"Isogai-kun, aku butuh bantuanmu."

"Bantuan apa?"

"Kau ada waktu luang tidak hari minggu nanti?"

"Hmm, sepertinya ada. Memangnya kenapa?"

"Begini." Karma berusaha menjelaskan alasan ia meminta bantuan kepada Isogai. "Saat jam istirahat tadi, Rio mengajakku pergi ke mall di pusat kota hari minggu ini. Sebenarnya aku ada waktu luang, tapi—"

"Tapi?"

"Kau pernah bilang waktu itu, kalau kita tidak boleh membiarkan Rio menggali ingatannya lebih dalam. Berhubung dulu tempat itu sering kita kunjungi, jadi aku khawatir kesehatannya terganggu. Kau mengerti maksudku?"

"Maksudmu, kau tidak ingin Nakamura-senpai tiba-tiba mengingat masa lalu sampai kesehatannya terganggu karena amnesianya?"

Karma mengangguk senang. Ternyata kouhai-nya yang satu ini mengerti apa yang ia katakan.

"Mungkin kalau Rio pergi denganmu, dia tidak akan ingat kalau dia sering pergi kesana denganku."

Isogai menganggukkan kepalanya. Sepertinya ia akan menolong pemuda Akabane itu.

"Baiklah, senpai. Aku akan membantumu."

.

.

.

Assassination Classroom/Ansatsu Kyoushitsu © Matsui Yuusei

Memory © shichigatsudesu

Chapter 4 : Date!

.

.

.

"Maafkan aku, Isogai. Aku tidak bisa menemanimu."

Isogai Yuuma sedikit terkejut. Ponsel yang sebelumnya berjarak satu senti dari telinganya kini ia tempelkan sehingga kulitnya bersentuhan dengan layar. Suara Maehara Hiroto yang mendadak tinggi di telepon sukses membuat gendang telinganya serasa ditusuk. Sakit rasanya.

"Eh? Kenapa?"

"Ibuku sakit, dan aku harus merawatnya. Sekarang aku harus pergi ke apotek untuk membeli beberapa obat."

"Heehhh... tumben kau melakukan itu, Maehara?"

"ISOGAI?!"

"Maaf, maaf, aku hanya bercanda."

"Dasar! Jadi, bagaimana keadaanmu sekarang?"

"Ahh, aku masih menunggu Nakamura-senpai di stasiun."

"Masih menunggu? Kupikir kau sudah jalan."

"Sepertinya Nakamura-senpai sedikit tersesat."

"Yasudah, aku tutup dulu teleponnya. Selamat bersenang-senang, Isogai. Semoga kencanmu berjalan dengan lancar."

"Terima kasih, Mae— HAH? KENCAN?"

"Jaga kesehatan jantungmu, ya?"

BIP!

Sambungan terputus. Isogai menutup flip ponselnya setengah kasar— plus Maehara yang sukses membuat wajahnya memerah. Gara-gara percakapan barusan, jantung si ikemen sekarang tidak beres. Detakannya meningkat cepat, padahal sebelumnya biasa saja. Sial, ia merasa gugup sekarang!

"Isogai-kun!"

DEG!

Isogai mengerjap. Kepalanya ia tengokkan ke sebelah kanan, dimana seseorang memanggilnya barusan. Si pemanggil berlari kecil ke arahnya. Dan sekarang jantungnya semakin tidak terkontrol.

Ahh, sial. Aku gemetaran. Batinnya.

"Ternyata benar Isogai-kun." Ucapnya senang setibanya di hadapan Isogai. "Sedang apa kau disini?"

"Aku sedang menunggu seseorang," jawabnya dengan gugup. "—tadinya."

"Eh?" Rio mengerjap. "Memangnya sekarang tidak?"

"Sebenarnya aku sedang menunggu teman, tapi tiba-tiba dia tidak bisa datang."

"Oh, berarti kau sama sepertiku." Ucap Rio. "Aku ada janji dengan Karma-kun, tapi saat aku sudah jalan dari rumah dia mengirim pesan kalau dia tidak bisa datang."

"Oh, begitu?"

Sebenarnya aku tahu itu, senpai. Batin Isogai.

"Tapi aku sudah terlanjur pergi keluar rumah, jadi aku tidak mungkin balik lagi." Sambungnya. "Syukurlah aku bertemu denganmu di sini, Isogai-kun."

Karma-senpai, mengapa kau tidak terus terang kalau aku yang akan menemani Nakamura-senpai? Jahatnya... Isogai sweatdrop.

"Ngomong-ngomong, kau akan pergi kemana?" tanya Rio. "Kalau tempat tujuanmu sama denganku, bagaimana kalau kita pergi bersama saja?"

"Aku... ke mall di pusat kota."

Sekali lagi Rio senang bukan main.

"Kebetulan sekali!" teriaknya. Detik berikutnya ia menarik tangan Isogai seenaknya, membawanya pergi memasuki stasiun. "Sudahlah. Kita pergi berdua saja."

Isogai segera menyesuaikan langkah kakinya agar tidak tersandung apapun. Setelah langkahnya teratur ia pasrah saja dengan dirinya yang ditarik-tarik kakak kelas pirangnya seenak jidat. Tak apalah, yang penting ia senang!

Setelah 'kencan' ini berakhir, si surai hitam akan mengajukan beberapa protes kepada Karma karena telah membuat skenario buruk untuknya hari ini.

.

.

.

Tidak butuh waktu lama untuk pergi ke tempat serba ada yang biasa disebut mall, kini Nakamura Rio dan Isogai Yuuma sudah tiba di sana. Mereka segera masuk melalui pintu otomatis, kemudian keduanya berdecak kagum. Betapa luas dan ramainya tempat ini.

"Senpai, apa kau ingin membeli sesuatu?" tanya Isogai.

"Ya. Aku akan membeli banyak barang hari ini." Kemudian Rio mengeluarkan secarik kertas kecil berisi daftar belanjaannya. "Pertama, ayo kita ke toko baju."

Rio dan Isogai segera bergegas menuju salah satu toko baju yang berada di mall tersebut. Setelah cukup lama berkeliling, akhirnya si pirang mendapatkan satu potong kemeja putih, satu sweater dengan warna senada surainya, serta kain abu untuk almamater seragamnya.

Setelah selesai urusannya di toko baju, Rio kembali mengeluarkan daftar belanjaannya. Penasaran, akhirnya Isogai mencoba mengintip kertas tersebut.

"Waahh, ternyata barang-barang yang ingin kau beli banyak sekali, senpai." Isogai bergumam, sedangkan Rio yang mendengar hanya terkekeh pelan.

"Ini karena seragamku yang rusak dan aku yang melupakan banyak materi pelajaran, jadi aku harus membeli seragam dan buku baru."

Isogai hanya ber-oh-ria. Ia berusaha mencari topik lain agar atmosfer di antara mereka tidak canggung. Tapi topik apa yang harus ia usungkan? Ia dan Rio bukan berada di kelas yang sama, berbeda angkatan pula, jadi ia tidak bisa menemukan topik yang menarik seputar sekolah.

"Isogai-kun." Tiba-tiba Rio memanggil si ikemen. "Kau lapar tidak? Kita cari makan yuk— eh, tapi aku ingin makan cemilan saja."

Mendengar tawaran mendadak itu, Isogai segera menerawang isi dompetnya. Dalam otak ia menghitung uang yang dimilikinya sekarang. Tapi kalau membeli cemilan ia tidak perlu khawatir dong? Cari saja yang harganya murah!

"Memangnya kau ingin membeli apa, senpai?" tanyanya.

Rio mengedarkan pandangannya pada sekitarnya. Tiba-tiba manik birunya berkilauan, melihat penjual crepes yang berada tak jauh dari netranya.

"AH! Kita beli crepes saja yuk? Aku ingin rasa—"

DAK!

Rio mendadak menghentikan langkah kakinya. Tiba-tiba saja kepalanya terasa sakit. Ia pun memijat pelan kedua pelipisnya, kemudian membuka matanya perlahan untuk mengadaptasi pandangannya.

Benar saja. Penglihatannya menjadi buram.

Ia mengerjapkan matanya berkali-kali, berharap pandangannya kembali menjadi normal. Kepalanya masih saja berdenyut. Mengapa ia mendadak sakit kepala?

"Nakamura-senpai? Kau baik-baik saja?"

Rio berhenti mengerjapkan matanya sejenak. Kemudian manik birunya beralih pada Isogai yang memasang raut khawatir pada wajahnya. Rasa sakit di kepalanya masih ada, sehingga jemarinya tak henti memijit kedua pelipisnya.

"Isogai-kun?"

"Kau baik-baik saja, Nakamura-senpai?" tanya Isogai khawatir. "Mengapa kau tiba-tiba diam?"

"Kepalaku mendadak sakit, Isogai-kun." Jawabnya. "Rasanya aku seperti bernostalgia."

"Hah?"

"Isogai-kun, apa kita pernah pergi ke sini berdua?"

Isogai diam sejenak. Mengapa senpainya itu menanyakan hal yang jelas-jelas tidak mungkin pernah mereka lakukan? Jangan-jangan, ini yang Karma khawatirkan?

Bagaimana ini?

"B-Belum." Jawabnya kemudian.

"Kalau begitu, siapa yang pernah pergi bersamaku?" tanyanya. "Aku merasa pernah mengunjungi tempat ini bersama seseorang, tapi—"

"Nakamura-senpai, jangan memaksakan diri." Isogai mencoba menenangkan Rio. "Bagaimana kalau kita cari tempat duduk?"

"Tapi—"

"Sudahlah, kita istirahat saja."

Isogai memegangi kedua lengan atas Rio, mencengkeramnya agar si gadis pirang terpapah olehnya. Kemudian si ikemen menggiring kakak kelasnya itu menuju bangku terdekat. Setibanya disana, Rio segera mendaratkan tubuhnya di bangku itu.

Isogai berlutut di hadapan Rio setelah gadis itu memasang posisi duduk, masih dengan raut wajah yang khawatir.

"Nakamura-senpai, apa kepalamu masih sakit?" tanya Isogai.

Rio mengangguk pelan.

"Obatmu masih ada, senpai? Sudah kau minum?"

"Ya, aku masih harus meminumnya." Jawabnya. "Sebelum pergi, aku sudah meminumnya, tepat sehabis makan. Tapi mengapa aku sakit kepala?"

Isogai diam, bingung hendak menjawab apa. Setahunya, Rio tidak pernah mengeluh sakit kepala. Saat masih dirawat di rumah sakit pun ia tak pernah merasakan hal seperti itu.

Tapi sekarang, mengapa...

"Senpai, aku akan membeli minum untukmu." Izin si surai berpucuk. "Aku akan segera kembali. Tunggu di sini."

Rio hanya mengangguk, selanjutnya Isogai melangkah pergi meninggalkannya. Rasa sakit pada kepalanya mulai berangsur hilang, tetapi perasaannya menjadi tidak tenang.

Tiba-tiba dalam kepalanya menayangkan suatu kisah dimana dirinya tengah berjalan di mall yang ia pijaki hari ini, bersama seorang laki-laki yang kira-kira seusianya. Ia dan pemuda tersebut terlihat begitu bahagia. Saling bercanda, makan crepes dan saling mencicip, membeli beberapa barang, dan sebagainya.

Rasanya seperti sedang menonton film drama romantis.

Hanya saja Rio tak tahu siapa laki-laki itu. Bahkan dalam 'film'-nya barusan, ia tak dapat melihat wajah pemuda itu dengan jelas. Ibarat seorang tersangka kasus korupsi, wajah pemuda itu disamarkan dengan sebuah benang kusut.

Sungguh, Rio penasaran dengan bayangan itu.

Apakah itu de javu? Atau ia memang pernah mengalami hal itu?

.

.

.

Setelah beristirahat cukup lama, Nakamura Rio dan Isogai Yuuma kembali melanjutkan kegiatan belanja mereka. Kali ini mereka mengunjungi toko buku. Mungkin ini akan jadi tempat terakhir yang mereka kunjungi karena banyak sekali barang yang ingin Rio beli di sini. Pasti membutuhkan waktu yang cukup lama.

Kondisi Rio sekarang sudah lebih baik. Rasa sakit pada kepalanya kini telah hilang. Meskipun begitu, Isogai tetap khawatir. Ia tak ingin si gadis pirang itu mendadak sakit kepala lagi, apalagi jika ia pergi jauh-jauh darinya.

"Isogai-kun, aku ingin keliling dulu, ya?"

Isogai yang sedang anteng membaca buku sejarah segera mengembalikan buku tersebut ke rak buku di hadapannya.

"Tunggu aku, Nakamura-senpai."

"Eh? Kau mau kemana?" tanya Rio kebingungan.

"Menemanimu." Jawabnya polos.

"Eeehh? Tidak usah, Isogai-kun." Rio menolak tawaran dari Isogai. Mendengar itu, si ikemen menaikkan alisnya— bingung. "Aku bisa sendiri, kok. Lagipula kau kelihatan asik sekali membaca buku itu, aku jadi tidak enak."

"Tidak apa-apa, senpai."

"Jangan bilang kau khawatir karena tadi aku sakit kepala?" Rio mencoba menebak isi kepala Isogai. "Tenang saja, Isogai-kun, aku baik-baik saja."

Isogai yang semula bersikukuh ingin menemani si pirang akhirnya luluh juga. Pasalnya Rio merajuk sambil memasang wajah yang kelewat imut. Si ikemen sampai tidak tega, dan ia merasa sedikit bersalah karena terlalu mengkhawatirkan senpainya itu.

"Baiklah, senpai." Isogai menyerah, sedangkan Rio tersenyum senang. "Kalau kepalamu sakit lagi atau kau butuh sesuatu, kau harus bilang padaku, ya? Jangan sampai tidak!"

Rio mengerjapkan matanya dua kali, kemudian ia tertawa lucu. Hal itu membuat bocah kelas dua itu bingung. Apa ada sesuatu yang salah dengan ucapannya?

"Isogai-kun, lama-lama kau mirip papaku ya?" ucapnya, masih menertawakan si pucuk. "Aku akan baik-baik saja. Tanpa kau berkata seperti itu pun aku pasti akan melakukannya."

Saking bingungnya, Isogai menggarukkan kepalanya yang tak gatal. Mau berkata lagi, tapi tak tahu apa yang harus di sampaikan. Yasudahlah, kalau memang Rio sudah merasa lebih baik.

"Aku pergi ya, Isogai-kun?"

.

.

.

Sudah beberapa buku yang sudah diambil, sepertinya masih ada yang ingin ia beli. Tapi, ia khawatir total harganya melebihi anggaran yang ada. Tapi, ia masih ingin membeli beberapa buku. Tapi... tapi...

Ahh, lama-lama Rio dilema. Lebih baik ia bayar saja semua buku yang ia genggam itu!

Selanjutnya Rio kembali berkeliling di rak bagian buku mata pelajaran. Manik birunya menatap judul-judul yang dilaluinya, siapa tahu ada yang menarik sehingga ia bisa kembali ke kasir untuk membelinya.

Benar saja. Satu judul buku sukses menyita perhatiannya.

Rio ingin mengambil buku itu. Rencananya ia akan melihat isinya secara sekilas, kemudian mengecek harganya. Barangkali kantongnya masih memadai untuk membeli satu buku lagi.

Tetapi...

Seseorang menyentuh tangannya secara tidak sengaja.

Rio menoleh ke samping. Ia sedikit terkejut karena melihat sosok pemuda tiba-tiba berada di dekatnya. Manik birunya memperhatikan pemuda tersebut. Ia encoba menganalisis, sepertinya pria ini sebaya dengannya.

Sedangkan laki-laki tersebut tampak terkejut, melebihi rasa terkejut si gadis pirang. Matanya benar-benar dalam keadaan berakomodasi maksimum, sedangkan dalam tubuhnya, ia merasa jantungnya berdetak tak karuan.

"Nakamura?"

"Eh?" Rio mengerjap. Mengapa pemuda itu mengetahui namanya?

"Kau... Nakamura Rio kan?" tanyanya untuk yang kedua kali. "Ini benar-benar Nakamura Rio kan?"

Rio mengangguk ragu. "Y-Ya, benar. Kau—"

Tiba-tiba pemuda itu menggenggam erat tangan Rio— yang sebelumnya sudah bersentuhan secara tidak sengaja. Raut wajahnya menyiratkan perasaan senang sekaligus... khawatir?

"Akhirnya aku bisa bertemu denganmu, Nakamura." Ucapnya sambil mengayunkan genggaman tangannya. "Syukurlah kau baik-baik saja. Aku—"

"Ano..." Rio memotong kalimat pemuda itu. Dalam sekejap ia langsung menanggalkan kalimatnya. "Maaf, aku tidak mengenalmu. Siapa kau?" tanya Rio dengan sehalus mungkin. Ia tak ingin pemuda surai pirang stroberi di hadapannya merasa tersinggung.

Namun suara lembut itu tidak memberikan efek baik padanya. Pemuda itu terkejut untuk yang kedua kali. Tangan yang ia gunakan untuk menggenggam tangan Rio mulai melemas, bahkan si pirang bisa merasakan getar dan dingin yang ditimbulkan pemuda tersebut.

"Nakamura... kau tidak mengingatku?" tanyanya. "Jadi benar... kau mengalami amnesia?"

Suara pemuda itu begitu lirih, Rio jadi merasa bersalah. Tapi sungguh, ia tak ingat siapa pemuda itu.

"Maafkan aku. Apa aku menyakiti perasaanmu?" Rio berusaha menghibur pemuda itu. "N-Namamu! Ya, coba kau sebut namamu. Mungkin aku akan mengingatmu jika kau menyebutkan namamu."

Dengan rasa terkejut yang masih terasa, serta syok yang membuat dirinya begitu kaku, pemuda itu berusaha menyebutkan nama lengkapnya. Dalam hati ia harap-harap cemas, semoga dugaan gadis itu benar.

"A-Asano. Asano Gakushuu." Ucapnya sedikit gugup.

"Asano Gakushuu." Ulang Rio sambil berusaha mengingat nama tersebut. "Asano-kun, a—"

DAK!

Rio memejamkan mata. Rasa sakit pada kepalanya kembali ia rasakan, bahkan ini lebih sakit dari sebelumnya. Asano yang melihat gadis itu kesakitan kembali terkejut. Ia ingin melakukan sesuatu, tapi tak tahu harus apa.

"Nakamura, kau kenapa?" paniknya.

"Aku— aku—"

"Apa kau sedang berusaha untuk mengingatku?"

"Asano— Asano Gakushuu. Aku— AKH!"

"NAKAMURA, HENTIKAN!" teriak Asano, namun Rio tidak dapat mendengar teriakan tersebut.

Saking sakitnya, Rio menjatuhkan diri ke lantai toko buku. Ia bersujud, kemudian berteriak sekencang-kencangnya. Asano semakin kalap, ia tak tahu harus berbuat apa.

Jika ia tidak melakukan sesuatu, Asano merasa malu luar biasa. Selain karena ia laki-laki, para pengunjung toko buku tengah memperhatikannya. Ia tak mungkin meninggalkan si pirang yang tengah kesakitan ini tanpa bertanggung jawab. Biar begini ia merasa sedikit bersalah pada gadis itu.

Makanya, ia berusaha membangkitkan gadis itu. Asano hendak memeluk Rio sekencang-kencangnya, berharap gadis itu dapat melunak. Setidaknya ia telah berusaha untuk meringankan rasa sakit si pirang, begitu pikirnya.

Tetapi...

"NAKAMURA-SENPAI!"

Tiba-tiba Isogai Yuuma datang ke tempat Asano dan Rio berada. Ia segera melepaskan Rio yang hendak dipeluk Asano, kemudian berjongkok di hadapan kakak kelasnya agar bocah kelas tiga itu bisa terlindungi.

"Siapa kau?!" tanya Isogai sedikit galak. "Apa yang kau lakukan pada Nakamura-senpai?"

"Jangan salah paham, aku tidak salah." Asano berusaha membela diri. "Dia tiba-tiba seperti itu setelah aku menyebutkan namaku."

Manik madu Isogai membelalak. Jangan-jangan Rio berusaha mengingat sesuatu?

"Nakamura-senpai, sebaiknya kau—"

"Asano-kun—" ucapnya seraya tercekat. Nakamura Rio ternyata masih berusaha mengingat si surai pirang stroberi itu. "A-sa-no—"

"SENPAI!" Isogai menjerit. Pasalnya Rio mencengkeram bahu si ikemen dengan sangat kuat. Ia bisa membayangkan bagaimana rasa sakit yang dirasakan Rio saat ini.

"Senpai, sebaiknya kau minum—"

BRUK!

"SENPAI!"

"NAKAMURA!"

Asano dan Isogai terkejut melihat Rio yang ambruk dan terkapar di lantai toko buku. Rio tak sadarkan diri, dan wajahnya pucat sekali. Keduanya pun langsung panik.

"Nakamura, bangun!" Asano mengguncangkan tubuh langsing Rio, namun gadis itu tak merespon sama sekali. "Nakamura!"

"Kita bawa ke rumah sakit."

Asano menoleh ke arah Isogai yang sudah terlihat lebih tenang. Iris violetnya menatap bingung si surai hitam.

"Tapi—"

"Sekarang!" tegasnya. "Sekarang juga, bagaimana pun caranya."

.

.

.

TBC

.

.

.

A/N : huuuuaaaahhh sebenarnya ini masih ada lanjutannya, tapi gak kerasa pas ngetik ceritanya udah panjang, jadi di cut aja buat chapter depan ya? XD

Saya ngerasa chapter ini agak aneh; klise, drama ala sinetron(?), kebanyakan teriak(?). gak tau kalau kalian ngerasanya gimana :''''((((((((

Next Chapter 5 : ? (belum ada subjudulnya XD)