Naruto milik Masashi Kishimoto
Story by me
Warning : Typo, OOC, bahasa tidak dimengerti, dan lain-lain
Sebelumnya
To : Hinata
From: 08xxxxxxxxx
Halo, Hinata..
Apa kabar? Sudah setahun aku tak menghubungimu
Hidupmu pasti sangat tenang sekarang, benarkan?
Tapi tenang saja, aku sudah menyiapkan kejutan untukmu.
Semoga kau suka…
Hinata menjatuhkan HPnya kelantai, memang di HP nya tidak tertera siapa pengirimnya, namun hinata tahu jelas, siapa orang yang sudah setahun tak menghubunginya, dan itu membuat Hinata sedikit ketakutan.
"Kau kenapa?" Tanya Sasuke yang melihat Hinata menjatuhkan HPnya di tambah wajah Hinata yang terlihat pucat. Hinata tak merespon ucapan Sasuke.
"Kau tak apa" ucap Sasuke lagi sambil berjongkok untuk mengmbil HP Hinata yang berada di kolong meja.
Saat melihat Sasuke yang mencoba mengambil HPnya, Hinata tersadar dan langsung mengambil HP itu dan pergi dari kantin. Sasuke terkejut melihat reaksi Hinata.
"Ada apa sebenarnya?" Tanya Sasuke pada dirinya sendiri.
Look At Me
Seperti biasa Hinata dan Sasuke akan pulang dengan bus, didalam bus Sasuke terus memperhatikan Hinata. semenjak kejadian di kantin tadi sikap Hinata jadi tambah aneh, Hinata seperti tidak fokus pada apapun yang di kerjakannya. Contohnya saja saat pelajaran Kurinai-sensei tadi, Hinata bahkan tak bisa menjawab pertanyaan termudah yang diberikan oleh guru tersebut, dan itu sukses membuat satu kelas tercengang. Bagaimana tidak, Hinata adalah orang yang mendapatkan rangking satu di kelas tapi dia bahkan tak bisa menjawab soal yang hampir semua siswa di kelas bisa menjawabnya.
'Hinata, kau sakit?'
Sasuke masih ingat jelas bagaimana khawatirnya Kurinai-sensei saat Hinata tak bisa menjawab.
Bus berhenti di halte, Sasuke sudah bersiap untuk turun. Namun di urungkan saat melihat Hinata masih duduk di kursinya, Sasuke mendekati kursi Hinata.
"Kau tidak turun?" Tanya Sasuke sedikit bingung. Hinata tak merespon, matanya masih fokus melihat keluar jendela.
"Hinata?" Sasuke menyentuh bahu Hinata pelan, Hinata menoleh dengan wajah yang sedikit terkejut. Melihat itu Sasuke sedikit kikuk.
"Kau..tidak turun?" ucap Sasuke sambil menunjuk halte diluar. Hinata bangun dari duduknya kemudian turun dari bus, Sasuke pun mengikutinya dengan pandangan bingung.
Seperti biasa, mereka berjalan menuju rumah hanya saja kali ini Sasuke tidak berjalan terlalu jauh dari Hinata dia mengikuti dengan jarak kurang dari satu meter. Sasuke masih khawatir dengan keadaan Hinata.
Tiba-tiba sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi dari arah berlawanan dengan Sasuke dan Hinata. mobil itu membunyikan klaksonnya dari kejauhan, otomatis Sasuke bergeser sedikit dari jalan agar mobil itu tak mengenainya, namun ia sedikit terkejut saat melihat Hinata yang tak bergeser sedikitpun, saat mobil itu hampir mendekati Hinata, dengan gerakan reflek Sasuke menarik lengan Hinata, kemudian mobil itu melewati mereka berdua begitu saja. Hinata dan Sasuke sama-sama terkejut.
"Kau tidak apa-apa?" Tanya Sasuke sambil melihat keadaan Hinata. Hinata masih diam, sepertinya dia masih terkejut. Sasuke memandang Hinata dengan tatapan kesal "Apa kau Bodoh!" ucap Sasuke sedikit membentak.. Hinata yang mendengar itu langsung menatap Sasuke tak percaya, Hinata menarik tangannya yang masih di pegang oleh Sasuke kemudian ia lari meninggalkan Sasuke. Sasuke hanya bisa mengehela nafas ketika melihat itu.
Hinata sampai dirumahnya, kemudian ia langsung menuju kamar. Hinata duduk di meja belajarnya, kemudian dia mengambil HP dari tasnya dan membuka pesan yang didapat saat di kantin.
To : Hinata
From: 08xxxxxxxxx
Halo, Hinata..
Apa kabar? Sudah setahun aku tak menghubungimu
Hidupmu pasti sangat tenang sekarang, benarkan?
Tapi tenang saja, aku sudah menyiapkan kejutan untukmu.
Semoga kau suka…
Hinata meletakkan HPnya di atas meja belajar, kemudian ia membuka laci yang berada di mejanya dan mengambil sebuah kotak dari dalam sana. Hinata membuka kotak itu perlahan, beberapa kertas berwarna merah terlihat. Hinata mengambil salah satu kertas itu kemudian membaca tulisan yang tercetak di kertas itu. 'Apa kau pikir setelah lolos dari penculikkan itu, hidupmu akan tenang? Jangan Harap!' Hinata membaca tulisan itu dalam hati, masih terekam jelas di ingatan Hinata, saat pertama kali ia mendapatkan teror ini.
Sudah sebulan sejak Hinata lolos dari penculikan itu, dan tahun ajaran baru pun telah dimulai, namun Hinata tetap tidak mau pergi ke sekolah barunya, Hinata masih trauma dengan kejadian yang baginya baru saja terjadi. Melihat putrinya yang masih sering ketakutan, Hiashi pun mengizinkan Hinata untuk tidak bersekolah dulu bahkan Hiashi secara langsung meminta izin kepada kepala sekolahnya.
Setelah minggu pertama terlewat, Hinata akhirnya memutuskan untuk berangkat kesekolah. Namun, Hinata menolak diantar oleh supir pribadinya, ia lebih memilih naik angkutan umum. Hiashi sudah mencoba meyakinkan Hinata, tapi Hinata menolak. Hinata masih trauma dengan supir pribadinya dulu, yang ternyata adalah kaki tangan sang penculik, akhirnya Hiashi hanya bisa memaklumi. Sekarang, bagi Hinata berada di tempat umum bersama dengan orang-orang yang tidak dikenalnya malah terasa lebih aman.
Saat sampai di depan gerbang sekolah, tiba-tiba muncul anak kecil yang menghalangi jalannya.
"Kak, ini untuk kakak" ucap anak kecil itu sambil memberikan sebuah amplop merah. Kemudian anak kecil itu berlari pergi meninggalkan Hinata. Hinata pun membuka amplop itu dan ia melihat kertas dengan warna yang sama dengan amplop, sebuah tulisan tercetak jelas, Hinata membacanya dalam hati 'Apa kau pikir setelah lolos dari penculikkan itu, hidupmu akan tenang? Jangan Harap!' Reflek Hinata membuang kertas itu asal hingga jatuh di selokan dekat gerbang, kemudian dia berlari masuk kedalam sekolah.
Saat pulang sekolah Hinata segera membereskan bukunya dan berlari, perasaan takut masih menyelimutinya. Di depan gerbang langkah Hinata terhenti saat ia melihat amplop merah itu masih berada di samping gerbang dalam keadaan rapi, padahal Hinata sangat yakin tadi pagi amplop itu sudah berada di dalam selokan. Hinata mengambil amplop itu dan membukanya, ia menemukan tulisan yang sama seperti tadi pagi, bahkan kertas merahnya pun masih terlipat rapi, seingat Hinata, tadi ia sedikit meremas kertas merah itu. Akhirnya Hinata memutuskan untuk menyimpan kertas itu.
3 hari kemudian
Bel istirahat sudah berbunyi, seperti biasa Hinata memutuskan pergi ke perpustakaan, ia lebih suka duduk sendirian disana sambil membaca buku dengan tenang. Saat sedang memilih buku untuk di bacanya, tiba-tiba ada sebuah buku jatuh tepat didepan Hinata, Hinata melihat buku itu kemudian matanya beralih melihat rak didepannya yang sekarang menyisakan sebuah lubang, akibat salah satu bukunya terjatuh. Hinata mengambil buku itu, kemudian ia mengitari rak tadi untuk melihat apakah ada orang disana. Namun nihil, Hinata tak menemukan siapapun. Hinata menatap buku yang dipegangnya kemudian ia membuka buku itu. Sebuah kertas merah terjatuh dari buku yang dipegang Hinata, Hinata memungutnya dan melihat tulisan yang ada di kertas itu 'AKU AKAN MENGHANCURKANMU DAN ORANG TERDEKATMU' Hinata mebelalakan matanya kemudian meremas kertas itu. "Sebenarnya siapa kau?!" Hinata sedikit kesal. Tiba-tiba sebuah tangan menyentuh bahu Hinata, Hinata menoleh untu melihat siapa yang menyentuhnya.
"Kau tidak apa-apa?" Tanya seseorang yang Hinata kenal sebagai penjaga perpustakaan. Hinata mengangguk singkat kemudian pergi dari perpustakaan.
Dirumah Hinata menceritakan semuanya pada Neji-kakaknya. Neji mendengarkan cerita Hinata dengan seksama.
"Aku takut Neji-nii" ucap Hinata setelah bercerita. Neji pun memeluk adik kesayangannya itu.
"Aku akan mencari tahu siapa orang itu" Ucap Neji meyakinkan.
Keesokan harinya Hinata berangkat sekolah dengan perasaan sedikit tenang.
"Hinata" Seseorang memanggil namanya dari depan pintu kelas, Hinata yang sudah berada didalam kelas pun melihat ke arah pintu, dan ia menemukan Sasuke sedang tersenyum padanya, Hinata pun balas tersenyum.
"Sejak kapan kau masuk sekolah?" Tanya Sasuke sambil mendekati Hinata yang duduk sendirian di kelas.
"Eumm sejak hari senin" ucap Hinata singkat.
"Kenapa kau tak mengatakannya padaku?" Sasuke sedikit bingung.
"Ahh. i…itu.." Hinata sedikit bingung harus menjawab apa.
"Ah sudah lupakan saja yang penting kau sudah disini" Sasuke mengusap rambut Hinata pelan kemudian berlari keluar kelas karena bel masuk sudah berbunyi.
Saat istirahat, Hinata pergi ke perpustakaan. Hinata membaca buku di salah satu bangku yang disediakan.
Drrrtt Drrttt
HP Hinata berbunyi, Hinata mengambil HP dari saku nya. Sebuah SMS dari nomor yang tidak di kenal muncul di layar HPnya, Hinata pun membuka SMS itu.
To : Hinata
From : 08xxxxxxxx
Jadi kau menceritakan semuanya pada Neji?
Kenapa hanya Neji?
Apakah karena kau dekat dengannya?
Pasti iyakan?
Kau ingat, aku pernah bilang akan menghancurkanmu dan orang-orang terdekatmu.
Bagaimana kalau Neji yang pertama?
Kau pasti setuju.
Hinata melihat SMS itu dengan wajah ketakutan, tiba-tiba sebuah ringtone yang menandakan ada panggilan masuk dari HP Hinata berbunyi. Hinata langsung mengangkatnya.
"Hinata, Neji kecelakaan" Ucap seseorang dari sebrang telpon yang ia yakini adalah ayahnya. Hinata menjatuhkan HPnya ke lantai, tangannya gemetar ketakutan.
Drrrrt Drrrtt
HP Hinata kembali bergetar dan menampakan sebuah SMS. Hinata berjongkok dan membuka SMS itu.
To : Hinata
From : 08xxxxxxxxx
INI BARU DI MULAI !
"Arrrrggghh" Hinata melempar HPnya ke salah satu rak buku, ia terduduk di depan HPnya yang sudah hancur, kemudian menangis sendirian.
Saat jam istirahat sudah berakhir Hinata keluar dari perpustakaan sambil membawa HPnya yang sudah hancur itu. Di tengah perjalanan menuju kelas Hinata bertemu dengan Sasuke.
"Hinata, kau kemana saja?" ucap Sasuke yang berdiri di depan Hinata. Hinata melewati Sasuke begitu saja. Sasuke sedikit bingung dengan sikap Hinata, Sasuke pun membalikkan tubuhnya kemudian memegang bahu Hinata untuk menahannya agar tidak pergi.
"Aku mencarimu" Ucap Sasuke.
"Jangan sentuh aku" Ucap Hinata sambil menepis tangan Sasuke dari bahunya. Kemudian Hinata lari meninggalkan Sasuke. Sasuke menatapnya kepergian Hinata dengan pandangan bingung.
Semenjak hari itu Hinata memutuskan untuk tak menceritakan apapun pada siapapun lagi, dia tak mau orang-orang yang disayangnya tersakiti lagi,dan semenjak itu juga ia selalu mendapatkan teror-teror lainnya dan ia menghadapi itu sendirian.
Hinata menutup kotak itu kembali dan meletakannya lagi kedalam laci. Hinata manatap HPnya sekali lagi sebelum akhirnya memutuskan untuk tidur.
Keesokan harinya Hinata pergi ke halte, dan seperti biasa ia melihat Sasuke yang sedang menunggu bus di halte itu. Saat bus datang, Hinata langsung masuk dan Sasuke pun masuk. Sesampainya di sekolah, Sasuke yang biasa pergi ke ruang basket kali ini memutuskan mengikuti Hinata sampai kelas. Saat beberapa langkah lagi sampi kekelas, Hinata menghentikan langkahnya karena merasa HP yang di genggamnya bergetar, Hinata pun melihat HPnya dan melihat satu pesan masuk,ia pun membukanya.
To : Hinata
From : 08xxxxxxxx
Datanglah ke gudang yang berada di belakang perpustakaan
Hinata membaca pesan singkat itu di dalam hati, Hinata menarik nafas pelan sebelum akhirnya membalikkan badannya dan pergi menuju gudang. Hinata berjalan melewati Sasuke, namun langkahnya terhenti ketika Sasuke memegang tangannya.
"Kau mau kemana?" Tanya Sasuke heran. Hinata tak menjawab, ia hanya menyingkirkan tangan Sasuke dari tangannya, setelah lepas Hinata langsung berlarimenuju gudang.
"Kenapa kau selalu lari dariku?" Tanya Sasuke pada dirinya sendiri, emudian ia masuk kelas.
Hinata berlari untuk sampai ke gudang, saat sampai di Kamar Mandi tak sengaja Hinata menabrak seseorang hingga membuatnya terjatuh.
"Ah maaf kan aku, kau tak apa?" Tanya orang yang di tabrak Hinata sambil mengulurkan tangannya untuk membantu Hinata bangun. Hinata melihat uluran tangan itu, kemudian ia melihat siapa orang yang di tabraknya. Seseorang dengan rambut berwarna merah sedang berdiri di depan Hinata, Hinata menatapnya bingung tapi orang itu menatap Hinata sambil tersenyum. Hinata berdiri tanpa menerima uluran itu, kemudian Hinata membersihkan roknya.
"Maaf kan aku, aku ti.." perkataan Orang itu terhenti saat dia melihat Hinata menatapnya bingung. Hinata menatap anak yang seumuran dengannya ini sedikit aneh, 'Kenapa ia tak menggunakan seragam?' Tanya Hinata pada dirinya sendiri.
"Heii, kau baik-baik saja?" Tanya orang itu lagi sambil melambaikan tangannya didepan wajah Hinata. Hinata yang tersadar kembali teringat tujuannya berada disini, ia pun kembali berlari menuju gudang.
Hinata sampai di gudang sekolah, disana terdapat dua pintu karena memang gudang ini mempunyai dua ruangan. Hinata mencoba membuka pintu yang letaknya paling ujung namun tak bisa, pintu itu di kunci. Hinata pun beralih ke pintu yang satunya, kali ini pintu itu terbuka. Hinata mencoba masuk kedalam, didalam sangat gelap ditambah lagi banyak sarang laba-laba dan juga banyak tumpukan buku yang sudah tak terpakai, Hinata menatap buku-buku itu wajar karena gudang ini memang gudang untuk perpustakaan bahkan gudang ini berada tepat di belakang perpustakaan.
"Apa ada orang?" Tanya Hinata yang semakin masuk kedalam.
Bel masuk sudah berbunyi, semua murid sudah berkumpul di kelas masing-masing. Di kelas XI IPA 2 pun semua murid sudah duduk dibangkunya kecuali Hyuuga Hinata. Sasuke menatap bangku Hinata khawatir.
"Kau kemana sebenarnya?" Sasuke bertanya sendiri. Tiba-tiba kepala sekolah masuk ke kelas XI IPA 2 dengan seseorang di sampingnya.
"Hai anak-anak" Sapa kepala sekolah kepada semua murid.
"Ini adalah guru baru yang akan menggantikan Asuma-sensei menjadi wali kelas kalian" ucap kepala sekolah lagi sambil menunjuk orang yang berada di sampingnya. Semua murid menatap orang yang ditunjuk oleh kepala sekolah.
"Baiklah, bapak akan meninggalkan kalian bersama guru ini" lanjut kepala sekolah lagi sebelum pergi dari kelas, setelah kepala sekolah pergi, Guru itu tersenyum kepada semua siswa, senyum yang menurut hampir semua siswa menyeramkan.
"Baiklah, perkenalkan nama saya Orochimaru saya adalah guru biologi dan mulai hari ini saya adalah wali kelas kalian" Ucap guru itu sambil melihat kesekeliling kelas.
"Tunggu, Siapa orang yang duduk disana?" Tanya Orochimaru sambil menunjuk kursi nomor dua dari barisan kedua.
"Namanya Hinata, sensei" Jawab Naruto.
"Kemana dia, apa tidak masuk?" Tanya Guru itu lagi.
"Tidak tahu" jawab Naruto bingung.
"Dia masuk sensei, tadi aku sempat melihatnya" tiba-tiba Sasuke berucap.
"Benarkah? Karena kau yang melihat, bisakah kau mencarinya?" hari ini aku ingin tidak akan mulaipembelajaran dulu, aku ingin mengenal kalian satu-satu sebagai wali kelas" Ucap guru itu.
"Baiklah sensei" balas Sasuke kemdian keluar mencari Hinata.
Didalam gudang, Hinata masih sibuk mencari orang yang memberikannya pesan.
Buaagghh
Suara pintu di banting terdengar, Hinata menoleh kebelakang ternyata pintu itu sudah ditutup. Hinata panik, kemudian dia berusaha membuk pintu itu, tapi tak bisa pintu itu sudah di kunci dari luar. Tiba-tiba dari dalam ruangan keluar asap, dan itu membuat Hinata kesulitan bernafas, Hinata menggedor-gedor pintu.
"Kumohon, bukakan pintu ini" ucap Hinata dari dalam.
"Aku tak bisa bernafas" lanjut Hinata sambil sesekali terbatuk.
Sasuke mencari Hinata ke semua tempat. "Hinata, kau dimana?" tanyanya pada diri sendiri, tiba-tiba langkah Sasuke terhenti, "Ah perpustakaan" pikir Sasuke kemudian ia berlari kearah perpustakaan. Sasuke membuka pintu perpustakaan, namun ia tak melihat siapapun disana, Sasuke mencoba mengelilingi rak, siapa tahu Hinata sedang mencari buku, tapi tetap taka da bahkan Sasuke sudah berada di ujung perpusatakaan ini, tapi Hinata tetap tidak ada. Akhirnya Sasuke memutuskan untuk menghubungi Hinata, walaupun ia sedikit yakin Hinata tak akan menjawabnya.
Tuutt Tuutt Tuutt
Sasuke menunggu lama, karena orang yang ditelpon tak kunjung mengangkat, sampai akhirnya suara operator yang terdengar di telinga Sasuke. Sasuke pun menutup telponnya kemudian ia sedikit menghela nafas. Sasuke pun memutuskan untuk mencari di tempat lain, "Apa mungkin di toilet?"pikir Sasuke sendiri.
TBC
Pojok Review
NJ21 : nanti di panjangin deh kalo nulisnya lagi mood hehehehe, oke ditunggu ya..
Nurul851 : iya Hinata bersikap kayak giu emang kesemuanya, biar adl hehehehe *digetok*. Kalo yang nulis ntar di kasih taunya, makasih loh udah baca.
Baby niz 137 : oke diusahain bakal up kilat :D
Yukka.k : iya mereka emang sama-sama kasihan, suatu saat Hinata pasti bakal terbuka tapi gak tau kapan hehehe
jojo : okee, makasih loh udak baca
aindri961 : iya nih genrenya jadi ke misteri ehh mungkin nanti bisa jadi crime, duh labil banget ya Ita hehehe…
: okee, makasih udah baca
oormiwa : siapa yang neror bakal di baha ntar, dan alasannya juga ntar hehehe. Makasih loh udah baca
okee, Ita ucapin makasih buat semua yang udah baca, di tunggu ya chap berikutnya...
