Assassination Classroom/Ansatsu Kyoushitsu © Matsui Yuusei
Memory © shichigatsudesu
Extra Chapter : Epilogue!
.
.
.
Suhu udara hari ini tidak sedingin biasanya, sehingga orang-orang dapat memanfaatkannya untuk pergi keluar rumah. Apa ini karena hari valentine? Tapi bukankah pertengahan Februari itu cuaca sedang dingin-dinginnya?
Ahh, tapi biarlah, yang penting di hari kasih sayang ini bisa keluar rumah.
Karena itu, Isogai Yuuma pergi dari rumah, mumpung libur. Pemuda surai hitam itu pergi menuju sungai dekat rumah. Sejak kecil ia sering kali bermain di sana. Dan sekarang ia bermaksud untuk mengenang masa kecilnya.
Isogai pergi ke sungai dengan berbekal alat tulis dan papan jalan. Setelah sampai di sana, ia segera menduduki kursi di tepi sungai, mengeluarkan barang bawaannya, lalu menuliskan sesuatu di atas kertas.
Aku cinta Nakamura-senpai.
Setelah kalimat itu memenuhi kertas putih, Isogai melipat-lipat benda tersebut layaknya origami. Dan benar saja, ia membuat kertas putih itu menjadi sebuah pesawat.
Selalu ada hal yang tidak terduga terjadi ketika Isogai menjalani hari. Pesawat kertas yang dibuatnya kini meluncur indah diterpa angin. Isogai senang melihatnya.
"Kau benar-benar kurang kerjaan, Isogai." Ucap seseorang. "Apa kau yakin itu dapat menenangkanmu?"
"Aku selalu ingin mencobanya," Isogai menolehkan kepala pada Asano. "Daripada harus berteriak, ini jauh lebih aman karena tidak mengganggu orang lain."
Asano Gakushuu memicingkan mata pada Isogai, bingung mengapa anak itu terkekeh sendiri.
"Tapi kau juga melakukannya kan, senpai?"
Seketika wajah Asano menjadi merah padam, bahkan mengalahkan warna rambut pemuda Akabane.
"Berisik." Ketusnya. Ia pun melanjutkan kembali kegiatannya.
Aku cinta Nakamura Rio.
Kalimatnya tidak jauh berbeda dengan milik Isogai.
Selalu ada hal yang tidak terduga terjadi ketika Isogai menjalani hari, termasuk pertemuannya dengan Asano di tepi sungai.
"Mengapa kau ada di Tokyo, senpai?"
"Aku sedang libur, jadi aku pulang kesini," jawabnya tanpa beralih dari kertas yang tengah ia lipat. "Sekalian bertemu dengan ayahku, karena kami jarang sekali bertemu."
"Rumahmu di sekitar sini?"
Asano menggeleng pelan. "Aku habis menemui Nakamura."
"Untuk?"
"Memberinya cokelat valentine." Perahu kertas Asano berhasil diselesaikan. Kemudian pemuda itu berjalan mendekati sungai. "Bagaimana denganmu?"
"Apanya?" tanya Isogai bingung.
"Apa kau memberinya cokelat valentine?"
"Ya, ya, aku memberinya," jawab Isogai. "—melalui Karma-senpai."
"Dasar pengecut."
"Apa?"
"—tapi kurasa tidak." Asano menaruh perahu kertas itu di atas air sungai. Perlahan benda itu bergerak mengikuti arus. "Kudengar kau menyatakan cinta di hari mereka menonton film."
"K-Kau yakin itu pernyataan cinta?"
"Entahlah." Asano mengendikan bahu. "Bagaimana perasaanmu?"
"Perasaanku?"
"Ketika Nakamura mengingatmu," ucap Asano. "Dan, ketika Nakamura menyatakan cinta."
"Aku baik-baik saja." Tutur Isogai. "Aku merasa campur aduk saat Nakamura-senpai mengingatku sepenuhnya. Mungkin aku terlalu senang. Dan aku sempat merasa sakit saat dia mengatakan 'aku cinta Karma-kun', tapi apa boleh buat?"
Asano diam sejenak. Ia memandang sepatu ketsnya, kemudian memasang seulas senyum kecil namun tulus di wajahnya.
"Yaa, setidaknya itu lebih keren dibanding aku."
Isogai menaikan alisnya. "Apa maksudmu?"
"Bukan apa-apa." Kemudian kepalanya mendongak, menatap langit yang menjatuhkan butiran-butiran salju ke tanah. "Jadi perjuangan kita berakhir sampai sini, ya?"
Isogai terkekeh pelan. Tak lama ia melakukan hal yang sama seperti Asano—menengadahkan kepala, menatap langit.
"Yaa, mau bagaimana lagi?" balasnya. "Kurasa ini yang terbaik untuk kita, Asano-senpai."
.
.
.
Berjam-jam sudah mereka menghabiskan waktu di perpustakaan, kini Rio dan Karma menempuh perjalanan pulang. Seperti biasa, Karma selalu mengantar Rio sampai rumah. Namun tidak seperti biasanya mereka menyimpang dulu ke suatu tempat.
"Ini," Karma menyodorkan sekaleng lemonade hangat. Rio menerimanya dengan senang hati.
"Terima kasih, Karma-kun."
"Oh ya, satu lagi." Karma merogoh tasnya, mengambil dua buah kotak yang dibalut pita merah. "Happy Valentine."
Rio terdiam sejenak, sebelum akhirnya ia tertawa lepas. "Karma-kun, kau baik-baik saja? Bukankah biasanya perempuan yang memberikan cokelat? Lagipula, ini kan masih tanggal 13?"
"Tidak ada aturan tertulis mengenai orang yang wajib memberikan cokelat di hari valentine." Ucap Karma. "Sudah, ambil saja."
Rio pun menuruti titah Karma. "Terima kasih— eh, kenapa dua?"
"Satu lagi dari Isogai-kun, dia menitipkannya padaku." Jawabnya. "Ngomong-ngomong yang merah muda itu dariku."
Rio tertawa untuk kedua kalinya. "Terima kasih, Karma-kun. Tapi maaf, aku belum bisa memberikan cokelat."
"Tidak apa-apa, nanti saja kapan-kapan."
"Tahu begitu, aku selesaikan cokelatku kemarin."
Kemudian keduanya pun terdiam. Baik Karma maupun Rio, tak ada yang membuka suara lebih dulu. Entah apa yang membuat keduanya menenggelamkan pikiran masing-masing.
Namun hal itu tidak berlangsung lama.
"Karma-kun, bagaimana kabar Isogai-kun?" tanya Rio.
"Dia baik-baik saja." Jawab Karma. "Kau masih belum menghubunginya ya, sejak hari itu?"
Rio mengangguk. "Aku benar-benar malu, aku tidak enak hati dengan Isogai-kun, jadi aku belum menghubunginya."
"Jangan khawatir, dia baik-baik saja kok."
Beberapa saat diam, Rio kembali melayangkan pertanyaan. "Bagaimana dengan Asano-kun?"
"Ahh, dia masih menyebalkan seperti biasa." Dan Karma pun sukses dibuat menjerit oleh cubitan maut Rio. "A-Asano-kun baik-baik saja, sungguh."
Si gadis pirang berdehem panjang. "Kira-kira dia akan melanjutkan kuliah dimana ya?"
"Sama seperti kita, Universitas Tokyo."
"Wooaahh, berarti kita bisa berkumpul bersama lagi, dong?" ucapnya senang. Karma hanya mengangguk. "Eh, tapi Nagisa-kun, Kaede-chan, dan Sugino-kun berbeda tempat, ya?"
Melihat sang kekasih yang begitu lesu, Karma segera menghiburnya. "Jangan khawatir. Berbeda universitas bukan berarti persahabatan kita berakhir kan?"
"B-Benar sih..."
Atmosfer sunyi kembali menyelimuti mereka untuk yang kesekian kali. Karma menoleh ke arah Rio yang tengah menatap langit berawan. Salju yang jatuh ke wajahnya tidak digubris sama sekali. Entah kenapa, Karma senang memandangnya seperti itu.
"Nee, Karma-kun," Rio memanggil Karma. "Aku harap kita bisa satu universitas."
"Mengapa kau tiba-tiba berkata begitu?"
"Aku tidak ingin berpisah denganmu. Aku ingin selalu bersamamu. Sampai nanti, sampai kita lulus kuliah."
Perlahan Karma menggerakkan tangannya menuju bahu kiri Rio. Ia merangkul gadis itu, menyandarkan kepalanya pada bahu bidangnya. Rio balas merengkuh Karma. Rasanya begitu nikmat, sampai Rio ingin sekali memejamkan mata.
"Setelah itu, akan kuperpanjang waktu kebersamaan kita." Ucapnya. "Aku masih terlalu muda untuk mengatakan ini, tapi setelah sukses nanti, aku ingin menikah denganmu."
Kemudian Rio bangkit dari kegiatan bersandarnya. Ia mengacungkan jari kelingkingnya tepat di hadapan pemuda itu. "Janji ya? Jangan tinggalkan aku lagi."
Tak lama Karma mengaitkan jarinya di kelingking si surai pirang. "Ya, ya, aku janji."
Keduanya saling menatap, saling melemparkan senyum, menciptakan suasana hangat di tengah musim dingin. Kemudian Rio kembali bersandar pada Karma, begitu juga dengan tangannya yang kembali memeluk si gadis. Mereka kembali pada kegiatan semula, melupakan waktu yang saat itu tengah berputar.
.
.
.
END
A/N : Terima kasih buat kalian yang sudah jadi pembaca setia fic ini. Maaf kalau selama ini saya lama ngeposting, sempat hiatus juga kemarin, ceritanya kurang bagus, banyak typo, dan lain-lain. Ini fic MC kedua yang saya buat sampai tamat, semoga kalian suka.
Sampai jumpa di fic saya berikutnya... *tebarcinta(?) *digampar :"""")))))
