirang merasa sedikit sesak.

"Kaede-chan, sa—" rintihnya. "Terlalu erat. Badanku sakit nih..."

"Ahh, maaf." Kayano pun menjauhkan diri dari si pirang. "Lukanya belum sembuh benar ya? Maafkan aku."

"Tidak apa-apa, Kaede-chan." Rio terkekeh pelan. "Badanku hanya terasa pegal, tapi sungguh, lukaku sudah sembuh kok."

PLAK!

Kayano terlonjak kaget, kemudian ia memegangi kepalanya yang terkena serangan pukul tanpa power dari Shiota Nagisa. Bibirnya ia kerucutkan— sebal.

"Seharusnya kau tidak perlu memeluknya seperti itu, Kayano. Dia kan baru keluar dari rumah sakit, lagipula kita kan menjenguknya setiap hari." Ucap si surai biru langit.

"Y-Ya, aku tahu." balasnya, masih dengan bibirnya yang mengerucut.

Rio tertawa lucu ketika melihat tingkah mereka berdua yang seperti ibu dan anak. Sugino Tomohito selaku pihak ketiga ikut tertawa, sama sepertinya. Mereka terlihat bahagia ketika sedang berkumpul bersama.

Dalam hati Rio ikut senang. Jadi seperti ini kebersamaannya dengan teman-teman ketika berada di sekolah?

"Ngomong-ngomong, kau tahu jalan dari rumah ke sekolah, Nakamura?" tanya Sugino basa-basi. "Bagaimana bisa?"

"Ahh, barusan aku diantar orang tuaku ke sini. Selama tiga hari nanti aku akan diantar jemput. Memalukan sekali, ya?" Rio terkekeh sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Apalagi tadi ayahku menitipkan aku pada kepala sekolah. Seperti anak TK saja."

"Yaa, tidak ada salahnya kan? Kau kan baru sembuh." Tanggap si maniac baseball. "Mungkin ayahmu tidak ingin kecelakaan itu terulang lagi."

"Kalau sampai hal itu terjadi..." Rio memegangi kepalanya, berakting ala orang yang kepalanya sedang kesakitan. Ceritanya mendramatisir. "Ahh, aku tidak ingin amnesia lagi. Aku lelah."

Mendengar kata amnesia, Sugino sedikit terkejut, namun ia masih bisa bersikap tenang di hadapan Rio. Dalam hati ia khawatir. Semoga apa yang baru saja si pirang katakan tidak dapat mempengaruhi kesehatan kepalanya.

"Nakamura, sebaiknya kau simpan dulu tasmu. Kau juga tidak tahu dimana tempat dudukmu kan?" Sugino mengalihkan pembicaraan.

"Ahh, benar juga." Tanggapnya. Ia pun memperhatikan semua kelas yang berada di gedung lantai dua itu. "Dimana kelasku?"

"Ini." Sugino menunjuk ruangan di sebelah kanan Rio yang terdapat plat bertuliskan 3-A.

Rio terkejut. Jadi selama ini ia berada di depan kelasnya sendiri?

"Aku tidak tahu dimana bangkuku. Antar aku ya, Sugino-kun?"

Sugino hanya mengangguk. Mereka berdua pun memasuki ruang kelas 3-A yang seketika menjadi ricuh karena kedatangan Rio yang menghapus rasa rindu siswa 3-A terhadapnya.

Namun, ada satu hal yang sedari tadi mengganjal dalam hatinya.

Saat ia hendak memasuki kelas, iris birunya ia lirikkan pada sosok berambut merah yang sedari tadi diam tanpa suara. Ia hanya memandangi lapangan sekolah yang menjadi akses perjalanan siswa menuju kelas. Tak sedikit pun ia mencoba untuk bergabung dalam percakapan dirinya dengan Sugino, atau merasa terusik dengan kehebohan Nagisa dan Kayano yang membicarakan berbagai topik menarik.

Mengapa Akabane Karma hanya diam saja?

.

.

.

Siang hari ini begitu cerah, secerah wajah siswa-siswi SMA Kunugigaoka yang sedang menikmati jam istirahat mereka. Sejak bel berbunyi, empat kelas yang berada di lantai dua itu menjadi gaduh. Banyak siswa yang berlalu di sepanjang koridor.

Meskipun suasana di sana tidak kondusif, Akabane Karma tetap menekuni aktivitasnya sambil menikmati seliwir angin yang terasa nyaman. Membaca berita. Surat kabar terbitan dua hari lalu itu sudah menjadi pusat atensinya selama lima menit, namun berita yang ia baca hanya satu topik.

'Inilah Kondisi Korban Selamat Bis Terguling'

Karma tak beralih membaca berita yang lain, karena setelah melihat judul itu, pikirannya langsung melayang pada peristiwa satu minggu lalu. Hal itu membuat perasaannya begitu gundah.

Apalagi ketika ia melihat nama 'Nakamura Rio' serta 'Isogai Yuuma' beserta 'retrograde amnesia' tercetak di sana. Si surai merah merasakan hatinya begitu perih, sama seperti ketika ia menangis di lorong rumah sakit.

"Karma-kun."

Karma terlonjak. Seseorang memanggilnya ketika ia tengah melamun, dan sekarang gadis itu sedang berjalan ke arahnya.

"Ada apa, Rio?" tanyanya.

"Apa minggu ini kau ada waktu luang?"

"Waktu luang?"

Rio mengangguk. "Aku ingin membeli beberapa kebutuhan pribadi, sekaligus jalan-jalan lah..." jawabnya. Detik berikutnya ia menggaruk kepalanya tak gatal, lalu menampakkan deretan gigi putihnya. "Sayangnya aku tidak tahu jalan."

Rio tertawa garing. Meskipun begitu, Karma senang melihat ekspresi gadis itu. Salah satu hal yang membuat dirinya senang melihat Rio selama mereka berpacaran adalah ekspresi itu.

Sekarang, meskipun sudah putus, tetapi si surai merah tetap menyukai tingkah Rio yang menggemaskan itu.

"Dasar amnesia."

Rio mengerjap dua kali. "Heh? Apa kau bilang?"

"Bukan apa-apa." Karma memasang senyum yang tidak terlalu lebar. "Memangnya kau ingin pergi kemana?"

"Aku ingin pergi ke mall di pusat kota. Ibuku bilang dulu aku sering pergi ke sana, jadi aku penasaran seperti apa sih tempat itu."

Mall di pusat kota, ya?

Sebenarnya tubuh Karma melemas ketika Rio menyebut salah satu tempat yang ingin ia kunjungi, hanya saja tidak tampak dari luar. Mengapa demikian? Karena tempat itu merupakan tempat yang sering dikunjungi Karma dan Rio saat mereka masih berpacaran.

Sejujurnya ia ingin menerima ajakan gadis itu, namun si surai merah ingat kalau dokter melarang untuk menggali ingatan Rio lebih dalam lagi. Ia jadi khawatir.

"Bagaimana, Karma-kun? Kau mau menemaniku tidak?" tanya si pirang lagi.

Karma menatap Rio sekilas, kemudian manik tembaganya beralih, memandang kalimat-kalimat yang tercetak dalam surat kabar. Kepalanya sedikit tertunduk.

"Maaf, Rio. Sepertinya aku tidak bisa ikut." Jawabnya. "Aku... ada kepentingan."

"Yang benar?" Rio menggembungkan pipinya sebal, tapi lucu. "Yaah, mengapa semua orang mengatakan hal yang sama?"

"Semua orang?" Karma mengernyit.

"Nagisa-kun, Kaede-chan, Sugino-kun. Mereka semua sibuk dengan tugas kelompok, lalu acara keluarga. Mereka bilang kalau kau punya waktu luang, jadi—"

Ahh, Karma jadi merasa bersalah. Mereka bertiga benar, ia punya waktu luang. Tapi penjelasan sebelumnya sungguh menghalanginya untuk pergi. Ia tak tahu apa yang terjadi kalau seandainya Rio berhasil mengingat apa yang pernah terjadi padanya saat di mall pusat kota. Dokter tidak pernah menjelaskan soal itu.

"Begini saja." Usul Karma yang sukses mengambil atensi si pirang. "Aku tidak janji bisa menemanimu. Tapi jika seandainya urusanku sudah selesai, aku akan menemanimu. Nanti aku hubungi."

"Sungguh?" tanya Rio, namun Karma hanya mengangguk sebagai jawaban. "Kalau begitu, aku tunggu kabar baik darimu. Semoga kau bisa menemaniku."

Karma tersenyum pada Rio. Setelah si pirang pamit pergi, ia kembali memusatkan atensinya pada berita di tangannya. Manik tembaganya menatap satu nama yang tercetak di lembaran koran tersebut.

"Sebaiknya aku meminta bantuan saja padanya."

.

.

.

Suara tap tap memasuki gendang telinga seseorang dengan jelas, padahal ruangan yang dihuninya sedang dalam kondisi tertutup. Mungkin itu akibat dari gedung apartemennya yang sedang sepi. Sangat sepi.

KREK!

Pintu ruangan terbuka pelan, namun menghasilkan suara derit yang cukup keras. Penghuni dalam ruangan menoleh, memasang wajah cemberut pada sahabatnya.

"Akhirnya kau datang ju— ASTAGA!" tiba-tiba pemuda surai unik itu tersentak kaget. Saking kagetnya, ia hampir saja tersungkur dari kursi belajar. "Apa yang terjadi denganmu, Asano?"

Pemuda yang dipanggil Asano itu menghembuskan napas berat.

"Huuh, melelahkan. Badanku sakit semua." Bukannya menjawab, pemuda pirang stroberi itu malah bergumam.

"Kau berkelahi lagi?" tanya Sakakibara Ren, pemuda surai unik itu.

"Tapi ini bukan salahku. Kali ini mereka yang menyerang duluan."

"Jadi kemarin kau yang mulai duluan?"

"Bukan begitu!"

Asano menghela napas. Mengapa sahabatnya ini mudah sekali berprasangka buruk? Seharusnya Ren tahu, kalau seorang Asano Gakushuu tidak mungkin melakukan hal gila seperti berkelahi. Bukankah mereka sudah saling mengenal sejak SMP?

"Kemarin aku benar-benar tidak sengaja merusak spion motor milik seorang yakuza. Dan barusan aku bertemu dengan mereka, alhasil aku dikejar." Jelasnya.

Ren bangkit dari kursi belajarnya dengan langkah agak malas. Sebuah lemari kecil dibukanya, kemudian mengambil kotak P3K yang berada di dalam.

"Lalu, lukamu itu?"

"Aku hampir saja tertembak."

Ren membelalakkan matanya. "Serius?"

Si pirang stroberi mengangguk sebagai jawaban. "Jadi saat mereka mengepungku, otomatis aku membela diri dong? Aku hajar mereka, kemudian setelah mereka tumbang aku langsung kabur."

Asano menjelaskan kronologis perkelahiannya melawan sekelompok yakuza, sambil mengompres luka lebam yang menghiasi hampir seluruh tubuhnya. Sedangkan Ren sedang membuatkan perban untuk pipi sahabatnya yang meneteskan darah segar.

"Saat aku lari, salah satu dari mereka mengeluarkan pistol. Aku berusaha menghindari tembakan, tapi pipiku malah menjadi korban."

Ren meneguk salivanya. Seram juga cerita si Asano itu, pikirnya. Tapi bagaimana bisa ia menghindari serangan tersebut? Terkadang si pirang stroberi itu selalu membuat dirinya begitu takjub dengan tingkah tidak masuk akalnya seperti itu.

"Yang benar saja kau, Asano." Gumamnya seraya bangkit menuju wastafel. "Tingkahmu selalu di luar akal sehat. Apa itu karena IQ-mu yang tinggi?"

"Tidak. Kau saja yang berlebihan." Balasnya agak sengit. Tak lama iris violetnya menatap sebuah lembaran surat kabar yang terjatuh karena tersenggol tangan Ren.

"Sedang apa kau?" tanya Asano kebingungan ketika melihat sahabat surai uniknya itu menatap kumpulan berita aktual di bawahnya.

"Asano." Panggil Ren. Suaranya terdengar begitu rendah. "Coba kau baca berita di koran ini."

Asano menaikkan alis. "Untuk apa?"

"Baca saja dulu, nanti kau akan tahu."

Meskipun bingung, Asano tetap menurut. Dengan badan yang pegal-pegal ia memaksakan diri bergerak lalu memungut koran yang jatuh di samping lemari kecil. Berhubung Ren tidak menyebutkan berita apa yang harus ia baca, maka manik violetnya melihat secara scanning judul-judul berita yang tercetak dengan ukuran besar.

Sampai akhirnya ada satu judul yang mampu menarik atensinya.

'Inilah Kondisi Korban Selamat Bis Terguling'

Dengan seksama Asano menganalisa gambar, kemudian membaca kalimat demi kalimat dalam berita tersebut. Sesekali manik violetnya berakomodasi maksimum ketika melihat beberapa kata yang ia kenal.

Salah satu kata yang membuatnya terkejut yaitu 'retrograde amnesia' dan 'Nakamura Rio'.

"Nakamura Rio?" gumamnya. "Mungkinkah ini—"

Ren membuang napas, sebelum ia menjawab. "Ya. Itu Nakamura Rio, orang yang kau cintai selama ini."

Asano menghela napas, terlalu terkejut mendengar kalimat yang keluar dari mulut sahabatnya. Sebenarnya ia setengah tidak percaya, tapi semua yang terdapat dalam koran ini benar adanya. Mana mungkin berita itu bohong?

"Yang benar saja..." Asano lirih.

"Jujur saja aku terkejut saat baca berita itu. Berhubung aku belum lihat kondisi Nakamura secara langsung, jadi aku tidak percaya." Ucap Ren.

Asano menghempaskan dirinya pada dinding di dekatnya. Kemudian tubuhnya menyusur ke bawah hingga posisinya yang semula berdiri berubah menjadi duduk. Pemuda surai stroberi itu masih syok. Kata retrograde amnesia sedang mengiang-ngiang di dalam kepalanya.

"Amnesia..." ucapnya. "Itu artinya, dia tidak mengingatku, begitu?"

Ren tidak menjawab pertanyaan Asano. Ia membiarkan sahabatnya itu merasa kesal. Seandainya si surai unik itu menganggapinya, pasti anak itu merasa semakin syok. Bungkam lebih baik untuk saat ini.

"Asano, kau ingin menjenguknya tidak?" tanya Ren setelah atmosfer apartemen itu sunyi sekian lama.

"Entahlah." Jawabnya seraya memandangi surat kabar di tangannya. "Mungkin lain kali."

Asano kembali membaca berita kecelakaan yang menimpa Nakamura Rio, orang yang sangat ia cintai. Saat menemukan satu nama yang begitu asing di matanya, ia mengernyitkan dahi.

Siapa Isogai Yuuma?

Mengapa bukan nama Akabane Karma yang muncul di berita ini?

Apa ada sesuatu yang tidak ia ketahui?

.

.

.

Bel sekolah sudah berbunyi sebanyak tiga kali. Dalam sekejap gedung SMA Kunugigaoka menjadi ricuh dengan siswa-siswi yang berbondong-bondong meninggalkan kelas.

Akabane Karma segera meninggalkan kelas 3-C, tempatnya menuntut ilmu. Ia bergegas menuju ruang kelas yang berbeda gedung dengannya. Semoga saja seseorang yang ia cari masih ada disana, harapnya.

Sejujurnya Karma merasa sedikit risih karena sejak sampai di kelas 2-B ia menjadi pusat perhatian adik-adik kelasnya, terutama kaum hawa. Tapi demi gadis pirang yang amnesia itu, terpaksa ia harus sabar.

Namun hal itu tidak berlangsung lama, karena si surai merah itu sudah menemukan apa yang ia cari.

"Isogai-kun!"

Si empunya nama menoleh ke arah pintu. Di sana Karma tengah melambai-lambaikan tangannya. Dalam hati ia bingung, mengapa senpainya itu ada di sini?

"Karma-senpai." Sapanya setelah tiba di hadapan si surai merah. "Ada perlu apa kau kemari?"

"Isogai-kun, aku butuh bantuanmu."

Isogai mengangkat alisnya bingung. "Bantuan apa?"

.

.

.

TBC

.

.

.

A/N : AKHIRNYA CHARA TAMBAHANNYA MUNCULLLL! *yaa, walaupun agak maksain sih hehe XD*

Maafkan saya yang updatenya kelamaan, lagi sibuk persiapan UAS tanggal 7 :'''''(((((

Untuk setting sekolahnya kok mirip sama sekolah saya ya hahahahaha(?) anggap aja mereka semua sekolah di gedung utama Kunugigaoka ya ya? XD

Buat nyaneenia makasih ya udah kasih tau saya cara nge-pair tag chara :D

Next Chapter 4 : Date!