Suara derit pintu memasuki indera pendengaran sang dokter. Ia tertegun, menatap sosok pemuda yang muncul dari balik pintu.

"Loh?" bingungnya. Sosok yang berpakaian serba putih itu menghentikan kegiatan menulisnya, digantikan dengan mengingat sebuah nama. "Kalau tidak salah... Akabane-kun?"

"Ya, saya Akabane." Karma berjalan menghampiri dokter, kemudian mengambil posisi duduk tepat di hadapannya. "Ada yang ingin saya tanyakan pada Anda, dokter."

"Apa ini mengenai Nakamura-san?" tanya dokter. "Tidak biasanya. Apa Isogai-kun sedang berhalangan?"

Entah kenapa Karma merasa bingung. "Y-Ya. Isogai-kun... sedang sibuk."

Sang dokter kembali meraih bolpoin yang sempat ia telantarkan. "Jadi, apa yang ingin kau tanyakan, Akabane-kun?"

.

.

.

Assassination Classroom/Ansatsu Kyoushitsu © Matsui Yuusei

Memory © shichigatsudesu

Last Chapter : Karma!

Warning : ada beberapa kata kasar dan 'sesuatu' yang agak tidak senonoh.

.

.

.

"Keadaan Nakamura-san saat ini sudah cukup pulih. Hal itu terlihat dari tingkahnya saat melakukan terapi." Tutur sang dokter. "Nakamura-san tidak lagi merasa pusing atau mengekskresikan keringat dingin saat mencoba mengingat sesuatu. Selain itu, semangatnya dalam menjalani terapi mampu memperkuat kondisi mentalnya."

"Tapi..." potong Karma. "Meski ingatannya sudah kembali, dia tidak bisa mengingat Isogai-kun."

"Eh?" dokter terkejut. "Kau yakin?"

Karma mengangguk pelan. "Selama amnesia itu, Rio selalu bersama Isogai-kun. Ketika ingatannya telah kembali, dia malah lupa dengan kejadian itu."

Sang dokter merenung sejenak. Baru kali ini ia mndapatkan pasien seperti Rio. Biasanya ketika pasien amnesianya sudah sembuh, yasudah, tidak ada lagi tanda-tanda pasiennya masih menderita penyakit tersebut. Namun kali ini, pasiennya masih melupakan sesuatu, padahal ingatannya sudah kembali sepenuhnya.

Sepertinya ada sesuatu yang tidak beres, namun pria paruh baya itu tidak tahu apa itu.

"Akabane-kun, kau sudah coba merangsang ingatannya?"

Karma menaikan sebelah alisnya. "Maksudmu?"

"Kau pernah memancing ingatan Nakamura-san tentang Isogai-kun?"

"Belum sih, tapi—"

Seketika, Karma mengingat kejadian dimana Rio menyodorkan sebuah dompet rusak berwarna merah muda kepada Isogai.

"Barusan, Rio menanyakan soal benda yang ada kaitannya dengan kecelakaan itu. Dia bertanya pada Isogai-kun dengan polosnya. Aku yakin, itu pasti ada hubungannya dengan Isogai-kun, namun Rio kelihatan biasa saja," Jelas Karma. "Tidak pusing, keringat dingin, atau gejala lain ketika dia berusaha mengingat sesuatu."

Bolpoin yang digenggam kembali ia singkirkan. Sang dokter bertopang dagu, mencari sebuah solusi untuk menyelesaikan masalah ini.

"Hei, bagaimana kalau kau coba memancing ingatannya soal Isogai-kun?"

Sekarang, Karma kembali pada kenyataan. Saran dari dokter kemarin sukses membuatnya memutar otak semalaman. Memancing ingatan? Bagaimana caranya? Karma bukanlah orang yang suka basa-basi membicarakan orang lain, jadi pemuda itu tidak tahu bagaimana ia memulainya.

"Akabane-kun,"

Karma terkejut ketika seorang gadis memanggilnya. Kepala merahnya ia hadapkan pada siswi surai hitam tersebut, memandangnya dengan tatapan bertanya.

"Ada apa, Kanzaki-san?"

Kanzaki Yukiko, gadis itu mengacungkan ibu jarinya ke arah belakang, menunjuk seseorang yang berada di luar kelas.

"Nakamura-san mencarimu."

Mendengarnya, Karma langsung menggerakan kepalanya heboh. Benar saja, gadis rambut pirang itu tengah tersenyum sambil melambai-lambaikan tangannya. Kemudian Karma membuang napasnya. Mengapa anak itu tidak menghampirinya saja? Pikirnya.

"Terima kasih sudah memberitahuku." Karma bangkit dari duduknya, menepuk pelan lengan Kanzaki, kemudian melangkah keluar kelas.

Sesampainya di sana, Karma berkacak pinggang. "Ya ampun, mengapa kau tidak masuk saja, Rio? Mengapa harus menyuruh Kanzaki-san?"

Rio memasang cengiran lebar, mengabaikan pertanyaan yang baru saja dilontarkan Karma. "Ayo kita ke kantin."

.

"Akhirnya kita dapat roti yakisoba. Yeeeeyyy..."

Rio mengangkat roti yakisobanya tinggi-tinggi. Ia terlihat seperti anak kecil. Menggemaskan, Karma sampai terkekeh sendiri.

"Dasar udik."

"Apa katamu?!"

"Baru beli roti yakisoba saja senangnya bukan main." Cibir Karma. "Dasar anak kecil."

"Biar saja," jawabnya. "Lagipula jarang sekali kau mendapatkan roti yakisoba yang luar biasa laris ini. Wajar saja kalau aku begitu— aduh!"

Rio merintih kesakitan setelah tubuhnya bertabrakan dengan seorang pemuda. Gadis itu segera memohon maaf, namun kalimatnya menggantung ketika melihat rupa sang pemuda.

"I-Isogai-kun?" kaget Rio. Iris birunya bergerak vertikal, mengamati penampakan Isogai Yuuma dari bawah hingga atas.

Semula Isogai memasang wajah terkejut, namun anak itu buru-buru menggantikan ekspresi tersebut dengan wajah datar. Ia membungkukan badannya sedikit.

"Maaf. Aku tidak sengaja, Nakamura-senpai."

Belum sempat menjawab, Isogai sudah berlalu dari tempat itu, meninggalkan Rio dan Karma yang masih menatapnya dengan heran. Kemudian Karma menoleh ke arah Maehara Hiroto yang masih diam mematung, sama herannya dengan dua sejoli itu.

"A-Ano, s-senpai—"

"Maehara-kun," sela Karma. Mendengarnya, Maehara merasa sedikit terkejut. Apa yang terjadi dengan Isogai-kun?"

Maehara meneguk salivanya. Apa yang harus ia katakan sekarang?

"A-Aku tidak tahu, senpai, sungguh." Jawab si surai kecokelatan. "Maaf, aku duluan."

Kini Maehara yang pergi meninggalkan keduanya. Rio masih menatap heran adik kelasnya, namun berbeda dengan Karma yang menampakan ekspresi wajah yang entah kenapa sulit sekali ditebak. Mungkin ia merasa heran juga, namun terbesit sedikit kesedihan yang tersirat di sana.

"Karma-kun," panggil Rio. "Maehara-kun itu siapa?"

"Sahabatnya Isogai-kun," kemudian Karma menundukan kepalanya, berkata lirih. "Dia yang menyelamatkanmu saat kecelakaan waktu itu."

Rio mengerjapkan matanya bingung. "Eh? Sungguh?"

"Nee, Rio," panggil Karma. "Mau kupancing ingatanmu soal Isogai-kun?"

Rio kembali mengerjapkan matanya. Sungguh, ia benar-benar gagal paham. Apa yang dikatakan Karma?

"Hah? Kau bilang apa, Karma-kun?"

Tiba-tiba kepala merahnya ia dongakan kembali, lalu menggeleng cepat. Manik tembaganya menatap Rio dengan tenang, tidak ada siratan sedih atau heran di sana.

"Lupakan, aku hanya melamun." Elak Karma. Rio masih menatapnya heran, namun ia tidak menggubrisnya. "Ayo kita kembali ke kelas."

.

.

.

"Kumohon, ayo kita nonton film."

Sugino dan Kayano memandang si surai biru langit itu sambil sweatdrop. Nagisa sudah memohon berkali-kali, dan mereka lelah melihatnya. Bukan hanya telinganya, namun mata keduanya lelah melihat ekspresi melas Nagisa yang mengundang rasa prihatin. Sebenarnya mereka tidak tega.

"Sonic Ninja, loh? Aku sudah menunggu film ini sejak dua tahun lalu." Rengeknya. Sugino dan Kayano masih betah menutup mulut. "...ya?"

"Sudah kubilang, aku tidak janji bisa ikut. Rencananya bulan depan aku dan keluargaku ada acara." Ucap Sugino.

"Ayolah, Sugino, bulan depan itu ada 30 hari, kau tidak mungkin menggelar acara selama itu kan?" Nagisa masih bersikeras membujuk si penggila baseball.

"Benar sih, tapi aku tidak bisa menentukan tanggal pastinya."

Seketika Nagisa terlihat pasrah. "Tak apa, Sugino, yang penting kau— WOOO Karma."

Karma yang baru saja tiba di depan kelas 3-A terkejut ketika Nagisa menyerukan namanya. Tentu saja, bahkan Rio yang mendengarnya merasa terkejut.

"Ada apa, Nagisa?"

"Ayo kita nonton film." Jawabnya. "Sonic Ninja, loh, Sonic Ninja!"

Mendengar itu, Karma merasa berseri-seri. Ia senang bukan main mendapat kabar bahwa film kesukaannya akan segera tayang.

"Kapan, kapan? Dimana?"

"Mall pusat kota, bulan depan."

"Bulan depan, ya?" Karma berpikir sejenak, sebelum akhirnya menjawab, "Baiklah, kita pergi—"

"Mall pusat kota, ya?"

Karma serta tiga lainnya menoleh ke arah sumber suara. Mereka—khususnya Karma—terkejut melihat mimik wajah Rio saat menggumamkan kalimat itu.

"Ada masalah, Nakamura?" tanya Sugino.

Mendengar itu, Rio buru-buru tersadar. "Ah, tidak. Aku hanya merasa pernah pergi ke sana bersama seseorang."

"Seseorang?" Kayano merasa bingung. "Siapa?"

"Entahlah, aku lupa." Rio terkekeh pelan. Ia berusaha menghilangkan ketegangan di antara mereka, namun hal itu tidak berpengaruh pada empat orang lainnya. Karma, Nagisa, Kayano, dan Sugino sama-sama menampakan mimik sedih penuh kekesalan. Mereka juga merasa iba, dengan seseorang yang disebutkan Rio namun gadis itu tidak mengingatnya.

"Hei, hei, kenapa kalian murung begitu?" Rio menepukan kedua tangannya, menyadarkan keempat sahabatnya dari pikiran masing-masing. "Semangat dong, katanya mau nonton? Cepat tentukan tanggalnya."

"T-Tapi—" Nagisa menggantungkan kalimatnya. "Tidak apa-apa kalau kita nonton di sana?"

"Kenapa tidak?" Rio bertanya balik. "Di sana kan ramai, jadi setelah nonton kita bisa langsung makan atau pergi ke toko buku, atau ke game center tanpa perlu berjalan jauh."

"Benar juga sih..."

"Yasudah, kita pergi tanggal 3 ya?" putus Nagisa, kemudian keempat lainnya mengangguk setuju.

Sekali lagi, Karma menoleh ke arah Rio. Otak briliannya tengah bekerja, dan akhirnya menemukan satu ide bagus. Dengan memanfaatkan waktu tersebut, ia harus bisa membuat gadis itu mengingat kembali Isogai Yuuma.

.

.

.

Suara sambungan menggema sepanjang malam. Sudah sejam lalu ia menghubungi seseorang, namun tak ada satu pun panggilannya yang terjawab. Hal ini membuat Karma merasa panik.

Karma mendecak kesal. Ia menatap layar ponselnya, mengklik perintah 'panggil' untuk yang kesekian kali. Dalam hati ia harap-harap cemas, semoga anak itu menjawab panggilannya.

"Halo?"

Karma terperangah. Akhirnya panggilannya terjawab. "Isogai-kun, kau sedang sibuk?"

"Aku baru saja selesai kerja." Jawab Isogai di seberang sana. "Apa kau butuh bantuan, senpai? Kau ingin bertemu denganku?"

"Tidak, tidak, aku hanya ingin berbicara denganmu, jadi di sini juga cukup."

"Jadi, apa yang ingin kau bicarakan?"

"Jawab pertanyaanku." Karma menarik napas, mencoba merelaksasikan jantungnya yang tidak terkontrol. "Isogai-kun, beri aku alasan, mengapa kau meghindari Rio."

Satu menit, tak ada satu pun dari mereka yang membuka suara. Padahal mudah, namun mengapa Isogai begitu kesulitan menjawabnya? Ini bahkan lebih mudah, dibandingkan menghitung percepatan sudut dalam gerak melingkar beraturan.

"Halo? Isogai-kun? Kau dengar aku?"

Mudah bagi Karma, namun tidak bagi Isogai.

"Aku menyerah, senpai."

Karma mengernyit. "Hah? Kau bicara apa?"

"Aku tidak ingin mencintai Nakamura-senpai lagi. Sebesar apapun aku mencintainya, aku tidak akan bisa mendapatkannya. Karenanya aku menghindar."

"Kau pikir menghindar dapat menyelesaikan masalah?"

Isogai di seberang sana terdengar begitu terkejut. Berbeda dengan Karma yang menggebu-gebu ingin membanting ponsel saking kesalnya. Kalau saat ini Isogai ada di hadapannya, pasti ia telah melayangkan bogem mentah ke pipi si surai hitam.

"Masalah tidak akan selesai jika kau melarikan diri—"

"Senpai," Isogai menyela Karma. "Sebenarnya apa yang ingin kau bicarakan?"

"Kumohon, Isogai-kun, jangan menghilangkan perasaan cintamu pada Rio," ucap Karma. "...setidaknya sampai Rio mengingatmu."

Terdengar ada deheman panjang di sana. Mungkin Isogai tengah mempertimbangkan permintaannya, pikir Karma.

"Mengapa aku harus melakukannya?"

Karma terkejut mendengar balasan Isogai. Ia mendecak kesal. Anak ini...

"Kau tidak merasa usahamu itu sia-sia? Selama Rio amnesia, kau yang paling mengerti segala kondisinya. Bahkan aku yang memiliki hubungan lebih dekat darimu pun tidak melakukan apa-apa." Jeda sejenak. Karma kembali menarik napas. "Tapi sekarang, setelah ingatan Rio kembali, kau pergi begitu saja, hanya karena dia melupakanmu? Tidakkah kau berpikir kalau kau itu pengecut?"

"Kau pikir dilupakan itu enak?" Isogai meninggikan suaranya, sepertinya ia sudah tersulut emosi. "Aku tidak ingin lebih sakit dari ini. Aku bukan masokis. Sudah cukup aku tersiksa dengan yang namanya cinta."

"Kalau kau merasa dilupakan itu tidak enak, seharusnya kau mencari cara agar Rio dapat mengingatmu! Mengerti?"

Isogai tak segera menjawab. Amukan Karma barusan membuat dirinya sukses membeku. Kalau Isogai disuruh jujur, jauh di lubuk hatinya, ia ingin berusaha mengembalikan secuil ingatan Rio tentangnya. Namun bagaimana? Sudah tidak tahu caranya, timing untuk mendekatinya pun tidak ada. Kalau dulu, Rio pasti mengandalkannya. Tapi setelah gadis itu mengingat Karma, untuk apa mengandalkannya lagi?

"Senpai," Isogai kembali bersuara, dan kali ini lebih lembut dari sebelumnya. "Kenapa kau ingin sekali Nakamura-senpai mengingatku? Bukankah kau mencintainya? Dan dilihat dari kondisinya, seharusnya kau bersyukur dong, karena orang yang kau cintai melupakan sainganmu?"

Perlahan, Karma mengembangkan seulas senyum, meskipun ia tahu bahwa Isogai tidak bisa melihatnya. Lagi-lagi ia mengambil napas, menghilangkan segelintir emosi yang sempat menguasai dirinya.

"Aku yakin, pasti selama Rio amnesia, kau berusaha mendekatinya agar dia bisa mengenalmu lebih jauh. Dan mungkin, kau juga berusaha membuat Rio jatuh cinta padamu, kan?"

Meski tidak melihatnya langsung, Karma yakin, pasti Isogai merasa terkejut sekarang. Mungkin saja kini wajah anak kelas dua itu tengah merah padam, malu karena apa yang diucapkannya barusan benar.

"Isogai-kun, aku merasa tidak bertanggung jawab, karena selama Rio amnesia aku selalu mengandalkanmu. Menyuruhmu ini, itu, mendengarkanku berkata ini, itu, dan lain-lain. Aku juga merasa kalau aku hanya mengambil bagian enaknya saja, tidak bisa merasakan bagaimana susahnya mencari pertolongan saat Rio tiba-tiba pingsan, atau membawa dia ke rumah sakit malam-malam."

Isogai masih terdiam, mendengarkan perkataan panjang lebar Karma yang masih belum menunjukan tanda-tanda selesai.

"Jadi intinya, aku ingin balas budi padamu. Aku tidak ingin Rio melupakanmu, aku tidak ingin kau menghindar, aku masih ingin membicarakan Rio bersamamu, dan aku ingin melihat kau bahagia bersama Rio."

Beberapa detik terdapat keheningan, namun Isogai segera memecahnya dengan tawa super kencang, mungkin. Ia tak menyangka bahwa Karma, kakak kelas yang ia tahu cuek dan memiliki gengsi luar biasa tinggi, akan mengutarakan kalimat-kalimat itu.

"Karma-senpai, aku sangat berterima kasih karena kau begitu bak padaku, padahal aku ini sainganmu." Jeda sejenak. "Tapi maaf, keputusanku untuk berhenti mencintai Nakamura-senpai sudah bulat."

Karma yang sebelumnya sumringah kembali memasang wajah lesunya. "Kenapa?"

"Kalau aku tidak menghindar bisa-bisa perasaanku tidak akan menghilang."

"Hmm, kau ini merepotkan sekali, Isogai-kun." Lagi-lagi Karma menghela napas. "Tapi, aku akan tetap berusaha agar Rio dapat mengingatmu kembali. Kalau kau tidak ingin melakukannya, biar aku saja."

"Terserah kau saja," balas Isogai. "Kalau begitu, aku serahkan Nakamura-senpai padamu."

"Terima kasih, Isogai-kun. Kau sudah merelakan Rio untukku."

Isogai tak kuasa menahan tawa. Merelakan Rio? Jadian saja tidak! Namun Isogai tidak larut dalam kalimat Karma yang membuatnya tergelitik itu. Ia kembali bersuara sebelum ia memutuskan sambungan.

"Satu lagi, senpai." Karma hanya membalasnya dengan deheman singkat. "Jaga Nakamura-senpai. Jangan buat dia kecewa untuk yang kedua kali. Aku tidak ingin melihatnya sedih terus. Kau harus membuatnya bahagia. Catat itu."

"Pasti, aku akan mengingatnya." Karma berkata dengan yakin, membuat Isogai di seberang sana merasa lega. "Terima kasih, Isogai-kun, untuk semuanya— ahh, aku tak tahu harus mengatakan apa."

Isogai terkekeh pelan. "Sama-sama, Karma-senpai."

Sambungan pun terputus. Setelah merasa gelisah selama berjam-jam, setelah sempat emosi saat melakukan panggilan, setelah ia mengucapkan terima kasih, akhirnya Karma merasa lega. Hatinya begitu plong, seolah semua beban hidupnya hilang dalam sekejap. Meski sebenarnya masih ada secuil perasaan tidak enak, namun ia yakin, Isogai akan baik-baik saja. Tak ada yang perlu dikhawatirkan darinya.

Kini, ada satu lagi yang harus ia selesaikan. Karma harus memanfaatkan tanggal 3 Desember nanti untuk mengembalikan ingatan Rio tentang Isogai.

Mall pusat kota. Semoga tempat itu berguna.

.

.

.

Suara klakson mobil terdengar dimana-mana, namun suara yang satu ini sukses membuat Rio, Karma, Nagisa, Kayano dan Sugino menghentikan langkah mereka.

Kelimanya menoleh ke arah sebuah mobil hitam yang tiba-tiba berhenti tepat di sisi kiri mereka. Perlahan kaca mobil itu bergerak turun, menampakan dua sosok manusia yang berada di dalam.

"Loh? Asano-kun?" Rio terlihat heboh, senang bisa bertemu sosok Asano Gakushuu di pusat kota. Gadis pirang itu semakin senang ketika melihat sosok lain yang duduk di kursi kemudi. "WAAAHH, Sakakibara-kun! Lama tidak berjumpa."

Sakakibara Ren tersenyum pada Rio serta yang lainnya. Tangannya melambai-lambai untuk menyapa mereka.

"Senang bertemu denganmu, Nakamura-san, Akabane-kun, dan kalian bertiga." Sapa Ren. "Bagaimana keadaanmu, Nakamura-san? Kudengar kau kecelakaan dan mengalami amnesia."

"Aku sudah jauh lebih baik, Sakakibara-kun. Ingatanku sudah sepenuhnya pulih." Jawab Rio.

"Syukurlah kalau baik-baik saja." Kemudian si surai unik mengalihkan pembicaraan. "Lalu, kalian mau pergi kemana?"

"Kami mau ke mall pusat kota. Main, sekaligus nonton film." Jawab Karma. "Sonic Ninja, loh, Sonic Ninja!"

"Kau tidak perlu mengatakannya dua kali, Akabane." Asano sweatdrop melihat sahabat merahnya itu.

"Kalian mau ikut tidak, Asano-kun, Sakakibara-kun?" tanya Rio.

"Maaf, Nakamura, kami tidak bisa ikut." Rio sukses dibuat kecewa oleh Asano. "Kami sedang ada acara dengan teman kelas kami."

"Oh, baguslah. Risih jika kau ikut bersama kami, Asano-kun." Celetuk Karma.

Satu perempatan besar muncul di kepala pirang Asano.

"Kalian berdua tidak berubah ternyata." Gumam Ren sambil menahan Asano agar tidak keluar menyerang Karma.

Rio hanya terkekeh mendengarnya. "Sakakibara-kun, kalau kau ada waktu kapan-kapan kita main bareng, ya? Asano-kun sering pergi dengan kita, loh."

Ren tersenyum pada Rio. "OK, akan kuusahakan."

"Kalau begitu, kami pergi dulu ya? Aku dan Ren masih ada urusan." Pamit Asano pada kelima sahabatnya. Tiba-tiba telunjuknya menunjuk si merah. "Akabane, tunggu pembalasanku."

Bersamaan dengan naiknya kaca mobil, Asano dan Ren melambaikan tangan mereka. Rio dan kawan-kawan membalasnya, bahkan ketika mobil itu sudah bergerak menjauh, mereka masih saja melambaikan tangan—kecuali Karma yang begitu kesal dengan pemuda Asano itu.

.

.

.

Tujuan pertama mereka di mall pusat kota—nonton film— sudah terwujud. Kini saatnya mereka menghabiskan waktu dengan mengunjungi beberapa tempat yang sekiranya menarik, lumayan untuk cuci mata.

"Karma, aku tak sabar ingin menyaksikan lanjutannya." Ucap Nagisa.

"Ahh, dua tahun lagi ya?" Karma menerawang. Berarti setelah ini, ia harus menunggu lagi bertahun-tahun agar bisa menonton film kesukaannya. "Rasanya sangat tidak seimbang antara waktu rilis dengan durasi filmnya. Aku lelah menunggu."

"Sudahlah, yang penting bisa nonton kan?" Kayano berusaha menenangkan kedua sahabatnya yang masih larut dengan Sonic Ninja. "Bagaimana kalau kita pergi ke toko buku?"

"Sebelum itu, aku ingin makan dulu." Ucap Sugino.

"Ahh, aku juga lapar. Tapi aku ingin beli cemilan saja." Tiba-tiba manik biru Rio menangkap sesuatu yang menarik perhatiannya. "WOOAA... kebetulan sekali! Nee, aku ingin beli crepes, kalian ingin—"

DEG!

Rio mendadak diam. Kemudian gadis itu memegangi kepalanya yang sedikit terasa sakit. Tentu saja keempat lainnya merasa panik, terutama Karma. Ia baru pertama kali melihat Rio seperti ini.

"Rio, kau kenapa?" tanyanya.

"Kepalamu sakit lagi, Rio-chan?" kini Kayano yang bertanya.

Rio tak menjawab. Ia masih memegangi kepalanya. Gadis itu juga berusaha menghilangkan pandangan buramnya, namun tidak membuahkan hasil.

.

"Sudah lebih baik, Nakamura?" tanya Sugino sambil mengusap-usap punggung Rio.

"Hmm, mendingan."

Tak lama, sosok Karma mendekati Rio. Kemudian ia menyodorkan sebotol air mineral pada si pirang. Pemuda Akabane itu bingung ketika melihat Rio yang tak kunjung mengambil air tersebut.

"Ada apa, Rio? Kenapa airnya tidak diambil?"

"de javu,"

Karma terkejut mendengar gumaman mantan kekasihnya itu. Begitu juga dengan Nagisa, Kayano dan Sugino.

Rio mendongakan kepalanya. "Karma-kun, apa kita pernah melakukan ini—maksudku, kepalaku tiba-tiba pusing, lalu aku istirahat di sini, lalu kau beri aku air?"

"Tidak pernah." Jawab Karma yang masih bingung dengan perkataan si pirang. "Memangnya kenapa?"

"Aku merasa kalau ini pernah terjadi, dengan seseorang." Jawab Rio. "Jadi bukan denganmu, ya?"

Baik Karma, Nagisa, Kayano maupun Sugino, semuanya merasa gagal paham dengan ucapan Rio. Logikanya kalau menyebutkan seseorang, pasti jawabannya Karma. Karena dari mereka berempat, hanya Karma yang sering pergi berdua dengan Rio—tentu saja karena status mereka yang berpacaran waktu itu. Namun barusan si surai merah berkata tidak pernah. Lalu, siapa seseorang yang dimaksud Rio?

Asano? Tidak mungkin.

Lalu siapa?

"Yaa, daripada kau memikirkan itu, sebaiknya kau beristirahat dulu sejenak."

Nagisa berusaha mencairkan suasana. Ia mementingkan kondisi Rio dibanding memikirkan sosok yang sama sekali tidak bisa ditebak identitasnya itu. Sesuai saran, si pirang berusaha merelaksasi dirinya, menghilangkan bayangan itu agar kepalanya tak lagi terasa sakit.

Sementara keempat lainnya mendiskusikan soal makanan, Karma sibuk dengan pikirannya sendiri. Setelah memutar otak sejenak, ia menduga satu orang yang dirasa berhubungan dengan de javu-nya Rio.

"Nee, Rio," panggil Karma. "Kurasa, aku tahu—"

"Ayo kita beli makan. Aku sudah lapar sekali." Setelah mengucapkan itu, Rio melangkah semakin cepat, sehingga kini gadis itu yang memimpin rute perjalanan.

"Rio-chan, jangan berjalan terlalu cepat." Kayano mulai mengejar Rio. Bukannya berhenti, Rio malah mempercepat langkahnya.

"Ayo, Kaede-chan, kita balapan siapa yang mengantre paling ce—HMMMPPPHH!"

Keempat siswa SMA Kunugigaoka itu membelalak hebat. Sementara Rio berusaha melepaskan tangan kekar seseorang yang tiba-tiba membekapnya. Gadis itu semakin meronta ketika dirinya dibawa pergi oleh laki-laki tua itu, meninggalkan Karma, Nagisa, Kayano dan Sugino yang berusaha mengejarnya.

"BRENGSEK!" Karma mendecih, kemudian mengambil langkah seribu secepat yang ia bisa. "Cari bantuan!"

"Karma, tunggu!" Sugino menyusul mengejar Karma. Ia tidak bisa membiarkan Karma menyelamatkan Rio seorang diri. Pasti anak itu akan menggunakan kekerasan.

"RIO-CHAN—"

"Tunggu, Kayano!" Nagisa segera menahan Kayano yang hendak menyusul dua temannya itu.

"Kenapa kau menahanku, Nagisa? Rio-chan diculik, mana mungkin kita diam saja!"

"Lebih baik kita pergi ke sumber informasi daripada mengejar mereka. Kita cari bantuan dari sana." Kemudian Nagisa menarik paksa Kayano untuk berlari bersamanya. "Ikut aku."

.

.

.

Rio sudah dibawa keluar mall oleh si penculik. Kecepatan berlarinya luar biasa, bahkan Rio sampai kesulitan untuk meronta-ronta. Meskipun begitu, Karma dan Sugino mampu mengejarnya. Walau jarak mereka dengan objek masih terbilang jauh, setidaknya mereka tidak kehilangan jejak.

"DIAM, GADIS KECIL. Kau tidak ingin aku banting, kan?" titah si penculik, namun Rio tidak menurutinya.

Masih dengan mulutnya yang dibekap, Rio berusaha berteriak minta tolong. Sayangnya kekuatannya tidak sebanding dengan paman tua ini, sehingga untuk menyingkirkan telapak tangannya pun butuh usaha keras.

"Mau bagaimana pun aku tidak akan melepaskan— AKH!"

Si penculik merasa kesakitan ketika titik kelemahannya berhasil Rio tendang. Meski lengan kekarnya masih betah memeganginya, namun pertahanan pak tua itu telah merenggang. Ini akan mempermudah dirinya untuk kabur.

"TOLONG! TOLONG— HMMMPPPHH!"

"Jangan berisik kau, brengsek!"

BRUK!

Si penculik menghempaskan Rio ke sebuah lorong yang berada di tengah-tengah toko dan tertutup tembok besar. Tempat itu cukup luas jika digunakan untuk berkelahi, juga digunakan untuk menyiksa seseorang.

Perlahan, Rio bangkit dari posisi jatuhnya yang tidak mengenakan. Manik birunya memandang tajam pria tua yang tengah memegangi 'barang miliknya', masih merintih kesakitan akibat tendangan kuat Rio. Kalau saja badan pria tua ini sama seperti Karma atau Ren, Rio masih sanggup menantangnya berkelahi.

"Oh, ternyata kau cukup kuat juga ya? Bisa berdiri meski kau telah kubanting."

Si penculik melangkah mendekat. Bersamaan dengan itu, Rio melangkah mundur. Pria itu menyeringai, senang melihat ekspresi wajah si pirang yang menyiratkan ketakutan.

"Kalau kau coba berteriak minta tolong..." tangan kekar si penculik masuk ke dalam saku celana, kemudian sebuah pisau kecil mengkilap keluar dari sana. "Aku akan menusukan ini ke tubuhmu."

Rio meneguk ludah. Seketika tubuhnya menegang. Tuhan, tolong Rio...

"Jadilah budakku, kalau kau ingin aman."

"RIO!"

Rio serta si penculik terkejut. Keduanya menoleh ke arah sumber suara. Sosok surai merah dan biru tua tertangkap iris mata mereka. Dua pemuda itu hadir untuk menolongnya. Rio senang, sampai-sampai ia ingin menjerit sekencang-kencangnya.

Merasa dalam bahaya, si penculik segera mencekik Rio, memutarkan tubuhnya hingga gadis itu berada di hadapannya. Tangan kekar itu membekapnya kembali, dan tak lupa sebuah pisau tengah siaga di leher Rio dengan jarak kurang dari satu senti.

"Berani mendekat, anak ini akan kubunuh."

Karma dan Sugino menghela napas. Keduanya sibuk memutar otak, mencari cara agar dapat menyelamatkan Rio.

Satu langkah. Dua langkah. Rio mulai meronta-ronta. Kalau mulutnya tidak sedang dibekap, pasti ia akan teriak-teriak meminta Karma untuk menghentikan langkahnya.

"Berhenti, Karma!" Sugino memegangi lengan atas si surai merah, mencengkeramnya, dan Karma pun menurut. "Kurasa aku tahu cara menolong Nakamura."

"Cara apapun tak akan mempan melawanku. Gadis ini akan kujadikan budak. Kalau kalian mendekat, gadis ini akan kubunuh."

Si penculik kembali mengancam, namun Karma dan Sugino seolah tak peduli. Setelah cukup lama berbisik, keduanya menatap Rio lekat-lekat.

"Hei, jangan mengabaikanku!" si penculik merentangkan tangan kanannya, menjauhkan pisau dari leher Rio secara tidak sadar.

"SEKARANG!"

Rio yang sebelumnya melakukan kontak mata dengan Karma dan Sugino, mengerti dengan arti tatapan mereka, segera melancarkan aksinya. Memanfaatkan kesempatan yang ada, Rio segera menyikut ulu hati si penculik sekuat tenaga, kemudian menggigit telapak tangan yang membekapnya. Di waktu yang sama, Karma dan Sugino segera berlari menghampiri Rio dan si penculik.

Sekali lagi, Rio memandang 'barang' itu, membuat si penculik kembali merintih kesakitan. Selanjutnya Sugino dan Karma segera menahan tubuh besar si penculik, menghajar wajah serta bagian tubuh tertentu sampai memar bermunculan.

"Kurang ajar!"

Si penculik mulai geram, sehingga ia menggerakan tangannya yang memegang pisau untuk melukai salah satu dari mereka bertiga.

SRRREETT!

"KARMA-KUN!" Rio menjerit histeris, melihat pisau yang menusuk ke arah wajah Karma. Untungnya si surai merah berhasil menghindar, sehingga hanya pipi kirinya yang tergores benda tajam itu.

Dengan secepat kilat, Karma segera menahan tangan kekar yang memegang pisau, menggigit tepat di pergelangan, kemudian mengambil benda tajam yang terlepas dari genggaman.

Memanfaatkan celah yang dihasilkan dari pertarungan si penculik dengan Karma, Sugino segera menghantam perut serta wajah penculik. Tak lupa, ia juga menginjak di bagian selangkangan, membuat si penculik menjerit histeris.

Rio segera keluar dari lorong itu, dan beruntung ia berpapasan dengan Nagisa yang dibuntuti tiga orang polisi.

"Disini, disini." Teriak Rio sambil melambaikan tangan. Ia pun kembali masuk, membantu Karma dan Sugino yang berkelahi dengan si penculik.

"Menghindarlah, anak muda!"

DOR!

Satu tembakan diloloskan dari senapan laras pendek, dan sukses melukai kaki si penculik. Tembakan berikutnya diluncurkan, namun sasarannya kaki yang satunya. Setelah ambruk, polisi segera menggiring si penculik pergi dari tempat itu.

"Saya akan membawa pelaku ke kantor polisi. Di antara kalian, saya minta satu orang untuk saya wawancara sebagai saksi." Ucap salah satu polisi.

"Bawa saya saja. Saya mengetahui kejadian ini secara kronologis." Ucap Sugino. "Selain itu, di antara kami bertiga, kondisi saya yang paling baik."

"Yasudah kalau begitu. Ikut kami sekarang."

Sugino pergi bersama polisi dan si penculik ke kantor polisi. Kini hanya ada Rio, Karma, serta Nagisa yang berada di lorong tengah-tengah toko. Beberapa saat mereka terdiam, sampai akhirnya,

BRUK!

Rio ambruk di tempat. Ia terisak.

"Rio," Karma segera berjongkok, memandangi si surai pirang yang tengah menelungkupkan kepala. "Kau baik-baik saja? Ada yang terluka?"

Kemudian Rio memeluk Karma.

"Karma-kun... aku takut," isaknya. "Aku baik-baik saja. Aku takut."

Karma terdiam sejenak. Sudah lama ia tidak melihat Rio yang begitu rapuh seperti ini. Ia pun segera mendekapnya, begitu erat, mencoba menenangkannya.

"Jangan khawatir, aku di sini." Bisiknya lembut. "Jangan menangis."

"Bagaimana aku tidak menangis kalau aku melihatmu terluka begitu?!"

"Mereka ada di sana. Ayo cepat."

Karma terdiam sejenak. Tangan yang sebelumnya digunakan untuk mengusap surai pirang Rio, kini ia gunakan untuk memegangi luka sayat di pipinya. Rasanya perih, namun melihat gadis itu menangis karena mengkhawatirkannya, entah kenapa, Karma merasa senang dan lega, bahkan luka tersebut tidak terasa perih lagi.

"Sudahlah, ini hanya luka ringan. Aku baik-baik saja—"

"Kenapa?! Kenapa setiap kali aku pergi bermain selalu ada kejadian tak terduga seperti ini?" Rio berteriak dalam pelukan Karma. Meskipun begitu, semua orang yang ada di sana masih dapat mendengar suaranya. "Kemarin, aku tersiksa karena mengingat Asano-kun sampai pingsan di toko buku. Sekarang, aku merasa kejadian kemarin terulang lagi ditambah dengan aku yang hampir diculik. Aku muak, Karma-kun, aku muak!"

"Itu mereka—ahh, syukurlah Rio-chan baik-baik saja."

Karma tertegun mendengar keluhan Rio barusan. Gadis itu menyebutkan kejadian dimana dirinya bertemu dengan Asano, kemudian ia masuk rumah sakit setelah susah payah mengingat si surai pirang itu. Bukankah itu... kejadian saat Rio dan Isogai pergi ke mall pusat kota beberapa bulan lalu?

"Parahnya, aku masih tidak bisa mengingat siapa itu Isogai-kun. Padahal dia yang menyelamatkanku saat kecelakaan, mengapa aku tidak mengingatnya?!" isakan Rio kini semakin kencang. "Sejak aku mendapat kembali ingatanku, Isogai-kun menghindar dariku. Aku sangat merasa bersalah, pasti anak itu merasa sakit hati sekarang."

"Nakamura...-senpai?"

Rio berusaha menghentikan isakannya. Ia dan Karma sama-sama menolehkan kepalanya pada sumber suara. Sosok pemuda yang sangat dikenalnya berdiri di hadapan mereka. Ekspresi yang tergambar di wajahnya sulit diterjemahkan. Di sisi lain, Karma merasa bingung, sejak kapan anak itu ada di sini?

Berbeda dengan keduanya, Rio merasa luar biasa terkejut. Suara panggilan yang lembut itu terdengar begitu familiar. Dalam sekejap, kepalanya menayangkan berbagai macam cuplikan peristiwa masa lampau dirinya bersama pemuda itu. Cuplikan itu berputar secara acak, seperti sebuah film.

Dan entah bagaimana caranya, secara ajaib, Rio dapat mengetahui siapa sosok pemuda itu, siapa sosok yang ia lupakan itu.

"Isogai-kun?"

Perlahan, Rio melepaskan pelukan Karma. Gadis itu bangkit dari posisi semula, melangkah mendekati pemuda surai hitam tersebut.

"ISOGAI-KUN!"

Entah apa yang menyebabkan kakinya bergerak tiba-tiba, yang jelas Isogai menjauh dari tempat itu, mencari tempat yang sekiranya aman untuk ia tempati.

Mengapa dirinya berlari? Bukankah barusan ia mendengar perkataan Rio yang tanpa sadar mengatakan kejadian lampau itu? Dan barusan Rio meneriakan namanya? Bukankah seharusnya ia merasa senang?

Isogai masih terus berlari, begitu juga dengan Rio di belakangnya. Tanpa berpikir panjang, Isogai segera berbelok menuju sebuah taman, mendekati pohon terbesar di sana, kemudian menyembunyikan dirinya di balik batang cokelat yang kekar itu.

"Isogai-kun,"

—yang sebenarnya percuma juga ia lakukan, karena kakak kelasnya itu berhasil menemukannya.

"Maafkan aku, Isogai-kun."

Mendengar itu, Isogai menyembulkan kepalanya. Manik madunya menatap wajah cantik Rio yang berlumuran air mata. Manik biru gadis itu balas menatapnya, membuat si surai pucuk merasa grogi sendiri.

"K-Kenapa kau meminta maaf padaku, s-senpai?"

"Aku merasa bersalah padamu, Isogai-kun. Aku tahu, kau pasti merasa sakit hati karena aku melupakanmu, kan?" ucap Rio.

"Wa-Wajar saja bukan? I-Itu kan karena penyakitmu—"

"Tapi barusan, saat kau memanggilku, entah kenapa aku dapat mengingatmu lagi. Apalagi tadi aku merasa, semua kejadian yang pernah kita lalui bersama berputar secara acak di kepalaku."

"Hah? Berputar?"

"Aku ingat saat kita pergi ke mall pusat kota kemudian bertemu Asano-kun. Setelah itu kalian mengantarku ke rumah sakit. Kau juga sering mengantarku terapi, kemudian kita makan ramen bersama di dekat stasiun. Saat itu aku memintamu untuk memberikan solusi padaku." Setetes air meluncur dari pelupuk matanya. "Setelah itu—"

Isogai mulai panik. Ia segera menghampiri Rio yang tengah menyeka air matanya. Sayang, alirannya tidak mau berhenti, malahan semakin deras.

"S-Senpai? J-Jangan menangis..."

"Setelah itu— kita bertemu di halte bis, pulang bersama, makan cheesecake bersama, lalu—"

"Kumohon jangan dilanjutkan." Pinta Isogai. Ia mengguncang-guncangkan tubuh Rio saking malunya, memintanya untuk berhenti. Namun Rio seolah tuli, ia bahkan masih terus menangis.

"Maafkan aku, Isogai-kun..." isaknya. "Selain aku melupakanmu, aku juga tidak peka dengan perasaanmu. Maafkan aku."

Isogai terdiam sejenak. Ia tak tahu apa yang harus ia lakukan. Secara tidak sengaja, ia melihat sosok surai merah yang berdiri cukup jauh di hadapannya. Mulutnya bergerak-gerak, namun suaranya tidak terdengar.

Peluk dia.

Itu yang Isogai tangkap dari Karma. Perlahan, dengan ragu-ragu tentunya, Isogai menggerakan tangannya, mendekap erat Rio yang tengah terisak. Gadis itu balas memeluknya, menyandarkan kepalanya ke dada Isogai. Ia menangis di sana.

"Jangan meminta maaf, senpai." Ucapnya selembut mungkin, berharap dapat menghilangkan isakan Rio walau hanya sedikit. "Seharusnya aku sadar dari dulu, kalau mustahil aku mendapatkanmu."

Benar saja. Rio mulai terlihat sedikit lebih tenang.

"Kau ingat, saat baru-baru putus dengan Karma-senpai? Kau pernah berkata padaku, kalau kau masih mencintainya. Seharusnya aku sadar, namun aku masih saja mencintaimu." Sesekali Isogai mengalihkan pandang ke arah Karma. Kakak kelasnya itu menampakan ekspresi datar, sibuk memperhatikannya dan Rio yang sedang berpelukan. "Kemarin-kemarin, aku menghindar darimu. Aku tidak memiliki maksud apa-apa. Aku hanya ingin menghilangkan perasaan cintaku."

Kemudian Rio menengadah, menatap Isogai yang tengah tersenyum ke arahnya. "Kupikir kau marah karena aku melupakanmu."

"Benar sih, tapi anggap saja bukan itu alasannya." Isogai kembali membenamkan wajah Rio dalam dadanya. "Nee, senpai, kau tahu? Sebenarnya Karma-senpai itu masih mencintaimu, loh..."

"Sungguh?" kaget Rio.

"Buktinya Karma-senpai masih ingin berteman denganmu." Jawab Isogai. "Nee, bagaimana kalau kalian balikan?"

Mata sembab Rio sukses membelalak. "K-Kau yakin, Isogai-kun?"

"Mengapa tidak? Kalian kan saling mencintai."

"Maksudku, kau tidak apa-apa?"

Isogai menghembuskan napasnya, memberinya jeda beberapa detik.

"Jangan pikirkan aku, senpai. Aku baik-baik saja." Jawabnya. "Asal kau bisa bahagia dengan Karma-senpai, aku juga ikut bahagia. Selain itu, Karma-senpai juga berjanji tidak akan menyia-nyiakanmu lagi."

"Isogai-kun..."

Entah kenapa, Rio kembali meneteskan air mata. Buru-buru ia mengusap matanya, kemudian menatap Isogai yang terkekeh pelan. Kemudian Isogai melepaskan pelukannya. Tangannya merogoh saku celana, mengambil sebuah benda yang ia selipkan di dalam dompet.

"Ini," Isogai menyodorkan selembar foto sobek yang sudah ia perbaiki menggunakan solatip. Ya, itu adalah foto Rio dan Karma yang ia temukan saat kecelakaan waktu itu, dan Isogai masih menyimpannya. "Simpan ini baik-baik, senpai."

Perlahan, Rio mengambil foto tersebut. Kemudian manik sewarna lautnya memandang Isogai, masih dengan senyum ikemennya yang menyejukan. Foto dirinya bersama sang mantan kekasih, yang rusak karena kecelakaan bis yang membuatnya amnesia, kini telah ada di tangannya. Rio sangat menyayangi foto itu. Dan ia bahagia sekali karena Isogai telah menjaganya.

"A-Aku tak tahu harus bagaimana," ucap Rio, masih menatap foto itu. "Yang jelas, kau baik, Isogai-kun. Terima kasih."

Isogai hanya mengangguk sebagai jawaban. Tangannya mengusap tengkuknya yang sedikit terasa dingin, efek musim dingin. Kemudian ia kembali melirik ke arah Karma. Pemuda itu tersenyum ke arahnya, lalu Isogai membalasnya.

"Senpai, sebaiknya kau pergi sekarang. Karma-senpai sudah menunggumu di sana."

Rio menolehkan kepalanya, menatap Karma yang tengah berdiri jauh di hadapannya. Kemudian ia mengganggukan kepala. "Kalau begitu, aku pergi dulu. Sampai—"

"Aku mencintaimu, Nakamura-senpai."

Rio mengerjapkan matanya. Isogai masih menatapnya sambil tersenyum. Gadis itu pun membalas dengan senyum paksa, efek habis nangis sehingga kulit wajahnya begitu kaku. Rasanya sulit sekali.

"Aku mencintai Karma-kun, Isogai-kun."

"Ya, aku tahu." Kemudian Isogai melambaikan tangannya pada Rio. "Sampai jumpa nanti, senpai."

Meski sedikit bingung, namun Rio tetap membalas lambaian tangan Isogai. Senyumnya ia kembangkan lebih lebar lagi, sebisa mungkin ia menampakan ekspresi cerianya. "Sampai jumpa lagi."

Rio melangkah cepat, berlari menghampiri Karma yang masih setia menunggunya. Isogai hanya bisa menatap dua sejoli itu dengan tatapan yang... entahlah, ia sendiri tidak tahu. Mungkin dengan tatapan senang, atau bisa jadi ia menatapnya sedih.

Kemudian Isogai memegangi dada sebelah kirinya, meremas bajunya pelan. Ada sedikit perasaan sakit dan tidak terima kalau-kalau Rio dan Karma kembali merajut kasih, dan ia hanya bisa berpikir positif. Mungkin memang ini yang terbaik untuknya, membiarkan orang yang ia cintai kembali bersama orang yang pernah menyakitinya.

Isogai tersenyum sembari menatap langit. Semilir angin menggerakan anak-anak rambutnya. Ia berharap, angin ini tidak hanya mampu menggerakan surai hitamnya, melainkan menerbangkan perasaan cintanya pada kakak kelas pirangnya juga.

.

.

.

END

A/N : Maaf, endingnya tidak sesuai dengan keinginan kalian. Jujur saya mendadak WB, trus bingung juga mau buat alurnya bagaimana. Alhasil chapter kali ini wordsnya bocor(?).

Chapter depan cuma epilog, wordsnya lebih dikit tapi kalau cuma baca sampai sini juga gak apa-apa. Sebelumnya terima kasih karena udah ngikutin fic ini dari awal sampai sekarang. Maaf, endingnya tidak sesuai dengan keinginan kalian (2). Terima kasih juga buat yang review, fav, follow dan lain-lain. Terima kasih banyak *sungkem.

Extra Chapter : Epilogue!