"Nakamura, ada sesuatu yang ingin aku sampaikan."
"Kau ingin menyampaikan apa, Asano-kun?"
"Sebenarnya… ano… bagaimana aku mengatakannya ya?"
"Loh? Memang apa yang akan kau katakan, Asano-kun, sampai gugup begitu?"
"Sebenarnya… aku menyukaimu, Nakamura."
"Hah? Kau…"
"Ya. Aku menyukaimu. Kumohon jadilah pacarku."
"Asano-kun… maaf, aku tidak bisa."
"Kenapa? Apa ada orang yang kau sukai?"
"Aku menyukai orang lain. Aku hanya menganggapmu sebagai teman."
"Siapa? Siapa orang yang kau suka?"
"Aku menyukai…"
Rio mengerjapkan mata perlahan. Seberkas cahaya putih menerobos masuk menembus iris birunya. Setelah berkedip beberapa kali, pandangannya tak lagi buram, namun ia merasa asing dengan tempat ini.
"Dimana aku?"
.
.
.
Assassination Classroom/Ansatsu Kyoushitsu © Matsui Yuusei
Memory © shichigatsudesu
Chapter 5 : Asano!
.
.
.
"Nakamura-senpai?"
Rio mengerang pelan. Ia segera menoleh ke samping, kemudan mendapati Isogai Yuuma tengah tersenyum ke arahnya.
"Isogai-kun?"
"Syukurlah kau sudah sadar."
"Isogai-kun, dimana aku?" Tanya Rio.
"Kita ada di rumah sakit. Barusan kau pingsan di took buku." Jawab Isogai seraya membantu si pirang yang ingin mengubah posisi.
"Aku pingsan?" dalam sekejap Rio memasang ekspresi lesu. "Maafkan aku ya, Isogai-kun. Sepertinya hari ini aku menyusahkanmu."
Isogai menggeleng pelan. "Tidak, tidak. Kau sama sekali tidak menyusahkan kok, malahan—"
Isogai menggantungkan kalimatnya ketika mendengar sebuah suara yang berasal dari sofa. Di sana ada Asano Gakushuu yang baru saja bangkit dari duduknya. Kemudian si pirang stroberi melangkah pergi menuju pintu.
"Asano-senpai,"
"Ano…"
Isogai dan Rio berucap bersamaan, sama-sama memanggil Asano. Langkahnya pun terhenti, tak lama wajahnya menoleh.
"Ada apa?" tanyanya.
"Ano… A-Asano-kun, benar?" Rio bertanya memastikan. Yang bersangkutan hanya mengangguk pelan. "K-Kau mau pergi?"
"Hmm." Jawabnya singkat, bahkan itu tidak bisa dikategorikan sebagai jawaban. "Aku mau ke kantin rumah sakit."
"Apa kau akan kembali kesini, Asano-kun?"
Manik violet Asano membelalak. Suara Rio saat menanyakan itu terdengar lembut, seolah menyiratkan pesan jangan-pergi padanya. Entah kenapa, ia berharap si pirang mengajaknya berbicara empat mata setelah ini.
"Ya, aku akan kembali."
Rio hanya tersenyum. "Baiklah."
Ketika atmosfer di ruangan itu berubah menjadi sunyi, Asano segera keluar ruangan untuk pergi ke kantin rumah sakit. Sedangkan Rio dan Isogai masih setia untuk bungkam.
"Nakamura-senpai," Isogai mencoba memecahkan keheningan. "Bolehkah aku bertanya?"
"Boleh." Rio mengangguk. "Kau mau bertanya apa?"
"Ano… apa kau mempunyai hubungan dengan Asano-senpai?" Tanya Isogai, namun mengingat gadis itu baru saja siuman, ia segera menyanggah. "A-Ahh, tapi kalau kau tidak ingat apa-apa tidak usah dipaksakan, senpai. Maaf, aku hanya iseng bertanya."
Awalnya Isogai mengira senpainya ini akan menjawab 'tidak tahu' atau sebagainya, tetapi Rio justru menjawab sebaliknya.
Si pirang menggeleng pelan. "Tidak, Isogai-kun. Aku mengingatnya."
Isogai sedikit terkejut. "Benarkah?"
"Ya, benar." Jawab Rio. "Dia Asano Gakushuu. Kami berteman sejak SMP."
Isogai memasang posisi duduk ternyaman yang ia bisa, siap mendengarkan cerita masa lalu Rio yang kembali ia ingat.
"Pada awalnya kami berteman baik. Aku, Asano-kun, Karma-kun, dan lain-lain sering pergi bermain bersama." Jelasnya. "Tapi suatu hari, Asano-kun mengatakan sesuatu padaku. Sejak itu, Asano-kun menjauhi kami semua."
Tiba-tiba saja Isogai penasaran. Sepertinya atensi si surai pucuk telah tertuju pada cerita itu.
"Memangnya apa yang Asano-senpai katakan, sampai hubungan kalian merenggang seperti itu?"
"Asano-kun…" jeda sejenak. "…menyatakan perasaannya padaku, lalu dia ingin jadi pacarku."
Isogai sukses dibuat terkejut oleh jawaban Rio. Pantas saja kakak kelasnya itu sangat tersiksa ketika mengingat nama Asano Gakushuu.
"Namun aku menolaknya." Sambungnya. "Aku tidak menerima Asano-kun, tetapi aku lupa apa alasannya. Biar kuingat-ingat dulu, ya?"
"Jangan, senpai." Isogai segera mencegah. "Kau baru saja siuman. Aku tak ingin kepalamu sakit lagi. Maaf, aku bertanya macam-macam padamu."
"Tidak begitu, Isogai-kun." Rio menyanggah, ia jad tak enak hati dengan adik kelasnya itu. "Aku menceritakan ini karena aku merasa terganggu, dan aku merasa sedikit lega ketika mengatakan semuanya. Tapi maaf, aku tidak ingat bagian terakhirnya."
"Tidak apa-apa, senpai. Kalau kau sudah ingat, kau bisa memberitahuku kapan-kapan." Isogai tersenyum pada Rio. Ia berusaha untuk menghilangkan rasa bersalahnya (padahal Rio tidak salah), sekaligus mencegah si surai pirang agar tidak menggali ingatannya lebih dalam lagi.
Kemudian Rio diam. Ia kembali mengingat mimpi dimana Asano menyatakan perasaan padanya. Oh, atau itu bukan mimpi? Mungkinkah itu merupakan salah satu pecahan memorinya yang hilang? Tapi mengapa gantung sekali?
Apa alasan ia menolak Asano waktu itu?
.
.
.
—Sebelum Rio siuman—
Ketika tiba di rumah sakit, Rio segera dibawa menuju ruang UGD untuk selanjutnya diperiksa. Asano terlihat begitu terpukul, berbeda dengan Isogai yang terlihat tenang— namun hatinya pasti tak setenang wajahnya. Akhirnya, keduanya memutuskan untuk menunggu pemeriksaan sambil duduk.
"Sial."
Isogai menoleh ke samping. Ia memperhatikan sosok Asano dari atas hingga bawah. Perawakan pemuda itu mirip sekali dengan Karma, pikirnya. Mungkin jika surainya berwarna merah, Isogai pasti menyangka Asano adalah saudara kembarnya.
Tiba-tiba setetes air mata jatuh dari pelupuk mata Asano. Hal ini membuat manik madu Isogai melebar. Tak lama, air mata yang menetes semakin banyak. Tubuh Asano gemetar, bahkan tangannya mulai meremas celananya kuat-kuat.
"Sial. Sial. Sial!"
Sepertinya dia merasa tersakiti karena amnesia itu. Sama persis seperti Karma-senpai waktu itu. Batin Isogai.
"Ano…" Isogai memberanikan diri untuk memulai percakapan. "Apa kau mengenal Nakamura-senpai?"
Asano mengusap kedua matanya. Ia merasa malu telah menunjukkan wajah sedih dan tangisnya pada Isogai. Ia menampar kedua pipinya, kemudian menatap si ikemen di sampingnya.
"Y-Ya. Nakamura adalah teman SMP-ku." Jawabnya. "Kau sendiri siapa? Mengapa kau bisa bersama Nakamura? Apa kau mengenalnya?"
Isogai tersenyum ramah menghadapi Asano dan pertanyaannya yang bertubi-tubi.
"Aku adik kelasnya di sekolah, Isogai Yuuma. Dulu aku yang membawa Nakamura-senpai ke rumah sakit saat ia kecelakaan." Jelas si ikemen. "Aku sedang mengantar Nakamura-senpai belanja keperluannya."
Asano mengerutkan dahinya bingung. Rasanya ia pernah mendengar nama Isogai sebelumnya, tapi di mana ya?
"Ahh, Isogai Yuuma!" seru Asano sambil mengarahkan telunjuknya pada Isogai. Tentu saja si ikemen terkejut. "Kau yang diwawancarai oleh banyak wartawan. Aku pernah melihat namamu di Koran."
"Benarkah? Aku jadi malu." Entah kenapa Isogai merasa merona mendengarnya. "Aku tak menyangka Asano-senpai mengingat namaku, padahal itu hanya ada di Koran edisi minggu lalu."
"Begitulah, aku— hei, bagaimana kau tahu namaku?" kejut Asano.
Isogai terkekeh. "Bukankah tadi Nakamura-senpai menyebutkan namamu, saat kepalanya sakit itu?"
Asano membisu seketika. Tiba-tiba saja ia mengingat kembali peristiwa yang terjadi beberapa menit lalu, dimana dirinya dan Rio bertemu di took buku, kemudian sesuatu yang buruk terjadi di sana.
"Jadi, mengapa kau menangis, senpai?" Tanya Isogai.
"Bukan urusanmu." Asano judes.
"Hatimu sakit karena Nakamura-senpai melupakanmu, kan?"
Manik violetnya melebar. Mengapa ia bisa tahu?
"Sebelumnya, aku pernah menenangkan seseorang, situasinya sama sepertimu. Saat aku Tanya, ia berkata demikian." Jelas Isogai. "Apalagi seseorang tersebut masih menyimpan perasaan pada Nakamura-senpai."
"Ya, kan?" Asano sependapat dengan seseorang yang diceritakan Isogai. "Yang membuatku tambah sakit; Nakamura menolakku, dia melupakanku, padahal aku masih menyimpan perasaan itu padanya."
DUAR!
Isogai mendapatkan serangan kejut yang luar biasa kuat, sekuat petir imaginer yang muncul tepat setelah Asano mengeluarkan unek-uneknya. Mendengar ada seseorang lain yang menyukai Rio, membuat hati Isogai seakan disayat sebuah samurai.
Satu orang lagi datang menjadi saingannya dalam hal memperebutkan cinta seorang Nakamura Rio.
"Isogai,"
"Ya?" Isogai segera sadar dari lamunan begitu Asano memanggil namanya. "Ada apa?"
"Hnn, aku ingin bertanya." Asano terlihat sedikit gugup. Isogai penasaran, apa yang akan ia katakan? "Apa kau mengenal, hnn, kekasih Nakamura? N-Namanya Akabane Karma?"
Isogai mengangguk. "Ya, aku mengenalnya."
"Mengapa Nakamura tidak bersama Akabane, saat ia kecelakaan, dan sekarang?"
"Ano, sebenarnya… mereka sudah putus, senpai." Jawab Isogai.
Manik violet Asano membulat. "Putus?"
Isogai mengangguk lagi. "Karma-senpai tidak ingin menemani Nakamura-senpai, karena ia tak ingin membuat Nakamura-senpai merasa nostalgik."
"Maksudmu?" Asano gagal paham.
Selanjutnya, Isogai menceritakan semua yang ia ketahui soal Rio dan amnesianya. Ia menceritakan banyak hal, seperti kronologis kecelakaannya, penjelasan dari dokter, sampai masalah tadi.
Sejak saat itu, Asano merasa syok luar biasa. Saking tidak percayanya, ia tak tahu bagaimana caranya menghadapi Rio nanti.
.
.
.
KREK!
Asano menutup pintu ruang UGD tempat Rio dirawat. Si gadis pirang menoleh ke arah sumber suara, kemudian tersenyum. Si pirang stroberi masih merasa syok, sehingga saat melihat gadis itu, ia merasa sedikit canggung. Setelah mendengar semua cerita dari Isogai, ia bingung harus memasang ekspresi wajah seperti apa pada Rio.
"Asano-kun." Panggil Rio.
Asano mengedarkan pandang ke seluruh penjuru ruangan, menyadari ada sesuatu yang hilang. Kemudian iris violetnya menatap Rio.
"Dimana Isogai?"
"Isogai-kun pergi keluar, sebentar katanya." Jawab si pirang. Jeda sejenak, kemudian ia kembali bersuara. "Asano-kun, bisa kita mulai sekarang?"
Awalnya Asano bingung, namun ia teringat perkataan Rio sebelum pergi ke kantin rumah sakit. Kini Asano berjalan menuju sofa, kemudian mendaratkan tubuhnya di sana.
"Ya, aku siap." Jawabnya. "Apa yang akan kau sampaikan?"
Rio menundukkan sedikit kepalanya. "Barusan aku mimpi. Di dalam mimpi itu, aku menggunakan seragam SMP, kemudian kau menyatakan perasaanku padaku."
Mata Asano membulat sempurna.
"Tapi aku menolakmu. Lalu saat kau bertanya mengapa, siapa orang yang kusuka, tiba-tiba mimpi itu hilang." Sambungnya. "Asano-kun, apa itu pernah terjadi?"
Nah, sekarang Asano bingung harus menjawab apa. Mau jujur, ia khawatir Rio sakit kepala lagi. Kalau bohong tidak mungkin, karena cerita yang katanya mimpi itu benarnya fakta.
"Jangan khawatir, Asano-kun, aku baik-baik saja." Ujar Rio. "Kepalaku sudah tidak sakit lagi, jadi tidak apa-apa."
Asano percaya saja pada Rio, namun ia belum siap menjawab. Berkali-kali ia mengambil napas, dan jantungnya masih belum tenang juga.
"Hmm." Akhirnya Asano mengangguk. "Itu nyata, Nakamura. Kita pernah mengalami itu."
Rio mengembangkan seulas senyum, entah tujuannya untuk apa. Namun senyum itu tidak bertahan lama. Si pirang kembali memasang ekspresi datar seperti sebelumnya.
"Tapi, itu aneh sekali." Ucapnya. "Mengapa saat aku hendak menyebutkan alasannya, tiba-tiba mimpi itu hilang? Asano-kun, sebenarnya apa alas an yang aku berikan saat aku menolakmu?"
"Karena saat itu kau sedang me—" Asano menggantungkan kalimatnya, baru sadar kalau ia tidak boleh menggali ingatan Rio lebih dalam. "A-Ahh, aku lupa. Maaf, Nakamura."
"Sungguh?" curiga Rio.
"Ya, aku tidak ingat. Kejadian itu sudah lama sekali, makanya aku lupa." Asano memejamkan matanya senang. Syukurlah ia bisa mengelak.
Dan si pirang stroberi semakin senang karena Rio mempercayai jawabannya.
"Begitu, ya?" katanya. "Aku harap aku bisa mengingatnya."
"Jangan memaksakan diri, Nakamura." Perintah Asano dengan suara yang lembut, namun tegas. "Jangan memaksa dirimu untuk mengingat kejadian-kejadian dulu yang kau lupakan. Aku tidak ingin kesehatanmu terganggu."
Rio memandang Asano, sesekali ia mengerjapkan matanya.
"Aku yakin suatu saat ingatan itu pasti datang sendiri, jadi kau tidak perlu repot-repot mengingatnya." Tambahnya. Rasa khawatir si pirang stroberi semakin jelas diwajahnya. "Dan kalau kau butuh bantuan atau sesuatu jangan lupa beritahu aku ya? Aku pasti akan membantumu."
"HAHAHA"
Rio tiba-tiba meledak. Ia menertawakan Asano yang terkesan protektif padanya. Berhubung mantan ketua OSIS SMP Kunugigaoka itu tidak peka, maka ia hanya mengangkat alisnya bingung.
"Apa yang lucu?"
"Kau mirip sekali dengan Isogai-kun." Kemudian Rio melanjutkan tawanya. "Jangan khawatir, aku baik-baik saja. Tanpa kau suruh pun, aku pasti akan meminta bantuanmu, Asano-kun. Duh, mengapa kalian berdua mirip sekali dengan papa?"
Asano tidak bisa menahan malu. Kini wajahnya berwarna merah. Sedangkan Rio masih saja tertawa, sesekali ia bergumam soal dirinya, papa Rio dan Isogai. Namun Asano tidak berusaha menghentikan ledekan si pirang. Ia senang melihat gadis itu tertawa.
.
.
.
Satu buah kaleng jatuh ke dasar vending machine, kemudian Isogai Yuuma mengambil kaleng tersebut. Namun ia tidak segera menegak habis isinya, melainkan menggenggamnya sambil menatapnya.
Sejujurnya hari ini ia merasa senang bisa pergi berdua dengan senpai yang sejak dulu ia kagumi, namun harinya menjadi kacau karena kehadiran Asano Gakushuu di toko buku.
Dan sialnya, Asano merupakan teman satu SMP Rio yang pernah menembaknya, bahkan sampai hari ini pun si pirang stroberi itu masih menyimpan rasa pada gadis itu.
Bad luck, Isogai. Sampai kapan ia harus mengalami ketidakberuntungan ini? Isogai sudah mati-matian menahan rasa sukanya pada Rio karena saat ini kakak kelas pirangnya itu sedang amnesia. Awalnya sih masih bisa sabar saat Karma mengatakan bahwa ia masih mencintai Rio. Tapi sekarang, ada pendatang baru yang menyatakan hal yang sama seperti Karma.
Isogai selalu bingung. Apa ia harus berhenti saja, atau terus mengejar cinta Rio?
Si surai berpucuk itu sadar, bahwa posisinya berbeda dengan Karma dan Asano. Sedekat apapun ia dengan Rio, ia tidak akan bisa meraihnya. Isogai hanya seorang adik kelas yang menolong Rio saat kecelakaan, tidak lebih dari itu. Meskipun perasaannya terungkap, namun Rio pasti menolaknya.
Isogai merasa kepalanya sedikit pusing. Tidak aka nada habisnya jika ia selalu memikirkan soal perasaan cinta. Namun ia tetap tidak ingin perasaannya terpendam. Sepertinya si ikemen harus segera membuat sebuah keputusan. Soal resiko, ia bisa pikirkan nanti.
.
.
.
Satu ingatan berhasil kembali padanya.
.
.
.
TBC
.
.
.
A/N : daaaan dengan ini Asano fix masuk jadi main chara— tapi saya malas edit jadi gak dicantumin di tag chara ya XD
Btw, Karma saya tendang jadi dia gak kebagian dialog disini gak apa-apa ya? *disemprotwasabi *ampuunnn
Chapter depan masih diproses. Kalau sempat bakal dipost sebelum widyawisata tanggal 29 nanti, kalau gak berarti pertengahan januari baru update :''''''(((((
Next Chapter 6 : Rival!
