Isogai Yuuma memandang Nakamura Rio yang berjalan meninggalkannya. Keduanya saling melambaikan tangan dan melempar senyum manis mereka. Setelah Rio memalingkan wajahnya dari Isogai, ia menghembuskan napasnya berat. Satu jam lebih mereka berbincang di kedai ramen. Selama itu pula Isogai harus menahan rasa gugupnya yang kelewat batas.

Bagaimana tidak? Si ikemen tiba-tiba mendapat ajakan kencan (yang kedua) dari sang pujaan hati. Itu merupakan sesuatu yang tak pernah ia sangka, sekaligus menjadi suatu kebanggaan tersendiri bagi si surai pucuk.

Kalau sudah seperti ini, Isogai tak ingin kedekatannya dengan si surai pirang menjadi kesempatan yang ia sia-siakan. Ia harus bisa memanfaatkannya.

.

.

.

Assassination Classroom/Ansatsu Kyoushitsu © Matsui Yuusei

Memory © shichigatsudesu

Chapter 8 : Shoot!

.

.

.

Suara langkah kaki seseorang menggema sepanjang koridor di gedung kelas 3. Wajar sih, karena suasana di sana sangat sepi. Ini masih terlalu pagi untuk seorang siswa datang ke sekolah.

Tapi begitulah kebiasaan Shiota Nagisa. Ia selalu datang paling pertama di kelas 3-A. Tak peduli dengan kelasnya yang selalu kosong setiap kali ia tiba. Entah kenapa ia menyukai suasana sunyi senyap di ruangan tersebut.

Setelah anak tangga terakhir ia pijaki, matanya sedikit membelalak. Ternyata ia tak sendirian. Ada seorang siswi yang datang lebih dulu darinya.

"Nakamura-san?"

Sang empunya nama berpaling ke arah Nagisa. Wajahnya terlihat lusuh, namun Rio segera memasang senyumannya.

"Nagisa-kun," serunya. Manik birunya menatap si surai biru langit yang berjalan mendekatinya. "Kau sudah mengerjakan tugas matematika hari ini?"

"Sudah, meskipun aku meragukan jawabanku." Nagisa terlihat patah semangat. Sesulit itukah tugasnya?

Rio hanya terkekeh mendengar jawaban sahabatnya. "Oh ya, Nagisa-kun,"

Nagisa menoleh pada Rio, memberikan tatapan 'apa?' padanya.

"Boleh aku menanyakan sesuatu?" Nagisa hanya mengangguk. "Apa benar Karma-kun itu mantanku?"

Nagisa terkejut. Pertanyaan itu di luar dugaannya. Sekarang ia bingung harus menjawab apa.

Jawab bohong atau jujur? Nagisa mendadak dilema. Otaknya berusaha bekerja, memikirkan sebuah resiko atas jawabannya nanti, baik bohong maupun jujur.

"Mengapa kau diam saja, Nagisa-kun? Kau tidak mendengarku?" tanyanya. "Oh, atau kau ingin membohongiku?"

Nagisa meneguk salivanya. Sekarang ia benar-benar bingung harus menjawab apa.

"Jangan khawatir. Aku tidak apa-apa, Nagisa-kun. Jawab saja pertanyaanku."

Rio tersenyum pada Nagisa. Pasti ia berusaha meyakinkan pemuda itu. Dan sekarang si surai biru langit pasrah.

"Ya, benar." Jawabnya. "Memangnya kenapa?"

Rio ber-oh-ria. "Kau tahu mengapa kita berdua bisa putus?"

"Kalau itu aku tak tahu," Nagisa mengangkat bahu. "Karena saat itu kalian hanya mengobrol empat mata."

Rio membulatkan mulutnya untuk yang kedua kali. Ternyata semua hal yang ia tulis di buku hariannya terbukti nyata. Tentu saja!

Tapi ia merasa ada yang tidak beres. Kalau semua yang Rio tulis di sana adalah perasaannya, seharusnya ia dapat mengingatnya, merasakannya. Bukankah ia sudah menyiapkan mental dan menenangkan hatinya? Tapi setelah ia membaca semua isi buku hariannya, serta meminta keyakinan pada Nagisa, ia tetap tidak merasakan apa-apa. Rasanya seperti membaca cerita fiksi yang tidak pernah ia alami dan tidak memberikan efek apapun padanya.

.

.

.

Seperti biasa, Maehara Hiroto selalu pergi ke kantin untuk membeli beberapa jenis roti. Ini sudah yang kesekian kalinya ia melupakan bekal yang sengaja dibuat oleh sang bunda tercinta, sehingga ia terpaksa mengeluarkan beberapa ratus yen untuk memanjakan perutnya.

Sekembalinya ke kelas 2-B, ia tidak segera duduk di bangkunya, melainkan di bangku salah satu teman sekelasnya yang terletak di depan bangku Isogai.

Maehara menatap si ikemen heran. Akhir-akhir ini ia hobi sekali melamun sambil menatap sebuah foto.

SRAT!

"Apa yang kau lihat, Isogai? Hmmm, foto ini terlihat lebih baik dari sebelumnya."

Maehara merebut selembar foto dengan solatip yang menyatukan bagian sobek dari benda tersebut. Isogai segera tersadar dari lamunan, kemudian berusaha mengambil foto yang dijauhkan darinya oleh si cassanova.

"Kembalikan fotonya!"

Isogai berusaha meraih benda tersebut, sedangkan Maehara menjauhkan benda yang dipegangnya dari si surai pucuk.

"Apa kau melamunkan Nakamura-senpai?" tanya Maehara.

Isogai segera kembali ke posisi semula. Ia tak lagi berusaha menggapai foto itu.

"Ya, begitulah."

"Apa yang kau lamunkan? Apa kau masih meragukan perasaanmu?" Maehara menatap foto yang ia pegang, memperhatikan kontur wajah Nakamura Rio dan Akabane Karma di sana. Lalu, iris emasnya kembali menatap Isogai. "Benar begitu?"

"Yaa, bagaimana lagi? Aku benar-benar tak sanggup bersaing dengan Karma-senpai dan Asano-senpai." Jawab Isogai. "Mereka lebih mengenal Nakamura-senpai dibanding aku. Mereka lebih akrab dengannya dibanding aku. Aku bisa apa?"

"Tapi Nakamura-senpai mengajakmu kencan kemarin!" naa suara Maehara mendadak tinggi, namun tidak tersirat maksud apapun. "Dan kali ini benar-benar berdua, hanya kau dan dia."

"Kau yakin itu kencan?" Isogai malah bertanya. "Kami hanya makan ramen di dekat stasiun, kemudian Nakamura-senpai meminta solusi padaku. Itu saja."

"Apapun itu tetap saja namanya kenan." Kekeh Maehara. "Seharusnya kau mengungkapkan perasaanmu kemarin."

"Jangan bodoh, Maehara. Kau ingin Nakamura-senpai masuk rumah sakit lagi karena kepalanya sakit?"

Dalam sekejap Maehara terdiam. "Benar juga sih."

Isogai menghela napas berat.

"Sebenarnya aku juga berniat melakukannya."

Atensi Maehara kembali tertuju pada Isogai.

"Saat kami makan kemarin, jujur, perasaanku pada Nakamura-senpai makin menjadi-jadi. Bahkan aku tak sabar ingin segera menyatakannya."

"Lalu?"

"Aku hanya sedang mencari situasi yang tepat. Berhubung Nakamura-senpai amnesia, aku sangat memperhitungkan keadaannya. Aku tak ingin momen kokuhaku-ku seperti kejadian-kejadian kemarin."

Maehara mengangguk paham. Apa yang dikatakan sahabatnya itu ada benarnya. Namun ia kelewat gemas, terkadang ia mengkhawatirkan si surai hitam yang selalu murung karena masalah cinta.

"Bukannya aku ingin memanfaatkan amnesianya, tapi ada baiknya kau segera menyatakan perasaanmu itu." Usul si surai kecokelatan. "Sebelum Nakamura-senpai benar-benar ingat kalau dia pernah menjalin hubungan dengan Akabane-senpai, lebih baik kau cepat-cepat bertindak."

Isogai berusaha menimang-nimang usul Maehara tersebut. Apa ia harus mengiyakan sahabatnya, atau ia harus mencari alternatif lain?

"Isogai, kau ingat tidak dulu saat Nakamura-senpai masih aktif di klub bela diri karate?" tanya Maehara. "Bukankah dia pernah bilang kalau dia masih mencintai Akabane-senpai?"

Isogai flashback sejenak. Setelah beberapa saat, akhirya ia dapat mengingat apa yang dikatakan Maehara.

"Ya, Nakamura-senpai pernah mengatakan itu." Jawabnya. Rupanya ada nada penuh kekecewa an di sana.

"Nah, berhubung Nakamura-senpai belum mengingatnya, jadi ada baiknya kalau kau mengungkapkan perasaanmu."

Jujur saja, itu kedengarannya jahat sekali. Isogai Yuuma bukanlah anak yang mengedepankan ego di atas segalanya, bahkan untuk urusan cinta. Tapi Maehara ada benarnya. Tidak ada yang melarangnya untuk menyatakan perasaannya pada Rio. Ia berhak melakukan itu baik dalam kondisi apapun.

Jadi, Isogai tidak salah jika ingin melakukan kokuhaku pada Rio yang tengah amnesia. Benar bukan?

Isogai merebut kembali foto dua senpainya yang dipegang oleh Maehara dengan lengahnya. Ia menatapnya sambil bertopang dagu.

"Akan kupikirkan dulu."

.

.

.

"Isogai-kun, bawa ini pulang!"

Isogai menatap managernya tak percaya. Tak lama, manik madunya beralih pada kardus kecil yang disodorkan pria tua di hadapannya.

"Apa itu?" tanya Isogai.

"Hanya beberapa potong kue. Anggap saja ini bonus dariku."

"Bonus?" Isogai bertanya ulang.

"Berhubung hari ini banyak pelanggan di kafe kita, jadi aku ingin memberikan banus untuk para pegawaiku." Jelasnya. Pria itu tersenyum, membuat Isogai senang menerima hadiahnya.

"Terima kasih banyak."

Setelah berpamitan, Isogai Yuuma segera melenggang pergi dari tempat kerjanya. Dengan kardus kecil berisi kue di tangannya serta tas sekolah yang ia selempangkan, pemuda kelahiran 13 November itu melangkah menuju halte bis. Wajahnya terlihat begitu berseri.

Setibanya di sana, ia mengganti ekspresi wajahnya. Si ikemen terkejut melihat seseorang yang tengah menunggu bis yang sama dengannya.

"Nakamura-senpai?"

Si gadis pirang terperanjat, lalu menoleh ke arah sumber suara. Ia juga terkejut seperti Isogai.

"Loh, Isogai-kun?" tanyanya.

"Apa kau sedang menunggu bis?"

Pertanyaan bodoh, Isogai merutuki dirinya. Namun Rio tetap tersenyum padanya.

"Ya." Jawabnya. "Mau pulang bersamaku?"

.

"Aku tidak menyangka kalau rumah kita satu arah." Ucap Rio mengawali topik setelah mereka berdua saling membisu sedari di bis.

"Aku juga," jawab Isogai seopini. "Tapi meskipun searah, rumah kita tetap jauh."

Rio terkekeh pelan. "Aku salut padamu, Isogai-kun. Kau selalu bepergian ke sekolah tanpa menggunakan kendaraan apapun, padahal rumahku lebih jauh dibanding aku."

Rio malah memuji, dan sekarang Isogai salah tingkah.

"Yaah, itu karena aku tidak punya cukup uang untuk menggunakan kendaraan umum." Isogai menggaruk kepalanya, berharap rasa gugupnya hilang. "Bukan tidak cukup sih, a-aku hanya ingin hemat."

"Benar juga." Tanggap si pirang.

"Ngomong-ngomong, mengapa senpai baru pulang jam segini? Darimana saja?"

"Oh, aku baru selesai bimbel." Jawabnya. "Aku sudah kelas 3, jadi aku harus mempersiapkan diri untuk ujian masuk tahun depan."

"Hmm, benar juga."

"Selain itu, aku tertinggal banyak materi gara-gara amnesia ini. Seandainya aku bukan kelas 3, aku masih bisa sedikit santai."

Isogai diam mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Rio. Entah kenapa setiap kali Rio mengungkit soal amnesianya, ia selalu merasa perih dalam hatinya. Rasa sakit karena terlupakan oleh seseorang yang dicinta kembali terasa.

"Isogai-kun?" panggil Rio.

Isogai segera tersadar dari lamunan. Manik madunya sedikit membelalak ketika melihat kakak kelasnya sudah berada di hadapannya, bukan di sampingnya lagi.

Isogai memandang ke bawah, menatap kedua kakinya yang dibalut sepatu boot tua. Rupanya ia berhenti melangkah.

"Mengapa kau berhenti?" tanya Rio lagi. "Ada sesuatu yang tertinggal?"

Isogai mulai gelagapan.

"A-Aku punya kue dari tempat kerjaku. Kau ingin mencicipinya, senpai?"

Pengalihan topik yang cukup bagus, pikir Isogai.

Rio tersenyum, kemudian mengikuti Isogai yang melangkah menuju taman yang biasa digunakan anak-anak bermain. Mereka duduk di bangku panjang dekat bak pasir. Dua potong kue dikeluarkan dari kardus kecil. Selang beberapa menit keduanya diam, menghabiskan sepotong cheesecake dengan khidmat.

"Gochisousama deshita." Ucap Isogai setelah menghabiskan cheesecake-nya. Tak lama Rio menyusul.

"Terima kasih, Isogai-kun. Kau mengizinkanku mencicipi kuemu."

"Sama-sama, senpai." Si pucuk terkekeh pelan, begitu juga dengan si pirang. Selang beberapa detik terdapat jeda di antara mereka, namun Isogai segera mengusung topik berikutnya.

"Nakamura-senpai, kau tidak takut kalau pulang jam segini?"

"Mengapa harus takut?" Rio mengkerutkan dahi.

"Yaah, ini kan sudah larut malam. Tak jarang ada preman-preman yang berkeliaran di sini." Jelasnya. "Kau itu perempuan. Apa kau tidak merasa takut, senpai?"

Rio memasang pose berpikir, kemudian ia menggelengkan kepala. "Untuk apa takut? Preman juga manusia. Kalau mereka menghadangku, aku bisa menyusun strategi untuk kabur."

"Haha bagaimana caranya?" Isogai tertawa mendengarnya.

"Kalaupun aku tidak bisa kabur," jeda sejenak. "—ada Isogai-kun yang melindungiku. Aku pasti merasa aman jika bersamamu."

Isogai memalingkan kepalanya. Kini wajah ikemennya berubah warna menjadi merah. Ia tak ingin si gadis pirang di sebelahnya itu melihatnya. Oksigen ia raup sebanyak yang ia bisa, sampai jantung dan warna kulit wajahnya kembali normal.

"Senpai, bolehkah aku menceritakan sesuatu?" pinta Isogai. "Mungkin, ini juga termasuk salah satu ingatanmu."

Mendengar kata ingatan yang keluar dari belah bibir Isogai, Rio mengangguk antusias.

"Dulu, senpai bersama Karma-senpai, Shiota-senpai, dan Kayano-senpai mengikuti klub bela diri karate. Aku ingat betul saat penampilan ekstrakurikuler waktu itu, kau tampil bermain kata*."

"Sungguh?" Rio tak percaya.

"Penampilanmu waktu itu bagus sekali, aku benar-benar terkesan." Isogai terlihat semakin semangat menceritakannya. "Saat kau tampil, aku tak bisa melepaskan pandanganku darimu. Dari situ, aku mulai tertarik masuk klub karate. Saat itu juga, aku mulai," jeda sejenak. "—mengagumimu."

Rio menatap ke arah tanah yang dipijakinya. Manik sewarna lautnya tengah membelalak.

"Setelah aku resmi masuk klub karate, aku semakin senang karena bisa melihatmu lebih dekat. Kadang kau melatih kouhai-kouhai yang masih pemula, termasuk aku. Semakin lama aku bergabung di klub, aku semakin mengagumimu."

"..."

"Saat musim gugur, Shiota-senpai dan Kayano-senpai keluar dari klub, namun kau dan Karma-senpai masih sering latihan. Karena jumlah kouhai yang masih bergabung tinggal sedikit, kita pun mulai dekat."

"..."

"Tapi saat bulan maret lalu, kau mengatakan kalau kau dan Karma-senpai sudah putus. Saat itu juga, Karma-senpai keluar dari klub. Karenanya, aku sering melihatmu murung, jadi perlahan-lahan aku mulai mendekatimu."

"..."

"Sampai kau kelas 3 dan keluar dari klub, kita masih begitu dekat. Terkadang kita saling tegur sapa saat bertemu, atau tiba-tiba berbincang. Jujur saja, aku senang sekali. Saking senangnya, aku semakin mengagumimu, bahkan aku merasa kalau rasa kagumku ini bukan lagi karena aku memandangmu sebagai seorang kakak kelas, tapi sebagai gadis yang sebaya denganku."

Tanpa Isogai sadari, Rio telah mengeluarkan air matanya dengan deras.

"Karena itu, aku ingin menjadi kekasihmu. Aku ingin selalu ada didekatmu, seperti Karma-senpai dan teman-temanmu yang lain. Aku tak bisa berhenti memikirkanmu. Jadi, kalau aku ingin kita jadian, apa kau bersedia, sen—"

"Ngg..."

Suara erangan kecil memasuki gendang telinga Isogai. Ia menolehkan kepalanya perlahan. Jantungnya tiba-tiba berdetak cepat. Benar saja, Isogai syok melihat kondisi Rio saat ini. Air matanya terus membasuh wajah cantiknya, surai pirangnya dibuat berantakan saking tidak kuatnya menahan sakit.

"Senpai, apa kau baik-baik saja?!" si ikemen mulai panik. "Apa kepalamu sakit?"

Rio masih sesenggukkan. Ia mengabaikan Isogai, namun si pirang menolehkan kepalanya. Manik birunya yang masih berkaca-kaca terlihat membelalak saat pandangannya beradu dengan manik madu Isogai.

"Senpai, kau baik-baik—"

"Kar... ma... –kun?"

Kini Isogai yang membelalakkan mata.

"Senpai, ini aku, Isogai—"

"Karma-kun..."

Setelah jeda beberapa detik, Rio tiba-tiba menjerit kesakitan. Isogai semakin panik. Ia ingin meminta pertolongan, tapi siapa yang bisa ia mintai tolong? Tak ada seorang pun di sana.

"Senpai, tenanglah." Isogai memegangi lengan Rio, berharap ia dapat menenangkan kakak kelasnya meski hanya sedikit.

Namun Rio mengabaikan Isogai, mendengar saja tidak. Si gadis pirang masih sibuk dengan rasa sakitnya, sehingga ia tidak peduli dengan apa yang ada di sekelilingnya.

Merasa telah diabaikan cukup lama, Isogai jadi gemas sendiri. Ia tak bisa menemukan cara yang dapat menenangkan kakak kelasnya itu.

"Senpai, tenanglah!"

Isogai menarik Rio ke dalam pelukannya, saking kesalnya. Didekapnya dengan erat tubuh tinggi langsing itu, kemudian tangannya mengusap pelan surai pirangnya, juga berusaha menghentikan jari jemari Rio yang terus menekan kepalanya yang sakit.

"Senpai, kumohon. Tenanglah..."

Isogai bersuara lagi, kini terdengar lirih dibanding sebelumnya. Ia mengucapkan itu berkali-kali, sampai Rio tidak lagi menjerit histeris sambil menangis.

Dalam pelukan si ikemen, Rio masih saja menahan sakit. Ia sesenggukan, namun Isogai terus berusaha menenangkannya.

"Nakamura-senpai?"

Isogai memanggil Rio setelah cukup lama memeluknya. Tak ada respon yang didapat. Memang saat ini kakak kelasnya itu sudah tenang, namun sepertinya ada yang tidak beres.

Perlahan ia mendongakkan kepala pirang Rio. Ia bisa melihat kulit wajahnya yang basah karena air mata. Kelopak matanya menutupi manik sewarna laut, dan ia bisa melihat kesembaban matanya. Napasnya terdengar sedikit tidak teratur.

Nakamura Rio tertidur— tidak, ia pingsan?

Buru-buru Isogai mengeluarkan ponselnya. Dengan susah payah, ia mencoba menelepon salah satu kontak dalam benda kotak itu.

"Halo? Karma-senpai?"

.

.

.

TBC

.

.

.

A/N :

*kata : keindahan jurus-jurus yang ada di karate. Orang yang main kata berarti dia menampilkan keindahan jurus satu sama jurus lainnya. Kalau yang ikut ekskul ini pasti tau lah yaaa XD

Dikarenakan ide chapter ini yang ngalir gitu aja pas ngetik akhirnya Karma (lagi-lagi) gak muncul di chapter ini, gak apa-apa ya? *dibacokKarma*

Tapi nanti ada chapter yang dimana gak ada Isogainya, tenang aja :'''''(((((

Dan lagi-lagi chapter depan fokusnya ke Isogai :'''''(((((

Next Chapter 9 : Isogai!