Naruto milik Masashi Kishimoto

Story by me

Warning : Typo, OOC, bahasa tidak dimengerti, dan lain-lain

"Awalnya aku tak menyadari, karena saat kelas satu kita berdua tidak satu kelas dengan Hinata, jadi kukira aku tak pernah melihatmu dengan Hinata karena kau tak sekelas dengannya, jadi susah untukmu bertemu dengan dia karena jadwal yang berbeda-" Naruto berhenti sebentar untuk melihat reaksi Sasuke, namun Sasuke hanya diam tak bergeming.

"Tapi saat kelas dua ini, kulihat kalian berdua juga tak pernah mengobrol apalagi setelah melihat kejadian tadi pagi. Aku semakin merasa memang ada yang tidak beres diantara kalian" Naruto menatap Sasuke dengan pandangan curiga.

"Bukan urusanmu" jawab Sasuke singkat

Look At Me

Saat SD Naruto, Sasuke, dan Hinata memang satu sekolah, sedikit banyak Naruto tahu hubungan mereka berdua dulu, apalagi saat SD dulu Naruto juga dekat dengan Sasuke. Namun saat SMP, Naruto tidak satu sekolah lagi dengan Hinata dan Sasuke, jadi semenjak itu Naruto benar-benar tak tahu apa-apa mengenai hubungan mereka berdua. Tiba-tiba, saat SMA ini Naruto kembali bertemu dengan Sasuke dan Hinata, awalnya Naruto kira mereka mungkin sudah pacaran, nyatanya mereka berdua justru terlihat seperti orang yang tak pernah kenal sebelumnya. Naruto memandang Sasuke dan Hinata bergantian, dia masih merasa ada yang salah diantara mereka berdua.

"..ruto"

"NARUTOO" teriak guru matematika didepan membuat Naruto reflek berdiri dari bangkunya.

"Ada apa sensei?!" Tanya Naruto dengan suara lantang, membuat hampir semua siswa tertawa terbahak-bahak.

"Dasar bodoh" ucap Sakura yang dari tadi sudah berada didepan pintu.

"Kamu ketua kelas kan? bapak meyuruhmu membantu wakil ketua kelas mu ini, untuk mengambil buku tulis yang kemarin di kumpulkan" guru itu menunjuk Sakura yang sudah berdiri duluan didepan pintu.

"Ba..baik sensei" Naruto segera menghampiri Sakura dan mereka pun pergi bersama.

Jam pulang sekolah sudah lewat dari 10 menit yang lalu, hampir semua murid KHS sudah pulang ke rumah masing-masing kecuali siswa- siswi XI IPA 2. Mereka masih sibuk mendengarkan wali kelas mereka yang sedang mengucapkan kata-kata perpisahan, karena mulai besok wali kelas mereka ini akan dipindahkan kesekolah lain dan mulai dua hari kemudian mereka akan mendapatkan wali kelas baru. Karena itu, hari ini siswa-siswi XI IPA 2 masih duduk rapi di bangkunya masing-masing.

"-baiklah, terakhir bapak mau mengucapkan terima kasih kepada kalian karena selama ini tidak pernah membuat masalah, sekarang kalian boleh pulang" ucap wali kelas mereka yang kemudian meninggalkan kelas.

"Ah.. sayang sekali ya, padahal Asuma-sensei sangat baik" ucap Sakura sambil membereskan bukunya.

"Benar, sayang sekali" sahut Ino. Kemudian mereka berdua berjalan keluar kelas disusul dengan murid-murid lainnya.

Hinata berjalan di trotoar dengan headset yang terpasang ditelinganya. Di belakang, Sasuke mengikuti Hinata dari jarak kurang lebih 5 meter. Hinata berhenti saat sampai di halte bus, dia berdiri di pinggir trotoar untuk menunggu bus datang. Sedangkan Sasuke yang baru sampai halte,memilih duduk di kursi yang ada di halte ini. Sasuke terus memandangi Hinata yang sekarang sedang berdiri membelakanginya.

"Sebaiknya kau duduk, kurasa busnya masih lama" ucap Sasuke dari belakang.

10 detik

30 detik

1 menit. Masih tak ada respon dari Hinata. Tak seperti biasanya, walaupun Hinata tak pernah ingin berbicara dengan Sasuke, setidaknya saat Sasuke menawarkan sesuatu Hinata akan menjawab 'Tidak perlu' , "Tak usah pedulikan aku' , atau 'aku tidak mau'.

"Hinata.." ucapan Sasuke terhenti saat dirinya sadar kalau Hinata menggunakan headset di telinganya. Tentu saja dia tak mendengarkan perkataan Sasuke barusan. Saat Sasuke mencoba mendekati Hinata, bus datang dan itu membuat Hinata maupun Sasuke melihat kearah bus. Hinata naik kedalam diikuti dengan Sasuke.


15 menit kemudian bus berhenti di sebuah Halte, Hinata dan Sasuke turun. Dari sini mereka harus berjalan lagi untuk sampai kerumah mereka masing-masing. Sasuke terus berjalan di belakang Hinata, hingga Hinata berhenti di sebuah gerbang yang besarnya hampir sama dengan gerbang sekolah. Penjaga gerbang itu, segera membukakan pintu saat Hinata berdiri di depan gerbang, kemudian penjaga itu menunduk memberi hormat kepada Hinata dan tak lama kemudian beberapa pelayan datang dan mengambil alih tas sekolah yang dibawa Hinata. Sasuke memperhatikan itu semua, terkadang Sasuke sedikit berpikir kenapa Hinata tidak mau naik mobil pribadi keluarganya saja? Kenapa dia malah memilih naik bus? Padahal dulu, sebelum kejadian penculikan Hinata, mereka berdua selalu berangkat menggunakan mobil dan supir pribadinya masing-masing, biasanya Sasuke akan sampai duluan di sekolah dan saat itu Sasuke akan menunggu Hinata di depan gerbang sampai Hinata datang, lalu mereka akan masuk ke kelas bersama. Tapi, semenjak kejadian itu Hinata tidak pernah mau naik mobil pribadinya lagi, dan semenjak itu juga sikap Hinata berubah padanya. Semenjak Hinata mulai menjauhinya, Sasuke sangat sulit untuk menemui Hinata bahkan di sekolah sekalipun, apalagi mereka tak pernah sekelas kecuali sekarang ini.

"Sasuke-sama anda ingin masuk dulu?" Tanya salah satu penjaga gerbang rumah Hinata. mendengar itu Sasuke tersadar dari lamunannya.

"ah..tidak usah pak, saya langsung pulang" jawab Sasuke singkat kemudian dia langsung melangkahkan kakinya menuju rumahnya. Rumah Sasuke memang tidak jauh dari rumah Hinata karena itu, dulu sesekali mereka sering berangkat bersama.

Hinata masuk kedalam rumahnya, ia berjalan melewati ruang tamu kemudian dia menaiki tangga, karena kamarnya memang berada di lantai dua.

"Hinata.." ucap seseorang dari bawah tangga. Hinata yang sudah hampir sampai di lantai dua menghentikan langkahnya, ia membalikkan tubuhnya untuk melihat orang yang memanggilnya.

"ayah, kenapa ada disini?" Tanya Hinata bingung.

"Memangnya kenapa kalau ayah ada dirumah?" ayah Hinata berjalan menuju ruang tamu, dan Hinata pun mengikutinya dari belakang.

"Tidak apa-apa, hanya saja.." Hinata tampak berpikir untuk memilih kata-kata yang tepat.

"Tidak biasanya" ayah Hinata melanjutkan.

"Ya" Hinata mengagguk setuju dengan kata yang dipilih ayahnya.

"Ayah sudah memutuskan untuk pensiun, lagi pula sekarang sudah ada Neji yang menggantikan"

"Ohh.." Hinata mengangguk paham. "Baiklah, aku ingin istirahat dulu di kamar" Hinata melanjutkan kemudian dia langsung beranjak pergi kekamarnya. Hiashi-ayah Hinata- hanya bisa menghela nafas melihat anaknya yang banyak berubah. Dulu Hinatanya ini, adalah anak yang lembut, penurut, sopan sama seperti ibunya, tapi sekarang sepertinya Hinata berubah menjadi gadis yang tidak peduli dengan apapun lagi.


Di kamar Hinata langsung merebahkan dirinya di kasur.

Hinata duduk sendirian sambil menangis di sebuah lorong yang gelap gulita, tiba-tiba ada cahaya yang sangat minim mendekatinya.

"INI SEMUA KARENA KAU ANAK HIASHI DAN HIKARI!" suara teriakan seseorang terdengar keras ditelinga Hinata, dan itu membuat Hinata semakin kencang menangisnya. Tiba-tiba sesosok orang muncul dengan membawa pisau , orang itu hendak membunuh Hinata, namun Hinata lari sambil menangis kencang. Hinata berlari tak tentu arah. Sampai akhirnya ia menemukan cahaya di ujung jalan yang dilalui, Hinata berlari kearah cahaya itu. Hinata masuk kedalam cahaya itu, namun ia malah terjatuh "ARGGHH!" hinata berteriak ketakutan, ia memejamkan matanya.

Duaghh, Hinata terjatuh di sebuah tempat. Hinata memberanikan diri untuk membuka mata, ia sangat terkejut saat mendapati dirinya berada di dalam kamar. Hinata melihat kesekeliling untuk memastikan dirinya memang sudah di kamar, namun tiba-tiba dari atas atap turun banyak kertas berwarna merah, Hinata mengambil salah satu kertas itu, karena kertasnya basah Hinata melepaskannya lagi. Kertas itu membuat tangan Hinata menjadi basah, Hinata melihat tangannya yang dipenuhi cairan berwarna merah, Hinata mencium aroma cairan itu 'darah'. "ARRGGHHH!" Hinata jatuh terduduk, semua kertas itu berwarna merah karena terkena darah. Hinata mencoba menenangkan diri, kemudian ia melihat kertas merah itu lagi, dan di kertas itu terdapat tulisan.

Hinata mengambil salah satu kertas kemudian membacanya 'INI SALAHMU'. Hinata masih berusaha membuat dirinya tetap tenang. Hinata kemudian mengambil kertas yang lainnya dan mulai membaca lagi 'AKU AKAN MENGHANCURKANMU DAN ORANG TERDEKATMU'.

Duaaghh

Sesuatu terjatuh dari atap, mata Hinata membelalak ketika melihat siapa yang terjatuh. Ibunya terjatuh tepat di depan Hinata dengan darah yang menggenang di sekitar tubuhnya, Hinata menutup mulutnya dan mulai menangis lagi. Hinata mengalihkan pandangannya dari mayat sang ibu, tak sengaja matanya melihat tulisan di salah satu kertas merah itu 'ORANG-ORANG YANG KAU SAYANGI AKAN MATI'.

Krieekkk

Hinata mendengar suara pintu terbuka, dan itu membuatnya menoleh ke sumber suara. Hinata melihat Neji-kakaknya- masuk kedalam kamarnya, dan keadaan Neji benar-benar buruk, kepalanya sudah dilumuri banyak darah di tambah tangan dan kakinya dipenuhi dengan memar biru. Baru saja masuk, Neji sudah terjatuh dilantai. Hinata menangis sejadi-jadinya, tiba-tiba sebuah kertas jatuh tepat didepan Hinata. Hinata membaca tulisan dikertas itu takut-takut. 'INI BARU DIMULAI!'

"ARRRGGGGGGHHH!" HInata bangun dari tidurnya. Ia menarik nafas dalam-dalam, mencoba mengatur pernapasannya.

'Mimpi itu lagi' ucap Hinata lirih. Ia mengusap keringat yang mengalir di pelipisnya. Setelah sedikit tenang, Hinata melirik jam di HPnya 'pukul 21:00'.

Tok tok tok

Hinata melihat ke arah pintu kamarnya yang masih tertutup rapat.

"Hinata, kau tak apa?" Tanya seseorang dari luar. Hinata tahu kalau itu ayahnya.

"Tidak apa-apa" ucap Hinata sambil medekati pintu, kemudian melihat ayahnya yang memasang ekspresi panik.

"Kau bermimpi buruk?" Tanya ayahnya masih terlihat khawatir. Hinata mengangguk singkat.

"Mungkin karena kau belum makan sejak pulang sekolah tadi,lebih baik sekarang kau turun dan makan" setelah mengatakan itu ayahnya langsung turun. Hinata pun ikut dari belakang.


Keesokan harinya, Hinata berangkat ke sekolah seperti biasanya. Dia berjalan menuju halte bus. Saat hampir sampai di halte, Hinata melihat Sasuke sedang duduk sendirian di halte bus itu. Hinata berhenti dan melihat Sasuke dari kejauhan. Tiba-tiba sebuah bus datang dan berhenti di halte itu, namun Sasuke sama sekali tak beranjak dari kursinya. Hinata pun melihatnya bingung, saat bus itu sudah mau berangkat kembali, Hinata segera berlari dan masuk kedalam bus. Sasuke yang melihat Hinata masuk kedalam bus sedikit terkejut, kemudian ia pun segera bangun dan masuk kedalam bus.

Beberapa menit kemudian mereka turun di halte yang paling dekat dengan sekolah mereka, seperti biasa Hinata akan berjalan duluan didepan dan Sasuke akan berjalan 5 meter dibelakang Hinata. Mereka berjalan hingga sampai disekolah, Hinata langsung pergi menuju kelas sedangkan Sasuke pergi ke ruang basket.


Bel istirahat sudah berbunyi, semua murid-murid membereskan buku mereka kemudian beranjak menuju keluar menuju kantin. Hinata pun membereska bukunya, beberapa buku yang sudah tidak akan di pakai, dimasukkan ke tas, tak sengaja matanya melihat Sasuke yang sedang mengobrol dengan Naruto yang duduk di samping Sasuke. Hinata menatapnya Sasuke sebentar kemudian berdiri dan berjalan keluar.

"Sasuke, kau sekarang mau kemana? Lebih baik kau kekantin, kau pasti lapar kan?" ucap Naruto tiba-tiba. Mendengar itu, Hinata yang baru sampai di depan pintu menghentikan langkahnya, kemudian ia menghela nafasnya. Hinata sedikit berpikir, kemudian ia memutuskan untuk pergi kekantin.

Melihat Hinata sudah pergi Sasuke berdiri dan berjalan keluar, baru saja ia melangkahkan kakinya menuju arah perpustakaan, matanya tak sengaja melihat Hinata sedang berjalan kearah lain. Sasuke pun melihatnya sedikit bingung, kemudian mengikuti Hinata dari belakang.

Hinata sampai di kantin, kemudian dia mengambil makanan dan duduk di salah satu bangku. Sasuke yang baru saja sampai, membuka pintu masuk kantin, dia sedikit terkejut saat semua orang di kantin menatapnya kecuali satu gadis yang duduk di dekat jendela, bahkan beberapa siswi terlihat berbisik-bisik sambil tersenyum pada teman kembali memasang wajah datarnya, kemudian masuk dan mengambil makanan. Sasuke melihat kesekeliling untuk mencari tempat duduk, namun nihil tak ada satupun tempat yang kosong, kecuali di tempat gadis yang duduk di dekat jendela, Sasuke tersenyum tipis, kemudian berjalan kesana.

"Ino, sebaiknya kau pindah dekat Hinata, biar Sasuke-kun duduk disampingku" ucap Sakura sambil mendorong tubuh Ino.

"Enak saja, kau saja yang pindah biar Sasuke-kun duduk disampingku" ucap Ino yang tak mau kalah.

"SASUKE-KUN, duduk di sampingku saja, Ino mau pindah katanya!" Sakura berteriak memanggil Sasuke yang sudah berjalan melewati meja tempat dirinya makan.

"Salah! Yang mau pindah Sakura!" teriak Ino tak terima.

Sasuke sama sekali tak mempedulikan teriakan-teriakan itu, ia terus berjalan hingga sampai di tempat Hinata duduk. Sasuke meletakkan piringnya di depan Hinata, kemudian duduk berhadapan dengannya.

"Tak ada tempat lagi" ucap Sasuke tiba-tiba.

"Bukan urusanku"jawab Hinata singkat. Sasuke pun tersenyum tipis melihat itu. Mereka berdua makan dengan tenang tanpa mempedulikan bisikan-bisikan dari orang-orang yang rata-rata iri dengan Hinata.

"Uhh, kenapa Hinata selalu beruntung sih" Sakura sedikit kesal.

"Mungkin karena dia baik" ucap Naruto yang tiba-tiba muncul.

"Baik apanya? Perempuan yang dingin sepertinya, apanya yang baik" Sakura masih terlihat kesal.

"Dulu, Hinata tidak seperti" ucap Naruto tanpa sadar.

"Dulu? Apa dulu kau mengenalnya?" Tanya Sakura sedikit penasaran.

"I..Itu.. aku satu SD dengannya"Naruto sedikit bingung.

"Bukannya kau Satu SD dengan Sasuke?" Tanya Sakura seperti sedang introgasi.

"Yaa.. begitulah" Naruto langsung pergi menjauhi Sakura.

'Aku mendengar gosip, katanya disekolah ini Sasuke mempunyai seorang teman perempuan yang sudah mengenalnya sejak kecil'

Sakura teringat perkataan Ino kemarin. 'Apa orang itu Hinata?' Sakura berpikir sendiri. "Ah.. tidak mungkin" Sakura menggelengkan kepalanya.

"Apanya yang tidak mungkin?" Tanya Ino yang dari tadi memperhatikan obrolan Sakura dan Naruto.

"Emm, bukan apa-apa" Sakura melanjutkan makannya.

Di tempat Sasuke dan Hinata, mereka berdua masih makan dengan tenang sampai tiba-tiba HP Hinata bergetar. Hinata melirik HP nya singkat dan ternyata ada sms masuk dari nomor yang tak di kenal. Hinata membuka SMS itu.

To : Hinata

From: 08xxxxxxxxx

Halo, Hinata..

Apa kabar? Sudah setahun aku tak menghubungimu

Hidupmu pasti sangat tenang sekarang, benarkan?

Tapi tenang saja, aku sudah menyiapkan kejutan untukmu.

Semoga kau suka…

Hinata menjatuhkan HPnya kelantai, memang di HP nya tidak tertera siapa pengirimnya, namun hinata tahu jelas, siapa orang yang sudah setahun tak menghubunginya, dan itu membuat Hinata sedikit ketakutan.

"Kau kenapa?" Tanya Sasuke yang melihat Hinata menjatuhkan HPnya di tambah wajah Hinata yang terlihat pucat. Hinata tak merespon ucapan Sasuke.

"Kau tak apa" ucap Sasuke lagi sambil berjongkok untuk mengmbil HP Hinata yang berada di kolong meja.

Saat melihat Sasuke yang mencoba mengambil HPnya, Hinata tersadar dan langsung mengambil HP itu dan pergi dari kantin. Sasuke terkejut melihat reaksi Hinata.

"Ada apa sebenarnya?" Tanya Sasuke pada dirinya sendiri.

TBC

Pojok Review

NJ21 : wahh kalau itu bakal di bahas pelan-pelan di chapter-chapter selanjutnya. masalah tinggi Hinata nanti di kasih tau di chapter selanjutnya deh heheheh, makasih ya udah baca

SylverQueen : masa lalu nya bakal di ceritain pelan-pelan sampai akhirnya tuntas, iya semoga aja gak ada death chara hehehe, makasih loh udah baca.

Cahya Uchiha : okee, ini udah lanjut. tungguin lagi ya chapter selanjutnya hehehe, makasih udah mampir

Nurul851 : soal yang nyulik Hinata ntar bakal di kasih tahu, tapi gak tau deh di chap berapa *dijitak* hehehe.. makasih ya udah baca

aindri961 : emang Sasukenya gak salah, dianya aja yang ngerasa bersalah tuh.

aa12 : oke, ini udah lanjut

jojo : okee, makasih loh udah baca

Di episode ini banyak banget kata-kata yang belibet ya.. *padahal di chapter lain juga sama* hehehe

Maaf ya, gak tau kenapa lagi males banget nulis jadinya gini deh. absurd *curhat*

okee terakhir, makasih karena udah baca, ditunggu yaa chap selanjutnya