"Asano, apa itu kau?"

Sakakibara Ren segera berseru dari dapur apartemennya ketika ia mendengar suara pintu digerakkan, namun tak ada jawaban dari seorang pemuda yang baru saja masuk apartemen. Dengan terpaksa, Ren menyembulkan kepalanya, memastikan bahwa pemuda tersebut adalah sahabatnya.

"Asano?"

"Ada apa?" tanyanya sedikit geram. "Aku pusing."

"Kau sakit?" Ren segera meninggalkan dapur, menghampiri Asano Gakushuu yang mematung dekat pintu. Kemudian kedua tangannya memegang kepala sahabatnya. "Wajahmu terlihat suram— eh? Matamu sembab."

"Berisik." Asano menepis anggota gerak atas si surai unik. Wajahnya mulai merona— kesal dan malu, namun tetap terlihat suram.

Ren bergidik. "Apa yang terjadi denganmu?"

"Banyak. Akan aku ceritakan semuanya setelah kau selesai memasak." Ujarnya seraya melangkah menuju kasur. "Yang pasti, ini ada hubungannya dengan… Nakamura."

"Na-Nakamura?"

.

.

.

Assassination Classroom/Ansatsu Kyoushitsu © Matsui Yuusei

Memory © shichigatsudesu

Chapter 6 : Rival!

.

.

.

Bel istirahat telah berbunyi sejak lima menit lalu, namun disaat orang-orang sibuk memanjakan perut mereka, justru sosok surai hitam ini tidak menunjukkan tanda-tanda ia akan beranjak dari bangkunya. Sebagai sahabat, Maehara Hiroto merasa khawatir. Ia mengira ada sesuatu yang aneh padanya.

"Loh, Isogai? Bukankah itu foto Nakamura-senpai dan Akabane-senpai?" tanyanya. "Belum kau kembalikan juga?"

Isogai terkejut. Buru-buru ia menyimpan benda yang disebutkan Maehara barusan. "A-Ano… belum."

Maehara menaikkan alisnya bingung. Ia ingin bertanya lebih, namun tiba-tiba si surai kecokelatan itu teringat sesuatu. Lantas ia segera mengganti topic.

"Oh ya, Isogai. Bagaimana kencanmu kemarin?"

Isogai tersedak salivanya sendiri.

"K-K-K-K-Kencan?!" si ikemen terkejut.

"Bagaimana?" Tanya Maehara lagi dengan wajah polos yang sama seperti pertanyaan sebelumnya.

Isogai menghela napas. Kejadian kemarin membuatnya begitu lesu, pasalnya hari itu benar-benar sial baginya. Melihat ekspresi si surai berpucuk yang seperti itu, Maehara merasa ada yang tidak beres dengan hari kemarin.

"Yaa, kemarin itu benar-benar sial." Ucapnya. "Nakamura-senpai masuk rumah sakit, karena kepalanya sakit saat mencoba mengingat sesuatu."

"Memangnya Nakamura-senpai mencoba mengingat apa?"

"Isogai-kun~"

Isogai dan Maehara menoleh kea rah pintu kelas. Seorang gadis melambaikan tangannya, menyuruh ketua kelasnya itu untuk menghampirinya.

"Ada apa, Kataoka?"

"Ada seseorang yang mencarimu."

Bukannya segera menghampiri, Isogai malah melayangkan pertanyaan lagi. "Siapa?"

"Kakak kelas, hnn…" Kataoka Megu berhenti sejenak, mencoba mengingat nama senpai yang ia maksud. "Akabane-senpai?"

"Terima kasih, Kataoka."

Isogai segera beranjak ketika si surai abu menyebutkan nama kakak kelas merahnya. Benar saja, Karma sedang menunggunya di dekat pintu kelas.

"Ada apa, senpai?" Tanya Isogai to the point.

"Isogai, apa yang terjadi dengan kalian berdua?" Karma bertanya pada bocah kelas 2-B itu. "Hari ini Rio tidak masuk sekolah."

Sejenak Isogai terperanjat, namun ia segera memberitahukan apa alas an kakak kelasnya itu tidak masuk sekolah hari ini.

"Karma-senpai, apa yang kau khawatirkan ternyata terjadi." Ucapnya. "Nakamura-senpai mengingat sesuatu di sana. Dia merasa sering berkunjung ke sana bersama seseorang."

Karma menghela napas. "Lalu?"

"Saat dia mengingatnya, kepalanya terasa sakit luar biasa. Bahkan saking sakitnya, dia sampai pingsan di toko buku."

"Separah itukah?" Karma menganga tak percaya. Hatinya merutuk sebal, percuma dong ia menyerahkan 'kencan' itu pada Isogai?

"Yang paling penting, sepertinya Nakamura-senpai mendapat salah satu ingatan yang hilang." Ujarnya.

Karma kembali membelalakkan matanya. "Ingatan?"

"Ahh, tapi sayangnya aku tak tahu apa itu. Aku tidak sempat menanyakannya." Jelasnya kemudian. Entah kenapa si ikemen merasa Karma akan bertanya demikian.

Sedangkan si surai merah menundukkan kepalanya lesu. Ia bertanya-tanya, bagaimana cara ia mengembalikan ingatan Rio? Ingatan yang datang tanpa sengaja pun gadis itu harus tersiksa, apalagi sebaliknya?

"Selain itu, senpai, ada yang ingin aku tanyakan."

Isogai segara mengembalikan Karma dari jurang frustasinya. Manik tembaga menatap iris sewarna madu, menyiratkan sebuah rasa penasaran.

"Apa kau mengenal Asano Gakushuu?" Tanya Isogai.

"A-Asano?!" Karma membelalak untuk yang kesekian kalinya. "Bagaimana kau tahu nama itu?"

"Sebenarnya kami bertemu dengannya kemarin, di toko buku." Isogai kembali menjelaskan. "Aku tak tahu bagaimana mereka bisa bertemu, yang jelas saat Nakamura-senpai pingsan itu, dia ada di sana."

"Apa Rio berusaha mengingat Asano sampai seperti itu?"

"Asano-senpai hanya menyebutkan nama, dan tiba-tiba Nakamura-senpai seperti itu." Jawab Isogai. Beberapa saat mereka diam, sampai akhirnya Isogai kembali bertanya. "Bagaimana? Apa kau mengenalnya?"

"Ya. Kami satu SMP, dan kami juga sering bermain bersamanya. Sekitar awal musim dingin saat kelas 3, tepat sebelum aku menembak Rio, kami mulai merenggang. Dia menjauh dari kami." Nada suara Karma terdengar cukup rendah. Sudah sewajarnya ia merasa sedih saat menceritakan salah satu kisah masa lalunya. "Aku tak tahu apa alasannya, namun aku merasa kalau akulah penyebabnya."

"Mengapa kau berpikiran seperti itu, senpai?"

"Entahlah, aku hanya merasa demikian." Tiba-tiba Karma teringat dengan cerita Isogai yang belum selesai. "Oh ya, selanjutnya bagaimana?"

"Apanya?"

"Saat Rio pingsan. Apa yang terjadi selanjutnya?"

"Hmm, kami pergi ke rumah sakit, kemudian aku dan Asano-senpai berbincang. Setelah sadar—" jeda sejenak. Isogai terlihat ragu untuk melanjutkan kalimatnya. Namun ketika Karma menatapnya penasaran, ia segera menyambungkan. "Ah, Asano-senpai dan Nakamura-senpai bicara berdua."

Sejujurnya Karma ingin bertanya lebih, namun hatinya merasa ragu. Tapi kalau dipikir-pikir, sepertinya ia telah menyusahkan adik kelasnya ini. Kemarin benar-benar hari yang sial. Karma merasa bersalah sekarang.

Dan si surai merah itu merasa menyesal telah menyerahkan 'kencan'-nya pada Isogai.

"Maafkan aku, Isogai." Ucap Karma. "Sepertinya aku telah menyusahkanmu."

Isogai menggeleng pelan. "Tidak apa-apa, senpai."

"Ahh, aku semakin merasa tidak enak kalau kau bilang tidak apa-apa."

Isogai menggeleng pelan. "Sudahlah, senpai. Aku hanya ingin membantumu, jadi sungguh, aku tidak apa-apa."

Sungguh, anak ini kelewat baik, pikir Karma.

"Baiklah." Karma menyerah, tidak lagi berusaha meminta maaf pada Isogai. "Mumpung masih jam istirahat, bagaimana kalau kita makan di kantin?"

"Eh? Tapi—"

Tiba-tiba Karma merangkul tubuh Isogai, jelas anak itu terkejut.

"Aku yang traktir." Potongnya. "Kalau kau bawa bekal, bawa saja ke kantin. Sambil makan, aku ingin menceritakan sesuatu padamu."

"Sesuatu?" Isogai bingung.

"Sudahlah, nanti juga kau tahu."

Isogai menimang-nimang ajakan Karma. Kalau sudah begini, ia tak tega menolak kakak kelas merahnya itu. Selain itu, ia sedikit penasaran dengan 'sesuatu' yang ditawarkan Karma.

"Baiklah, aku ambil bekalku dulu ya?"

Karma senang bukan main. Ia pun kembali menunggu Isogai di depan kelas. Namun tidak membutuhkan waktu yang lama, karena pemuda berpucuk itu sudah siap pergi ke kantin dengan bekal dan botol berisi air mineral di tangannya.

Sebaiknya aku tidak menceritakan soal 'mimpi' Nakamura-senpai kemarin. Batin Isogai.

.

.

.

Suara nada dering ponsel masuk ke dalam gendang telinga, cukup keras sehingga mampu membangunkan gadis berambut pirang yang sedang tertidur. Ia mengerang kecil, dan setelah matanya sudah cukup beradaptasi ia meraih benda yang berbunyi itu.

"Loh, Sugino-kun?"

Meskipun bingung, namun Nakamura Rio segera menjawab panggilan itu.

"Halo?"

"Halo, Nakamura? Apa aku mengganggumu?"

"Ah, tidak." Rio segera berdehem menyadari suaranya yang serak karena bangun tidur. "Ada perlu apa, Sugino-kun?"

"Apa Karma datang ke rumahmu?"

"Hah? Karma-kun?"

"Ahh begini. Barusan Yukimura-sensei membagikan angket survey karir, tapi karena kau tidak masuk jadi angketnya dititipkan padaku."

Rio mengangkat alisnya bingung. "Lalu, apa hubungannya dengan Karma-kun?"

"Dia bilang dia akan mengantarkan angket itu, sekalian menjengukmu katanya."

"Oh, begitu…"

"Jadi dia belum datang?"

"Sepertinya belum," Jeda sejenak. "Mungkin sebentar lagi?"

"Yasudah, aku matikan teleponnya ya? Sebentar lagi aku harus mulai bimbel."

"Baiklah. Terima kasih, Sugino-kun."

Sambungan pun terputus. Rio bangkit dari posisi tidurnya. Ia mendengus pelan. Rasa sakit pada kepalanya sudah hilang, tapi badannya terasa pegal. Padahal sudah seharian ini ia beristirahat, sama sekali tidak beranjak dari kamar, namun mengapa badannya begitu sulit digerakkan? Rasanya berat sekali.

TOK. TOK. TOK.

"Rio-chan?"

Kini giliran suara riang sang ibu yang terdengar. Baru saja Rio menapakkan kakinya pada lantai, wanita setengah baya itu telah membukakan pintu kamar. Beliau tersenyum.

"Syukurlah kau sudah bangun."

"Ada apa, Ma?" tanyanya bingung.

"Ada temanmu." Jawab Nyonya Nakamura. "Oh, kau di kamar saja, biar dia yang menghampirimu."

Rio mengangkat alis. Jangan-jangan itu Karma? Kalau benar berarti anak itu panjang umur, baru saja ia membicarakannya dengan Sugino Tomohito di telepon.

Tak lama pemuda bersurai merah masuk ke dalam kamar Rio. Setelah berbasa-basi sejenak, akhirnya wanita itu pergi meninggalkan anak serta sang tamu. Tak lupa beliau juga menutup pintu bercat putih yang barusan dibukanya.

Dan atmosfer pun mendadak canggung.

Dengan kecepatan setara tembakan peluru, wajah kedua pemuda pemudi itu berubah menjadi sewarna tomat matang.

"K-K-Karma-kun?!"

"Maafkan aku, Rio." Ucap Karma cepat. "Aku tidak bermaksud—"

"Ahh, sudahlah. Mama yang suruh, kan?" Rio kelihatan gugup. "Aku tidak keberatan kok."

"Oh ya, ini angketnya." Karma buru-buru mengganti topic. Ia mengacak-acak isi tasnya, mencari secarik kertas yang dititipkan Sugino padanya. "Kalau besok kau masuk sekolah, kau langsung berikan angket ini pada Yukimura-sensei."

Rio mengambil angket itu, lalu menyimpannya di atas meja tak jauh dari tempat tidurnya.

"Terima kasih, Karma-kun."

Karma mengangguk pelan. "Dan ini, aku membawakanmu roti dan susu. Aku tidak enak kalau tidak bawa apa-apa saat menjengukmu."

Rio mengerjapkan matanya bingung. Ia menatap kantong plastik berisi roti dan susu yang disodorkan Karma. Sejujurnya ia merasa tidak enak, mengingat dirinya sudah hamper sepenuhnya membaik, kemudian pemuda itu memberinya dengan jumlah yang tak sedikit.

"Seharusnya kau tidak perlu repot-repot begini." Ucapnya sambil mengambil pemberian Karma. "Tapi terima kasih banyak, ya?"

Karma hanya mengangguk. Sejenak si surai merah dan pirang itu terdiam. Beberapa saat kemudian Karma kembali bersuara.

"Rio, maafkan aku, ya? Kemarin aku membatalkan janji kita tiba-tiba." Ucapnya. "Lain kali kalau kau ingin ditemani belanja lagi, aku pasti ikut."

"Tidak apa-apa, Karma-kun. Lagipula, kemarin aku pergi dengan Isogai-kun, jadi aku tidak kesepian."

Ya, karena aku yang menyuruhnya. Maaf, aku bohong. Batin Karma.

"Oh ya, bagaimana keadaanmu? Apa kau sudah sembuh?" Tanya Karma basa-basi. "Apa di sana terjadi sesuatu sampai kau tidak masuk hari ini?"

Sebenarnya percuma juga sih Karma bertanya seperti itu, toh ia sudah mendengar semuanya dari Isogai. Tapi ia tidak mungkin langsung angkat kaki dari sana setelah menyerahkan angket tanpa bercakap-cakap sedikitpun, kesannya cuek sekali.

Akhirnya ia mengambil posisi senyaman mungkin untuk mendengarkan cerita Rio dari awal sampai akhir. Sesekali ia melayangkan pertanyaan, pura-pura terkejut, dan sebagainya. Tentu itu semua hanya formalitas agar Rio tidak merasa curiga.

"Setelah itu, apa yang kau lakukan dengan Asano?"

"Hnn, kami hanya ngobrol berdua saja."

Entah kenapa Karma merasa sedikit tidak senang dengan jawaban Rio.

"Berdua? Isogai-kun tidak ikut?"

Rio menggeleng. "Saat itu dia pergi entah kemana, tapi tak lama dia kembali kok." Jelasnya. "Setelah itu Papa dan Mama datang, lalu Asano-kun dan Isogai-kun pulang."

"Oh, begitu."

Karma ber-oh-ria. Ia tidak tahu harus melayangkan pertanyaan apa lagi, karena sebenarnya ia sudah mengetahui semuanya. Dan sekarang hatinya merasa tidak enak saat ia mengetahui Asano dan Rio sempat berbincang berdua. Rasanya kesal gimana gitu.

Tunggu, apa ia cemburu?

"Kalau begitu, aku izin pulang ya, Rio." Pamitnya. Ia melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 5 tepat. "Aku ada urusan lain."

"Sekali lagi, terima kasih sudah menjengukku, Karma-kun." Rio beranjak dari kasur, kemudian membukakan pintu untuk Karma. "Aku janji, besok aku akan sekolah."

Karma tersenyum pada Rio. Kemudian senyum si gadis pirang digantikan oleh rasa kejut serta rona merah di wajahnya saat tangan Karma mengelus lembut puncak kepala Rio.

"Jaga kesehatanmu, ya." Karma melebarkan senyumnya.

Rio hanya mengangguk. Setelah Karma pergi lalu menutup pintunya, ia tak kuasa menahan malu. Jantungnya seola meledak saking besarnya peningkatan hormone adrenalin dalam dirinya. Semburat merah juga semakin tampak jelas di wajah manisnya.

Namun saat ia memegangi kepalanya yang telah diusap lembut oleh Karma, pikirannya mendadak bernostalgik. Memang, Rio merasakan sensasi tersendiri saat Karma melakukan itu, tapi ia merasa pernah mengalami kejadian serupa. Bukan satu atau dua, tetapi berkali-kali sehingga perasaan aneh itu terasa begitu familiar.

Tapi kapan ia pernah mengalami itu? Dengan siapa?

.

.

.

Sepanjang jalan pulang, Akabane Karma memiliki dua perasaan dalam hatinya. Pertama, ia merasa lega, kondisi Nakamura Rio kelihatan lebih baik ketimbang yang diceritakan Isogai. Kedua, ia merasa (sedikit) cemburu ketika Rio menceritakan soal Asano.

Tiba-tiba Karma teringat perkataan Isogai tadi siang yang menyebutkan bahwa ada satu ingatan yang kembali didapatkan Rio. Dan— oh ya, tadi ia tidak menanyakan soal itu pada si pirang.

Ahh, Karma semakin kesal. Ia merutuki diri sendiri yang begitu bodoh karena tidak menyinggung soal itu. Tapi biarlah, ia juga tidak begitu menginginkan kisah Rio dan Asano sebelum ia dan gadis itu pacaran.

BRUK!

Karma cepat-cepat menengadahkan kepalanya yang agak menunduk. Ia harus cepat-cepat meminta maaf karena salahnya telah melamun saat berjalan.

"Maaf, aku tidak—" Karma menggantungkan kalimatnya. "Loh, Asano?"

"Akabane?"

Manik tembaga Karma dan manik violet Asano saling beradu pandang. Keduanya sama-sama menyiratkan rasa kejut mereka dalam iris masing-masing. Siapa sangka mereka akan bertemu di persimpangan ini?

"Lama tidak bertemu, Asano." Ucap Karma yang terdengar riang.

"Ahh, aku juga." Berbeda dengan Asano Gakushuu yang agak dingin membalasnya.

"Sedang apa kau di sini, Asano?" Tanya Karma basa-basi. "Apa rumahmu ada di sekitar sini?"

"Aku ingin menjenguk Nakamura."

"Heh… jam segini?" Karma melirik arloji di tangan kirinya. "Mengapa?"

"Kau pikir perjalanan dari Kanagawa ke Tokyo menghabiskan waktu sedikit?" Asano tampak sedikit geram sepertinya. "Aku belum pulang ke apartemen, jam pulang sekolahku juga sore, jadi aku baru sempat sekarang."

"Hmm, begitu…"

"Kau sendiri? Sedang apa kau di sini?" Asano balik bertanya. "Bukankah rumahmu tidak di daerah sini?"

"Aku baru saja menjenguk Rio."

"Hah? Nakamura?"

Karma mengangguk. "Kau tahu sendiri kan, kemarin Rio pingsan saat pergi ke toko buku?" tanyanya. "Tapi sekarang kondisinya sudah membaik kok."

Asano menundukkan kepalanya. Ekspresi wajahnya terlihat cukup suram. Seharusnya ia merasa lega setelah mendengar kabar baik soal gadis idamannya, namun hatinya tidak demikian. Entah kenapa rasa tidak sukanya pada Karma muncul dan membara begitu saja.

"Akabane," panggil Asano. "Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan."

"Apa?" Karma penasaran.

Asano mengambil napas pelan sampai jantungnya dapat terkontrol kembali. Setelah dirasa cukup tenang, si pirang stroberi itu memulai pertanyaannya.

"Apa kau masih mencintai Nakamura?"

"Eh?" Karma bingung. "Mengapa kau bertanya—"

"Sudah jawab saja!"

Karma tersentak. Sejak kapan mood Asano berubah? Dalam hati, si surai merah merasakan suatu firasat buruk.

"Y-Ya. A-Aku mencintainya." Jawabnya gelagapan.

Setelah menjawab pertanyaan itu, Karma kembali terkejut saat Asano yang dengan tiba-tiba mencengkeram kerah seragamnya. Cengkeraman itu kuat sekali, bahkan saat ia melemparkannya ke dinding terdekat, tangan itu masih betah menggenggam kerah kemeja putih Karma.

"Kalau begitu kenapa?" suara Asano berubah naik. Ia tak lagi berbicara seadanya dengan nada dingin. "Kenapa kau memutuskan hubungan kalian?"

Itu karena Rio— hei, tunggu sebentar." Karma ikutan emosi. Ia pun balas bertanya. "Mengapa kau marah? Apa masalahmu?"

"Aku tidak ingin kau memainkan perasaan Nakamura."

"Memainkan? Hei, aku tidak akan memutuskan Rio jika tanpa alasan." Ucapnya sengit. "Lagipula, mengapa kau tiba-tiba menanyakan hal itu?"

"Aku… aku hanya—"

"Mengapa moodmu jadi berubah saat aku menjawab pertanyaanmu? Mengapa kau terlihat kesal?"

Asano ingin menjawab, namun hatinya tak sanggup. Mulutnya menganga sekian detik. Suaranya tidak dapat ia keluarkan. Dirinya sendiri juga bingung, mengapa ia bisa-bisanya menanyakan pertanyaan bodoh seperti itu.

"Satu lagi. Darimana kau tahu kalau aku dan Rio sudah putus?"

Belum juga menjawab pertanyaan kedua, Karma sudah melayangkan pertanyaan lagi. Asano semakin tak bergeming, seakan telinganya sedang tuli karena tak kunjung menjawab.

"Lepaskan."

Karma berusaha menyingkirkan kedua tangan Asano dari kerahnya, namun yang bersangkutan tidak kunjung melepaskannya, bahkan si pirang stroberi menambah kuat cengkeramannya.

"Bodoh—"

"Lepaskan!"

Asano mencengkeram kerah Karma lebih kuat lagi.

"Bodoh!"

"Lepas—"

"Hentikan! Jangan bertengkar!"

Tiba-tiba seseorang datang melerai mereka. Tangannya berusaha menyingkirkan cengkeraman tangan Asano yang mendadak lemas setelah mendengar teriakan barusan.

Iris tembaga dan iris violet membelalak bersamaan. Pemuda itu segera mengambil tempat di antara mereka, kemudian ia merentangkan tangannya, member jarak yang cukup jauh antara Asano dan Karma.

"I-Isogai?!" serunya bersamaan.

Isogai Yuuma membuang napas pelan, sepertinya ada perasaan kesal di sana. Ia tak habis pikir dengan kelakuan kakak kelasnya ini. Apa mereka selalu seperti ini saat reuni?

"Asano-senpai, Karma-senpai, sedang apa kalian di sini?" Tanya Isogai. "Mengapa kalian bertengkar di jalan?"

"A-Ahh, aku baru saja dari rumah Rio." Jawab Karma agak gugup.

"Kalau aku baru akan mengunjunginya." Kini giliran Asano yang menjawab.

"Lalu, apa yang kalian lakukan di sini?" Tanya Isogai lagi. "Bukankah memalukan jika kalian bertengkar di sini?"

Benar juga, pikir keduanya. Karma dan Asano kembali melunak. Mereka sendiri tidak mengerti mengapa mereka bisa bertengkar. Bukankah seharusnya mereka senang dan saling melampiaskan rindu karena lama tak jumpa?

"Huh, mengapa kalian berdua terlihat begitu kekanakan, senpai?"

Karma dan Asano menatap Isogai yang masih mematung di hadapan mereka. Anak itu benar. Seharusnya mereka tidak tersulut emosi seperti itu.

"Maaf, Akabane." Ucap Asano. "Seharusnya aku tidak menanyakan hal bodoh seperti tadi."

"Sudahlah, aku juga salah." Kemudian si surai merah menepuk pelan bahu Isogai. "Maaf ya, Isogai, kami melibatkanmu. Mungkin kami seperti ini karena dulu Asano menjauhiku dan sekarang kami bertemu lagi."

"Apa maksudmu?!" singgung Asano, sedangkan Karma hanya terkekeh pelan.

"Tidak usah meminta maaf padaku, senpai. Aku tidak melakukan apa-apa, malah seharusnya aku yang minta maaf karena sudah ikut campur." Isogai tersenyum senang melihat Karma dan Asano yang tak lagi diselimuti aura negatif.

Seperti biasa, kau itu kelewat baik. Batin keduanya.

"Ngomong-ngomong, kau mau pergi ke mana?" Tanya Asano. "Apa kau akan pergi menjenguk Nakamura?"

"Tidak mungkin, senpai." Isogai terkekeh. "Aku mau pergi kerja paruh waktu, lagipula aku tidak tahu di mana rumah Nakamura-senpai."

Kedua pemuda itu ber-oh-ria. Tiba-tiba Isogai terperanjat, mengingat jam kerjanya akan dimulai sebentar lagi.

"Karma-senpai, Asano-senpai, sepertinya aku harus pergi." Pamit si surai pucuk. "Aku permisi ya?"

Isogai melangkah meninggalkan Akabane Karma dan Asano Gakushuu yang masih mematung. Seperginya bocah kelas 2 itu, mereka hanya mengangguk, kemudian ikut membubarkan diri dari sana.

Aku mendengar semua percakapan mereka barusan. Suasananya menegangkan sekali, apalagi saat berada di antara mereka.

Isogai bergumam dalam hati. Kalau kemarin ia tengah dilemma soal perasaannya pada Nakamura Rio, sekarang ia merasa begitu pesimis. Seperti katanya kemarin, ia hanyalah adik kelas Rio yang menolongnya saat kecelakaan. Sedekat apapun ia dekat dengan gadis pirang itu, ia tidak akan bisa meraihnya.

Sepertinya aku benar-benar tidak bisa mengambil hati Nakamura-senpai. Biar bagaimana pun aku hanyalah figuran, bukan pemeran utama.

.

.

.

TBC

.

.

.

A/N : akhirnya chapter 6 publish dengan kacaunya :''''((((

Maafkan saya yang kebelet pengen update tapi ide mentok dan bikinnya keburu-buru. Sumimasen deshita *sungkem*

Next Chapter 7 : Dream!