"Isogai-kun,"

Isogai Yuuma menolehkan kepalanya kea rah pintu kelas. Sebuah suara yang begitu familiar di telinga menyerukan namanya. Namun si ikemen merasa ragu. Ada angin apa ini?

Isogai berjalan ke arah pintu. Ia menyembulkan kepalanya keluar, mengintip seseorang yang barusan memanggilnya.

Manik madunya membelalak. Seseorang yang memanggilnya bukan senpai surai merah yang rutin menemuinya setiap pulang sekolah, melainkan—

"Nakamura-senpai?"

Rio menolehkan kepalanya ke arah sumber suara. Ia melihat kepala Isogai menyembul di sana. Kemudian bibir pinky-nya membentuk kurva yang amat manis.

"Boleh minta waktunya sebentar?"

Isogai segera keluar dari kelas. Bukan hanya kepala, tetapi seluruh tubuhnya juga. Ia pun berjalan mendekati si pirang.

"Ada yang bisa aku bantu, senpai?" tanyanya.

"Isogai-kun, apa kau ada waktu luang hari minggu nanti?" tanya Rio memastikan, tak lama si surai hitam mengangguk. "Aku ingin pergi denganmu nanti, ada sesuatu yang ingin aku sampaikan. Kau bersedia?"

"Hah?"

.

.

.

Assassination Classroom/Ansatsu Kyoushitsu © Matsui Yuusei

Memory © shichigatsudesu

Chapter 7 : Dream!

.

.

.

Sejak kejadian kemarin di mall pusat kota tempo lalu, Nakamura Rio selalu di hantui oleh bayang-bayang masa lalunya. Kepingan-kepingan memorinya silih bertumpuk di dalam kepala, sampai sakit pada anggota tubuh tersebut sering kumat. Terkadang Rio merasa kesal, namun ia menyangka cuplikan masa lalu yang berputar bagaikan film secara random itu adalah sebagian dari ingatannya yang hilang. Jadilah sekarang, Rio yang (dengan terpaksa) harus menikmati rasa sakit layaknya seorang masokis.

Dan yang membuatnya semakin penasaran adalah; tokoh-tokoh berwajah buram yang berada dalam kepingan memori tersebut.

Kalau bisa, Rio ingin menggali ingatannya agar ia mengetahui siapa tokoh-tokoh yang selalu menghantuinya. Jika ini dunia fantasi, mungkin si pirang sudah menggunakan sihirnya untuk menyingkirkan topeng benang kusut yang menutupi wajah para tokoh, atau ia akan menyulap otaknya agar seluruh ingatannya kembali padanya.

Namun, semakin sering ia melakukan itu, sakit pada kepalanya semakin terasa. Lama-lama Rio frustasi. Berbagai cara telah ia lakukan agar ingatannya kembali. Menjelajahi internet, misalnya, atau berusaha mengingat lewat barang-barang yang ada di dalam kamar. Namun, semua yang ia lakukan itu nihil, tidak ada hasilnya.

Dari semua ingatan itu, ada beberapa cuplikan yang terus menerus berputar dalam pikirannya. Cuplikan itu berisi dirinya yang tengah melakukan aktivitas bersama seorang lelaki, hanya berdua, apapun aktivitasnya. Di sana si gadis pirang terlihat sangat ceria, begitu juga dengan lelaki itu.

Jika pikiran Rio tengah menayangkan itu, rasa gatal ingin menggali ingatannya semakin menjadi-jadi. Namun saat itu juga, rasa sakit langsung menyerang kepalanya. Gadis pirang itu sudah kelelahan mencari cara. Ia butuh solusi, namun saat bertanya pada dokter yang menanganinya, ia selalu diberikan alasan-alasan klasik yang sama sekali tidak dapat menyelesaikan masalah.

'Itu hanya perasaanmu.' atau 'Mungkin kau hanya memimpikan film yang baru saja kau tonton.' atau 'Jangan mencoba menggali ingatanmu.' Begitu katanya.

"Jadi, senpai ingin aku memberikan solusi soal mimpi-mimpimu itu?" tanya Isogai, kemudian Rio membalasnya dengan anggukan.

Isogai Yuuma memberi jeda sejenak. Ia menyesap cokelat panas yang disajikan oleh pelayan kedai ramen beberapa menit lalu. Disaat yang bersamaan, ia memikirkan sebuah solusi yang dipinta oleh si gadis pirang.

Beberapa hari lalu, Nakamura Rio meminta Isogai Yuuma untuk meluangkan waktunya di hari minggu. Ia ingin menceritakan sesuatu kepada adik kelasnya itu. Dan sekarang, Rio telah memberitahu semua soal 'sesuatu' itu, di kedai ramen dekat stasiun, ketika udara musim gugur mulai terasa semakin dingin.

Setelah cerita panjang itu berakhir, si surai hitam berusaha memikirkan satu solusi, sesuai yang si pirang pinta. Namun otak cerdasnya mendadak beku, sehingga jeda yang dihasilkan setelah percakapan barusan begitu lama.

Isogai lebih mengetahui kondisi Rio dibanding siapapun. Dan saat Akabane Karma menceritakan biografi mantan kekasihnya itu, si kemen merasa ia tahu segalanya soal Rio. Jadi saat senpai surai pirangnya itu menceritakan mimpi-mimpinya, ia sudah tahu siapa tokoh-tokoh yang ada dalam cuplikan memorinya itu. Dan ketika Rio meminta solusi atas masalahnya, ia tak tahu harus mengatakan apa.

TIK!

"Isogai-kun?" Rio menjentikkan jarinya ke arah Isogai setelah menyadari bahwa anak itu tengah melamun. Sedangkan yang melamun buru-buru tersadar. "Mengapa kau melamun?"

"Ah, maaf, senpai. Aku tidak bermaksud melamun." Ucapnya. "Aku hanya, belum bisa menemukan solusinya."

"Oh, begitu." Rio menunduk lesu. Sepertinya memang tak ada gunanya ia mencari-cari sebuah solusi yang dapat menyelesaikan masalahnya. "Menderita amnesia itu menyusahkan, ya?"

Isogai menatap Rio, menuntut penjelasan lebih.

"Aku harus mencari-cari hal yang hilang tapi tidak ada wujudnya, harus merasakan sakit yang sangat sangat menyiksa, dan harus terus menerus menyusahkan orang lain."

"Itu tidak benar, senpai."

Rio mendongakkan kepalanya, menatap manik madu Isogai yang berada di hadapannya. Ia mengeratkan pegangannya pada gelas cokelat panas. Rasa hangat mulai menjalar pada syarafnya.

"Senpai, kau tahu tidak, mengapa dokter melarangmu untuk menggali ingatan lebih dalam?"

Rio menggeleng pelan.

"Dokter berkata demikian, karena ia tahu kalau hal ini akan terjadi."

"Maksudmu?" Rio gagal paham.

"Tanpa kau cari pun, ingatan itu akan datang dengan sendirinya. Sekarang mungkin hanya separuh, tapi lama-lama pasti kau bisa mengingat semuanya."

"Lalu, apa yang menyebabkan rasa sakit pada kepalaku?"

"Yaa, itu tadi. Kau terlalu memaksakan diri untuk mengingat ingatanmu yang hilang." Jawab Isogai. "Selain itu,"

"Selain itu?"

Udara musim gugur berhembus sedikit lebih kencang dari sebelumnya. Meskipun berada di dalam kedai, namun dinginnya udara mampu menusuk ke dalam tubuh. Isogai segera merapatkan jaketnya, begitu juga dengan Rio yang kini tengah melilitkan syal ke lehernya. Merasa sudah lebih hangat, dua senpai-kouhai itu segera kembali ke dalam percakapan.

"Sepertinya kau belum siap menerima kenyataan."

Lagi-lagi Rio gagal paham.

"Isogai-kun, aku tidak mengerti." Keluhnya. "Apa maksudmu?"

"Sepertinya aku menjelaskannya berbelit-belit, ya?" Isogai menggaruk kepalanya yang tak gatal, kemudian membuat cengiran singkat. "Maafkan aku, senpai."

"Sudahlah, Isogai-kun." Rio menyeruput cokelat panasnya yang suhunya sudah mulai turun. Tak lama ia meletakkan kembali minuman tersebut. "Aku tidak butuh maafmu, aku butuh penjelasanmu."

"Baiklah, aku jelaskan." Isogai berdehem pelan. "Kau bisa saja meminta Karma-senpai, Asano-senpai, dan lain-lain untuk menceritakan semua masa lalumu, mulai dari kalian berteman sampai kecelakaan kemarin."

"Serius?"

"Tapi," Rio diam setelah Isogai memotong kalimatnya. Ia bersiap-siap untuk mendengatkan si ikemen berbicara. "Kau harus menyiapkan mental dan bisa menenangkan perasaanmu. Jika sudah, kau pasti akan baik-baik saja. Ingatanmu kembali, dan sakit pada kepalamu tidak akan kumat."

Rio menganggukkan kepalanya. Sepertinya ia sudah mengerti. Ia kembali menyeruput cokelat panas di gelasnya sampai habis tanpa sisa. Sekali lagi, ia menatap Isogai yang tengah melakukan aktivitas yang sama sepertinya.

"Isogai-kun," panggil Rio kemudian. Sang empunya nama menoleh. "Aku punya satu permintaan."

"Permintaan?" ulang Isogai. "Kau ingin aku melakukan apa, senpai?"

"Bisakah kau menceritakan semua yang kau ketahui tentangku?"

Isogai menelan ludah. Permintaannya berat sekali. Sebenarnya bisa saja ia menceritakan semuanya, ia masih ingat betul semua obrolan panjang lebar Karma soal Rio tempo hari, namun hatinya merasakan suatu keraguan. Ia mendadak bingung, padahal sebelumnya ia percaya diri.

Bisakah ia menceritakan semuanya?

"Senpai, kau yakin?"

Rio mengerutkan dahi sepersekian detik. Mengapa Isogai terlihat begitu ragu?

"Memangnya kenapa?"

"Aku... aku baru mengenalmu sejak masuk SMA Kunugigaoka, dan baru akhir-akhir ini kita berdua begitu dekat. Kau yakin, ingin meminta penjelasan padaku?"

"Loh, mengapa tidak?" Rio balik bertanya. "Kukira Karma-kun, Nagisa-kun, Sugino-kun dan Kaede-chan sudah memberitahu semuanya tentangku."

"Tidak, mereka hanya memberitahu sebagian." —tapi bohong, lanjutnya dalam hati.

Rio terdiam. Ia bertopang dagu, memikirkan siapa yang akan ia wawancarai untuk menjawab semua pertanyaan-pertanyaan yang kini menumpuk di otaknya.

"Lebih baik kau bertanya langsung pada mereka. Aku yakin, kalau kau sudah siap seperti apa yang kukatakan tadi, mereka pasti akan menceritakannya dengan senang hati."

Benar juga, pikir Rio. Sejujurnya, Rio sudah muak dengan dirinya yang begitu lemah karena amnesianya. Sedikit-sedikit ingatannya muncul, lalu hilang lagi. Sedikit-sedikit kepalanya sakit, bahkan sampai pingsan, bangun, lalu hilang lagi. Si gadis pirang lelah jika ia harus melakukan aktivitas itu dengan rutin.

Namun, setelah ia mengeluarkan semua unek-uneknya pada Isogai Yuuma, hatinya terasa lega. Meskipun ia belum mendapatkan solusi yang benar-benar pasti, namun perasaannya begitu plong, seolah-olah semua beban hidupnya terangkat dari pundaknya— yaah, hanya sementara sih.

"Meskipun begitu, aku merasa kalau kita sudah saling kenal sejak lama. Makanya aku memilihmu untuk jadi tempat curhatku, karena aku percaya padamu." Ucap Rio setelah cukup lama memberikan jeda. Ia mengembangkan seulas senyum. "Terima kasih, Isogai-kun."

Warna merah yang semula begitu tipis di wajahnya, kini tampak lebih pekat dari sebelumnya. Sekarang wajahnya tak dapat dibedakan lagi dengan surai senpai yang memiliki marga Akabane itu. Selain itu, ia merasa tubuhnya begitu hangat— saking senangnya dipuji.

"Tapi, aku tidak melakukan banyak—"

"Jangan terus menerus merendah seperti itu, Isogai-kun." Potong Rio. "Sejak dulu, aku ingin sekali mengucapkan terima kasih padamu, karena kau dan Maehara-kun telah menolongku saat kecelakaan waktu itu. Selain itu, kalian selalu menjengukku. Dan sekarang, kau bela-bela menyempatkan diri kemari hanya untuk mendengarkan omongan panjang lebarku? Sungguh, aku tak mungkin tidak mengucapkan terima kasih."

Isogai diam. Ia tidak suka dipuji berlebihan seperti itu, ini membuatnya begitu gugup. Namun ia tak lagi merendah. Isogai menganggukkan kepala.

"Y-Ya, sama-sama."

"Sepertinya perutku sudah tidak kenyang lagi." Rio mengelus pelan perutnya, lalu pandangannya beralih pada arloji ditangannya. "Ramen di sini enak sekali. Aku jadi betah— eh, tapi kita sudah terlalu lama di sini. Sepanjang itukah ceritaku?"

Isogai hanya terkekeh sambil mengangguk pelan, pelan sekali. Ia pun melirikkan mata pada arlojinya, tak lama ia terperanjat.

"Senpai, sebentar lagi aku masuk jam kerja. Aku harus segera pergi." Ucapnya. Rio hanya mengangguk mendengarnya. Sedetik kemudian, ia menatap mejanya yang masih terdapat mangkok, sendok-garpu serta gelas bekas cokelat panas yang berserakan. Setetes keringat turun dari pelipisnya.

"Ano... tadi kau bilang kalau kau akan mentraktir porsi ramenku. Apa itu masih berlaku, senpai?"

.

.

.

"Aku pulang... loh?"

Nakamura Rio mendadak bingung ketika ia disuguhi udara dingin yang menyiratkan suasana sunyi senyap. Tak ada suara yang terdengar, ruangan pun terlihat gelap. Apa ia pergi terlalu lama sehingga orang tuanya pergi tanpa menunggu dirinya pulang?

Masih dilanda rasa bingung yang mendalam, Rio melangkah masuk ke dalam rumah. Setelah menutup pintunya, ia segera mengganti sepatu boot dengan sandal rumah berbahan bulu kesayangannya.

Lagi-lagi ia merasa bingung.

"Loh? Sandal siapa ini?"

Rio menatap dua pasang sandal asing dalam tempat penyimpanan sandal. Alas kaki itu bukan punya ayahnya, ia yakin itu. Jadi di sana ada tamu?

Rio segera memasuki ruang tamu. Tak ada siapa pun di sana. Kemudian ia menjelajahi ruang keluarga, dapur, serta kamar mandi. Tetap saja tak ada orang. Si gadis pirang beranggapan 'mungkin orang tuanya telah membeli sandal baru' sehingga ia tidak lagi memikirkan benda itu.

Baru beberapa saat ia merasa tenang (atau cuek?), kini perasaan bingungnya kembali hadir saat ia memasuki ruangan pribadinya.

"Sedang apa kalian di sini..."

Rio menggantungkan kalimatnya sejenak. Dua pasang mata terlihat membelalak kaget.

"—Asano-kun, Karma-kun?"

Kedua sosok yang disebutkan Rio barusan mengerjapkan matanya. Kini mereka tak lagi merasa terkejut karena kedatangan gadis itu.

"A-Ahh, maaf, Rio. Kami ingin mengunjungimu, tapi karena kau sedang pergi jadi orang tuamu menyuruh kami menunggu di sini." Jawab Karma.

Setetes peluh turun dari pelipis Rio.

"Ahh, aku senang jika kalian ingin mengunjungiku. Tapi," Rio menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Dalam rangka apa ini?"

"A-Aku hanya ingin bertemu denganmu saja. Sudah lama sekali aku tidak mengunjungi rumahmu." Kali ini Asano yang menjawab. Tak lama ia melirik tajam pada pemuda Akabane di sebelahnya. "Tidak seperti dia yang datang ke sini karena ingin modus."

Karma terperanjat. "Apa maksudmu ingin modus?" singgungnya.

"Loh, bukankah kau menginginkan sesuatu dari Nakamura?"

"Sejak kapan?" Karma semakin kesal. Ia tidak terima dikatai modus seperti itu. Memangnya apa yang ia inginkan? "Kalau aku modus, lalu apa bedanya denganmu?"

Asano bungkam seketika. Hal ini membuat Karma tersenyum menang. Ia menyeringai.

"Kau juga menginginkan sesuatu dari Rio, kan?" godanya. "Kau sedang tidak tinggal di Tokyo. Tidak mungkin kan kau datang jauh-jauh dari Kanagawa hanya untuk bertemu dengannya?"

Asano Gakushuu sukses dibuat blushing oleh si setan merah.

"Apa maksudmu, Akabane?!" si pirang stroberi tidak terima. Ia menatap tajam Akabane Karma.

"Heh, mengapa kau tsundere begitu?" Karma semakin melebarkan seringainya. "Berarti aku benar, dong?"

Rio hanya memperhatikan sahabat surai merah dan pirang stroberi yang sedang asik berdebat. Jujur saja, ia tak mengerti dengan apa yang mereka ributkan. Tapi entah kenapa hatinya merasa senang ketika melihat tingkah mereka berdua yang seperti itu. Oh, jadi Asano dan Karma selalu seperti ini saat bersama...

"Sudah lama sekali aku tidak melihat kalian seperti ini. Kalian benar-benar akrab, ya?"

Dalam sekejap Asano dan Karma tutup mulut. Kini mereka berdua tidak lagi saling melontarkan omong kosong. Pandangan mereka mengarah pada gadis pirang yang masih mematung di dekat pintu.

Sedangkan Rio merasa sedikit risih ketika mendapat tatapan menyelidiki dari sepasang mata tembaga dan violet itu.

"K-Kenapa kalian melihatku begitu?"

"Kau mengingatnya?"

"Hah?"

Rio merasa seluruh isi kepalanya tumpah, rasanya ringan dan kosong. Tak lama, sebuah ingatan memasuki anggota tubuh tersebut. Pikirannya menerawang kejadian dirinya yang tengah berkumpul bersama teman-teman.

Dalam kepalanya, ia melihat dua sosok yang berada di kamarnya itu melakukan hal yang sama seperti yang mereka lakukan barusan— berdebat. Bukan hanya mereka berdua, di sana juga bermunculan karakter lainnya. Tokoh-tokoh tersebut terlihat lebih jelas dari sebelumnya, dan Rio senang dengan itu.

Shiota Nagisa. Kayano Kaede. Sugino Tomohito.

"Nakamura? Apa kau baik-baik saja?" tanya Asano.

Sepertinya Rio telah kembali dari lamunannya, namun ekspresi wajahnya masih terlihat datar, seolah ia merasakan syok yang berkepanjangan.

"K-Kalimat yang barusan aku sebutkan itu meluncur begitu saja." Ucap Rio sedikit gagap. "J-Jadi aku benar, ya?"

Karma dan Asano mengangguk perlahan, kemudian kembali menatap Rio dengan intens. Sepertinya mereka masih merasa tak percaya saat gadis itu mengingat salah satu ingatannya yang hilang.

Kemudian Rio menarik napas panjang. Kini perasaannya sudah kembali normal, tidak lagi terkejut dan sebagainya. Ia membuka matanya yang semula sempat terpejam, menatap kedua makhluk di hadapannya dengan iris sewarna lautnya.

"Bolehkah aku meminta sesuatu dari kalian? Satu permintaan saja."

.

"Jadi begitu ceritanya."

Rio mengangguk-angguk paham, sedangkan Karma dan Asano memandang gadis itu dengan ekspresi khawatir. Semua yang Rio tanyakan telah mereka jawab, tapi mereka takut sakit kepala Rio kumat lagi.

"Kau yakin tidak apa-apa, Rio?" tanya Karma.

"Apanya yang tidak apa-apa?"

"Ituloh, kepalamu." Asano mengetukkan jari telunjuknya pada kepala strawberry blonde-nya. "Kami tidak ingin kepalamu sakit karena kami menceritakan masa lalumu."

Rio tersenyum, kemudian menggeleng kepalanya pelan.

"Isogai-kun bilang, aku harus menyiapkan mental dan perasaanku untuk mengingat kembali ingatanku. Dan aku tidak perlu memaksakan diri untuk menggali ingatanku, jadi aku tidak akan sakit kepala lagi."

"Isogai-kun?" Karma dan Asano sama-sama menaikkan alis. "Kapan kau bertemu dengannya?"

"Barusan." Jawab Rio singkat.

"Oh, jadi kau pergi untuk bertemu dengan Isogai?" Asano memastikan. Rio hanya mengangguk.

"Asano-kun, Karma-kun, apa kalian sudah menceritakan semuanya?" tanyanya.

Keduanya diam sejenak. Tentu saja tidak semua kejadian masa lalu mereka ceritakan. Selain karena rasa khawatir tadi, mereka merasa malu.

"Kurasa sudah." Jawab Asano.

"Ah, aku baru ingat!" Karma tiba-tiba berseru. Hal ini membuat Asano dan Rio terkejut. "Dulu kau selalu menceritakan semua pengalamanmu di buku harian. Bagaimana kalau kau membaca buku harianmu itu?"

Rio membelalak. "Benarkah?"

Karma mengangguk. "Ada banyak hal yang tidak kami ketahui tapi tertulis di buku harianmu, jadi kalau kau ingin mengingat ingatanmu lagi lebih baik kau baca semuanya di sana."

"Bagaimana kau—"

"Ahh, tapi kau jangan memaksakan diri. Kalau apa yang Isogai-kun katakan itu benar, sebaiknya kau menyiapkan dirimu terlebih dahulu." Sambung Asano.

Rio hendak bersuara lagi, namun kata-kata yang sudah ia susun rapi hilang dalam sekejap. Ia hanya mengangguk pelan, mengiyakan saran dari mantan kekasihnya itu.

"Hmm, benar juga."

.

.

.

Semakin malam, udara musim gugur terasa semakin dingin. Biasanya, setiap langit malam terlihat terang, keluarga Nakamura selalu berdiam diri di teras rumah, menikmati gugusan bintang yang tersebar luas sepanjang langit malam. Namun kini, mereka cukup malas untuk berada di luar rumah. Dinginnya malam pada hari ini tak tertahankan.

Dan sekarang gadis itu hanya berdiam diri di dalam kamar. Setelah makan malam, ia langsung mengobrak-abrik kamarnya untuk mencari sebuah buku yang bersifat pribadi itu atau yang biasa disebut buku harian. Setelah lima menit, akhirnya si pirang telah menemukan buku tersebut.

Rio membuka lembar demi lembar buku hariannya, mengamati goresan-goresan tinta yang memenuhi permukaan kertas. Manik birunya dengan jeli membaca kalimat-kalimat yang merupakan curahan isi hatinya, tak sedetik pun indera tersebut berhenti bekerja.

Kini Rio telah memasuki seperempat bagian terakhir buku hariannya. Kecepatan membacanya semakin menurun dari sebelumnya. Ia berusaha mencerna semua tulisan yang tercetak di sana, namun tidak bisa. Rio sama sekali tidak percaya.

Dari semua kisah yang ia tulis, mengapa nama Akabane Karma begitu mendominasi? Mengapa di sana banyak sekali cerita berdua bersama si surai merah itu? Sebenarnya apa status hubungan Karma dengannya, sampai ia selalu merasa senang setiap kali dekat dengannya?

Kemudian Rio menggenggam erat buku hariannya. Ia menatap kata 'putus' pada kalimat yang tertera di sana. Selama itu, matanya mulai memanas. Segumpal cairan bening mulai mendesak keluar.

"Jadi, dulu aku dan Karma-kun... sepasang kekasih?"

Tetes demi tetes air mata mulai menyentuh kertas dan menyebabkan beberapa kata yang terciprat cairan bening itu menjadi luntur. Lagi-lagi kebiasaan menggali ingatannya yang hilang kembali ia lakukan. Ia tidak peduli, persetan dengan penyakit sakit kepalanya.

Beberapa saat kemudian, Rio memegang kepalanya. Jari-jarinya mencengkeram surai pirangnya agak kuat.

"Akh, sakit."

.

.

.

TBC

.

.

.

A/N : Akhirnya update juga huuuauaaahhh...

Ngomong-ngomong fict ini tinggal beberapa chapter lagi bakal end, target sih bulan ini. Tapi gak janji bakal update kilat. Sengaja tamatnya bulan ini karena awal bulan depan udah mulai TO, ini aja maksain ngetik :''''''((((

Tapi chapter depan udah jadi kok, mungkin besok atau lusa baru update

Next Chapter 8 : Shoot!